• Tidak ada hasil yang ditemukan

GURU PENDIDIKAN AGAMA DALAM REALITAS

BAGIAN EMPAT

GURU PENDIDIKAN AGAMA DALAM REALITAS

Pada Februari 2012 yang lalu, Kemendikbud telah melakukan Uji Awal Kompetensi (UKA) Guru di seluruh Indonesia untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. UKA tersebut mengikutsertakan sebanyak 281.016 Guru. Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidik Kemendikbut mengemukakan bahwa rata-rata hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) adalah

didik dalam mengamalkan ajaran agama, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Hal ini antara lain tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan,Pasal 1 Ayat 1.

Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. Pendidikan agama mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat di antara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain.

Pendidikan agama diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi hidup. Guru agama mestinya mampu menanamkan peserta didik untuk mengamalkan ajaran agamanya berdasarkan iman dan takwa, berkakhlak mulia, mampu mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat antar pemeluk agama.

GURU PENDIDIKAN AGAMA DALAM REALITAS

Pada Februari 2012 yang lalu, Kemendikbud telah melakukan Uji Awal Kompetensi (UKA) Guru di seluruh Indonesia untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. UKA tersebut mengikutsertakan sebanyak 281.016 Guru. Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidik Kemendikbut mengemukakan bahwa rata-rata hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) adalah

42,50 dari nilai tertinggi 100. 38 Hal itu tergolong nilai yang cukup rendah, dari nilai minimal sebesar 65. Ini berarti bahwa secara umum kompetensi guru untuk semua jenjang pendidikan memang belum berada pada penguasaan kompetensi yang ideal.

Terkait dengan kesejahteraan guru, masih terdapat kesenjangan antara guru di satu wilayah dengan wilayah lainnya. Menurut Raihan Iskandar, Anggota Komisi X DPR RI, masih ada guru yang hanya menerima gaji Rp. 100.000,- setiap bulan. Namun juga terdapat guru yang mendapat gaji dari Pemerintah Daerah minimal Rp. 1,5 juta, ditambah tunjangan-tunjangan lainnya. Ada guru yang kapasitas moralnya masih tidak memberikan teladan yang baik kepada peserta didik. Namun masih banyak juga guru yang berhasil menunjukkan dedikasinya. 39

Terkait dengan sertifikasi, maka hasil penelitian Bank Dunia menunjukkan bahwa sertifikasi portofolio berdampak positif hanya pada perbaikan ekonomi guru dan peningkatan minat menjadi guru. Adapun kinerja guru dan prestasi belajar murid, tak ada efek perbaikan signifikan.40

Terkait dengan Pendidikan Agama di Sekolah, sampai saat ini masih dijumpai sejumlah kritik tentang pelaksanaan Pendidikan Agama di sekolah, termasuk aspek gurunya. Masih terdapat sejumlah kritik terhadap pembelajaran Pendidikan Agama itu sendiri. Berbagai kelompok masyarakat menyoroti atau mengkritik implementasi

38 Https://nasional.tempo.co/read/421057/hasil-uji-kompetensi-guru-masih-di-bawah-harapan/full&view=ok, diakses tanggal 30 Desember 2012.

39 Https://www.rmol.co/read/2012/11/24/86755/Miris,-Masih-Ada-Guru-Terima-Gaji-Rp-100.000-Per-Bulan-, diakses tanggal 2 Januari 2013.

Pendidikan Agama di sekolah dan implikasinya pada kehidupan sosial di sekitarnya. Pendidikan Agama di sekolah-sekolah kita masih belum maksimal, dalam mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya. Sejumlah contoh kritik tersebut telah disajikan pada bagian terdahulu.

Walaupun banyak kritik terhadap Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2011 memperlihatkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama di Sekolah cukup baik. Tingkat ketertarikan atau ke-suka-an siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama pada Sekolah masih tinggi. Sebanyak 61,9 % menyatakan suka dan 30, 9 % sangat suka. Ini berarti terdapat 92,8 % siswa yang suka dan sangat suka pada mata pelajaran tersebut. Alasan suka terhadapnya adalah sebanyak 62,7 % karena agama sangat penting bagi kehidupan, sebanyak 28, 1 % karena agama wajib dipelajari, serta sebanyak 4,8 % cara mengajarkan guru yang menyenangkan dan faktor lainnya sebanyak 4,4 %.41

Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya kesadaran siswa akan pentingnya pendidikan agama di sekolah. Kesadaran akan pentingnya pelajaran agama ini merupakan modal untuk menjadikan pelajaran agama menjadi wahana dalam membentengi siswa dari pengaruh-pengaruh yang negatif. Ini juga berarti bahwa pendidikan agama adalah materi yang harus dipelajari. Karena itu pelajaran pendidikan agama menjadi sesuatu yang tak

41 Qowaid. 2013. “Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pendidikan Agama Di Sekolah.” Edukasi, Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Kegamaan. Volume 10, Nomor 3, Januari – April 2013, h. 25-26.

