BAB IV GERAKAN SAMIN DAN KAUSALITASNYA
4.2 Gerakan Tanpa Kekerasan
4.2 Gerakan Tanpa Kekerasan
Beberapa pihak menggolongkan gerakan Samin sebagai bagian dari Gerakan Sosial Baru (new social movement). Namun, bagi Jean Cohen, gerakan Samin sulit digolongkan ke dalam Gerakan Sosial Baru. Jean Cohen merumuskan tujuan Gerakan Sosial Baru adalah penataan kembali relasi negara, masyarakat, dan perekonomian dan untuk menciptakan ruang publik. Keberatan Cohen untuk menggolongkan gerakan Samin dalam Gerakan Sosial Baru adalah pada eksistensi negara yang tidak diakui oleh masyarakat pengikut Samin.
Namun salah satu batasan ciri gerakan sosial baru Cohen adalah aktornya menerima keberadaan formal negara, tidak berlaku bagi gerakan Saminisme. Sebab sikap pengikut Saminisme berpendapat mereka hidup di tanah warisan leluhur, sedangkan pemerintah Hindia Belanda tidak berhak mengatur kehidupan mereka yang dituangkan dengan penolakan membayar pajak, dan tidak hormat terhadap pejabat pemerintahan.114 Dalam aspek orientasi gerakan, Gerakan Sosial Baru melampaui Gerakan Sosial Lama yang berorientasi pada keadilan material. Gerakan Sosial Baru menurut Enrique Larana115 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) mentransedensikan struktur kelas;
2) memperlihatkan kemajemukan gagasan dan nilai-nilai;
3) memfokuskan pada isu-isu budaya dan simbolik yang lebih terkait dengan identitas dari pada ekonomi;
4) hubungan antara individu dan ekonomi kabur;
114 http://wedangronde.blogspot.com/2007/10/meluruskan-pandangan-tentang-wong-Samin.html data diakses pada 18 Mei 2009.
115 Enrique Larana dkk. 1994. New Social Movements: From Identity to
Ideology. Philadelphia: Temple University Press. Data diakses dari
5) melibatkan segi-segi pribadi dan keakraban kehidupan manusiawi; 6) mengandalkan semangat anti kekerasan dan pembangkangan sipil; 7) berkait dengan adanya krisis kredibilitas dan ruang partisipasi; 8) cenderung tersegmentasi, kabur, dan terdesentralisasikan.
Gerakan Samin sebagai Gerakan Sosial Baru, merujuk pada ciri-ciri yang diungkapkan Larana, terutama pada orientasi Gerakan yang ingin menunjukkan identitas kultural, alat Gerakan yang menggunakan nilai-nilai spiritualitas Agama Adam, serta cara-cara pembangkangan yang tidak menggunakan unsur kekerasan. Pada konteks tersebut, dapatlah disebut bahwa Gerakan Samin termasuk Gerakan Sosial Baru.
Terkait dengan Gerakan tanpa kekerasan, pada dua dekade awal abad XX, di Nusantara terutama di Jawa muncul gerakan-gerakan nasionalis awal yang lazimnya dipelopori oleh intelektual-intelektual priyayi hasil pendidikan formal pemerintah hindia Belanda. Takashi Siraishi dalam bukunya yang berjudul Zaman Bergerak: Radikalisasi Rakyat di Jawa 1912-1926, terlampau jelas menggambarkan suasana pergerakan nasional pada dekade awal abad XX. Siraishi memberikan definisi atas kata “pergerakan” yakni suatu proses “penterjemahan” dan pencomotan yang dinamis. “Penterjemahan” merujuk pada pembacaan para intelektual pribumi atas fakta penjajahan yang menyengsarakan rakyat. Sedangkan “pencomotan” merupakan usaha mengadaptasi bentuk-bentuk perlawanan baru yang didapat dari pengalaman-pengalaman di berbagai negara modern di dunia. Strategi perlawanan yang sama sekali baru di hindia Belanda, misalnya rapat-rapat
80
umum, pemogokan, partai, demonstrasi, penerbitan koran, tradisi komunikasi lewat surat menyurat, hingga penelitian-penelitian pedesaan.116
Pencomotan strategi perlawanan dapat dilihat misalnya Tirtoadhisoerjo yang menerbitkan koran sendiri (Medan Prijaji, Poetri Hindia, dan lainnya), sementara itu, Douwes Dekker yang membawa pulang ide rapat umum dan menyelenggarakan rapat umum untuk pertama kali di Hindia Belanda. Tjokroaminoto mempelajari kekuatan dari rapat umum tersebut kemudian menerapkannya sebagai “senjata” ampuh bagi Sarekat Islam (SI) dalam penggalangan massa. Semaoen belajar serikat buruh dan sosialisme dari Henk Sneevliet. Soewardi Soerjaningrat dan Tan Malaka membawa pulang ide disiplin partai. Serta Soerjopranoto, si raja mogok yang mempelopori pemogokan buruh di berbagai daerah. Perlawanan maupun pembangkangan yang dilakukan oleh kaum terpelajar pribumi tersebut selain menggunakan cara-cara perlawanan baru, juga memuat ideologi nasionalisme melawan belanda.
