BAB V : PELANGGARAN HAK CIPTA LAGU DAN/ATAU MUSIK DAN
A. Pelanggaran Hak Cipta Lagu dan Musik,
2. Pengumuman Tanpa Izin,
Berbeda dengan pelanggaran hak memperbanyak pencipta lagu yang cukup banyak diperbincangkan dan menjadi sorotan, maka mengenai pelanggaran terhadap hak mengumumkan pencipta lagu dan/atau musik yang dikenal dengan performing right termasuk jarang diperbincangkan dan tampaknya kurang mendapat perhatian. Dalam realitas, kebanyakan orang menganggap bahwa pelanggaran hak cipta hanya sebatas pembajakan atau memperdagangkan produk-produk bajakan.
Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa konsekwensi dari suatu hak cipta lagu dan/atau musik sebagai suatu hak yang eksklusif, maka setiap kegiatan pengumuman dari suatu karya cipta musik dan lagu oleh usaha-usaha yang berkaitan dengan kegiatan komersial, wajib hukumnya mendapat izin terlebih dahulu dari pencipta dan atau pemegang hak ciptanya yang sah, seperti halnya dengan perbuatan perbanyakan. Lengkapnya untuk penggunaan hak ekonomi pencipta lagu dan/atau musik harus meminta izin terlebih dahulu dari pencipta atau pemegang hak ciptanya yang sah
Otto Hasibuan 11) mengemukakan bahwa banyak orang yang mengumumkan atau menyiarkan lagu dan/atau musik tanpa ada izin dari pencipta dan/atau pemegang hak ciptanya yang sah di berbagai tempat dengan maksud untuk didengar dan dilihat orang lain, ada yang secara langsung untuk mencari keuntungan, dan yang secara tidak langsung mendapatkan keuntungan dan ada yang sekedar pelayanan (service). Secara umum, hal-hal tersebut dianggap sangat wajar dan bukan merupakan pelanggaran hak cipta. Banyak penyanyi yang menyanyikan lagu ciptaan orang
lain tanpa izin, dinyanyikan untuk didengar orang lain dan dia memperoleh bayaran. Inul Daratista sering tampil dipanggung-panggung hiburan, media televisi dan acara pertunjukan lainnya. Sebelum Mei 2003, Inul belum pernah masuk dapur rekaman. Jadi selama ini, Inul hanya menyanyikan lagu ciptaan orang lain atau lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi lain, seperti lagu Bento-nya Iwan Fals dan What’s Up-nya Four Non Blondes yang sangat sering dibawakannya. Padahal, bayaran Inul untuk sekali tampil bernyanyi dan bergoyang tergolong tinggi. Inul, sebelum menyanyikan lagu-lagu tersebut belum tentu meminta izin dari pencipta lagu. Kalaupun demikian, tidak ada orang yang menuduh Inul melanggar hak pencipta lagu.
Dakui bahwa dari sekian banyak pihak yang memakai lagu dan/atau musik dalam kegiatan usahanya, masih sangat sedikit yang memiliki izin atau lisensi dari pencipta atau dari pemegang hak ciptanya yang sah dan membayar royalti atas pemakaian lagu dan/atau musik dimaksud. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan penulis pada tahun 2004, diantara 50 user (pengguna musik) dalam masyarakat, dapat diketahui bahwa sekitar 38 orang (75 %) telah melakukan kegiatan pengumuman musik dan lagu tanpa izin, baik melalui sarana pesawat TV, tape recorder, dan sejenisnya termasuk kabel elektronik seperti kabel vision, live music. Sebagian user melakukan perbuatan tersebut karena ketidaktahuannya akan pengaturan dalam UUHC dan akibat hukum dari perbuatannya tersebut.
Khususnya di DKI Jakarta, tidak kurang dari 50 % kegiatan usaha komersial yang ada di DKI Jakarta yang dalam kegiatan usahanya menggunakan musik dan lagu telah meminta izin atas penggunaan lagu dan/atau musik tersebut kepada pencipta dan atau pemegang hak ciptanya melalui collective society atau Lembaga Manajemen Kolektif yang ada dan melakukan pembayaran royalti sebagai kewajiban hukumnya. Selebihnya telah
melakukan kegiatan pengumuman lagu dan/atau musik tanpa izin dari pencipta dan atau pemegang hak cipta.
Permasalahan yang sering muncul adalah sejauh mana ruang lingkup perlindungan hukum terhadap pencipta musik atau lagu atas ciptaannya. Hal inilah yang belum dapat dipahami oleh seluruh anggota masyarakat khususnya para pengguna musik dan lagu (user). Banyak anggota masyarakat yang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah merupakan pelanggaran terhadap hak cipta baik atas hak ekonominya maupun hak moral dari para pencipta, padahal sejumlah peraturan perundang-undangan telah mengatur sedemikian rupa hal-ahal apa saja yang termasuk pelanggaran hak cipta atas lagu dan/atau musik.
Persoalan yang dihadapi para pencipta sangat konvensional, yakni sikap dan pandangan para pengusaha hiburan (user) yang menganggap bahwa memutar atau menyanyikan lagu-lagu orang lain tidak perlu meminta izin kepada pencipta dan atau pemegang hak ciptanya dan tidak perlu membayar royalti. Mereka beranggapan, kalau telah membeli kaset, CD atau VCD, mereka sudah bebas menggunakannya untuk kegiatan hiburan tanpa terikat lagi kepada pencipta dan atau pemegang hak cipta, padahal dalam aktivitas mereka, para “pengusaha” tersebut menjual hiburan dengan memanfaatkan dan tidak jarang dari karya cipta orang lain. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman atas ketentuan-ketentuan yang terdapat undang-undang dan kurangnya kesadaran terhadap penghargaan karya cipta orang lain dan karenanya perlu ditumbuhkan, termasuk penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta lagu dan musik.
Dapat dikemukakan bahwa ketika masyarakat membeli kaset, CD atau VCD, mereka tidaklah membeli hak untuk mengadakan pergelaran/
mengkomunikasikan ciptaan lagu dan/atau musik yang dilindungi hak cipta. Jika pembelian kaset, CD dan VDC tersebut diperuntukkan untuk kegiatan pergelaran/pertunjukan dihadapan umum atau menyampaikan/ mengkomunikasikan ciptaan tersebut untuk kegiatan yang berkaitan dengan usaha komersial, baik langsung maupun tidak langsung, maka harus mendapat izin dari pencipta atau pemegang hak cipta.
Hal yang sama terjadi pada kegiatan pemutaran dan atau penggunaan lagu dan/atau musik melalui pesawat televisi yang umumnya digunakan pada usaha/kamar hotel, kereta api, pesawat udara, bandara dan tempat-tempat lainnya. Para pengusaha beranggapan bahwa mereka tidak perlu mendapat izin dari pencipta dan atau pemegang hak ciptanya dan tidak perlu membayar royalti lagi karena hal tersebut adalah merupakan tanggung jawab lembaga penyiaran. Harus dicatat bahwa lisensi yang diberikan kepada lembaga penyiaran adalah lisensi eksklusif yang tidak memungkinkan lembaga penyiaran melisensikannya lagi kepada orang atau pihak lain.
Kenyataan yang sesungguhnya adalah bahwa apa yang diberikan oleh pemegang hak cipta kepada lembaga penyiaran adalah izin atau lisensi pengumuman lagu dan/atau musik, dan karenanya, lembaga penyiaran tidak berwenang untuk mengalihkan dan atau memberikan izin/lisensi pengumuman lagu dan/atau musik tersebut lebih lanjut kepada siapapun, sehingga dengan demikian para pengusaha yang bersangkutan sesuai dengan undang-undang hak cipta tetap harus minta izin kepada pencipta dan atau pemegang hak cipta dan melakukan pembayaran royalti sebagai kewajiban hukumnya.
Terdapat beberapa user yang telah dilaporkan ke pihak yang berwenang secara pidana dan menuntut secara perdata dengan mengajukan gugatan ganti rugi melalui Pengadilan Niaga. Diantara tuntutan secara perdata dilakukan
melalui pengajuan gugatan di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Oleh Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat 12), seorang user pengusaha hotel telah dinyatakan bersalah melakukan perbuatan melanggar hukum berupa penggunaan lagu dan/atau musik tanpa izin dari pencipta dan atau pemegang hak ciptanya dan karenanya dihukum untuk membayar ganti rugi kepada pemegang hak cipta.
Atas diputusnya perkara hak cipta oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dalam perkara No. 17/Hak Cipta/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst tersebut, Hulman Panjaitan sebagai kuasa hukum YKCI 13) mengemukakan bahwa “kemenangan itu jelas sangat membanggakan. Pasalnya, kini ada pengakuan atas hak cipta di Indonesia. Dengan begitu, kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa menyanyikan lagu tanpa izin penciptanya untuk hal-hal yang bersifat komersil sudah merupakan tindakan melanggar hukum”.
Melalui Pengadilan Negeri Bandung, dua orang user telah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pelanggaran hak cipta berupa penggunaan musik tanpa izin. Seorang pengusaha karaoke 14) telah dihukum selama 1 (satu) tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) subsidair 1 (satu) bulan kurungan. Seorang lagi pengusaha biliard yang telah dijatuhi hukuman percobaan selama 1 (satu) tahun 15).
Sama halnya dengan pelanggaran hak cipta bidang mechanical right (hak untuk memperbanyak), maka pelanggaran hak cipta bidang performing right (hak untuk mengumumkan) diatur dalam Pasal 113 ayat (1), ayat (2) dan ayat
12 Perkara No. 17/Hak Cipta/2005/PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 18 Juli 2005, putusan mana telah dikuatkan pada tingkat kasasi dalam perkara No. 038 K/N/HaKI/2005 tanggal 26 Oktober 2005..
13 Hulman Panjaitan, dalam Harian Berita Kota, 19 Juli 2005.
14 Perkara pidana No. 1041/Pid.B/2002/PN.Bdg tanggal 19 September 2002. Dalam perkara ini, peraturan undang-undang hak cipta yang diterapkan adalah UU No. 12 tahun 1997.
(3) UU No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta bersamaan dengan pengaturan tindak pidana pelanggaran hak cipta bidang mechanical right sebagaiana diuraikan diatas, sehingga unsur-unsurnya pun adalah sama, kecuali kriteria untuk menentukan adanya perbuatan mengumumkan. Secara otentik, UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta telah merumuskan “pengumuman” sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka (11) yang menentukan bahwa pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun, baik elektronik atau non elektronik atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar atau dilihat orang lain.
Pasal 113 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) UU No. 28 Tahun 2014 tentang hak Cipta adalah sebagai berikut :
(1) Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf (i) untuk Penggunaan Secara Komersil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersil dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e dan/atau huruf g untuk Penggunaan secara komersil dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah).