• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Prerogatif Presiden Indonesia

BAB II HAK PREROGATIF PRESIDEN INDONESIA

B. Hak Prerogatif Presiden Indonesia

Merujuk perjalanan Indonesia menjadi sebuah negara merdeka, kata Presiden dalam konteks pemimpin yang akan menjadi pengurus negara tertinggi, merupakan kata yang dapat dikatakan tidak memiliki historis yang kuat. Melacak bentangan empirik latar belakang sejarah, perjalanan Indonesia menuju negara merdeka telah dimulai dari berkembangnya monarki dengan malang-melintang kerajaan-kerajaan besar yang memiliki pengaruh dan rentang wilayah keuasaan yang luas, seperti: Sriwijaya, Singosari, Majapahit, Mataram. Tidak hanya itu, meskipun pengaruh dan wilayah kekuasaannya tak seluas Sriwijaya dan Majapahit, struktur sosial masyarakat sebagaian telah terbangun dengan model monarki, seperti Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarata), kesultanan Banjar, Kesultanan Cirebon dan lain-lain.17

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, yaitu pada tanggal 29 April 1945 dibentuk suatu bedan untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan, pada tanggal 16 Juni 1945 Badan Penyelidik Untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menyetujui rancangan UUD untuk negara Indonesia merdeka dan pada tanggal 9 Agustus 1945 oleh Pemerintah Jepang dibentuk badan baru yang dinamakan Panitia Persiapan Kemerdekaan

17 Saldi Isra, Lembaga Negara Konsep, Sejarah, Wewenang, dan Dinamika Konstitusional, (Depok: PT Rajagrafindo Persada, 2020), 181.

Indonesia (PPKI) dan bertugas menentukan UUD dan hal-hal lain untuk persiapan kemerdekaan Indonesia. Belum sempat PPKI menjalankan tugasnya, pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang telah menyerah dan dinyatakan kalah perang oleh sekutu maka PPKI melanjutkan tugasnya yang dipimpin oleh Soekarno.18

Sebelum perubahan UUD 1945 pada tahun 1999-2002, Republik Indonesia pernah berganti-ganti konstitusi mulai dari UUD 1945, UUD RIS 1949, UUD Sementara 1950, dan kembali lagi ke UUD 1945. Perubahan tersebut tentu berpengaruh terhadap lembaga kepresidenan maupun keuasaan Presiden. Berikut ini dijelaskan mengenai kekuasaan Presiden pada masing-masing konstitusi tersebut.

1. Hak Prerogatif/Kekuasaan Presiden Pada Masa Berlakunya Undang-Undang Dasar 1945

Satu hari setelah Soekarno-Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia, tanggal 18 Agustus 1945, dengan beberapa perubahan, PPKI mengadakan sidang untuk menyetujui rancangan undang-undang dasar yang sudah disusun oleh BPUPKI. Pada hari itu juga, Soekarno dan Muhammad Hatta dipilih sebagai presiden dan wakil presiden didasarkan kepada Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyatakan bahwa untuk pertama kali presiden dan wakil presiden

18 Jonansyah, Hak Prerogatif Presiden., 200

dipilih oleh PPKI. Sebagai sebuah negara baru, belum semua alat kelengkapan negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 dapat dibentuk. Sebagaimana disebutkan di atas, satu-satunya lembaga negara yang terbentuk satu hari setelah kemerdekaan adalah Presiden dan Wakil Presiden. Selain itu berlaku Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 menyatakan, sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah komite nasional. Dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945, Presiden mengisi struktur pemerintahan yang dimulai dari pembentukan partai pemerintah, 23 Agustus 1945, yaitu Partai Nasional Indonesia, kemudian 29 Agustus 1945 Presiden membubarkan PPKI dan melantik anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), setelah itu Soekarno dan Hatta membentuk kabinet pertama Republik Indonesia, yaitu kabinet yang akan membantu presiden dan wakil presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan dalam bentuk kabinet presidensial yang dipimpin oleh presiden itu sendiri.19

19 Saldi Isra, Sistem Pemerintahan Indonesia Pergaulatan Ketatanegaraan Menuju Sistem Pemerintahan Presidensial, (Depok: PT Ragrafindo Persada, 2019), 77.

