• Tidak ada hasil yang ditemukan

49 Ahmad Fauzi Ilyas dalam jurnal yang berjudul Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan Polemik Tarekat Naqsyabandiyyah di Nusantara dalam Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Volume 1 Nomor 1 Januari-Juni 2017.

50 Amiq dalam jurnalnya yang berjudul Two Fatwas on Jihad against the Dutch Colonization in Indonesia: A Prosopograpical Approach to The Study of Fatwa dalam jurnal Studia Islamica Volume 5 Nomor 3, 1998.

51 Ahmad Athoillah dengan tulisannya yang berjudul Kritik Sayid Usman bin Yahya terhadap Ideologi Jihad dalam Gerakan Sosial Islam Pada Abad 19 dan 20 dalam jurnal Refleksi Volume 13 Nomor 5 Oktober 2013.

13

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bentuk penelitian yang berupa kepustakaan (library research) dengan mencari dan menganalis data-data yang berupa dokumen-dokumen yang berkaitan langsung dengan masalah yang diteliti.

Bentuk penelitian lain dalam perspektif analisisnya, penulis menggunakan penelitian kualitatif. Sedangkan bentuk penelitian dilihat dari perspektif tujuan penyelenggaraan penelitian, peneliti memilih menggunakan penelitian deskriptif, yakni dengan memberikan gambaran yang lebih detail tentang biografi Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib serta mendiskriptifkan fatwa-fatwa keduanya yang menimbulkan perdebatan.

2. Jenis Penelitian

Penulis dalam mengkaji penelitian ini menggunakan jenis penelitian normatif52, dengan meneliti hasil pemikiran (ijtihad) Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib dalam beberapa fatwa keduanya yang menimbulkan perdebatan serta latar belakang fatwa tersebut muncul.

3. Pengorganisasian Data a. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dari penelitian ini adalah dengan mengumpulkan beberapa karya Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Masalah-masalah yang akan diteliti penulis berhubungan dengan fatwa-fatwa Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib maka penulis pertama-tama mengumpulkan kitab-kitab beliau yang berisikan fatwa-fatwa, baik yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak seperti Manhaj Istiqāmah fī Dīn bi al-Salāmah, Taftīḥ al-‘Uyūn, Fatwa tentang persoalan kafa’ah, Fasl al-Khitab fi Bayan Sawab, Kitab Qawanin Shar’iyya li-ahl Majalis al-Hukumiyya bitahqiq al-Masail li-yatamayyaza la-hum al-Haqq min al-Batil, dan lain-lain dari kitab-kitab Sayyid Usman. Sedangkan dari kitab-kitab Syekh Ahmad Khatib seperti Sulhu Jama’atain fi jawaz ta’addud Jum’atain, Radd ‘ala Taftih Muqlatain fi Radd ‘Ala Sulhi al-Jama’atain, al-Suyuf wa al-Khanazir ‘Ala Riqabi kulli Man Yad’u lilkafir, dan lain-lain. Kedua, menganalisa pemikiran Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib dalam beberapa fatwa keduanya yang menimbulkan perdebatan.

b. Pengolahan Data

Untuk mengolah data dari sumber-sumber yang telah ditemukan, selanjutnya penulis memisahkan data-data tersebut menjadi dua, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder.

1) Sumber Primer

Sumber data primer yang digunakan penulis adalah karya-karya Sayyid

52 Menurut M. Atho Mudzhar melengkapi pendapat Soerjono bahwa studi Hukum Islam diklasifikasikan menjadi 3, yaitu Studi Filsafat Hukum Islam, Studi Hukum Islam Normatif dan Studi Hukum Islam Empiris. Oleh karena itu penulis memilih studi Islam normatif karena berkaitan dengan fatwa-fatwa mufti/ulama (individual dan kolektif). Lihat M. Atho Mudzhar, Tantangan Studi Islam di Indonesia Dewasa Ini , dalam Jurnal Indo-Islamika, Vol. 2, No. 1, 2012/1433, h. 95.

