2023
i SKRIPSI
IMPLIKASI KEMISKINAN TERHADAP POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA BARAT
Oleh
RENI MARDIANTI NIM 160202039
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
ii
IMPLIKASI KEMISKINAN TERHADAP POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA BARAT
Skripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum
Oleh
RENI MARDIANTI NIM 160202039
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2023
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi oleh: Reni Mardianti, NIM: 160202039 dengan judul “Implikasi Kemiskinan Terhadap Pola Asuh Anak di Desa Lamunga Kec. Taliwang Kab. Sumbawa Barat“ telah memenuhi syarat dan disetujui untuk di- munaqosyah-kan.
Disetujui pada tanggal:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. H. Usman,M.Ag.
NIP: 196312311992031026
Aisyah Wardatul Janah,S.H.,M.H.
NIP: 199201132019032018
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Ujian Skripsi
Yang Terhormat
Dekan Fakultas Syari’ah di Mataram
Mataram, 19 Januari 2023
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudari:
Nama : Reni Mardianti
NIM 160202039
Fakultas : Syari’ah
Program Studi : Hukum Keluarga Islam
Judul :Implikasi Kemiskinan Terhadap Pola Asuh Anak di Desa Lamunga Kec.
Taliwang Kab. Sumbawa Barat
Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Syari’ah UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.
Wasalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. H. Usman,M.Ag.
NIP: 196312311992031026
Aisyah Wardatul Janah,S.H.,M.H.
NIP: 199201132019032018 iv
vi
PENGESAHAN
Skripsi dengan judul “Implikasi Kemiskinan Terhadap Pola Asuh Anak di Desa Lamunga Kec. Taliwang Kab. Sumbawa Barat“ yang diajukan oleh Reni Mardianti, NIM. 160202039, Jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah UIN Mataram telah dimunaqasyahkan pada hari...2023 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Hukum.
Dewan Munaqasyah
Dr. H. Usman,M.Ag.
(Ketua Sidang/Pemb. I)
Aisyah Wardatul Janah,S.H.,M.H., (Sekretaris Sidang/Pemb. II)
(Penguji I)
(Penguji II)
Mengetahui,
vii
Motto
“Never give up and be the best”
=Reni Mardianti
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ini aku persembahkan untuk Mamaku tercinta Maryam, Almarhum Bapakku H. Ismail Musa . Untuk calon suamiku Juswandi Farta Wijaya ,juga aku dedikasikan untuk kesembilan saudara ku yang sudah memberikan suport finansial kepada penulis hingga perjuangan akhir ini. Terakhir penulis mempersembahkan skripsi ini untuk kedua sahabatku Feni Agustina dan Sri Aprianti yang sudah membersamai penulis di detik-detik terakhir perjuangan penulis.
ix
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur tak hentinya penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dalam rangka memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar sarjana hukum pada jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram.
Shalawat dan Salam untuk baginda Muhammad SAW Nabi yang yang telah mengeluarkan kita dari zaman jahilia menuju zaman Islamiah, dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang, semoga kita bisa menjadi pengikut setia beliau.
Selama proses penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa dalam proses tersebut tidaklah lepas dari dukungan, bantuan, motivasi, dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karenanya pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada.
1. Dr. H. Usman,M.Ag., dan Aisyah Wardatul Janah,S.H.,M.H., selaku pembimbing penulis selama penyusunan skripsi yang telah dengan sabar membimbing, memberikan arahan dan masukan secara terus menerus tampa rasa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. HJ. Ani Wafiroh,M.Ag., sebagai ketua jurusan Hukum Keluarga Islam.
3. Dr. Moh. Asyiq Amrulloh,M.Ag., Selaku Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Mataram.
x
4. Prof. Dr. H. Masnun Tahir,M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
5. Para dosen tercinta jurusan Hukum Keluarga Islam yang telah memberikan ilmu yang luar biasa, semoga ilmu ini dapat penulis gunakan untuk kemajuan agama, bangsa dan negara terutama untuk penulis pribadi.
6. Kedua orang tua penulis Almarhum Bapak H.Ismail Musa, ibu Maryam dan kesembilan kakaku yang telah berjuang dengan sepenuh jiwa untuk membesarkan, merawat, mendidik penulis hingga bisa seperti sekarang.
7. Terkhusus untuk calon suamiku Juswandi Farta Wijaya.
8. Kedua sahabatku Feni Agustina dan Sri Aprianti terimakasih sudah menemani penulis pada detik-detik akhir perjuangan penulis.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah SWT, dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin
Mataram,
Penulis
Reni Mardianti
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN ... v
LEMBAR PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 10
E. Telaah Pustaka ... 10
F. Kerangka Teori ... 15
G. Metode Penelitian ... 30
H. Sistematika Pembahasan ... 38
BAB II KEMISKINAN DAN POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA BARAT ... 41
A. Gambaran Umum Desa Lamunga Kecamatan Taliwang ... 41
xii
B. Kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang ... 46
C. Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang ... 58
D. Pola Asuh orang Tua di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang ... 61
BAB III ANALISIS BENTUK POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KECAMATAN TALIWANG ... 64
A. Hak-Hak Anak Menurut Undang-Undang dan Hukum Islam... 64
B. Jenis-Jenis Pola Asuh Anak Di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang ... 75
BAB IV ANALISIS IMPLIKASI KEMISKINAN TERHADAP POLA ASUH ANAK PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM DI DESA LAMUNGA KECAMATAN TALIWANG ... 84
A. Implikasi Kemiskinan Terhadap Pola Asuh Anak Perspektif Hukum ... 84
B. Analisis Hukum Keluarga Islam Terhadap Dampak Kemiskinan Pada Pola Asuh Anak ... 100
BAB V PENUTUP ... 110
A. KESIMPULAN ... 110
B. SARAN-SARAN ... 110
DAFTAR PUSTAKA ... 113
LAMPIRAN-LMPIRAN... 116
xiii DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Lamunga Kecamatan
Taliwang1 ... 43 Tabel 1.2. Mata Pencaharian Penduduk Desa Lamunga
Kecamatan Taliwang ... 45 Tabel 1. 3 Profil Informan ... 52
1 Data Desa Lamunga Kecamatan Taliwang Pada Kantor Desa Tahun 2022.
xiv
IMPLIKASI KEMISKINAN TERHADAP POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA BARAT
Reni Mardianti NIM 160202039
ABSTRAK
Penelitian ini berangkat dari permasalahan dalam pengasuhan anak yang berujung pada timbulnya permasalahan lainnya seperti pergaulan bebas, putus sekolah dan pernikahan usia anak. Hal ini disebabkan oleh kemiskinan yang terjadi di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang. Desa Lamunga Kecamatan Taliwang merupakan pemekaran dari Desa Batu Putih, sehingga belum terdapat peraturan Pemerintah Desa atau regulasi desa untuk meminimalisir dan memutus mata rantai kemiskinan. Terdapat dua rumusan masalah dalam penelitian ini yakni bagaimana bentuk kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang dan bagaimana implikasi kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang dan implikasi kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang. Untuk dapat memperoleh data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang memaparkan data dan analisis menggunakan kata-kata. Adapun tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan tehnik pengumpulan data tersebut peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian ini dengan tehnik observasi non partisipan. Terdapat dua sumber data utama dalam penelitian ini yakni data primer dan data sekunder yang kemudia di analisis melalui reduksi data, klasifikasi, analisis kemudian kesimpulan. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peneliti dapat dipaparkan bahwa terdapat tiga bentuk pola asuh yang terjadi di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang yaitu : a)Pola Asuh Otoriter; b)Pola Asuh Permisif dan; c)Pola Asuh Demokratis. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa kemiskinan mempengaruhi pola asuh yang diberikan pada anak. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemiskinan yaitu: a)pendidikan; b) pernikahan usia anak; c)manajemen ekonomi keluarga; d)lapangan pekerjaan dan; e) kebiasaan hutang mengutang.
