• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Saran

Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah : 1. Bagi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta :

Perlu disusun standar terapi bedah digestif (terutama kasus hernia inguinal) terkait dengan penggunaan antibiotik profilaksis dan antibiotik postoperasi yang dilengkapi dengan jenis, golongan, dan dosis antibiotik yang sesuai untuk kasus tersebut di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

2. Bagi penelitian selanjutnya dapat dilakukan :

a. Penelitian lebih lanjut secara prospektif mengenai hubungan penggunaan antibiotik selama rawat inap pada pasien operasi dengan kejadian infeksi setelah operasi.

b. Penelitian lebih lanjut yang disertai dengan data pemeriksaan kultur lengkap pasien dan data uji sensitivitas antibiotik di RSUP Dr. Sardjito, sehingga dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut mengenai penggunaan antibiotik dan angka kejadian Drug Therapy Problems yang dalam penelitian ini tidak dapat dievaluasi semuanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahronheim, J.C., 1992, Handbook of Prescribing Medications for Geriatric Patients, 1 - 12, 393 – 410, Little,Brown and Company, Boston, Toronto, London

Anonim, 1992, Pedoman Penggunaan Antibiotik Nasional edisi 1, vii-xv, 7-18, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Anonim, 1996, Dorland’s Pocket Medical Dictionary 25th ed, diterjemahkan

Kamus Saku Kedokteran Dorland edisi 25, 79-1145, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Anonim, 1999, Standar Pelayanan Medis RSUP DR. Sardjito, edisi 2, cetakan I jilid 1, 119, Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Komite Medik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, 1-375, DepKes RI, Jakarta

Anonim, 2005, Standar Pelayanan Medis RSUP DR. Sardjito, edisi III, cetakan I jilid 3, Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Rumah Sakit DR. Sardjito, Yogyakarta

Anonim, 2007, Standar Pelayanan Medis Bedah Digestive RSUP DR. Sardjito, Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, 37-41, Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Rumah Sakit DR. Sardjito, Yogyakarta

Anonim, 2009 a, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta,

Anonim, 2009 b, Jenis Hernia Inguinal,

Cameron, J.L., 1997, Current Surgical Therapy, jilid 2, 72-77, diterjemahkan oleh Widjaja Kusuma, Binarupa Aksara, Jakarta

Chodijayanti, A., 2007, Studi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bedah Hernia Inguinal (Penelitian Pada Bagian Bedah RSU Dr. Soetomo Surabaya),

Cipolle R.J., Strand L.M., dan Morley P.C., 2004, Pharmaceutical Care Practice: The Clinician’s Guide 2nd ed., 172-173, 178-179, 197, The Mcgraw-Hill Companies,Ic.,United States of America

Crowley, L.V., 2001, An Introduction to Human Disease : Patology and Pathophysiology Correlations fifth edition, 618-621, Jones and Bartlett Publishers, Massachusetts, USA

DiPiro J.T., Talbert R.L., Yee G.C., Matzle G.R., Wells B.G., dan Posey L.M., 2005, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, sixth edition, 103-114; 1891-1908; 2217-2230, Mc-Graw Hill, New York.

Doherty, G.M. dan Way, L.W., 2006, Current Surgical Diagnosis & Treatment, 12th edition, 106-107, Lange Medical Books/McGraw-Hil Companies Inc, North America

Ganiswara, S.G., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi 4, 571, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Grace, P.A. dan Borley, N.R., 2006, Surgery at a Glance, 3rd edition,

diterjemahkan At a Glance Ilmu Bedah, edisi ketiga, 64-65; 76-81; 118-119, Penerbit Erlangga, Jakarta

Gugliemo B.J., Koda-Kimble M.A., Young L.Y., dan Kradjan W.A., 2005,

Antimicrobial Prophylaxis for Surgical Procedures Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs, eighth (8th) ed, 7 – 19, Lippincott Williams & Wilkins A Wolters Kluwer Company, United States of America

Lacy, Armstrong, Goldman, Lance, 2003, Drug Information Handbook 11th Edition, 1-1692, 1717, Lexi-Comp, America

Lawrence M.T., Stephen J. McPhee, Maxine A.P., 2002, Current Medical Diagnosis & Treatment 2002, 41st edition, 43 - 44, Lange Medical Book The McGraw-Hill Companies, United States of America