14

Usman dan Syekh Ahmad Khatib, baik yang sudah dicetak oleh penerbit dan sudah beredar dikalangan masyarakat maupun karya yang masih berbentuk manuskri yang tersimpan rapi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) atau yang masih dikoleksi oleh keturunan Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib.

2) Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder sebagai sumber data pendukung, penulis mengambil data-data yang ditulis oleh para peneliti lain seperti Snouck Hourjge, Nico J. G. Kaptein, Azyumardi Azra, Karrel A. Steenbrink dan lain-lain.

4. Analisis Data

Untuk menganalisis data dari berbagai sumber yang ada, penulis menggunakan cara deskriptif-analisis. Langkah-langkahnya adalah pertama-tama penulis mendeskripsikan masalah-masalah penting yang berkaitan dengan fatwa Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib yang menimbulkan polemik antar keduanya. Kemudian penulis menganalisis fatwa-fatwa tersebut. Dalam analisis ini penulis menggunakan pula analisis isi dan analisis komparatif. Metode analisis isi dapat digunakan untuk melihat metodologi istinbat hukum Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib dalam fatwa mereka. Perbandingan dilakukan untuk membandingkan antara pandangan kelompok pendukung dan penolak yang direpresentasikan Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib tentang beberapa fatwa yang menimbulkan polemik antar keduanya. Terdapat tiga tataran analisis perbandingan yang digunakan di sini, yakni horisontal, vertikal, dan diagonal.53 Pada tataran horisontal, kedua pandangan tersebut akan dibandingkan untuk ditemukan persamaan dan perbedaan antara kedua kelompok itu dalam melakukan ijtihad, sikap mereka terhadap tradisi keagamaan, dan gaya bahasa yang digunakan untuk mempertahankan paham keagamaannya. Secara vertikal, kedua pandangan tersebut dibandingkan untuk melihat sejauh mana fatwa-fatwa tersebut mengacu kepada sumber utama dan pendapat ulama klasik. Dan pada tataran diagonal, kedua pandangan tersebut dibandingkan untuk meletakkan pembuat fatwa itu dalam suatu posisi dari segi puritanis tidaknya, literalis tidaknya, dan lain-lain. Hasil dari perbandingan ini adalah rumusan karakteristik kelompok pendukung dan penolak praktik keagamaan Muslim di Indonesia.

Analisis ushul fikih ini kemudian dilengkapi dengan metode analisis wacana yang merupakan salah satu alternatif dari metode analisis isi (content analysis).54 Dasar dari analisis wacana adalah interpretasi, karena analisis wacana merupakan bagian dari metode interpretatif yang mengandalkan interpretasi dan penafsiran

53 M. Atho' Mudzhar, Pemberian Sanksi atas Pelanggaran UU Perkawinan di Neraga-negara Islam (Kajian Perbandingan Enam Negara), Makalah Kuliah Umum pada Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Serang Banten, 20 April 2012, h. 18

54 Sujono dan Abdurrahman, Metodologi Penelitian, Suatu Pemikiran dan Penerapan (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 13. Lihat juga Bruce A. Chadwick dkk, Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Sosial (Semarang: IKIP Press, 1991), h. 270, Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 154.

15

peneliti. Analisis wacana berpretensi memfokuskan pada pesan dan makna yang tersembunyi (latent) di balik teks.55 Dan analisis wacana yang penulis gunakan adalah Critical Discourse Analysis [CDA].56

5. Pendekatan Penelitian

Disamping analisis data, dalam penelitian perlulah digunakan pendekatan.

Dalam penelitian ini penulis memilih pendekatan historis, baik sosial maupun intelektual. Penelitian historis atau sejarah didefinisikan dengan penelitian yang digunakan untuk menetapkan fakta dan mencapai kesimpulan mengenai masalah-masalah atau hal-hal yang telah lalu yang dilakukan dengan sistematis dan objektif oleh para pakar ahli sejarah dalam mencari, mengevaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masalah baru tersebut.57 Dengan jenis penelitian ini, penulis ingin menguraikan fakta mengenai fatwa-fatwa Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib dengan mencari sumber-sumber fatwa tersebut dalam karangan, surat-surat maupun dokumen-dokumen lalu mengevaluasi dan menafsirkan fatwa-fatwa tersebut dengan sitematis dan objektif.

