Perlu disesuaikan dengan kondisi ekonomi, pemerintah seharusnya ikut campur dalam penentuan import bahan baku obat. Dengan berkurangnya import bahan baku obat akan secara otomatis mengurangi harga obat, sehingga pemerintah tidak perlu lagi memberikan subsidi terlalu banyak untuk obat khususnya obat generik, sehingga terjangkau oleh masyarakat. Dengan diproduksinya bahan bahan baku obat di Indonesia, akan membuka peluang kerja yang menyerap tenaga kerja dalam negeri. Kebijakan pemerintah hendaknya memperhatikan dua kepentingan yaitu pelaku produsen, disamping juga kepentingan masyarakat.
Menurut GP Farmasi Indonesia, 2014, harga obat generik tidak realistik dan terlalu rendah. Kemungkinan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan yaitu menurunnya ketersediaan obat generik di pasar dan akan menghilang dari pasar, penurunan mutu obat & mutu pelayanan farmasi. Sedangkan dampak jangka panjang yaitu terhadap industri obat generik dalam negeri. Dengan kondisi tersebut perlu dipertimbangkan kembali kebijakan pengendalian harga obat
HARGA OBAT
NAMA OBAT
HABIS MASA
PATEN
MASIH MASA
PATEN
OBAT INOVASIOBAT INOVASI Nama paten Tinggi
OBAT GENERIK
Nama dagang Variasi sangat lebar Generik Rendah
Konteks Kebijakan terkait
UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Peraturan presiden RI, No. 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
Sistem Kesehatan nasional (SKN) 2012, Subsistem obat, alkes dan makanan merupakan kegiatan untuk menjamin aspek keamanan, khasiat/kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 328/SK/VII tahun 2013 tentang Formularium Nasional
Keputusan Menkes, No. 328/Menkes/SK/VII/2013 tentang katalog elektronik atau e catalog
UU Kesehatan No 36 tahun 2009
Rekomendsi Kebijakan
Kebijakan pemerintah terkait harga obat JKN perlu disusun lebih komprehensif dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan kepentingan industri farmasi.Perlu dipertimbangkan kembali kebijakan pengendalian harga obatuntuk menjamin ketersediaan obat baik jumlah dan jenisnya, di era JKN, khususnya obat generik sehingga mudah diakses oleh masyarakat. Pemerintah harus terus mendorong pemberlakuan managed care secara nasional.
Pemerintah perlu mendorong kemandirian obat generik yang belum sepenuhnya terpenuhi, dengan pengembangan produksi bahan baku obat dalam negeri untuk mendukung JKN, yang saat ini sebagian besar masih impor dan harga bahan baku import yang terus naik.
Daftar Pustaka
1. Undang Undang RI No. 40 tahun 2004 tentang Sistem jaminan sosial Nasional 2. Peraturan Presiden RI No. 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan
3. Kementerian Kesehatan, 2012, Sistem Kesehatan Nasional
4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 328/SK/VIII tahun 2013, tentang Formularium Nasional Obat Generik
5. Keputusan Menkes No. 328/Menkes/SK/VII/2013 tentang Katalog elektronik atau e catalog
6. Direktur Pemasaran Indofarma, Penetapan Harga Obat Generik, dan Kesulitan Produksi
8. Rencana Induk Nasional (RIPIN) industri Nasional
9. Andari, D, 1998, Penggunaan Obat Generik di Apoteek Wilayah Kodya Yogakarta pada masa Krisis Moneter
10. Sulistami, 1994, Implementasi Kebijakan Obat Generik, Program Pasca sarjana, UGM
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jl. Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Raharni, Sudibyo Supardi, Ida Diana Sari [email protected]
Memenuhi Standar Pelayanan Kefarmasian dalam Keterbatasan SDM : Haruskah Kita Mundur?