Marijata, 2006, Pengantar Dasar Bedah Klinis, hal 357-368, Unit Pelayanan Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta McEvoy, G.K., 2005, AHFS Drug Information ®, 89-237; 361-377, The

American Society of Health System Pharmacists, Inc., United Stated of America

Noer, S.H.M., 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, 531, Balai Penerbit FKUI, Jakarta

Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, 154, Erlangga, Jakarta

Price, S.A. dan Wilson, L.M., 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, edisi 4, 244-246, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Rubenstein D., Wayne D., Bradley J., 2007, Lecture Notes Kedokteran Klinis,

edisi 6, 357, Penerbit Erlangga, Jakarta

Schrock, T. R., 1993, Ilmu Bedah (Handbook of Surgery), 300, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Schwartz, S. I., 2005, Principles of Surgery, seventh edition, 1586-1592, Mc Graw-Hill, Singapore

Sudoyo A.W., Sehyohadi B., Alwi I., Simodibrata M., Setiadi S., 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid III, edisi IV, 886, Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat

Suwarni, A., 2001, Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 1999, Laporan Penelitian, Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta, Suyono, S., 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 284-285, Balai Penerbit

FKUI, Jakarta

Wattimena J. R., Sugiarso N. C., Widianto M. B., Sukandar E. Y., Soemardji A. A., Setiadi A. R., 1991, Farmakodinami dan Terapi Antibiotik, 30-37; 294-298, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

58

Lampiran I. Analisis SOAP

Tabel XIV. Kajian DTPs Kasus 1 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito

Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008 No. RM 01.22.46.77

Dirawat pada tanggal 02/02/2006 – 06/02/2006 (5 hari)

Pasien laki-laki, 71 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di atas kemaluan sebelah kanan, hilang timbul Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Medialis Dextra Reponibilis

Riwayat penyakit sekarang : muncul benjolan di atas kemaluan sebelah kanan sejak 3 bln yll, pasien sudah pernah dioperasi 14 bln yll. Muncul benjolan lagi di atas kemaluan sebelah kanan, benjolan hilang timbul. BAB dan BAK biasa, riwayat angkat junjung (+).

Keadaan pulang : pasien membaik, prognosa baik

Tanggal Objective

02/02/2006 04/02/2006 Nilai normal Suhu (0C) 37 36,7 36-37,40C Nadi (X/menit) 80 80 50-100 X/menit

TD (mmHg) 140/90 ↑ 135/80 120/80 mmHg

RR (X/menit) 20 20 ≤ 20 X/menit TB (cm) 156 - - BB (kg) 49 - -

Pemberian obat sebelum operasi Penatalaksanaan

Nama obat Tanggal

03/02/2006 04/02/2006 Injeksi Dexamethason 2 A Tanggal & waktu operasi Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 04/02/2006 Pk 10.45-11.30 WIB 45 menit Siprofloksasin 200 mg secara infus 4 jam 45 menit sebelum operasi 3-5 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Februari 2006 04 05 06 Injeksi Siprofloksasin 2x500 mg Infus RL 20 tts/mnt Injeksi Remopain 3x1 A Sefiksim 2x100 mg p.o.

Asam mefenamat 3x500 mg p.o.

OBH syrup® 4x1 p.o.

1. Jangka waktu pemberian infus Siprofloksasin 200 mg untuk profilaksis pembedahan terlalu lama, yaitu 4 jam 45 menit sebelum operasi. DTPs :Dosis terlalu rendah (dosage too low).

Assesment

2. Pada pemberian terapi antibiotik postoperasi, dosis untuk injeksi Siprofloksasin sehari 2x500 mg melebihi dosis maksimum. DTPs : Dosis terlalu tinggi (dosage too high).

1. T½ Siprofloksasin 3-5 jam (DIH, 2003) sehingga maksimal jangka waktu pemberian antibiotik profilaksis 5 jam dari mulai diberikan hingga pasien selesai operasi, pemberian antibiotik yang terlalu awal dapat menyebabkan konsentrasi obat di dalam darah pada akhir operasi berada di bawah MIC.

