BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Hasil Penelitian
4.2.2 Pengujian Hipotesis
4.2.2.1. Goodness of Fit Inner Model (Uji Model Struktural)
Pengujian terhadap model structural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen dan diukur dengan melihat Q-Square
predictive relevance untuk mengukur seberapa baik nilai observasi
dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square lebih besar 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive relevance. Pengujian inner model dapat dilihat dari nilai R-square pada persamaan antar variabel laten pada table dibawah ini:
Tabel 4.12 : Goodness Of Fit
R-square DMP PP KTP PPP KSIA 0,869 Sumber: Lampiran 7
Nilai Q2 = 1 – (1-0,869)= 0,869 sehingga dapat disimpulkan bahwa model cukup baik, yaitu dukungan manajemen puncak, partisipasi pemakai, kemampuan teknik personal pemakai, program pendidikan dan pelatihan mampu menjelaskan kinerja sistem informasi akuntansi sebesar 86,90%. Sedangkan sisanya sebesar 13,10 % dijelaskan oleh variabel lain (selain dukungan manajemen puncak, partisipasi pemakai, kemampuan
teknik personal pemakai, program pendidikan dan pelatihan) yang belum masuk kedalam model atau error.
4.2.2.2Uji Inner Weight
Model hubungan antara dukungan manajemen puncak, partisipasi pemakai, kemampuan teknik personal pemakai, program pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi untuk mengetahui koefisien path dapat dilihat dari result inner weight yang dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 4.13 : Result For Inner Weight original sample estimate mean of subsamples Standard deviation T-Statistic DMP -> KSIA 0,395 0,384 0,082 4,842 PP -> KSIA 0,096 0,078 0,114 0,843 KTP -> KSIA 0,347 0,327 0,086 4,037 PPP -> KSIA 0,243 0,275 0,145 1,681 Sumber: Lampiran 8
- Dukungan Manajemen Puncak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi dengan koefisien sebesar 0,395 , dapat diterima dimana nilai T-Statistic = 4,842 lebih besar dari nilai Z α = 0,05 (5%) = 1,96 , maka Signifikan (Positif).
- Partisipasi Pemakai tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi dengan koefisien sebesar 0,096 , dimana nilai T-Statistic = 0,843 lebih kecil dari nilai Z α = 0,05 (5%) = 1,96.
- Kemampuan Teknik Personal berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi dengan koefisien sebesar 0,347 dapat diterima dimana nilai T-Statistic = 4,037 lebih besar dari nilai Z α = 0,05 (5%) = 1,96, maka Signifikan (Positif).
- Program Pendidikan dan Pelatihan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi dengan koefisien sebesar 0,243 , dimana nilai T-Statistic = 1,681 lebih kecil dari nilai Z α = 0,05 (5%) = 1,96.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Goodness Of Fit Outer Model
Berdasarkan hasil pengujian Goodness Of Fit yang telah dilakukan
terhadap Outer Model dapat diketahui bahwa untuk pengujian Convergent Validity bahwa semua indikator pada variabel laten adalah valid yang ditunjukkan pada nilai Loading Factor lebih besar dari 0,5. Hal ini dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator yang digunakan mampu mengukur variabel laten.
Adapun untuk hasil pengujian Composite Reliability menunjukkan hasil bahwa nilai Composite Reliability Dukungan Manajemen Puncak adalah sebesar 0,755 untuk Partisipasi Pemakai adalah sebesar 0,865 untuk Kemampuan Teknik Personal adalah 0,820 sedangkan untuk Program Pendidikan dan Pelatihan adalah 0,904 dan untuk Kinerja Sistem Informasi Akuntansi adalah sebesar 0,917. Dimana semua nilai variabel
laten tersebut lebih besar dari 0,7 dan menunjukkan semua kontraks adalah handal.
Uji Discriminant Validity menunjukkan hasil bahwa variabel program pendidikan dan pelatihan memiliki kemampuan untuk menjelaskan variabel kinerja sistem informasi akuntansi lebih besar dari pada variabel kemampuan teknik personal yang berada diurutan kedua sebesar 0,606 dan disusul oleh variabel partisipasi pemakai yang sebesar 0,562 yang dibuktikan dari nilai AVE sebesar 0,702 untuk program pendidikan dan pelatihan.
Dari keempat hasil pengujian Goodness Of Fit Inner Model dapat dijabarkan bahwa kinerja sistem informasi akuntansi pada PT. Bank DKI Cabang Raya Darmo Surabaya telah terbukti efektif, hal ini telah dibuktikan dari hasil pengujian terhadap inner model keseluruhan adalah valid bahwa indikator-indikator mampu menjelaskan masing-masing variabel latennya.