Kantor Kunci: Implikasi, kemiskinan, Pola Asuh dan Anak
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat manusia, melakukan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawina yang sah.2 Selain itu tujuan lain yang ingin dicapai dalam perkawinan adalah terbentuknya keluarga sakinah mawaddah warohma dan mendapatkan keturunan soleh dan solehah. Anak merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang wajib dilindungi dan dijaga kehormatan, martabat dan harga dirinya secara wajar baik aspek secara hukum, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan.
Anak harus dijamin hak hidupnya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrah dan kodratnya, oleh karena itu segala bentuk perlakuan yang mengganggu dan merusak hak-hak anak dalam berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan harus dihapuskan tanpa kecuali.
Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak untuk pembentukan karakter serta meniru banyak hal terkait aktivitas yang
2 Syeh Muhammad Ahmad Kan’an, Nikah Syar’i, (Jakarta Pusat: Kalam Mulia, 2010), Hlm. 9.
dilakukan setiap harinya. Sehingga karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan sekitar yang turut bertasipasi disetiap harinya.3
Pada keluarga yang ideal pola asuh diberikan oleh kedua orang tua yang saling bahu membahu dalam merawat anak dengan tujuan anak tersebut dalam menemukan tujuan dan kebermanfaatan dalam hidup. Hal-h al yang dapat dilakukan dalam keluarga yakni saling menghargai, menghormati, memberikan pelajaran dan memberikan cinta kasih antara satu sama lain. Pola asuh merupakan bagian dari hak anak yang mesti ditunaikan kedua orangtuanya.
Pemenuhan hak anak menjadi kewajiban dan tanggung jawab utama orang tua. Singkatnya kewajiban dan tanggung jawab orang tua berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentang Perlindungan anak yaitu, a) mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak-anaknya; b) Pengasuhan disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat anak-anak;c) Mencegah terjadinya perkawinan usia dini pada anak-anak dan d) Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.4
Dalam Islam terdapat beberapa petunjuk tentang perlindungan terhadap hak-hak anak. Sejumlah ayat Al-Qu’an dan
3 Muhammad Dwi Candra Saputra, “Tinjaun Psikologi Keluarga..., Hlm. 2-3.
4Ditjen Bimas Islam KEMENAG RI , Fondasi Keluarga Sakinah Bacaan Mandiri Calon Pengantin, Tahun 2017, Hlm. 152.
hadist Nabi SAW. terdapat beberapa hak anak yakni;a) hak anak untuk hidup; b)hak anak dalam kejelasan nasabnya; c) hak anak dalam pemberian nama yang baik; c)hak anak dalam memperoleh ASI; d) hak anak dalam pemberian nama yang baik; e) hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan pemeliharaan; dan f) hak anak dalam kepemilikan harta benda.5
Hak anak ini bukan hanya terjamin dalam proses perkawinan, bahkan pasca terjadinya perceraian, orang tua tetap berkewajiban memenuhi hak-hak anak baik secara materil maupun non materil. Jika orang tua tidak dapat dan mampu memenuhi kewajiban tersebut, maka Negara, diwakili oleh pemerintah (nasional atau daerah) berkewajiban mengambil anak tersebut. 6
Dalam proses pemenuhan hak anak atau pengasuhan diperlukan ekonomi yang memadai disebabkan ekonomi merupakan salah satu farktor penunjang utama dalam kehidupan keluarga.
Kelangsungan pengasuhan yang baik yang diperoleh anak utamanya ditentukan oleh faktor ekonomi yang memadai. Akan tetapi pengasuhan ini bermasalah dikarena didorong oleh faktor kemiskinan yang dikenal di Indonesia saat ini yaitu kemiskinan struktural.
5 Mufidah, Psikologi Keluarga Islam..., 273-278.
6 Ditjen Bimas Islam KEMENAG RI , Fondasi Keluarga Sakinah..., Hlm. 153.
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang dialami oleh suatu golongan masyarakat karena suatu struktur sosial masyarakat yang tidak bisa ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Mengutip jurnal Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Miskin yang ditulis oleh Bagong Suyanto, faktor penyebab dari kemiskinan struktural adalah struktur sosial yang ada membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas-fasilitas secara merata.7
Perekonomian tidak stabil bahkan terkadang memiliki banyak kekurangan karena terjadi kemiskinan secara struktural dalam masyarakat. Kemiskinan yang secara terstruktur tidak memiliki banyak peluang untuk dapat melakukan perubahan. Seperti contohnya para petani yang menggarap dipersawahan orang lain yang hanya mengandalkan upah harian yang tidak seberapa.
Terlebih, tidak terdapat akses, pelayanan, pelatihan yang menjadikan kemiskinan secara struktural ini berkurang.
Dalam kasus yang terjadi di Desa Lamunga, kemiskinan menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat. Orang tua yang berkecimpung di ladang orang menjadikan kekurangan kuantitas
7Detik Edu, Definisi Kemiskinan Struktural Lengkap Dengan Ciri Dan Faktor Penyebabnya, Dalam Https://Www.Detik.Com/Edu/Detikpedia/D-5817212/Definisi- Kemiskinan-Struktural-Lengkap-Dengan-Ciri-Dan-Faktor-Penyebabnya, Diakses Pada 12 April 2022, Pukul 14.11 WITA.
waktu bersama anak. Terlebih, setelah melakukan pekerjaan yang cukup berat waktu yang digunakan dirumah hanya untuk beristirahat dan keesokan pagi melakukan rutintas yang sama kembali, secara continu.8
Terbatasnya waktu yang dihabiskan oleh orang tua akibat pekerjaan dengan ekonomi yang kurang memadai menjadikan anak kurang terurus dengan baik. Orang tua lebih memperhatikan kebutuhan anak secara materil tanpa terlalu memperhatikan kebutuhan non materil seperti kasih sayang dan mendidik anak sesuai dengan norma yang berlaku. Dampak dari hal tersebut antara lain: anak melakukan kawin lari, pergaulan bebas, minder,bahkan hamil diluar nikah.9
Dampak di atas menjadi parameter yang dapat mengukur bahwa pengasuhan memberikan pengaruh terhadap perilaku anak di Desa Lamunga. Selain masalah di atas, kemiskinan juga diakibatkan belum terdapat aturan atau regulasi dari Desa Lamunga. Desa Lamunga merupakan pemekaran dari Desa Batu Putih. Proses peralihan dan pembangunan masih gencar dilakukan oleh aparatur pemerintahan Desa untuk membentuk Desa Lamunga menjadi desa
2022.
2022.