Plan

Tabel XV. Kajian DTPs Kasus 2 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.22.61.82

Dirawat pada tanggal 08/02/2006 – 15/02/2006 (8 hari)

Pasien laki-laki, 78 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di kedua lipat paha Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Residif dan Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponibilis

Riwayat penyakit sekarang : + 1½ tahun yll pasien mengeluh muncul benjolan di lipat paha kanan yang hilang timbul, dapat dimasukkan dengan tangan, terasa sakit, mual muntah (-), BAK & BAB normal, pasien pernah menjalani operasi di RS PKU Temanggung pada bln September 2005. Benjolan di lipat paha kanan kembali muncul, nyeri (+), 3 bln sebelum dirawat di RSUP Dr.Sardjito benjolan juga muncul di sisi kiri, hilang timbul, nyeri (+).

Keadaan pulang : pasien membaik, prognosa baik

Parameter Objective infeksi Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 07/02/06 WBC 7000 4000-11000 Netrofil 4200 3000-6000

Tanggal 08/02/2006 10/02/2006 Nilai normal Suhu (0C) 37 36 36-37,40C Nadi (X/menit) 80 84 50-100 X/menit

TD (mmHg) 130/80 150/80 ↑ 120/80 mmHg RR (X/menit) 20 16 ≤ 20 X/menit Tanggal & waktu operasi Penatalaksanaan Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 11/02/2006 Pk 10.00-11.55 WIB 1 jam 55 menit Terfacef ® 1x1g secara i.v. tanggal 11/02/2006, tidak terdapat keterangan jam pemberian 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Februari 2006 13 14 15 Injeksi Seftriakson 1x1 g

Laxadine syrup® 2xCI p.o.

Injeksi Remopain 3x1 A

OBH syrup® 3xCI p.o.

Asam mefenamat 3x500 mg p.o.

Siprofloksasin 2x500 mg p.o.

Penggunaan antibiotik profilkasis Terfacef Assesment

®

tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Dari segi dosisnya, antibiotik yang diberikan postoperasi (Seftriakson, Siprofloksasin) sudah tepat dosis, selain itu berdasarkan SPM bedah digestif untuk pasien geriatri diberikan antibiotik postoperasi.

Pasien geriatri rentan terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun, sehingga perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi.

Tabel XVI. Kajian DTPs Kasus 3 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.22.60.93

Dirawat pada tanggal 11/02/2006 – 16/02/2006 (6 hari)

Pasien laki-laki, 67 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di lipat paha kanan Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Reponibilis

Riwayat penyakit sekarang : + 3 tahun sebelum masuk RS pasien mengeluh timbul benjolan di lipat paha kanan, hilang timbul (+), BAB dan BAK normal, demam (+), mual muntah (-).

Keadaan pulang : pasien membaik, prognosis baik

Parameter Objective infeksi Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 08/02/06 WBC 9500 4000-11000 Netrofil 5800 3000-6000

Tanggal 11/02/2006 13/02/2006 Nilai normal Suhu (0C) 37 37 36-37,40C Nadi (X/menit) 80 80 50-100 X/menit

TD (mmHg) 120/80 120/80 120/80 mmHg RR (X/menit) 20 20 ≤ 20 X/menit Tanggal & waktu operasi Penatalaksanaan Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 14/02/2006 Pk 10.30-11.30 WIB 1 jam Seftriakson 1x1 g secara i.v. 4 jam 30 menit sebelum operasi 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Februari 2006 14 15 16 Injeksi Seftriakson 1x1 g

Injeksi Remopain 1 A

Sefiksim 2x100 mg p.o.

Asam mefenamat 3x500 mg p.o.

Penggunaan antibiotik profilkasis Seftriakson sudah tepat dosisnya berdasarkan T ½ antibiotik. Pengunaan antibiotik yang diberikan postoperasi (Seftriakson, Sefiksim) juga sudah tepat dosis, selain itu berdasarkan SPM bedah digestif untuk pasien geriatri memang diberikan antibiotik postoperasi.

Assesment

Pasien geriatri rentan terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun, sehingga perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi.

Tabel XVII. Kajian DTPs Kasus 4 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.08.31.68

Dirawat pada tanggal 14/02/2006 – 23/02/2006 (10 hari)

Pasien laki-laki, 69 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di lipat paha Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Medialis Sinistra Reponible

Riwayat penyakit sekarang : pasien mengeluh timbul benjolan pada lipat paha kiri, + sejak 20 tahun. Benjolan hilang bila berbaring/tidur.

