• Tidak ada hasil yang ditemukan

H IPOTESIS P ENELITIAN

Dalam dokumen Jihan Amanda Putri (Halaman 48-0)

BAB III KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.2. H IPOTESIS P ENELITIAN

3.2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana kebenarannya masih perlu untuk diuji. Penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :

3.2.1 Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli (Adiwarman, 2008).

Pembiayaan dengan prinsip jual beli pada bank syariah dilakukan salah satunya melalui akad murabahah. Salah satu akad dari pembiayaan jual beli yaitu akad murabahah merupakan produk yang paling populer dalam industri perbankan syariah (Muhammad, 2005). Bedasarkan penelitian (Arfan, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.

Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan murabahah yang merupakan salah satu jenis pembiayaan jual beli, maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H1: Pembiayaan Murabahah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.2 Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan.

Bedasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.

Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan mudharabah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H2: Pembiayaan Mudharabah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.3 Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

(Karim, 2004) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah merupakan semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama-sama sesuai dengan proporsi yang telah

34

ditetapkan sebelumnya. Melalu pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.

Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah.

Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan musyarakah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H3: Pembiayaan Musyarakah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.4 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana-dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.

Bedasarkan penelitian (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.

Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Imam, 2017) menyatakan bahwa capital adequacy ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap return on asset.

Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H4: Capital Adequacy Ratio (CAR) Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.5 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia

Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan murabahah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H5: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah

3.2.6 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan mudharabah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non

36

performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H6: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.7 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap pembiayaan musyarakah akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H7: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

3.2.8 Pengaruh Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Capital Adequacy Ratio Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia Secara umum, semakin meningkatnya rasio dari NPF maka pengaruhnya terhadap Capital Adequacy Ratio (CAR) akan semakin menurun. Non performing financing dengan non performing loan merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil rasio ini, maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Dengan demikian apabila suatu bank syariah mempunyai non performing financing yang tinggi, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya, sekaligus memberikan indikasi bahwa tingkat resiko atas pemberian kredit pada bank tersebut cukup tinggi searah dengan tingginya non performing loan yang dihadapi bank (Riyadi, 2006). Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H8: Hubungan Ratio Non Performing Financing Memoderasi Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis dan Sumber Data 4.1.1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari empat variabel yaitu, pembiayaan murabahah, mudharabah, musyarakah, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel bebas (independen) dan profitabilitas sebagai variabel terikat (dependen). Serta variabel Ratio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel moderating.

4.1.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi dan diambil langsung dari Bank Indonesia. Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah time series dan cros section atau sering disebut dengan data panel.

Data panel merupakan sekelompok data individual yang diteliti selama rentang waktu tertentu sehingga data panel memberikan informasi observasi setiap individu dalam sampel. Keuntungan menggunakan panel data yaitu dapat meningkatkan jumlah sampel populasi dan mempebesar degree of freedom, serta pengabungan informasi yang berkaitan dengan variabel cross section dan time series.

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap Bank Umum Syariah Indonesia yang terdaftar di Bank Indonesia periode 2008-2017 diperoleh dari media internet dengan cara mendownload melalui situs bank masing masing untuk memperoleh data mengenai laporan keuangan yang telah dipublikasikan.

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus (Tjiptono, 2002). Populasi yang menjadi objek dalam penelitian ini meliputi seluruh bank umum syariah yang ada di Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan mengenai perbankan syariah yang diambil dari laporan keuangan masing-masing bank periode 2008-2017.

Penentuan sampel dilakukan Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasinya relatif kecil, kurang dari 30. Sampel jenuh disebut juga dengan istilah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Instrumen penelitiannya adalah pedoman dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik (uji normalitas, heterokedastisitas, multikoliniearitas, autokorelasi) serta uji signifikansi (uji t, uji F, koefisien determinasi).

40

Tabel 4.1 Populasi dan Sampel Penelitian No. Nama Bank Syariah

1 PT. Bank Aceh

2 PT. Bank Muamalat Indonesia 3 PT. Bank Victoria Syariah 4 PT. Bank BRI Syariah

5 PT. Bank Jabar Banten Syariah 6 PT. Bank BNI Syariah

7 PT. Bank Syariah Mandiri 8 PT. Bank Mega Syariah 9 PT. Bank Panin Syariah 10 PT. Bank Syariah Bukopin 11 PT. BCA Syariah

12 PT. Maybank Syariah Indonesia

13 PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Sumber : Statistik Perbankan Syariah OJK

4.3. Batasan Penelitian

Penelitian ini memiliki batasan yaitu:

1. Penelitian dilakukan dari tahun 2008 sampai 2017.

2. Penelitian ini menggunakan empat variabel independen yaitu pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, serta capital adequacy ratio dan satu variabel dependen yaitu profitabilitas, serta non performing financing sebagai variabel moderating.

3. Penelitian ini meneliti Bank Umum Syariah di Indonesia.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan cara studi dokumenter. Dimana dokumentasi yang di dapat melalui media internet dengan cara mendownload dari situs Bank masing masing.

Untuk memperoleh laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang digunakan dalam penelitian. Selain itu juga menggunakan studi dokumenter dari laporan tahunan Bank Umum Syariah yang terdiri dari yaitu PT Bank Aceh Syariah, PT Bank Muamalat Syariah, PT Bank Syariah BRI, PT Bank Jabar Banten Syariah, PT Bank Bni Syariah, PT Bank Mega Syariah, PT Bank Panin Dubai Syariah, PT Bank Syariah Bukopin, PT Bank Bca Syariah, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Maybank Syariah Indonesia, PT. Bank Tabungan Pensiunan, PT. Bank Victoria Syariah, selama periode 2008 sampai dengan tahun 2017 melalui situs bank masing masing.

4.5. Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, berupa kuantitatif maupun kualitatif yang nilainya dapat berubah-ubah.

Dalam penelitian ini terdapat empat variabel yaitu, variabel independen yaitu Pembiayaan Murabahah , Pembiayaan Mudharabah , Pembiayaan Musyarakah, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel (X), dan variabel profitabilitas

42

sebagai variabel (Y), serta Rasio Non Performing Financing (NPF) sebagai variabel (Z).

4.5.1. Variabel Independen (X)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2008).

Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pembiayaan Murabahah

Murabahah adalah transaksi jual beli dimana bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah bertindak sebagai pembeli.

Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin). Dalam perbankan murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan. Pembiayaan murabahah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan murabahah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan murabahah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan murabahah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan murabahah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, penggunaan logaritma natural juga dimaksudkan agar data total pembiayaan murabahah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

2. Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan. Bentuk ini menegaskan paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-mal dan keahlian dari mudharib.

Pembiayaan mudharabah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan mudharabah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan mudharabah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan mudharabah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan mudharabah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, dimaksudkan agar data total pembiayaan mudharabah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

3. Pembiayaan Musyarakah

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Pembiayaan musyarakah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total pembiayaan musyarakah yang disalurkan bank syariah. Total pembiayaan musyarakah diukur dengan logaritma natural dari nilai pembiayaan musyarakah pada akhir tiap tahun. Penggunaan logaritma natural bertujuan

44

agar hasilnya tidak menimbulkan bias, mengingat besarnya nilai pembiayaan musyarakah antar bank syariah yang berbeda-beda. Selain itu, dimaksudkan agar data total pembiayaan musyarakah dapat terdistribusi normal dan memiliki standar eror koefisien regresi minimal (Harjanti, 2007).

4. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Menurut (Suhardjono, 2002) mengemukakan bahwa CAR adalah rasio kecukupan modal yang harus disediakan untuk menjamin dana deposan.

Tujuannya adalah agar likuiditas/kemampuan bank membayar kepada deposan cukup terjamin. Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung resiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko.

4.5.2. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2008). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA). ROA dipilih karena merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan total aset

yang dimilikinya. Perhitungan ROA berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010, diperoleh dengan rumus:

4.5.3. Variabel Moderating (Z)

Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain (Situmorang, 2012). Variabel moderating dalam penelitian ini adalah Non Performing Financing adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang ada dapat dipenuhi dengan aktiva produktif yang dimiliki oleh suatu bank (Mulyono, 1995).