Lalu bagaimana mengaitkan antara gerakan tanpa kekerasan Samin Surosentiko dan gerakan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh intelektual pribumi pada saat itu? Siraishi dalam karyanya tersebut sama sekali tidak menyinggung gerakan Samin, kecuali pada satu kalimat yang menyatakan tentang kepergian Tjipto Mangoenkoesoemo ke Blora untuk mempelajari Saminisme dan menyandarkan diri pada karya Jean Finot, Parmi les saints et les possedes, yang menggambarkan persamaan antara agama Adam yang diajarkan oleh Samin
116 Takashi Siraishi. 2005. Zaman Bergerak: Radikalisasi Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Surosentiko dan sebuah sekte agama di Rusia pada zaman tsar yang meniadakan Tuhan, setan, surga, dan neraka.117
Tidak ada laporan yang memadai tentang keterhubungan antara gerakan Samin dengan gerakan nasionalisme pada saat itu. Di tengah banyak perbedaan orientasi, ideologi, dan alat atau cara gerakan, persamaan di antara keduanya adalah sama-sama menentang pemerintah Hindia Belanda serta sama-sama menjalankan penentangan tersebut melalui cara-cara anti kekerasan, meski pada akhirnya tahun 1925 dan 1927 muncul pemberontakan besar di Prambanan dan Silungkang yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia.
Keistimewaan dari gerakan Samin Surosentiko di tengah-tengah organisasi-organisasi pergerakan semacam Boedi Oetomo, Perhimpunan Indonesia, ISDV, Serikat Islam, dan lain-lainya, gerakan Samin dapat dikatakan tidak menggunakan cara-cara modern serta pandangan hidup modern yang didapatkan Intelektual Pribumi dari negeri Belanda dan Eropa. Gerakan Samin, baik panduan ideologis gerakan maupun cara-cara pergerakannya nyaris disandarkan pada pengetahuan lokal tentang konsep kekuasaan tanah Jawa serta mitologi-mitologi pewayangan yang diwariskan oleh tradisi leluhur Jawa melalui pujangga-pujangga keraton.118 Orisinalitasnya gerakan Samin menjadi jelas dipahami ketika dibandingkan dengan gerakan intelektual pribumi pada saat itu
117 Ibid., hlm. 126. Takashi mendasari tulisannya pada laporan Tjipto Mangoenkoesoemo dalam Het Samin: Rapport Uitgebracht aan de Vereeninging Insulinde (Semarang: Benjamins, 1918)
118 Salah satu pujangga keraton yang menjadi referensi Samin Surosentiko yakni Ronggowarsito. Lihat Suripan Sadi Hutomo, “Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya” dalam Basis Februari 1985, hlm. 63.
82
yang berporos pada tiga hal, gerakan yang bersandar pada nila-nilai keislaman seperti Sarekat Islam, Gerakan yang dipengaruhi oleh Komunis Rusia misalnya ISDV, kemudian gerakan yang dipengaruhi oleh gagasan-gagasan kemerdekaan serta pembentukan negara nasional baru misalnya Perhimpunan Indonesia. Bahwa gerakan Samin tidak berada pada tiga poros tersebut; Nasionalis, Islam, Komunis. Perbedaan tersebut juga terdapat dalam praktek-praktek perlawanan dan pembangkangan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Gerakan tanpa kekerasan yang dijalankan Samin dan masyarakat pengikutnya misalnya dengan pembangkangan melalui kata-kata. Sepertihalnya contoh berikut ini: Bulan desember 1914, dilaporkan oleh wartawan Jawa yang kemudian dimuat dalam De Locomotief Semarang, bahwa Rembang terdapat persidangan untuk kasus pajak. Berikut salah satu sesi tanya jawab seorang Patih yang menginterogasi salah satu kaum Samin dalam persidangan:
“Kamu masih berhutang 90 kepada negara.” “Saya tidak hutang kepada negara.”