4.3.2 Goodness Of Fit Inner Model
Hasil pengujian Goodness Of Fit yang telah dilakukan terhadap Inner
Model adalah dapat diketahui dari hasil R square yang selanjutnya
digunakan untuk menghitung nilai Q square untuk melihat pengaruh variable laten endogen secara keseluruhan terhadap variable eksogennya, dari hasil perhitungan didapatkan hasil Q square sebesar 0.869 yang dapat disimpulkan bahwa variabel kinerja sistem informasi akuntansi dapat dipengaruhi oleh variable dukungan manajemen puncak, partisipasi
pemakai, kemampuan teknik personal, program pendidikan dan pelatihan sebesar 86,90% dan sisanya sebesar 13,10% dijelaskan oleh variabel lain selain dukungan manajemen puncak, partisipasi pemakai, kemampuan teknik personal, program pendidikan dan pelatihan. Penelitian ini sejalan dengan (Susilatri,2010) bahwa tedapat korelasi positif antara faktor yang mempengaruhi kepuasan pengguna sistem informasi akuntansi terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Ukuran kinerja sistem informasi akuntansi dilihat dari kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi dan pemakaian sistem informasi akuntansi untuk mengolah data-data keuangan menjadi informasi akuntansi.
Hasil pengujian untuk melihat pengaruh masing-masing variabel laten endogen terhadap variabel laten eksogennya yaitu dapat dilihat dari hasil pengujian inner weight yang terlihat dari koefisien regresi dan uji T- statistik. Dukungan Manajemen Puncak mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi pada PT. Bank DKI Cabang Raya Darmo Surabaya, dibuktikan dari hasil koefisien sebesar 0,395 dapat diterima dimana T- statistik diperoleh 4,842 yaitu lebih besar dari 1,96. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh (Setiani, 2010) bahwa dukungan manajemen puncak merupakan faktor yang mempengaruhi kepuasan pengguna sistem informasi akuntansi, artinya semakin tinggi keterlibatan dan partisipasi manajemen puncak maka kepuasan pengguna sistem akuntansi juga akan semakin tinggi. Dalam penelitian tersebut, terdapat pengaruh langsung yang signifikan antara dukungan manajemen
puncak terhadap kepuasan pengguna sistem informasi akuntansi yang artinya tingkat keterlibatan manajemen puncak yang tinggi akan berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan pengguna sistem informasi akuntansi.
Pengujian kedua untuk melihat adanya pengaruh partisipasi pemakai terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, diketahui dari hasil pengujian adalah partisipasi pemakai tidak berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi pada PT. Bank DKI Cabang Raya Darmo Surabaya, hal ini dibuktikan dari hasil koefisien sebesar 0,096 belum dapat diterima dimana T-statistik diperoleh 0,843 yaitu masih kurang dari 1,96. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh (Lailaturrokmah, 2012) bahwa partisipasi pemakai tidak mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi. Tetapi bertentangan dengan (Setiani, 2008) bahwa partisipasi pemakai berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Hal ini berarti partisipasi sebagai perilaku dan tindakan yang dilakukan melalui suatu target yang telah ditentukan sebelumnya atau sesuai dengan kemampuan pengguna selama proses pendesainan sistem. Kenyataan yang ada, partisipasi pemakai memiliki nilai minus dalam perusahaan tersebut. Karyawan yang ada kurang memiliki kemampuan yang sama dalam hal pengoperasian sistem. Terkadang sistem yang baru hanya dimiliki dan dikuasai oleh karyawan yang memiliki waktu lebih lama bekerja di Bank DKI daripada karyawan yang masih baru dan belum lama bekerja. Hal ini membuat adanya
ketidaksetaraan dalam penerapan kebijakan yang ada di perusahaan. Sehingga membuat tidak berpengaruhnya partisipasi pemakai terhadap kinerja sistem informasi akuntansi.
Pengujian ketiga untuk melihat adanya pengaruh kemampuan teknik personal terhadap kinerja sistem informasi akuntansi, diketahui dari hasil pengujian adalah kemampuan teknik personal berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Hal ini dibuktikan dari hasil koefisien sebesar 0,347 dapat diterima dimana T-statistik diperoleh 4,037 yaitu lebih besar dari 1,96. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Almilia,2007) bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan teknik personal sistem informasi dengan kinerja sistem informasi akuntansi baik dari segi kepuasan pemakai atau pemakaian sistem. Hal ini disebabkan karena adanya kemampuan teknik personal sistem informasi yang terbatas akan mengakibatkan pemakaian sistem kurang sehingga pemakai tidak merasa puas dengan sistem yang ada.
Pengujian keempat untuk melihat adanya pengaruh program pendidikan dan pelatihan terhadap kinerja sistem informasi akuntasi, diketahui dari hasil pengujian adalah program pendidikan dan pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Hal ini dibuktikan dari hasil koefisien sebesar 0,243 belum dapat diterima dimana T-statistik diperoleh 1,681 yaitu lebih kecil dari 1,96. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lailaturrokmah,
2012) bahwa program pendidikan dan pelatihan pemakai berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Hal tersebut menyatakan bahwa perusahaan memperkenalkan dan memberikan program pendidikan dan pelatihan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pengguna sistem informasi. Program pendidikan dan pelatihan dikatakan tidak berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi karena tidak setaranya kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan. Contohnya yaitu program pelatihan yang terkadang hanya diikuti oleh karyawan senior yang dirasa cukup dan mampu dalam hal skill daripada karyawan junior. Program pendidikan dan pelatihan pun yang ada tidak sama. Untuk karyawan senior cenderung mengikuti pelatihan di kantor pusat perusahaan, sedangkan karyawan junior masih dalam taraf pelatihan intern. Sehingga menimbulkan diskriminasi antara senioritas dan junior dikalangan karyawan.