• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teoretik

1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Asing

A. Deskripsi Teoretik

1. Hakikat Pembelajaran Bahasa Asing

Bahasa manusia sangatlah beragam, namun pada dasarnya tujuannya adalah sama yaitu sebagai alat komunikasi baik secara individual maupun kolektif sosial. Bahasa itu sendiri merupakan alat utama yang digunakan manusia untuk menyampaikan pesan berupa informasi kepada orang lain (berkomunikasi). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Hasan, 2002: 88) bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua orang atau anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri dalam bentuk percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun yang baik. Kemampuan berbahasa seseorang menunjukan kecakapan seseorang dalam berkomunikasi, yang dapat diungkapkan seseorang dalam menggunakan bahasa tersebut dalam berbicara, menulis, membaca, maupun memahami bahasa tersebut. Martinet (dalam Eppert, 1973: 270) menyaatakan bahwa eine Sprache ist ein Kommunikationsmittel, nach dem Mensch, in jeder Gemeinschaft auf andere Weise, seine Erfahrung nach Einheiten analysiert. Bahasa adalah sarana komunikasi manusia dari setiap golongan, yang diperoleh dengan berbagai cara serta berdasarkan pengalaman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sarana komunikasi yang sistematis dan digunakan oleh suatu kelompok sosial untuk menyampaikan gagasan seorang pembicara yang ditujukan kepada pendengar.

Menurut Boeree (2008: 17) bahasa ialah sistem simbol-simbol, dengan beberapa tingkatan organisasi (setidaknya terdapat fonetik, sintaks dan semantik). Sekarang bahasa mempunyai fungsi sebagai berikut (1) bahasa dapat menyatakan semua yang ada dan apa yang dinyatakan oleh bahasa menjadi terang eksistensinya, (2) dengan bahasa kita dapat berkomunikasi dengan orang lain atau mengungkapkan buah pikiran, (3) bahasa merupakan wadah atau tempat penyimpanan ilmu pengetahuan yang diperoleh seorang.

Selanjutnya Siahaan (2008: 7) menjelaskan bahwa Language is a unique human inheritance that plays the very important role in human‟s life, such as in thinking, communicating ideas, and negotiating with the others. Bahasa adalah salah satu warisan manusia yang memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia itu sendiri, seperti dalam berpikir, menyampaikan gagasan, dan berkomunikasi dengan yang lainnya.. Secara umum bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Proses komunikasi akan berjalan dengan baik ketika kedua pihak yang berkomunikasi telah dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan keterampilan berbahasa yang sama. Penguasaan kosakata dan tata bahasa merupakan dua aspek yang harus dikuasai seseorang yang ingin mempelajari suatu bahasa, terutama bahasa asing. Untuk itu perlu sekali orang menguasai bahasa dengan benar supaya dapat berinteraksi dengan benar pula.

Penguasaan berbahasa dapat diperoleh dengan pembelajaran. Menurut Spears (dalam Suprijono, 2012: 2) menyatakan bahwa Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. Belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan

mengikuti arah tertentu. Jadi belajar merupakan proses yang mengarah pada suatu hal, dimana proses itu diawali dengan pengamatan sehingga dapat ditiru dan diikuti. Biggs (dalam Sugihartono, 2007: 80-81) membagi konsep pembelajaran dalam 3 pengertian, yaitu:

(1) pembelajaran dalam pengertian kuantitatif, pembelajaran berarti penularan pengetahuan dari guru ke peserta didik, (2) pembelajaran dalam pengertian institusional, pembelajaran berarti penataan segala kemampuan mengajar sehingga dapat berjalan efisien, (3) pembelajaran dalam pengertian kualitatif, pembelajaran berarti upaya guru untuk memudahkan kegiatan belajar peserta didik.

Senada dengan itu, Cagne and Briggs (dalam Djaafar, 2001: 2) mengatakan bahwa pembelajaran adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung mudah. Kemudian Brown (2007: 8) berpendapat bahwa pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu subjek atau keterampilan dengan belajar, pengalaman, atau instruksi. Pembelajaran dalam konteks ini adalah suatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Gintings (dalam Zamroni, 2010: 34) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memotivasi dan menyediakan fasilitas agar terjadi proses belajar pada diri si pelajar. Berdasarkan beberapa teori tentang pembelajaran, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses belajar pada seorang pembelajar yang diperoleh dari pengalaman, dimana dalam proses belajar tersebut pembelajar dimotivasi dan fasilitas disediakan untuk memperoleh pemahaman semaksimal mungkin.

Pembelajaran bahasa sengaja dilakukan dengan maksud supaya pembelajar mampu menggunakan keterampilan bahasanya dengan baik. Namun

di era ini, dimana persaingan dunia semakin ketat menuntut pembelajaran bahasa tidak hanya bahasa sendiri melainkan juga bahasa asing. Ghazali (2000: 11) mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa asing adalah proses mempelajari sebuah bahasa yang tidak dipergunakan sebagai bahasa komunikasi di lingkungan seseorang. Meskipun bahasa asing tidak digunakan untuk komunikasi dalam lingkungan namun sangat bermanfaat untuk komunikasi di luar lingkungan dalam hal ini luar negeri.

Bahasa asing merupakan bahasa ajaran yaitu bahasa yang diajarkan oleh pengajar dan dipelajari oleh siswa di sekolah. Lebih lengkap Richard & Schmidt (2002: 206) menyatakan bahasa asing (foreign language) adalah

A language which is not the native language of large number of people in a particular country or region, is not used as a medium of instruction in school, and is not widely used as a medium of communication in government, media, etc. Foreign language are typically taught as school subjects for the purpose of communicating with foreigners or for reading printed materials in the language.

Dari kutipan Richard & Schmidt mengenai pengertian bahasa asing, bahwa bahasa asing diartikan sebagai satu bahasa yang bukan bahasa asli dari sebagian besar orang pada satu negara atau daerah tertentu, yang bukan dipergunakan sebagai satu bahasa pengantar di sekolah, dan secara luas bukan dipakai sebagai satu sarana komunikasi dalam pemerintahan, media, dsb. Bahasa asing diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah dengan tujuan agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan orang asing atau untuk membaca bacaan dalam bahasa asing tersebut.

Butzkamm (1989: 79) mengemukakan bahwa Eine Fremdsprache lernt man nur dann als Kommunikationsmedium benutzen, wenn sie ausdrücklich und

genügend oft in dieser Funktion ausgeübt wird. Bahasa asing dipelajari seseorang hanya sebagai media komunikasi, jika bahasa tersebut jelas dan cukup sering dilaksanakan fungsinya. Pembelajar akan lebih mudah menguasai bahasa asing, jika pembelajar tersebut sering menggunakan bahasa asing sebagai media untuk berkomunikasi. Dengan penggunaan bahasa asing sebagai media atau alat untuk berkomunikasi, maka kecakapan dalam berbahasa akan meningkat.

Menurut Erdmenger (2000: 20) bahwa The foreign language is the medium of communicative exchange; it carries information and allows reactions in a communicative context. Bahasa asing adalah media pertukaran komunikasi, ini menyediakan informasi dan mempermudah berbagai reaksi dalam konteks komunikatif. Jadi penggunaan bahasa asing itu sebagai alat atau media pertukaran komunikasi yang dapat membawa informasi dan dapat memungkinkan terjadi berbagai reaksi dalam konteks komunikatif. Bahasa asing dalam proses pembelajaran biasanya digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi.

Seseorang perlu sekali mempelajari suatu bahasa supaya lebih mudah berinteraksi dengan semua bahasa yang dikuasai. Bahasa dapat dikuasai baik melalui proses pemerolehan maupun proses pembelajaran. Sudah berlangsung sejak lama bahwa Bahasa Jerman sebagai salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian besar penduduk eropa. Bahasa Jerman juga menjadi bahasa asing yang dipelajari di beberapa Negara. Hal ini merujuk pada pendapat Götze & Pommerrin (dalam Bausch dkk, 1989: 296) bahwa Etwa 110 Millionen Menschen sprechen Deutsch als ihre Muttersprache. 90 Millionen davon leben

in Europa, 15 Millionnen Sekundarschuler lernen derzeit Deutsch als Fremdsprache. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa sebanyak 110 juta penduduk berbicara Bahasa Jerman sebagai bahasa ibu, dengan 90 juta penduduk tinggal di Eropa dan 15 juta sekolah mempelajari bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Bahasa Jerman sebagai bahasa asing juga dipelajari di Indonesia.

