• Tidak ada hasil yang ditemukan

MACAM-MACAM SARANA ILMIAH

Dalam dokumen Filsafat Ilmu Merajut Harmonisasi Antara (Halaman 105-123)

Sarana Ilmiah

7.1 MACAM-MACAM SARANA ILMIAH

UNTUK melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan

sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dengan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seorang ilmuan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.

Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Sarana ilmiah mempunyai fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh (Salam, 2003: 133). Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa: bahasa, logika, matematika, dan statistika.

7.1.1 BAHASA

Tanpa bahasa, manusia tak ada bedanya dengan anjing atau monyet”. Ungkapan novelis Inggris Aldous Huxley tersebut (1894-1963) menyuratkan bahwa bahasa (verbal) teramat signiikan bagi manusia. Bahasa, sebagaimana akal atau pikiran, itulah yang mencirikan manusia dan membedakannya dari

makhluk-makhluk lain.

Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh Ernest

Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Suriasumantri,

bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan

berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa (Suriasumantri, 1995: 171). Oleh karena itu Cassirer menyebut

manusia sebagai animal symbolicum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Secara umum istilah ini mempunyai cakupan yang lebih luas dari istilah homo sapiens, sebab dalam

kegiatan berpikir manusia mempergunakan simbol.

Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tidak ada komunikasi (Bakhtiar, 2010: 176). Tanpa komunikasi apakah manusia dapat bersosialisasi, dan apakah manusia layak disebut dengan makhluk sosial? Sebagai sarana komunikasi maka segala hal yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain (Salam, 2003: 134). Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur.

Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas

cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wittgenstein yang menyatakan: “batas bahasaku adalah batas duniaku.” Melalui pernyataan ini

orang-orang yang berpikir (homo sapiens) akan bertanya dalam diri apa itu bahasa? Apa fungsinya? Bagaimana peran bahasa dalam kegiatan berpikir ilmiah?

Banyak ahli bahasa yang telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa. Sudah barang tentu setiap ahli berbeda-beda cara menyampaikannya. Bernard Bloch dan George L. Trager sebagaimana yang dikutip oleh Bakhtiar mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi (Bakhtiar, 2010: 176). Senada dengan pandangan ini, Joseph Broam mengatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain (Broam, 1995: 2).

Batasan di atas memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Oleh karena itu, perlu dikaji setiap unsur yang terdapat di dalamnya (Bakhtiar, 2010: 177-180):

1. Simbol-simbol. Simbol-simbol berarti “Sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain.” Hubungan antara simbol dan “sesuatu” yang dilambangkannya itu tidak merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat alamiah, seperti yang terdapat antara awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinan terjadinya infeksi. Awan hitam adalah tanda turunnya hujan. Panas suhu badan yang tinggi tanda suatu penyakit. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempunyai efek apapun bagi setiap orang yang tidak mengenal konsensus atau konvensi tersebut. Jika dikatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa ucapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek-objek ataupun

kejadian dalam dunia praktis.

ujaran manusia adalah simbol-simbol vokal, yaitu bunyi- bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari

kerjasama berbagai organ atau alat tubuh dengan sistem

pernapasan. Untuk memenuhi maksudnya, bunyi-bunyi

tersebut haruslah didengar oleh orang lain dan harus diartikulasikan sedemikian rupa untuk memudahkan si

pendengar untuk merasakannya secara jelas dan berbeda dari yang lainnya. Pada dasarnya, ujaran merupakan fenomena akustik. Dengan kata lain, tidak semua bunyi yang dihasilkan

oleh organ-organ vokal manusia merupakan simbol-simbol

atau lambang-lambang bahasa. Bersin, batuk, dengkur, dan lain sebagainya biasanya tidak mengandung nilai simbolis,

semua itu tidak bermakna apa-apa di luar mereka sendiri.

3. Simbol-simbol vokal arbitrer. Istilah arbitrer di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara ilosois antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya. Hal ini akan lebih jelas bagi orang yang mengetahui lebih dari satu bahasa. Apakah seekor hewan dengan ciri-ciri tertentu dinamakan dog (dalam

bahasa Inggris), canis familiaris (dalam bahasa latin), dan orang Indonesia menyebutnya anjing, itu tergantung dari kesepakatan anggota masyarakat bahasa itu masing-masing. Semuanya adalah konvensi sosial yaitu sejenis persetujuan yang tidak diucapkan atau kesepakatan secara diam-diam antara sesama anggota masyarakat yang memberi setiap

kata dengan makna tertentu.

4. Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer. Walaupun hubungan antara bunyi dan arti ternyata bebas dari setiap hati nurani, logika, atau psikologi, namun kerjasama antara bunyi-bunyi itu sendiri, di dalam bahasa tertentu, ditandai oleh sejumlah konsistensi, ketetapan interen. Misalnya saja, setiap bahasa beroperasi dengan sejumlah bunyi dasar yang terbatas (dan ciri-ciri fonetik lainnya seperti tekanan kata dan intonasi). Dalam beberapa

bahasa, bunyi-bunyi tertentu tidak dapat dipakai diawal kata; yang lainnya tidak dapat dipakai atau menduduki posisi di akhir kata. Gabungan bunyi dan urutan bunyi membuktikan betapa pentingnya kriteria kecocokan dan “pola” yang teratur rapi. Pola ini jelas bersifat intuitif yang merupakan sifat tidak sadar. Walaupun telah ditelaah para sarjana, diciptakan dan telah dipergunakan oleh manusia yang biasanya tidak sadar akan adanya suatu “sistem berstruktur” yang mendasari

ujaran mereka.

5. Bahasa yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain. Bagian ini menyatakan hubungan antara bahasa dan masyarakat.

Para ahli sosial menaruh perhatian pada tingkah laku manusia sejauh tingkah laku tersebut mempengaruhi atau

dipengaruhi manusia lainnya. Mereka memandang tingkah laku sosial sebagai tindakan atau aksi yang ditujukan terhadap yang lainnya. Fungsi bahasa memang sangat penting dalam dunia manusia. Dengan bahasa para anggota masyarakat dapat mengadakan interaksi sosial. Telaah mengenai pola-

pola interaksi ini merupakan bagian dari ilmu sosiologi.

Fungsi-fungsi bahasa dikelompokkan jadi ekspresif, konatif, dan representasional. Dengan fungsi ekspresifnya, bahasa terarah pada si pembicara; dalam fungsi konatif, bahasa terarah pada lawan bicara, dan dengan fungsi representasional, bahasa terarah pada objek lain di luar si pembicara dan lawan bicara (Bakhtiar, 2010: 182). Fungsi-fungsi bahasa juga dibedakan jadi simbolik, emotif, dan afektif. Fungsi simbolik dan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi afektif menonjol dalam komunikasi estetik (Suriasumantri, 1995: 175).

Saking pentingnya struktur atau tatabahasa bagi kegiatan ilmiah, Suriasumantri mengajukan pertanyaan retoris:

bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran

yang cermat tanpa mengetahui struktur bahasa yang tepat? (Suriasumantri, 1995: 169). Penguasaan tata bahasa secara pasif

dan aktif memungkinkannya menyusun pernyataan-pernyataan

atau premis-premis dengan baik dan juga menarik kesimpulan dengan benar.

Tata bahasa ialah kumpulan kaidah tentang struktur gramatikal bahasa. Lebih lanjut, Charlton Laird memberikan

tata bahasa sebagai alat dalam mempergunakan aspek logis dan

kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan makna dan emosi dengan memakai aturan-aturan tertentu (Suriasumantri, 1995: 182). Selain struktur atau tata bahasa, yang penting pula dikuasai oleh ilmuwan adalah kosakata dan maknanya. Sebab, yang disampaikan oleh pembicara atau penulis kepada lawan bicaranya atau pembacanya sejatinya ialah makna (informasi, pengetahuan). Dan, makna ini diwadahi di dalam kosakata, yang dalam khazanah

ilmiah dinamakan dengan istilah atau terminologi.

Tata bahasa, kosakata, dan makna inilah yang kerap

menimbulkan persoalan dalam kegiatan ilmiah lantaran

kelemahan inheren bahasa. Maka, sekali lagi, andaikata para ilmuan tidak cukup menguasai tata bahasa, kosakata dan makna,

persoalan-persoalan dalam kegiatan ilmiah bakal kian ruwet.

Dalam komunikasi ilmiah, tentu yang dipakai adalah bahasa ilmiah, lisan maupun tulisan. Bahasa ilmiah berbeda dengan bahasa sastra, bahasa agama, bahasa percakapan sehari- hari, dan ragam bahasa lainnya. Bahasa sastra sarat dengan keindahan atau estetika (Munsyi, 2005: 196). Sementara itu bahasa agama, dari perspektif theo-oriented, merupakan bahasa kitab suci yang deskriptif dan preskriptif. Bahasa agama selain menggunakan gaya deskriptif juga menggunakan bahasa preskriptif, yaitu struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperatif dan persuatif di mana pengarang menghendaki si pembaca mengikuti pesan pengarang sebagaimana terformulasikan dalam teks. Dengan kata lain gaya bahasa ini cenderung “memerintah” (Bakhtiar, 2010: 185). Sedangkan dari perspektif anthropo-oriented, bisa mengarah pada narasi ilsafat atau ilmiah (Hidayat, 1996: 75).

Santoso mengatakan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif (descriptive language), artinya bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran; dan pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya (Suriasumantri, 1999: 227). Beerling-Kwee, Mooij, Van Peursen menambahkan ciri intersubjektif, yaitu ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna yang sama bagi para pemakainya.

7.1.2 LOGIKA

Perkataan logikaberasal dari kata “logos” bahasa Yunani

yang berarti kata atau pikiran yang benar. Maka menurut

bahasa ilmu logika itu berarti ilmu berkata benar atau ilmu berpikir benar. Dalam bahasa Arab dinamakan ilmu manthiq yang berarti ilmu bertutur benar (Bakry, 1981: 18).Dalam Kamus

Filsafat, logika – Inggris – logic, Latin: logica, Yunani: logike

atau logikos (apa yang termasuk ucapan yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi baik, teratur, sistematis, dapat dimengerti) (Bagus, 1996: 519).

Deinisi lain dari logika, sebagaimana Kasmadi (1990 45):, ialah ilmu berpikir tepat yang dapat menunjukkan adanya kekeliruan-kekeliruan di dalam rantai proses berpikir. Dengan

batasan itu, logika pada hakekatnya adalah teknik berpikir. Logika mempunyai tujuan untuk memperjelas isi atau komprehensi

serta keluasan atau akstensi suatu pengertian atau istilah dengan

menggunakan deinisi-deinisi yang tajam. Munculnya logika dalam proses berpikir ialah pada waktu diucapkan “sesuatu” yang lain yang dikaitkan dalam hubungan tertentu atau pada waktu dikemukakan “dua sesuatu” yang dikaitkan dengan penilaian

tertentu dan dari kaitan itu ditarik kesimpulan.

Fungsi logika adalah:

1. Membedakan ilmu yang satu dari yang lain apabila objeknya

2. Menjadi dasar ilmu pada umumnya dan falsafah pada khususnya (Kasmadi dkk, 1990: 45).

Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan prinsip-

prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar dengan penalaran yang salah. Menurut Bakhtiar. Logika adalah sarana untuk berpikir sistematis. valid, dan dapat dipertanggungjawabkan (Bakhtiar, 2010: 212).

Logika adalah cabang ilsafat tentang berpikir. Logika membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar. Dengan mengetahui cara atau aturan-aturan tersebut

dapat menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengambil

keputusan (Sunoto, 1982: 2). Menurut Kattsof (1986: 71), logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan

dari suatu perangkat bahan tertentu dan kadang-kadang logika

dideinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan

kesimpulan.

Logika sama tuanya dengan umur manusia, sebab sejak manusia itu ada manusia sudah berpikir, manusia berpikir sebenarnya logika itu telah ada. “Hanya saja logika itu dinamakan “logika naturalis”, sebab berdasarkan kodrat dan itrah manusia saja. Manusia walaupun belum mempelajari hukum-hukum akal dan kaidah-kaidah ilmiah, namun praktis sudah dapat berpikir

dengan teratur. Akan tetapi bila manusia memikirkan persoalan-

persoalan yang lebih sulit maka seringlah dia tersesat. Misalnya, ada dua berita yang bertentangan mutlak, sedang kedua-duanya menganggap dirinya benar. Dapatlah kedua-duanya dibenarkan semua? Untuk menolong manusia jangan tersesat dirumuskan pengetahuan logika. Logika rumusan inilah yang digunakan “logika artiisialis” (Bakry, 1981: 20-21).

Logika artiicialis, dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Logika formal mempelajari asas-asas, aturan-aturan atau

hukum-hukum berpikir yang harus ditaati, agar orang dapat

2. Logika material mempelajari langsung pekerjaan akal, serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan-kenyataan praktis yang sesungguhnya. Logika formal sesuai dengan isi (materi) kenyataan yang

sesungguhnya. Logika material mempelajari sumber-

sumber dan aslinya pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan dan akhirnya merumuskan

metode ilmu pengetahuan itu.

Logika formaldinamakan logika minor, sedangkan logika material dinamakan logika mayor.

Logika bukan ilmu yang baru muncul, perumusan kaidah- kaidah logika untuk berpikir benar dipelopori Aristoteles yang hidup pada tahun 348-322 SM, dengan bukunya Organon yang berarti instrumen (alat), alat untuk berpikir benar. Aristoteles dianggap sebagai pelopor pembukuan pengetahuan logika. Tidak berarti belum Aristoteles belum ada kaidah-kaidah berpikir yang benar (logika). Sebenarnya di negara-negara Timur Kuno (Mesir, Babilon, India, dan Tiongkok), diakui telah terdapat semacam kaidah-kaidah berpikir yang dianggap benar, hanya saja belum teratur sistematikanya seperti rumusan logika Aristoteles (Bakry, 1981: 20-21).

Memang diakui sejak manusia ada sampai sekarang selalu menggunakan akal pikirannya dalam melakukan setiap kegiatan,

baik kegiatan berpikir alamiah (naturalis) maupun kegiatan

berpikir yang sifat kompleks. Tetapi dalam melakukan kegiatan berpikir yang benar diperlukan kaidah-kaidah tertentu yaitu berpikir yang tepat, akurat, rasional, objektif dan kritis atau proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Proses berpikir semacam ini adalah cara berpikir atau penalaran yang terdapat

dalam kaidah-kaidah logika.

Agar pengetahuan yang dihasilkan dari proses berpikir mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir dilakukan dengan cara tertentu. Cara berpikir logic dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Logika induktif yaitu cara berpikir di mana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Untuk itu, penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

2. Logika deduktif yaitu cara berpikir di mana pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya

mempergunakan pola berpikir silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis

yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayordan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktifberdasarkan kedua premis

tersebut (Suriasumantri, 1988: 48-49). Silogismus adalah

suatu argumentasi yang terdiri dari tiga buah proposisi atau pernyataan yang membenarkan atau menolak suatu perkara. Dua buah proposisi yang pertama disebut premis mayor dan premis minor, sedangkan proposisi yang ketiga disebut

simpulan atau konklusi. Konklusi merupakan konsekuensi

dari kedua premis yang terdahulu (Kasmadi dkk, 1990: 27). Contoh karakteristik berpikir silogismus:

1. Semua makhluk hidup mesti akan mati (premis mayor) 2. Si Pulan adalah makhluk hidup (premis minor)

3. Si Pulan mesti mati (simpulan – konklusi)

Simpulannya, si Pulan mesti mati. Simpulan tersebut adalah sah menurut penalaran deduktif, sebab simpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Sedangkan pertanyaan apakah simpulan ini benar, maka hal ini harus dikembalikan kebenarannya pada premis yang mendahuluinya. Apabila kedua premis yang mendukungnya benar, maka dapat dipastikan bahwa simpulan tersebut benar. Tetapi dapat saja

simpulan tersebut salah, walaupun kedua premisnya benar, sebab cara penarikan simpulannya salah. Ketepatan penarikan simpulan tersebut tergantung pada tiga hal yaitu:

1. Kebenaran premis mayor 2. Kebenaran premis minor

3. Keabsahan pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, apabila salah satu dari ketiga unsur di atas tidak memenuhi persaratan, maka kesimpulan yang diambil

atau diputuskan akan salah.

Dalam berpikir induktif, kesimpulan yang diharapkan berlaku umum untuk suatu kasus, jenis, dan peristiwa, atau yang diharapkan adalah agar kasus-kasus yang bersifat khusus dapat dimasukkan ke dalam wilayah umum, yang menjadi kesimpulan. Misalnya:

1. P – penduduk desa A = adalah pegawai 2. Q – penduduk desa A = adalah pegawai 3. R – penduduk desa A = adalah pegawai 4. S – penduduk desa A = adalah pegawai 5. Y – penduduk desa A = adalah pegawai 6. Z – penduduk desa A = adalah pegawai.

7. Semua penduduk (P sampai Z) yang mendiami desa A

adalah pegawai (simpulan).

Dalam Islam, mempelajari ilmu logika atau mantiq, sesuatu hal yang penting. Salah satu contohnya kitab-kitab klasik tentang ilmu kalam, yang membutuhkan pendekatan logika atau mantiq dalam memahaminya.

Fungsi ilmu logika dalam Islam di antaranya:

1. Melatih, mendidik, dan mengembangkan potensi akal dalam

mengkaji objek pikir dengan menggunakan metodologi

berikir yang tepat dan tidak menyimpang.

2. Menempatkan persoalan dan menunaikan tugas pada situasi dan kondisi yang tepat.

3. Membedakan proses dan kesimpulan berikir yang berani (hak) dari yang salah.

7.1.3 MATEMATIKA

Pada abad ke-20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini sangat sederhana hanya untuk menghitung satu, dua, tiga, dan seterusnya, maupun yang sangat rumit. Demikian pula ilmu-ilmu pengetahuan, semuanya sudah mempergunakan matematika,

baik matematika sebagai pengembangan aljabar maupun

statistik. Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan (Bakhtiar, 2010: 186).

Dapat dikatakan bahwa peradaban Yunani yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai langkah dan deinisi tertentu. Euclid pada 300 SM mengumpulkan semua pengetahuan geometri dalam bukunya Elements dengan penyajian secara sistematis dari berbagai postulat, deinisi dan teorem. Kaum cendekiawan Yunani, terutama mereka yang kaya, mempunyai budak yang mengerjakan pekerjaan kasar, termasuk hal-hal yang praktis, seperti melakukan pengukuran (Salam, 2003: 154).

Orang-orang Yunani sangat memperhatikan geometri sebagaimana tercermin dalam bukunya Euclid tersebut. Babak perkembangan matematika selanjutnya terjadi di Timur. Bangsa Arab, India, dan Cina mengembangkan aritmatika dan aljabar. Mereka mendapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal

serta mengembangkan kegunaan praktis dari aritmatika dan

aljabar tersebut. Saat perdagangan antara timur dan barat berkembang pada abad pertengahan, aritmatika dan aljabar telah dipergunakan dalam transaksi pertukaran. Gagasan-

gagasan kaum Yunani dan penemuan aritmatika dan aljabar itu

dikaji kembali pada zaman renaissance yang meletakkan dasar bagi kemajuan matematika moderen selanjutnya (Salam, 2003: 154).

bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat. Matematika bukan saja menyampaikan informasi secara jelas dan tepat, melainkan juga singkat. Suatu rumus yang jika ditulis dengan bahasa verbal memerlukan kalimat yang banyak sekali, padahal makin banyak kata-kata yang dipergunakan makin besar pula peluang untuk terjadinya misinformasi dan misinterpretasi, yang dalam bahasa matematika cukup ditulis dengan model yang sederhana sekali. Matematika sebagai bahasa mempunyai ciri sebagaimana dikatakan Salam, bersifat ekonomis dengan kata-kata (Salam, 2003: 154).

Lambang-lambang dari matematika yang dibuat merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang sedang kita kaji. Sebuah objek yang kita telaah dapat kita

lambangkan dengan apa saja sesuai dengan perjanjian kita.

Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dalam bahasa verbal, bila kita membandingkan dua obyek yang berlainan, umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan gajah lebih besar

dari semut. Kalau kita ingin menelusuri lebih lanjut seberapa besar gajah dibandingkan dengan semut maka kita mengalami kesukaran dalam mengemukakan hubungan itu. Kemudian jika

sekiranya kita ingin mengetahui secara eksak berapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut, dengan bahasa verbal kita tidak dapat mengatakan apa-apa (Bakhtiar, 2010: 190).

Bahasa verbal hanya mampu mengatakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif.

Kita bisa mengetahui bahwa logam mulia kalau dipanaskan akan

memanjang. Namun pengertian kita hanya sampai di situ. Kita

tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa besar pertambahan

panjangnya. Penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh bahasa verbal tidak bersifat eksak sehingga menyebabkan

daya prediktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat. Untuk mengatasi masalah ini, kita mengembangkan konsep pengukuran. Lewat pengukuran kita dapat mengetahui dengan tepat berapa panjang sebatang logam, dan berapa pertambahan panjangnya kalau logam itu dipanaskan. Dengan mengetahui hal ini, maka pernyataan ilmiah yang merupakan pernyataan kualitatif “sebatang logam kalau dipanaskan akan memanjang”, dapat diganti dengan pernyataan matematika yang lebih eksak (Bakhtiar, 2010: 190).

Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan kontrol yang lebih tepat dan

Dalam dokumen Filsafat Ilmu Merajut Harmonisasi Antara (Halaman 105-123)