BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Profil Penggunaan Antibiotik
1. Golongan dan jenis antibiotik
Golongan dan jenis antibiotik dalam penelitian ini dibagi menjadi golongan dan jenis antibiotik profilaksis, golongan dan jenis antibiotik terapi yang diberikan sebelum operasi, dan antibiotik terapi yang diberikan postoperasi. Antibiotik terapi yang diberikan sebelum operasi dan postoperasi merupakan antibiotik terapi yang bersifat empirik, yaitu antibiotik yang diberikan ketika belum ditemukan kultur kuman yang spesifik.
Tabel VI.Golongan dan Jenis Antibiotik Profilaksis Kasus Operasi Hernia Inguinal pada Pasien Geriatri di RSUP Dr. Sardjito
Periode Februari 2006 - Oktober 2008
No Golongan obat Jenis obat Jumlah kasus Persentase (%) 1. Sefalosporin
Generasi III
seftriakson 32 88,89%
seftazidim 1 2,78%
Antibiotik profilaksis yang diberikan paling banyak yaitu seftriakson (golongan sefalosporin generasi III). Golongan dan jenis antibiotik profilaksis yang digunakan dapat mengacu pada kultur kuman yang ditemukan di ruang operasi maupun kuman yang biasanya menyebabkan infeksi setelah operasi. Pada hasil kultur kuman tahun 2006, di ruang operasi hernia (bedah digestif) yang terletak di OK 2 Lantai IV GBST, dideteksi adanya bakteri Bacillus spp dan Aerococcus pada spesimen udara (data kultur dapat dilihat pada lampiran). Kedua jenis bakteri tersebut merupakan bakteri gram positif. Karena pada tahun 2007-2008 tidak dilakukan kultur pada OK 2 Lantai IV GBST, maka golongan dan jenis antibiotik profilaksis yang digunakan dapat mengacu pada data kultur tahun 2006.
Tabel VII. Golongan dan Jenis Antibiotik Terapi yang Diberikan Sebelum Operasi pada Pasien Geriatri Kasus Operasi Hernia Inguinal di RSUP
Dr. Sardjito Periode Februari 2006 - Oktober 2008
No Golongan obat Jenis obat No. kasus Jumlah kasus (n=36) Persentase (%) 1. Sefalosporin Generasi III seftriakson 8,9,10,12,15, 17,21,26 8 22,22 2. Makrolid azithromisin 8 1 2,78 3. Kuinolon siprofloksasin 20 1 2,78
Pada 10 kasus di atas, terdapat pemberian antibiotik ketika pasien sudah mulai dirawat inap dan belum menjalani operasi. Antibiotik ini diberikan ketika pada pasien terdapat data laboratorium yang menunjukkan kenaikan angka WBC maupun netrofil. Kedua hal ini memang bukan penanda terjadinya infeksi yang spesifik, karena terjadinya inflamasi juga mengakibatkan kenaikan angka WBC dan netrofil (Di Piro et al, 2005). Akan tetapi usia geriatri rentan terkena infeksi, sehingga dapat
diberikan terapi antibiotik empirik untuk meminimalkan risiko infeksi nosokomial saat pasien sudah lama rawat inap dan belum menjalani operasi.
Tabel VIII. Golongan dan Jenis Antibiotik Terapi yang Diberikan Postoperasi pada Pasien Geriatri Kasus Operasi Hernia Inguinal di RSUP Dr. Sardjito
Periode Februari 2006 - Oktober 2008
No Golongan obat Jenis obat No. kasus Jumlah kasus (n=36) Persentase (%) 1. Sefalosporin Generasi III seftriakson 2,3,4,6,7,8,10,11, 12,13,14,15,16,17, 18,19,20,21,24,25, 26,27,28,29,30,31, 32,33,34,35,36 31 86,11 sefiksim 1,3,5,23,24,27,29 7 19,44 sefoperazon 6 1 2,78 seftazidim 22 1 2,78 2. Kuinolon siprofloksasin 1,2,5,6,7,10,12, 14,20,23,30,31,34 13 36,11 3. Sefalosporin Generasi I sefadroksil 8,9,17,28,34,35 6 16,67 4. Penisillin amoksisilin 21,25 2 5,56 5. Makrolid azithromisin 8 1 2,78 spiramisin 25 1 2,78 6. Kombinasi antibakterial kotrimoksazol 36 1 2,78
Pada Standar Pelayanan Medis Bedah Digestif di RSUP Dr. Sardjito dicantumkan penatalaksanaan setelah operasi hernia yaitu :