Max J. Herman, Yuyun Yuniar, Sudibyo Supardi, Nita Prihartini
Puslitbang Sumber daya dan Pelayanan Kesehatan Badan Litbangkes Kemkes RI Ringkasan Eksekutif
Pelayanan kefarmasian diatur dalam PP nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian yang antara lain menyatakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien, diperlukan standar pelayanan kefarmasian sebagai acuan dalam pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, puskesmas, dan apotek telah dibuat dalam bentuk Permenkes RI. Implementasi standar pelayanan kefarmasian dalam hal pengelolaan sediaan farmasi di RS berkisar 83,70-100,0%, di PKM berkisar 78,8-98,5% serta di apotik berkisar 90,5-100% dan yang kurang pada ketiganya terutama dalam hal monitoring dan evaluasi obat. Dalam hal pelayanan farmasi klinik di RS implementasi berkisar 4,7-95,3% dan yang kurang terutama dalam hal pemantauan kadar obat dalam darah, di PKM berkisar 4,5-42,4% dan yang kurang terutama dalam hal PTO serta di apotik berkisar 47,6-95,2% dan yang kurang dalam hal PTO dan homecare. Permasalahan kekurangan SDM merupakan hal mendasar yang perlu diatasi dengan berbagai upaya penambahan tenaga kefarmasian dengan mekanisme khusus serta perlunya dukungan legalitas kewenangan untuk tenaga kefarmasian selain apoteker untuk melaksanakan tugas kefarmasian.
Latar Belakang
Dalam PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian antara lain disebutkan praktik kefarmasian yang meliputi pembuatan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pelayanan dan informasi obat harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian, yaitu apoteker dibantu tenaga teknis kefarmasian (TTK). Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Sedangkan TTK adalah tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi, dan tenaga menengah farmasi/asisten apoteker.
Dalam PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian antara lain disebutkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien, diperlukan standar pelayanan kefarmasian yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelayanan kefarmasian. Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolak
ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu
pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Pelayanan kefarmasian meliputi dua kegiatan yaitu yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi dan kegiatan pelayanan farmasi klinik yang harus didukung oleh sumber daya manusia, sarana dan peralatan dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadi efek samping obat untuk keselamatan pasien.
Kegiatan pengelolaan merupakan suatu siklus kegiatan dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan administrasi yang dibutuhkan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian. Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan oleh apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping yang meliputi pengkajian dan pelayanan resep, penelusuran riwayat penggunaan obat, rekonsiliasi obat, PIO, konseling, visite, PTO, MESO, EPO, dispensing sediaan steril dan PKOD di Rumah Sakit.
Pelayanan kefarmasian harus dilakukan pada fasilitas pelayanan kefarmasian, antara lain instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, dan apotek. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh
apoteker. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kabupaten/kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatau wilayah kerja.
Implementasi Standar Pelayanan Kefarmasian
Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang dilakukan pada bulan Februari-November 2017. Lokasi penelitian di lima regional di Indonesia sesuai Permenkes no 27 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Sistem Indonesian Case Based Groups (INA-CBGs). Pemilihan lokasi provinsi dilakukan secara purposif berdasarkan sistem regionalisasi, yaitu provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Barat, DI Aceh, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Seltn, Kalimntan Tengah, Maluku Utara, dan Papua. Pemilihan kabupaten/kota dilakukan berdasarkan kriteria urban di ibu kota provinsi, urban/rural bukan ibu kota provinsi dan kabupaten tertinggal/perbatasan
PELAYANAN FARMASI KLINIK Dilakukan oleh tenaga kefarmasian
% RS % Apotik % Puskesmas
1 Pengkajian dan pelayanan Resep 95.3 76,2 42,4
2 Rekonsiliasi Obat 60.5
3 Pelayanan Informasi Obat (PIO) 88.4 95,2 40,9
4 Konseling 74.4 85,7 30,3
5 Visite 60.5
6 Pemantauan Terapi Obat (PTO) 37.2 47,6 12,1
7 Monitoring Efek Samping Obat (MESO) 44.2 13,6
8 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) 44.2 19,7
9 Dispensing sediaan steril 25.6
10 Pemantauan Kadar Obat dalam Darah 4.7
11 Home care 47,6
12 Swamedikasi 90,5
13 Pencatatan Patient Medical Record 52,4
Implementasi standar pelayanan kefarmasian dalam pelayanan farmasi klinik di RS berkisar 4,7-95,3% dan yang kurang terutama dalam hal pemantauan kadar obat dalam darah, di PKM berkisar 4,5-42,4% dan yang kurang terutama dalam hal PTO serta di apotik berkisar 47,6-95,2% dan yang kurang dalam hal PTO dan homecare. Hasil Sirkesnas 2016 menunjukkan hanya 35,8% puskesmas melakukan pemberian informasi obat yang terdokumentasi dan 30,3% puskesmas melakukan konseling. Studi kualitatif analisis kualifikasi apoteker secara potong lintang pada tahun 2010 di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya menunjukkan bahwa pengelolaan obat dalam hal pengadaan, distribusi dan penyimpanan dilaksanakan dengan baik oleh apoteker rumah sakit. Praktek farmasi klinik dan keselamatan pasien masih sangat terbatas karena alasan sumber daya manusia dan dokumentasi yang belum memadai. Informasi obat dan konseling kadang dilakukan tanpa fasilitas yang cukup dan apoteker juga terlibat dalam berbagai tim di rumah sakit seperti penanggulangan infeksi nosokomial serta komite farmasi dan terapi.
