Dilihat dari arti kata kinerja berasal dari kata job performance atau
actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Jadi menurut arti bahasanya kinerja dapat diartikan sebagai prestasi atau tindakan yang dicapai dalam melaksanakan suatu kegiatan.
Kinerja dapat diartikan sebagai kemampuan kerja atau prestasi kerja atau hasil unjuk kerja. Hadari Nawawi (2006: 66) mengemukakan kinerja bukan sifat atau karakteristik individu, tetapi kemampuan kerja yang dapat dilihat dari cara bekerja dan hasil yang dicapai. Pengertian yang sama juga dikemukakan oleh Uhar Suharsaputra (2013: 167), kinerja merupakan kemampuan kerja atau prestasi kerja yang dilakukan pegawai untuk memperoleh hasil kerja yang optimal.
Kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama satu periode tertentu. (Irfan Fahmi, 2010: 2). Anwar Prabu Mangkunegara (2005: 9) mengemukakan kinerja adalah prestasi kerja atau hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM dalam periode waktu tertentu untuk melakasanakan kerja sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Suyadi Prawirosentono (2008: 2) menjelaskan pengertian kinerja sebagai hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Supardi (2013: 47) juga mengungkapkan pengertian kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang untuk mencapai tujuan berdasarkan atas standarisasi atau ukuran dan waktu yang disesuaikan dengan jenis pekerjaannya dan sesuai dengan norma dan etika yang telah ditetapkan. Kinerja sebagai hasil kerja seseorang didasarkan atas waktu untuk melaksanakan dan disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Kinerja yang dilakukan juga secara legal sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kinerja guru merupakan penampakan kompetensi yang dimiliki oleh guru, yaitu kemampuan sebagai guru dalam melaksanakan tugas-tugas dan yang dibebabkan kepadanya. Jasmani dan Syaiful Mustofa (2013: 156) mengemukakan kinerja guru adalah hasil kerja yang dicapai oleh guru di
lembaga pendidikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain, hasil kerja yang dicapai seorang guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pengertian kinerja guru dari Jasmani dan Syaiful Mustofa yang menjelaskan kinerja guru sebagai hasil kerja guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Hasil kerja guru ditunjukan pada penampakan kompetensi yang dimiliki dalam melaksanakan tugasnya yang menghasilkan hasil yang memuaskan dan pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya dalam bidang mengajar di dalam kelas tetapi kinerja di luar mengajar.
2. Faktor-Faktor yang Memperngaruhi Kinerja Guru
Kinerja guru merupakan hasil kerja, kemampuan, prestasi atau dorongan guru untuk melaksanakan pekerjaan. Kinerja terjadi karena terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi. Jasmani dan Syaiful Mustofa (2013: 160), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:
a. Faktor dari dalam, meliputi motivasi, keterampilan, dan pendidikan. b. Faktor dari luar, meliputi iklim kerja, tingkat gaji.
Supardi (2013: 50) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja terdiri atas pengetahuan, keterampilan, motivasi, kepercayaan, nilai-nilai dan sikap. Anwar Prabu Mangkunegara (2005: 13-14), faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah:
a. Faktor Kemampuan (Ability)
Kemampuan (ability) terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (Knowledge+ skill). Artinya pimpinan dan karyawan yang memiliki IQ diatas rata-rata dengan pendidikan memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari akan lebih mudah dalam mencapai kinerja maksimal.
b. Faktor Motivasi (Motivation)
Motivasi diartikan sebagai suatu sikap pimpinan dan karyawan terhadap situasi kerja di lingkungan organisasinya. Mereka yang bersikap positif terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja yang dimaksud mencakup hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pimpinan, pola kepemimpinan kerja dan kondisi kerja.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut peneliti sependapat dengan pendapat Anwar Prabu Mangkunegara yang menjelasakan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu faktor kemampuan dan faktor motivasi. Faktor kemampuan yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kemampuan guru dalam menguasai kompetensi guru, sedangkan faktor motivasi yaitu kondisi lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. 3. Indikator Kinerja Guru
Tiap individu, kelompok atau organisasi memiliki kriteria penilaian tertentu atas kinerja dan tanggung jawab yang diberikan. Supardi (2013: 49)
mengemukakan bahwa kinerja pegawai dapat dilihat dari seberapa baik kualitas pekerjaan yang dihasilkan, tingkat kejujuran dalam berbagai situasi, inisiatif dan prakarsa memunculkan ide-ide baru dalam melaksanakan tugas, sikap karyawan terhadap pekerjaan, kerjasama dan kendala, pengetahuan dan keterampilan tentang pekerjaan, pelaksanaan tanggung jawab, serta pemanfaatan waktu secara efektif.