Keadaan pulang : pasien sembuh

Parameter Objective infeksi Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 11/02/06 WBC 7400 4000-11000

Tanggal 15/02/2006 19/02/2006 Nilai normal Suhu (0C) 36 36 36-37,40C Nadi (X/menit) 84 76 50-100 X/menit

TD (mmHg) 130/80 130/70 120/80 mmHg

RR (X/menit) 18 20 ≤ 20 X/menit TB (cm) - 160 - BB (kg) - 55 -

Penatalaksanaan

Pemberian obat sebelum operasi

Nama obat Tanggal 17/02/2006 Laxadine syrup 3xCI

Tanggal & waktu operasi

Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 20/02/2006 Pk 09.40-10.30 WIB 50 menit Siprofloksasin 200 mg secara infus tanggal 18/02/2006, tidak terdapat keterangan jam pemberian 3-5 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Februari 2006 20 21 22 23 Injeksi Seftriakson 1x1g Infus RL 20 tpm Injeksi Tradosik® 3x1 A Meisec® 2x100 mg p.o.

Voltadex® 2x1 tab/hari p.o.

Hytrin ® tab 1x2 mg p.o.

Penggunaan antibiotik profilkasis Siprofloksasin tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Dari segi dosisnya, antibiotik yang diberikan postoperasi (Seftriakson) sudah tepat dosis, selain itu berdasarkan SPM bedah digestif untuk pasien geriatri diberikan antibiotik postoperasi.

Assesment

Pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi karena daya tahan tubuh yang menurun rentan terkena infeksi.

Tabel XVIII. Kajian DTPs Kasus 5 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.25.06.34

Dirawat pada tanggal 13/07/2006 – 20/07/2006 (8 hari)

Pasien laki-laki, 80 tahun, dengan keluhan utama : timbul benjolan di selangkangan/lipat paha kiri sejak + 6 bln yll.

Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponible

Riwayat penyakit sekarang : + 6 bln yll, pasien mengeluh timbul benjolan di selangkangan kiri, benjolan hilang timbul. Timbul terutama saat pasien berdiri, mual (-), muntah (-), nyeri (-), BAB dan BAK normal, riwayat operasi (-).

Keadaan pulang : pasien sembuh, prognosis baik

Parameter Objective infeksi Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 10/07/06 WBC 8100 4000-11000 Netrofil 5000 3000-6000

Tanggal 18/07/2006 Nilai normal Suhu (0C) 37 36-37,40C Nadi (X/menit) 96 50-100 X/menit

TD (mmHg) 160/90 ↑ 120/80 mmHg RR (X/menit) 20 ≤ 20 X/menit Penatalaksanaan Tanggal & waktu operasi Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 18/07/2006 Pk 11.40-13.00 WIB 1 jam 20 menit Terfacef® 1x1 g secara i.v. tanggal 17/07/2006, tidak terdapat keterangan jam pemberian 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Juli 2007 18 19 20 Injeksi Siprofloksasin 2x200 mg Remopain 3x1 A Siprofloksasin tab 2x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg Sporetic® tab 2x100 mg

Penggunaan antibiotik profilkasis Terfacef Assesment

®

tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Pemberian siprofloksasin dan Sporetic® postoperasi sudah tepat dosis, dan berdasarkan SPM bedah digestif untuk pasien geriatri diberikan antibiotik postoperasi.

Pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi karena daya tahan tubuh yang menurun rentan terkena infeksi.

Tabel XIX. Kajian DTPs Kasus 6 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.25.23.49

Dirawat pada tanggal 20/07/2006 – 11/08/2006 (23 hari)

Pasien laki-laki, 76 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di lipat paha kiri, tidak bisa BAK Subjective

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponible, BPH

Riwayat penyakit sekarang : sejak + 10 th yll pasien merasa ada benjolan di lipat paha kiri, hilang timbul, + 5 hari sebelum masuk RS pasien tidak bisa BAK.