Penelitian historis yang dilakukan oleh penulis hanya fokus pada sejarah sosial dan intelektual. Sejarah sosial adalah kajian tentang seuruh lingkup kehidupan dan kebudayaan dalam masyarakat yang tercatat dalam sejarah.58 Sejarah sosial dengan menekankan pada kajian atau analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya sejarah. Sedangkan sejarah intelektual menurut Crane Brinton adalah sejarah aktivitas pikiran-pikiran manusia dan hubungannya dengan perkembangan masyarakat.59 Hal ini dengan mencoba mencari kembali dan memahami terhadap penyebaran karya pemimpin kebudayaan. Dengan ini penulis meneliti bagaimana kondisi sosial masa Sayyid Usman dan bagaimana pendidikan intelektual beliau sehingga muncul fatwa-fatwa kontroversialnya.

Pendekatan selanjutnya yang akan dilakukan oleh penulis adalah pendekatan filsafat hukum Islam (Usul al-Fiqh) dan filosofis. Pendekatan Usul Fiqh digunakan untuk menguji teori hukum/kaidah fiqh dalam menformulasikan hukum. Pendekatan Filosofis bertujuan untuk mengungkap subtansi pemikiran seorang tokoh dari aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis.60

55 Eriyanto, Analisis Wacana : Pengantar Analisis Media, h.337.

56 Norman Fairclough dan Ruth Wodak, "Critical Discourse Analysis," dalam Teun A. van Dijk [ed.], Discourse as Sosial Interaction: Discourse Studies A Multidisciplinary Introduction, Vol.2 (London: SAGE Publications, 1998), h.258-284.

57 Nurul Zuhriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 51-52.

58 Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, (Tangerang Selatan: Penerbit Serat Alam Media, 2012), h. 72

59 Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, , h. 73

60 Rob Fisher, Pendekatan Filosofis dalam Aneka Pendekatan Studi Agama, h. 173-176 dan lihat Michael S. Northcott, Pendekatan Sosiologis, tej: Imam Khoiri, Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama (Yogyakarta: LKIS, 2002), h. 271

16 F. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penelitian yang berbentuk tesis ini maka diperlukan sistematika penulisan. Adapun sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :

Bab pertama berisikan latar belakang masalah penulisan tesis dan pemilihan fatwa-fatwa Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib sebagai objek penelitian.

Dalam bab ini juga dipaparkan identifikasi, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian serta penelitian terdahulu yang relevan. Dengan menyebutkan pula sistematika penulisan yang akan digunakan sebagai pijakan penulis.

Bab kedua berisi tentang penjelasan mengenai fatwa dan ijtihad, baik dari segi pengertian secara umum, sejarah perkembangan, pembagian dan kemunculan-kemunculan lembaga fatwa maupun fatwa personal. Dengan menyebutkan pula kerangka teori tentang fokus penelitian, seperti kerangka teori tentang jihad, kafa’ah dan doa dalam terminologi hukum Islam. Begitu pula menjelaskan metode metode ijtihad kontemporer yakni penafsiran kontekstual Abdullah Saeed.

Bab ketiga berisi tentang ketokohan Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib dalam biografi keduanya, karya-karya dan pengaruh sosial dan intelektual perjalanan hidup keduanya. Dengan menyebutkan pula latar belakang sejarah kehidupan di batavia dan Palembang. Genealogi Paham Keagamaan Sayyid Usman bin Yahya dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Sekilas Tentang Fatwa-Fatwa Sayyid Usman bin Yahya dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang menimbulkan polemik antar keduanya.

