TINJAUAN PUSTAKA
3. Hakikat Nilai Pendidikan
a. Hakikat Nilai
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan ku alitas,
dan berguna bagi manu sia. Sesuatu itu bernilai berarti sesu atu itu berharga
atau berguna bagi kehidupan manusia. Nilai sebagai kualitas yang
independen akan memiliki ketetap an ya itu tidak berubah yang terjadi pad a
objek yang dikenai nilai. Persahabatan sebagai nilai (positif/baik) tidak akan
berubah esensinya manakala ad a pengkhianatan antara du a yang bersahabat.
Artinya nilai adala h suatu ketetapan yang ada bagaimanapu n keadaan di
sekitarnya berlangsu ng.
Sastra d an tata nilai merupakan d ua fenomena sosial yang saling
seb agai produk kehid up an., mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi,
dan sebagainya baik yang bertolak dari p engungkap an kemb ali maupun
yang m empeunyai penyod oran konsep baru (Suyitno, 1986: 3). Sastra tidak
hanya memasuki ruang serta nilai kehidupan personal, tetapi juga
nilai-nilai kehidup an manu sia dalam arti total.
Menilai oleh Elly M. Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai ke giata n
menghubungkan sesu atu dengan sesuatu yang lain sehingga diperoleh
menjadi suatu keputusan yang men yatakan sesu atu itu berguna atau tidak
berguna, benar atau tidak benar, b aik, atau buruk, manusiawi atau tidak
manusiawi, religius atau tidak religius, berdasarkan jenis tersebutla h nilai
ad a.
Sedangkan Soerjono Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai
merupakan abstraksi daripada pengalaman-pengalaman p rib adi seseo rang
dengan sesamanya. Pada hakikatn ya, nilai yang tertinggi selalu berujung
pada nilai yang terdalam dan terabstrak b agi manusia, yaitu menyangkut
tentang ha l-hal yang bersifat hakiki. Dari beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan pengertian nilai seb agai sesuatu yang bernilai, berharga,
bermutu, yang akan menunju kkan su atu kualitas dan akan berguna bagi
kehidupan manusia.
b. Pengertian Pendidikan
M. Ngalim Pu rwanto (1986: 11) menyatakan bahwa pendidikan
berarti segala usaha orang dewasa dalam p ergaulannya dengan ana k-ana k
kedewasaan. Hakikat pe ndid ikan bertujuan untuk mend ewasakan anak
did ik, maka seorang pendidik haruslah o rang yang dewasa, karena tidak
mu ngkin dapat mendewasakan anak didik jika pendidiknya sendiri belum
dewasa. Tilaar (2002 ; 435) mengatakan hakikat p endidikan ad ala h
memanusiakan manusia. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, memanusiaka n
manusia atau proses humanisasi melihat manusia sebagai suatu keseluruhan
di dalam eksistensinya. Eksistensi ini menu rut penulis adalah menempatkan
kedudukan manusia pada tempatnya yang terhormat dan bermartabat.
Kehormatan itu tentunya tidak lepas d ari nilai-nilai lu hur yang selalu
dip egang umat manusia.
Pendidikan pad a hakikatnya juga berarti mencerdaskan kehidupan
bangsa. Dari pernyataan tersebut terdapat tiga unsur poko k dalam
pendidikan, yaitu: a) cerdas, berarti memiliki ilmu yang dapat digu naka n
untuk men yelesaikan persoalan n yata. Cerdas bermakna kreatif, inovatif dan
siap mengaplikasikan ilmunya; b) hidup, memiliki filo sofi untuk
menghargai kehidupan d an melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan
itu sendiri. Hid up itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan
segala amalan kita akan dipertanggu ngjawabka n kepada-Nya. Filosofi hid up
ini sangat syarat akan makna ind ividualisme yang artin ya mengangkat
kehidupan seseorang, memanusiakan manusia, memberikan makana n
kehidupan berupa semangat, nilai mo ral, dan tujuan hid up; c) bangsa, b erarti
manusia selain sebagai individ u juga merupakan makhluk sosial yang
menyumb angkan pengetahuannya untuk masyarakat meningkatkan derajat
kemuliaa n masyarakat sekitar dengan ilmu, sesuai dengan yang diajarkan
agama dan pendidikan. Indikator terpenting kemajuan suatu bangsa adalah
pendidikan dan pengajaran (Nyoman Ku tha Ratna, 2009: 449 ).
Segala sesuatu yang digunakan untuk mendidik harus yang
mengand ung nilai d id ik, termasuk dalam pemilihan media. Novel sebagai
suatu karya sastra, yang merupakan kar ya seni juga memerlukan
pertimbangan dan penilaian tentang seninya (Rachmat Djoko Pradopo,
2005: 30). Pendidikan p ada kahikatnya merup akan upaya membantu peserta
did ik untuk men yadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya
memfasilitasi m ereka agar terbuka wawasan d an p erasaannya untuk
memiliki dan me yakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan
merupakan kebenaran yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai
manusia yang b eradab (Elly M. Setiadi, 2006: 114).
