BAB II Modernisasi dan Globalisasi serta Pengaruh
A. Modernisasi dan Globalisasi
1. Hakikat Modernisasi
Modernisasi adalah suatu proses yang dialami masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Masyarakat modern adalah pencerminan dari kondisi sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang di Eropa Barat (Inggris, Belanda, Perancis, Jerman) dan Amerika Utara pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Di sanalah permulaan modernisasi. Oleh karena itu, modernisasi dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan masyarakat secara total dari tradisional menuju masyarakat modern seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara yang telah di- anggap stabil.
Tabel berikut ini, menunjukkan perbedaan masyarakat tradisional (pramo- dern) dengan masyarakat modern menurut Max Weber.
Pemilikan pribadi semua alat produksi dan pemusatan keka- yaan berada di bawah kontrol pengusaha (tanah, bangunan, mesin, bahan mentah semuanya dikontrol oleh suatu agen dan bebas diperjualbelikan di pasar sebagai barang milik pribadi)
Aspek Masyarakat Agraris
Tradisional
Masyarakat Kapitalis (Modern)
Pemilikan Terikat pada status sosial turun-temurun
Sebelumnya, Auguste Comte juga telah menjelaskan bahwa tatanan masyarakat modern ditandai oleh enam hal, yaitu konsentrasi tenaga kerja di pusat perkotaan, pengorganisasian pekerjaan ditentukan berdasarkan efektivitas dan keuntungan, penerapan ilmu dan teknologi dalam proses produksi,
(Sumber: Piotr Sztompka, 1993:83-84)
Mekanisasi pekerjaan dengan memanfaatkan teknologi, se- hingga memungkinkan untuk memperhitungkan kapital seca- ra tepat. Proses produksi berda- sarkan prinsip organisasi yang efektif, produktif, dan rasional. Tenaga kerja bebas bergerak menanggapi permintaan dari satu cabang ke cabang perusa- haan lainnya atau dari wilayah satu ke wilayah lain. Tenaga ker- ja bebas menjual tenaganya se- bagai komoditi untuk mendapat upah dari pasar terbuka. Pedagang di pasar bebas tidak dibatasi oleh hambatan tradisio- nal (monopoli kelas, terbatasnya pemilikan, proteksionisme, dsb). Pasar mengatur prinsip distribusi dan konsumsi.
Penerapannya bersifat univer- sal. Hukum yang dapat diperhi- tungkan memungkinkan untuk meramalkan konsekuensi kon- trak dan pelaksanaan hukum. Untuk mencapai keuntungan maksimal. Motivasi perilaku ekonomi adalah untuk menca- pai keuntungan tertinggi.
Aspek Masyarakat AgrarisTradisional Masyarakat Kapitalis(Modern)
Mekanisme pekerjaan Ciri tenaga kerja Pasar Hukum yang berlaku Motivasi utama Belum ada
Tidak bebas (hubungan perbudakan atau hamba pengolah tanah)
Sangat dibatasi oleh rintangan pajak, perampokan,
terbatasnya lembaga keuangan, dan transportasi yang buruk.
Bersifat khusus, penerapannya berbeda setiap kelompok sosial yang ada. Penerapan dan keputusan hukum bersifat patrimonial.
Untuk memuaskan kebutuhan sehari-hari. Kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang besar masih kurang menarik.
47 Modernisasi dan Globalisasi Serta Pengaruh Perubahan Sosial Secara Umum
Infososio
MODERNISASI DI INDONESIA
Usaha yang kini dilakukan masya- rakat Indonesia untuk mengem- bangkan kebudayaan nasional Indonesia merupakan suatu ben- tuk perubahan sosial budaya. Se- langkah demi selangkah kebu- dayaan Indonesia mulai terwujud. Berbagai unsur dari kebudayaan tradisional yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Indo- nesia menjadi bagian dari pembentuk kebudayaan itu. Demikian juga pengaruh-pengaruh kebudayaan asing. Semua itu membuat bangsa Indonesia kini mulai meninggal- kan kebudayaan lama yang ber- akar pada pertanian tradisional menuju kebudayaan masyarakat industri dan perdagangan.
munculnya antagonisme terpendam atau nyata antara pengusaha dan buruh, berkembangnya kesenjangan dan ketidakadilan sosial, dan berlakunya sistem ekonomi bebas dan terbuka.
Berdasarkan uraian Max Weber dan Auguste Comte tersebut, maka masyarakat modern memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Individualisme
Dalam masyarakat modern, yang memegang peran sentral adalah individu, bukan komunitas, kelompok, atau bangsa. Seseorang bebas dari tekanan ikatan kelompok, bebas berpindah dari satu kelompok menuju kelompok lain, bebas memilih keanggotaan sosial, bebas menentukan tindakannya dan bertanggung jawab secara pribadi atas keberhasilan dan kegagalannya.
b. Deferensiasi
Dalam masyarakat modern, terjadi spe- sialisasi pekerjaan dan keahlian. Berbagai bidang pekerjaan baru yang membutuh- kan keterampilan dan keahlian khusus berkembang di masyarakat modern. Dalam bidang konsumsi juga terjadi deferensiasi. Akhirnya, deferensiasi pe- kerjaan dan konsumsi memberi kesem- patan kepada setiap orang untuk memilih pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup masing-masing.
c. Rasionalitas
Birokrasi dan manajemen organisasi da- lam masyarakat modern, didasarkan kepada perhitungan (rasional) dan meng- anut prinsip efisiensi.
d. Ekonomisme
Seluruh aspek kehidupan masyarakat modern didominasi oleh kegiatan eko- nomi, tujuan ekonomi, kriteria ekonomi, dan prestasi ekonomi. Pusat perhatian
masyarakat modern adalah produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa. Semua itu diukur dengan uang sebagai alat tukar. Bahkan, hubungan kekeluargaan dikesampingkan demi kepentingan ekonomi.
e. Perkembangan
Modernitas cenderung berkembang meluas ke seluruh penjuru dunia, sehingga berubah menjadi globalisasi. Selain meluas, modernitas juga menjangkau kehidupan paling pribadi, sehingga memengaruhi kepercayaan keagamaan, perilaku seksual, selera konsumsi, pola hiburan, dan sebagainya.
Setelah zaman penjajahan berakhir, negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berusaha mengejar ketertinggalan mereka dengan melakukan modernisasi. Mereka melakukan industrialisasi demi meningkatkan perekono- mian dan mencapai tahap tinggal landas. Tahap tinggal landas adalah suatu tahap yang dilalui masyarakat ketika meninggalkan kondisi sosial ekonomi ter- belakang menuju kondisi yang lebih baik.
Semua masyarakat yang menginginkan perkembangan ke arah lebih baik, pada umumnya memilih jalan modernisasi, atau meniru suatu keadaan yang ada di masyarakat Barat. Sementara itu, tidak semua negara mampu mencapai tahap tinggal landas atau mampu menjadi negara industri baru. Perkembangan di negara-negara maju demikian cepat dan seolah tak terkejar. Akibatnya, kesenjangan selalu saja terjadi dan semakin lebar. Negara-negara maju mampu mengeksploitasi kekayaan alam negara-negara berkembang untuk kepentingan mereka sendiri. Di sisi lain, negara-negara berkembang semakin tergantung kepada negara-negara maju.
Menurut Soerjono Soekanto (1990), proses modernisasi membutuhkan enam syarat. Pertama; adanya cara berpikir ilmiah, terutama di kalangan pe- mimpin masyarakat (penguasa). Untuk mengembangkan cara berpikir ilmiah, diperlukan adanya sistem pendidikan yang baik dan bermutu. Kedua; adanya sistem administrasi negara yang baik (good governance). Prinsip-prinsip sistem administrasi yang baik meliputi adanya keterbukaan, dapat dipertanggung- jawabkan (akuntabel), dan tidak terjadi korupsi di tubuh pemerintah. Ketiga; adanya sistem informasi yang baik dan teratur sehingga tersedia data dalam berbagai bidang kehidupan. Semua data dihimpun secara sistematis, dan diperbaharui (up date) secara berkala, sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu untuk membuat perencanaan perubahan (pembangunan) masyarakat. Keempat; terciptanya sistem komunikasi massa yang mendukung proses modernisasi. Berbagai sarana komunikasi harus dikembangkan setahap demi setahap sehingga tercipta iklim yang baik tanpa berbenturan dengan sistem kepercayaan masyarakat. Kelima; meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berorganisasi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Keenam; adanya pemusatan wewenang dalam perencanaan sosial (social planning). Sentralisasi ini, bertujuan untuk menghindari gangguan dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang tidak sejalan dengan arah perubahan sosial yang direncanakan.
Indonesia sebagai salah satu negara yang ingin menyejahterakan rakyatnya turut pula melakukan modernisasi di segala bidang kehidupan. Berbagai program pembangunan digalakkan dengan prinsip-prinsip modernitas seperti yang di- jelaskan di atas. Beberapa kemajuan memang telah dicapai, angka buta huruf menurun, tingkat kualitas hidup naik, perekonomian tumbuh, pertanian maju dan bahkan Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Namun, tidak semua proses modernisasi di Indonesia berjalan sesuai dengan harapan, pada beberapa sisi justru bertolak belakang. Dampak negatif dari proses modernisasi yang
49 Modernisasi dan Globalisasi Serta Pengaruh Perubahan Sosial Secara Umum
dapat dirasakan pada saat ini, antara lain semakin lebarnya kesenjangan sosial- ekonomi, tingginya konflik sosial dan kriminalitas, serta demoralisasi. Ada banyak faktor yang menyebabkan proses modernisasi di Indonesia tidak berjalan sebagaimana mestinya, salah satu faktor adalah lemahnya kualitas sumber daya manusia. Tentu masih banyak faktor lain, coba diskusikan dengan teman Anda!