Bab keempat yang merupakan bab inti dalam penelitian ini sebagai jawaban atas atas rumusan masalah, yakni menganalisis metode istinbat hukum fatwa Sayyid Usman dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi serta persamaan dan perbedaan masing-masing metode istinbat hukum tentang Jihad, tentang ta’addud al-Jum’ah dan tarekat.

Bab keenam berisikan penutup yakni kesimpulan dan saran-saran.

17

17 BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG FATWA DAN PERKEMBANGANNYA DI NUSANTARA

Pada bab ini akan dibahas mengenai fatwa dan perkembangannya di Dunia Islam dan Indonesia dari masa ke masa. Kemudian dipaparkan pula faktor-faktor kemunculan fatwa, baik jama’i maupun fardi, metode-metode penetapan fatwa dan problematika fatwa-fatwa kontroversial di masyarakat. Sudah menjadi ketentuan disebutkan pula perdebatan ulama/tokoh agama dalam memberikan fatwa individual yang berbeda satu sama lain.

A. Perkembangan Fatwa Masa Klasik dan Kontemporer

Fatwa merupakan sebuah solusi berupa jawaban atas sebuah problematika masyarakat Islam yang dikeluarkan oleh sebagian ulama atau seluruh ulama di masa dimana problematika itu muncul. Abdurrazaq ‘Abdullah Soleh membedakan antara jawaban dan fatwa dengan fatwa lebih khusus artinya daripada jawaban, dalam artian setiap fatwa pastilah sebuah jawaban dan tidak semua jawaban disebut fatwa.

Oleh karenanya fatwa hanya khusus menjawab peristiwa atau kasus hukum tertentu yang di alami masyarakat.1 Selain itu fatwa juga berfungsi sebagai alat dalam merespon perkembangan permasalahan yang bersifat kontemporer. Tanpa adanya fatwa, suatu permasalahan boleh jadi tidak dapat terpecahkan yang akhirnya membuat umat bisa mengalami kebingungan.2

Dari segi etimologi, kata fatwa berasal dari bahasa arab al-fatwa yang merupakan bentuk masdar (kata dasar) dari fi’il (kata kerja) fata-yaftu-fatwan/futyan. Menurut Ibnu Mandzur kata fatwan atau futyan berarti ifta’. Ifta’

adalah menjelaskan hukum-hukum yang sulit, oleh karenanya asli arti kata al-futya adalah al-fata yang artinya pemuda yang masih segar dan kuat sehingga orang yang mengeluarkan fatwa diyakini mempunyai kekuatan dalam memberikan penjelasan dan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya sebagaimana kekuatan yang dimiliki oleh seorang pemuda.3 Dari akar kata fatwa ini dapat disimpulkan bahwa fatwa membutuhkan penjelasan dan peran seseorang yang menjadi subyek (mufti) bagi penjelasan tersebut, begitu juga penjelasan yang dikeluarkan oleh harus dengan kekuatan yang maksimal sehingga fatwanya sudah berdasarkan analisis yang matang.

Terminologi fatwa, menurut Sano Koutoub Moustapha bahwa fatwa adalah hukum-hukum yang dijelaskan oleh ahli fiqh dari permasalahan-permasalahan yang ditanyakan kepadanya. Hukum syar’i yang dipecahkan oleh seorang ahli fiqh yang berhak mengeluarkan fatwa untuk orang yang bertanya kepadanya tidaklah mengikat, dalam artian tidak wajib bagi mustafti (peminta fatwa) mengikuti fatwa

1 Abd al-Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib al-Kindy, al-Taisîr fi al-Fatwa:

Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, ( Damaskus: Muassasah al-Risalah Nasyirun, 2008), h. 20

2 Ma’ruf Amin, Fatwa dalam Sistem Hukum Islam, (Jakarta: elSAS Jakarta, 2008), h. 8

3 Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arâb, ( Beirut: Dar Sadir, 1414 H) Vol. 15, h. 147