Keadaan pulang : pasien membaik, belum sembuh, prognosis dubia

Parameter Objective

infeksi

Tanggal periksa Nilai norm (sel/µL) 19/07/06 26/07/06 01/08/06 07/08/06 10/08/06

WBC 15500 ↑ 53700 ↑ 18520 ↑ 14600 ↑ 16210 ↑ 4000-1100 Netrofil 12200 ↑ 49600 ↑ 16520 ↑ - 14590 ↑ 3000-6000 Tanggal 26/07/2006 Nilai normal

Suhu (0C) 36,4 36-37,40C Nadi (X/menit) 88 50-100 X/menit

TD (mmHg) 140/80 ↑ 120/80 mmHg RR (X/menit) 24 ≤ 20 X/menit Tanggal & waktu operasi Penatalaksanaan Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 26/07/2006 Pk 09.20-10.20 WIB 1 jam Terfacef 1x1 g secara i.v. tanggal 26/07/2006, tidak terdapat keterangan jam pemberian 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal

Juli 2006 Agustus 2006

27 28 29 1 2 4 5 7 8 9 10 11 Injeksi Seftriakson 1x1g

Injeksi Tramadol 3x1 A

Laxadine syr 3xCI p.o.

Siprofloksasin tab 2x500 mg

Asam mefenamat 3x500 mg p.o.

Injeksi Omeprazole 1A/24 jam

Inpepsa syr® 3xCth I p.o.

Imipenem 2x1 g p.o.

Nifedipin 2x10 mg p.o.

Injeksi Dolgesik®2x1 A

Injeksi Ranitidin 3x1 A

Injeksi Sefoperazon 1A/12 jam

Injeksi Seftriakson 1x2 g

Keterangan :

Pada tanggal 2 Agustus Injeksi Sefoperazon 1A/12 jam dan injeksi Seftriakson 1x2 g diberikan pada pk.16.00. Pemberian Siprofloksasin tab 2x500 mg tidak ada keterangan waktunya.

Penggunaan antibiotik profilkasis Terfacef Assesment

®

tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Dari segi dosisnya, pemberian siprofloksasin, imipenem, injeksi sefoperazon dan injeksi seftriakson (antibiotik postoperasi) sudah tepat dosis.

Pasien geriatri rentan terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun, sehingga perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi.

Tabel XX.Kajian DTPs Kasus 7 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.25.23.09

Dirawat pada tanggal 26/07/2006 – 05/08/2006 (11 hari)

Pasien laki-laki, 68 tahun, dengan keluhan utama : BAK tidak lancar sejak 1 thn yll Subjective

Diagnosis Utama : BPH

Diagnosis Lain : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Reponible Keadaan pulang : pasien membaik, prognosa dubia ad bonam

Parameter Objective

infeksi

Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 25/07/06 26/07/06 28/07/06

WBC 5200 18100 ↑ 18100 ↑ 4000-11000 Tanggal 26/07/2006 28/07/2006 Nilai normal Suhu (0C) 37 36,2 36-37,40C Nadi (X/menit) 80 82 50-100 X/menit

TD (mmHg) 130/80 130/80 120/80 mmHg RR (X/menit) 20 20 ≤ 20 X/menit Tanggal & waktu operasi Penatalaksanaan Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 28/07/2006 Pk 09.00-10.45 WIB 1 jam 45 menit Seftriakson 1x1g secara i.v. tanggal 27/07/2006, tidak terdapat keterangan jam pemberian 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal (2006) Juli Agustus 28 29 31 01 02 03 04 05 Injeksi Seftriakson 2x1g Injeksi Tramadol 3x1 A Infus NaCl 0,9% : Dx 5% Infus RL 28 tts/mnt Siprofloksasin 2x500 mg p.o.

Tramadol 2x1 tab p.o.

Injeksi Remopain 1 A

Penggunaan antibiotik profilkasis seftriakson tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Seftriakson dan siprofloksasin yang diberikan postoperasi sudah tepat dosis.

Assesment

Pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi karena daya tahan tubuh yang menurun rentan terkena infeksi.

