BAB II : PENGATURAN HAK CIPTA DI INDONESIA,
A. Pendahuluan,
Hak Cipta bukanlah sesuatu hal yang baru termasuk di Indonesia. Hak cipta telah dikenal sejak zaman imperium Romawi (saat berkembangnya karya dan literatur sastera) dan zaman kekaisaran Cina (ketika kertas pertama kali ditemukan dan dipergunakan secara luas). Referensi menyebutkan, kelahiran hak cipta pada saat itu sangat dipengaruhi oleh pergeseran tradisi oral kepada tradisi literal. Hal penting yang patut digarisbawahi ialah bahwa publik mulai merasa membutuhkan perlindungan hukum yang lebih spesifik atas karya cipta yang mereka hasilkan.
Pada permulaan abad ke-18, hak cipta belum diakui sebagai hak tersendiri. Hak cipta melekat erat dengan objek materil yang di dalamnya ciptaan ini berbentuk. Sehingga apabila dimisalkan pada suatu perjanjian kerja, atas suatu hak cipta otomatis akan beralih haknya ketika suatu barang/benda diserahkan dari tangan yang mengerjakan kepada pemberi kerja.
Sejarah dan perkembangan pengaturan hak cipta di Indonesia tidak terlepas dari aturan sejak penjajahan Belanda, yang mengeluarkan undang-undang hak pengarang, yaitu auteurswet 1912, Stb No. 600 tahun 1912, yang berlaku sejak 23 September 1912. “Ketika negeri Belanda menanda tangani konvensi Berne pada tanggal 1 April 1913, negara Hindia Belanda sebagai negara jajahannya ikut diserahkan dalam konvensi itu 1). Demikian pula Konvensi Bern, pada tanggal 1 Agustus 1931 dinyatakan berlaku untuk wilayah Hindia Belanda dengan Staatsblad 1931 No. 325, dan Konvensi Bern yang
dinyatakan berlaku itu adalah menurut teks yang telah direvisi di Roma pada tanggal 2 Juni 1928.
Pada zaman penjajahan Jepang, semuanya berjalan menurut hukum militer Jepang. Undang-undang tersebut dapat dikatakan ibarat “mati suri”, tidak dapat berjalan dan tidak juga dicabut. Kemudian, setelah Indonesia merdeka, sekalipun dalam UUD 1945 2tidak disebutkan istilah hak cipta, namun melalui pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 dapat diketahui bahwa auteurswet 1912 dinyatakan tetap berlaku sebagaimana halnya dengan peraturan perundang-undangan lainnya untuk mengisi kekosongan hukum (rechts vacuum) selama belum diadakan yang baru untuk menggantikan perundang-undangan sebelumnya.
Pada awalnya, tampaknya pemerintah Indonesia tidak berkeinginan untuk memberikan perlindungan terhadap hak cipta, yang ditandai hal-hal sebagai berikut 3) :
1. Pada tahun 1958, pada masa pemerintahan Kabinet Djuanda, Indonesia menyatakan keluar dari Konvensi Bern (dengan maksud agar Indonesia dapat dengan leluasa melakukan berbagai kegiatan memindahkan ilmu pengetahuan dari luar negeri masuk ke dalam negeri dengan menerjemahkan, meniru, atau menyalin Ciptaan-ciptaan luar negeri);
2. Pemerintah membiarkan penerbit Balai Pustaka melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap Undang-undang hak cipta yang ada;
3. Pemerintah, khususnya penegak hukum, membiarkan pengarang-pengarang Indonesia menyadur karya asing tanpa izin, bahkan tanpa menyebut nama pengarang asli; dan
2
Pasal II Aturan Peralihan Undnag Undang Dasar Tahun 1945 menentukan, segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang Undang Dsaar ini.
4. Walaupun disadari bahwa Auteurswet 1912 sudah tidak sesuai atau mengandung banyak kekurangan, pemerintah dan Badan Perwakilan Rakyat tidak begitu serius membentuk Undang-undang Hak Cipta yang baru.
Sungguhpun pemerintah tidak berkeinginan menegakkan hak cipta dan membiarkan merajalelanya pelanggaran-pelanggaran terhadap hak cipta, pembicaraan tentang hak cipta di Indonesia tidaklah sepi. Artinya, sejak awal kemerdekaan pun sudah ada orang-orang yang peduli dan memberi perhatian tentang hak cipta. Dalam kaitan ini, sangatlah penting mengingat beberapa peristiwa bersejarah dan pelaku sejarah yang berkaitan dengan perkembangan hak cipta di Indonesia di alam kemerdekaan, seperti Konstituante Bandung, Kongres Nasional Kebudayaan ke-2 di Bandung, Organisasi Pengarang Indonesia, dan Seminar Nasional hak cipta 1975 di Bali.
Konstituante Bandung, yang bersidang di Bandung tahun 1956-1959 ketika menyusun UUD baru bagi negara RI terdapat bukti bahwa mereka memberi perhatian dan pemikiran mengenai hak cipta. Salah satu keputusan Konstituante mengenai pokok materi konstitusi, yakni No. 9 yang berbunyi sebagai berikut “Hak perlindungan kepentingan moral dan materiil yang didapatnya sebagai hasil dari sesuatu produksi dalam lapangan ilmu pengetahuan, kesusastreaan dan kesenian yang diciptakannya sendiri”.
Dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Konstituante dibubarkan sehingga pemikiran yang hendak memasukkan hak cipta dalam pasal Undang-undang Negara RI tidak sampai terwujud.
Kongres Kebudayaan Nasional ke-2 yang diselenggarakan oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) di Bandung pada bulan Oktober tahun 1951 telah berhasil menelurkan istilah Hak Cipta. Sebelumnya, yang sudah dikenal adalah istilah Hak Pengarang, sebagai terjemahan dari istilah
bahasa Belanda “auteur”. Auteurswet 1912 itu daya cakupnya lebih luas daripada auteur (pengarang) saja, sehingga diterimalah istilah hak cipta, yang mencakup selain hak pengarang, juga penggambar, pelukis, dan lain-lain.
Pada awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia, terdapat suatu organisasi yang memperjuangkan perlindungan terhadap hak cipta, yaitu Organisasi Pengarang Indonesia (OPI), yang didirikan pada tanggal 17 Februari 1956. Organisasi ini telah turut mengambil bagian dan memainkan peranan yang cukup penting dalam perkembangan sejarah hak cipta di Indonesia. Organisasi ini mencoba menggabungkan para pengarang dalam satu wadah perkumpulan yang bersifat serikat kerja pengarang dengan tujuan-tujuan yang langsung atau tidak langsung ada hubungannya dengan hak cipta seperti: a. Melindungi dan memperjuangkan kepentingan para pengarang;
b. Menaikkan nilai karang-mengarang terutama dalam bahasa Indonesia; c. Meningkatkan taraf kedudukan kaum pengarang di masyarakat; d. Memupuk kesadaran akan kebudayaan Indonesia.
Dalam perkembangan berikutnya, diadakanlah sejumlah gerakan perlindungan hak cipta melalu sejumlah kegiatan ilmiah, diantaranya adalah Kongres Nasional Hak Cipta tahun 1975 di Bali, yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), yang nota bene Kongres ini merupakan cikal bakal dikeluarkannya UU No. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta.