• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN HUKUM TENTANG HAK CIPTA MUSIK DAN LAGU

C. Hak Ekonomi dan Hak Moral

2. Hak Cipta Sebagai Hak Economy Rights

Dalam terminologi hukum perdata, hak cipta adalah hak privat, hak keperdataan. Dalam hak keperdataan itu terdapat nilai yang dapat diukur secara

ekonomi, yaitu berupa hak kebendaan. Oleh Undang – Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014, hak itu disebut sebagai hak ekonomi atau economy rights yang dibedakan dengan hak moral yang tidak mempunyai nilai ekonomi. Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Penciptaan hak ekonomi Pemegang hak Cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaan.33

Pencipta pemegang Hak Cipta memiliki hak ekonomi untuk melakukan.

a. Penerbitan Ciptaan.

b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya c. Penerjemahan Ciptaan

d. Pengadaptasian, pengaransemenan atau pentransformasian Ciptaan.

e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya.

f. Pertunjukkan Ciptaan g. Pengumuman Ciptaan h. Komunikasi Ciptaan, dan i. Penyewaan Ciptaan.

Setiap orang yang melaksanakan hak ekonomi tersebut wajib mendapatkan izin pencipta atau Pemegang Hak Cipta. Setiap orang yang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang melakukan penggandaan dan atau penggunaan secara komersial ciptaan.34

33 Republik Indonesia, Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014, op, cit, Pasal 8.

34 Ibid, Pasal 9. Termasuk perbuatan Penggadaan di antaranya perekanan menggunakan kamera video (camcorder) didalam gedung bioskop dan tempat pertunjukan langsung (live perfomance).

Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan atau penggadaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan atau Hak terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya.35

Hak ekonomi untuk melakukan Pendistribusian Ciptaan atau salinannya tidak berlaku terhadap Ciptaan atau salinannya yang telah dijual atau yang telah dialihkan kepemilikan Ciptaan kepada siapa pun. Hak ekonomi untuk menyewakan Ciptaan atau salinannya tidak berlaku terhadap Program Komputer dalam hal Program Komputer tersebut bukan merupakan objek esensial dari penyewaan.36

Setiap orang dilarang melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggadaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan atau Komunikasi atas Potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya. Penggunaan Secara Komersial, Penggadaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan atau Komunikasi Potret tersebut yang memuat potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam Potret ahli warisnya.37

Pengumuman, Pendistribusian, dan atau Komunikasi Potret seorang atau beberapa orang pelaku Pertunjukan dalam suatu pertunjukan umum tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, kecuali dinyatakan lain atau diberi

35 Ibid, Pasal 10

36 Ibid, Pasal 11 yang dimaksud dengan “objek esensial ” adalah perangkat lunak komputer yang menjadi objek utama perjanjian penyewaan.

37 Ibid, Pasal 12. Yang dimaksud dengan “kepentingan reklame atau periklanan ” adalah pemuatan potret antara lain pada iklan, benner, billboard, kalender dan pamflet yang digunakan secara komersial.

persetujuan oleh Pelaku Pertunjukkan dan pemegang hak atas pertujukan tersebut sebelum atau pada saat pertunjukan berlangsung.38

Untuk kepentingan keamanan, kepentingan umum dan atau keperluan proses peradilan pidana, instansi yang berwenang dapat melakukan Pengumuman Pendistribusian atau Komunikasi Potret tanpa harus mendapatkan persetujuan dari seorang atau beberapa orang yang ada dalam potret.39

Kecuali diperjanjikan lain, pemilik dan atau pemegang Ciptaan fotografi lukisan, gambar, karya arsitektur, patung atau karya seni lain berhak melakukan Pengumuman Ciptaan dalam suatu pameran umum atau Penggadaan dalam suatu katalog yang diproduksi untuk keperluan pameran tanpa persetujuan Pencipta, ketentuan Pengumuman Ciptaan tersebut berlaku juga terhadap Potret sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan sebagai dimaksud dalam Pasal 12 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014.40

Sejarah perkembangan hak cipta di Indonesia sama seperti diluar negeri yakni dipengaruhi oleh kemajuan ilu pengetahuan (sciences)dan teknologi.

Namun landasan berpijaknya tetap dipengaruhi oleh landasan filosofi dan budaya hukum suatu negara. Demikian jika kita lihat dalam Auteurswet 1912 hak cipta hanya dibatasi jangka waktunya sampai 50 tahun, tetapi dalam UHC 1982, dibatasi hanya 25 tahun. Kemudian dalam UHC No. 7 Tahun 1978 dan UHC No.

