• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Good Corporate Governance

1. Pengertian Good Corporate Governance (GCG)

Good corporate governance dapat didefinisikan sebagai struktur,

sistem, dan proses yang digunakan oleh organ-organ perusahaan sebagai

upaya untuk memberikan nilai tambah perusahaan secara berkesinambungan

dalam jangka panjang (IICG, 2010).

Pengertian corporate governance menurut Report (1999) yang

suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama

mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui

pengamanan asset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang

saham dalam jangka panjang.

Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan good corporate governance

(GCG) sebagai kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib

dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan untuk

berfungsi secara efisien guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang

yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat

sekitar secara keseluruhan.

Lembaga corporate governance di Malaysia, yaitu Finance

Committee on Corporate Governance (FCCG), mendefinisikan corporate

governance sebagai proses dan struktur yang digunakan untuk

mengarahkan dan mengelola bisnis serta aktivitas perusahaan ke arah

peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, GCG secara singkat

dapat diartikan sebagai seperangkat sistem yang mengatur dan

mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added)

bagi para pemangku kepentingan. Hal ini disebabkan karena GCG dapat

mendorong terbentuknya pola kerja manajemen yang bersih, transparan, dan

profesional (BTP). Implementasi prinsip-prinsip GCG secara konsisten di

Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang akan mengembangkan

usahanya, seperti melakukan investasi baru maupun proyek ekspansi.

2. Konsep Good Corporate Governance

Menurut Effendi (2009:5-6), Implementasi prinsip-prinsip GCG

menyangkut pengembangan dua aspek yang saling berkaitan satu dengan

yang lain, yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

Hardware yang lebih bersifat teknis mencakup pembentukan atau

perubahan struktur dan sistem organisasi. Sedangkan, software yang lebih

bersifat psikososial mencakup perubahan paradigma, visi, misi, nilai

(values), sikap (attitude), dan etika keperilakuan (behavioral ethics).

Raka (2001) dalam Effendi (2009), salah seorang panel ahli dari

Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), menyatakan dalam

GCG tersirat secara implisit bahwa sebuah perusahaan bukanlah mesin

pencetak keuntungan bagi pemiliknya, melainkan sebuah entitas untuk

menciptakan nilai bagi semua pihak yang berkepentingan. Konsep GCG

mencerminkan pentingnya sikap berbagi (sharing), peduli (caring), dan

melestarikan. Kepemimpinan dalam hal ini berperan besar dalam

menumbuhkan aspirasi, menanamkan nilai, serta menumbuhkan idealisme

dan kesadaran akan tujuan pada anggota perusahaan. Seorang pemimpin

bertugas untuk menjelaskan paradigma, visi, dan nilai-nilai yang berada

dibalik prinsip-prinsip GCG; apa arti dari visi, paradigma, dan nilai-nilai

anggota organisasi. Perubahan aspek teknis dalam bidang struktur dan

sistem memerlukan kemampuan manajemen. Dalam hal ini, yang menjadi

titik berat perhatian adalah keteraturan dan kelancaran proses-proses dalam

organisasi serta ketaatan anggota perusahaan terhadap kebijakan dan sistem

yang dirancang untuk melaksanakan prinsip-prinsip GCG. Sistem dan

struktur tersebut menjadi pedoman teknis untuk melaksanakan kegiatan

sehari-hari agar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip GCG.

3. Tujuan Penerapan GCG

Penerapan sistim good corporate governance diharapkan dapat

meningkatkan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan

(stakeholders) (Wijaya dan Permatasari , 2012), melalui beberapa tujuan

berikut:

a. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kesinambungan suatu organisasi

yang memberikan kontribusi kepada terciptanya kesejahteraan pemegang

saham, pegawai dan stakeholders lainnya yang merupakan solusi yang

elegan dalam menghadapi tantangan organisasi kedepan.

b. Meningkatkan legimitasi organisasi yang dikelola dengan terbuka, adil,

dan dapat dipertanggungjawabkan.

c. Mengakui dan melindungi hak dan kewajiban para shareholders dan

4. Manfaat Good Corporate Governance

Surya dan Vandana (2007) dalam Purwaningtyas (2011) manfaat

dari penerapan good corporate governance adalah:

a. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja

ekonomi perusahaan.

b. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku yang

memiliki kepentingan terhadap perusahaan.

c. Meningkatkan nilai saham perusahaan, sehingga pencitraan perusahaan

di mata publik meningkat dalam jangka waktu yang lama.