KEGIATAN PENGELOLAAN OBAT
Dilakukan oleh tenaga kefarmasian
% RS % Apotik %
Puskesmas
1 Perencanaan kebutuhan obat 100 95,2 92.4
2 Pengadaan obat 100 100 98,5
3 Penerimaan obat 100 100 98,5
4 Penyimpanan obat 100 100 98,5
5 Pendistribusian obat 100 100 95.5
6 Pelayanan obat 97,7 100 98,5
7 Pencatatan dan Pelaporan obat 95,3 100 97,0
Implementasi standar pelayanan kefarmasian dalam pengelolaan obat di RS, apotek dan puskesmas berkisar di atas 78,0%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa permasalahan dalam penempatan apoteker di puskesmas adalah (a) Dinkes Kabupaten/kota mengetahui bahwa menurut peraturan perundangan diperlukan apoteker di puskesmas, tetapi dalam perencanaan kebutuhan tenaga apoteker masih belum dianggap prioritas dibandingkan kebutuhan tenaga kesehatan lain, (b) Usulan kebutuhan tenaga kesehatan yang dibuat oleh Dinkes Kabupaten/Kota belum didasarkan atas perhitungan beban kerja sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan, (c) Jumlah belanja pegawai dalam DAU sudah cukup besar, sehingga formasi yang disetujui oleh BKN terbatas, dengan formasi yang terbatas, penempatan tenaga kesehatan tidak berdasarkan kompetensinya. (d) Pelatihan belum banyak dilakukan karena keterbatasan anggaran.
Kecukupan jumlah tenaga kefarmasian
KRITERIA RUMAH SAKIT
(n = 43) APOTEK (n = 21) PUSKESMAS (n = 66) Jumlah Apoteker 383 39 35
Jumlah Tenaga teknis kefarmasian
881 91 95
Jumlah Total tenaga kefarmasian 1264 130 130
% Kecukupan tenaga Kefarmasian 69.8% 66.7% 16.7%
Standar jumlah tenaga kefarmasian yang dibutuhkan dalam pelayanan RS, PKM dan apotik menunjukkan masih kurangnya jumlah tenaga kefarmasian di ketiga fasilitas kesehatan tersebut terutama di PKM dimana tidak sampai 17% dari PKM yang diteliti memenuhi standar jumlah ketenagaan kefarmasian.
Hasil penelitian analisis lanjut terhadap seluruh puskesmas di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 17,5% puskesmas di Indonesia memiliki apoteker dan ada 32,2% puskesmas yang tidak memiliki tenaga kefarmasian sama sekali. Ada perbedaan ketersediaan tenaga kefarmasian antar puskesmas berdasarkan lokasi puskesmas, jenis puskesmas, keterpencilan wilayah dan status kepegawaian tenaga kefarmasian. Apoteker berperan lebih baik dalam memberikan pelayanan farmasi, mengelola obat dan menyusun LP-LPO dengan lengkap dibandingkan dengan tenaga teknis kefarmasian dan tenaga teknis kefarmasian juga berperan lebih baik dibandingkan dengan tenaga non-farmasi dalam hal yang sama.