Sardiman (2010: 164) mengemukakan terdapat sepuluh kompetensi guru yang merupakan profil kemampuan dasar bagi seorang guru. Sepuluh kompetensi tersebut meliputi: 1) Penguasaan bahan; 2) Pengelolaan program belajar mengajar; 3) Pengelolaan kelas; 4) Penggunaan media/sumber; 5) Penguasaan landasan pendidikan; 6) Mengelola interaksi belajar-mengajar; 7) Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran; 8) Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan serta penyuluhan; 9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah; 10) Memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
Kinerja guru secara utuh dan menyeluruh mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Keempat kompetensi tersebut telah dijabarkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 dan menjadi pedoman untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama dalam pembelajaran dan bimbingan.
a. Kompetensi Pedagogik
Kata pedagogik diturunkan dari bahasa Latin yang bermakna mengajari anak. Dalam makna modern, istilah pedagogy dalam bahasa Inggris merujuk pada seluruh konteks dan sumber daya operasi pengajaran dan pembelajaran yang secara nyata terlibat di dalamnya. Meski demikian, baik diambil dari bahasa Latin maupun Bahasa Inggris, kata pedagogik mempunyai makna yang kira-kira sama.
Sudarwan Danim (2010: 47) mengemukakan konsep paling tradisional dari pedagogik bermakna suatu studi tentang bagaimana menjadi guru. Lebih khusus lagi, awalnya kata pedagogik bermakna cara seseorang guru mengajar atau seni mengajar. Menurut Danim, konsep lebih modern tentang pedagogik merujuk pada strategi pembelajaran, dengan titik tekan pada gaya guru mengajar.
Kompetensi pedagogik sering dimaknai sebagai kemampuan mengelola pembelajaran. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pedagogik guru mencakup konsep kesiapan mengajar yang ditunjukan oleh penguasaan dan keterampilan mengajar. Marselus
R. Payong (2011: 29) mengemukakan bahwa kompetensi pedagogik terkait erat dengan kemampuan didaktik dan metodik yang harus dimiliki guru sehingga dapat menjadi pendidik dan pembimbing yang baik. Guru tidak hanya sebagai pengajar yang mentransfer ilmu, pengetahuan dan keterampilan kepada siswa tetapi juga merupakan pembimbing dan pendidik yang dapat membentuk siswa mengembangkan potensi yang dimiliki baik potensi akademis maupun non akademis.
Ayusita Mahanani (2011: 47) menjelaskan kemampuan pedagogik sebagai kemampuan pemahaman tentang peserta didik secara mendalam dan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik. Pemahaman tentang peserta didik ini dimaksudkan sebagai pemahaman tentang psikologi perkembangan anak. Sedangkan pembelajaran yang mendidik meliputi kemampuan merancang pembelanjaran, mengimplementasikan pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Kompetensi pedagogik bukanlah kompetensi yang hanya bersifat teknis belaka (Dwi Siswoyo, 2011: 130). Selain mencakup pemahaman dan perkembangan peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, serta sistem evaluasi pembelajaran seorang guru harus pula menguasai “ilmu pendidikan”. Sehingga kompetensi pedagogik sangatlah penting untuk dimiliki oleh guru untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran dengan optimal.
Guru yang memiliki kompetensi pedagogik dapat memahami peserta didiknya, dengan memahami peserta didik guru dapat merancang perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan guru dapat mengetahui metode maupun media yang cocok digunakan saat pembelajaran. Selain itu, guru dapat merancang penilaian dengan memilih teknik penilaian yang tepat sesuai dengan apa yang ingin dinilai. Dengan memahami karakteristik peserta didik, guru dapat mengetahui potensi-potensi yang dimiliki peserta didik sehingga guru dapat membantu mengambangkan potensi yang dimiliki peserta didiknya tersebut.
Mulyasa (2013: 75), mengemukakan kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran meliputi hal berikut:
1) Memahami landasan kependidikan 2) Memahami peserta didik
3) Mengembangkan kurikulum/silabus 4) Merancang pembelajaran
5) Melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis 6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran
7) Evaluasi hasil belajar
8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Syaiful Sagala (2011: 32) menjelaskan kompetensi pedagogik sebagai kemampuan dalam mengelola peserta didik yang meliputi:
1) Pemahaman guru tentang landasan dan filsafat pendidikan. 2) Pemahaman guru tentang potensi dan keberagaman peserta didik. 3) Kemampuan guru mengembangkan kurikulum/silabus dalam bentuk
dokumen maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar. 4) Kemampuan guru menyusun rencana dan strategi pembelajaran sesuai
dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
5) Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis dan interaktif.
6) Kemampuan guru melaksanakan evaluasi hasil belajar sesuai dengan prosedur dan standar yang dipersyaratkan.