Berdasarkan Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 dari sejak awal kemerdekaan presiden memiliki kekuasaan dan kewenangan yang sangat besar dan kuat. Karena presiden disamping sebagai pemegang kekuasaan dalam bidang pemerintahan juga bergungsi sebagai kepala negara. Bahkan presiden memiliki kekuasaan untuk menjalakan fungsi DPR, MPR dan DPA yang dibantu oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Menurut UUD 1945, Pemerintah Republik Indonesia dipimpin oleh Presdien dan dibantu oleh seorang Wakil Presiden Pasal 4 ayat (1) dan (2). Sisitem Pemrintahan kita adalah Presidensil, dalam arti Kepala Pemerintahan adalah Presiden dan di pihak lain ia tidak bertanggung jawab kepada DPR artinya kedudukan Presiden tidak tergantung kepada DPR (Alinea kedua angka V, Penjelasan UUD 1945) (Pasal 4 san Pasal 5 ayat (2) jo Pasal 10 sd 15 UUD 1945).20

Melihat pengisian lembaga negara saat itu, Adnan Buyung Nasution menyatakan struktur pemerintahan ditetapkan dengan cara otoriter. Singkatnya, kekuasaan presiden dalam masa peralihan luar biasa sekali, tidak terbatas. Karena cara pengisian seperti itu dibenarkan Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945. Kekuasaan presiden dalam masa transisi dapat dikatakan sebagai constitutional

20 M. Ismail, Pasang Surut Kekuasaan Presiden Republik Indonesia Berdasarkan UUD 1945 Sebelum dan Sesudah Amandemen, Jurnal unmasmataram, vol 12, no 2, (2018), 70.

dictatorship. Dominasi presiden dalam praktik bernegara selama bulan-bulan pertama Indonesia merdeka mengalami perubahan dengan Maklumat Wakil Presiden Nomor X (selanjutnya ditylis: Maklumat No. X ) menyatakan:

Bahwa Komite Nasional Indonesia Pusat, sebelum terbentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara, serta pekerjaan Komite Nasional Indonesia Pusat sehari-hari berhubung dengan gentingnya keadaan dijalankan oleh sebuah Badan Pekerja yang dipilih di antara mereka dan yang bertanggung jawab kepada Komite Nasional Indonesia Pusat.

Sebagai sebuah pristiwa penting di awal kemerdekaan, salah satu perdebatan yang muncul berkaitan dengan tindakan atau langkah dilakukan pemerintahan pada 16 Oktober 1945 bagaimanakah kedudukan Maklumat No. X dalam sistem ketatanegaraan Indonesia di bawah UUD 1945. Menurut Asaat, misalnya menepatkan Maklumat No. X adalah sama dengan Dekrit Presiden yang pada waktu itu mempunyai kekuatan absolut. Masalah yang diatur dalam maklumat tersebut adalah masalah yang diatur dalam UUD dank arena itu presiden dinilai telah menjalankan kekuasaan MPR. Dengan

menjalakan kekuasaan MPR, Asaat menganggap bahwa Maklumat No. X mempunyai kedudukan yang sama tingginya dengan undang-undang dasar. Berbeda dengan pendapat Asaat, Ismail Suny mengatakan bahwa kekuasaan presiden dalam masa peralihan sebagaimana dinyatakan oleh Aturan Peralihan, tidak boleh seluruhnya melaksanakan kekuasaan MPR terutama kekuasaan untuk menetapkan UUD. Untuk sementara waktu, tambah Ismail Sunny, presiden boleh menahan berlakunya suatu bagian dari UUD hanya untuk memungkinkan presiden melaksanakan segala tugas mengenai pembentukan MPR dan DPR, tetapi presiden tidah berhak mengubah UUD secara tetap (parmanen). Moch Tolchan Mensoer yang mengatakan juga bahwa Maklumat No. X tidak bisa dipersamakan dengan UUD. Namun demikian, ia menambahkan Maklumat No X yang dibuat berdasarkan Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 lebih tepat disebut dengan Dekrit Presiden.21