Disamping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat (Wijaya dan

Permatasari, 2012):

1) Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung

pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada

pihak manajemen. Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang

diderita perusahaan sebagai akibat penyalahgunaan wewenang,

ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk mencegah

terjadinya hal tersebut.

2) Mengurangi biaya modal, yaitu sebagai dampak dari pengelolaan

perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau

sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring

dengan turunnya tingkat resiko perusahaan.

3) Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan

4) Menciptakan dukungan para pihak yang berkepentingan (stakeholder)

dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan

berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena

umumnya mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat

manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam

menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.

5. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan GCG

Menurut Wijaya dan Permatasari (2012), terdapat beberapa faktor

yang mempengaruhi keberhasilan dari GCG, yaitu:

a. Faktor Eksternal

Yang dimaksud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang

berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan

penerapan GCG, diantaranya:

1) Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin

berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif.

2) Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga

pemerintahaan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good

Governance dan Clean Government menuju GCG yang sebenarnya.

3) Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices)

yang dapat menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan

4) Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan

GCG di masyarakat. Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan

timbul partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk

mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela.

5) Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat

keberhasilan implementasi GCG terutama di Indonesia adalah

adanya semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan

publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah

kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. Bahkan dapat

dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat

mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi

GCG.

b. Faktor Internal

Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan

praktek GCG yang berasal dari dalam perusahaan. Beberapa faktor

dimaksud antara lain:

1) Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung

penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di

perusahaan.

2) Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan

mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG.

3) Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada

4) Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam

perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin

akan terjadi.

5) Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami

setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga

kalangan publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah

perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu.

6. Prinsip – Prinsip Good Corporate Governance

Prinsip–prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) sesuai Pasal 3 Surat Keputusan Menteri BUMN No.

117/M-MBU/2002 tentang Penerapan GCG pada BUMN (Effendi, 2009:4-5),

sebagai berikut:

1) Tranparansi (transparency)

Keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan

pengungkapan informasi materil yang relevan mengenai perusahaan.

2) Akuntabilitas (accountability)

Kejelasan fungsi, pelaksanaan, serta pertanggungjawaban manajemen

perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif

dan ekonomis.

3) Pertanggungjawaban (Responsibilitas)

Kesesuaian pengelolaan perusahaan terhadap peraturan

4) Kemandirian (independence)

Suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa

konflik kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun

yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan

prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5) Kewajaran (fairness)

Keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak pemangku

kepentingan yang timbul sebagai akibat dari perjanjian dan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

7. Mekanisme Good Corporate Governance

Menurut Boediono (2005) dalam Sari (2010), mekanisme good

corporate governance merupakan suatu sistem yang mampu

mengendalikan dan mengarahkan kegiatan operasional perusahaan serta

pihak-pihak yang terlibat didalamnya, sehingga dapat digunakan untuk

menekan terjadinya masalah keagenan.

Menurut Barnhart dan Rosenstein (1998) dalam Purwantini

(2010), mekanisme good corporate governance dibagi dalam dua

kelompok yaitu internal dan eksternal mechanism. Internal mechanism

(mekanisme internal), seperti komposisi dewan direksi/komisaris,

kepemilikan manajerial, dan komposisi eksekutif. External mechanism

(mekanisme eksternal), seperti pengendalian oleh pasar. Sedangkan

mekanisme corporate governance juga dibagi menjadi dua kelompok

yaitu internal dan external mechanism.