8 Hasil Observasi Awal di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang, Tanggal 2 April
9 Hasil Observasi Awal di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang, Tanggal 2 April
yang lebih sejahtera. Namun, tak dapat dipungkiri masih banyak hal- hal yang belum dapat di atasi, salah satunya adalah masalah kemiskinan yang terjadi di Desa Lamunga.10
Definisi kemiskinan setiap daerah memiliki perbedaan, seperti dapat dikategorikan miskin apabila tidak mampu memiliki rumah sendiri. Namun, apabila berpindah daerah definisi miskin bisa saja apabila seseorang tidak memiliki kendaraan pribadi. Oleh sebab itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi kemiskinan dengan membuat kriteria besarannya pengeluaran per orang per hari sebagai bahan acuan. Dalam konteks itu, pengangguran dan rendahnya penghasilan menjadi pertimbangan untuk penentuan kriteris tersebut. Kriteria statistik BPS tersebut adalah: a)Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang; b)Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain; c)Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu; d)Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun; e)Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan; f)Pendidikan tertinggi kepala
10 Hasil Observasi Awal di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang, 8 April 2022.
rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD, dan;
g)Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.11
Salah satu contoh kasus yang terjadi pada keluarga AH dengan memiliki 5 orang anak. Sebut saja Bapak AH dan Ibu SR dengan status pekerjaan sebagai buruh tani di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang. Bapak AH dan Ibu SR lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja sebagai buruh tani.
Tidak banyak waktu yang diberikan oleh Ibu S dan Bapak A untuk anak-anaknya di rumah. Hal ini menjadikan tidak adanya kedekatan antara orang tua dan anak. Bapak AH dan ibu SR bahkan tidak memberikan anak-anaknya motivasi untuk melanjutkan sekolah yang menjadikan anak-anak tersebut putus sekolah bahkan terdapat anak-anak yang melakukan praktik pernikahan dini. Bahkan tak jarang orang tua di Desa Lamunga mengajak anak-anaknya untuk bekerja di sawah, sehingga anak-anak tersebut bolos sekolah beberapa hari.12
11 https://www.pancamulia.desa.id/index.php/artikel/2020/1/8/14-kriteria- miskin-menurut-standar-bps , Di akses pada tanggal 31 januari 2023, pukul 13.19 WITA.
12 Hasil Observasi Awal di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang, 2 April 2022.
Dapat di sampaikan bahwa berbagai kasus yang terjadi sesungguhnya diakibatkan pemikiran yang tidak terbuka dan keterbatasan ekonomi dalam mengakses bangku sekolah. Tidak adanya keterampilan dalam bekerja, mengasuh anak, pola pikir terbuka menjadikan kemiskinan struktural semakin berkembang dan hidup awet di Desa Lamunga kecamatan Taliwang. Berdasarkan argumen di atas peneliti ingin melakukan kajian lebih mendalam terkait dengan implikasi kemiskinan struktural dengan mengankat judul “Implikasi Kemiskinan Pada Pola Asuh Anak Di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang Sumbawa Barat”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk kemiskinan di Desa Lamunga kecamatan Taliwang?
2. Bagaimana implikasi kemiskinan terhadap pola asuh anak di Desa Lamunga kecamatan Taliwang?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bentuk kemiskinan di desa Lamunga kecamatan Taliwang.
b. Untuk mengetahui implikasi kemiskinan terhadap pola asuh anak di desa Lamunga kecamatan Taliwang.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan berguna dalam rangka pengembangan khazanah keilmuan islam, khususnya terkait dengan pola asuh orang tua dalam berbagai profesi.
b. Manfaat praktis
1. Bagi masayarakat di desa Lamunga Kecamatan Taliwangan hasil penelitian diharapkan menjadi bahan masukan dalam memberikan pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan anak sekalipun dalam kondisi ekonomi yang tidak memadai.
2. Bagi para pejabat penentu kebijakan, hasil penelitian ini diharapkan jadi bahan masukan dalam membuat kebijakan yang memberikan pelatihan atau workshop terkait pola asuh anak.
3. Bagi peneliti berikutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan pijak untuk penelitian selanjutnya.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Adapun ruang lingkup rencana penelitian ini adalah implikasi kemiskinan terhadap pola asuh anak perspektif hukum keluarga Islam dan bentuk pola asuh di desa Lamunga kecamatan Taliwang.
E. Telaah Pustaka
1. Penelitian yang dilakukan Riza Bahrudin pada tahun 2013 yang berjudul “Hubungan Kondisi Ekonomi Orang Tua Dengan Pola Asuh Anak Pada Paud Terpadu UPT SKB Bantul Kab Bantul”13
Pada penelitian yang dilakukan oleh riza Bahrudin menunjukan bahwa kondisi ekonomi yang dimiliki oleh siswa Paud Terpadu UPT SKB Bantul mayoritas (69,41) . Kateori tersebut menunjuklan bahwa tingkat pengeluaran yang dilakukan dalam pemenuhan sandang, pangan dan papan 1 hingga 6 juta setiap keluarga/bulan. Adapun pola asuh yang digunakan oleh orang tua mayoritas 32,94 menggunakan pola authoratitive. Pengujian membuktikan bahwa kondisi ekonomi yang dimiliki oleh orang tua tidak memberikan pengaruh pada pola asuh terhadap anak.
Dari pemaparan di atas ditemukan persamaan antara penelitian yang dilakukan Riza Bahrudin dengan peneliti yakni terletak pada aspek penelitian. Riza Bahrudin melakukan
13 Riza Bahrudin, “Hubungan Kondisi Orang Tua Dengan Pola Asuh Anak Pada Paud Terpadu UPT SKB Bantul Kab Bantul”(Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2013).
pengkajian pada hubungan kondisi ekonomi orang tua dengan pola asuh anak, sedangkan peneliti melakukan pengkajian pada pengaruh kemiskinan struktural yang mempengaruhi pola asuh anak. Aspek pengkajian sama-sama melihat pengaruh ekonomi pada pola asuh yang diberikan oleh orang tua. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Riza Bahrudin hanya menfokuskan pada aspek ekonomi saja dengan metode kualitatif sementara peneliti akan melakukan pengkajian mendalam menggunakan analisis berbagai perspektif seperti KHI dan juga UU perlindungan anak. Selain itu, setting penelitian yang dilakukan oleh Riza Bahrudin dengan peneliti berbeda, peneliti melakukan penelitian di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang sementara Riza Bahrudin melakukan penelitian di PAUD Terpadu UPT SKB Bantul.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Retno Wulandari pada tahun 2019 yang berjudul “Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga Beda Agama Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Kecamatan Purbolinggo Kabupetan Lampung Timur”14
Hasil penelitian menunjukan pola pengasuhan anak keluarga beda agama perspektif hukum Islam di Kecamatan
14 Retno Wulandari, “Pola Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Beda Agama Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Kecamatan Purbolinggo Kabupetan Lampung Timur”, (Skripsi, IAIN Metro, 2019).
Purbalinggo Kabupaten Lampung Timur, orangtua memberikan yang telah menjadi hak anak dalam memberikan kebutuhan pendidikan dan perlindungan, memberikan pengajaran ibadah dan akhlak kepada anak. Terdapat dua sampel keluarga yang dijadikan subjek penelitian dalam skripsi Retno Wulandari yang dalam praktiknya melaksanakan pernikahan dengan mempertahankan ajaran agama dan keyakinan masing-masing.
Dengan demikian hal tersebut menurut Kompilasi Hukum Islam pernikahan tersebut batal secara hukum dan agama. Adanya pernikahan beda agama tersebut dikhawatirkan pengasuhan anak tidak seimbang antara kedua orangtua tersebut.