Tabel XXI. Kajian DTPs Kasus 8 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 00.66.15.54

Dirawat pada tanggal 21/08/2006 – 26/08/2006 (6 hari)

Pasien laki-laki, 67 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di lipat paha kanan yang hilang timbul. Subjective

Riwayat penyakit sekarang : 1 thn yll benjolan di lipat paha kanan masih bisa keluar masuk, 6 bln sebelum masuk RS pasien operasi BPH, rencana operasi hernia ditunda

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Medialis Dextra Reponible Keadaan pulang : pasien membaik

Tanggal Objective

22/08/2006 Nilai normal Suhu (0C) 36 36-37,40C Nadi (X/menit) 88 50-100 X/menit

TD (mmHg) 150/90 ↑ 120/80 mmHg

RR (X/menit) 20 ≤ 20 X/menit Pemberian obat sebelum operasi

Penatalaksanaan

Nama obat Tanggal

21/08/2006 22/08/2006 23/08/2006 Azithromisin 1x500 mg p.o.

Injeksi Broadced® 1x2 g

Fluimusi®l 3xCI p.o. Injeksi Ventolin® 1 A/6 jam Medixon® 125 mg p.o. Keterangan :

Pada tanggal 21 Azithromisin 1x500 mg p.o. diberikan pk. 21.00 dan injeksi Broadced 1x2 g diberikan pk. 20.00. Pada tanggal 22 Azithromisin 1x500 mg p.o. dan injeksi Broadced 1x2 g diberikan pk. 20.00.

Tanggal & waktu operasi

Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 23/08/2006 Pk 09.15-09.45 WIB 30 menit Broadced® 1x2 g secara i.v. 13 jam 15 menit sebelum operasi 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Agustus 2006 23 24 25 26 Injeksi Seftriakson 1x1g

Longcef ® 3x500 mg p.o.

Fluimucil syr® 3xCI p.o.

Injeksi Remopain 1A/8 jam

Injeksi Ventolin® 1 A/6 jam

Pronalges® 3x1 g p.o.

1. Jangka waktu pemberian injeksi Broadced Assesment

®

2. Pemberian antibiotik postoperasi (seftriakson dan Longcef

(Seftriakson) 1x2 g untuk profilaksis pembedahan terlalu lama, yaitu 13 jam 15 menit sebelum operasi. DTPs :Dosis terlalu rendah (dosage too low).

®

) sudah tepat dosis.

1. T ½ Seftriakson 5-9 jam (DIH, 2003) sehingga maksimal jangka waktu pemberian antibiotik profilaksis 9 jam dari mulai diberikan hingga pasien selesai operasi, pemberian antibiotik yang terlalu awal dapat menyebabkan konsentrasi obat di dalam darah pada akhir operasi berada di bawah MIC.

Plan

2. Berdasarkan SPM Bedah Digestif, pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi.

Tabel XXII.Kajian DTPs Kasus 9 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.25.23.09

Dirawat pada tanggal 19/09/2006 – 23/09/2006 (5 hari)

Pasien laki-laki, 69 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di lipat paha kanan. Subjective

Riwayat penyakit sekarang : sejak + 1 thn yll pasien mengalami benjolan di lipat paha kanan yang bisa keluar masuk, nyeri (-), mual (-), muntah (-).

Riwayat penyakit dahulu : Riwayat Hipertensi (+)

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Reponible Keadaan pulang : pasien membaik, prognosa dubia ad bonam

Parameter Objective

infeksi

Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 18/09/06

WBC 10500 4000-11000 Netrofil 7300 ↑ 3000-6000

Tanggal 26/07/2006 Nilai normal Suhu (0C) 36,5 36-37,40C Nadi (X/menit) 92 50-100 X/menit

TD (mmHg) 160/110 ↑ 120/80 mmHg

RR (X/menit) 18 ≤ 20 X/menit BB (kg) 60 -

Pemberian obat sebelum operasi Penatalaksanaan

Nama obat Tanggal 20/09/2006 Injeksi Tricefin® 1x1 A Injeksi Remopain 3x1 A Tanggal & waktu operasi Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 21/09/2006 Pk 14.35-15.55 WIB 1 jam 20 menit Seftriakson 1x1 g secara i.v. Tanggal 20/09/2006, tidak ada keterangan jam pemberian

5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal 23/08/2006 Sefadroksil 2x200 mg p.o. Meloxicam® 1x7,5 mg p.o.

Penggunaan antibiotik profilkasis Seftriakson tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Sefadroksil yang diberikan postoperasi sudah tepat dosis.

Assesment

Berdasarkan SPM Bedah Digestif, pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi karena usia lanjut merupakan salah satu faktor risiko surgical site infection.