1) internal mechanism adalah cara untuk mengenalikan perusahaan

dengan menggunakan struktur dan proses internal seperti rapat umum

pemegang saham, komposisi dewan komisaris, komposisi dewan

direksi dan pertemuan dengan board of directors, sedangkan struktur

kepemilikan perusahaan dibedakan menjadi 2 yaitu:

a. Tingkat konsentrasi kepemilikan

Tingkat konsentrasi kepemilikan dapat dikategorikan menjadi

struktur kepemilikan terkonsentrasi dan perusahaan yang struktur

kepemilikannya tidak terkonsentrasi.

b. Kepemilikan perusahaan

Suatu perusahaan dapat dimiliki institusi maupun non institusi.

Institusi merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan

besar terhadap investasi saham. Sehingga biasanya institusi

menyerahkan tanggung jawab pada divisi tertentu untuk mengelola

investasi perusahaan tersebut. Karena institusi memantau secara

professional perkembangan investasinya maka tingkat

pengendalian terhadap tindakan manajemen sangat tinggi sehingga

potensi kecurangan dapat ditekan. Keberadaan institusi inilah yang

2) External mechanism adalah cara mempengaruhi perusahaan selain

dengan menggunakan mekanisme internal, seperti pengendalian oleh

perusahaan dan pengendalian oleh pasar.

Menurut Ujiyantho dan Pramuka (2007) dalam Puryati (2012),

mekanisme Good Corporate Governance terdiri dari komite audit,

komisaris independen, Kepemilikan institusional dan Kepemilikan

manajemen.

Mekanisme good corporate governance yang digunakan dalam

penelitian ini adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,

komisaris independen, komite audit dan dewan komisaris. Kepemilikan

manajerial dan kepemilikan institusional digunakan karena oleh beberapa

peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan dalam

mencapai tujuan perusahaan yaitu memaksimalisasi nilai perusahaan. Hal

ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang mereka miliki (Wahyudi

dan Pawestri, 2006 dalam Susanti, 2010). Menurut Jensen dan Meckling

(1976) dalam Arifin (2010), kepemilikan manjerial dan kepemilikan

institusional merupakan dua mekanisme corporate governance utama

yang membantu mengendalikan masalah keagenan. Dewan Komisaris

memegang peranan penting dalam mengarahkan strategi dan mengawasi

jalannya perusahaan serta memastikan bahwa para manajer benar-benar

meningkatkan kinerja perusahaan sebagai bagian daripada pencapaian

tujuan perusahaan. Keberadaan komisaris independen sangat diperlukan

meningkatkan akuntabilitas dewan komisaris. Komisaris independen

membantu merencanakan strategi jangka panjang dan secara berkala

melakukan review atas implementasi strategi tersebut (Firdausya dkk,

2013). Komite audit mempunyai peran yang sangat penting dan strategis

dalam hal memelihara krediabilitas proses penyusunan laporan keuangan,

seperti menjaga terciptanya sistem pengawasan perusahaan yang

memadai serta dilaksanakannya Good Corporate Governance (Puryati,

2012).

a. Kepemilikan Manajerial

Masalah keagenan (agency problem) bisa dikurangi bila

manajer mempunyai kepemilikan saham dalam perusahaan, semakin

meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial maka akan baik

kinerja perusahaan. Kepemilikan saham yang besar dari segi

ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis

ketika kepemilikan manajerial rendah, maka insentif terhadap

kemungkinan terjadinya oportunistik manajemen akan meningkat.

Kepemilikan manajerial terhadap saham perusahaan dipandang dapat

menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang

saham luar dengan manajemen. Sehingga permasalahan keagenan

diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga

sekaligus sebagai seorang pemilik. Kepemilikan manajerial dapat

digunakan sebagai mekanisme good corporate governance yang dapat

yang berkepentingan dengan perusahaan. Dengan memperbesar

kepemilikan manajerial, maka manajemen akan merasakan secara

langsung dampak dari setiap keputusan yang mereka ambil karena

mereka menjadi pemilik perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976).

Semakin besar kepemilikan saham manajerial dapat mencegah

tindakan opportunistic manajer.

Pengertian kepemilikan manajerial menurut Wahidahwati

(2001) sebagai berikut: “Kepemilikan manajerial merupakan pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam

pengambilan keputusan perusahaan”.

Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan

dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara

pemegang saham luar dengan manajemen. Sehingga permasalahan

keagenan diasumsikan akan hilang apabila seseorang manajer adalah

juga sekaligus sebagai seorang pemilik (Shleifer dan Vishny, 1997).

b. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat

penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara

manajer dan pemegang saham. Keberadaan investor institusional

dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam

setiap keputusan yang diambil oleh manajer. Hal ini disebabkan

sehingga tidak mudah percaya terhadap tindakan manipulasi data

(Jensen dan Meckling, 1976).

Kepemilikan institusional umumnya bertindak sebagai

pihak yang memonitor perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan

institusional yang besar (lebih dari 5%) mengidentifikasikan

kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar

kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva

perusahaan, dengan demikian proporsi kepemilikan institusional

bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan yang dilakukan

manajemen.

Kepemilikan institusioanal akan mendorong pemilik untuk

melakukan peminjaman kepada manajemen, sehingga dapat

memotivasi manajemen untuk meningkatkan kinerjanya dan akan

meningkatkan nilai perusahaan.

c. Komite audit

Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) mendefinisikan

komite audit sebagai berikut: “Suatu komite yang bekerja secara professional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris dan,

dengan demikian, tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi

dewan komisaris (atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi

pengawasan (oversight) atas proses pelaporan keuangan, manajemen

risiko, pelaksanaan audit dan implementasi dari corporate governance

Menurut Purwaningtyas (2011) Penggunaan komite audit

usaha perbaikan terhadap cara pengelolaan perusahaan terutama cara

pengawasan terhadap manajemen perusahaan, karena akan menjadi

penghubung antara manajemen perusahaan dengan dewan komisaris

maupun pihak eksternal lainnya. Tugas komite audit juga berkaitan

erat dengan penelaahan terhadap risiko yang dihadapi perusahaan

serta ketaatan terhadap peraturan.

d. Komisaris independen

Effendi (2009:16-17), Butir 1-a dari Peraturan Pencatatan

Efek No 1-A PT Bursa Efek Jakarta (sekarang PT Bursa Efek

Indonesia) mengenai Ketentuan Umum Pencatatan Efek yang Bersifat

Ekuitas di Bursa mengatur tentang rasio komisaris independen. Dalam

butir tersebut dinyatakan bahwa jumlah komisaris independen

haruslah secara proposional sebanding dengan jumlah saham yang

dimiliki oleh pihak yang bukan merupakan pemegang saham

pengendali, dengan ketentuan bahwa jumlah komisaris independen

sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) dari seluruh jumlah

anggota komisaris.

Butir 2 dari peraturan tersebut mengatur mengenai

persyaratan komisaris independen. Butir tersebut menyatakan bahwa

komisaris independen dilarang untuk memiliki hubungan terafiliasi

baik dengan pemegang saham pengendali, direktur, maupun komisaris

Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa komisaris

independen mewakili kepentingan minoritas, sehingga diharapkan

menjadi penyeimbang dalam pengawasan perusahaan publik.

e. Dewan Komisaris

Dewan komisaris dalam suatu perusahaan lebih ditekankan

pada fungsi monitoring dari implementasi kebijakan direksi. Peran

dewan komisaris diharapkan akan meminimalisir permasalahan agensi

yang timbul antara agen dan prinsipal. Menurut Pedoman Umum

Good Corporate Governance Indonesia 2006, dewan komisaris

sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggungjawab secara

kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat

kepada direksi serta memastikan bahwa perusahaan melaksnakan

GCG.

Dewan komisaris memiliki peranan yang sangat penting

dalam mengarahkan strategi dan mengawasi jalannya perusahaan serta

memastikan bahwa para manajer benar-benar meningkatkan kinerja

perusahaan sebagai bagian daripada pencapaian tujuan perusahaan

yaitu memaksimalkan nilai perusahaan.

Dokumen terkait