Dari pemaparan di atas ditemukan persamaan antara penelitian yang dilakukan penulis dengan Retno Wulandari yakni terletak pada aspek penelitian yaitu pola asuh dengan menggunakan perspektif hukum Islam. Namun pada dasarnya, Retno Wulandari lebih mengfokuskan penelitiannya pada pola asuh keluarga beda agama sementara peneliti menfokuskan pada pola asuh yang diberikan orang tua dipengaruhi oleh kemiskinan struktural. Selain itu, peneliti akan berusaha menggunakan multi perspektif dalam mengkaji permasalahan yang diteliti sepeti perspektif hukum Islam, HAM, UU No. 1 Tahun 1974 dan KHI. Hal ini akan menjadi peluang yang
membedakan antara penelitian peneliti dengan Retno Wulandari. Terkait setting atau tempat penelitian antara peneliti dengan Retno Wulandari berbeda, peneliti melakukan penelitian di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang sementara Retno Wulandari melakukan penelitian di Kecamatan Purbalinggo.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Dwi Candra Saputra pada Tahun 2021 yang berjudul “Tinjaun Psikologi Keluarga Islam Tentang Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Dalam Keluarga Tenaga Kerja Indonesia”15
Hasil penelitian menunjukan terdapat beberapa tipe pola asuh dalam keluarga tenaga Kerha Indonesia yakni praktik pola asuh internal yang dilakukan oleh kakek-nenek/suami-istri sendiri dan pola asuh eksternal yang diberikan oleh pondiok pesantren. Pada hakikatnya pola asuh eksternal dan internal memberikan pengaruh yang signifikan pada karakter anak.
Pemaparan di atas menunjukan adanya persamaan dan perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan Muhammad Dwi Candra Saputra. Adapun persamaannya adalah terletak pada aspek penelitian yaitu pola asuh anak. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Dwi Candra
15 Muhammad Dwi Candra Saputra, “Tinjaun Psikologi Keluarga Islam Tentang Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak Dalam Keluarga Tenaga Kerja Indonesia” (Skripsi, IAIN Ponorogo , 2021).
Saputra hanya mengkaji berbagai perbedaan pola asuh dan dampak pada psikis dan perilaku anak. Sementara penelitian yang dilakukan oleh peneliti akan membahas menyeluruh dengan menggunakan tolak ukur kemiskinan strutural dalam melihat gaya pola asuh yang diberikan pada anak di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
Berdasarkan tiga pemaparan di atas menunjukan bahwa terdapat kekosongan pembahasan kemiskinan struktural dalam mempengauhi pola asuh anak. Padahal pembahasan mengenai kemiskinan struktural penting berkaitan dengan fakta lapangan yang menunjukan bahwa kemiskinan struktural melanda sebagaian besar masyarakat hari ini. Dengan adanya hal tersebut, penting untuk diketahui apakah kemiskinan struktural tersebut mempengaruhi pola asuh yang diberikan atau tidak memiliki implikasi sama sekali.
Analisis yang akan peneliti lakukan dengan menggunakan multi perspektif seperti perspektif hukum Islam, KHI, UU No. 1 Tahun 1974 dan bahkan UU Perlindungan anak. Hal ini berkaitan dengan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan terbaik dari orang tua yang telah dijamin oleh Undang-undang.
F. Kerangka Teori
1. Relasi Orang Tua-Anak
Hubungan antara orang tua dan anak dapat memberikan pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, penguasaan terhadap keterampilan dan kompetisi, informasi, dukungan emosi dan berbagai pengaruh lain yang didapatkan sejak dini hingga anak dewasa (Thompson). Dengan adanya hubungan berkualitas tentu akan memberikan positif bagi tumbuh kembang anak seperti kesejahteraan, perilaku baik, penyesuaian dan nilai pesta. Dan sebaliknya hubungan yang tisdak memiliki kualitas yang baik atau kualitas hubungan buruk dapat menimbulkan perilaku buruk seperti masalah psikologis pada diri anak.16
Dalam hal ini orang tua memiliki sumbangsih paling penting dalam proses perkembangan dan tumbuh kembang anak yang berujung pada pembentukan karakter anak. Sedikit yang menyadari bahwa andil kedua orang tua dan kualitas menghabiskan waktu bersama cukup mempengaruhi kondisi psikis anak. Faktanya banyak orang tua yang lebih terobsesu dengan kekayaan, pekerjaan, status sosial sehingga kurang menghabiskan waktu bersama anak. Berbagai kesibukan
16 Ibid..., Hlm. 16.
tersebut menyeret orang tua untuk lupa pada kewajiban dalam memberikan pengawasan dan perhatian penuh terhadap anak.17
Orang tua yang cenderung memilih hingga berakhir pada obsesi dengan pekerjaan kurang andil dalam pembentukan karakter anak. Hal ini berbanding terbalik dengan orangtua yang dapat memenej waktunya antara pekerjaan dengan waktu yang dihabiskan untuk anak. Orang tua yang lebih memilih pekerjaan lebih dominan memenuhi kebutuhan anak dengan pemenuhan kebutuhan materi. Hubungan atau relasi yang baik antara anak dan orang tua dapat diukur dalam pemenuhan kebutuhan anak baik secava materil maupun non materil.
Suatu relasi yang baik akan mempengaruhi kesejahteraan anak baik secara fisik maupun psikis.18
Hubungan dan relasi baik yang dibangun antara orang tua dan anak dapat diukur dari keterikatan dan suasana yang terjadi dalam keluarga tersebut. Relasi yang baik akan menjadikan keluarga tersebut hangat dan saling terikat antara satu sama lain. Kontrol emosi antara orang tua dan anak akan mempengaruhi kualitas relasi yang terbentuk. Terdapat beberapa aspek yang menujukan relasi tersebut berkualitas
17 Wanda Nikita Rizki A. A., Relasi Antara Orang Tua Dan Anak Pada Remaja Pelaku Delinkuensi, (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2019), 2.
18 Wanda Nikita Rizki A. A., Relasi Antara Orang..., Hlm. 3.
yakni: a) Kepercayaan yang dimiliki orang tau terhadap anak;
b) Kepercayaan anak dengan orang tua;c) Anak memiliki ketersediaan berkomunikasi dengan orang tua; d) Kepuasan anak terhadap kontrol yang diberikan orang tua dan e)Terdapatnya keterbukaan dan rasa empati keduanya.19
2. Pola Asuh
Bagaimana cara orang tua dalam berinteraksi dengan anak secara total dengan meliputi pemeliharaan, pemberian perlindungan dan pengajaran yang baik terhadap anak disebut sebagai pola asuh (Hetherington dan Parke dikutip dari sanjiwani).20Sedangkan pendapat Hersey menyatakan bahwa pola asuh merupakan salah satu bentuk kepemimpinan yang memberikan pengaruh yang kuat oleh orang tua kepada anaknya.21
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh merupakan cara yang ditempuh oleh orang tua dengan berinterkasi dan memberikan perhatian, pengarahan agar mampu mencapai hal- hal yang diinginkan. Dengan adanya pola asuh yang baik serta
19 Wanda Nikita Rizki A. A., Relasi Antara Orang..., Hlm. 4.
20 Wanda Nikita Rizki A. A., Relasi Antara Orang Tua Dan Anak Pada Remaja Pelaku Delinkuensi, (Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2019), 2.
21 Lili Garliah, Peran Pola Asuh Orang Tua Dalam Memotivasi Berprestasi, Jurnal Psikologi, Vol. 1, No. 1, Juni 2005, 30
positif antara orang tua dan anak akan memunculkan konsep diri yang positif dalam menilai dirinya sendiri. 22
Terdapat beberapa pola asuh menurut Diana Baumrind antara lain sebagai berikut:
a. Pengasuhan otoriter
Bentuk pola asuh otoriter yakni orang tua membatasi ruang gerak anak dan kerap kali memberikan sanksi apabila anak melakukan pelanggaran yang tidak sesuai dengan keinginan serta perintah dari orang tua. Pola asuh otoroiter digambarkan sebagai pola asuh yang semena-mena dengan kebebasan orang tua atau ketidakseganan orang tua dalam memberikan sangksi ynag terkesan menyakiti anak. Dalam hal ini orang tua kerap kali menunjukan kemarahannya, memaksakan berbagai aturan tanpa memberikan pemahaman serta penjelasan kepada anak terkait dengan aturan atau larangan tersebut.
