• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG HAK CIPTA,

B. Hak Cipta Sebagai Hak Eksklusif,

Pasal 1 angka (1) UU No. 28 tahun 2014 tentang hak cipta merumuskan hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sesuai dengan rumusan hak cipta menurut UUHC sebagaimana diuraikan diatas, maka hak cipta adalah suatu hak eksklusif, yaitu suatu hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak

8

Ajip Rosidi, Undang-Undang Hak Cipta 1982, Pandangan Seorang Awam, Djambatan, Jakarta, 1984, halaman 3.

9

Bandingkan dengan rumusan hak cipta menurut Pasal 1 angka (1) UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menentukan bahwa hak cipta adalah adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang undangan yang berlaku. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (1)-nya dan penjelasannya yang mengemukakan bahwa bahwa hak cipta adalah hak khusus bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang undangan yang berlaku. Penjelasannya mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya.

lain yang dapat memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pencipta atau pemegang hak ciptanya. Hak eksklusifnya hak cipta tidak saja di bidang hak ekonomi, baik di bidang mechanical right maupun performing right, melainkan juga di bidang hak moral yang merupakan hak yang manunggal dengan penciptanya.

Sebagai konsekwensi dari pengertian hak cipta sebagai suatu hak yang eksklusif, maka setiap orang/badan usaha yang menggunakan karya cipta lagu dan/atau untuk suatu kegiatan komersil dan atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersil (yang menurut undang-undang dikenal dengan istilah penggunaan secara komersil 10) seperti halnya hotel, restaurant, pub, karaoke, dan sebagainya, harus meminta izin terlebih dahulu kepada penciptanya dan atau kepada pemegang hak ciptanya yang oleh pencipta diberi kuasa untuk itu. Dapat juga disimpulkan bahwa hak cipta sebagai suatu hak eksklusif, merupakan suatu objek hukum yang bersifat immateril yang mempunyai hubungan dan kepentingan yang sangat erat dengan penciptanya serta keaslian ciptaannya.

Hendra Tanu Atmadja 11) mengemukakan bahwa hak cipta terdiri atas sekumpulan hak eksklusif bagi pemilik hak cipta untuk mengizinkan pihak lain menggunakan karya ciptanya, sebaliknya juga dapat melarang pihak lain untuk menggunakan karya ciptanya tersebut. Hak-hak eksklusif itu adalah esensi dari kepemilikan hak cipta.

Dalam kaitan ini, Suyud Margono 12) mengemukakan bahwa undang-undang hak cipta memberikan pengertian bahwa hak cipta sebagai hak khusus, hal ini berarti pemahaman undang-undang berpangkal pada melekatnya sifat

10 Penggunaan secara komersial adalah pemanfaatan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dari berbagai sumber atau berbayar.

11 Hendra Tanu Atmadja, Hak Cipta Musik Atau Lagu, Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 2003, halaman 293.

khusus kepada pencipta atau pemilik hak tersebut dikaitkan dengan pemikiran tentang perlunya pengakuan dan penghormatan terhadap jerih payah pencipta atas segala daya, upaya dan pengorbanan telah terlahir suatu karya atau suatu ciptaan. Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa dalam perspektif ekonomi apabila manfaat yang diperoleh atau dirasakan dari hasil jerih payah pencipta tadi semakin besar, maka semakin besar pula nilai yang dihasilkan tadi. Karenanya kegiatan memperbanyak dan atau mengumumkan ciptaan atau memberi izin kepada pihak lain untuk ikut memperbanyak dan/atau mengumumkan ciptaan tersebut, merupakan tindakan berdasarkan pertimbangan komersial atau ekonomi. Artinya, kegiatan memperbanyak ataupun bentuk eksploitasi karya cipta lainnya, juga merupakan hak dari pencipta 13).

CJT. Simorangkir 14) mengemukakan pengertian hak khusus tersebut adalah berarti tidak ada orang atau badan lain yang dapat melakukan hak cipta itu, misalnya untuk mengumumkan atau memperbanyaknya, kecuali dengan izin pencipta. Izin pencipta agar supaya orang atau badan lain boleh melakukan hak cipta itu, dapat berupa atau melalui :

- pewarisan - hibah - wasiat

- dijadikan milik negara - perjanjian dengan akta

Sementara itu, H. OK. Saidin 15) mengemukakan bahwa “perkataan “tidak ada pihak lain” yang terdapat dalam Pasal 2 UUHC (baca UU No. 19 Tahun 2002) mempunyai pengertian yang sama dengan hak tunggal yang

13 Loccit.

menunjukkan bahwa pencipta saja yang boleh mendapatkan hak semacam itu. Inilah yang disebut hak yang bersifat eksklusif. Eksklusif berarti khusus, spesifikasi, unik. Keunikannya itu, sesuai dengan sifat dan cara melahirkan hak tersebut. Tidak semua orang dapat serta merta menjadi seorang peneliti, komponis atau sastrawan. Hanya orang-orang tertentu yang diberikan “hikmah” oleh Allah SWT, mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi yang dapat berkreasi untuk menghasilkan karya cipta. Oleh karena itu, hak cipta itu semula terkandung di alam pikiran, di alam idea. Namun untuk dapat dilindungi harus ada wujud nyata dari alam idea tersebut.

Menurut M. Hutauruk 16), ada dua unsur penting yang terkandung dari rumusan pengertian hak cipta yang termuat dalam ketentuan UUHC Indonesia, yaitu :

1. Hak yang dapat dipindahkan, dialihkan kepada pihak lain.

2. Hak moral yang dalam keadaan bagaimanapun dan dengan jalan apapun tidak dapat ditinggalkan daripadanya (mengumumkan karyanya, menetapkan judulnya, mencantumkan nama sebenarnya atau nama samarannya dan mempertahankan keutuhan atau integritas ceritanya.

Sebagai konsekwensi hak cipta sebagai suatu hak eksklusif sebagaimana diuraikan diatas, UUHC telah merumuskan secara jelas bahwa terdapat perbuatan yang dilarang untuk dilakukan seseorang atau badan usaha, yang untuk perbuatan tersebut, yang bersangkutan diwajibkan untuk meminta izin kepada pencipta dan atau pemegang hak cipta, yaitu perbuatan “mengumumkan” dan “memperbanyak” yang dalam istilah UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dikenal dengan “penggandaan”. Lengkapnya adalah untuk hak pencipta di bidang ekonomi sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yaitu penerbitan ciptaan,

penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya, penerjemahan ciptaan, pengadaptasian, pengaransemenan atau pentransformasian ciptaan, pendistribusian ciptaan atau salinannya, pertunjukan ciptaan, pengumuman ciptaan, komunikasi ciptaan, dan penyewaan ciptaan. 17)

Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apapun, baik elektronik atau non elektronik atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain. Sedangkan perbanyakan (yang menurut UU No. 28 Tahun 2014 dikenal sebagai penggandaan) adalah proses, perbuatan atau cara menggandakan satu salinan Ciptaan dan/atau fonogram atau lebih dengan cara dan dalam bentuk apapun secara permanen atau sementara. 18)

Rooseno Hardjowidigdo 19) mengemukakan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk “mengumumkan” suatu ciptaan, yaitu :

1. Melalui penyiaran radio sehingga ciptaan hanya dapat didengar saja oleh orang lain (biasanya dilakukan oleh para user, misalnya siaran radio, pub, karaoke, rumah makan, restoran, jasa penerbangan, dan hotel).

2. Melalui media penyiaran televisi sehingga ciptaan dapat didengar dan dilihat oleh orang lain;

17

Pasal 9 ayat (2) UU No. 28 Tahun 2014 tentang hak Cipta menentukan, Setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta

18 Bandingkan dengan pengertian pengumuman dan perbanyakan menurut UU No. 19 Tahun 2002, yaitu pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar atau dilihat orang lain. (Pasal 1 angka (5). Sedangkan perbuatan yang dikategorikan sebagai perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu ciptaan, baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer (Pasal 1 angka (6).

3. Melalui media cetak sehingga ciptaan bersangkutan bisa dibaca oleh orang lain (banyak dilakukan melalui media cetak, misalnya, koran, terbitan berkala atau bahkan saat ini dikenal dengan media komputer melalui internet).

4. Secara langsung atau live, yaitu pertunjukan langsung kepada penonton yang dapat juga disertai dengan siaran langsung melalui media elektronik seperti misalnya, siaran televisi atau siaran radio, sehingga ciptaan bersangkutan bisa didengar dan dilihat bahkan bisa dibaca jika ada teksnya; dan

5. Dengan menempelkan pada tempat tertentu sehingga ciptaan bersangkutan bisa dilihat dan dibaca oleh orang lain (misalnya dilakukan dengan baliho atau tempat pengumuman lainnya).

Sebagaimana diuraikan diatas, tidak semua perbuatan “mengumumkan” dan/atau “memperbanyak (menggandakan)” karya cipta harus mendapat izin dari pencipta atau pemegang hak ciptanya yang sah, melainkan adalah apabila kegiatan pengumuman dan/atau perbanyakan itu dilakukan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial yang menurut UUHC dikenal dengan istilah penggunaan secara komersial.