7) Kemampuan guru mengembangkan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan intrakuler dan ekstrakurikuler untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
Sudarwan Danim (2013: 22) mengungkapkan lima sub kompetensi yang terkandung dalam kompetensi pedagogik guru, yaitu: 1) Pemahaman peserta didik yang mendalam.
2) Perencanaan pembelajaran, termasuk pemahaman tentang landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran.
3) Pelaksanaan pembelajaran.
5) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dari awal perencanaan pembelajaran sampai dengan evaluasi pembelajaran, sehingga dapat membimbing peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Kemampuan ini mencakup konsep kesiapan mengajar yang ditunjukan dengan penguasaan dan keterampilan mengajar. Pada penelitian ini indikator yang digunakan terkait dengan kompetensi pedagogik guru sesuai dengan kompetensi inti guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, yaitu: 1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, kultural,
emosional, dan intelektual.
2) Menguasai teori-teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran atau bidang pengembangan yang diampu.
4) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik.
8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. 9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
b. Kompetensi Kepribadian
Kepribadian setiap individu berbeda-beda dan memiliki keunikan tersendiri. Kepribadian dapat terbentuk dari bawaan sejak lahir akan tetapi dipengaruhi juga oleh lingkungan sekitar. Sjarkawi (2006: 11), kepribadian adalah karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seorang sejak lahir
Nana Syaodih (2005: 136) mengungkapkan bahwa kepribadian merupakan keterpaduan antara aspek psikis dan aspek fisik. Keterpaduan aspek psikis dan fisik tersebut lebih dari sekedar penjumlahan ciri-ciri atau sifat-sifat menonjol atau yang lebih sering diperlihatkan kepada orang lain, sebab dalam keterpaduan terdapat hubungan fungsional yang saling mempengaruhi.
Baharuddin (2009: 209) merumuskan definisi kepribadian sebagai berikut: 1) Suatu kebulatan yang terdiri dari aspek-aspek fisik dan psikis;
2) Bersifat dinamis dalam hubungannya dengan lingkungan; 3) Kepribadian seseorang adalah khas, berbeda dari orang lain; 4) Kepribadian berkembang dengan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar dan dalam.
Berdasarkan rumusan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepribadian adalah suatu keterpaduan dari sistem fisik dan psikis individu yang khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sehingga kepribadian yang dimiliki seseorang tidak terjadi secara spontan tetapi sebagai hasil dari bawaan dan penyesuaian dengan lingkungan.
Sebagai individu yang berkecimpung di dunia pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Ungkapan “guru bisa digugu dan ditiru” mengandung makna bahwa seorang guru haruslah dapat dipercaya dan dapat menjadi teladan, sehingga sebagai seorang guru haruslah memiliki kepribadian yang baik.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir b, dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Mulyasa (2013: 117) mengemukakan bahwa setiap guru dituntut memiliki kompetensi kepribadian yang memadai, bahkan menjadi landasan bagi kompetensi-kompetensi lainnya. Hal ini dikarenakan guru tidak hanya dituntut untuk mampu memaknai
pembelajaran, tetapi bagaimana guru dapat menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.
Kompetensi kepribadian adalah kesiapan mental, kepribadian, dan moralitas guru untuk mengemban amanah sebagai guru (Ayusita Mahanani, 2011: 51). Sehingga kompetensi kepribadian ini haruslah tercermin dalam sikap dan perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari, baik selama kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah.
Moh Roqib dan Nurfuadi (2009: 122) berpendapat bahwa kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpancar dalam perilaku sehari-hari. Hal ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur. Nilai-nilai luhur tersebut diharapkan bisa menjadi teladan bagi peserta didiknya.
Martinis Yamin dan Maisah (2010: 9) mengemukakan pendapat tentang kompetensi kepribadian sebagai kemampuan personal yang dimiliki guru. Kompetensi kepribadian guru dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Mantap; 2) Stabil; 3) Dewasa; 4) Arif dan bijaksana; 5) Berwibawa; 6) Berakhlak mulia; 7) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; 8) Mengevaluasi kinerja sendiri; 9) Mengembangkan diri secara berkelanjutan
Kunandar (2011: 75) mengemukakan standar kompetensi kepribadian guru, yaitu:
1) Mantap dan stabil. 2) Dewasa.
3) Disiplin dan arif. 4) Berwibawa.
5) Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang harus dimiliki guru yang tercermin dari tata kelakuan, tutur kata, dan perilaku sehari-hari. Dalam penelitian ini indikator yang digunakan terkait dengan kompetensi kepribadian guru sesuai dengan kompetensi inti guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, yaitu:
1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
4) Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
c. Kompetensi Profesional
Istilah profesional berasal dari profession. Arifin (1995: 105) mengemukakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan khusus. Martinis Yamin (2007: 3) mengemukanan profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas.
Kunandar (2011: 45) menyebutkan bahwa profesional berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu.
M. Uzer Usman (2010: 14-15) mengemukakan bahwa profesional merupakan sebuah pekerjaan yang memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Kata profesional itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperi guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu
dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.
Berdasakan pendapat para ahli tentang profesional tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa profesional merupakan keahlian, kemampuan, dan keterampilan seseorang terhadap pekerjaan yang dimiliki yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan. Hal ini berarti guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. (M. Uzer Usman 2010: 14-15). Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.
Guru yang profesional tentunya harus memiliki kompetensi profesional. Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus dikuasai guru dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas utamanya, yaitu mengajar. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat 3 butir c kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru untuk membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Pendidikan Nasional. Ayusita Mahanani (2011:56) menjelaskan kompetensi profesional sebagai kemampuan melaksanakan tugas pokok
guru di bidang pembelajaran secara optimal, terutama dalam hal penguasaan dan pengembangan materi pembelajaran.
Dwi Siswoyo (2011: 130) mengemukakan kompetensi profesional sebagai kemampuan yang harus dimiliki pendidik di sekolah berupa penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Dalam hal ini mencakup penguasaan materi pelajaran yang diampu, penguasaan kurikulum dan silabus sekolah, metode khusus pembelajaran bidang studi, dan wawasan etika dan pengembangan profesi. Martinis Yamin dan Maisah (2010: 11) mengemukakan kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi yang dimiliki, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuan.
Dwi Siswoyo (2011: 136) menjelaskan prinsip-prinsip profesionalisme guru sebagai berikut:
1) Berdasarkan minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
2) Profesi yang menuntut komitmen tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan, iman taqwa dan akhlak mulia.
3) Kualifikasi akademik dan latarbelakang pendidikan yang relevan. 4) Memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang tugasnya di sekolah. 5) Menuntut tanggungjawab tinggi atas tugas profesinya demi kemajuan
Yamin dan Maisah (2010: 11) juga menjelaskan kompetensi profesional secara lebih ringkas sebagai berikut:
1) Memiliki konsep struktur dan metode keilmuan yang sesuai dengan materi ajar yang diampu.
2) Materi ajar yang diampu ada dalam kurikulum sekolah. 3) Saling berhubungan antar mata pelajaran yang terkait.
4) Menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. 5) Menggunakan konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan
budaya nasional.
M. Uzer Usman (2010: 17-19), kompetensi profesional yang harus dipenuhi atau dimiliki seorang guru atau calon guru adalah:
1) Penguasaan terhadap landasan pendidikan, yakni memahami tujuan pendidikan agar dapat mencapai tujuan pendidikan nasional, memahami fungsi sekolah sebagai bagian dalam masyarakat, memahami prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
2) Penguasaan terhadap bahan pengajaran yang diampu, yakni menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah, menguasai bahan pengayaan.
3) Memiliki kemampuan untuk menyusun program pengajaran, yakni menetapkan tujuan pembelajaran, memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran, memilih dan mengembangkan strategi belajar
mengajar, memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai, memilih dan memanfaatkan sumber belajar.
4) Melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan program yang telah disusun, yakni menciptakan iklim belajar yang tepat, mengatur ruangan belajar, dan mengolah interaksi belajar mengajar.
5) Melaksanakan penilaian hasil dan proses belajar mengajar, yakni menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran dan menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang kompetensi profesional nampak bahwa kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus dikuasai guru dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas utamanya mengajar. dengan demikian kompetensi profesional membantu guru dalam menguasai jenis-jenis materi pembelajaran, mengurutkan materi pembelajaran, mengorganisasikan materi pembelajaran, dan mendayagunakan sumber belajar sebaik mungkin agar menghasilkan siswa yang berkualitas.
Mulyasa (2013: 136-138) mengemukakan secara lebih khusus kompetensi profesional guru sebagai berikut:
1) Pemahaman terhadap Standar Nasional Pendidikan
2) Kemampuan mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 3) Penguasaan materi pembelajaran yang diampu.
4) Pengelolaan program pembelajaran. 5) Kemampuan mengelola kelas.
6) Menggunakan media dan sumber pembelajaran saat pembelajaran berlangsung.
7) Penguasaan terhadap landasan kependidikan.
8) Memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik. 9) Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah. 10) Memahami penelitian dalam pembelajaran.
11) Menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran. 12) Mengembangkan teori dan konsep dasar pendidikan.
13) Memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran individual.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi profesional guru adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru dapat melaksankan tugas utamanya yaitu mengajar. Kompetensi