38Ibid, Pasal 13. Yang dimaksud dengan “kecuali dinyatakan lain atau diberi persetujuan oleh Pelaku pertunjukkan atau pemegang hak atas pertunjukan ” misalnya, seorang penyanyi dalam suatu pertunjukkan musik dapat berkeberatan jika dipotret untuk dipublikasikan,didistribusikan, atau dikomunikasikan kepada publi oleh orang lain untuk penggunaan secara komersial.

39 Ibid, Pasal 14. Yang dimaksud dengan “instansi yang berwenang” dalam ketentuan ini antara lain kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang komunikasi dari informasi, Komisi pemberatasan Tidak Pidana Korupsi, atau aparat penegak hukum lainnya.

40 Ibid, Pasal 15. Yang dimaksud dengan “pemilik” dalam ketentuan ini adalah orang yang menguasai secara sah Ciptaan, antara lain kolektor atau Pemegang Hak Cipta.

12 Tahun 1997 kembali dimajukan menjadi selama hidup pencipta dan 50 tahun mengikuti ketentuan Berne Convention (sebelum direvisi) Tahun 1967 yang diketahui diadopsi oleh Auteurswet 1912. Perubahan-perubahan dalam ketentuan tersebut membuktikan begitu kuatnya pengaruh budaya hukum asing kedalam budaya hukum Indonesia. Ketika UHC 1982 dilahirkan, banyak alasan yang disepakatilah jangka waktu hak cipta selama hidup sipencipta ditambah dengan 25 tahun setelah meninggalnya si pencipta. Dalam Undang – Undang Hak Cipta No.

19 Tahun 2002 jangka waktu pemilikan hak cipta ditetapkan menjadi 50 Tahun 2002 jangka waktu pemilikan hak cipta ditetapkan menjadi 50 tahun. Terakhir dalam Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 khusus untuk ciptaan :

a. Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya.

b. Ceramah, kuliah, pidato dan Ciptaan sejenis lainnya.

c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks

e. Drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomim.

f. Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti bentuk lukisan, gabar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung atau kolase.

g. Karya arsitektur.

h. Peran dan

i. Karya seni batik atau seni motif lain,

Berlaku selama hidup Penciptaan dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setalah pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. Khusus dalam hal ciptaan dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih,

perlindungan Hak Cipta selama hidup Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun sesudahnya, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya. Demikian juga untuk ciptaan yang dimiliki atau dipegang oleh badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan Pengumuman.41

Ide mengenai pembatasan jangka waktu hak cipta, sebenarnya didasarkan atas landasan filosofi tiap-tiap hak kebendaan termasuk hak cipta fungsi sosial.

Sehingga dengan diberinya pembatasan jangka waktu pemilikan hak cipta, maka diharapkan hak cipta itu dikuasai dalam jangka waktu yang panjang ditangan sipencipta yang sekaligus sebagai pemiliknya. Sehingga dengan demikian dapat dinikmati oleh rakyat atau masyarakat luas sebagai pengejawantahan dari asas tiap-tiap hak mempunyai fungsi sosial. Meskipun kenyataan tidak persis demikian. Selama ini hak cipta yang telah berakhir masa berlakunya hanya mengutungkan pihak tertentu, khususnya pihak prosedur dalam hal karya cipta lagu dan pihak penerbit dalam hal karya cipta berupa bukun atau hasil karya ilmiah lainnya.

Hak cipta bisa kita sepintas lalu adalah merupakan hak cipta mutlak dari sipencipta atau sipemegang hak. Namun, sifat kemutlakannya itu berkurang setelah adanya pembatasan terhadap pemilikkan hak cipta.

Dalam hal ini dapat kita cermati apa yang diungkapkan oleh Mahadi yang menyatakan :

“ ….. hak cipta, jika dibangdingkan dengan hak milik lainnya, kalah kuatnya dan kalah penuhnya. Hal ini karena hak cipta berlaku haya selama

41 Ibid, Pasal 58.

hidup si pencipta dan ditambah beberapa tahun setelah meninggalnya si pencipta sesuai dengan ketentuan di masing – masing negara.42

Pendapat yang dikemukan oleh guru besar Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara tersebut diatas, sebenarnya cukup beralasan, sebab hanya beberapa negara saja didunia ini yang tidak membatasi mengenai pemilikan hak cipta ini. Sebagai contoh yang dapat dikemukakan adalah Nikaragua dan Gautemala.43

Dasar pertimbangan lain adalah hasil suatu karya cipta pada suatu ketika harus dapat dinikmati oleh semua orang dan tidak hanya oleh orang yang menciptakannya dengan tidak ada pembatasannya. Dengan ditetapkannya batasan tertentu dimana hak si pencipta itu berakhir, maka orang lain dapat menikmati hak tersebut secara bebas, artinya ia boleh mengumumkan atau memperbanyak tanpa harus minta izin kepada si pencipta atau si pemegang hak, dan ini tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta.