18

musfti tersebut, akan tetapi ia berhak bertanya kembali kepada musfti yang lain dan ia diperbolehkan mengambil fatwa mufti yang akhir selagi diketahui mufti yang akhir orang yang alim lagi mujtahid dan memenuhi syarat-syarat mengeluarkan fatwa.4

Dalam penelusuran kebahasaan dan praktiknya, fatwa pada dasarnya telah diungkap banyak dalam Alquran, dengan dua istilah yang menunjukkan keberadaannya, yaitu yas’alūnaka (mereka bertanya kepada kamu) dan yastaftūnaka (mereka meminta pendapatmu). Dalam beberapa kasus, kata-kata jadian lainnya dari akar kata yang sama dapat ditemukan dalam Alquran, seperti kata aftinā (berikan kepada kami atau berikan pemecahan kepada kami tentang masalah ini dan itu).

Istilah yas’alūnaka atau variasi lainnya terdapat di dalam Alquran tidak kurang dari 126 kali, dalam surat-surat Makkiyyah dan Madaniyyah.5

Menurut Hallaq, di dalam Alquran, istilah istiftā’ mengandung konotasi permohonan untuk memecahkan satu persoalan yang pelik. Dalam surat Yūsuf (12):

43, raja meminta kepada rakyat untuk menafsirkan (aftūnī fī) mimpi serius yang dialaminya. Ratu Balqis pun meminta pendapat (aftūnī fī) dari para pejabatnya ketika Nabi Sulaymān mengajaknya untuk masuk ke dalam Islam. Dalam surat Yūsuf (12) ayat 16, misalnya, Yūsuf diminta untuk menafsirkan (aftinā fī) sebuah mimpi yang rumit dan kompleks yang dirasa membingungkan para penafsir mimpi yang lain. Konotasi yang sama juga dapat ditemukan dalam ayat-ayat hukum, yang berkisar di seputar hak-hak perempuan dan kasus warisan yang begitu pelik.6 Jadi, dari perspektif Alquran, keberadaan fatwa dan iftā’ secara kebahasaan mendapatkan justifikasinya dalam Alquran dengan beragam ungkapan yang berbeda yang mempunyai konotasi yang sama.

Ifta’ (pemberian fatwa) sendii merupakan sebuah institusi yang sangat tua usianya dalam peradaban Islam sebagaimana tuanya usia Agama Islam itu sendiri.

Karena posisi Nabi SAW sebagai kepala Negara sekaligus pemimpin umat Islam saat itu menjadi bukti bahwa beliaulah mufti pertama dalam sejarah. Munculnya problematika di tengah para sahabat waktu itu mendorong mereka untuk bertanya langsung dan meminta solusi kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian penjelasan dan jawaban beliau terhadap pertanyaan tersebut menandai awal munculnya institusi pemberian fatwa.7 Selain Nabi SAW, sebagian sahabat juga memberikan fatwa semasa hidup Nabi SAW, bahkan di kota Nabi SAW sendiri.

4 Sano Kuotoub Mousthafa, Mu’jam Musțalahat Usŭl Fiqh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2000), h. 312

5 Wael B. Hallaq, “From Fatwās to Furū’: Growth and Change in Islamic Substantive Law.” Islamic Law and Society. vol. 1, no. 1 (1994), h. 64, lihat juga Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahrāṡ li Alfāẓ al-Qur’ān alKarīm (Kairo:

Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1364 H), h. 336-337.

6 Rusli, Tipologi Fatwa di Era Modern, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 8, No.

2, Desember 2011, h. 272

7 Niki Alma Febriana Fauzi (2015), Fatwa di Indonesia: Perubahan Sosial, Perkembangan dan Keberagaman, Jurnal Hukum Novelty, Vol. 8, No. 1, Februari 2017, h.109.