Maka dari uraian diatas bahwasanya dengan keluarnya Maklumat No X yang dapat diartikan untuk membatasi kekuasaan presiden kaetika itu yang pada mulanya menurut Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 berkuasa atas Legislatif beralih ke tangan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Selain KNIP ikut

21 Saldi Isra, Sistem Pemerintahan., 78

menetapkan garis-garis besar haluan negara dan membentuk Badan Pekerja yang bertanggung jawab kepada KNIP. Sehingga kekuasaan presiden di bidang Legislatif telah berada dalam kekuasaan Komisis Nasional Indonesia Pusat (KNIP).22 Dari hal tersebut adapun kekuasaan Presiden pada masa awal kemerdekaan atau beralkunya Undang-Undang dasar 1945 yaitu:

a. Kekuasaan di Bidang Penyelengaraan Pemerintahan.

Pasal 4 Ayat (1) Jelas mengatakan Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-undang Dasar.

b. Kekuasaan di Bidang Legislatif.

UUD 1945 memberikan kekuasaan Legislatif Presiden lebih besar daripada DPR. Selain mempunyai kekuasaan membentuk Undang-Udang bersama DPR, dalam kondisi kegentingan Presiden juga mempunyai kekuasaan membentuk peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang (perpu), serta berhak menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang.

22 Crisdianto Eko Purnomo, Pengaruh Pembatasan Kekuasaan Presiden Terhadap Praktik Ketatanegaraan Indonesia, Jurnal Konstitusi, vol 7, no 2, (2010), 163.

c. Kekuasaan di Bidang Yudisial.

Presiden menurut UUD 1945, juga mempunyai beberapa kekuasaan yudisial, yaitu memberi grasi, amnesti, dan rehabilitasi.

d. Kekuasaan di Bidang Milliter.

Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkata Laut, dan Angkatan Udara, selain itu Presiden atas persetujuan DPR mempunyai kekuasaan untuk menyatakan perang dan membuat perdamaian dengan negara lain.

e. Keuasaan Hubungan Luar Negeri.

Kekuasaan hubungan luar negeri yang sering disebut sebagai kekuasaan diplomatik berupa kekuasaan untuk membuat perjanjian dengan negara lain. Uud 1945 mengatur ketentuan tersebut dalam Pasal 11, pasal tersebut juga mewajibkan kepada Presiden untuk meminta persetujuan DPR.

f. Kekuasaan Darurat

Kekuasaan ini diatur di dalam Pasal 12 yang mengatakan Presiden menyatakan bahaya sayarat bahaya ditetapkan dengan undang-undang.

g. Kekuasaan Mengangkat atau Menetapkan Pejabat Tinggi Negara.

Sebagaimana yang terdapat UUD 1945 Presiden mempunyai kekuasaan mengangkat dan memberhentikan pejabat tinggi negara seperti mentri, duta dan konseul, dan ketua badan pemeriksa keuangan.23

2. Hak Prerogatif/Kekuasaan Presiden Pada Masa Konstitusi Indonesia Serikat (RIS)

Dalam perjalanan sejarah negara Indonesia, UUD 1945 hanya berlaku sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Hal yang demikian ini terjadi karena keinginan Belanda yang hendak menjajah kembali Negara Indonesia dengan berusaha memecah belah wilayah nusantara.

Mereka mencoba mendirikan negara-negara seperti Megara Sumatera Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur dan sebagainya.24

23 Abdul Qhoffar, Perbandingan Kekuasaan Presiden Indonesia Setelah Perubahan UUD 1945 dengan Delapan Negara Maju, (Jakarta: Kencana, 2009), 77-79.

24 Chirdianto Eko Purnomo, Pembatasan Konstitusional Kekuasaan Presiden Dalam Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Berdasarkan UUD 1945, (Mataram:

Pustaka Bangsa, 2015), 72.

