BAB III PENETRASI KOLONIAL ABAD XIX
3.2 Politik Kehutanan Belanda di Jawa
3.2.2 Masa Daendels
Mengenai potensi kayu jati di Jawa serta pengurangan luasan hutan akibat eksploitasi VOC, Dirk van Hogendorp (pegawai VOC) abad ke-18 yang dikutip Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan bahwa:
“… hutan di Jawa memiliki kayu jati yang cukup banyak untuk bahan kapal-kapal yang bagus dalam waktu singkat, seperti kapal-kapal dagang yang sangat mereka butuhkan… Mereka ini memperoleh kayu jati tanpa harus susah payah… Hal itu mudah dibayangkan bagaimana ketamakan dari para lintah darat dalam memanfaatkan hutan dan berusaha mengambil semuanya apa yang ada di hutan. Meskipun demikian, hutan di Jawa itu tidak akan habis-habisnya jika hutan dipelihara dan dirawat dengan baik…“79
Pada masa VOC, belum ada istilah pengelolaan hutan, yang ada adalah konsesi penebangan hutan. Istilah dan usaha Pengelolaan hutan baru muncul ketika Hogendorp menyadari bahwa perlu adanya pemeliharaan dan perawatan hutan jati di Jawa dan menyusul Daendels yang membuat gagasan tersebut menjadi nyata.
78 Ibid., hlm. 54-55.
58
Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi yang sangat serius, sehingga mulai mengancam kelangsungan hidup perusahaan-perusahaan kapal kayu yang mengandalkan pasokan kayu jati dari hutan. Di saat yang sama, kondisi keuangan VOC bangkrut dan akhirnya VOC dibubarkan. Karena itu, tepatnya pada tanggal 14 Januari 1808, pemerintah kolonial Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Salah satu tugas yang dibebankan kepada Daendels adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan-lahan hutan yang mengalami degradasi serius.80
Agar Daendels dapat melaksanakan amanat itu dengan baik, maka sebelum berangkat ke Jawa dia ditugaskan untuk belajar ke Jerman, mencari tahu bagaimana membangun hutan tanaman yang baik. Pada abad ke-17, Jerman sudah dikenal di seluruh Eropa sebagai negara yang paling berhasil membangun hutan tanaman monokultur yang dikenal sebagai timber management. Sepulang belajar dari Jerman, Daendels menuju Jawa, mememulai babak baru dalam pengelolaan hutan Jawa. Ia berhasil meletakkan dasar-dasar pengelolaan hutan Jawa dengan meniru model pengelolaan hutan monokultur di Jerman.81 Pada tanggal 28 Mei 1808, Daendels mengeluarkan Peraturan Pemangkuan Hutan di Jawa yang memuat prinsip-prinsip sebagai berikut:
80 I Nyoman Nurjana, “Sejarah Hukum Pengelolaan Hutan di Indonesia”. Makalah dipresentasikan dalam Lokalatih Sejarah Hukum Sumber Daya Alam, yang diselenggarakan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) pada tanggal 11-13 September 2000 di GG House-Happy Valley, Cipayung, Bogor., hlm. 2.
81 Hasanu Simon. 2004. Aspek Sosio-Teknis Pengelolaan Hutan Jati di Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar., hlm. 33.
1. Pemangkuan hutan sebagai domein Negara dan semata-mata dilakukan untuk kepentingan Negara.
2. Penarikan pemangkuan hutan dari kekuasaan Residen dan dari jurisdiksi wewenang Mahkamah Peradilan yang ada yakni Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan).
3. Penyerahan pemangkuan hutan kepada dinas khusus di bawah Gubernur Jenderal, yang dilengkapi dengan wewenang adminsitratif dan keuangan serta wewenang menghukum pidana.
4. Areal hutan pemerintah tidak boleh dilanggar, dan perusahaan dengan eksploitasi secara persil dijamin keberadaannya, dengan kewajiban melakukan reforestasi dan pembudidayaan lapangan tebangan.