19

Sebagai contoh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid bahwa suatu hari kami disisi Nabi SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berujar :”Saya bersumpah atas nama Allah kepadamu, putuskanlah perkara diantara kami dengan kitabullah.” Lantas berdirilah lawan sengketanya yang lebih faqih dari dia dan berkata; “Putuskanlah diantara kami dengan kitabullah, dan izinkanlah aku untuk bicara." Nabi berkata; "bicaralah". Lanjutnya; “Anakku menjadi pekerja laki-laki ini, kemudian anakku berzina dengan isterinya, maka aku menebusnya dengan seratus ekor kambing dan satu pembantu, kemudian aku bertanya kepada beberapa ahli ilmu, mereka mengabariku bahwa anakku berkewajiban didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedang isterinya harus dirajam.” Maka Nabi SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku akan memutuskan diantara kalian dengan kitabullah yang agung sebutan-Nya. seratus ekor unta dan pembantu dikembalikan kepadamu, anakmu di cambuk sebanyak seratus kali dan disaingkan selama setahun, dan pergilah Unais Al Aslami ke istri orang ini, jikalau dia mengakuinya, maka rajamilah dia." Unais akhirnya pergi menemui istri orang tersebut, dan dia mengakuinya, maka ia merajamnya.8 Imam Nawawi menjelaskan dalam hadits ini bahwa diperbolehkan meminta fatwa kepada selain Nabi sewaktu Nabi masih hidup karena berdasarkan hadits ini Nabi tidak mengingkari fatwa salah satu ahli ilmu yang juga sahabat Nabi.9 Walaupun Nabi mempunyai otoritas berfatwa, tapi sebagian sahabat juga diberikan otoritas berfatwa dengan dikukuhkan oleh Nabi sendiri.

Kemudian sepeninggal Nabi SAW, para sahabat terbagi menjadi dua kelompok.

Diantaranya terdapat sahabat yang mengeluarkan fatwa atas masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya, sebagian sahabat yang lain tidak berani berfatwa dan fatwa diarahkan kepada sahabat lain yang dinilai lebih mumpuni dalam memberikan fatwa.

Seiring berjalannya waktu, fatwa juga dikeluarkan oleh para sahabat, tâbi’în, tâbi’u al-tâbi’în hingga sampai kepada para imam mujtahid. Karena fatwa tidak terlepas dari permasalahan ijtihad yang membuat seorang mufti atau pihak yang memberi fatwa harus mampu berijtihad atau mencari jawaban dengan mengikuti pendapat para mujtahid sebagai jawaban atas mustafti atau pihak yang meminta fatwa. Maka tidak asing jika menurut mayoritas ulama istilah mufti merupakan sinonim daripada mujtahid.10 Hanya saja mujtahid mengeluarkan hukum dengan diminta oleh pihak lain ataupun tidak, sedangkan mufti tidak megeluarkan fatwanya kecuali diminta oleh pihak peminta fatwa (muftasti).

8 Sahih Bukhari hadits ke-2724, Sahih Muslim hadits ke-4435, Musnad Ahmad hadits ke 17038, lihat Abd Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib Kindy, Taisîr fi al-Fatwa: Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, ( Damaskus: Muassasah al-Risalah Nasyirun, 2008), h.

32.

9 Abd al-Razzaq Abdullah Saleh bin Ghalib al-Kindy, al-Taisîr fi al-Fatwa:

Asbâbuhu wa Ḍawâbiṫuhu, h. 32.

10 Hasan Salih, Ḍawâbiṫ Fatwâ fi Syarâ’ah Islâmiyyah, (Mamlakah al-Su’udiyah al-‘Arabiyyah, Maktabah Nizar Mustafa al-Bayan, 2007), h. 113.

