Propinsi Sumatera Selatan
2.1.2. Kondisi Fisik Lahan 1 Sistem Lahan
2.1.2.2. Geologi, Fisiografi dan Tanah
Berdasarkan peta geologi lembar Jambi skala 1: 250.000 (Gafoer, et al, 1986) daerah lokasi proyek di dalam kawasan penyangga (buffer zone) Taman Nasional Berbak termasuk kedalam formasi Aluvium (Qa) berumur kuarter yang terdiri dari endapan liat, pasir, lumpur dan bahan organik. Bahan yang membentuk tanah di daerah penelitian adalah endapan liat dan lumpur serta bahan organik.
Endapan Aluvium terdapat di sepanjang aliran Sungai Batang Hari dan cabang-cabangnya dan mendekati pantai bahan Aluvium ini sudah bercampur dengan endapan marin (laut). Sedangkan endapan bahan organik dengan ketebalan gambut lebih dari 3 meter mendominasi daerah penelitian yang terdapat di belakang kiri dan kanan Sungai Batang Hari sejauh 1,5 – 2 km.
Penyebaran formasi Aluvium (Qa) hampir di seluruh daerah aliran Sungai Batang Hari, karena adanya proses geomorfologi dan dilanjutkan dengan hidrologi seperti banjir yang mengakibatkan erosi, sedimentasi dan sebagainya, maka pada sepanjang aliran sungai terbentuk tanggul sungai (levee) dan rawa belakang (backswamp) serta kubah gambut (peatdome) Pada daerah yang terpengaruh pasang surut secara langsung, terbentuk dataran estuarin (estuarine flats along river) daerah ini merupakan hasil endapan lumpur pasang dan banjir di sepanjang jalur sungai
Peta Sistem Lahan
Taman Nasional Berbak dan Kawasan Penyangga, Jambi
Keterangan: KHY : Kahayan MDW : Mendawai MBI : Muara Beliti : Sungai
Tanah-tanah di sekitar Sungai Aur dan Sungai Rambut berkembang dari bahan induk endapan sungai berupa campuran liat, debu dan bahan organik. Endapan sungai umumnya terdapat di
bagian tanggul sungai (levee) yang topografinya agak tinggi sehingga tanahnya agak kering,
sedangkan di belakang tanggul sungai (backswamp) topografinya sedikit agak rendah, sehingga
selalu tergenang air dan berawa. Endapan organik yang menutupi endapan sungai biasanya terdapat di daerah kubah gambut. Menurut “Key to Soil Taxonomy”, (Soil Survey Staff, 1998) dengan nama padanan dari Pusat Penelitian Tanah (1983), tanah ini diklasifikasikan ke dalam Typic Endoaquepts untuk tanah-tanah yang mempunyai rejim kelembaban akuik dan telah mengalami perkembangan profil. Tanah yang mempunyai simpanan bahan organik (C-organik) 12- 18 % dengan ketebalan > 40 cm diklasifikasikan kedalam Haplohemists (Organosol Hemik).
Fisiografi merupakan bentukan alam di permukaan bumi yang didasari oleh proses-proses pembentukannya. Secara garis besar fisiografi di daerah penelitian tergolong lahan basah yang terdiri dari Group Aluvial dan dan Group Gambut. Dikaitkan dengan sistem lahan, termasuk kedalam Group Aluvial adalah sistem lahan KHY dan MBI, sedangkan Group Gambut adalah sistem lahan MDW.
a. Group Gambut
Gambut di daerah penelitian merupakan gambut oligotrofik air tawar, yang terbentuk dari hasil akumulasi bahan organik. Umumnya terdapat di daerah yang relatif cekung di belakang jalur aliran sungai atau rawa belakang. Gambut tersebut tergenang sepanjang tahun, sehingga dekomposisi sisa tumbuhan kurang intensif dan menumpuk sebagai gambut dengan ketebalan antara 1 sampai dengan 4 meter. Secara umum dapat dikatakan bahwa ketebalan gambut bertambah jika makin jauh dari sungai. Gambut yang terbentuk di daerah ini sangat homogen dengan tingkat kematangan adalah saprists dan hemists. Gambut yang relatif dekat dengan pemukiman penduduk/transmigrasi telah diolah untuk lahan pertanian sehingga ketebalan lapisan bahan organik/gambutnya mempunyai kecenderungan menipis bahkan hilang apabila diolah secara intensif. Bahan organik yang telah mengalami dekomposisi menjadi saprists diperkirakan komposisi abunya tidak kaya akan unsur hara (oligotrofik) karena pengaruh lingkungan setempat seperti aliran sungai dan fluktuasi airnya berasal dari kubah gambut akan membawa kadar asam dan miskin unsur hara.
