• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG PERKAWINAN CAMPURAN

B. Hak-Hak atas Tanah

1. Asas-Asas dalam Undang-Undang Pokok Agraria

Dalam UUPA dimuat sebelas asas dari Hukum Agraria nasional. Asas-asas ini karena sebagai dasar dengan sendirinya harus menjiwai pelaksanaan dari UUPA dan segenap peraturan pelaksanaannya.

a. Asas Kenasionalan82

Asas kenasionalan ini ditemukan dalam Pasal 1 ayat (1), (2) dan (3) UUPA. Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang

81 Ibid, hal 2-3

82 Urip Santoso, Hukum Agraria Kajian Komprehensif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hal. 53-54

angkasa Indonesia adalah bersifat abadi. Ini berarti bahwa selama rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia masih ada dan selama bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia itu masih ada pula, maka dalam keadaan apapun tidak ada sesuatu kekuasaan yang akan dapat memutuskan atau meniadakan hubungan itu.

b. Asas pada Tingkatan Tertinggi, Bumi, Air, Ruang Angkasa, dan Kekayaan Alam yang Terkandung di dalamnya dikuasai Oleh Negara.

Asas ini ditemukan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA. Hak menguasai dari negara tersebut diatas ditujukan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dalam arti terwujud kebahagiaan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

c. Asas mengutamakan Kepentingan Nasional dan Negara yang Berdasarkan atas Persatuan Bangsa daripada Kepentingan Perseorangan atau Golongan.

Asas ini ditemukan dalam Pasal 3 UUPA . Asas mengutamakan kepentingan nasional dan negara daripada kepentingan pribadi ditemukan juga dalam Pasal 18 UUPA.

d. Asas Semua Hak Atas Tanah Mempunyai Fungsi Sosial Asas ini ditemukan dalam Pasal 6 UUPA.

e. Asas hanya Warga Negara Indonesia yang Mempunyai Hak Milik

Asas ini ditemukan dalam Pasal 9 Ayat (1) UUPA. Asas ini juga ditemukan dalam Pasal 21 ayat (1) UUPA.

f. Asas Persamaan Bagi Setiap Warga Negara Indonesia

Asas ini ditemukan dalam Pasal 9 ayat (2) UUPA. Asas ini menetapkan bahwa WNI baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hak atas tanah.

g. Asas Tanah Pertanian Harus Dikerjakan atau Diusahakan Secara Aktif oleh Pemiliknya Sendiri dan Mencegah Cara-Cara Bersifat Pemerasan.

Asas ini ditemukan dalam Pasal 10 ayat (1) UUPA. Prinsip ini menegaskan bahwa siapapun yang mempunyai hak atas tanah untuk kepentingan wajib mengerjakan atau mengusahakan sendiri tanah pertaniannya secara aktif dan dalam mengerjakan atau mengusahakantanah pertanian tersebut harus dicegah cara-cara yang bersifat pemerasan.

h. Asas Tata Guna Tanah/Penggunaan Tanah secara Berencana

Asas ini di temukan dalam Pasal 2 ayat (2) huruf a UUPA. Asas ini juga ditemukan dalam Pasal 14 ayat (1) UUPA.

i. Asas Kesatuan Hukum

Asas kesatuan ditemukan dalam Diktum UUPA di bawah pernyataan

“Dengan Mencabut” ditetapan bahwa UUPA Mencabut seluruh peraturan yang ada sebelum lahir UUPA. Asas kesatuan hukum juga ditemukan dalam Pasal 5 UUPA.

j. Asas Jaminan Kepastian Hukum dan Perlindungan Hukum

Asas Jaminan kepastian hukum ditemukan dalam Pasal 19 ayat (1) UUPA. Asas perlindungan hukum ditemukan juga dalam Pasal 18 UUPA.

k. Asas Pemisahan Horizontal

Asas pemisahan horizontal ditemukan dalam Pasal 44 ayat (1) UUPA.

2. Ruang lingkup atas tanah

Tanah merupakan hak yang unik dan terbatas, oleh karena itu ia berharga.

Barang siapa menguasai tanah tersebut, juga menguasai potensi modal yang menguntungkan. Tanah memiliki nilai yang sangat strategis bagi kehidupan manusia.

Oleh karena tanah memiliki nilai yang sangat penting bagi kehidupan manusia, maka diperlukan tata kelola mengenai pemanfaatan, penggunaan, pengelolaan tanah untuk kepentingan kesejahteraan manusia.

Pentingnya arti tanah bagi kehidupan manusia ialah karena kehidupan manusia sama sekali tidak bisa dipisahkan dari tanah. Manusia hidup diatas tanah dan memperoleh bahan pangan dengan cara mendayagunakan tanah.83 Undang-undang No.5 Tahun 1960 mengatur Hak Atas Tanah, akan tetapi tidak memberikan pengertian hak atas tanah. Pasal 4 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1960 hanya menyebutkan bahwa hak atas permukaan bumi yang disebut tanah. Menurut Boedi Harsono, tanah dalam pengertian yuridis menurut UUPA adalah permukaan bumi, sedangkan hak atas tanah adalah hak atas permukaan bumi, yang berbatas, berdimensi dua dengan ukuran panjang dan lebar. Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada pemegang haknya untuk mempergunakan dan atau mengambil manfaat dari tanah yang dihaki.

83 Samun Ismaya, Hukum Administrasi Pertanahan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), hal.1.

Dasar hukum ketentuan hak-hak atas tanah diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA yaitu “Atas dasar hak menguasai dari negara atas tanah sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum.”

Pihak-pihak yang dapat menjadi pemegang hak atas tanah, adalah:84

a. Perseorangan yang berasal dari warga negara Indonesia atau orang asing yang berkedudukan di Indonesia;

b. Beberapa orang secara bersama-sama, yaitu:

1) Beberapa orang secara bersama-sama yang mempunyai hubungan darah yaitu hak atas tanah yang dipunyai oleh ahli waris yang berjumlah orangnya lebih dari 1 (satu) orang;

2) Beberapa orang secara bersama-sama yang tidak mempunyai hubungan darah yaitu hak atas tanah yang dipunyai oleh seluruh pemilik satuan rumah susun.

c. Badan-badan hukum, yaitu:

1) Badan hukum publik;

2) Badan hukum privat;

3) Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia; Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia.

84 Urip Santoso. Hak atas Tanah, Hak Pengelolaan, dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, (Depok; Kencana, 2017), hal.6-7

Hak atas tanah bersumber dari hak menguasai negara atas tanah dapat diberikan kepada perseorangan baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, sekelompok orang secara bersama-sama, dan badan hukum baik badan hukum privat maupun badan hukum publik.

3. Hak Penguasaan atas Tanah

Pengertian “penguasaan” dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti yuridis. Juga beraspek privat dan beraspek publik. Penguasaan dalam arti yuridis adalah penguasaan yang dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan pada umumnya member kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki, misalnya pemilik tanah menggunakan atau mengambil manfaat dari tanah yang dihaki, tidak diserahkan kepada orang lain.

Ada penguasaan yuridis, yang biarpun member kewenangan untuk menguasai tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataannya, penguasaan fisiknya dilakukan oleh pihak lain, ,isal seseorang yang memiliki tanah menyewakan kepada pihak lain, dalam hal ini secara yuridis tanah tersebut dimiliki oleh pemilik tanah akan tetapi secara fisik dilakukan oleh penyewa tanah.

Ada juga penguasaan secara yuridis yang tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang bersangkutan secara fisik, misalnya kreditur (bank) pemegang hak jaminan atas tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang dijadikan agunan (jaminan) , akan tetapi secara fisik penguasaannya tetap ada pada pemegang hak atas tanah.

Hierarki hak-hak penguasaan atas tanah dalam UUPA dan hukum tanah nasional adalah:85

a. Hak bangsa Indonesia atas tanah b. Hak menguasai negara atas tanah c. Hak ulayat masyarakat Hukum Adat d. Hak perseorangan atas tanah, meliputi:

1) Hak-hak atas tanah 2) Wakaf tanah Hak Milik 3) Hak Tanggungan

4) Hak milik atas Satuan Rumah Susun.

4. Jenis-Jenis Hak atas Tanah

Hak-hak atas tanah yang disebutkan dalam Pasal 16 jo. Pasal 53 UUPA tidak bersifat limitatif, artinya di samping hak-hak atas tanah yang disebutkan dalam UUPA, kelak dimungkinkan lahirnya hak atas tanah baru yang diatur secara khusus dengan undang-undang.

Dari segi asal tanahnya, hak atas tanah dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:86

a. Hak atas tanah yang bersifat primer, yaitu hak atas tanah yang berasal dari tanah negara.

85 Urip Santoso, op.cit.hal.75-77.

86 Ibid, hal.91

1) Hak Milik atas tanah (HM);

2) Hak Guna Usaha (HGU);

3) Hak Guna Bangunan (HGB) atas tanah negara;

4) Hak Pakai. (HP) atas tanah negara.

b. Hak atas tanah yang bersifat sekunder, yaitu hak atas tanah yang berasal dari pihak lain.

1) Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Pengelolaan;

2) Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Milik;

3) Hak Pakai atas tanah Hak Pengelolaan;

4) Hak Pakai atas tanah Hak Milik;

5) Hak Sewa untuk Bangunan;

6) Hak Gadai (Gadai Tanah)’

7) Hak Usaha Bagi Hasil (Perjanjian Bagi Hasil);

8) Hak Menumpang;

9) Hak sewa Tanah Pertanian.

Dalam hal ini, pembahasan akan dibatasi pada hak-hak atas tanah primer yakni hak atas tanah yang dapat dimiliki atau dikuasai secara langsung oleh seorang atau badan hukum yang mempunyai waktu lama dan dapat dipindahtangankan kepada orang lain atau ahli warisnya dalam UUPA.

a. Hak Milik atas Tanah (HM)

Hak milik adalah hak yang turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dan memberi kewenangan untuk menggunakannya untuk

segala macam keperluan selama waktu yang tidak terbatas, sepanjang tidak ada larang secara khusus. Sedangkan hak milik menurut Pasal 20 ayat 1 UUPA adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6.

Ciri-ciri hak milik adalah sebagai berikut:87 1) Turun-temurun

Hak milik atas tanah dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup dan bila pemiliknya telah meninggal dunia maka hak miliknya dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya , sepanjang memenuhi syarat sebagai subjek hak milik.

2) Terkuat dan terpenuh

Kata-kata “terkuat” dan “terpenuh” dimaksudkan untuk membedakannya dengan hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, dan lain-lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa di antara hak-hak atas tanah yang dapat dimiliki orang, hak miliklah yang terkuat dan terpenuh (artinya: paling).

3) Dapat beralih dan dialihkan

Dari segi bahasa, ada perbedaan antara “beralih” dan “dialihkan”. Peristiwa

“beralih” (bentuk aktif) dapat terjadi tanpa adanya sesuatu subjek yang melakukan pengalihan. Di sini, tidak diperlukan suatu subjek movens (menggerakkan). Hal tersebut berbeda dengan peristiwa “dialihkan” (bentuk

87 Richard Eddy. Aspek Legal Properti Teori, Contoh, dan Aplikasi, (Yogyakarta; CV Andi Offset, 2010), hal.1.

pasif), yang harus ada suatu subjek movens. Misalnya, A menghibahkan atau menjual tanahnya kepada B. Dalam hal ini, A adalah subjek movens.

Ciri-ciri Hak Milik atas tanah menurut UU No.5 Tahun 1960, yaitu:88 a. Hak Milik adalah hak turun temurun, terkuat, dan terpenuh;

b. Hak Milik dimiliki oleh hanya warga negara Indonesia dan badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah;

c. Hak Milik dapat digunakan untuk keperluan pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan;

d. Dalam mempergunakan tanah Hak Milik harus memperhatikan fungsi sosial hak atas tanah;

e. Hak Milik dapat terjadi menurut hukum adat, penetapan pemerintah, atau ketentuan undang-undang;

f. Hak Milik dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain;

g. Tanah Hak Milik dapat digunakan oleh bukan pemiliknya;

h. Hak milik dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani Hak Tanggungan;

i. Hak Milik dapat hapus.

Subjek hukum (pemegang hak) yang dapat mempunyai Hak Milik atas tanah, adalah:89

a. Perseorangan

Pasal 21 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1960 menetapkan bahwa hanya warga negara Indonesia yang dapat mempunyai Hak Milik. Warga negara asing

88 Urip Santoso. Hak atas Tanah, Hak Pengelolaan, dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, op.cit. hal.20-21

89 Ibid, hal,22.

maupun orang yang mempunyai dwi kewarganegaraan (berkewarganegaraan Indonesia dan berkewarganegaraan negara lain) tidak dapat mempunyai Hak Milik.

b. Badan Hukum

Pasal 21 ayat (2) UU No.5 Tahun 1960 menetapkan bahwa pemerintah menetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai Hak Milik dan syarat-syaratnya.

b. Hak Guna Usaha (HGU)

Pengertian Hak Guna Usaha disebutkan dalam Pasal 28 ayat (1) UU No.5 Tahun 1960, yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara, meliputi bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan yang luas minimum 5 hektar untuk perorangan dan luas maksimum 25 hektar untuk badan usaha luas maksimum ditetapkan oleh menteri Negara agrarian/kepala BPN. Objek tanah dari hak guna usaha adalah tanah Negara.

Subjek hukum Hak Guna Usaha menurut Pasal 30 UUPA jo Pasal 2 PP No.

40 Tahun 1996 adalah:

a. Warga Negara Indonesia;

b. Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

Pasal 29 UUPA mengatur jangka waktu dari HGU yakni diberikan untuk jangka maksimum 35 tahun dan dapat diperpanjang maksimum 25 tahun. Ketentuan ini diubah oleh Pasal 8 PP No. 40 Tahun 1996, yaitu jangka waktu HGU untuk

pertama kali adalah paling lama 35 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 25 tahun serta dapat diperbarui haknya untuk jangka waktu paling lama 35 tahun. Permohonan perpanjangan tersebut diajukan selambat-lambatnya 2 tahun sebelum berakhirnya HGU tersebut. Perpanjangan jangka waktu dan pembaruan HGU dicatat dalam buku tanah pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.90

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemegang hak untuk perpanjangan jangka waktu atau pembaharuan HGU adalah:

a. Tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat, dan tujuan pemberian hak tersebut;

b. Syarat-syarat pemberian hak tersebut dipenuhi dengan baik oleh pemegang hak; dan

c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak.

Asal tanah HGU adalah tanah negara. Kalau asal tanah HGU berupa tanah hak, maka tanah hak tersebut harus dilakukan pelepasan atau penyerahan hak oleh pemegang hak dengan pemberian ganti kerugian oleh calon pemegang HGU dan selanjutnya mengajukan permohonan pemberian HGU kepada Badan Pertanahan Nasional. Kalau tanah berasal dari kawasan hutan, maka tanah terebut harus dikeluarkan statusnya sebagai kawasan hutan (Pasal 4 PP No. 40 Tahun 1996).91

HGU terjadi karena penetapan pemerintah. Caranya, melalui permohonan pemberian HGU oleh pemohon kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN). Apabila semua persyaratan dipenuhi maka BPN menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak

90 Urip Santoso, Perolehan Hak Atas Tanah, (Jakarta; Prenadamedia Group, 2015), hal.47-48

91 Urip Santoso, Hukum Agraria Kajian Komprehensif, (Jakarta; Prenadamedia Group), hal.102-104.

(SKPH). SKPH tersebut wajib didaftarkan ke kantor pertanahan kabupaten/kota setempat untuk dicatat dalam buku tanah dan diterbitkan sertifikat sebagai tanda bukti haknya. Pendaftaran SKPH tersebut menandai lahirnya HGU.

Kepala kantor wilayah BPN provinsi berwenang menerbitkan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 200 hektar. Kalau luas tanah HGU lebih dari 200 hektar maka yang berwenang menerbitkan SKPH-nya adalah kepala BPN.92

c. Hak Guna Bangunan (HGB)

Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri-sendiri, dengan jangka waktu 30 tahun, setelah itu atas permintaan pemegang hak dan mengingat keperluan serta keadaan bangunan-bangunannya, jangka waktu 30 tahun tersebut dapat diperpanjang dengan jangka waktu maksimum 20 tahun. Ketentuan yang mengatur mengenai Hak Guna Bangunan diatur dalam Pasal 16 ayat 1 huruf c UUPA. Kemudian secara khusus diatur dalam pasal 35 sampai 40 UUPA. Kemudian, diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, dan Hak Pakai.

Asal tanah HGB diatur dalam Pasal 35 ayat (1) UU No.5 Tahun 1960 menyebutkan bahwa asal tanah HGB adalah tanah yang bukan miliknya sendiri.

Selanjutnya Pasal 37 UUPA menetapkan bahwa HGB terjadi atas tanah yang dikuasai

92 Richard Eddy. Aspek Legal Properti Teori, Contoh, dan Aplikasi, op.cit., hal.7

langsung oleh negara dan tanah Hak Milik. Pasal 21 PP No.40 Tahun 1996 menetapkan bahwa tanah yang dapat diberikan HGB adalah :93

1) Tanah Negara;

2) Tanah Hak Pengelolaan;

3) Tanah Hak Milik.

Subjek dari HGB menurut Pasal 36 UUPA jo. Pasal 19 PP nomor 40 tahun 1996 adalah:

a. Warga Negara Indonesia;

b. Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

Orang asing yang berkedudukan di Indonesia atau badan hukum asing yang mempunyai perwakilan tidak dapat menjadi pemegang (subjek hukum) HGB.

Hak guna bangunan jangka waktunya diatur dalam Pasal 26 sampai dengan Pasal 29 PP Nomor 40 Tahun 1996, yakni :

a. Hak guna bangunan yang berasal dari tanah negara; Hak guna bangungan yang berasal dari tanah megara jangka waktu untuk pertama kalinya paling lama 30 tahun, dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 tahun, dan dapat diperbaharui untuk jangka waktu paling lama 30 tahun.

b. Hak guna bangunan yang berasal dari tanah hak pengelolaan berjangka waktu untuk pertama kali paling lama 30 tahun, dapat diperpanjang untuk jangka

93 Urip Santoso. Hak atas Tanah, Hak Pengelolaan, dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, opcit. Hal. 70

waktu paling lama 20 tahun, dan dapat diperbaharui untuk jangka waktu paling lama 30 tahun.

c. Hak guna bangunan yang berasal dari tanah hak milik; hak guna bangunan yang diperoleh dari tanah hak milik jangka waktunya paling lama 30 tahun, tidak dapat diperpanjang, terkecuali ada kesepakatan antara pemilik tanah dengan pemegang hak guna bangunan, untuk dapat diperbaharui dengan pemberian hak guna bangunan baru dengan akta yang dibuat oleh PPAT dan wajib didaftarkan pada kantor pertanahan kabupaten/kota setempat.

d. Hak Pakai

Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengelolaan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang ini (Pasal 41 ayat 1 UUPA).

Ciri-ciri hak pakai sebagaimana diatur dalam UU No.5 Tahun 1960 dan PP No.40 Tahun 1996, yaitu:94

1) Hak pakai adalah hak untuk menggunakan tanah dan/atau memungut hasil dari tanah;

94 Urip Santoso. Hak atas Tanah, Hak Pengelolaan, dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, op.cit. hal.99-100

2) Asal tanah Hak Pakai adalah tanah negara, tanah Hak Pengelolaan, dan tanah Hak Milik;

3) Hak Pakai dapat dikuasai oleh WNI, orang asing yang berkedudukan di Indonesia dan berkedudukan di Indonesia, dan badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia;

4) Hak Pakai terjadi dengan penetapan pemerintah, atau pemberian hak;

5) Hak Pakai ada berjangka waktu tertentu dan ada yang berlaku selama tanahnya digunakan untuk pelaksanaan tugasnya;

6) Jangka waktu Hak Pakai dapat diperpanjang atau diperbarui haknya kepada pihak lain;

7) Sebagai tanda bukti Hak Pakai diterbitkan sertifikat;

8) Hak Pakai dapat beralih dan dialihkan oleh pemegang haknya kepada pihak lain;

9) Hak Pakai dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani Hak Tanggungan;

10) Hak Pakai dapat hapus dan tanahnya kembali menjadi tanah negara, tanah Hak Pengelolaan, dan Tanah Hak Milik.

Di dalam Pasal 42 UUPA telah mengatur bahwa yang dapat mempunyai hak pakai adalah :

a. Warga Negara Indonesia

b. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia

c. Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia

d. Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia.

Kemudian PP Nomor 40 tahun 1996 dalam Pasal 39 telah merinci mengenai orang atau badan hukum yang boleh mempunyai hak pakai atas tanah, yaitu :

a. Warga Negara Indonesia;

b. Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia;

c. Departemen, lembaga pemerintah nondepartemen, dan pemerintah daerah;

d. Badan-badan keagamaan dan social;

e. Orang asing yang berkedudukan di Indonesia;

f. Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia;

g. Perwakilan Negara asing dan perwakilan badan internasional.

Menurut PP No. 103 Tahun 2015, pengaturan jangka waktu pemberian hak pakai bagi WNA disebutkan secara spesifik untuk menguasai rumah tunggal.

Berdasarkan Pasal 6, WNA bisa mendapatkan hak pakai selama 30 tahun. Jika jangka waktu tersebut telah berakhir, dapat diperpanjang untuk 20 tahun selanjutnya.

Kemudian, setelah rentang 50 tahun, WNA tersebut dimungkinkan memperbarui kembali hak pakainya untuk masa 30 tahun. Kalau ditotal, jangka waktu yang diberikan bisa mencapai 80 tahun. Namun, hingga kini PP No.40 Tahun 1996 belum dinyatakan dicabut, artinya masih tetap berlaku. Keberlakuan itu memunculkan perbedaan ketentuan terkait kepemilikan bagi WNA.95

95 Di akses dari https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt56a0be9a61625/ini-perbandingan-aturan-soal-hak-pakai-hunian-bagi-wna/ pada tanggal 15 Desember 2020

C. KETENTUAN HUKUM KEPEMILIKAN PROPERTI BAGI WANITA

Dokumen terkait