• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Pengantar

2.2.2 Habitus Bersifat Transformatif

Habitus Bersifat Transformatif adalah sebuah habitus yang dapat berubah sesuai dengan kondisi interaksi sosial yang dihadapi oleh agen. Kondisi sosial tersebut memungkinkan adanya perubahan sikap dan pemikiran agen dalam menyikapi sesuatu.

2.2.2.1 Habitus Transformatif Agama Katolik

Terjadi transformatif habitus yang dimiliki oleh tokoh “A” pada sistem kepercayaan agama yang dianut. Ketika tokoh “A” masih kanak-kanak dia adalah seseorang yang sangat patuh dan tertarik pada ajaran agama Katolik. Menjelang usianya yang kedua puluh tahun transformatif habitus dalam diri “A” terjadi. Tokoh “A” mengambil jarak antara dirinya dan agama. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut.

(11) Nik maupun aku adalah anak yang religius di masa bocah. Kami masing-masing punya ketertarikan pada agama lebih dibanding saudara-saudara kandung kami. Aku suka membaca Alkitab sejak kecil (Utami, 2013: 30).

(12) Maka, pada usia dua puluh tahun itu aku telah melepas kalung salibku. aku mengambil jarak dengan agama. Segala agama. Sikap tidak adil yang kuperbuat masih terus menghantuiku, tapi dosa tidak lagi membuat aku takut. “zinah” tidak relevan lagi dalam hidupku (Utami, 2013: 31).

Habitus transformatif yang dimiliki tokoh “A” memunculkan sebuah sistem baru dalam diri tokoh “A” yang didasari oleh bentuk protes terhadap ketidaksetaraan gender dalam ajaran agama Katolik dan agama lainya. Menurut “A” agama meletakkan posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki. Dalam kutipan ke (13) dan (14) akan dijelaskan alasan tranformasi tokoh “A” meninggalkan agama.

(13) Agama membangun nilai-nilai tidak adil terhadap perempuan secara umum. Melarang perempuan menjadi imam. Menjadikan laki-laki pemimpin atas perempuan (Utami, 2013: 36).

“Tokoh “A” juga Meninggalkan agama Katolik disebabkan ketidak setujuannya terhadap teks kitab suci Adam dan Hawa yang menurutya sangat tidak adil karena menyalahkan Hawa sebagai penyebab kemunculan dosa. “A” juga menolak konsep Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam sebab baginya hal ini memunculkan penafsiran bahwa perempuan sangat tergantung pada laki-laki” (Utami, 2013: 42). Kutipan (14) berikut ini akan menjelaskan dirinya mencoba membebaskan diri dari tafsir misoginis tentang tulang rusuk yang membuat transpormatif semakin kuat dalam diri “A”.

(14) Tafsir yang sama persis pernah aku baca dikatakan oleh para Bapa Gereja dari abad-abad awal. Jauh sebelum abad keenam. persis itulah yang aku benci dari agama: sikap pemukanya yang merendahkan perempuan. Perempuan dianggap makluk kedua dibandingkan lelaki. Itulah salah satu penyebab utama aku meninggalkan agama (Utami, 2013: 42).

Dijelaskan pada kutipan (13) dan (14) bahwa tokoh “A” tidak lagi sepaham dengan ajaran agama yang menerapkan sebuah sisitem perempuan lebih

rendah dari laki-laki. Kemudian “A” membangun sistem-sistem dalam dirinya sendiri seperti dalam kutipan (15) berikut.

(15) Sekarang aku telah memiliki tata moralku yang mandiri, kubangun ulang dari sistem-sistem yang diperkenalkan kepadaku tapi dengan rasa keadilanku yang spesifik (Utami, 2013: 37). Sistem yang dibangun oleh tokoh “A” adalah sebuah sitem mandiri yang tidak terikat oleh agama maupun norma-norma yang dipegang oleh masyarakat.

2.2.2.2 Habitus Transformatif Sifat Tomboy

Transformatif Habitus Habitus Sifat Tomboy Juga terjadi pada diri “A”. Transformatif ini terjadi Saat tokoh “A” mulai menginjak usia duapuluh tahun. Transformatif tersebut ditunjukkan pada kutipan berikut.

(16) Aku bukan lagi si tomboy yang dulu lebih cocok bernama B; si Bagus. Kini namaku A (Utami, 2013: 7).

Habitus tomboy yang dimiliki oleh “A” mengalami transformatif ketika ia sedang memandang cermin dan mulai menyadari keindahan lekuk tubuhnya yang menawan. Ia mulai mencintai tubuhnya sendiri dengan segala keindahan lekuk tubuh miliknya, seperti yang terlihat dalam kutipan berikut ini.