Praktiknya, anak yang diberikan pola asuh seperti ini kurang bahagia, memiliki rasa takut, memiliki tingkat komunikasi yang rendah karena memiliki ketakutan akibat tekanan yang diberikan oleh orang tua.
22Rifa Hidayah, Psikologi Pengasuhan Anak, (Malang: UIN Malang Press, 2009), 16
b. Pengasuhan Demokratis
Pola pengasuhan yang dimana orang tua mendukung anak agar mandiri akan tetapi orang tua tetap memberikan bantuan atau kendali pada tindakan anak.
Orang tua otoritatif biasanya memberikan kebebasan apapun akan tetapi orang tua tetap memberikan nasehat atau arahan. Orang tua yang menerapkan pola p engasuhan seperti ini biasanya sifat kehangatan dan memberikan kasih sayang penuh. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh orang tua dalam pola asuh demokratis:
1)Orang tua tidak menuntut anak dalam hal apapun. Yang mesti dipahami bahwa disini buka berarti orang tua pasrah atau tidak memiliki harapan dan impian lebih terhadap anak, namun orang tua mengerti dan menghargai setiap kemampuan yang dimiliki anak. Dalam hal ini, orang tua memahami bahwa anak memiliki kemampuan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak yang lainnya;2) Orang tua memberikan kebebasan. Bebas dalam hal ini tidak mempunyai makna ynag sempit. Bebas yang dimaksud yakni anak berhak memilih apa yang diminati, disukai dan jalan hidup yang akan dijalani , selama tidak
bertentangan dengan norma-norma; 3)Orang tua menjelaskan pada anak bahwa anak tetap memiliki aturan.
Kebebasan yang diberikan memiliki batasan dengan adanya aturan yang melekat dalam kebebasan tersebut. Hal ini akan membatasi anak dan anak mengetahui konsekuensi dari setiap tindakan dan keputusan yang diambil dalam mengangggapi kebebsan tersebut. 23
c. Pengasuhan Permisif
Orang tua tidak pernah mengambil peranan penting dalam kehidupan anak dan tidak pernah ikut andil dalam keputusan yang dibuat oleh anak disebut sebagai pola pengasuhan permsisif. dalam hal ini anak diberikan otoritas penuh dalam kehidupannya tanpa diganggu gugat oleh orang tua. Hal ini juga dapat disebut bahwa orang tua mengabaikan peranannya dalam memberikan teguran bahkan terkesan tidak peduli dengan tumbuh kembang anak. Anak-anak yang tumbuh dalam pola asuh seperti ini biasanya cenderung melakukan pelanggaran-pelanggaran karena merasa bebas dan tidak memiliki konsekuensi dari perbuatannya.
23 Siti Nur Aidah, Tips Menjadi Orang Tua Inspirasi Masa Kini, 7-8.
d. Pengasuhan Situasional
Pengasuhan situasional dapat dikatakan sebagai pola asuh yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam hal ini, orang tua tidak berperan dalam menuntun anak serta memberikan kontrol pada kehidupan anak sehari-hari. Dalam praktiknya, anak yang diasuh oleh orang tua seperti ini kerap kali menjadi manja, banyak melakukan pelanggaran karena mereka tidak mampu menyadari sebuah peraturan.24
3. Hak Anak Dalam Hukum Islam
a. Hak anak menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI)
Dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat pengaturan pemeliharaan anak yakni dalam pasal 105 dan 106. Dalam hal terjadinya perceraian: a) Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun (dua belas) adalah hak ibunya25;b)Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau
24 Agoes Dariyo, Psikologi `Perkembangan Remaja, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), 97.
25 Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia ,(Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997), Hlm. 82.
ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya; c) Biaya pemeliharaan anak di tanggung oleh ayah.26
Ketentuan pasal dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai pengasuhan anak sebenarnya menitikberatkan tanggung jawab pemeliharaan anak kepada keduanya (orang tua). Kompilasi hukum Islam juga memberikan batasan umur kepada anak untuk memilih sendiri untuk ikut tinggal bersama dengan ayah/ibu apabila keduanya melangsungkan perceraian. Dalam hal ini, biaya pemeliharaan dibebankan kepada ayah sekalipun telah bercerai atau tidak tinggal bersama dengan anak.
Mengenai hak anak dalam mendapatkan kepemilikan harta dari orang tua ditegaskan pada pasal 106 ayat (1) Orang tua berkewajiban merawat dan mengembangkan harta anaknya yang belum dewasa atau di bawah pengampuan, dan tidak diperbolehkan memindahkan atau menggadaikannya kecuali karena keperluan yang mendesak jika kepentingan dan kemaslahatan anak itu menghendaki atau suatu kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Dan ayat (2) menegaskan:
26 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, 264.
Orang tua bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan dan kelalaian.27 Pada ayat (2) ini memberikan ketegasan bahwa jika terjadi kerugian atas harta anak tersebut yang disebabkan karena faktor kelalaian dan kesalahan, maka semuanya menjadi tanggung jawab orang tua, baik ayah atau ibunya.
Mengenai ketentuan hak anak dalam mendapatkan biaya penyusuan, dijelaskan dalam pasal 104 ayat (1) Semua biaya penyusuan anak dipertanggung jawabkan kepada ayahnya. Dan ketegasaan batas waktu menyusukan anak, dijelaskan pada ayat (2) Penyusuan dilakukan untuk paling lama dua tahun dan dapat dilakukan penyapihan dalam masa kurang dua tahun dengan persetujuan ayah dan ibunya.28 Dua ketentuan di atas mengenai biaya penyusuan dan batas waktu penyusuan dengan jelas memberikan ketegasan bahwa biaya penyusuan sepenuhnya dibebankan kepada ayah, pengecualian ayat (1) tersebut, apabila ayahnya telah meninggal maka beban tersebut baru diserahkan kepada orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayahnya. Sementara dalam ayat (2)
27 Ibid 264.
28 Ibid 264.
Menegaskan tentang batas waktu penyusuan dengan ketentuan 2 tahun penuh tanpa mengurangi, hal tersebut dilakukan untuk memaksimalkan anak memperoleh ASI sebagai asupan pertama. Ayat tersebut tidak ada pengecualian harus mengubah batas waktu memberikan penyusuan.
b. Hak Anak Menurut Fikih
Pemeliharaan anak dalam konteks fikih dikenal dengan istilah ”hadhanah”. Dalam istilah bahasa hadhanah berarti ”meletakkan sesuatu dekat dengan tulang rusuk atau di pangkuan”, karena ibu waktu menyusukan anaknya meletakkan anak itu di pangkuannya, seakan-akan ibu disaat itu melindungi dan memelihara anknya, sehingga
”hadhanah” dijadikan istilah yang maksudnya: ”pendidikan dan pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak itu”.29
Hadhanah yang dimaksudkan lebih identik kepada pemeliharaan anak yang masih belum mumayyiz, dengan memelihara dari jasmani dan rohani. Bahkan hingga anak
29 Abd. Rahman Ghazali, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2006), 175.
mampu untuk mandiri dan bertanggung jawab. Dalam hal ini para ulama fikih mendifisikan: hadhanah yaitu meletakkan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani, rohani dan akalnya, agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawab30.