20

Dalam perkembangannya, fatwa masih bersifat fardi atau personal. Terbukti sejak periode Rasulullah sebagai mufti pertama dalam Islam hingga abad ke 4 Hijriyyah belum terbentuk lembaga resmi yang dikategorikan sebagai fatwa jama’i atau kolektif. Tetapi setelah abad ke 4 Hijriyyah sampai masa Khalifah Usmaniyyah para ulama sudah mulai menjadikan fatwa sebagai suatu keilmuan tersendiri, walaupun masih belum terbukukan sebagai koleksi fatwa-fatwa. Sebagai contoh kitab Âdâb al-Muftĭ wa al-Mustafti karya Ibn Salah al-Syafi’i (643 H), kitab Adab Fatwa wa Mufti wa Mustafti karya Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (676 H) dan kitab Sifat al-Mufti wa al-Mustafti karya Ahmad bin Hamdan al-Hambali (695 H).11

Menurut Rusli, sebelum kekuasaan Usmani yakni di era kekuasaan Mamluk, Sultan (Negara) telah mendirikan satu dewan khusus yang terdiri dari para mufti dan memberikan nama al-ifta Dar al-‘Adl. Para penguasa Mamluk mengangkat mufti dari 4 madzhab untuk masuk kedalam dewan baru tersebut seraya menempatkan mereka dalam posisi yang sama.12 Sedangkan di era kekuasaan Usmani mengembangkan sebuah administrasi keagamaan hirarkis dengan dikepalai oleh seorang mufti yang disebut Syeikhul Islam. Fatwa-fatwa Syeikh al-Islam ini berpengaruh di pengadilan lantaran sering dirujuk sebagai putusan-putusan hukum yang dikeluarkan hakim. Ini menunjukkan bahwa sampai era kekuasaan Usmani fatwa individual yang diwakili oleh salah satu ulama masih mempunyai kedudukan yang sentral di mata masyarakat.

Sementara di zaman modern, fatwa personal dikeluarkan oleh banyak ulama, diantaranya fatwa Syaikh al-Maraghi (w. 1952), fatwa Syaikh Muhammad Syaltut (w. 1963), fatwa Syekh al-Sya’rawi (w. 1998), fatwa Syekh Sa’id Ramadan al-Buti (w. 2013), fatwa Yusuf al-Qardhawi, fatwa Syekh Ali Jum’ah dan lainnya.13 Sedangkan fatwa kolektif diprakarsai oleh himpunan fatwa Dār al-Iftā di Kairo yang terdiri atas lebih dari 130 volume. Koleksi fatwa ini memiliki pengaruh yang sangat luas, terbukti lembaga tersebut telah memuat fatwa selama satu abad lebih sejak 1895 hingga sekarang.14 Seorang mufti menjadi pelayan public diangkat oleh kepala Negara dan mendapat julukan Mufti al-Diyar al-Misriyyah (Mufti Wilayah Mesir) kemudian diganti menjadi Mufti al-Jumhuriyyah (Mufti Republik).15 Sedangkan di Saudi Arabia, para mufti terkumpul dalam Lajnah Daimah li Buhus al-Ilmiyyah wa al-Ifta yang diangkat oleh Negara. Figur penting yang mewarnai

Sementara di zaman modern, fatwa personal dikeluarkan oleh banyak ulama, diantaranya fatwa Syaikh al-Maraghi (w. 1952), fatwa Syaikh Muhammad Syaltut (w. 1963), fatwa Syekh al-Sya’rawi (w. 1998), fatwa Syekh Sa’id Ramadan al-Buti (w. 2013), fatwa Yusuf al-Qardhawi, fatwa Syekh Ali Jum’ah dan lainnya.13 Sedangkan fatwa kolektif diprakarsai oleh himpunan fatwa Dār al-Iftā di Kairo yang terdiri atas lebih dari 130 volume. Koleksi fatwa ini memiliki pengaruh yang sangat luas, terbukti lembaga tersebut telah memuat fatwa selama satu abad lebih sejak 1895 hingga sekarang.14 Seorang mufti menjadi pelayan public diangkat oleh kepala Negara dan mendapat julukan Mufti al-Diyar al-Misriyyah (Mufti Wilayah Mesir) kemudian diganti menjadi Mufti al-Jumhuriyyah (Mufti Republik).15 Sedangkan di Saudi Arabia, para mufti terkumpul dalam Lajnah Daimah li Buhus al-Ilmiyyah wa al-Ifta yang diangkat oleh Negara. Figur penting yang mewarnai