BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Kasus Operasi Hernia Inguinal
1. Berdasarkan adanya penyakit penyerta
Penyakit penyerta berpengaruh terhadap penatalaksanaan operasi yang akan dilakukan, terutama pada pasien geriatri yang telah mengalami penurunan fungsi organ tubuh. Keadaan pasien harus terkontrol selama proses operasi, tekanan darah, pernapasan dan denyut jantung harus dipastikan normal sebelum dilakukan operasi. Dari 36 kasus, sebanyak 4 kasus dengan penyakit penyerta dan 32 kasus tanpa penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang diderita pasien geriatri dalam kasus ini adalah 2 kasus hipertensi, 1 kasus CHF dan 1 kasus batu buli.
Gambar 4. Kasus Operasi Hernia Inguinal pada Pasien Geriatri Berdasarkan Adanya Penyakit Penyerta di RSUP Dr. Sardjito
Periode Februari 2006 - Oktober 2008
Pada pasien dengan hipertensi dilakukan cek tekanan darah setiap 4 jam selama perawatan sebelum operasi, pada pasien dengan CHF dilakukan pemeriksaan dengan EKG. Hal ini untuk menjaga kondisi pasien tetap baik saat dilakukan operasi. Pada pasien dengan batu buli (batu ginjal) perlu dilakukan pemeriksaan terhadap keparahan penyakitnya, karena batu ginjal yang sudah parah memungkinkan pasien mengalami infeksi pada saluran urin yang memerlukan penanganan antibiotik tambahan untuk mencegah timbulnya infeksi yang baru saat dilakukan operasi.
2. Berdasarkan jenis hernia inguinal
Jenis hernia inguinal dibedakan menjadi direk, indirek, dan hernia ganda yang merupakan gabungan dari jenis direk dan indirek. Hernia inguinalis direk di dalam rekam medis RSUP Dr. Sardjito diistilahkan dengan Hernia Inguinalis
88,89% 5,56%2,78% 2,78% 1 2 3 4
tanpa penyakit penyerta hipertensi
CHF batu buli
Medialis (HIM), sedangkan hernia inguinalis indirek diistilahkan dengan Hernia Inguinalis Lateralis (HIL).
Gambar 5. Kasus Operasi Hernia Inguinal pada Pasien Geriatri Berdasarkan Jenis Hernia Inguinal di RSUP Dr. Sardjito Periode
Februari 2006 - Oktober 2008
HIM biasanya terjadi pada usia tua, sedangkan HIL dapat terjadi pada semua usia, akan tetapi pada penelitian ini jumlah pasien geriatri yang mengalami hernia inguinal jenis indirek lebih banyak ditemukan. Sifat benjolan pada hernia inguinal dibedakan menjadi reponible dimana sifat benjolan keluar masuk, dan irreponible
yaitu sifat benjolan menetap. Jumlah kasus dengan sifat benjolan hernia reponible
lebih banyak ditemukan.
83,33% 16,67% 1 2 Indirek (HIL) Direk (HIM)
Gambar 6. Kasus Operasi Hernia Inguinal pada Pasien Geriatri Berdasarkan Sifat Benjolan Hernia Inguinal di RSUP Dr. Sardjito Periode
Februari 2006 - Oktober 2008
Jenis hernia inguinalis indirek dengan sifat benjolan reponible sebagai kasus terbanyak pasien geriatri yang menjalani operasi, dapat dikarenakan jenis hernia tersebut telah mengganggu gaya hidup pasien dan menimbulkan ketidaknyamanan.
B. Profil Penggunaan Obat
Profil penggunaan obat pasien geriatri yang menjalani operasi hernia inguinal selama dirawat inap disajikan pada tabel di bawah ini.