Tidak hanya persoalan pemeliharaan akan tetapi juga dalam hal pengasuhan yang dilakukan orang tua dengan segala potensi yang dimilikinya. Anak akan merasa nyaman jika senantiasa dalam asuhan orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan segala potensi orang tua diberikan sepenuhnya untuk anak.
Dalam konteks fikih dijelaskan bahwa pendidikan terbaik bagi seorang anak adalah apabila ia berada di bawah asuhan kedua orang tuanya: ayah dan ibunya yang membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang dan memberinya pendidikan yang baik, sehingga tumbuh subur
30 Ibid, 176.
dan sehat jasmaninya, demikian pula kecerdasan akalnya, keluhuran akhlaknya, dan kehalusan perasaannya. Akan tetapi, seandainya kedua orang tua terpaksa berpisah (bercerai), maka pemeliharaan anak yang belum mumayyiz (belum dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, kira-kira di bawah 12 tahun) menjadi hak ibunya.
Dan jika si anak sudah dianggap mumayyiz, ia dipersilahkan memilih antara ikut dengan ibu ataupun ayahnya31.
4. Hak Anak Menurut Undang-Undang
Perhatian dalam bidang perlindungan anak menjadi salah satu dari tujuan pembangunan di Indonesia. Disadari atau tidak bahwa dalam proses pembangunan, sebagai akibat tidak adanya perlindungan terhadap anak, akan menimbulkan berbagai masalah di kehidupan sosial. Kaitannya dengan persoalan perlindungan hukum, Undang-undang Dasar 1945, pasal 34 menyatakan bahwa negara memberikan perlindungan kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Pengertian kesejahteraan anak dalam Undang-undang No. 4 tahun 1979 adalah anak yang dapat menjamin
31 Muhammad Bagir, Fiqih Praktisi II Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, Dan Pendapat Para Ulama (Bandung: Karisma, 2008), 237.
pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara rahasia, jasmani maupun sosial.32Sementara dalam hal perlindungan anak adalah disebutkan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuhberkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabatkemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.33
Dalam pasal 2 Undang-undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak merumuskan hak-hak anak sebagai berikut:
a. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang denganwajar.
b. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kepribadian bangsa dan untuk menjadi warga negara yang baik danberguna.
c. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan
32Irma Setyowati, Aspek Hukum Perlindungan Anak (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), 16.
33 Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak, 119.
dan perkembangan dengan wajar.34 5. Kemiskinan Struktural35
Arti kemiskinan hari ini yang menyebar di masyarakat sangat beragam. Dalam sebuah definisi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan yaitu sebuah kondisi yang dimiliki oleh seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Yang dimaksud dengan kebutuhan dasar dalam hal ini yakni, kebutuhan subtansi, afeksi, security, kebutuhan terhadap identitas, proteksi, partisipasi dan waktu yang luang. Apabila digabungkan dengan konsep struktural dapat diartikan sebagai sebuah kondoisi atau keadannya tidak mampunya memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia karena adanya struktur sosial dalam masyarakat yang rumit yang menyebabkan masyarakat termarjinalisasikan dan sulit meperoleh akses.
Arti kemiskinan dan kemiskinan secara struktural dapat kita kaji melalui unsur-unsur sosial yang ada dalam masyaraka, menurut soejono soekanto dalam hal ini meliputi:
budaya, lembaga sosial, kelompok sosial,
34 Irma Setyowati, Aspek Hukum, Hlm. 17
35 Heru Purwandi, Respon Petani Atas Kemiskinan Struktural (Kasus Desa
Perkebunan Dan Desa Hutan), Jurnal Unej Dalam
Https://Jurnal.Unej.Ac.Id/Index.Php/JSEP/Article/Download/364/222 Pada Tanggal 25 April 2022.
kekuasaan/wewenang dan stratifikasi sosial. Dari berbagai unsur tersebut, kita dapat memperoleh berbagai gambaran yang menyebabkan terjadinya kemiskinan secara struktural.
Unsur-unsur pokok yang melekat dalam kemiskinan struktural yakni dimana kemiskinan struktural terjadi pada masyarakat, terdapat perubahan kondisi yang terjadi dan disebabkan masyarakat mampu beradaptasi terhadap kondisi yang ada. Dalam hal ini masuknya unsur asing yang menjadi penyebab kemiskinan struktural membawa pengaruh kepada pola adaptasi yang harus mereka terapkan.
Kemiskinan struktural yang terjadi pada dua komunitas dipicu oleh adanya kapitalisme yang merasuki seluruh sektor, diantaranya adalah sektor perkebunan dan kehutanan.
Kemiskinan struktural akan berbeda bentuk tergantung dari struktur sosial masyarakat dan juga tergantung pada pihak penguasa yang bermain dalam komunitas tersebut. Respon atas kemiskinan struktural diilhami oleh kondisi masyarakat dimana mereka dalam kondisi termarjinalisasi dan dalam posisi struktur sosial yang timpang sehingga mereka dalamkondisi miskin dan dimiskinkan.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan ini didesain untuk mengkaji implikasi kemiskinan struktural orang tua terhadap pola asuh anak di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang. Sehubungan dengan desain tersebut, penelitian ini dijalankan dengan metode kualitatif, karena karakteristik metode kualitatif sejalan dengan fenomena konteks yang dikaji dan tujuan penelitian yang ditetapkan.
Karakteristik penelitian kualitatif adalah penelitiannya menggunakan latar ilmiah (naturalistik), dengan maksud memahami fenomena yang dirasakan oleh subyek penelitian, seperti perilaku, motivasi, persepsi, dan lainnya secara holistik dengan cara menggambarkannya dalam bentuk kata dan bahasa dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.36 Sedangkan karakter utama dari penelitian kualitatif adalah melakukan wawancara mendalam yang dilakukan terhadap variabel mandiri.37
Berdasarkan karakteristik metode kualitatif di atas, pertimbangan utama penggunaan metode kualitatif adalah
36 Moleong.L.J, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), 10.
37 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif, (Bandumg: PT Alfabate, 2001) .6.
adanya keinginan untuk mendalami, memahami fenomena munculnya permasalahan pada bentuk pola asuh anak dan implikasi dari kemiskinan struktural terhadap bentuk pola asuh tersebut.
Penggunaan metode kualitatif dalam penelitian ini dipandang lebih relevan untuk mendalami fenomena implikasi kemiskinan struktural dalam pola asuh anak dan berbagai problematika yang muncul dari masalah tersebut.
2. Kehadiran Peneliti
Peneliti ingin mendapatkan data yang akurat dan utuh serta pemahaman penelitian sehingga instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Sejauh mana peneliti memahami gejala yang menjadi objek penelitian ditentukan oleh pertanyaan yang telah peneliti rancang dan kemampuan memahami gejala-gejala yang ada di lapangan. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan mutlak dibutuhkan. Kehadiran peneliti yang dimaksudkan disini merupakan peran dan upaya dalam memperoleh data yang dibutuhkan. Dalam hal ini, berperan sebagai pengumpul data yang langsung melibatkan diri sendiri sebagai subyek peneliti dalam waktu yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan jadwal penelitian.
