Paragraf adalah suatu kesatuan pikiran yang dituangkan dalam kalimat atau kumpulan kalimat yang saling berkaitan untuk membentuk satu ide atau gagasan pokok.42 Berikut ini pandangan para pakar mengenai pengertian paragraf.
Keraf dalam bukunya mengatakan bahwa paragraf bukanlah suatu pembagian secara sepakat dari satu bab yang terdiri dari kalimat-kalimat, tetapi lebih dalam maknanya dari kesatuan kalimat saja. Paragraf tidak lain dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat.43
Sependapat dengan Keraf, Akhadiah dkk dalam Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia juga mengemukakan bahwa paragraf merupakan inti
penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama, kalimat penjelas sampai pada kalimat
40
Ainiyah Ekowati, Skripsi: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dalam Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa, (Bogor: Universitas Pakuan, 2008), h. 44.
41
Sabarti, Akhadiah dkk, Menulis I, (Jakarta: Universitas Terbuka,1986), h. 1.20.
42
Claudia L. Sulistianingsih, Messe Bahasa Indonesia; Tata Bahasa dan Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Messemedia, 2010), h. 61.
43
Gorys Keraf, Komposisi; Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa, (Ende Flores: Nusa Indah, 1993), Cet. 9, h. 62.
penutup. Himpunan kalimat ini saling berkaitan dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.44
Sedangkan Ramlan dan Mahmudah dalam Disiplin Berbahasa Indonesia berpendapat bahwa paragraf bukan sekedar kumpulan kalimat. Artinya, tulisan yang terdiri dari sekumpulan kalimat belum tentu paragraf. Dikategorikan paragraf jika sekumpulan kalimat tersebut terdiri dari satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.45
Berdasarkan beberapa pandangan pakar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa paragraf adalah satu kesatuan pikiran yang dituangkan dalam sekumpulan kalimat yang terdiri dari kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas.
2. Syarat Paragraf yang Baik
Dalam menyusun paragraf yang baik, seorang penulis dituntut untuk memperhatikan syarat paragraf yang baik, yaitu kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.
a. Kesatuan
Kesatuan paragraf adalah unsur yang membangun sebuah paragraf tersebut. Sebuah paragraf yang baik, biasanya terdiri dari satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.46 Keraf, dalam buku Komposisi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang terdapat dalam paragraf tersebut secara bersama menyatakan suatu hal, suatu tema tertetu.47 Finoza, dalam bukunya mengatakan bahwa sebuah paragraf dikatakan memiliki kesatuan jika keseluruhan kalimat dalam paragraf hanya membicarakan satu ide pokok.48 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesatuan
44
Sabarti, Akhadiah,dkk, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 144.
45
Ramlan dan Mahmudah Fitriyah, Disiplin Berbahasa Indonesia, (Jakarta: FITK Press, 2010), Cet. 1, h. 86.
46Ibid
, h.87.
47
Gorys Keraf, Komposisi; Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa, (Ende Flores: Nusa Indah, 1993), Cet. 9, h. 67
48
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2009), h. 193.
merupakan unsur pembangun paragraf terdiri dari satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas yang menyatakan suatu masalah dalam paragaf.
b. Kepaduan
Maksud dari kepaduan adalah dalam sebuah paragraf tidak boleh ada kalimat yang tidak ada hubungannya atau menyimpang dari paragraf itu. Akhadiah dkk, dalam buku Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia mengatakan satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Jadi, kepaduan dititikberatkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.49 c. Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya, suatu paragraf dikatakan tidak lengkap jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.50
3. Jenis Paragraf
Berdasarkan tujuannya, paragraf dibedakan atas beberapa jenis: a. Paragraf Narasi
Paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah mengalami kejadian yang diceritakan. 51
b. Paragraf Deskripsi
Paragraf yang melukiskan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan pengamatan, pengalaman, dan perasaan penulisnya. Sasarannya adalah
49
Sabarti, Akhadiah,dkk, Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2003),h. 150.
50
Ibid, h.152.
51
Claudia L. Sulistianingsih, Messe Bahasa Indonesia; Tata Bahasa dan Sastra Indonesia, (Yogyakarta: Messemedia, 2010), h. 63.
memungkinkan terciptanya imajinasi (daya khayal) pembaca seolah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri apa yang dialami penulisnya.52
c. Paragraf Eksposisi
Eksposisi artinya paparan. Dengan paparan, penulis menyampaikan suatu penjelasan dan informasi. Setelah membaca, seseorang akan mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh penulis dalam paparan tersebut.53 d. Paragraf Argumentasi
Jenis tulisan yang memberikan alasan berdasarkan fakta dan data. Dengan fakta dan data, penulis berusaha meyakinkan pembaca sehingga tulisan itu diterima oleh pembacanya.54
e. Paragraf Persuasi
Paragraf yang ditujukan untuk memengaruhi sikap dan pembaca mengenai suatu hal yang disampaikan oleh penulisnya. Persuasi menggunakan pendekatan emosional.55 Paragraf persuasi juga merupakan paragraf yang bertujuan membuat pembaca percaya, yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan baik berupa fakta, suatu pendapat/ gagasan ataupun perasaan seseorang. Dalam persuasi, fakta-fakta yang relevan dan jelas harus diuraikan sedemikian rupa sehingga kesimpulannya dapat diterima secara meyakinkan.