Tabel XXIII. Kajian DTPs Kasus 10 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.25.92.58

Dirawat pada tanggal 06/11/2006 – 11/11/2006 (6 hari)

Pasien laki-laki, 66 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di kantong pelir sejak 1 bln, keluar masuk. Subjective

Riwayat penyakit sekarang : sejak + 1 bln yll timbul benjolan di skrotum yang keluar masuk, keluar saat melakukan aktivitas dan masuk saat istirahat.

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Sinistra Reponible Keadaan pulang : pasien sembuh, prognosis baik

Parameter Objective

infeksi

Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 06/11/06 08/11/06

WBC 9200 10200 4000-11000 Netrofil 7100 ↑ 5800 3000-6000 Tanggal 09/11/2006 Nilai normal Suhu (0C) 36,3 36-37,40C Nadi (X/menit) 80 50-100 X/menit

TD (mmHg) 140/80 ↑ 120/80 mmHg

RR (X/menit) 20 ≤ 20 X/menit Penatalaksanaan

Pemberian obat sebelum operasi

Nama obat Tanggal 08/11/2006 Injeksi Ceftriaxone 1x1 g Tanggal & waktu operasi Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 09/11/2006 Pk 10.25-11.00 WIB 35 menit Seftriakson 1x1 g secara i.v. Tanggal 08/11/2006, tidak ada keterangan jam pemberian

5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal November 2006 09 10 11 Injeksi Seftriakson 1x1g Injeksi Remopain 2x1 A Infus RL : D5 = 3:2 Siprofloksasin 2x500 mg p.o. Asam mefenamat 3x500 mg p.o.

Keterangan : tidak terdapat keterangan waktu pemberian Injeksi Seftriakson 1x1g dan Siprofloksasin 2x500 mg p.o.

Penggunaan antibiotik profilkasis seftriakson tidak dapat ditinjau kerasionalannya berdasarkan waktu pemberian, karena tidak tercantum jam pemberian antibiotik tersebut. Dari segi dosisnya, pemberian seftriakson dan siprofloksasin postoperasi sudah tepat dosis.

Assesment

Berdasarkan SPM Bedah Digestif, pada pasien geriatri perlu diberikan antibiotik postoperasi untuk mencegah infeksi sesudah operasi karena usia lanjut merupakan salah satu faktor risiko surgical site infection.

Tabel XXIV. Kajian DTPs Kasus 11 Operasi Hernia Inguinal pada pasien Geriatri di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Februari 2006-Oktober 2008

No. RM 01.19.95.83

Dirawat pada tanggal 12/02/2007 – 16/02/2007 (5 hari)

Pasien laki-laki, 78 tahun, dengan keluhan utama : benjolan di selangkangan kanan Subjective

Riwayat penyakit sekarang : + 1 bln yll muncul benjolan di selangkangan kanan, benjolan bertambah besar jika beraktivitas, serta hilang saat tiduran, riwayat sulit tenang (-), batuk (+) lama.

Diagnosis Utama : Hernia Inguinalis Lateralis Dextra Reponible Keadaan pulang : pasien sembuh, prognosa baik

Parameter Objective

infeksi

Tanggal periksa Nilai normal (sel/µL) 09/02/07

WBC 9900 4000-11000 Netrofil 7100 ↑ 3000-6000 Tanggal 12/02/2007 Nilai normal Suhu (0C) 37 36-37,40C Nadi (X/menit) 88 50-100 X/menit

TD (mmHg) 160/80 ↑ 120/80 mmHg RR (X/menit) 16 ≤ 20 X/menit Tanggal & waktu operasi Penatalaksanaan Lama Operasi

Jenis dan Dosis Antibotik Profilaksis Waktu Pemberian Antibiotik Profilaksis T ½ Antibiotik Profilaksis 14/02/2007 Pk 10.30-11.50 WIB 1 jam 20 menit Terfacef® 1x1 g secara i.v. 12 jam 20 menit sebelum operasi 5-9 jam

Pemberian obat postoperasi

Nama obat Tanggal Februari 2007 14 15 16 Terfacef ® 1x1g Injeksi Remopain 3x30 mg Infus RL : D 5 = 1:1 24 tpm Injeksi Altoven® 1A

Jangka waktu pemberian injeksi Terfacef

Dokumen terkait