3. Data dan Sumber data
Sumber data dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder.
a. Data primer merupakan data yang dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dilapangan sesuai dengan kebutuhan dari peneliti tersebut. data primer dikenal dengan data asli atau data yang bersifat noveltyAdapun informan penelitian ini adalah para orang tua, anak dan informan pendukung lainnya seperti tokoh agama dan tokoh masyarakat. Pemilihan informan akan disesuaikan dengan kemampuan memberikan data yang terkait dengan topik penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan ketelitian peneliti dalam menilai dan menyeleksi informan yang mampu memberikan data tersebut. Adapun informan peneliti yaitu keluarga yang termaksud kategori kemiskinan struktural (bapak, ibu dan anah), tokoh agama dan tokoh masyarakat di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
b. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber- sumber yang telah ditemukan atau dituangkan dalam
naskah, laporan dan undang-undang terkait dengan topik yang diteliti. Adapun data sekunder dalam penelitian ini yaitu UU tentang perlindungan anak, KHI, UU No 1 Tahun 1974 dan UU tentang kesejahteraan anak.
4. Tehnik Pengumpulan Data
Mengacu pada metode kualitatif yang digunakan dalam desain penelitian ini, adapun metode pengumpulan data yang digunakan peneliti sebagai alat menjawab rumusan masalah yang telah diajukan melipu tiga metode, yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi.
a. Observasi
Adapun observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian adalah observasi tidak langsung (non partisipant), merupakan suatu proses pengamatan tanpa ikut dalam kehidupan orang yang akan di observasi yang secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat.
Untuk melakukan observasi terhadap pengaruh kemiskinan terhadap pola asuh anak, peneliti akan berkunjung kerumah masing-masing dan melakukan pendekatan agar bisa melihat secara langsung bagaimana fakta yang sebenarnya setelah terlebih dahulu menjelaskan
maksud dan tujuan peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak berterus terang atau tersamar dalam observasi untuk menghindari data yang masih dirahasiakan oleh sumber data yang tidak diizinkan kalau di obervasi oleh peneliti.
b. Wawancara
Penelitian implikasi kemiskinan struktural orang tua terhadap pola asuh anak menggunakan wawancara tak terstruktur. Wawancara tak terstruktur yang merupakan wawancara dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara dengan susunan secara sistematis untuk pengumpulan datanya.
Terkait dengan waktu dan pelaksanaan wawancara penelitian ini disesuaikan berdasarkan kesepakatan antara peneliti dengan subyek penelitian. Artinya bahwa teknik pelaksanaan wawancara ini tidak mesti harus terjadi dalam suasana formal, namun sesuaikan dengan keluangan waktu dan kenyamanan antara subyek penelitian dengan peneliti.
Sebelum melakukan kegiatan wawancara terkait masalah yang diteliti, peneliti akan melakukan pendekatan dengan para informan agar terdapat rasa nyaman antara
peneliti dengan informan. Oleh karenanya, pada kunjungan pertama peneliti tidak akan melakukan wawancara namun hanya datang untuk sekedar berkunjung dan membangun hubungan baik. Namun, untuk rentan waktu pengumpulan data melalui wawancara ini tetap mempertimbangkan jadwal penelitian yang ada. Begitu juga dengan teknik wawancara, selain dilakukan secara perorangan dimungkinkan dilaksanakan secara berkelompok sesuai dengan kenyamanan subyek penelitian. Jadi, metode wawancara ini diatur dan dilakukan senyaman mungkin oleh peneliti dengan subyek penelitian, sehingga diharapkan dapat memperoleh informasi atau data yang holistik, valid, mendalam, dan obyektif terkait dengan pertanyaan penelitian.
c. Dokumentasi
Proses dokumentasi ini, peneliti gunakan untuk pengambilan beberapa data yang mungkin sulit untuk didapatkan kembali. Seperti perekaman saat wawancara sebagai alat untuk menyisipkan data yang didapatkan secara verbal.
5. Tehnik Analisis Data
Analisa kualitatif yang akan peneliti lakukan yakni dengan cara memilah-milah, mencari dan menemukan poin penting yang dapat menjawab seluruh rumusan masalah.
Sesuai dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini, maka teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah analisis deskriptif kualitatif/non-statistik atau analisis isi (content analysis).38 Adapun tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Reduksi data (editing), merupakan kegiatan memilah dan menfokuskan hal urgent/penting sesuai dengan pokok- pokok masalah dan rumusan masalah dalam penelitian.
Dalam kegiatan ini melakukan pengecekan kelengkapan data yang dimiliki serta keakuratan data yang diperoleh dilapangan baik wawancara ataupun observasi.
b. Klasifikasi (classifying), merupakan kegiatan yang dilakukan dengan melakukan pengecekan kembali data yang bersumber dari jurnal, buku, laporan dengan tujuan memudahkan kegiatan analisis dan memudahkan peneliti dalam proses penulisan. Kegiatan ini juga betujuan untuk
38 Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian ,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 80.
memudahkan menjawab rumusan masalah sesuai dengan topik yang diteliti.
c. Analisis (analizing) Analisis data dimiliki sejak pemetaan/mengovganisir lalu melakukan urutan data dalam pola dan sesuai dengan uraian. Berdasarkan data yang ditemukan dilapangan peneliti berusaha untuk dideskripsikan, diinterprestasi dan di analisis. Sehingga analisis dalam penelitian bersifat deskriptif, interpretatif dan analitik.
d. Kesimpulan (concluding), yaitu peneliti akan berusaha memberikan jawaban terhadap permasalahan-permasalahan sebelumnya sesuai dengan data-data yang diperoleh dilapangan.
6. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data atau validitas data merupakan pembuktian bahwa apa yang telah diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada di dunia nyata. Menurut Nasution “untuk memperoleh keabsahan data, peneliti melakukan uji kredibilitas. Kredibilitas mengacu pada validitas atau kepercayaan akan kebenaran data yang
diperoleh”.39 Kredibilitas data bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya dilapangan. Untuk mendapatkan data yang valid atau benar, penulis melakukan peningkatan ketekunan dan tringgulasi.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN: Pada bab pertama peneliti akan mencoba mengunkapkan: A)Latar belakang, hal ini ntuk memperjelas pentingnya pemilihan judul dimaksud, B)Rumusan masalah, pada hal ini peneliti akan mencoba untuk merumuskan permasalahan dalam konteks peneliti membatasi pembahasan terhadap hal-hal urgen, C) Tujuan dan manfaat, pada hal ini peneliti akan memaparkan kegunaan apabila penelitian dilaksanakan, D)Ruang lingkup dan setting penelitian, E)Telaah Pustaka, dipaparkan sebagai perbandingan, persamaan dengan penelitian sebelumnya dan menjelakan kekosongan penelitian terdahulu yang akan dilengkapi oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti, F) Kerangka teori, menjelaskan konsep-konsep pokok , serta
39Nasution, Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1992), Hlm. 57.
kontekstualisasi relevansi unsur bagi penelitian. G)Metode penelitian yang merupakan cara tepat untuk memecahkan masalah, sehingga dalam bab ini di paparkan, 1)Pendekatan dan jenis penelitian, 2)Lokasi penelitian, 3)Kehadiran peneliti, 4)Sumber dan jenis data, 5)Tehnik pengumpulan data, 6)Tehnik analisa data, 7)Pengecekan keabsahan data ,H)Sistematika pembahasan.
BAB II KEMISKINAN DAN POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA: Pada bab kedua ini memaparkan tentang seluruh hasil temuan di lapangan terkait dengan gambaran umum lokasi penelitian Desa Lamunga Kecamatan Taliwang . Dengan sistematika: A. Gambaran Lokasi Penelitian: 1. Kondisi Geografis; 2. Jumlah Penduduk; 3. Mayoritas Pekerjaan; dan 4. Pendidikan.