91,67% 8,33% 1 2 Reponible Irreponible
Tabel V. Profil Penggunaan Obat Selama Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Periode Februari 2006 - Oktober 2008
No. Golongan obat Jumlah kasus (n=36)
Persentase (%)
1. Obat antiinfeksi 36 100
2. Anestesi 36 100
3. Analgesik/antiinflamasi 18 50
4. Obat sistem kardiovaskuler 15 41,67
5. Obat saluran cerna 9 25
6. Infus / cairan elektrolit 5 13,89
7. Obat saluran pernafasan 4 11,11
8. Vitamin 4 11,11
9. Obat neurotonik & nootropik 1 2,78
10. Obat antiparkinson 1 2,78
11. Otot skelet dan sendi 1 2,78
1. Obat antiinfeksi
Obat antiinfeksi dapat berupa antibiotika maupun antivirus yang diberikan kepada pasien selama dirawat inap, dikarenakan infeksi yang mungkin telah terjadi pada pasien sebelum masuk rumah sakit, atau saat pasien mulai dirawat inap.
2. Anestesi
Pemberian anestesi pada pasien dilakukan saat proses bedah dengan tujuan menghilangkan kesadaran pasien selama pembedahan agar pasien tidak merasakan sakit. Anestesi yang diberikan harus dapat menginduksi kesadaran dan dapat mempertahankan anestesi sampai proses bedah selesai. Untuk itu, keadaan pasien perlu diperhatikan pada pemberian anestesi. Dalam penelitian ini digunakan anestesi spinal.
3. Analgesik / Antiinflamasi
Nyeri yang dirasakan pasien setelah operasi disebabkan oleh kerusakan jaringan karena rangsangan mekanis saat dilakukan operasi yang dapat mengakibatkan pelepasan mediator nyeri dan obat analgesik digunakan untuk mengurangi nyeri. Obat analgesik yang paling banyak digunakan adalah remopain.
4. Obat sistem kardiovaskuler
Pasien geriatri dengan penyakit penyerta yang berhubungan dengan sistem kardiovaskular contohnya hipertensi dan CHF memerlukan tindakan yang tepat dalam perawatan. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 4 jam dalam sehari pada pasien dengan hipertensi yang tidak stabil. Pada pasien dengan penyakit penyerta CHF dan hipertensi pemakaian obat-obat seperti antikoagulan, inhibitor monoamin oksidase, dan diuretik harus dihentikan saat praoperatif (Cameron, 1997).
5. Obat saluran cerna
Gangguan saluran cerna yang dialami pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit dapat berupa penyakit yang sudah diderita pasien sebelumnya, atau karena gangguan pada saat perawatan di rumah sakit. Perawatan pasien dengan gangguan pencernaan perlu diperhatikan untuk kenyamanan pasien pada waktu perawatan di rumah sakit, terutama pada pasien geriatri yang sering mengalami konstipasi, mual, dan tukak lambung. Obat yang paling banyak digunakan yaitu ranitidin (golongan antagonis reseptor H2) yang mempunyai mekanisme mengurangi asam lambung (Anonim, 2000). Antiemetik yang digunakan untuk mual dan muntah
pada pasien yang menjalani bedah yaitu metoklopramide. Obat pencahar yang digunakan untuk mengatasi konstipasi yaitu Laxadine.
6. Infus/cairan elektrolit
Ketersediaaan cairan dan elektrolit diperlukan pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit. Infus yang mengandung elektrolit-elektrolit (Natrium, Kalium, Klorida) dan cairan diberikan untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit karena pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit tidak cukup memenuhi kebutuhan asupan secara per oral.
7. Obat saluran pernapasan
Obat saluran napas digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan pada pernapasan, supaya tidak mengganggu proses operasi yang dapat menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen.
8. Vitamin
Pemberian vitamin sangat penting untuk pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit untuk menjaga kondisi tubuh pasien agar tidak menurun. Terutama karena kondisi pasien geriatri yang lebih rentan terkena penyakit.
9. Obat neurotropik, nootropik & antiparkinson
Obat neurotropik digunakan oleh pasien yang mempunyai gangguan pada sistem saraf, dan obat antiparkinson digunakan oleh pasien yang memiliki gejala atau menderita penyakit parkinson, yang dapat terjadi pada usia lanjut.
10. Otot skelet dan sendi
Pada penelitian ini digunakan golongan obat untuk pelemas otot nondepolarisasi yang bekerja dengan menghambat transmisi sambungan di otot dan saraf, sehingga dapat diperoleh relaksasi otot yang akan memudahkan dalam pembedahan.