Tanah-tanah pada lahan gambut diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 1998) pada tingkat Subgroup dengan padanannya menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT, 1983; lihat Tabel 4). Tanah yang dijumpai adalah Typic Haplosaprists dan Typic Haplohemists. Kedua tanah ini tergolong tanah Histosol yang terbentuk dari sisa-sisa tanaman atau lapukan bahan organik pada daerah cekungan yang selalu tergenang dalam jangka waktu yang lama.
Penghambat utama untuk pengembangan pertanian adalah genangan air, simpanan hara rendah serta ketebalan gambut yang dalam. Vegetasi/penggunaan lahan pada lahan gambut antara lain: hutan rawa campuran rumput rawa dan belukar rawa. Di sebagian wilayah sudah dimanfaatkan untuk persawahan dan tanaman perkebunan.
Sifat-sifat umum tanah gambut diantaranya:
• Sifat-sifat fisik: Bulk Density (BD) < 0,1 g/cm, porous/sarang, konduktivitas
hidrologiknya tinggi, permukaan tanah cepat turun (subsidence) apabila didrainase
Tabel 4. Klasifikasi Tanah menurut USDA, 1998 dan PPT, 1983
Ordo Sub Group (USDA, 1998) PPT (1983)
Histosols Typic Haplohemists
Typic Haplosaprists
Organosol Hemik Organosol Saprik
Entisols Typicc Hydraquents Gleisol Hidrik
Inceptisols Typic Endoaquepts
Typic Eutrudepts
Gleisol Distrik Kambisol Distrik
b. Group Aluvial
Grup aluvial ini terbentuk oleh aktivitas sungai yaitu berupa pengendapan bahan-bahan (aluvium). Lahan ini merupakan dataran banjir secara musiman, penyebarannya terdapat di sepanjang Sungai Batanghari. Lahan ini relative datar sampai agak berombak. Bahan induk berasal dari endapan resen/subresen, berupa pasir, liat, debu dan bahan organik. Penyebarannya di sekitar jalur aliran S. Batang Hari dan cabang-cabangnya serta daerah pelembahan (rawa belakang sungai).
Tanah-tanah yang terdapat pada lahan aluvial didominasi oleh tanah yang sering tergenang pada posisi cekungan, rawa belakang atau dataran banjir. Tanahnya diklasifikasikan kedalam Typic Hydraquents dan setempat terdapat Typic Haplosaprits. Sedangkan pada
lahan agak tinggi di tanggul sungai (levee), tanahnya relatif kering, dijumpai tanah Typic
Endoaquepts berasosiasi dengan Typic Eutrudepts.
c. Karakteristik Umum Tanah
• Karakteristik tanah gambut : tekstur tanah lapiasan atas saprik/hemik, lapisan bawah
berliat warna tanah coklat kemerahan (5 YR 3/2) dan di lapisan mineral kelabu (5 Y 6/1), reaksi tanah agak masam (pH 4,0) serat gambut agak halus sampai sedang, dengan tingkat kematangan matang sampai sedang.
• Kesuburan tanah : kurang baik/ kurang subur (hasil analisis kimia tanah lihat
Lampiran 8).
• Kesesuaian lahan : sesuai untuk kegiatan rehabilitasi dengan meperhitungkan
kedalaman/ketebalan, lama dan tingginya genangan pada musim hujan dan musim kemarau, jenis tanaman yang tahan/tanaman endemik.
• Karateristik tanah mineral : tekstur tanah lapiasan atas bergambut tipis (<20 cm),
lapisan bawah berliat halus sampai berlempung, warna tanah kelabu (5 Y 6/1) dengan karatan merah kecoklatan (5 YR 5/6) di lapisan atas dan kelabu di lapisan bawah (5 Y 6/1), reaksi tanah agak masam (pH 4,5 – 5,0) konsistensi lekat dan plastis, struktur gembur sampai teguh.
• Kesesuaian lahan : cukup sesuai untuk kegiatan rehabilitasi tetapi harus
= Tebal gambut 0-4 m = Tanah mineral
= Tebal Gambut 50-100 cm = Tebal Gambut < 50 cm
Gambar 6. Peta sebaran ketebalan gambut di wilayah kajian TNB dan kawasan penyangga
(Sumber : Wahyunto et al, 2002)