Tinjauan Regulasi
Standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, puskesmas, dan apotek telah beberapa kali diubah untuk penyempurnaan, misalnya :
1. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan
dilarang mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan mengedarkan obat dan bahan yang berkhasiat obat. Juga dalam PP Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian antara lain disebutkan praktik kefarmasian yang meliputi pembuatan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pelayanan dan informasi obat harus dilakukan oleh tenaga kefarmasian. Hal ini menunjukkan hanya apoteker dibantu oleh tenaga teknis kefarmsian yang boleh melakukan pelayanan kefarmasian.
2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:1197/Menkes/SK/X/2004 tentang stadar pelayanan farmasi di rumah sakit, diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun. 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di. Rumah Sakit. Diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 34 tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Terakhuir diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Apotek karena tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan hukum, diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Kemudian diperbaharui kembali dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 35 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Terakhir diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas masih belum memenuhi kebutuhan hukum di masyarakat sehingga dilakukan perubahan dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 36 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Terakhir diperbaharui dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Dalam lampiran Peraturan Menteri Kesehatan nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit dinyatakan penghitungan kebutuhan apoteker berdasarkan beban kerja pada
pelayanan kefarmasian di rawat inap dibutuhkan rasio 1 apoteker untuk 30 pasien, sedangkan di rawat jalan dibutuhkan rasio 1 apoteker untuk 30 pasien.
Hal ini dapat menjadi tolok ukur perhitungan kecukupan tenaga kefarmasian di fasilitas pelayanan kefarmasian.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian dan kajian kebijakan yang ada, implementasi standar pelayanan kefarmasian dalam pelayanan farmasi klinik terutama di RS dan Puskesmas hanya dapat dilakukan oleh profesi apoteker masih kurang. Hal itu terjadi karena kekurangan jumlah tenaga kefarmasian dibandingkan dengan beban kerja terhadap pasien rawat inap dan rawat jalan di RS dan Puskesmas. Rekomendasi yang diberikan adalah 1. Penambahan SDM tenaga kefarmasian khususnya apoteker
Kebijakan Pimpinan RS dan Kepala Dinas Kesehatan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan apoteker, baik melalui pengangkatan tenaga kontrak maupun honorer. Perlu ada mekanisme khusus untuk pengangkatan SDM kefarmasian baik apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian melalui pola pengangkatan seperti bidan atau dokter dengan PTT dan dokter spesialis dengan program wajib kerja.
2. Delegasi wewenang kepada tenaga kesehatan lain didukung dengan legalitas
Beberapa pekerjaan kefarmasian khususnya yang berupa pengelolaan yang standarnya harus dilakukan apoteker perlu didelegasikan kepada tenaga kefarmasian dilandasi aturan pendukungnya, dengan demikian apoteker lebih fokus pada kegiatan farmasi klinik.
Daftar Pustaka
1. Max Joseph Herman, Sudibyo Supardi, Yuyun Yuniar ”Hubungan Ketersediaan
Tenaga Kefarmasian dengan Karakteristik Puskesmas dan Praktik Kefarmasian di Puskesmas (Analisis Lanjut Data Riset Fasilitas Kesehatan Nasional Tahun 2011) Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 16, No.1, Januari 2013
2. Yuniar, Y, Herman MJ, Overcoming Shortage of Pharmacist to Provide
Pharmaceutical Services in Public Health Centers in Indonesia Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Volume 8, No. 1 Agustus tahun 2013
3. Sudibyo Supardi, Andi Leny Susyanty, Raharni, Max Joseph Herman, Kebijakan Penempatan Apoteker di Puskesmas. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, vol.15 , no 2, 2012, ISSN 1410-2935, hal. 133-142
4. Sudibyo Supardi, Raharni, Andi Leny Susyanty, Max J. Herman, Evaluasi Peran Apoteker Berdasarkan Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, vol. 22, no. 4, 2012, ISSN 0853-9987 hal. 190-198
5. Max Joseph Herman, Rini Sasanti Handayani, Selma Arsit Siahaan, Kajian Praktik Kefarmasian Apoteker pada Tatanan Rumah Sakit, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7, No. 8, Maret 2013
6. Max Joseph Herman, Rini Sasanti Handayani, The Preparedness of Pharmacist in Community Setting to Cope with Globalization Impact, Jurnal Kefarmasian