“Tapi kamu mesti bayar pajak?” “Wong Sikep tidak mengenal pajak.” “Apa kamu gila atau pura-pura gila?”
“Saya tidak gila dan tidak berpura-pura gila.”
“Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak”
“Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Kenapa negara tak habis-habis minta uang?”
“Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak cukup uang, tak mungkin merawat jalan-jalan dengna baik.”
“Kalau menurut kami [ketika] keadaan jalan-jalan itu mengganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.
“Jadi kamu tak mau bayar pajak?” “Wong Sikep tak kenal pajak.” 119
Setelah proses interogasi di pengadilan berjalan cukup sengit, sang Patih akhirnya memutuskan: “Pengadilan Distrik memerintahkan anda untuk membayar utang anda kepada negara. Jika selama 8 hari, anda tidak membayar, harta benda anda akan disita. Pergi!”. Pengikut Samin tersebut pergi. Delapan hari telah berlalu, dan pengikut Samin tersebut tetap tidak mau membayar pajak, akhirnya barang-barangnya disita oleh pemerintah Hindia Belanda dan tidak ada perlawanan apapun. Pada tanggal 8 Januari 1914, barang-barang sitaan tersebut dijual atau dilelang oleh pemerintah kolonial dan uangnya hendak diserahkan kembali kepada pengikut Samin tersebut. Namun, pengikut Samin tesebut menolak dengan berkata: “Sepanjang yang saya ketahui, saya tidak pernah menyewakan apapun.”
Sepenggal kisah tersebut terjadi pada puncak-puncak geger Samin di pesisir utara Jawa. Perdebatan antara salah satu kaum Samin dengan Patih tersebut memperlihatkan bentuk pembangkangan masyarakat Samin melalui kata-kata. Kata-kata “Wong Sikep tidak mengenal pajak” haruslah dilihat dalam konteks kata-kata sebelum itu yakni “Kalau menurut kami [ketika] keadaan jalan-jalan itu mengganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.” Para petani dalam gerakan Samin mempertanyakan mengapa mereka harus membuat jalan yang mereka tidak lalui. Kalau memang mereka memerlukan jalan-jalan yang harus diperbaiki dan dipelihara, maka dengan sendirinya orang atau petani akan memperbaikinya. Para petani dalam gerakan Samin juga mempertanyakan mengapa mereka harus membayar pajak. Kalau pemerintah memerlukan dan
84
mereka berlebihan, maka akan mereka berikan kepada pemerintah, namun petani pengikut Samin sendiri yang menentukan jumlahnya, bukan negara.120
Munculnya perlawanan dengan kata-kata bukan tanpa maksud. Selain melawan dengan cara halus, perlawanan dengan kata-kata dapat menunjukkan sikap-sikap kultural dan politik masyarakat Samin sesungguhnya. Misalnya untuk menyebut mati/meninggal masyarakat pengikut Samin akan mengatakan salin sandhang [berganti baju]. Karena tubuh ini hanyalah baju dari roh kita. Beberapa dapat dilihat dalam percakapan berikut (huruf a pada nomer, kalimat orang Samin):121
1. Jenengmu sinten mbah?
1.a Jenengku lanang pangaran Simin. 2. Mpun pinten taun teng mriki?
2.a Nggih mboten ngétung tauné 3. Umuré pinten?
3.a Setunggal kanggé selawasé. 4. Anaké pun disekolahké?
4.a Mpun kula sekolahké dhèwèk. Sekolah macul. 5. Mbah, sampéyan kedah suntik bèn larané énggal saras
5.a Kula pun gadah suntikan dhèwèk. 6. Lembuné pinten mbah?
6.a lanang kalih wédok 7. Pinten etungé?
7.a Sekawan.
120 Onghokham, “Peranan Rakyat dalam Politik”, dalam Prisma, Agustus 1979, no. 9, Jakarta., hlm. 43.
121 Lihat Suripan Sadi Hutomo, “Bahasa dan Sastra Lisan Orang Samin” dalam Basis edisi Januari 1985.
Terjemahan
1. Nama anda siapa?
1.a Nama saya laki-laki, punya sebutan Simin. 2. Sudah berapa lama di sini?