5. Semua kegiatan teknis dilakukan rakyat desa, dan mereka yang bekerja diberikan upah kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
6. Kayu-kayu yang ditebang pertama-tama harus digunakan untuk memenuhi keperluan Negara, dan kemudian baru untuk memenuhi kepentingan perusahaan suasta.
7. Rakyat desa diberikan ijin penebangan kayu menurut peraturan yang berlaku.82
Menurut Nancy, dasar-dasar pengelolaan kehutanan ilmiah yang diletakkan Daendels di hutan Jawa bertumpu pada tiga hal yaitu penguasaan tanah, spesies, dan tenaga kerja. Pertama, terkait dengan penguasaan tanah, pernyataan bahwa semua hutan adalah ranah negara (landsdomein), sebagaimana prinsip yang pertama di atas, memiliki konsekuensi pada penghapusan seluruh eksploitasi hutan oleh swasta, dan negara tentu saja akan memonopoli perdagangan serta pengangkutan kayu jati. Hal ini berarti bahwa seluruh penyewaan desa dan hutan yang kayu jatinya akan ditebang untuk pengusaha swasta juga dibatalkan. Bagi Daendels, sentralisasi penguasaan tanah khususnya tanah kehutanan sangat penting untuk memberikan kepastian hukum atas usaha-
82 I Nyoman Nurjana. op. cit. hlm. 3. Bandingkan dengan Nancy Lee Peluso. op. cit., hlm. 67-68. Menurut Nancy, pada perkembangan selanjutnya, masyarakat sekitar hutan sama sekali tidak diperbolehkan untuk mengambil kayu balok dari hutan, meski dari pohon mati atau tumbang.
60
usaha pengelolaan hutan yang akan dilakukan oleh Jawatan Kehutanan (Boschwezen), di mana pada saat yang sama, organisasi ini telah dibentuk oleh Daendels. Pada dasarnya, Daendels ingin mempersembahkan keuntungan dari hutan hingga berdasawarsa kemudian.
Kedua, terkait dengan spesies, kelestarian produksi kayu jati harus diusahakan jika Belanda menginginkan keuntungan yang berkesinambungan dari hutan Jati di Jawa. Dalam usaha tersebut, ia bahkan meminta Inspektur Jenderal bawahannya untuk bersumpah “tidak akan pernah berkomplot diam-diam dengan pedagang kayu, menghadiahi mereka kayu, atau ia sendiri mencuri kayu”.83 Bahkan seorang Jawa atau Cina yang “tertangkap basah” atau “secara mencurigakan berkeliaran tanpa keperluan di hutan” sudah memadai sebagai alasan untuk memenjarakan orang tersebut. Daendels juga menunjuk seorang pengawas hutan (Boschganger) untuk mengawasi pembalakan, penanaman kembali, pengumpulan benih jati, dan pengupasan melingkar kulit batang pohon (girdling). Boschganger harus bertanggungjawab terhadap segala kegiatan eksploitasi dan keamanan hutan, serta diperintahkan agar hutan yang telah ditebang segera ditanami bibit jati yang baru. Dalam setahun, Jawatan Kehutanan harus menanam sedikitnya 100.000 bibit jati.84 Secara umum, dalam usaha mengelola spesies utama dalam hutan yakni kayu jati, Daendels menyerahkan urusan tersebut pada lembaga kehutanan yang dibentuknya yakni Jawatan
