• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HAK – HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA

4.1 Hak Milik

2. Pengertian Hak Milik

Landasan idiil daripada hak milik (baik atas tanah atas barang-barang dan hak-hak lain) adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 . Jadi secara yuridis formal, hak perseorangan ada dan diakui oleh Negara. Hal ini dibuktikan antara lain dengan adanya peraturan dasar pokok-pokok agrarian yang diatur dalam UU No.5 Tahun 1960 tentang UUPA terutama Pasal 5 dan 16 mengenai hak-hak atas tanah.

Sesuai dengan memori penjelasan Undang-undang Pokok Agraria bahwa pemberian sifat terkuat dan terpenuh dan tidak berarti, bahwa hak itu merupakan hak yang mutlak tak terbatas dan tidak dapat diganggu gugat, sebagai hak eigendom menurut pengertianya yang asli dulu. Kata-kata terkuat dan terpenuh itu bermaksud untuk membedakannya dengan hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai serta hak-hak lainnya yaitu untuk menunjukkan bahwa diantara hak-hak atas tanah yang dipunyai orang, hak milik lah yang terkuat dan penuh.

Dahulu hak milik dalam pengertian hukum barat bersifat mutlak, 75hal ini sesuai dengan paham yang mereka anut yaitu individualisme, kepentingan individu yang menonjol sekali. individu diberi kekuasaan bebas dan penuh terhadap hak miliknya, Hak milik tadi tidak dapat diganggu gugat. Akibat adanya ketentuan demikian, pemerintah tidak dapat bertindak terhadap milik seseorang meskipun hal itu merupakan untuk kepentingan umum. Hak milik atas tanah dalam pengertian sekarang sebagaimana tercantum dalam pasal 20 ayat 1 UUPAadalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam pasal 6.

100

Seseorang yang mempunyai hak milik dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya atas miliknya itu, asal saja tindakannya itu tidak bertentangan dengan Undang-undang atau melanggar hak atau kepentingan orang lain.76 Jadi dalam hal ini penggunaan hak milik harus juga melihat kepentingan umum (Pasal 6 UUPA). Apalagi kita menganut paham bahwa hak milik mempunyai fungsi sosial. Arti dari hak milik mempunyai fungsi sosial adalah bahwa hak milik yang dipunyai oleh seseorang tidak boleh digunakan semata-mata untuk kepentingan pribadi atau perseorangan, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat rakyat banyak.

      

75

Roestandi Ardiwilaga R, Hukum Agraria Indonesia, N.V. Masa Baru, Bandung, 1962, h.48  

76

Macpherson C.B, 1989, Pemikiran Dasar Tentang Hak Milik, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta , h.10 

Sekalipun sebidang tanah menjadi hak milik perseorangan, karena hak milik itu dipandang berada di atas hak ulayat Negara, dalam batas-batas tertentu negara tetap berhak untuk menentukan penggunaan tanah hak milik tersebut, sesuai dengan pola pembangunan dan ketentuan hukum mengenai tata guna tanah secara nasional maupun regional. 77

Pendirian hak milik mempunyai fungsi sosial ini didasarkan pada pemikiran, bahwa hak milik atas tanah tersebut perlu dibatasi dengan fungsi sosial, dalam rangka mencegah penggunaan hak milik yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Dasar fungsi sosial tercantum dalam pasal 33 Ayat 3 UUD 1945 berbunyi sebagai berikut “Bumi Dan air Serta Kekayaan Alam Yang Terkandung Di Dalamnya Dikuasai Oleh Negara dan dipergunakan Sebesar-Besarnya Kemakmuaran Rakyat” Sedangkan dasar hukum pembatasannya tertuang dalam pasal 27 Ayat 2 yang isinya sebagai berikut “Tiap-Tiap Warga Negara Berhak Atas Pekerjaan Dan Penghidupan Yang Layak Bagi Kemanusiaan.”

3. Terjadinya Hak Milik

Menurut pasal 22 UUPA hak milik dapat terjadi :

a) Menurut hukum adat.

b) Karena penetapan pemerintah.       

77 Boedi Harsono,

c) ketentuan Undang-Undang.

Menurut cara ini suatu subjek memperoleh tanah dari subjek lain yang semua sudah berstatus tanah hak milik, misalnya karena jual beli, tukar menukar, hibah, pemberian dengan wasiat atau warisan.78 Dengan terjadinya peristiwa-peristiwa hukum itu, hak milik yang sudah ada beralih dari subjek yang satu kepada yang lain.

a) Terjadinya hak milik menurut hukum adat

Menurut pasal 22 hal ini harus diatur dengan hal peraturan pemerintah supaya tidak terjadi hal-hal yang merugikan kepentingan umum dan Negara. 79 Demikian penjelasan dari pasal tersebut bahwa Terjadinya hak atas tanah menurut hukum adat lazimnya bersumber pada pembukaan hutan yang merupakan bagian tanah ulayat suatu masyarakat hukum adat. Pembukaan hutan secara tidak teratur dapat membawa akibat yang sungguh merugikan kepentingan umum dan Negara, berupa kerusakan tanah, erosi, tanah longsor, banjir dan sebagainya.

b) Terjadinya hak milik karena penetapan pemerintah

Hak milik yang oleh UUPA dikatakan terjadi karena penetapan pemerintah itu diberikan oleh instansi yang berwenang menurut cara dan dengan syarat-syarat yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.       

78

Op. Cit, h. 53 

Demikian Pasal 22 ayat 2 Huruf a sebagaimana telah disinggung di atas, tanah yang diberikan dengan hak milik itu semula berstatus tanah Negara.80

Hak milik itu dapat diberikan sebagai perubahan daripada yang sudah dipunyai oleh pemohon, misalnya hak guna usaha, hak guna bangunan atau hak pakai. Oleh karena itu, berdasarkan pasal 56 masih dapat dipergunakan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebelum UUPA, yaitu peraturan Menteri Muda Agraria No.15 Tahun 1959 tentang pemberian dan pembaharuan beberapa hak atas tanah serta pedoman mengenai tata cara kerja bagi pejabat-pejabat yang bersangkutan. Sudah barang tentu penggunaan ketentuan-ketentuan peraturan tersebut harus disesuaikan dengan jiwa dan ketentuan-ketentuan UUPA.

Pejabat-pejabat yang berwenang memberikan hak milik yang pengaturannya dalam PMDN No.1 Tahun 1967 tentang pembagian tugas dan wewenang agrarian. Instansi yang berwenang memberikan hak milik adalah menteri dalam negeri/Dirjen Agraria, kecuali dalam hal-hal wewenang untuk memberikan hak atas tanah dilimpahkan kepada

      

80

gubernur/ kepala daerah. Dalam hal tersebut dibawah ini gubernur/ kepala daerah diberi wewenang untuk memberikan hak milik :81

a) Jika hak itu diberikan kepada para transmigran dan keluarganya.

b) Jika pemberian hak itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan landreform.

c) Jika hak itu diberikan kepada para bekas gogol tidak tetap, sepanjang tanahnya merupakan tanah pertanian dan luasnya tidak lebih dari 5000 meter persegi.

d) Diluar hal-hal tersebut diatas jika tanah yang diberikan dengan hak milik merupakan tanah pertanian dan luasnya tidak lebih dari 5000 meter persegi.

Sebagaimana telah diuraikan diatas, pelaksanaan wewenang gubernur tersebut dilakukan oleh kepala kantor inspeksi agrarian yang bersangkutan atas nama gubernur

c) Pemberian Hak Milik Atas Tanah Negara

Hak milik tersebut diberikan atas permohonan yang bersangkutan, Sudah barang tentu pemohon harus memenuhi syarat untuk memperoleh dan mempunyai tanah dengan hak milik sebagai yang telah diuraikan       

diatas. Permohonan untuk mendapatkan hak milik itu diajukan oleh pemohon secara tertulis kepada pejabat yang berwenang dengan perantaraan bupati/ walikota sebagai kepala daerah (kepala kantor agraria daerah yang bersangkutan).

Permohonan tersebut antara lain harus memuat keterangan tentang:

a. Dari pemohon : Nama, Tempat Tinggal, kebangsaan dan pekerjaan, kalau pemohon itu badan hukum namanya, alamat dan tempat kedudukanya serta surat keputusan penunjukanya sebagai badan hukum yang dapat mempunyai hak milik.

b. Tanah yang dimohon : dilihat dari jenis tanah ( tanah pertanian atau tanah bangunan), letak, luas, dan batas-batasnya, jika sudah disertai surat ukurnya, kalau belum ada cukup gambar kasar, keterangan mengenai status tanah tersebut sebelum menjadi tanah Negara.

c. Peruntukan tanah yang dimohon : untuk usaha pertanian, tempat tinggal dan sebagainya.

d. Tanah-tanah yang sudah dipunyai pemohon : letaknya, haknya dan keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu. Termasuk dalam pengertian ini juga tanah-tanah yang dipunyai oleh istri dan anak- anak pemohon yang menjadi tanggungannya.

Oleh instansi yang berwenang hak milik yang dimohon itu diberikan dengan menerbitkan suatu surat keputusan pemberian hak milik, yang disusun menurut contoh yang ditetapkan sebagai lampiran peraturan Menteri Muda Agraria tersebut di atas. Selain syarat-syarat disesuaikan dengan keadaan dan peruntukan tanahnya, di dalam surat keputusan pemberian hak milik itu dimuat pula syarat-syarat umum, antara lain yaitu 82 :

a. Tanahnya (kalau belum ada) harus diberi tanda-tanda batas yang memenuhi syarat sebagai yang ditetapkan dalam PMA No.8 Tahun 1961.

b. Harus dibayar apa yang disebut uang pemasukan (dulu disebut ganti rugi) kepada Negara di dalam waktu yang ditentukan, yang jumlahnya dinyatakan dalam Surat Keputusan pemberian hak itu. Menurut PMA No.10 Tahun 1965 tentang pungutan uang pemasukan dan pengganti harga fomulir. Selain uang pemasukan kepada ngara yang disetor kepada kantor bendahara Negara, wajib dibayar pula uang pemasukan kepada Yayasan Dana Landreform sebesar 50% dari jumlah yang dibayar pada kantor bendahara Negara

      

82

c. Hak yang diberikan sesuai dengan ketentuan pasal 23 UUPA wajib didaftarkan pada kantor pendaftaran tanah yang bersangkutan di dalam waktu yang ditetapkan dalam Surat Keputusan pemberian haknya.

d. Kelalaian dalam memenuhi kewajiban tersebut pada huruf b dan c di atas mengakibatkan batalnya Surat Keputusan pemberian hak itu.

d) Pemberian Hak Milik Sebagai Perubahan Hak

Pihak yang mempunyai tanah dengan hak guna usaha, hak guna bangunan atau hak pakai, jika menghendaki dan memenuhi syarat- syaratnya dapat mengajukan permintaan kepada instansi yang berwenang agar haknya itu diubah menjadi hak milik. Semula sesuai dengan praktik agraria sebelum berlakunya UUPA, yaitu di dalam menyelesaikan perubahan hak eigendom menjadi hak milik adat, pemohon lebih dahulu harus melepaskan haknya hingga tanahnya menjadi tanah Negara.

Sesudah itu tanah tersebut dimohon (kembali) dengan hak milik, melalui cara sebagai yang telah diuraikan di atas. Seringkali tidak dilakukan pemeriksaan setempat kalau sudah ada surat tanda bukti

haknya dan surat ukurnya pun masih memenuhi syarat. 83 Terjadinya hak atas tanah menurut hukum adat lazimnya bersumber pada pembukaan hutan yang merupakan bagian tanah ulayat suatu masyarakat hukum adat.

4. Ciri-ciri Hak Milik

Hak milik mempunyai ciri-ciri tertentu sebagai berikut :84

a. Merupakan hak atas tanah yang kuat. Bahkan, menurut pasal 20 UUPA adalah yang terkuat, artinya mudah hapus dan mudah dipertahankan terhadap gugatan pihak lain.

b. Merupakan hak turun temurun dan dapat beralih, artinya dapat dialihkan pada ahli waris yang berhak.

c. Dapat menjadi hak induk, tetapi tidak dapat berinduk pada hak-hak atas tanah lainnya. Ini berarti bahwa hak milik dapat dibebani atas hak-hak atas tanah lainnya, seperti hak guna bagunan, hak pakai, hak sewa, hak gadai, hak usaha bagi hasil, dan hak lainnya.

d. Dapat dijadikan jaminan utang

      

83

Notonagoro, Politik Hukum Dan Pembangunan Agraria Di Indonesia, C.V. Pancuran

Tujuh, Jakarta, 1974, h. 79  84

e. Dapat dialihkan yaitu dijual, ditukar dengan benda lain dihibahkan dan diberikan dengan wasiat.

f. Dapat dilepaskan oleh yang punya, sehingga tanahnya menjadi milik Negara.

g. Dapat diwakafkan

h. Sipemilik mempunyai hak untuk menuntut kembali ditangan siapapun benda itu berada.

5. Subjek Hak Milik

Yang dapat mempunyai hak milik (subjek) menurut pasal 21 UUPA adalah : a. Warga Negara Indonesia

Sesuai dengan Pasal 9 UUPA maka hanya warga Negara Indonesia saja yang boleh mempunyai hak milik, dan ketentuan ini bersifat memaksa dan tidak ada toleransi atas hal ini. Sungguhpun dalam kenyataannya banyak hak milik ini terdaftar atas nama seseorang Warga Negara Indonesia, sedangkan yang memanfaatkannya di tangan orang yang bukan Warga Negara Indonesia.

Pada dasarnya badan hukum tidak mungkin mempunyai tanah dengan hak milik kecuali ditentukan secara khusus oleh Undang-undang atau peraturan lainnya, seperti yang telah ditentukan oleh peraturan pemerintah No.38 Tahun 1973 yaitu :

1. Bank-bank yang didirikan oleh Negara

2. Perkumpulan-perkumpulan koperasi pertanian yang didirikan berdasarkan Undang-Undang No.79 Tahun 1958

3. Badan-badan keagamaan yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian/ Agraria setelah mendengar Menteri Agama

4. Badan-badan sosial yang ditunjuk oleh Menteri Pertanian/ Agraria setelah mendengar Menteri Sosial

c. Badan-badan hukum yang bergerak dalam bidang sosial dan keagamaan sepanjang tanahnya dipergunakan untuk itu

6. Hapusnya Hak Milik

Hapusnya hak milik dalam UUPA diatur dalam Pasal 27 yang menyatakan bahwa hak milik hapus karena :

a. Tanahnya jatuh kepada Negara karena : 1) Pencabutan hak berdasarkan pasal 18

2) Penyerahan dengan sukarela oleh pemiliknya 3) Ditelantarkan

4) Ketentuan pasal 21 Ayat 3 dan 26 Ayat 2

b. Tanahnya musnah, pemiliknya tidak dapat lagi memanfaatkan tanah itu sungguhpun kejadian demikian akan jarang terjadi, seperti longsornya tanah, terkikisnya tanah pada alur sungai dan sebagainya.

Dokumen terkait