2.a Ya tidak menghitung tahunnya. 3. Umurnya berapa?
3.a Satu untuk selamanya. 4. Anaknya sudah disekolahkan?
4.a Sudah saya sekolahkan sendiri (di didik sendiri). Sekolah mencangkul.
5. Mbah, anda harus disuntik (periksa dokter) biar cepat sembuh. 5.a Saya sudah punya alat suntik sendiri.
6. Sapinya berapa mbah? 6.a Jantan dan betina 7. Berapa hitungannya?
7.a Empat.
Dialog no 1, 2, dan 3, memperlihatkan falsafah kehidupan masyarakat pengikut Samin. Terutama pada jawaban atas pertanyaan umur yang menyatakan “Satu untuk selamanya”. Menurut masyarakat Samin, umur manusia itu satu. Umur ialah hidup. Hidup ialah roh dan nyawa. Manusia itu hanya memiliki umur satu. Dan ia selamanya di bawa. Lahir dan mati. Oleh karena itulah orang yang meninggal dunia disebut salin sandhangan.
Sementara itu, dalam dialog nomor 4,5,6, dan 7 menunjukkan bahasa politik. Bahasa politik ialah bahasa yang berisi politik. Dalam bidang politik orang Samin pernah berurusan dengan pemerintah Hindia Belanda. Mereka anti dengan pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu apa-apa yang berbau pemerintah mereka menolak, menolak dengan cara halus, yakni dengan cara berbahasa yang lazim disebut sebagai bahasa Sangkak atau bahasa Sangkal. Misalnya, menolak (dengan cara halus) untuk menyekolahkan anaknya dengan perkataan “Sudah saya sekolahkan sendiri (di didik sendiri). Sekolah
86
mencangkul”. Kemudian soal permintaan untuk memeriksakan kesehatan ke petugas kesehatan pemerintah Hindia Belanda, mereka secara halus dengan mengatakan “Saya sudah mempunyai alat suntik sendiri”. Yang dimaksud dengan ‘alat suntik sendiri’ adalah alat kelamin laki-laki. Menurut mereka, dalam berhubungan seks, alat kelamin laki-laki menyuntik alat kelamin perempuan. Bagaimanapun, orientasi perkataan tidak semata-mata urusan analogi berhubungan sex, namun permainan kata-kata “suntikan” tersebut semata untuk menolak intervensi pemerintah Hindia Belanda dalam bidang kesehatan, lebih khusus lagi soal pengobatan.
Dalam konteks yang lain, pembangkangan dengan kata-kata juga digunakan untuk memperlihatkan posisi serta prinsip masyarakat Samin terhadap tata kehidupan yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial. Misalnya mereka mempertanyakan mengapa mengapa negara membebani pajak atas tanah, melarang mereka dilarang untuk masuk ke hutan atau memakai air bagi pertanian. Pemaksaan tata kehidupan bernegara dengan beban-beban pajak tersebut telah bersinggungan dengan tata kehidupan yang dibangun dengan nilai-nilai masyarakat pengikut Samin misalnya kepercayaan bahwa sumber daya agraria (di mana di dalamnya terdapat tanah, air, dan kayu) adalah ciptaan Tuhan dan semua orang boleh memanfaatkannya tanpa ada dominasi satu dan lain orang atau sekumpulan orang tertentu. Terlebih lagi, keyakinan bahwa tanah Jawa merupakan warisan dari Pandawa yang diwariskan kepada masyarakat Samin semakin bertentangan dengan pengakuan dan pemaksaan perluasan areal hutan Jati yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Dalam konflik dengan otoritas birokrasi kehutanan, pembangkangan kata-kata disampaikan kepada perwakilan resmi Dinas Kehutanan. Mereka menolak berbicara kepada para pejabat kehutanan dan pejabat-pejabat bidang lain dalam bahasa krama, bahasa Jawa halus. Ketika mereka berbicara dalam bahasa Jawa ngoko, ragam bahasa Jawa untuk sebaya, tafsir harfiah mereka tidak sama artinya dengan yang dimaknakan pejabat ketika mereka berbicara. Misalnya, beberapa pengikut Samin membaringkan diri di atas tanah mereka ketika ada penataan ulang tanah komunal. Mereka bilang “kanggo” (“tanah ini masih saya pakai”). Karena, penataan ulang tanah komunal pada tahun 1914 berujung pada pengurangan atau bahkan memintaan paksa tanah-tanah tersebut untuk dijadikan hutan Jati atau keperluan pemerintah Hindia Belanda yang lain.
