BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Samin Surosentiko dan Kehutanan abad XIX, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, nilai-nilai yang diperjuangkan Samin dan pengikutnya
disandarkan pada spiritualitas agama Adam. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman hidup bagi perjalanan spiritualitas maupun laku hidup sehari-hari. Dalam agama Adam termuat ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, etika kehidupan, etika politik, sistem pengetahuan atas kegiatan bertani, dan cara pandang terhadap keberadaan hutan. Ajaran Agama Adam termuat dalam sebuah kitab bernama Jamuskalimasada yang terdiri dari lima serat yakni Serat Punjer Kawitan, Serat
Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati Sawit, dan Serat
Lampahing Urip. Selain itu, beberapa ajaran lisan seperti angger-angger (peraturan) pratikel, pengucap, dan lakonana menjadi referensi nilai dalam menjalani kehidupan mereka. Selain itu, agama Adam mengutamakan pemujaan bumi dan penilaian tinggi atas peran petani dalam memproduksi pangan. Selain itu, agama Adam juga mengajarkan kejujuran, kesederhanaan, serta kesetaraan.
Dalam hubungannya dengan hutan, Samin dan pengikutnya memiliki sistem pengetahuan yang pada intinya menyatakan bahwa tanah Jawa termasuk hutan di dalamnya adalah ciptaan Tuhan yang dititipkan Pandawa kepada orang Jawa sekaligus Samin dan pengikutnya. Ciptaan Tuhan tersebut tidak boleh ada yang mendominasi atas pemanfaatannya, karena salah satu sistem pengetahuan Samin menyatakan bahwa tanah, air, dan kayu adalah milik semua orang. Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh dibatasi hubungannya dengan hutan serta tidak boleh ada pihak-pihak yang mencoba mendominasi penguasaan hutan. Samin juga menyandarkan spiritualitasnya pada unsur-unsur pewayangan. Sebagaimana telah diketahui, ketika gunungan yang menggambarkan alam berupa hutan dan segala isinya ”dicabut” serta dikuasai oleh aktor tertentu, maka akan terjadi kekacauan, dan keseimbangan kehidupan akan terganggu. Muara dari semua itu, hutan haruslah tetap menjadi hutan sebagai sumber kehidupan spiritualitas maupun ekonomi, di mana semua orang dapat menyentuhnya secara bebas dan tidak dibatas-batasi.
Kedua, khususnya kayu jati, sebelum VOC datang di Jawa, penguasaan hutan masih berada di bawah raja-raja Jawa, dan penebangan kayu yang dilakukan hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan keraton. Setelah VOC datang ke Jawa, hutan menjadi komoditas menarik untuk dieksploitasi guna pembuatan kapal-kapal dagang. Penebangan hutan oleh VOC kian meluas seiring dilakukannya perjanjian-perjanjian dengan dengan raja Mataram. Tahun 1808 Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Salah satu tugas yang dibebankan padanya adalah menata kembali eksploitasi hutan menjadi lebih
102
terencana dalam hal pengelolaannya. Sejak saat itu, kehutanan akademik diberlakukan seiring dengan pernyataan bahwa hutan adalah menjadi domein negara.
Periode Raffles sedikit mengurangi dominasi negara atas pengelolaan hutan. Hutan dibuka untuk swasta asing dengan konsesi-konsesi terbatas. Sementara itu, pemberian upah uang tunai terhadap buruh-buruh tebang berimplikasi monetisasi kehidupan pedesaan sekitar hutan. Era tanam paksa tidaklah berhubungan langsung dengan pengelolaan hutan kolonial kecuali pengurangan-pengurangan tutupan hutan untuk dikonversi menjadi lahan perkebunan tebu dan kopi.
Periode selanjutnya yakni era penataan kembali pengelolaan hutan pasca tanam paksa sekaligus era pembatasan secara tegas antara masyarakat dan hutan. Penataan kembali pengelolaan hutan dilakukan dengan memberikan perhatian utama pada pengelolaan hutan jati di Jawa. Munculnya peraturan kehutanan tahun 1865 selain mengatur pemisahan antara hutan produksi (jati) dan hutan rimba (konservasi), kebijakan ini juga semakin memisahkan hubungan antara masyarakat dan hutannya. Pemisahan tersebut dapat dilihat dalam ketentuan-ketentuan yang dapat memenjarakan setiap orang yang tidak memiliki ijin menebang kayu. Selain itu, munculnya Undang-Undang Agraria tahun 1870 yang mempertegas penguasaan lahan hutan oleh negara, telah mengusir kehidupan berhutan masyarakat. Pada periode setelahnya, kebijakan kehutanan kolonial lebih terperinci hingga ketentuan-ketentuan yang mengatur pola penanaman, penjarangan, pemanenan, hingga permudaan kembali.
Sejarah pengelolaan hutan Jawa sejak era Daendels hingga munculnya peraturaan kehutanan 1865 dan Undang-Undang Agraria 1870 ternyata semakin memperjelas di mana lahan milik masyarakat berakhir dan kawasan hutan dimulai. Kejelasan batas tersebut sekaligus semakin memperjelas pembatasan interaksi alami antara masyarakat dengan hutannya. Samin Surosentiko sebagai bagian dari masyarakat hutan ketika itu tak luput terkena dampak dari kebijakan kehutanan Belanda.
Ketiga, penetrasi pemerintah Hindia Belanda atas nilai-nilai serta laku hidup Samin dan pengikutnya, terutama soal akses kayu Jati, telah mencipatakan berbagai protes-protes. Samin dan pengikutnya tetap saja menebang kayu meski dilarang oleh Belanda, Samin dan pengikutnya tetap mempertahankan lahan komunal mereka meski masa penggarapan telah habis. Menjadi layak dipertanyakan, apakah Gerakan Samin merupakan bentuk perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, ataukah sebuah pengajuan hubungan antara negara dan warga negara yang ideal dalam ikatan politisnya?
Konsep negara yang diinginkan Samin dan pengikutnya dapat dilihat dalam Serat Pikukuh Kasajatèn. Samin mengidentifikasi dua kriteria sebuah negara yang ideal: (1) kemajuan negara didasarkan pada kecendikiawanan; (2) serta kerukunan yang disandarkan pada kesetiaan warga negara kepada negaranya. Secara nyata, kedua kriteria tersebut tidak terdapat dalam negara kolonial Belanda. Terlebih lagi, Samin berkeyakinan bahwa yang menjadi penguasa tanah Jawa adalah manusia Jawa sebagai pewaris Pandawa.
104
Merujuk pada pendapat Onghokham, bahwa Gerakan Samin merupakan perwujudan peran warga negara dalam mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari negara yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip mereka. Kausalitas Gerakan Samin kiranya adalah nilai-nilai kehidupan Samin Surosentiko dan pengikutnya serta praktek-praktek yang mencerminkan nilai-nilai tersebut. Tanpanya, gerakan Samin tidak akan pernah ada. Persingungan-persinggungan dengan pemerintah Belanda merupakan wujud tanggapan atas penetrasi kolonial yang ditempatkan sebagai tantangan bagi usaha menghidupi tradisi yang diyakini.