Non Performing Financing (NPF) adalah tingkat pengembalian pembiayaan yang diberikan deposan kepada bank dengan kata lain NPF merupakan tingkat pembiayaan macet pada bank tersebut. NPF diketahui dengan cara menghitung Pembiayaan Non Lancar Terhadap Total Pembiayaan. Apabila semakin rendah NPL maka bank tersebut akan semakin mengalami keuntungan, sebaliknya bila tingkat NPL tinggi bank tersebut akan mengalami kerugian yang diakibatkan tingkat pengembalian kredit macet. Kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklasifikasi Kurang Lancar, Diragukan dan Macet. (Hasbi &

Haruman, 2011) menuliskan rasio NPF ini dalam rumus sebagai berikut:

46

Tabel 4.2 Tabel Pengukuran Operasional Variabel-Variabel Penelitian

No Variabel Definisi Indikator Pengukuran

Variabel

Skala Pengukuran 1 Pembiayaan

Murabahah

Menurut (Nurhayati, 2013) Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Jumlah Pembiayaan Murabahah = Harga jual - Margin Keuntungan

(Karim,2004;88)

Rasio

2 Pembiayaan Mudharabah

Menurut PSAK 105 mudharabah didefinisikan sebagai akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (pemilik dana/ shahibul maal) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana/ mudharib) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian financial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

Jumlah Pembiayaan Mudharabah = Nisbah Bagi Hasil – Laba Bersih

(Karim,2004;204-205) Rasio

3 Pembiayaan Musyarakah

Menurut (Nurhayati, 2013) Musyarakah merupakan akad kerja sama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka dengan tujuan mencari keuntungan.

JumlahPembiayaan Musyarakah = Nisbah Bagi Hasil – Laba Bersih

(Karim,2004;206) modal yang harus disediakan

untuk menjamin dana deposan.

x 100% Rasio

5 Profitabilitas Profitabilitas bank merupakan suatu kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Profirabilitas dalam penelitian ini diukur menggunakan rasio ROA.

Rasio perbandingan antara pembiayaan bermasalah yang terdiri dari pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet dengan total pembiayaan yang disalurkan.

x

100%

Rasio

4.6. Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif, analisis regresi berganda dan uji interaksi untuk variabel moderating. Analisi regresi berganda adalah teknik analisis yang menjelaskan hubungan antara variabel dependen dengan beberapa variabel independen. Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan program Eviews.

Eviews dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berbentuk time-series, cross section, maupun data panel. Peneliti memilih menggunakan program Eviews karena Eviews mampu mengakomodir ketiga kebutuhan tersebut, analisis yang dilakukan oleh program Eviews tidak hanya berupa masalah statistik biasa, namum Eviews juga mampu menyelesaikan kasus-kasus ekonometrik yang cukup komplek.

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi mengenai suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi (standar deviation), maksimum dan minimum (Ghozali, 2013). Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan variabel variabel dalam penelitian ini, yaitu pembiayaan murabahah, mudharabah, musharakah, CAR, Profitabilitas dan NPF.

4.6.1. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik diperlukan sebelum melakukan pengujian regresi berganda. Uji asumsi klasik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji normalitas.

1. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi sudah mengikuti atau mendekati distribusi normal. Model regresi yang baik

48

adalah regresi yang memiliki data yang berdistribusi normal. Menurut (Winarno, 2009) terdapat cara untuk menguji normalitas dalam Eviews yaitu dengan menggunakan Uji Jarque Bera. Jika nilai Jarque-Bera < 2 maka data sudah terdistribusi normal.

2. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Jika terjadi multikolinearitas antar variabel maka variabel tidak orthogonal yaitu nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Jika korelasi antara dua variabel independen melebihi 0,90 maka dapat menjadi pertanda bahwa multikolinearitas merupakan masalah yang serius (Ghozali, 2013).

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2013). Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Dengan menggunakan software Eviews 7 ada beberapa cara uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas antara lain: Glejser, White, Breusch-PaganGodfrey, Harvey, dan Park. Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk

menggunakan Breusch-Pagan-Godfrey. Dimana jika nilai probabilitas > nilai signifikan 5% maka tidak ada masalah heteroskedastisitas atau model regresi bersifat homoskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Autokorelasi sering terjadi pada sampel data time series. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2013).

Uji Autokorelasi dapat dilakukan dengan Uji Durbin Watson (DW Test). Nilai statistik dari Uji Durbin Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3

Uji Autokorelasi dapat dilakukan dengan Uji Durbin Watson (DW Test). Nilai statistik dari Uji Durbin Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3

Dalam dokumen Jihan Amanda Putri (Halaman 48-0)

Dokumen terkait