Menurut Nancy, kekhawatiran Belanda atas ancaman masyarakat pengikut Samin yang mengabaikan otoritas serta klaim Belanda terhadap sumber daya agraria baru muncul pada tahun 1905, ketika pembangkangan Samin tidak lagi soal akses hutan saja, namun sudah melakukan penolakan-penolakan membayar pajak serta melakukan kerja bakti desa. Pundi-pundi kekuasaan kolonial dan ketertiban masyarakat kolonial terganggu, hingga berujung pada penangkapan Samin Surosentiko pada tahun 1914. Pada prinsipnya, Samin dan para pengikutnya merasa terheran-heran, ketika ada sekelompok entitas bernama pemerintah Hindia Belanda mengklaim diri sebagai penguasa sekaligus pemilik tanah kehutanan seluas itu, yang di dalamnya memuat segala hal yang diperlukan bagi masyarakat agraris layaknya Samin Surosentiko. Sepertihalnya, tidak ada jawatan pemerintah yang menguasai angin dan air.
88
Identifikasi diri masyarakata pengikut Samin sebagai wong Sikep yakni mengerti apa menjadi miliknya, tidak dianggap sama sekali oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu.
Slogan Saminis ‘orang sikep mengerti apa yang menjadi miliknya’ hanyalah semacam igauan saja bagi Belanda yang memiliki citra diri sebagai ‘pemilik’ kawasan hutan dan pepohonannya selama puluhan tahun tahun. Perjanjian bahwa mereka memegang kepemilikan atau penguasaan atas kawasan-kawasan ini serta pohon jati di dalamnya, telah terjalin dengan Sultan, Bupati, saudagar, dan orang-orang Jawa yang lainnya yang dapat mereka akses. Belanda tidak ambil pusing untuk menjalin kesepakatan dengan para pelaku pembuka hutan yang sesungguhnya atau para penggarap lahan dan tidak menggubris hak-hak para pengguna. Belanda mempunyai perjanjian kesepakatan, peraturan hukum, dan bila diperlukan, tentara untuk melindungi klaim-klaim hutan mereka”122
Bagi banyak orang dalam komunitas pedesaan, termasuk para pengikut Samin, perubahan penggunaan aktual mereka atas hutan jauh lebih kecil ketimbang perubahan legalitas akses mereka. mereka yang paling miskin kehilangan mobilitas yang pernah mereka miliki sebagai semacam senjata untuk untuk menghadapi pihak yang kaya atau berkuasa di antara mereka. Apapun motif mereka, semua kelompok penduduk pedesaan meneruskan mengambil dan menggunakan kayu jati dan kayu lain dari hutan, seperti ditunjukkan dalam statistik pencurian kayu. Pada tahun 1905 sekitar 45.000 orang ditahan karena kejahatan hutan, kebanyakan berupa pencurian kayu.123 Penduduk desa tidak dapat hidup tanpa hutan.
Kaum Samin menolak membayar pajak, membayar denda, menolak meninggalkan tanah sewa atau tanah komunal ketika kurun penyewaan mereka
122 Nancy Lee Peluso. op. cit., hlm. 107.
sudah kadaluwarsa, menolak berhenti memanfaatkan hutan, menolak ikut ritual desa dan slametan yang menyertainya. Ada juga yang menumpuk batu di jalan yang diperintahkan untuk mereka bangun. Variasi bentuk pembangkangan ini merupakan ungkapan ketidakpuasan komunal terhadap perubahan dalam masyarakat yang segaja dipaksakan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Nilai-nilai kehidupan masyarakat pengikut Samin yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya menjadi referensi atas pembacaan masyarakat pengikut Samin terhadap kebijakan-kebijakan kolonial yang muncul. Hasilnya dapat diduga, ada ketidaksesuian antara kebijakan kolonial dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat pengikut Samin, hingga hal tersebut menimbulkan pertentangan-pertentangan, pembangkangan-pembangkangan, ataupun bisa dikatakan resistensi-resistensi yang semuanya dilakukan dengan tidak menggunakan kekerasan fisik.