Untuk menindaklanjuti kesepakatan atau perjanjian yang tertuang dalam KMB, maka ditetapkan konstitusi bagi Negara Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949.25 Ketika di bawah Konstitusi RIS 1949, secara jelas, system pemerintahan benar-benar berubah menjadi system parlementer berdasrkan Pasal 68 ayat (1) Konstitusi RIS, Presiden dan Menteri-menteri bersama-sama merupakan pemerintahan. Meskipun bagian pemerintah, Pasal 69 ayat (1) Konstitusi RIS menegaskan bahwa Presiden merupakan Kepala Negara dan, dalam kedudukan ini, Presiden tidak dapat diganggu gugat. Sebagai bagian pemerintaha, Presiden berwenang mengangkat menteri-menteri yang dimusyawarahkan dan disepakati dengan wakil dari masing-masing daerah bagian.26

Berbeda dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintah, dalam UUD RIS 1949 kedudukan Presiden hanya sebagai kepala negara, sementara kekuasaan pemerintah dijalankan oleh cabinet yang dibawah kekuasaan perdana menteri. Namun secara formal, presiden juga adalah pemerintah. Karena sifatnya Cuma formalitas, maka kekuasaan dalam pemerintahan bergantung pada menteri-menteri. Semua keputusan atau peraturan harus diambil oleh

25 Ibid., 73

26 Saldi isra, Lembaga Negara.,188

kabinet, kemudian keputusan atau peraturan tersebut ditandatangani oleh presiden dan juga oleh menteri.27

Undang-undang Dasar Republik Indonesia Serikat (UUD RIS) dalam pengangkatan menteri menteri, Presiden terlebih dahulu melakukan kesepakatan dengan orang-orang yang dukuasakan oleh daerah-daerah bagian sebagai konsekuensi dari Presiden itu dipilih oleh orang-orang yang dikuasakan oleh pemerintah daerah-daerah bagian, kemudian menunjuk tiga pembentuk kabinet. Sesuai dengan hal tersebut, maka tiga pembentuk kebinet tersebut memiliki kewenangan untuk memberikan saran dan masukan kepada Presiden, Presiden selanjutnya mengangkat seorang dari padanya menjadi perdana menteri dan mengangkat menteri-menteri yang lainnya untuk menjalankan roda pemerintahan.

Sesuai dengan paparan diatas maka kekuasaan Presiden untuk mengangkat menteri-menteri tidak lagi dikatakan sebagai hak prerogatif Presiden. Hal ini dikarenekan juga karena pada waktu Konstitusi Republik Indonesia Serikat diberlakukan negara Indonesia menganut sistem Parlementer bukan Presidensial. Dan untuk itu juga dikenal dengan adanya perdana menteri selaku kepala pemerintahan dan fungsi Presiden hanya selaku kepala negara. Sehingga dalam hal

27M. Ismail, Pasang Surut Kekuasaan Presiden., 71

pengangkatan menteri-menteri yang bertugas Presiden harus terlebih dahulu menerima setiap masukan dari ketiga pembentuk kabinet.28

Dari hal tersebut adapun kekuasaan Presiden pada masa awal kemerdekaan atau beralkunya Undang-Undang dasar 1945 yaitu:

a. Kekuasaan Mengangkat atau Menetapkan Pejabat Tinggi Negara.

Kekuasaan administratif yang diberikan Konsttitusi RIS kepada Presiden adalah mengangkat perdana menteri, menteri-menteri, ketua senat setelah mendapat anjuran dari senat..

selain itu, Pasal 114 Konstitusi RIS juga memberikan kewenangan kepada Presiden untuk mengangkat ketua, wakil ketua, dan anggota-anggota Mahkamah Agung setalah mendengarkan senat.

b. Kekuasaan di Bidang Legislasi.

Pasal 141 ayat (1) Konstitusi RIS menyatakan bahwa Peraturan-peraturan menjalankan undang-undang ditetapkan oleh pemerintah nemanya adalah pemerintah, diperkuat lagi dengan pasal 142 yang menyatakan Undang-undang Federal

28 Oksep Adhayanto, Eksitensi Hak Prerogatif Presiden Pasca Amandemen UUD 1945, Jurnal Fisip Umrah, vol 2, no 2, (2011), 164.

dan peraturan pemerintah dapat memerintahkan kepada alat-alat perlengkapan lain dalam Republik Indonesia Serikat.