Adler (dalam Arifin, 1993: 12) mengartikan pendidikan seb agai
proses dimana seluruh kemampu an manusia dip engaruhi oleh pembiasaan
yang baik untuk untuk membantu orang lain d an dirinya sendiri mencap ai
kebiasaan yang b aik. Secara etimolo gis, sastra juga berarti alat untuk
mendidik (N yoman Kutha Ratna, 2009: 447). Jika d ikaitkan d engan pesa n
dan muatannya, hampir secara keselu ruhan karya sastra merupakan
sarana-sarana etika. Jadi, antara pendidikan dan karya sastra (no vel) adalah d ua hal
Berdasarkan b eberapa pendapat di atas dapat dirumuskan b ahwa
nilai pendidikan merupakan segala sesuatu yang baik maupun buruk yang
berguna bagi kehidupan manusia yang dipero leh melalui proses pengu bahan
sikap dan tata laku dalam up aya mendewasakan d iri manu sis melalui up aya
pengajaran. Dihubungkan dengan eksistensi dan kehidup an manusia,
nilai-nilai pend idikan d iarahkan pada p embentukan pribad i manusis sebagai
makhluk ind ividu , so sial, religius, dan b erbudaya. Nilai-nilai pendidikan
yang tersirat dalam berb agai hal dapat mengembangkan masyarakat dalam
berbagai hal dapat mengembangkan masyarakat dengan berbagai
dimensinya dan nilai-nilai terseb ut mu tlak diha yati dan diresapi manu sia
seb ab ia mengarah pada kebaikan dalam b erpikir dan bertindak sehingga
dapat memajukan budi pekerti serta p ikiran/intelegensinya. Nilai-nilai
pendidika n d apat ditangkap manu sia me lalui b erbagai hal diantaranya
melalui pemahaman d an penikmatan sebuah karya sastra. Sastra khu susnya
humaniora sangat berperan penting sebagai media dalam pentransformasian
seb uah nilai termasuk haln ya nilai pendidikan.
c. Macam-macam Nilai Pendidikan
Mencari nilai luhu r dari karya sastra ad alah menentukan kreativitas
terhadap hubungan kehid up annya. Dalam karya sastra akan tersimpan nilai
atau pesan ya ng berisi amanat atau nasihat. Melalui karyanya, pencip ta
karya sastra b erusaha u ntuk mempengaruhi pola piker pembaca dan ikut
patut d itiru sebaliknya, u ntuk dicela bagi yang tidak baik. Karya sastra
diciptakan b ukan seked ar untuk dinikmati, akan tetap i untuk dipahami dan
diambil manfaatn ya. Karya sastra tidak sekedar benda mati yang tidak
berarti, tetapi d idalamnya termuat suatu ajaran berupa nilai-nilai hidup dan
pesan-pesan lu hur yang mampu menambah wawasan manusia dalam
memahami kehidupan. Dalam karya sastra, berbagai nilai hidup d ihadirka n
karena hal ini merup akan hal positif yang mampu mend idik manu sia,
sehingga manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang
dikaruniai oleh akal, pikiran, dan perasaan.
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang b anyak
memberikan p enjelasan secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu
mengungkapkan p erbuatan apa yang dipuji dan d icela, pand angan hidup
mana yang dianut dan dijauhi, dan hal ap a saja yang dijunjung tinggi.
Adapu n nila i-nilai pendid ikan dalam novel sebagai berikut.
1) Nilai Agama
Agama ad alah hal yang mutla k dalam kehidupan manu sia
sehingga dari pend idikan ini diharapkan dapat terbentuk manusia
religius. Mangunwijaya (dalam Bu rhan Nurgiyanto ro, 2010: 327)
menyatakan:
Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan hukum-hukum resmi. Religius, dipihak lain melihat aspek yang d ilubuk hati, riak getar nu rani, totalitas ke dalam p ribad i manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal dan resmi.
Pernyataa n di atas sependapat dengan pernyataan yang
diu ngkapkan oleh Ko entjaraningrat (1985: 145) b ahwa, “Makin ia taat
menjalankan syariat agama, maka makin tinggi pu la tingkat
religiusnya”. Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala
secara mendalam dalam lu buk hati manusia seb agai human nature.
Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah
melainkan juga menyangku t keseluruhan diri pribadi manusia secara
total dalam integrasinya hu bu ngan ke d alam keesaan Tuhan (Rosyadi,
1995: 90 ).
Nilai-nilai religiou s bertujuan untu k mendidik a gar manu sia
lebih b aik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan.
Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksud kan
agar penikmat karya terseb ut mendapatkan renu ngan-renu ngan batin
dalam kehidupan yang bersumb er p ada nilai-nilai agama. Nilai-nilai
religius dalam sastra bersifat individual dan p erso nal. Kehad iran unsur
religi dalam sastra adalah seb uah keberadaan sastra itu sendiri
(Burhan Nurgiyantoro, 2010: 326).
Atar Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci
sejarah, kita baru memahami jiwa suatu masyarakat bila kita
memahami agamanya. Selanju tnya ditambahkan pula bahwa kita tidak
mengerti hasil-hasil kebud ayaanya, kecuali bila kita paham akan
kepercayaan atau agama yang mengilham inya. Religi leb ih pada hati,
tersebut dap at disimpulkan b ahwa Nilai religiu s yang merupakan nilai
kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaa n
atau keyakinan manusia.