• Tidak ada hasil yang ditemukan

Governmental Contract (Kontrak Pemerintah);

Dalam dokumen Filsafat Ilmu Merajut Harmonisasi Antara (Halaman 65-69)

Sejarah Perkembangan Ilmu

3. Governmental Contract (Kontrak Pemerintah);

4.

Pengadaptasian kekuasaan dan keagamaan gereja

Katholik (

http://ihtiroom.staf.uns.ac.id/iles/2009/10/

kontribusi-warisan.ppt).

Para sejarawan berspekulasi tentang penyebab kegagalan orang Romawi di bidang pengembangan ilmu. Ada yang mencoba melihat perbudakan yang menghambat dorongan bagi industri, sebagai penyebabnya (Ravertz, 2004: 15).

4.3 ILMU DALAM PERADABAN ABAD

PERTENGAHAN

Abad Pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan memengaruhi

hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, ilmu yang telah berkembang di masa zaman klasik dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan.

Pada masa ini ilmu pengetahuan dan kesenian dimanfaatkan untuk kepentingan religi. Adanya larangan pengeksposan tubuh

manusia dan hewan membuat kesenian menemukan teknik

abstraksi yang memungkinkan sensasi tercipta tanpa adanya

kehadiran bentuk realis. Pada masa ini pula dibangun sistem

Perang Salib untuk mempertahankan pemerintahan Eropa dari desakan pengaruh pemerintahan Islam dari Timur Tengah.

Seorang ksatria (crusade) harus selalu bersedia membela

keyakinannya setiap kali terjadi pertempuran dalam perang suci. Karena itulah pemerintahan kemudian menjadi di bawah pengaruh keagamaan (http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_

Pertengahan).

Dominasi para teolog pada masa ini mewarnai aktivitas ilmiah pergerakan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari

semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancillla theologia atau abdi agama. Atau dengan kata lain, kegiatan ilmiah

diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Agama Kristen

menjadi problema keilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati (Surajiyo, 2007: 85). Inilah yang dianggap sebagai salah satu penyebab

masa ini disebut dengan abad gelap (dark age). Usaha-usaha menghidupkan kembali keilmuan hanya sesekali dilakukan oleh raja-raja besar seperti Alfred dan Charlemagne (Ravertz, 2004: 16).

Namun di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam justru terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman Pertengahan lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya ilosof Yunani, dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainnya (Muntasyir dan Munir, 2002: 128).

Menurut Nasution (1998: 7, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250 M). Keilmuan ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam Alqur`an dan as-Sunnah. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui ilsafat dan ilmu Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria), dan Bactra (Persia). Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu pengetahuan

dan ilsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan pertama kali ke Syiria, dan kemudian – pada sekitar tahun 900 M– ke Baghdad (Watt, 1997: 44-45).

Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor kemajuan ilmu pengeta- huan berada di pangkuan perdaban Islam. Dalam lapangan ke-

dokteran muncul nama-nama terkenal seperti: Al-Hawi karya al-Razi (850-923) merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya (Lea-

man, 2003: 243-265). Ibnu Sina (980-1037) menulis buku-buku

kedokteran (al-Qanun) yang menjadi standar dalam ilmu kedok-

teran di Eropa. Al-Khawarizmi

(Algorismus atau Alghoarismus)

menyusun buku Aljabar pada ta-

hun 825 M, yang menjadi buku

standar beberapa abad di Eropa. Ia juga menulis perhitungan bi- asa (Arithmetics), yang menjadi pembuka jalan penggunaan cara

desimal di Eropa untuk meng-

gantikan tulisan Romawi. Ibnu Rushd (1126-1198) seorang il-

suf yang menterjemahkan dan mengomentari karya-karya Aris-

toteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenal pada masa itu un-

tuk disampaikan kepada Raja Boger II dari kerajaan Sicilia (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 1996: 42).

Dalam bidang kimia ada

Jabir ibn Hayyan dan al-Biruni (362-442 H/973-1050 M).

Gambar 4.7 Al-Khawarizmi, Penulis buku Aljabar Pada Sebuah Patung di Amir Kabir University, Teheran (Sumber: https://en.wikipedia.org/

wiki/Muhammad_ibn_Musa_al- Khwarizmi)

Sebagian karya Jabir ibn Hayyan memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Biruni mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi (Watt, 1997: 60-61).

Selain disiplin-disiplin ilmu di atas, sebagian umat Islam juga menekuni logika dan ilsafat. Sebut saja al-Kindi (w. 873 M), al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina atau Avicenna (w. 1037 M), al-Ghazali (w. 1111 M), Ibn Bajah atau Avempace (w. 1138 M), Ibn Thufail atau Abubacer (w. 1185 M), dan Ibn Rushd atau Averroes (w. 1198 M). Menurut Felix Klein-Franke, al-Kindi berjasa membuat ilsafat dan ilmu Yunani dapat diakses dan membangun fondasi ilsafat dalam Islam dari sumber-sumber yang jarang dan sulit, yang sebagian di antaranya kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh al-Farabi. Al-Kindi sangat ingin memperkenalkan ilsafat dan sains Yunani kepada sesama pemakai bahasa Arab, seperti yang sering dia tandaskan, dan menentang para teolog ortodoks yang menolak pengetahuan asing (Leaman, 2003: 209-210).

Menurut Russell, Ibn Rushd lebih terkenal dalam ilsafat Kristen daripada ilsafat Islam. Dalam ilsafat Islam dia sudah berakhir, dalam ilsafat Kristen dia baru lahir. Pengaruhnya di Eropa sangat besar, bukan hanya terhadap para skolastik, tetapi juga pada sebagian besar pemikir-pemikir bebas non-profesional, yang menentang keabadian dan disebut Averroists. Di Kalangan ilsuf profesional, para pengagumnya pertama-tama adalah dari kalangan Franciscan dan di Universitas Paris. Rasionalisme Ibn Rushd inilah yang mengilhami orang Barat pada abad

pertengahan dan mulai membangun kembali peradaban mereka

yang sudah terpuruk berabad-abad lamanya yang terwujud dengan lahirnya zaman pencerahan atau renaisans (Russell, 2002: 567).

Gambar 4.8 Ibn Rushd (1126-1198 M)

(Sumber: http://www.iep.utm.edu/ibnrushd/)

Sumbangan sarjana Islam dapat diklasiikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu:

1.

Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan

menyebarluaskan sedemikian rupa, sehingga dapat

Dalam dokumen Filsafat Ilmu Merajut Harmonisasi Antara (Halaman 65-69)