Peraturan-peraturan kolonial abad XIX hingga awal abad XX, bagi Onghokham, menyasar petani hingga ke pelosok-pelosok pedesaan. Persentuhan petani dengan peraturan kolonial selalu berimplikasi dalam dua hal: pertama jika peraturan tersebut dipatuhi, maka politik pertanian, perkebunan, dan kehutanan dapat berjalan lancar, petani mendapatkan insentif berupa upah uang tunai, terutama pada masa liberalisasi mulai dijalankan. Kedua, jika peraturan kolonial tidak dipatuhi oleh petani, maka politik pertanian, perkebunan, dan kehutanan kolonial tidak berjalan lancar. Sementara itu petani harus menerima konsekuensi berupa sanksi-sanksi. Karena, tidak melaksanakan peraturan berarti melanggar peraturan. Seperti yang dituliskannya dalam majalah Prisma: 124
90
“Ada banyak peraturan-peraturan lain lagi yang berjumlah ratusan untuk mengatur kehidupan petani… pelanggaran terhadap tiap peraturan itu ada sanksinya. Hasilnya memang adalah permukaan desa di Jawa yang sekarang ini.”
Pada tanggal 9 April 1870 pemerintah Hindia Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet dalam Indische
Staatsblad No.55) yang menyatakan bahwa tanah kosong (woeste gronden)
menjadi milik pemerintah Hindia Belanda. Penentuan batas antara lahan milik penduduk dan lahan hutan menemukan puncaknya sejak saat itu. Telebih lagi, dalam salah satu bagiannya terdapat pasal yang membahas soal asas Domein Verklaring. Dengan kata lain, negara menjadi pemilik tanah di mana orang tidak dapat membuktikan hak kepemilikannya, atau lazimnya disebut asas Domein. Maka menjadi jelas, batas kawasan hutan ditetapkan secara tegas untuk menandai di mana lahan milik masyarakat berakhir dan wilayah hutan dimulai. Hutan kemudian dikuasai oleh negara secara sepihak dan sejak saat itulah muncul konsep “hutan negara”.
Pada tahun 1870, kawasan hutan di pulau Jawa tinggal 23% dari total luas pulau.125 Pakar Kehutanan akademik berpendapat bahwa penetapan batas kawasan hutan di Jawa memberikan jaminan kelestarian penguasaan wilayah hutan serta keberlanjutan pembangunan kehutanan yang lestari.
“Ditinjau sekilas dari kepentingan rakyat sekitar hutan pada saat ini, ketentuan Domein Veklaring tersebut ada yang menganggap sebagai upaya pemerintah kolonial untuk memotong akses masyarakat terhadap sumber daya hutan. Tetapi sebaliknya tanpa Domein Veklaring, kawasan hutan di pulau Jawa-Madura yang tersisa mungkin tinggal kawasan hutan lindung yang berada di puncak-puncak gunung yang tinggi saja. Oleh karena itu
dengan adanya Domein Veklaring sebenarnya jelas bahwa kawasan hutan di pulau Jawa masih dapat dipertahankan sampai sekarang.126
Dalam hubungannnya dengan hutan, kita dapat melihat hubungan tersebut dalam tiga fase kronologis: pertama kebiasaan wong Sikep dalam memanfaatkan hutan bagi keberlangsungan kehidupan; kedua pembatasan atas akses wong Sikep terhadap hutan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda, dan ketiga ketika wong Sikep terus melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda. Penjelasan Sejarah tentang Samin selama ini didominasi oleh tema-tema perlawanan, termasuk didalamnya perlawanan Samin terhadap pemerintah Hindia Belanda atas akses hutan.
Bahwa pemanfaatan hutan yang terus dilakukan oleh wong Sikep kendati dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda, dianggap sebagai sebuah perlawanan memang sangatlah masuk akal. Namun, perlu kiranya ditinjau kembali, atas dasar apa wong Sikep melakukan perlawanan tersebut, andaikan hal itu disebut sebagai sebuah perlawanan. Dalam konteks ini, cara pandang Wong Sikep terhadap alam, khususnya hutan menjadi layak sebagai sebuah tinjauan tersendiri. Sebagaimana dengan unsur alam yang lain (tanah, air, dsb), wong Sikep memandang hutan sebagai ciptaan Tuhan, serta semua orang boleh memanfaatkan. Hubungan antara Wong Sikep dengan hutan tidak dapat dilepaskan dari prinsip-prinsip spiritualitas mereka yakni tanah, air, dan kayu milik semua orang.
92