Steinig & Huneke (2011: 13) menyatakan bahwa Deutsch als Fremdsprache (DaF) bezieht sich auf den gesteuerten Erwerb der Fremdsprache Deutsch an Institutionen (zumeist Schulen) in nicht-deutschsprachigen Ländern. Bahasa Jerman sebagai bahasa asing menyangkut pemerolehan Bahasa Jerman pada institusi (kebanyakan sekolah) di negara yang tidak berbahasa Jerman.

Berdasar teori para ahli di atas, diketahui bahwa salah satu bahasa asing yang perlu dipelajari adalah bahasa Jerman. Bahasa Jerman merupakan mata pelajaran yang mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangankan ilmu pengetahuan teknologi dan budaya (Standar Kompetensi Bahasa Jerman SMA dan Madrasah Aliyah, 2004: 2). Karakteristik pembelajaran bahasa Jerman haruslah mencakup dua aspek, yaitu: (1) bahasa sebagai saran komunikasi, aspek performans (kinerja, unjuk kerja) kebahasaan. Adapun aspek mata pelajaran bahasa Jerman meliputi keterampilan berbahasa, yaitu Hörverstehen „keterampilan menyimak’, Sprechfertigkeit „keterampilan berbicara’, Leseverstehen „keterampilan membaca’, dan Schreibfertigkeit

„keterampilan menulis’; (2) unsur-unsur kebahasaan yang meliputi tata bahasa, kosakata, pelafalan dan ejaan; (3) aspek kebudayaan yang terkandung dalam teks lisan dan tulisan.

Nunan (1989: 113) menyatakan bahwa

pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Jerman untuk tingkat pemula khususnya pada aktivitas-aktivitas berikut (1) menyatakan nama diri dan keluarga, (2) menyatakan perihal tentang seseorang seperti nama, umur dan alamat, (3) berpartisipasi dalam dialog pendek yang memfokuskan tentang pertukaran informasi antar personal, (4) memberi keterangan tentang seseorang, (5) menyebutkan nama-nama hari, (6) memahami permintaan informasi dari seseorang, dan (7) menanyakan dan mengucapkan percakapan.

Ghöring (dalam Hardjono, 1988: 5) mengungkapkan bahwa tujuan umum pengajaran bahasa asing ialah berkomunikasi timbal-balik antar kebudayaan (cross cultural communication) dan saling pengertian antar bangsa (cross cultural understanding). Peserta didik dikatakan telah mencapai tujuan ini, jika ia telah memiliki pengetahuan dan keterampilan berbahasa asing sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Jadi jelas bahwa dalam pembelajaran bahasa asing ada dua hal yang penting yang harus diperhatikan. Peserta didik diharapkan tidak hanya mampu berkomunikasi dengan lancar dan baik dalam bahasa asing tersebut, tetapi juga mengerti sekaligus memahami kebudayaan yang dianut oleh negara-negara yang mempunyai bahasa tersebut, sehingga peserta didik akhirnya mampu menggunakan bahasa tersebut apabila berhadapan langsung dengan seorang warga negara dari asal bahasa tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa asing pada hakikatnya adalah proses pembelajaran bahasa lain, disamping bahasa sendiri atau bahasa ibu dengan memperhatikan banyak aspek di dalamnya. Pembelajaran bahasa

Jerman sebagai bahasa asing adalah sebuah proses mempelajari bahasa ke dua yang membantu peserta didik untuk dapat menggunakan bahasa Jerman sebagai sarana berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dan membantu memudahkan peserta didik dalam mempelajari bahasa Jerman dengan menggunakan pendekatan, media, metode, dan teknik yang sesuai.