4. Pengertian Paragraf Persuasi
Dalam bahasa Inggris kata to persuade berarti ’membujuk’ atau ’meyakinkan.’ Bentuk nominanya adalah persuation yang kemudian menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia: persuasi.56 Paragraf persuasi adalah paragraf yang bertujuan membuat pembaca percaya, yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan baik berupa fakta, suatu pendapat/ gagasan ataupun perasaan seseorang. Para pakar pun berpendapat bahwa paragraf persuasi merupakan jenis
52
Suparno dan Muhammad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), h. 1.11.
53
Ramlan dan Mahmudah Fitriyah, Disiplin Berbahasa Indonesia, (Jakarta: FITK Press, 2010), Cet. 1, h. 93.
54Ibid
, h. 98.
55
Suparno dan Muhammad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, …………., h. 1.13.
56
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2009), h. 253.
paragraf yang bersifat memengaruhi pembaca. Berikut ini beberapa pendapat para pakar tentang definisi dari paragraf persuasi.
Tarigan, dalam bukunya mengemukakan bahwa persuasi merupakan tulisan yang dapat merebut perhatian pembaca, yang dapat menarik minat, dan dapat meyakinkan pembaca bahwa pengalaman pembaca merupakan suatu hal yang amat penting.57
Sependapat dengan Tarigan, Suparno dan Mohamad Yunus, dalam buku
Keterampilan Dasar Menulis juga mengatakan persuasi adalah paragraf yang
ditujukan untuk memengaruhi sikap dan pendapat pembaca mengenai suatu hal yang disampaikan penulisnya dan lebih menggunakan pendekatan emosional. Persuasi juga menggunakan bukti atau fakta, hanya saja dalam persuasi bukti-bukti itu hanya digunakan sepeerlunya saja.58
Senada pula dengan Suparno, Keraf dalam buku Eksposisi berpendapat bahwa persuasi adalah suatu bentuk paragraf yang merupakan penyimpangan dari argumentasi, dan khusus berusaha memengaruhi orang lain atau para pembaca agar melakukan sesuatu bagi orang yang mengadakan persuasi.59
Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan para pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa paragraf persuasi merupakan jenis paragraf yang bersifat memengaruhi, membujuk, dan meyakinkan pembaca agar mau melakukan sesuatu sesuai persuasi yang diadakan.
5. Macam-Macam Paragraf Persuasi
Ditinjau dari segi medan pemakaiannya, paragraf persuasi digolongkan menjadi empat macam, yaitu a. Persuasi Politik, b. Persuasi Pendidikan, c. Persuasi Advertensi, d. Persuasi Propaganda.60
57
Henry Guntur Tarigan, Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 2008) h. 113.
58
Suparno dan Muhammad Yunus, Keterampilan Dasar Menulis, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009),h. 1.13.
59
Gorys Keraf, Eksposisi, (Jakarta: Grasindo, 1995), h. 14.
60
Lamuddin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia, (Jakarta: Diksi Insan Mulia, 2009), h. 253.
a. Persuasi Politik
Sesuai dengan namanya, persuasi politik dipakai dalam bidang politik oleh orang yang berkecimpung dalam bidang politik dan kenegaraan. Para ahli politik dan kenegaraan sering menggunakan persuasi ini untuk keperluan politik dan negaranya.
b. Persuasi Pendidikan
Persuasi pendidikan dipakai oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Seorang motivator dan inovator pendidikan bisa memanfaatkan persuasi pendidikan dengan menampilkan konsep-konsep pendidikan untuk diterapkan oleh pelaksana pendidikan.
c. Persuasi Advertensi/ Iklan
Persuasi iklan dimanfaatkan terutama dalam dunia usaha untuk memperkenalkan suatu barang atau bentuk jasa tertentu. Lewat persuasi iklan ini diharapkan pembaca atau pendengar berusaha untuk memiliki barang atau jasa yang ditawarkan.
d. Persuasi Propaganda
Objek yang disampaikan dalam persuasi propaganda adalah informasi. Tentu saja tujuan persuasi propaganda tidak hanya berhenti pada penyebaran informasi saja. Lebih dari itu, dengan informasi diharapkan pembaca atau pendengar mau dan sadar untuk berbuat sesuatu. Persuasi propaganda sering dipakai dalam kegiatan kampanye.61