• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Nilai Pendidikan

Dalam dokumen Muhammad Sholehuddin S841108017 (Halaman 56-63)

TINJAUAN PUSTAKA

3. Hakikat Nilai Pendidikan

a. Hakikat Nilai

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan ku alitas,

dan berguna bagi manu sia. Sesuatu itu bernilai berarti sesu atu itu berharga

atau berguna bagi kehidupan manusia. Nilai sebagai kualitas yang

independen akan memiliki ketetap an ya itu tidak berubah yang terjadi pad a

objek yang dikenai nilai. Persahabatan sebagai nilai (positif/baik) tidak akan

berubah esensinya manakala ad a pengkhianatan antara du a yang bersahabat.

Artinya nilai adala h suatu ketetapan yang ada bagaimanapu n keadaan di

sekitarnya berlangsu ng.

Sastra d an tata nilai merupakan d ua fenomena sosial yang saling

seb agai produk kehid up an., mengandung nilai-nilai sosial, filsafat, religi,

dan sebagainya baik yang bertolak dari p engungkap an kemb ali maupun

yang m empeunyai penyod oran konsep baru (Suyitno, 1986: 3). Sastra tidak

hanya memasuki ruang serta nilai kehidupan personal, tetapi juga

nilai-nilai kehidup an manu sia dalam arti total.

Menilai oleh Elly M. Setiadi (2006: 110) dikatakan sebagai ke giata n

menghubungkan sesu atu dengan sesuatu yang lain sehingga diperoleh

menjadi suatu keputusan yang men yatakan sesu atu itu berguna atau tidak

berguna, benar atau tidak benar, b aik, atau buruk, manusiawi atau tidak

manusiawi, religius atau tidak religius, berdasarkan jenis tersebutla h nilai

ad a.

Sedangkan Soerjono Soekanto (1983: 161) menyatakan, nilai-nilai

merupakan abstraksi daripada pengalaman-pengalaman p rib adi seseo rang

dengan sesamanya. Pada hakikatn ya, nilai yang tertinggi selalu berujung

pada nilai yang terdalam dan terabstrak b agi manusia, yaitu menyangkut

tentang ha l-hal yang bersifat hakiki. Dari beberapa pendapat tersebut dapat

disimpulkan pengertian nilai seb agai sesuatu yang bernilai, berharga,

bermutu, yang akan menunju kkan su atu kualitas dan akan berguna bagi

kehidupan manusia.

b. Pengertian Pendidikan

M. Ngalim Pu rwanto (1986: 11) menyatakan bahwa pendidikan

berarti segala usaha orang dewasa dalam p ergaulannya dengan ana k-ana k

kedewasaan. Hakikat pe ndid ikan bertujuan untuk mend ewasakan anak

did ik, maka seorang pendidik haruslah o rang yang dewasa, karena tidak

mu ngkin dapat mendewasakan anak didik jika pendidiknya sendiri belum

dewasa. Tilaar (2002 ; 435) mengatakan hakikat p endidikan ad ala h

memanusiakan manusia. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, memanusiaka n

manusia atau proses humanisasi melihat manusia sebagai suatu keseluruhan

di dalam eksistensinya. Eksistensi ini menu rut penulis adalah menempatkan

kedudukan manusia pada tempatnya yang terhormat dan bermartabat.

Kehormatan itu tentunya tidak lepas d ari nilai-nilai lu hur yang selalu

dip egang umat manusia.

Pendidikan pad a hakikatnya juga berarti mencerdaskan kehidupan

bangsa. Dari pernyataan tersebut terdapat tiga unsur poko k dalam

pendidikan, yaitu: a) cerdas, berarti memiliki ilmu yang dapat digu naka n

untuk men yelesaikan persoalan n yata. Cerdas bermakna kreatif, inovatif dan

siap mengaplikasikan ilmunya; b) hidup, memiliki filo sofi untuk

menghargai kehidupan d an melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan

itu sendiri. Hid up itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan

segala amalan kita akan dipertanggu ngjawabka n kepada-Nya. Filosofi hid up

ini sangat syarat akan makna ind ividualisme yang artin ya mengangkat

kehidupan seseorang, memanusiakan manusia, memberikan makana n

kehidupan berupa semangat, nilai mo ral, dan tujuan hid up; c) bangsa, b erarti

manusia selain sebagai individ u juga merupakan makhluk sosial yang

menyumb angkan pengetahuannya untuk masyarakat meningkatkan derajat

kemuliaa n masyarakat sekitar dengan ilmu, sesuai dengan yang diajarkan

agama dan pendidikan. Indikator terpenting kemajuan suatu bangsa adalah

pendidikan dan pengajaran (Nyoman Ku tha Ratna, 2009: 449 ).

Segala sesuatu yang digunakan untuk mendidik harus yang

mengand ung nilai d id ik, termasuk dalam pemilihan media. Novel sebagai

suatu karya sastra, yang merupakan kar ya seni juga memerlukan

pertimbangan dan penilaian tentang seninya (Rachmat Djoko Pradopo,

2005: 30). Pendidikan p ada kahikatnya merup akan upaya membantu peserta

did ik untuk men yadari nilai-nilai yang dimilikinya dan berupaya

memfasilitasi m ereka agar terbuka wawasan d an p erasaannya untuk

memiliki dan me yakini nilai yang lebih hakiki, lebih tahan lama, dan

merupakan kebenaran yang dihormati dan diyakini secara sahih sebagai

manusia yang b eradab (Elly M. Setiadi, 2006: 114).