BAB III BENTUK POLA ASUH ORANG TUA : Pada bagian ini peneliti akan mengungkapkan terkait dengan bentuk pola asuh orang tua di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang. Dalam hal ini peneliti akan mencoba menilai bentuk-bentuk pola asuh berdasarkan teori dengan fakta lapangan. Sehingga peneliti dapat merumuskan bentuk-bentuk pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang.
BAB IV IMPLIKASI KEMISKINAN STRUKTURAL
PERSPEKTIF HKI: Dalam bab ini juga peneliti akan memaparkan bentuk-bentuk pola asuh orang tua dengan langsung melakukan analisis dengan teori yang relevan. Pada baagian ini akan melakukan analisis kemiskinan struktural terhadap pemenuhan hak anak dengan melihat menggunakan beberapa perspektif yaitu HKI, Undang- undang Perlindungan Anak dan UU No. 1 Tahun 1974.
BAB V KESIMPULAN: Pada bab ini peneliti akan menguraikan kesimpulan dari penelitian yang merupakan jawaban dari fokus kajian, dan saran-saran.
BAB II
KEMISKINAN DAN POLA ASUH ANAK DI DESA LAMUNGA KEC. TALIWANG KAB. SUMBAWA BARAT
A. Gambaran Umum Desa Lamunga Kecamatan Taliwang 1. Sejarah Desa Lamunga Kecamatan Taliwang
Desa Lamunga adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Desa Lamunga merupakan pemekaran dari Desa Batu Putih yang sekarang menjadi desa tersendiri dan disebut Desa Lamunga.
Desa Lamunga mekar pada tanggal 27 Desember 2017 yang kemudian di definitifkan pada tanggal 9 November 2022.
Oleh karena itu, terdapat berbagai permasalahan yang muncul dan berkembang di Desa Lamunga hingga hari ini disebabkan Desa Lamunga merupakan desa baru yang masih memulai pembangunan dari berbagai hal.
Secara Geografis Luas wilayah daratan Desa Lamunga adalah 12.75 Km2. Desa Lamunga terdiri dari 4 dusun diantaranya, Dusun Ai Ngero, Dusun Lamunga Bawah, Dusun Lamunga Atas, dan Dusun Otak Desa. Di empat dusun tersebut tersebar 1.962 orang yang tinggal di Desa Lamunga.40
40 wawancara Bapak Hamdan Agani, Tanggal 6 Oktober 2022.
Batas-batas administrasi wilayah Desa Lamunga adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Desa Taliwang
Sebelah Selatan : Desa Kampung Bugis
Sebelah Timur : Kecamatan Taliwang
Sebelah Barat : Desa Batu Putih
2. Tingkat Pendidikan Desa Lamunga Kecamatan Taliwang Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia. Dengan pendidikan dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan produktivitas masyarakat. Pendidikan dapat pula dilihat sebagai investasi sumberdaya manusia dan hasilnya akan diperoleh beberapa tahun kemudian.41
Pendidikan memegang peranan penting untuk mencetak SDM yang berkualitas, karena proses pendidikan dapat merubah pola pikir masyarakat. SDM yang berkualitas akan menjadi aset pembangunan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, informasi mengenai situasi dan kondisi terkini pendidikan penduduk sangat
41 PEMKAB BIMA, “Pofil Kabupaten Bima, Pendidikan”, Diakses 02 November 2021, Https://Bimakab.Go.Id/Img/Ck/Doc/2eac454e30070036a90a8a844c2871f7.Pdf .
diperlukan untuk perencanaan pembangunan. Kondisi pendidikan penduduk secara tidak langsung juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk. Semakin baik kondisi pendidikan penduduk, akan mencerminkan peningkatan kesejahteraan penduduk.42
Secara nasional tingkat pendidikan di Indonesia masih rendah, yakni masih setara dengan SMP kelas 1.
Demikian halnya dengan tingkat pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih tergolong rendah, yakni setara dengan tingkat SD pada tahun 2015 (rata-rata lama sekolah 6,71 tahun), sementara di Desa Lamunga dapat penulis gambarkan sebagai berikut:
Tabel 1.1.
Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Lamunga Kecamatan Taliwang43
No Tingkat Pendidikan Dusun Ai Ngero
Dusun Lamunga
Bawah
Dusun Lamunga
Atas
Otak Desa
Jumlah
1 Belum sekolah 72 55 78 77 282
2 Belum tamat 94 65 121 113 393
42PEMKAB BIMA, “Pofil Kabupaten Bima, Pendidikan”, Diakses 02 November 2021, Https://Bimakab.Go.Id/Img/Ck/Doc/2eac454e30070036a90a8a844c2871f7.Pdf .
43 Data Desa Lamunga Kecamatan Taliwang Pada Kantor Desa Tahun 2022.
3 SD sederajat 139 173 203 158 678
4 SLTP 21 41 57 66 185
5 SLTA 13 47 72 77 209
6 Diploma I/II 1 1 1 1 5
7 Diploma III - 3 19 7 29
8 Diploma IV/ Starata I 5 10 31 9 55
9 Starata II - - - - -
10 Starata III - - - - -
Berdasakan data di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendidikan masyarakat Desa Lamunga adalah SD sederajat sebanyak 678 orang. Sangat disayangkan masih banyak masyarakat yang tidak sekolah sebanyak 282 orang, sedangkan yang tidak tamat SD 393 orang. Hal ini sangat disayangkan mengingat pendidikan merupakan modal penting untuk memberikan pengasuhan yang baik untuk anak. Namun, syukurnya terdapat 209 orang tua yang menempuh pendidikan SLTA, 5 orang yang menyelesaikan pendidikan D/I, 29 orang menyelesaikan pendidikan D/II dan terdapat 55 orang yang menyelesaikan pendidikan di bangku D/IV atau setara S1.
3. Mata Pencaharian Penduduk Desa Lamunga Kecamatan Taliwang44
Tabel 1.2.
Mata Pencaharian Penduduk Desa Lamunga Kecamatan Taliwang
No Jenis Lapangan Usaha Jumlah Penduduk yang
Bekerja %
1 Belum bekerja 469
2 Ibu rumah Tangga 389
3 PNS 22
4 Petani 340
5 Karyawan Swasta 77
6 Buruh tani/harian 54
7 Wiraswasta 32
8 Perangkat Desa 10
9 Pelajar/ mahasiswa 290
10 Lainnya 148
Total 1831
Berdasarkan data yang didapatkan di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat Desa Lamunga
44 Ibid.
belum bekerja. Terlihat bahwa terdapat 469 orang yang menganggur dari jumlah masyarakat 1.831 orang. Selain menganggur, mayoritas masyarakat Desa Lamunga juga bekerja sebagai petani dengan jumlah 340 orang. Namun, profesi Ibu rumah Tangga jauh lebih banyak dengan selisih 49 orang. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa rata-rata masyarakat yang tidak bekerja lebih dominan banyak daripada jumlah masyarakat yang memiliki penghasilan.
B. Kemiskinan di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).
Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapital perbulan dibawah garis kemiskinan.45
Perbaikan tingkat kemiskinan pada Maret 2022 terjadi secara merata baik di seluruh pulau di Indonesia maupun di tingkat pedesaan dan perkotaan. Secara spasial, tingkat kemiskinan di
45 Badan Pusat Statistik, Https://Ppukab.Bps.Go.Id/Subject/23/Kemiskinan.Html, Di Akses Tanggal 12 Desember 2022, Pukul 14.39 WITA.