• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

F. Perumusan Hipotesis

1. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan

Kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen untuk

meningkatkan kinerja perusahaan, karena manajemen juga memiliki

perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan mendorong dan

meningkatkan nilai perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Jensen

kepemilikan manajemen mempunyai pengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

Kepemilikan manajerial adalah proporsi pemegang saham dari

pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan

perusahaan. Dengan adanya kepemilikan manajerial dalam sebuah

perusahaan, akan menimbulkan dugaan bahwa nilai perusahaan meningkat

sebagai akibat kepemilikan manajerial yang meningkat. Kepemilikan

manajerial yang meningkat dan besar akan efektif dalam memonitor

aktivitas perusahaan (Praditha, 2011).

Dengan proporsi kepemilikan yang cukup tinggi, maka manajer

akan merasa ikut memiliki perusahaan, sehingga akan berusaha semaksimal

mungkin melakukan tindakan-tindakan yang dapat memaksimalkan nilai

perusahaan. Hal tersebut didasarkan pada logika, bahwa peningkatan

proporsi saham yang dimiliki manajer akan menurunkan kecenderungan

manajer untuk melakukan tindakan yang berlebihan. Dengan demikian,

maka akan mempersatukan kepentingan manajer dengan pemegang saham,

hal ini berdampak positif meningkatkan nilai perusahaan (Praditha, 2011)

Menurut Soliha dan Taswan (2003) dalam Jimmi dan Rustendi

(2008) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif dan

signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan Taswan

(2003) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif dan

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam

ini adalah sebagai berikut:

H1 : Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan

Menurut Tarjo (2008) kepemilikan institusional merupakan saham

perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan

asuransi, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain. Institusi

merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap

investasi yang dilakukan termasuk investasi saham, sehingga biasanya

institusi menyerahkan tanggungjawab pada divisi tertentu untuk mengelola

investasi perusahaan tersebut. Karena institusi memantau secara profesional

perkembangan investasinya maka tingkat pengendalian terhadap tindakan

manajemen sangat tinggi (Lastanti, 2004 dalam Purwaningtyas, 2011).

Keberadaan institusi inilah yang mampu menjadi alat monitoring efektif

bagi perusahaan.

Kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap nilai

pemegang saham. Hal ini berarti menunjukkan bahwa kepemilikan

institusional menjadi mekanisme yang handal sehingga mampu memotivasi

manajer dalam meningkatkan kinerjanya yang pada akhirnya dapat

meningkatkan nilai perusahaan (Tarjo, 2008). Kepemilikan institusional

a. Memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga dapat

menguji keandalan informasi.

b. Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan yang

lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.

Aktivitas monitoring institusi mampu mengubah struktur

pengelolaan perusahaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang

saham. Monitoring yang dilakukan institusi mampu mensubtitusi biaya

keagenan lain, sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan

meningkat.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

H2 : Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

3. Pengaruh Komite Audit terhadap Nilai Perusahaan

Komite audit adalah sekelompok orang yang dipilih dari dewan

komisaris perusahaan yang bertanggungjawab untuk membantu auditor

dalam mempertahankan independensinya terhadap manajemen. Dalam

lampiran surat keputusan dewan direksi PT.Bursa Efek Jakarta No.

Kep-315/BEJ/06-2000 poin 2f, peraturan tentang pembentukan komite audit

disebutkan bahwa “Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris perusahaan tercatat yang anggotanya diangkat dan diberhentikan

oleh dewan komisaris perusahaan tercatat untuk membantu dewan komisaris

perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam pengelolaan perusahaan

tercatat”.

Berdasarkan Surat Edaran dari Direksi PT. Bursa Efek Jakarta

No.SE-008/BEJ/12-2001 tanggal 7 Desember 2001 perihal keanggotaan

komite audit, disebutkan bahwa :

1. Jumlah anggota komite audit sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang,

termasuk ketua komite audit.

2. Anggota komite audit yang berasal dari komisaris, hanya sebanyak 1

(satu) orang. Anggota komite audit yang berasal dari komisaris tersebut

harus merupakan komisaris independen perusahaan tercatat yang

sekaligus menjadi ketua komite audit.

3. Anggota lainnya dari komite audit adalah berasal dari pihak eksternal

yang independen. Pihak eksternal adalah pihak di luar perusahaan

tercatat yang bukan merupakan komisaris, direksi dan karyawan dari

perusahaan tercatat tersebut. Sedangkan, independen adalah pihak diluar

perusahaan tercatat yang tidak memiliki hubungan usaha dan hubungan

afiliasi dengan perusahaan tercatat tersebut maupun dengan komisaris,

direksi, serta pemegang saham utamanya, serta mampu memberikan

pendapat profesional secara bebas sesuai dengan etika profesionalnya

dengan tidak memihak kepada kepentingan siapapun.

Jika kualitas dan karakteristik komite audit dapat tercapai, maka

transparansi pertanggungjawaban manajemen perusahaan dapat dipercaya

Menurut McMullen (1996) dalam Purwaningtyas (2011)

menyebutkan bahwa investor, analisis dan regulator menganggap komite

audit memberikan konstribusi dalam kualitas pelaporan keuangan.

Keberadaan komite audit dalam hal ini mempengaruhi nilai perusahaan

secara positif dan signifikan. Komite audit merupakan usaha perbaikan cara

pengelolaan perusahaan terutama cara pengawasan terhadap manajemen

perusahaan, karena akan menjadi penghubung antara manajemen dengan

dewan komisaris maupun pihak ekstern lainnya. Komite audit juga berperan

dalam mengawasi proses pelaporan keuangan perusahaan yang bertujuan

mewujudkan laporan keuangan yang disusun melalui proses pemeriksaan

dengan integritas dan obyektifitas dari auditor. Komite audit akan berperan

efektif untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan dan membantu

dewan komisaris memperoleh kepercayaan dari pemegang saham.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

H3 : Komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. 4. Pengaruh Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan

Komisaris independen diharapkan mampu meningkatkan peran

dewan komisaris sehingga dapat terciptanya good corporate governance di

dalam perusahaan. Dewan komisaris independen adalah jumlah dewan

komisaris independen dalam perusahaan. Dengan jumlah dewan komisaris

independen yang semakin banyak, menandakan bahwa dewan komisaris

perusahaan yang semakin baik. Semakin tinggi perwakilan dari komisaris

independen, maka semakin tinggi independensi dan efektivitas corporate

board, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Anggraini (2013) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang

positif dan signifikan antara independensi dewan komisaris dengan nilai

perusahaan. Adanya pengaruh tersebut disebabkan oleh mekanisme kontrol

yang kuat dari komisaris independen terhadap manajemen, dimana

mekanisme kontrol tersebut merupakan peran vital bagi terciptanya GCG.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

H4 : Komisaris Independen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

5. Pengaruh Dewan Komisaris terhadap Nilai Perusahaan

Dewan komisaris adalah jumlah anggota dewan komisaris yang

ada didalam perusahaan. Semakin banyak dewan dalam perusahaan akan

memberikan suatu bentuk pengawasan terhadap kinerja perusahaan yang

semakin lebih baik, dengan kinerja perusahaan yang baik dan terkontrol,

maka akan menghasilkan profitabilitas yang baik dan nantinya akan

meningkatkan harga saham perusahaan dan nilai perusahaan pun akan ikut

meningkat. Siallagan dan Machfoedz (2006) menyimpulkan bahwa dewan

komisaris secara statistik berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Komisaris memainkan peran penting dalam pelaksanaan GCG. Dewan

komisaris merupakan inti dari tata kelola perusahaan. Dewan komisaris

komisaris bertugas memastikan strategi perusahaan, membutuhkan

akuntabilitas dan bertanggung jawab untuk mengawasi manajemen dalam

meningkatkan efisiensi, daya saing dan nilai perusahaan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah:

H5 : Dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Dokumen terkait