Pengecualian secara limitatif diatur dalam satu bab di bawah Bab VI tentang Pembatasan Hak Cipta melalui Pasal 43 sampai dengan Pasal 51 UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta sebagaimana diuraikan dibawah ini. 1. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi dan/atau Penggandaan

lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;

2. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama Pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan

pada Ciptaan tersebut atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pendistribusian, Komunikasi dan/atau Penggandaan.

3. Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran dan surat kabar atau sumber sejenis lainnya, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap.

4. Perbuatan dan penyebarluasan konten Hak Cipta melalui media teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat tidak komersial dan/atau menguntungkan Pencipta atau pihak terkait atau Pencipta tersebut menyatakan tidak keberatan atas perbuatan dan penyebarluasan tersebut; 5. Penggandaan, Pengumuman dan/atau Pendistribusian Potret Presiden,

Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

6. Perbuatan penggunaan, pengambilan, penggandaan dan/atau pengubahan suatu ciptaan dan/atau produk Hak Terkait secara seluruh atau sebagian yang jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap untuk keperluan:

a. Pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta;

b. Keamanan serta penyelenggaraan pemerintahan, legislatif dan peradilan.

c. Ceramah yang hanya untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

d. Pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta. 7. Fasilitas akses atas suatu Ciptaan untuk penyandang tuna netra,

penyandang kerusakan penglihatan atau keterbatasan dalam membaca dan/atau pengguna huruf braille, buku audio atau sarana lainnya, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap, kecuali bersifat komersial.

8. Dalam hal Ciptaan berupa karya arsitektur dan pengubahannya jika dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis.

9. Perbuatan perbanyakan sebanyak 1 (satu) salinan atau adaptasi Program Komputer yang dilakukan oleh penggguna yang sah, jika salinan tersebut digunakan untuk :

a. Penelitian dan pengembangan Program Komputer tersebut.

b. Arsip atau cadangan atas Program Komputer yang diperoleh secara sah untuk mencegah kehilangan, kerusakan atau tidak dapat dioperasikan. c. Apabila penggunaan Program Komputer telah berakhir, salinan atau

adaptasi program Komputer tersebut harus dimusnahkan.

10. Penggandaan untuk kepentingan pribadi atas Ciptaan yang telah dilakukan Pengumuman yang hanya dibuat sebanyak 1 (satu) salinan. 11. Penggandaan untuk kepentingan pribadi atas ciptaan yang tidak

mencakup :

a. Karya arsitektur dalam bentuk bangunan atau konstruksi lain;

b. Seluruh atau bagian yang substansial dari suatu buku atau notasi musik;

d. Program Komputer, kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1).20

e. Penggandaan untuk kepentingan pribadi yang pelaksanannya bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari Pencipta atau Pemegang hak Cipta;

12. Perbuatan yang dilakukan oleh perpustakaan atau lembaga arsip yang tidak bertujuan komersial untuk membuat 1 (satu) salinan Ciptaan atau bagian Ciptaan dengan cara :

a. Penggandaan tulisan secara reprografi yang telah dilakukan Pengumuman, diringkas atau dirangkum untuk permintaan seseorang dengan syarat :

a) Perpustakaan atau lembaga arsip menjamin bahwa salinan tersebut hanya akan digunakan untuk tujuan pendidikan atau penelitian.

b) Penggandaan tersebut dilakukan secara terpisah dan jika dilakukan secara berulang, Penggandaan tersebut harus merupakan kejadian yang tidak saling berhubungan.

c) Tidak ada lisensi yang ditawarkan oleh Lembaga Manajemen Kolektif kepada perpustakaan atau lembaga arsip sehubungan dengan bagian yang digandakan.

20 Pasal 45 ayat (1) UU No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta menentukan perbanyakan sebanyak 1 (satu) salinan atau adaptasi Program Komputer yang dilakukan oleh penggguna yang sah dapat dilakukan tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta jika salinan tersebut digunakan untuk :

a. Penelitian dan pengembangan Program Komputer tersebut; dan

b. Arsip atau cadangan atas Program Komputer yang diperoleh secara sah untuk mencegah kehilangan, kerusakan atau tidak dapat dioperasikan.

c. Apabila penggunaan Program Komputer telah berakhir, salinan atau adaptasi program Komputer tersebut harus dimusnahkan.

13. Pembuatan salinan dilakukan untuk pemeliharaan, penggantian salinan yang diperlukan atau penggantian salinan dalam hal salinan hilang, rusak atau musnah dari koleksi permanen di perpustakaan atau lembaga arsip lain dengan syarat :

a. Perpustakaan atau lembaga arsip tidak mungkin memperoleh salinan dalam kondisi wajar.

b. Pembuatan salinan tersebut dilakukan secara terpisah atau jika dilakukan secara berulang, pembuatan salinan tersebut harus merupakan kejadian yang tidak saling berhubungan;

14. Pembuatan salinan dimaksudkan untuk Komunikasi atau pertukaran informasi antar perpustakaan, antar lembaga arsip serta antar perpustakaan dan lembaga arsip;

15. Penggandaan, Penyiaran atau Komunikasi atas Ciptaan untuk tujuan informasi yang menyebutkan sumber dan nama Pencipta secara lengkap dengan ketentuan, Ciptaan berupa :

a. Artikel dalam berbagai bidang sudah dilakukan Pengumuman baik dalam media cetak maupun media elektronik kecuali yang salinannya disediakan oleh Pencipta atau berhubungan dengan Penyiaran atau Komunikasi atas suatu Ciptaan;

b. Laporan peristiwa aktual atau kutipan singkat dari Ciptaan yang dilihat atau didengar dalam situasi tertentu.

c. Karya ilmiah, pidato, ceramah atau Ciptaan sejenis yang disampaikan kepada publik.

16. Penggandaan sementara atas Ciptaan, jika Penggandaan tersebut memenuhi ketentuan :

a. Pada saat dilaksanakan transmisi digital atau pembuatan Ciptaan secara digital dalam media penyimpanan.

b. Dilaksanakan oleh setiap orang atas izin Pencipta untuk menstransmisi Ciptaan; dan

c. Menggunakan alat yang dilengkapi mekanisme penghapusan salinan secara otomatis yang tidak memungkinkan Ciptaan tersebut ditampilkan kembali.

17. Perbuatan setiap lembaga Penyiaran yang membuat rekaman sementara untuk tujuan aktivitasnya dengan alat dan fasilitasnya sendiri, namun Lembaga Penyiaran tersebut wajib memusnahkan rekaman sementara tersebut dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak pembuatan atau dalam waktu yang lebih lama dengan persetujuan Pencipta.

18. Perbuatan Lembaga Penyiaran dapat membuat 1 (satu) salinan rekaman sementara yang mempunyai karakteristik tertentu untuk kepentingan arsip resmi.

19. Perbuatan pemerintah yang menyelenggarakan Pengumuman, Pendistribusian atau Komunikasi atas suatu Ciptaan melalui radio, televisi dan/atau sarana lain untuk kepentingan nasional dengan ketentuan wajib memberikan imbalan kepada Pemegang hak Cipta.

Dengan demikian, setiap orang atau orang lain yang ingin melakukan perbuatan untuk mengumumkan dan atau memperbanyak (menggandakan) atau dalam arti yang lebih luas untuk lingkup hak ekonomi hasil ciptaan untuk suatu kegiatan komersial dan atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial (penggunaan secara komersial), terlebih dahulu harus meminta izin kepada pemiliknya, yaitu pemegang hak cipta melalui pemberian lisensi. Hal ini sesuai dengan hakekat hak eksklusif sebagai hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya, sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa ijin pemegangnya. Mereka-mereka itu adalah perusahaan-perusahaan yang dalam kegiatan usahanya yang bersifat

komersial melakukan kegiatan pengumuman dan atau perbanyakan hasil ciptaan (lagu atau musik), seperti hotel, rumah sakit, mal, pertokoan, retail business, salon, spa & fitness, restoran, pub dan café, karaoke dan discotheque, transportasi, terminal, digital transmission, cinema, broadcaster, one off event, tiket selling background music, dan sebagainya.

Secara eksplisit, hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta di bidang hak ekonomi diatur dalam Pasal 9 UU No. 28 Tahun 2014 sebagai berikut :

(1) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan :

a. Penerbitan Ciptaan

b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya

Penjelasan : Termasuk perbuatan penggandaan diantaranya perekaman menggunakan kamera video (camcorder) di dalam gedung bioskop dan tempat pertunjukan langsung (live performace).

c. Penerjemahan Ciptaan

d. Pengadaptasian, pengaransemenan atau pentransformasian Ciptaan e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya

f. Pertunjukan Ciptaan g. Pengumuman Ciptaan h. Komunikasi Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan

(2) Setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta (3) Setiap orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang hak Cipta dilarang

C. Subjek dan Objek Hak Cipta