(17) Aku mulai memperhatikan kelebihan dan kekurangan wajahku. Aku mulai menggambar takjub. Baru sekarang aku menyukai lekuk pinggangku, atau menyenangi buah dadaku sambil berharap bahwa keduanya masih tumbuh lebih besar (Utami, 2013: 7). Perasaan takjub “A” pada tubuhnya sendiri juga diperlihatkan pada kutipan berikut. Pada kutipan ini pula ditunjukan muncul sebuah kesadaran “A” bahwa ia memiliki tubuh yang dapat memikat hasrat lelaki.

(18) Sudah lama aku tahu dalam teori bahwa lelaki meyenangi tubuh demikian. Sebentuk tubuh dengan lekuk, seperti gitar, ceruk kecil yang lembab di pusatnya, serta sepasang kesuburan yang menyihir mereka dalam pengalaman indah menghisap di masa kanak. Aku tahu. Tapi, pengetahuan bahwa kini aku memiliki tubuh itu menciptakan rasa ganjil. Ya, kini; se-belum demikian. Tubuh yang baru ada padamu kini membangkitkan hasrat lelaki. Mengetahui itu sungguh aneh. Sekaligus menyenangkan. Semakin kau memikirkanya, Semakin kau tak faham (Utami, 2013: 8). Transformatif sifat tomboy “A” terjadi saat tokoh “A” berubah menjadi seorang perempuan yang memerhatikan kecantikan dan keunikan tubuhnya. Perubahan fisik tersebut membuat tokoh “A” menjadi seorang model di salah satu majalah saat itu. Hal ini ditunjukan pada kutipan berikut.

(19) Nik bangga sekali melihat wajahku muncul disampul Femina. Ia sedang naik bis kota dan melihat yayangnya ada di setiap halte. Katanya, ia ingin bilang kepada orang-orang yang duduk di sebelahnya bahwa itu adalah pacarnya. Susumu Saru juga membeli majalah itu. Ia berkata bahwa kau lebih cantik dalam kenyataan (Utami, 2013: 59).

2.2.2.3 Habitus Transformatif Bakat mengarang

Habitus bakat mengarang yang diturunkan oleh bibi gemuk dan bibi tua mengalami transformatif. Transformatif pada habitus ini adalah habitus bakat mengarang yang berkembang dengan baik. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.

(20) Aku menemukan bakatku. Semua yang kutulis nyaris tidak membutuhkan penyuntingan oleh editor. Strukturku baik. Logikaku lurus. Bahasaku cermat. Humorku ada. Metaforaku kaya. Seorang redaktur berkata, Ia seperti menemukan permata pada diriku. Batu yang hanya sedikit sekali membutuhkan penatahan. Aku Senang Sekali (Utami, 2013: 65).

Kemudian, bakat ini terus berkembang. Hal ini dapat dilihat dari perjalanan “A” di dalam dunia kerja. “A” lebih tertarik pada bidang tulis menulis sebagai pekerjaan dibanding pekerjaan sebelumnya sebagai model. hal ini di temukan pada Kutipan berikut.

(21) Aku hanya berkecimpung sebentar saja di dunia Model. Aku merasa tidak cocok dengan pergaulan di sana. Tak lama setelah itu, aku menjadi wartawan. Pekerjaan ini lebih mendekatkan aku pada dunia pemikiran (Utami, 2013: 62).

Kutipan (21) berada pada kurum waktu ketika “A” masih menjadi seorang mahasiswi di Universitas Indonesia. Kemudian Setelah “A” menyelesaikan pendidikannya, Ia masih tetap bekerja dibidang tulis menulis hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (8) sebelumnya.

Pada Usia yang lebih tua terjadi tranformatif lagi pada bakat menulis pada diri “A” ia memilih berhenti menjadi wartawan dan menjadi pekerja seni. Transformatif ini di pengaruhi oleh hak pers pada masa itu.

(22) Pada masa itu A telah bekerja di sebuah tempat kebudayaan, Teater Utan Kayu. Dulu ia memang wartawan. Lalu ia dipecat karena ikut, bersama dengan wartawan lain, memperjuangkan kemerdekaan pers. Mereka mendirikan Aliansi Jurnalis Independen. Semua anggota organisasi ini dilarang bekerja sebagai wartawan. Tiga temannya ditangkap dan dipenjarakan. Kini, rezim sudah berganti. Soeharto sang jendral telah turun dari kursi kekuasaan. Tapi A tidak ingin lagi jadi wartawan. Ia senang bekerja lebih dekat pada kesenian (Utami, 2013: 233-234).

Tokoh “A’ memilih untuk tidak menjadi seorang wartawan, setelah dia di pecat saat memperjuangankan kemerdekan pers. Kemudian dia memutuskan untuk bekerja di bidang seni. Hal tersebut membuktikan terjadi transformatif sifat habitus dalam diri “A”.

Dokumen terkait