Dengan berakhirnya jangka waktu pemilikan tersebut, maka jadilah karya cipta itu sebagai milik umum, suatu kuasa umum (publik domein). Pembatasan jangka waktu hak cipta yang tercantum dalam UHC Indonesia bukanlah satu – satunya peraturan hak cipta yang memeberikan batasan. Dengan kata lain, disamping UUHC pembatasan yang sama juga dikenal dalam Auteurswet 1912, Konvensi Bern, Univesal Copytights Convention dan berbagai – bagai Konvensi dan Kesepakatan Internasional lainnya.

42 Mahadi, op.cit, hlm. 16.

43 BPHN, op. cit hlm. 56 – 57. Kudua negara ini tidak membatasi perlindungan hak ciptanya. Setelah si pendipta meninggal dunia hak cipta itu terus diwariskan kepada ahli warisnya untuk waktu yang tidak ditentukan sampai kepada keturunan selanjutnya.

Dalam Auteurswet 1912 hak cipta dibatasi sampai 50 tahun setelah meninggalnya sipencipta. Ketentuan yang demikian dapat dijumpai dalam pasal 37-nya, yang merupakan pengambilalihan dari ketentuan Konvensi Bern. Pada mulanya Konvensi Bern menetukan jangka waktu 50 tahun, namun setelah direvisi di Stokholm Tahun 1967 jangka waktu tersebut dikurangi menjadi 25 tahun, hal ini dimaksudkan memberikan kesempatan kepada negara berkembang untuk dapat menikmati karya cipta orang asing. Atas dasar ini pulalah UHC 1982, memberikan batasan 25 tahun, sesuai dengan maksud Indonesia untuk menjadi anggota Konvensi Bern pada masa datang, meskipun sampai pada hari ini kita tidak melihat realisasinya.

Walaupun pembatasan jangka waktu pemilikan hak cipta 25 tahun tersebut merupakan :

Ketentuan yang diambil alih dari Konvensi Bern dengan alasan agar mempermudah bila Indonesia menjadi salah satu anggota konvensi, tetapi dalam perkembangan selanjutnya yang akhir – akhir ini terlihat adanya upaya untuk menggantikan atau merevisi Undang – Undang Hak Cipta 1982, yang pembatasan jangka waktu hak cipta tersebut telah dinaikkan menjadi 50 tahun setelah meninggalnya si pencipta.44

Sebenarnya mengenai pembatasan jangka waktu hak cipta adalah merupakan penjelmaan dari pandangan tentang hakikat pemilikan, dikaitkan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk bermasyarakat, dimana hak milik itu dianggap mempunyai fungsi sosial. Ini yang kami maksudkan landasan filosofis dan budaya hukum yang dianut oleh suatu negara dalam perlingdungan hak cipta tersebut. Sampai pada batas tertentu,

44 Simorangkir, J.C.T., Beberapa Catatan Mengenai Perubahan UU Mengenai Hak Cipta, jakarta Kompas, 25 Februari 1987, hlm. IV. Lihat juga Nugroho F. Yudo, Tanda Tanya Menyertai UU Hak Cipta, Jakarta, Kompas, 15 September 1987, hlm. IV.

memang hak cipta itu dimaksudkan untuk memerhatikan keseimbangan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan umum (masyarakat luas). Dua kepentingan ini tidak dapat dipisahkan. Oleh hukum pengakuan milik perorangan dan milik umum kedua – duanya mendapat tempat dalam tatanan hukum tiap – tiap bangsa didunia in, sekalipun dasar filosofi negaranya berbeda. Dinegara – negara penganut paham liberalis sama halnya juga di negara – negara penganut paham komunis, kedua – duanya menempatkan pengakuan adanya hak individu dan hak publik.

Oleh karena itu, dapatlah dimengerti bahwa pembatasan jangka waktu hak cipta itu adalah merupakan pertimbangan atas milik umum dan milik individu (perorangan). Bagi Indonesia yang menganut Falsafat Pancasila, menempatkan keseimbangan atas dua kutub tersebut, pengakuan hak individu dan hak publik.

Antara kepentingan individu dan masyarakat merupakan dwi tunggal yang tak dapat dipisahkan. Pancasila mempertemukan kedua pandangan ini. Bahkan jika kita bandingkan dengan negara yang masyarakatnya individulistis materialis sekalipun seperti Amerika Serikat, juga mengadakan pembatasan mengenai pemilik hak cipta dalam undang-undangnya. Artinya, pada suatu waktu hak cipta itu menjadi milik publik juga.