Dalam peraktiknya pengaturan selanjutnya dari Indang-undang Federal dan peraturan pemerintah itu dilakukan dengan keputusan Presiden. Semua peraturan, baik Undang-undang Federal, peraturan pemerintah, maupun keputusan Presiden ditandatangani oleh Presiden dan oleh menteri yang bersangkutan.

c. Kekuasaan di Bidang Yudisial.

Seperti halnya dalam UUD 1945, menurut Konstitusi RIS Presiden mempunyai hak memberi ampunan dan keringanan hukuman atas hukuman yang dijatuhkan oleh vonis pengadilan, akan tetapi Presiden tidak bisa menjalankannya sebelum Presiden menurut aturan-aturan yang ditetapkan dengan Undang-undang Federal diberi kesempatan memberi ampun.

Sedangkan amnesti Presiden harus meminta nasihat dari manhkamah Agung.

d. Kekuasaan di Bidang Militer.

Keuasaan atas angkatan bersenjata (militer) secara tegas dicantumkan dalam pasal 182 Konstitusi RIS ayat (1)

mengatakan Presiden ialah panglima tertinggi tentara Republik Indonesia Serikat. Akan tetapi dalam kekuasaan tersebut harus sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan dengan Undang-undang federal.

e. Kekuasaan Hubungan Luar Negeri.

Menurut Konstitusi RIS 1949, Presiden berkuasa untuk mengadakan dan mengesahkan segala perjanjian (traktat) dan persetujuan lain dengan negara-negara lain. Persetujuan tersebut baru sah jika sudah disetujui dengan undang-undang.29

3. Hak Prerogatif/Kekuasaan Presiden Pada Masa Undang-Undang Sementara 1950

Perubahan konstitusi RIS 1949 menjadi UUDS 1950 didasari kepada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1950 tentang perubahan konstitusi sementara Republik Indonesia Serikat menajdi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (UU No. 7/1950).

Dalam konsideran mengingat dicantumkan bahwa dasar perubahan adalah Pasal 190, Pasal 127 huruf a, dan Pasal 191 ayat (2). Serupa dengan UUD RIS 1949, UUD Sementara 1950 juga secara tegas menyatakan dalam Pasal 45 ayat (1) Presiden adalah kepala negara.

29 Abdul Ghoffar, Perbandingan Kekuasaan Presiden., 83-85

Karena kedudukan presdien adalah sebagai kepala negara, maka presiden tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas roda pemerintahan, sementara yang harus bertanggung jawab adalah para menteri baik secara sendiri-sendiri maupun secara kolektif.30

Krakter sistem pemerintahan parlementer dapat dilihat dari sejumlah ketentuan yaitu, Presiden ialah kepala negara, presiden berhak membubarkan DPR, menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijakansanaan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya, dan pemerintah dipimpin oleh seorang perdana menteri.31 Meski bentuk negara berubah dari serikat menjadi kesatuan, karena sama-sama sistem parlementer, Presiden tetap sebagai kepala negara.

Selain itu juga terdapat jabatan Wakil Presiden. Pasal 38 ayat (1) UUD Sementara 1950 menyatakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden tidak dapat diganggu gugat.32

Dari hal tersebut adapun kekuasaan Presiden pada masa awal kemerdekaan atau beralkunya Undang-Undang dasar 1945 yaitu:

a. Kekuasaan Mengangkat atau Menetapkan Pejabat Tinggi Negara.

30 Abdul Ghofur, Perbandingan Kekuasaan Presiden., 85

31 Saldi Isra, Sistem Pemerintahan., 96

32 Saldi Isra, Lembaga Negara., 189

Undang-undang Dasar Sementara tahun 1950 secara tegas memberi kekusaan kepada Presiden untuk mengangkat Wakil Presiden, Perdana menteri, menteri-menteri, dan pejabat-pejabat lainnya.

b. Kekuasaan di Bidang Legislasi.

Dalam hal Legislasi, pemerintah bersama-sama dengan DPR mempunyai kekusaan dalam hal perundang-undangan.

Presiden juga mempunyai kekuasaan untuk mengambil kekuasaan untuk mengambil inisiatif dalam perundang-undangan dan menyampaikan rancangan undang-undang kepada DPR dengan amanat Presiden. Presiden juga memegang kekuasaan untuk mengundangkan undang-undang.

c. Kekuasaan di Bidang Militer.

Pasal 85 UUD Sementara 1950 secara tegas mengatakan bahwa Presiden memegang kekuasaan atas angkatan perang.

Namun, keputusan-keputusan yang dikeluarkan atas kekuasaan tersebut harus mendapat tanda tangan dari menteri yang membidanginya.

d. Kekuasaan di Bidang Hubungan Luar Negeri.

UUD Sementara 1950 secara tegas menyatakan bahwa Presiden mempunyai kekuasaan untuk mengadakan dan mengesahkan perjanjian (traktat) dan persetujuan dengan negara-negara lain. Perjanjian dan persetujuan tersebut tidak sah sebelum disetujui dengan undang-undang.33

4. Hak Prerogatif/Kekuasaan Presiden Pada Masa Berlakunya Kembali UUD 1945

Dengan diberlakukan kembali UUD 1945, maka kedudukan Presiden selain sebagai kepala negara juga sebagai kepala pemerintahan. Artinya, presiden berwenang mengangkat menteri-menterinya tanpa harus menunjuk formatur kabinet. Sesuai dengan Pasal 17 UUD 1945, kedudukan menteri hanyalah sebagai pembantu Presiden. Dengan demikian, berlaku sistem Presidensial di mana menteri-menteri tersebut bertanggung jawab kepada Presiden bukan kepada Parlemen.34

Undang-Undang dasar 1945, menentukan kedudukan Presiden pada posisi yang sangat vital dalam struktur ketatanegaraan Indonesia.

Kedudukan Presiden yang sangat penting tersebut terlihat dengan adanya dua fungsi yang dimiliki oleh Presiden, yaitu fungsi sebagai

33 Abdul Ghoffar, Perbadingan Kekuasaan Presiden., 86-88

34Abdul Ghoffar, Perbadingan Kekuasaan Presiden., 89

kepala negara dan sebagai fungsi kepala pemerintahan. Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD 1945. Pasal 5 UUD 1945 memberikan kekuasaan kepada Presiden membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR.35

Berdasarkan UUD 1945, sistem pemerintahan Indonesia menganut system pemerintahan presidensil. Ciri dari sistem pemerintahan presidensil adanya kekuasaan yang amat bgesar pada lembaga kepresidenan. Tidak menherankan jika kekuasaan yang dimiliki oleh Presiden menembus pada area kekuasaan-kekuasaan yang lain,seperti kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif. Secara rinci berikut ini kekuasaan dalam berbagai bidang antara lain sebagai berikut:

a. Kekuasaan di Bidang Penyelenggaraan Pemerintah.

Pasal 4 ayat (1) jelas mengatakan Presdien Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD 1945. Menurut Wirjono Prodjodikoro ketentuan Pasal tersebut mempunyai makna bahwa Presiden RI adalah satu-satunya

35 Margarito Kamis, Kekuasaan Presiden Indonesia Sejarah Kekuasaan Presiden Sejak Merdeka Hingga Reformasi, (Malang: Setara Press, 2014), 81.

orang yang memimpin seluruh pemerintahan, akan tetapi harus sesuai dengan UUD 1945.

b. Kekuasaan di Bidang Legislatif.

UUD 1945 memberikan kekuasaan legislatif kepada Presiden lebih besar daripada DPRD. Selain mempunyai kekuasaan membentuk undang-undang bersama DPR, dalam kondisi kegentingan yang memaksa Presiden juga mempunyai kekuasaan membentuk peraturan pemerintahsebagai pengganti undang-undang (perpu).

c. Kekuasaan di Bidang Yudisial.