83 Nancy Lee Peluso. op. cit., hlm. 68.
Kehutanan atau Boschwezen. Sementara itu, Boschganger merupakan bawahan dari Jawatan Kehutanan tersebut.85
Ketiga, terkait dengan penguasaan tenaga kerja. Sistem kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan kehutanan waktu itu dinamakan Blandongdiensten, dari kata dasar blandong yang berarti penebang pohon. Sebenarnya, jauh sebelum masa pemerintahan Daendels, blandong sudah lama ada. Tugasnya tetaplah sama yakni buruh tebang. Dalam masa pemerintahan Daendels, para penebang ini dibebaskan dari kewajiban membayar pajak orang dan pajak tanah. Orang
blandong menerima upah berupa tanah sawah yang bebas pajak.86 Menurut
Warto, Daendels berusaha melakukan perbaikan nasib orang blandong dengan mengapuskan pajak kayu dan penyerahan wajib lainnya yang dituntut dari para bupati pesisir oleh VOC.87 Upaya perbaikan nasib blandong tertuang dalam Besluit 7 Mei 1809, yang isinya mengatur kerja blandong dan pemberian upah yang berbentuk tanah sawah yang bebas dari beban pajak. Daendels biasanya mengambil tenaga kerja kehutanan dari desa-desa di dalam hutan. Selain mendapatkan upah berupa sawah bebas pajak, mereka juga digaji sekitar 1,5
85
Girdling adalah kegiatan mengambil kulit kayu Jati saat jati masih berdiri tegak. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mengambil kulit kayu, setahun sebelum kayu tersebut ditebang atau dipanen. Kulit kayu tersebut lazimnya dapat dimanfaatkan untuk dinding rumah bagi penduduk miskin yang tidak mampu memperoleh dinding papan dari kayu jati. Dalam istilah jawa, kulit kayu tersebut biasanya disebut gelam. Biasanya, pengambilan gelam tersebut bersamaan dengan proses neres atau membunuh batang kayu yang masih tegak berdiri, tujuannya adalah untuk mengeringkan kayu.
86 Warto. op. cit., hlm. 68. Bandingkan dengan Desak Made Oka Purnawati. 2004. Hutan Jati Madiun: Silvikultur di Karesidenan Madiun 1830-1913. Semarang: Intra Pustaka Utama., hlm. 4-5.
62
Kilogram (1 Kati)88 beras setiap harinya dan sedikit garam. Buruh-buruh itu bekerja 8 hingga 14 hari berturut-turut di hutan selama musim kerja (Februari hingga November), dan diberi istirahat 8 hingga 14 hari setelah satu kurun kerja tersebut.89
Bagaimana dengan akses masyarakat terhadap hutan pada era ini? Pada periode ini penduduk hutan masih diijinkan menebang kayu secara terbatas untuk keperluan membuat gerobak dan bajak, dengan syarat menunjukkan ijin menebang kayu. Menurut Warto, terdapat peraturan yang menyebutkan bahwa setiap penebangan kayu di hutan harus minta ijin kepada pemerintah. Akibatnya, penebangan dan perdagangan kayu dilakukan secara “gelap”, sementara itu, industri kapal dan kerajinan membuat perahu yang semula tersebar di sepanjang pantai utara menjadi menurun jumlahnya atau bahkan hilang.90 Peluso,91 secara lebih detail, menyatakan bahwa Daendels telah membuat aturan-aturan pertama yang menghukum penyalahgunaan hutan. Misalnya, penebangan kayu tanpa ijin pemerintah dapat dihukum maksimum sepuluh tahun penjara atau membayar denda sebesar 200 rijks dollar. Dua per tiga denda tersebut diserahkan kepada negara dan yang sepertiganya dihadiahkan kepada pelapor kejahatan. Naik banding dapat dilakukan tetapi hukuman hanya dapat dikurangi menjadi
88 1 Kati sebanding dengan 0,62 Kilogram.
89 Ibid.
90 Disebutkan bahwa sejak menebang kayu harus melalui birokrasi pemerintah belanda, ongkos pembelian bahan baku kapal berupa kayu melonjak menjadi 10 kali lipat dari semula. Lihat Warto. ibid., hlm. 70.
pengasingan atau pengurangan masa hukuman penjara. Aturan tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar, mengingat belum terdapat polisi hutan.
Upaya Daendels untuk melakukan reforestasi dan membatasi penebangan kayu jati di Jawa dan Madura tidak dapat berlanjut dan mencapai hasil yang optimal. Hal ini dikarenakan keterbatasan tenaga kehutanan, keterbatasan pengetahuan dan teknologi kehutanan yang dikuasai petugas-petugas Jawatan Kehutanan.