1. Pemberian analgetika.
Penanganan pasca bedah :
2. Pemberian antibiotika pada penderita : a. Umur tua
b. DM
d. Immunocompromised
e. Hernia strangulata
Berdasarkan Standar Pelayanan Medis ini, maka pada pasien geriatri diberikan antibiotik sesudah operasi. Hal ini dikarenakan usia lanjut merupakan salah satu faktor risiko surgical site infection. Golongan dan jenis antibiotik yang diberikan, disesuaikan dengan data kuman di ruang operasi hernia dan kuman yang biasanya menyebabkan infeksi di rumah sakit, sehingga digunakan antibiotika terapi yang bersifat empirik.
2. Indikasi dan pilihan terapi antibiotik
Pemberian antibiotik profilaksis diindikasikan pada operasi yang mempunyai resiko infeksi tinggi, karena tujuan pemberian antibiotik profilaksis untuk mengurangi kejadian infeksi. Indikasi dan pemilihan terapi antibiotik profilaksis tergantung dari tipe prosedur operasi, mikrobia patogen yang paling banyak terdapat di ruang operasi, profil keamanan dan kemanjuran dari agen antimikrobia, dan harganya. Penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak tepat dapat menginduksi resistensi antibiotik, tidak tepat dalam hal ini berupa penggunaan antimikrobia spektrum luas ketika diperlukan agen spektrum sempit, memperpanjang durasi profilaksis tanpa rekomendasi dari pedoman yang baku, dan penggunaan antibiotik yang mahal ketika terdapat agen yang ekuivalen lebih murah tersedia.
Operasi hernia inguinal termasuk kategori operasi bersih, dimana tidak ada kontaminasi dari traktus respiratorius, traktus gastro intestinal, atau traktus urinarius, insidensi infeksinya 1-5 %, dan umumnya tidak terdapat pemasangan alat implant,
sehingga tidak memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. Dalam Standar Pelayanan Medis Bedah Digestif RSUP Dr.Sardjito juga tidak dicantumkan keterangan penggunaan antibiotik profilaksis pada operasi hernia, akan tetapi salah satu faktor terjadinya surgical site infections adalah usia yang lanjut dan dari hasil kultur bakteri di ruang operasi hernia tahun 2006 dideteksi adanya Bacillus spp dan
Aerococcus, sehingga diperlukan pertimbangan khusus penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien geriatri. Pada beberapa kasus terdapat penggunaan kateter dan infus saat pasien mulai rawat inap, hal ini memungkinkan terjadinya infeksi.
Pada 36 kasus dalam penelitian ini, antibiotik profilaksis yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin generasi III yaitu sebanyak 88,89% dan sisanya sebanyak 8,33% menggunakan siprofloksasin. Apabila ditinjau dari jenis kuman di ruang operasi hernia, yaitu Bacillus spp dan Aerococcus maka penggunaan antibiotik sefalosporin generasi I sebenarnya sudah cukup efektif dan harganya lebih murah dibandingkan sefalosporin generasi III, sehingga dalam hal ini terjadi pemborosan penggunaan antibiotik. Akan tetapi pemilihan terapi antibiotik ini juga harus didukung dengan adanya data kuman yang resisten, dalam penelitian ini tidak didapatkan data tersebut sehingga tidak dapat dikatakan bahwa penggunaan sefalosporin generasi III kurang efektif. Dapat dimungkinkan penggunaan sefalosporin generasi III di RSUP Dr. Sardjito dilakukan karena bakteri sudah resisten Sefalosporin generasi I.
Pada Standar Pelayanan Medis Bedah Digestif RSUP Dr.Sardjito dicantumkan penatalaksanaan setelah operasi hernia pada usia lanjut salah satunya
adalah pemberian antibiotik. Akan tetapi dalam SPM tersebut tidak dicantumkan jenis, golongan, dan dosis antibiotik yang digunakan, sehingga terdapat keterbatasan dalam evaluasi pemilihan dan penggunaan antibiotik postoperasi pada penelitian ini. Karena kondisi pada setiap pasien berbeda-beda, tidak terdapat data kultur kuman pada pasien, dan tidak terdapat data kuman yang resisten dalam penelitian ini maka tidak dapat dilakukan pemilihan antibiotik yang paling efektif untuk kasus ini.