• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : TINJAUAN UMUM TENTANG HAK CIPTA,

A. Pengertian Hak Cipta,

Untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hak cipta, terlebih dahulu akan diuraikan hal-hal yang terkait dan berhubungan dengan ciptaan. UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta merumuskan ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastera yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata. Oleh karena itu, hak cipta berkaitan erat dengan intelektualitas manusia berupa hasil kerja otak. Hak cipta hanya diberikan kepada ciptaan yang sudah berwujud atau berupa ekspressi yang sudah dapat dilihat, dibaca, didengarkan dan sebagainya. Hukum hak cipta tidak melindungi ciptaan yang masih berupa idea dan supaya mendapat perlindungan hak cipta suatu ide perlu

diekspressikan terlebih dahulu. Misalnya, seorang komposer yang ingin menciptakan sebuah lagu dengan nada dan irama atau lirik dan lagu tertentu untuk dipasarkan kepada masyarakat, tetapi tidak sempat membuatnya, ia tidak dilindungi karena ideanya masih abstrak. Ciptaan adalah nyata atau riel dan karenanya termasuk kebendaan bertubuh atau kebendaan berwujud sedangkan hak cipta adalah kebendaan tidak bertubuh atau tidak berwujud. 1

Otto Hasibuan 2) mengemukakan bahwa sebuah lagu yang berjudul Ayah diciptakan oleh Rinto Hararap dan lagu itu berbicara tentang kerinduan seorang anak kepada ayahnya yang sudah meninggal dunia. Lagu Ayah Ciptaan Rinto Hararap sudah direkam, sehingga ada wujud yang nyata berupa melodi, lirik, aransemen, bahkan notasi lagu yang dapat didengar, dilihat, atau dibaca, sampai disini terpenuhilah syarat ide yang telah berwujud.

Dari uraian tersebut, dapatlah ditegaskan bahwa adanya suatu bentuk yang nyata dan berwujud (expression) dan sesuatu yang berwujud itu adalah asli (original) atau bukan hasil plagiat merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menikmati perlindungan hukum hak cipta. Sebuah lagu (ada syair dan melodi) yang dinyanyikan seseorang secara spontan dan kemudian suara dan syair yang terucapkan hilang ditelan udara tidak mendapat hak cipta. Akan tetapi, kalau lagu itu direkam (dalam pita rekaman) atau dituliskan dan terbukti tidak sebagai jiplakan, barulah mendapat perlindungan hak cipta. Hampir sama dengan suatu pidato yang diucapkan tanpa persiapan atau tanpa teks (extempore speech) baru mempunyai hak cipta jika dituangkan dalam bentuk tulisan (diketik) atau direkam secara mekanis.

1 Pasal 16 ayat (1) UU No. 28 Tahun 2014 tentang Kah Cipta menentukan bahwa hak cipta merupakan benda bergerak tidak berwujud.

Perkataan hak cipta terdiri dari dua kata, yaitu hak dan cipta. Kata hak yang sering dikaitkan dengan kewajiban adalah suatu kewenangan yang diberikan kepada pihak tertentu yang sifatnya bebas digunakan atau tidak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hak diartikan sebagai : 1). Benar; 2). Milik; 3). Kewenangan; 4). Kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan dan sebagainya); 5). Kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu; 6). Derajat atau martabat; 7). Hak wewenang menurut hukum. 3) Kata cipta tertuju pada hasil kreasi manusia dengan menggunakan sumber daya yang ada padanya berupa pikiran, perasaan, pengetahuan dan pengalaman.

Muhamad Djumhana dan R. Djubaedillah dalam bukunya Hak Milik Intelektual, Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia menuliskan bahwa istilah hak cipta (copyy rights) tidak jelas siapa yang memakainya terlebih dahulu, tidak ada satupun perundang-undangan yang secara jelas menggunakannya pertama kali. Menurut Stanley Rubenstein, sekitar tahun 1870 tercatat pertama kali orang menggunakan istilah copy right. Di Inggris, pemakaian istilah hak cipta (copy right) pertama kali berkembang untuk melindungi penerbit dari tindakan penggandaan buku oleh pihak lain 4).

Selanjutnya beliau mengemukakan bahwa dalam kepustakaan hukum Indonesia yang pertama kali dikenal adalah istilah hak pengarang (author right) yaitu setelah diberlakukannya Undang Undang Hak Pengarang (auteurswet 1912, Stb 1912 No. 600), kemudian menyusul istilah hak cipta. Istilah inilah yang kemudian dipakai dalam peraturan perundang-undangan selanjutnya 5).

3

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, halaman 381-382.

4 Muhamad Djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual, Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia, PT. Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1997, halaman 37.

Ramlon Naning 6) menuliskan bahwa di Indonesia, istilah hak cipta mulai dipergunakan dalam kongres kebudayaan Indonesia kesebelas yang diselenggarakan di Bandung pada bulan Oktober 1951. Sebelumnya istilah yang dipergunakan adalah hak pengarang, yang selintas mempersempit jangkauan hak yang dicakupnya, karena hanya menyangkut pengarang saja. Dalam kongres kebudayaan Indonesia tersebut, sepakat untuk mengganti istilah hak pengarang menjadi hak cipta.

Dalam bukunya, International Copyright and Neighboringright, Stephen M. Stewart, mengemukakan bahwa pada awalnya pengertian hak cipta hanya menggambarkan hak untuk menggandakan atau memperbanyak suatu karya cipta 7). Menurut World Intellectual Property Organitation (WIPO), hak cipta adalah copyright is a legal form deserbing right given to creator for their literary and artistic work (hak cipta ialah terminologi hukum yang menggambarkan hak-hak yang diberikan kepada pencipta untuk karya-karya mereka dalam bidang seni dan sastra).

Pasal 5 perjanjian hak cipta sedunia (Universal Copyright Convention) merumuskan bahwa hak cipta meliputi hak tunggal si pencipta untuk membuat, menerbitkan dan memberi kuasa untuk membuat terjemahan dari karya yang dilindungi perjanjian. Auterswet 1912 melalui pasal 1 merumuskan hak cipta sebagai hak tunggal daripada pencipta atau hak dari yang mendapat hak tersebut atas hasil ciptaannya dalam lapangan kesusasteraan, pengetahuan dan kesenian untuk mengumumkan dan memperbanyak dengan mengingat pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang.

Dibandingkan dengan Auteurswet 1912, maka Universal Copyright Convention mencakup pengertian yang lebih luas karena disana memuat

6 Ramdlon Naning, Perihal Hak Cipta Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1982, halaman 10-11.

7 Stephen M. Stewart, International Copyright and Neighboringright, Buttenworts, London, 1989, halaman 7.

kata menerbitkan terjemahan yang pada akhirnya tidak saja melibatkan pencipta tetapi juga pihak penerbit dan penterjemah. Yang menurut Ajib Rosidi mengandung sifat economic interests 8).

Pasal 1 angka (1) UU No. 28 tahun 2014 tentang hak cipta merumuskan hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 9)