BAB III ANALISIS BENTUK POLA ASUH ANAK DI
A. Hak-Hak Anak Menurut Undang-Undang dan
diskriminasi.73
Dalam pasal 2 Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak merumuskan hak-hak anak sebagai berikut:
a. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar.
b. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kepribadian bangsa dan untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna.
c. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar.74 Sementara dalam Undang- Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang diperbaharui menjadi UU No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan UU NO 23 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak yang mengatur hak-hak anak dan dikemukakan dengan tegas dalam pasal 4 sampai dengan pasal 18 menyebutkan:
d. Pasal 4 mengatur tentang hak untuk dapat hidup, tumbuh,
73 Undang-undang RI Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak, 119.
74 Irma Setyowati, Aspek Hukum, hlm. 17
berkembang, dan berpartisipasi secara wajar;
e. Pasal 5 mengatur tentang hak memperoleh nama sebagai suatu identitas diri;
f. Pasal 6 hak untuk beribadah;
g. Pasal 7 ayat (1) dan pasal 14 mengatur tentang hak memperoleh asuhan;
h. Pasal 8 mengatur tentang hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial;
i. Pasal 9 ayat (1) mengatur tentang hak memperoleh pendidikan;
j. Pasal 10 hak untuk berpendapat
k. Pasal 11 mengatur tentang hak untuk berekreasi dan berkreasi;
l. Pasal 12 dan Pasal 9 ayat (2) mengatur tentang hak memperoleh pelayanan khusus;
m. Pasal 13, 15, 16, 17 ayat (1) dan (2) serta pasal 18 mengatur tentang hak memperoleh perlindungan kekerasan, penganiayaan dan hukum.75
Hak-hak anak yang disebutkan di atas pada hakikatnya adalah merupakan hak yang sejatinya diberikan oleh orang tua dan segala aspek tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembangunan khusus di dalam memajukan kehidupan berbangsa
75 Ibid.
dan bernegara.
Hak anak yang dijelaskan dalam pasal 7 yaitu hak dalam memperoleh pengasuhan artinya anak memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh orang tua terkait dengan pola asuh. Pola asuh yang dimaksud yaitu asah, asih, asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak dari dalam kandungan hingga anak berusia 21 tahun.
Pengasuhan tidak hanya serampangan yang dipahami oleh orang- orang hari ini yang hanya memberikan anak sekedar makan, minum dan pendidikan. Tapi anak juga memiliki hak lain yaitu akses pendidikan, kesehatan, pengayoman, perlindungan sesuai dengan UU Perlindungan Anak.
Dalam hukum Islam juga mengatur berbagai perlindungan terhadap hak-hak anak yaitu hak anak untuk hidup, hak anak dalam kejelasan nasabnya, hak anak dalam pemberian nama yang baik, hak anak dalam memperoleh ASI, hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan pemeliharaan, hak anak dalam kepemilikan harta benda, hak anak dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran76. Berbagai hak ini mesti di penuhi oleh orang tua di belahan bumi manapun sejalan dengan tugas dan menjadi pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT. Hal ini sejalan
76 Mufida,CH, Psikologi Keluarga Islam…, hlm.280.
dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
ح ج ا ر
ُ ة او
ل ُ س
ه ا ال
ُ ُ نا ُ ق و
ُ و د ُ
نا ر
ا ُ
م ك
ُ ي ه ل ُ
و ا ك س
م ُ فن ُ ا ُ ُ او ُ
م ُ ن ُ او ُ ا
ه ا ُ ُ ال
ُ ُ ذ ي ن
ُ ُ ُ يا ُ ُ ي
ن ام لع ُ ف ُ
و و ُ ي ُ
ُ م ه
ُ رم
م ا
ُ ُ لال ُ
و ُ ن ص ُ
ع ي
ُ ُ ل
اد ُ د ُ ش
ُ ُ غ ظل
ُ ى ة ك ُ م ُ ُ ل
ن ُ ه ا ُ ر ُ و
ع ُ ل ي ُ ؤ ُ ُ م ي
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
Ayat di atas menjadi pembelajaran bahwa kegagalan dalam memelihara, mendidik dan mengasuh anak, Allah SWT memberikan hukuman berupa azab api neraka. Tentu saja hal ini sesuai dengan konteks kehidupan umat menusia, mengingat anak merupakan sendi peradaban dan yang akan melanjutkan estafet kemajuan bangsa. Apabila orang tua gagal dalam mendidik anak, maka gagalah sebuah negara dalam memperbaiki kualitas
kehidupan bangsanya. Sebagaimana yang dapat kita lihat contohnya, kegagalan orang tua dalam mengasuh anak di Desa Lamunga kecamatan Taliwang mengakibatkan anak memiliki perilaku tercela, menikah usia dini, pergaulan yang bebas bahkan tidak memiliki masa depan. Situasi seperti ini akan terus berlanjut tanpa adanya upaya untuk memangkas dan tindakan prefentif
untuk melakukan pencengahan.
Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW telah memberikan peringatan bahwa: “setiap anak lahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan ia yahudi, Nasrani, atau majusi”.77 Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hadist ini tidak hanya berbicara tentang agama yang akan dianut oleh anak. Namun, hadist ini juga membahas mengenai karakter dan masa depan anak yang ditentukan oleh kedua orang tuanya. Tentu saja berdasarkan pola asuh yang diberikan oleh kedua orang tuanya dalam kehidupan sehari-sehari.
Apabila ingin menarik sebuah pembenaran bahwa ketidakmampuan dalam mengasuh anak yang baik disebabkan alasan kemiskinan, sesungguhnya Allah SWT telah mengingatkan umat manusia dalam QS. Al-Isra ayat 31:
ناك ُ م ه
ُ لت
ق ُ ُ ك م ُ
ا ن
و ُ ا ُ
ُ يا
ُ م ه
ن زر
ق ُ ن ح ن م ُ ا ل ُ ُ
ق
ي ُ ة ُ شخ
ُ م ك
لت ُ ُ ُ او ُ ا
ُ و ُ ل ُ ُ
ت د ُ ق ُ
ُ و ل ُ ُ
خ ط
´ـا ُ ُ ك ب ُ ي ر ا
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga padamu. Sesunggunya membunuh mereka
77 Ibid.
merupakan sebuah dosa yang besar”
Kemiskinan dalam keluarga tidak dapat dijadikan pembenaran dalam penelantaran anak. Undang-Undang perlindungan anak juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kekerasan kepada anak yaitu tidak memberikan hak-hak anak yang sudah dijamin dalam UU No 35 Tahun 2014 Tentang perubahan UU No. 22 Tahun 2002 tentang perlindungan hak-hak anak. Hak- Hak anak yang dimaksud yaitu hak memperoleh Pendidikan, hak memperoleh pengajaran, hak untuk hidup, hak untuk berkembang dan hak ini juga sudah di jamin oleh UUD 1945 dalam pasal 28.
Jika kita menarik benang merah, hak yang sudah ditetapkan dalam UU Perlindungan anak juga hak-hak anak yang ditetapkan dalam hukum Islam merupakan sama. Hanya saja, diberikan redaksi yang berbeda dalam menafsirkan setiap ayat-ayatnya dan juga bentuk peraturan perundangan-undangannya. Yang menjadi inti permasalahannya adalah bagaimana cara orang tua dalam memenuhi hak-hak tersebut. Terlepas dari problematika yang sudah dipaparkan sebelumnya, ini memerlukan kerja sama semua lapisan dari pemerintah dan masyarakat. Terkhusunya Desa Lamunga yang belum memiliki regulasi dan peraturan perundang- undangan yang menuntaskan masalah kemiskinan, saatnya hal ini
di usut tuntas sehingga anak-anak di Desa Lamunga dapat terpenuhi hak-haknya hingga mampu menjadi agen of change di masa depan.
Hal di atas mesti di pahami oleh orang tua di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang yang selama ini menurut pendapat penulis masih memahami pengasuhan hanya sebatas memberikan makan dan minum. Padahal, pengasuhan memiliki makna yang lebih luas dari pada itu.
Melalui pemenuhan hak anak, akan membentuk anak menjadi generasi yang cerdas dan tentunya melanjutkan cita-cita bangsa. Seperti yang diketahui bahwa Desa Lamunga merupakan Desa yang baru pemekaran yang artinya memerlukan banyak perbaikan dari segala sisi. Salah satu hal penting yang mesti diperbaiki adalah pendidikan dan pengasuhan anak yang melanjutkan pembangunan di Desa Lamunga. Tentu saja perbaikan pertama yang harus dilakukan adalah dalam keluarga. Keluarga merupakan instansi terkecil dalam sebuah negara, namun memiliki peran besar dalam perbaikan kualitas perkembangan Agama, Bangsa dan Negara. Oleh sebabnya, penulis berpendapat dengan memberikan pendidikan kapada anak secara maksimal akan mempangaruhi perbaikan negara Indonesia.
Berikut penulis paparkan tabel terkait hak-hak anak di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang berdasarkan Undang-Undang dan hukum Islam.
Tabel 1. 4
No Hak-Hak Anak Perspektiv Masalah Masukan 1. Hak anak untuk
hidup, hak anak dalam kejelasan nasabnya, hak anak dalam pemberian nama yang baik, hak anak dalam memperoleh ASI, hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan pemeliharaan, hak anak dalam kepemilikan harta benda, hak anak dalam
memperoleh pendidikan dan pengajaran
Hukum Islam
Kurangnya pemahaman
masyarakat terhadap pentingnya
pemenuhan hak anak sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.
-Perlu adanya kajian Bersama atau kegiatan rutin keagamaan untuk menumbuhkan religiusitas dan pembelajaran
gender kepada keluarga. hal ini dapat dilakukan baik oleh tokoh agama maupun akademisi dan orang-orang yang memahami masalah tersebut.
2 Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam
Hukum positiv
Kurangnya waktu yang dimiliki oleh orang tua dalam memberikan asuhan yang sesuai dengan amanat Undang- Undang. Selain itu, hal ini disebabkan
Perlu adanya regulasi yang jelas terkait dengan akar masalah yang mengakibatkan kurang efektivnya pemenuhan hak
anak dalam
asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar
oleh kemiskinan yang terjadi di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
kehidupan
masyarakat di Desa Lamunga
Kecamatan Taliwang.
3. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan
sosialnya, sesuai dengan
kepribadian bangsa dan untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna.
Hukum positif
Kurangnya
implementasi negara dan desa dalam memutus kemiskinan yang berdampak pada pemenuhan hak-hak anak juga pola asuh ana.
Perlu adanya sosialisasi sekaligus peninjauan Kembali terkait dengan Undang-Undang perlindungan anak dan perlu adanya pembentukan
regulasi tingkat desa terkait dengan program
pengentasan
kemiskinan dan penyuluhan
mengenai tata cara dalam mendidik anak beserta hak- hak anak sesui dengan regulasi yang ada di Indonesia.
4. Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar, hak memperoleh nama sebagai suatu identitas diri, untuk beribadah, mengatur tentang
Hukum positif
Kurangnya peninjauan dan implementasi Undang-Undang perlindungan hak anak.
Perlu adanya peninjauan Kembali terhadap
implementasi
peraturanperundang- undangan dalam kehidupan
masyarakat dan keterlibatan
Lembaga
hak memperoleh asuhan, pelayanan kesehatan dan jaminan sosial, Pendidikan,
berpendapat dan perlindungan kekerasan,
penganiayaan dan hokum
berwenang baik dari pusat maupun daerah.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum Islam dan hukum positif pada dasarnya telah mengatur dengan jelas hak-hak anak. Berbagai peraturan yang diberikan untuk dapat mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan kehidupan anak hanya saja implementasinya belum dapat dilakukan secara efektiv. Kurangnya implementasi peraturan perundang-undangan yang dilakukan oleh negara khususnya pemerintah Desa Lamunga berpengaruh pada pemenuhan hak anak. Salah satu hak anak yaitu pola asuh yang baik yang mesti diberikan oleh orang tua. Sedangkan dalam perspektif hukum Islam dapat penulis simpulkan kurang efektifnya hak anak disebabkan oleh tidak adanya pemahaman keagamaan atau kurangnya pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
B. Jenis-Jenis Pola Asuh Anak Di Desa Lamunga Kecamatan