Mungkin bagi kita di Indonesia hal ini mempunyai arti lain. Sebab jika kita lihat dalam perubahan UHC 1982, disana kembali diperpanjang jangka waktu pemilikan hak cipta itu menjadi 50 tahun yang sebelumnya hanya 25 tahun dan dalam UHC No. 19 Tahun 2002 jangka waktu pemilikan cipta 50 tahun ini dan dalam Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 menjadi 70 tahun. Dengan

jangka waktu relatif yang panjang itu, keseimbangan antara kepentingan individu dengan masyarakat yang dikenal dengan konsepsi hak milik berfungsi sosial45 dapat lebih terwujud.

Ada kesan dengan masa 70 tahun (semasa hidup pencipta ditambah 70 tahun setelah meninggal) pemilikan hak cipta, UUHC Indonesia tampaknya menonjolkan hak individu. Tetapi jauh dari anggapan itu semua, disamping menyesuaikan diri dengan Konvensi Internasional, lebih dari itu adalah untuk memberikan penghargaan yang maksimal kepada pencipta dan ahli warisnya.

Dengan demikian, diharapkan aktivitas dan kreativitas para pencipta dapat tumbuh dan berkembang ditengah – tengah kehidupan masyarakat. Bahkan lebih dari itu sudah selayaknya pula dipikirkan untuk memberikan insentif oleh pemerintah kepada setiap pencipta yang melahirkan karya cipta baru, demikian pula terhadap penemuan dalam bidang hak atas kekayaan perindustrian.

Mengenai jagka waktu perlindungan hak cipta, UUHC Indonesia dan Konvensi Internasional membedakan pula jangka waktu perlindungan hak cipta yang didasarkan pada bentuk dan sifat ciptaan.

. Khusus untuk ciptaan :

Perlindungan menulis bahwa dalam UUPA menyebutkan tidak saja hak milik yang berfungsi sosial tapi semua hak (atas tanah). Hak cipta sebagai hak milik, dalam penggunaannya harus pula dilandaskan atas fungsi sosial ini. Hal ini tegas dinyatakan dalam penjelasan umum Undang – Undang Nomor 19 Tahun 2002 pada butir 2 meneybutkan bahwa, “ undang – undang ini selain dimasukkan unsur baru mengingat perkembangan teknologi, ditelakkan juga unsur kepribadian Indonesia yang mengayomi baik kepentingan individu maupun masyarakat sehingga terdapat keseimbangan yang serasi antara kedua kepentingan termaksud ”.

c. Karya sinematografi.

d. Permaianan video.

e. Program komputer.

f. Perwajahan karya tulis.

g. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain hasil transformasi.

h. Terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi atau modifikasi ekspresi budaya tradisional.

i. Kompilasi Ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer atau media lainnya, dan

j. Kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli

Berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan Pengumuman. Demikian juga terhadap perlindungan Hak Cipta atas Ciptaan berupa karya seni terapan berlaku 25 (dua puluh lima) tahun sejak pertama kali dilakukan Pengumuman.46

Negara juga dapat menjadi pemegang hak cipta, yaitu khusus untuk hak cipta atas budaya tradisional. Jangka waktu negara sebagai pemegang hak cipta atas budaya tradisional tersebut diberikan tanpa batas waktu.

Khusus dalam hal ciptaan telah dilakukan Pengumuman tetapi tidak diketahui penciptanya, atau hanya tertera nama aslinya atau samaran Peciptanya, Hak Cipta atas Ciptaan tersebut dipegang oleh pihak yang melakukan

46Republik Indonesia, Undang –Undang Nomor 28 Tahun 2014, op.cit, Pasal 59.

Pengumuman untuk kepentingan Pencipta, hak ciptaan tersebut dipegang oleh negara dan berlaku selama 50 (lima puluh) taun sejak Ciptaan tersebut pertama kali dilakukan Pengumuman.47

Masa berlaku perlindungan Hak Cipta atas Ciptaan yang dilakukan Pengumuman bagian perbagian dihitung sejak tanggal Pengumuman bagian yang terakhir. Dalam menentukan masa berlaku perlindungan hak Cipta atas Ciptaan yang terdiri atas 2 (dua) jilid atau lebih yang dilakukan Pengumuman secara berlaka dan tidak bersamaan waktunya, setiap jilid Ciptaan dianggap sebagai Ciptaan tersendiri.48

Dokumen terkait