Pendidikan Agama di sekolah dan implikasinya pada kehidupan sosial di sekitarnya. Pendidikan Agama di sekolah-sekolah kita masih belum maksimal, dalam mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya. Sejumlah contoh kritik tersebut telah disajikan pada bagian terdahulu.

Walaupun banyak kritik terhadap Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan tahun 2011 memperlihatkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama di Sekolah cukup baik. Tingkat ketertarikan atau ke-suka-an siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama pada Sekolah masih tinggi. Sebanyak 61,9 % menyatakan suka dan 30, 9 % sangat suka. Ini berarti terdapat 92,8 % siswa yang suka dan sangat suka pada mata pelajaran tersebut. Alasan suka terhadapnya adalah sebanyak 62,7 % karena agama sangat penting bagi kehidupan, sebanyak 28, 1 % karena agama wajib dipelajari, serta sebanyak 4,8 % cara mengajarkan guru yang menyenangkan dan faktor lainnya sebanyak 4,4 %.41

Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya kesadaran siswa akan pentingnya pendidikan agama di sekolah. Kesadaran akan pentingnya pelajaran agama ini merupakan modal untuk menjadikan pelajaran agama menjadi wahana dalam membentengi siswa dari pengaruh-pengaruh yang negatif. Ini juga berarti bahwa pendidikan agama adalah materi yang harus dipelajari. Karena itu pelajaran pendidikan agama menjadi sesuatu yang tak

41 Qowaid. 2013. “Tanggapan Peserta Didik Terhadap Pendidikan Agama Di Sekolah.” Edukasi, Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Kegamaan. Volume 10, Nomor 3, Januari – April 2013, h. 25-26.

terpisahkan dalam diri peserta didik dan karenanya menjadi menarik untuk dipelajari.

Namun data tersebut juga memperlihatkan adanya sebagian kecil siswa (responden), yakni hanya 4,8%, yang menjawab suka pada pendidikan agama di sekolah karena faktor cara mengajar yang dianggapnya menyenangkan. Artinya cara mengajar guru pendidikan agama kurang disukai atau disenangi oleh siswa.

Kondisi demikian tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian tentang kompetensi guru pendidikan agama Islam di berbagai daerah yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Penelitian tentang profil kompetensi guru pendidikan agama Islam pada pada SMA di berbagai daerah menunjukkan bahwa pengetahuan proses belajar mengajar, pengetahuan evaluasi dan pengukuran, dalam kategori kurang. Dalam pengelolaan proses belajar mengajar termasuk di dalamnya ditanyakan mengenai metode pembelajaran. Sementara itu, penguasaan materi pelajaran, memperlihatkan bahwa hasilnya tergolong baik.42

Hal yang demikian dapat berimplikasi pada kurang maksimalnya dalam memberikan pembelajaran. Selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan GPAI dalam membentuk anak didik sesuai prinsip dan tujuan pembelajaran Agama Islam pada sekolah.

Puslitbang Penddikan Agama dan Keagamaan telah melakukan penelitian tentang Keberagamaan Siswa Sekolah

42 Qowaid. 2004. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam pada SLTP. Jakarta: Proyek Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan. h. 60-61.

Menengah Umum. Di antara hasilnya adalah terdapat hubungan posistif antara pengetahuan Pendidikan Agama Islam dengan pelaksanaan ritual keagamaan siswa. Begitu pula halnya antara pengetahuan PAI dengan hubungan sosial keagamaan siswa. Namun hubungan tersebut ada yang signifikan dan ada yang tidak signifikan. Terdapat variabel intervening yang berhubungan dengan berbagai variabel tersebut, yakni variabel lingkungan keluarga. Keluarga sangat berperan dalam mewarnai tingkat keberagamaan siswa.43