Presiden, menurut UUD 1945, juga mempunyai beberapa kekuasaan yudisial, yaitu pertama, kekuasaan memberi grasi kepada orang yang dihukum, baik penghapusan hukuman atau pengurangan hukuman. Kedua, Presiden mempunyai kekuasaan untuk menghentikan penuntutan terhadap orang atau segolongan orang yang telah melakukan sesuatu tindak pidana dengan memberikan abolisi. Ketiga, Presiden mempunyai kewenangan memberikan amnesti. Keempat, Presiden mempunyai kekuasaan untuk melakukan rehabilitasi kepada seseorang yang haknya telah hilang akibat putusan pengadilan.

d. Kekuasaan di Bidang Militer.

Pasal 10 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara. Selain itu juga Presiden atas persetujuan DPR mempunyai kekuasaan untuk menyatakan perang dan membuat perjanjian dan perdamaian dengan negara lain.

e. Keuasaan Hubungan Luar Negeri.

Kekuasaan mengenai hubungan luar negeri yang sering disebut sebagai kekuasaan diplomatik berupa kekuasan untuk membuat perjanjian dengan negara lain.

f. Kekuasaan Darurat.

Kekuasaan ini diatur di dalam Pasal 12 yang mengatakan Presiden menyatakan kedaan bahaya. Syarat-syarat kedaan bahaya diterapkan dengan undang-undang yaitu Undang-undang No. 06 Tahun 1946.

g. Kekuasaan Mengangkat atau Menetapkan Pejabat Tinggi Negara.

Pejabat tinggi negara secara eksplisit dikatakan oleh UUD 1945 diangkat dan diberhentikan oleh Presiden adalah

menteri-menteri, duta dan konsul. Namun, karena Presiden mempunyai kewenangan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR, dan mempunyai kekuasaan untuk membentuk peraturan pemerintah, maka hampir semua pejabat tinggi diangkat oleh Presiden, seperti, hakim-hakim agung, jaksa agung, ketua badan pemeriksa keuangan dan lain-lain.36

5. Hak Prerogatif/Kekuasaan Presiden Pada Masa Reformasi

Reformasi pada Mei 1998 telah membawa berbagai perubahan politik yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setelah UUD 1945 terutama yang berkaitan dengan kekuasaan Presiden. Pasal 5 dan Pasal 20 dipandang sebagai permulaan terjadinya pergeseran kekuasaan Presiden. Hal ini terutama yang terkait dengan kekuasaan Presiden dalam membentuk undang-unang yang diatur dalam Pasal 5, berubah menjadi Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang dan DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang (Pasal 20).37

Sesuai dengan prinsip perubahan UUD 1945 untuk mempertegas sistem presiden sil dan dianutnya pemisahan cabang

36 Fajlurrahman Jurni, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Pranadamedia Group, 2019), 208-219.

37Kaharuddin dan Haeruman Jayadi, Lembaga Kepresidenan Berdasarkan UUD 1945 Pasca Perubahan, (Mataram: Pustaka Bangsa, 2016), 41.

kekuasaan negara. Maka dengan perubahan UUD 1945 berakibat pula pada perubahan bidang kekuasaan eksekutif (presiden), sebagai berikut:

a. Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif (Pasal 4 ayat (1)), namun tidak lagi memegang kekuasaan membentuk undang-undang, yang beralih ke tangan DPR (Pasal 20 ayat (1)), akan tetapi berhak mengajukan rancangan undang-undang (Pasal 5 ayat (1)).

b. Presiden dan Wakil Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR, melainkan dipilih oleh rakyat secara langsung secara berpasangan dari calon yang diajukan partai politik.

c. Masa jabatan Presiden selama 5 (lima) tahun secara tegas dibatasi untuk dua priode (Pasal 7).

d. Ditentukannaya syarat-syarat yang lebih rinci untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 6).

e. Penegasan bahwa Presiden tidak dapat membubarkan DPR (Pasal 7C).

f. Pelaksanaan hak-hak prerogatif Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintah harus dengan persetujuan atau pertimbangan DPR.

g. Dalam pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian harus diatur dengan UU (Pasal 17 ayat (4)), dan

g. Dalam pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian harus diatur dengan UU (Pasal 17 ayat (4)), dan

Dokumen terkait