Adler (dalam Arifin, 1993: 12) mengartikan pendidikan seb agai

proses dimana seluruh kemampu an manusia dip engaruhi oleh pembiasaan

yang baik untuk untuk membantu orang lain d an dirinya sendiri mencap ai

kebiasaan yang b aik. Secara etimolo gis, sastra juga berarti alat untuk

mendidik (N yoman Kutha Ratna, 2009: 447). Jika d ikaitkan d engan pesa n

dan muatannya, hampir secara keselu ruhan karya sastra merupakan

sarana-sarana etika. Jadi, antara pendidikan dan karya sastra (no vel) adalah d ua hal

Berdasarkan b eberapa pendapat di atas dapat dirumuskan b ahwa

nilai pendidikan merupakan segala sesuatu yang baik maupun buruk yang

berguna bagi kehidupan manusia yang dipero leh melalui proses pengu bahan

sikap dan tata laku dalam up aya mendewasakan d iri manu sis melalui up aya

pengajaran. Dihubungkan dengan eksistensi dan kehidup an manusia,

nilai-nilai pend idikan d iarahkan pada p embentukan pribad i manusis sebagai

makhluk ind ividu , so sial, religius, dan b erbudaya. Nilai-nilai pendidikan

yang tersirat dalam berb agai hal dapat mengembangkan masyarakat dalam

berbagai hal dapat mengembangkan masyarakat dengan berbagai

dimensinya dan nilai-nilai terseb ut mu tlak diha yati dan diresapi manu sia

seb ab ia mengarah pada kebaikan dalam b erpikir dan bertindak sehingga

dapat memajukan budi pekerti serta p ikiran/intelegensinya. Nilai-nilai

pendidika n d apat ditangkap manu sia me lalui b erbagai hal diantaranya

melalui pemahaman d an penikmatan sebuah karya sastra. Sastra khu susnya

humaniora sangat berperan penting sebagai media dalam pentransformasian

seb uah nilai termasuk haln ya nilai pendidikan.

c. Macam-macam Nilai Pendidikan

Mencari nilai luhu r dari karya sastra ad alah menentukan kreativitas

terhadap hubungan kehid up annya. Dalam karya sastra akan tersimpan nilai

atau pesan ya ng berisi amanat atau nasihat. Melalui karyanya, pencip ta

karya sastra b erusaha u ntuk mempengaruhi pola piker pembaca dan ikut

patut d itiru sebaliknya, u ntuk dicela bagi yang tidak baik. Karya sastra

diciptakan b ukan seked ar untuk dinikmati, akan tetap i untuk dipahami dan

diambil manfaatn ya. Karya sastra tidak sekedar benda mati yang tidak

berarti, tetapi d idalamnya termuat suatu ajaran berupa nilai-nilai hidup dan

pesan-pesan lu hur yang mampu menambah wawasan manusia dalam

memahami kehidupan. Dalam karya sastra, berbagai nilai hidup d ihadirka n

karena hal ini merup akan hal positif yang mampu mend idik manu sia,

sehingga manusia mencapai hidup yang lebih baik sebagai makhluk yang

dikaruniai oleh akal, pikiran, dan perasaan.

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang b anyak

memberikan p enjelasan secara jelas tentang sistem nilai. Nilai itu

mengungkapkan p erbuatan apa yang dipuji dan d icela, pand angan hidup

mana yang dianut dan dijauhi, dan hal ap a saja yang dijunjung tinggi.

Adapu n nila i-nilai pendid ikan dalam novel sebagai berikut.

1) Nilai Agama

Agama ad alah hal yang mutla k dalam kehidupan manu sia

sehingga dari pend idikan ini diharapkan dapat terbentuk manusia

religius. Mangunwijaya (dalam Bu rhan Nurgiyanto ro, 2010: 327)

menyatakan:

Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan hukum-hukum resmi. Religius, dipihak lain melihat aspek yang d ilubuk hati, riak getar nu rani, totalitas ke dalam p ribad i manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal dan resmi.

Pernyataa n di atas sependapat dengan pernyataan yang

diu ngkapkan oleh Ko entjaraningrat (1985: 145) b ahwa, “Makin ia taat

menjalankan syariat agama, maka makin tinggi pu la tingkat

religiusnya”. Religi merupakan suatu kesadaran yang menggejala

secara mendalam dalam lu buk hati manusia seb agai human nature.

Religi tidak hanya menyangkut segi kehidupan secara lahiriah

melainkan juga menyangku t keseluruhan diri pribadi manusia secara

total dalam integrasinya hu bu ngan ke d alam keesaan Tuhan (Rosyadi,

1995: 90 ).

Nilai-nilai religiou s bertujuan untu k mendidik a gar manu sia

lebih b aik menurut tuntunan agama dan selalu ingat kepada Tuhan.

Nilai-nilai religius yang terkandung dalam karya sastra dimaksud kan

agar penikmat karya terseb ut mendapatkan renu ngan-renu ngan batin

dalam kehidupan yang bersumb er p ada nilai-nilai agama. Nilai-nilai

religius dalam sastra bersifat individual dan p erso nal. Kehad iran unsur

religi dalam sastra adalah seb uah keberadaan sastra itu sendiri

(Burhan Nurgiyantoro, 2010: 326).

Atar Semi (1993: 21) menyatakan, agama merupakan kunci

sejarah, kita baru memahami jiwa suatu masyarakat bila kita

memahami agamanya. Selanju tnya ditambahkan pula bahwa kita tidak

mengerti hasil-hasil kebud ayaanya, kecuali bila kita paham akan

kepercayaan atau agama yang mengilham inya. Religi leb ih pada hati,

tersebut dap at disimpulkan b ahwa Nilai religiu s yang merupakan nilai

kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaa n

atau keyakinan manusia.

Dalam dokumen Muhammad Sholehuddin S841108017 (Halaman 56-63)

Dokumen terkait