BAB II: KAJIAN TEORETIS
D. Hakikat Pembelajaran Sastra
Sebelum dibahas mengenai hakikat pembelajaran sastra, perlu kiranya dipahami terlebih dahulu mengenai kurikulum dan pembelajaran, di mana keduanya tercakup di dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan menjadi satu-satunya jendela yang mampu mendidik bangsa menuju kemajuan, baik dalam hal intelektualitas, moralitas, maupun ilmiah.82 Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Sementara itu, pembelajaran merupakan bagian dari proses pendidikan. Pembelajaran yang baik dan tepat akan mewujudkan cita-cita pendidikan yang luhur sebagaimana yang tertuang dalam Bab II, pasal 3 UU Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.83
82 Mukhlis PaEni (ed), Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara,
(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009), h. 257.
83 A. Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja
Di dalam pendidikan, selain ada proses pembelajaran tentunya terdapat kurikulum. Sebagaimana diungkapkan Wina Sanjaya di dalam buku Kurikulum dan Pembelajaran adalah sebagai berikut.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan; serta isi yang harus dipelajari; sedangkan pengajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antara guru dan siswa. Dengan demikian, tanpa kurikulum sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran atau penagajaran tidak akan efektif; demikian juga tanpa pembelajaran atau pengajaran sebagai implementasi sebuah rencana, maka kurikulum tidak akan memiliki arti apa-apa.84
Berdasarkan penjelasan pada paragraf sebelumnya, dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan pedoman dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebagai sebuah pedoman, kurikulum ideal memegang peran yang sangat penting dalam merancang pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa. Sebab, melalui pedoman tersebut guru minimal dapat menentukan hal-hal sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan dan kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Dapat dibayangkan tanpa tujuan yang jelas sebagai rambu-rambu, maka guru akan kesulitan menetukan dan merencanakan program pembelajaran;
2. Menentukan isi atau materi pembelajaran yang harus dikuasai untuk mencapai tujuan atau penguasaan kompetensi;
3. Menyusun strategi pembelajaran untuk guru dan siswa sebagai upaya pencapaian tujuan.
4. Menentukan keberhasilan pencapaian tujuan atau kompetensi.85
2. Hakikat Pembelajaran Sastra
Pembelajaran sastra adalah pembelajaran yang mencoba untuk mengembangkan kompetensi apresiasi sastra, kritik sastra, dan proses
84 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet ke-4, 2008), kata pengantar.
kreatif sastra. Kompetensi apresiasi yang diasah dalam pendidikan ini adalah kemampuan menikmati dan menghargai karya sastra. Melalui pendidikan semacam ini, peserta didik diajak untuk langsung membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Mereka berkenalan dengan sastra tidak melalui hapalan nama-nama judul karya sastra atau sinopsisnya saja, tetapi langsung berhadapan dengan karya sastranya.86 Dapat dikatakan, melalui pendidikan sastra, peserta didik tidak hanya diajak untuk memahami dan menganalisis berdasarkan bukti nyata yang ada di dalam karya sastra dan kenyataan yang ada di luar sastra, tetapi juga diajak untuk mengembangkan sikap positif terhadap karya sastra. Pendidikan semacam ini akan membiasakan diri peserta didik untuk berpikir kritis, terbuka, dan bersikap jujur.
Masalah yang muncul saat ini adalah kurangnya minat baca di sekolah membuat karya-karya sastra kurang diminati oleh siswa. Hal tersebut dapat dilihat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, sedikit sekali pembahasan mengenai sastra dibahas. Akibatnya, banyak siswa yang tidak mengerti tentang sastra. Dari situlah muncul pandangan bahwa karya sastra dianggap tidak bermanfaat. Jika hal tersebut sampai terjadi, maka sastra sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai bahan untuk memahami masalah- masalah yang terjadi di dunia. Akan tetapi, Rahmanto memiliki pandangan, jika pengajaran sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pengajaran sastra dapat juga memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat.87
Masalah lain yang terjadi dalam pendidikan adalah bagaimana pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang maksimal untuk pendidikan secara utuh. Berdasarkan hal tersebut, Rahmanto memiliki pandangan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara
86 Siswanto, op. cit., h. 168.
utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak.88 Selain itu, salah satu unsur yang terdapat dalam sebuah karya sastra adalah penggunaan gaya bahasanya. Penggunaan gaya bahasa juga turut memperkaya kosakata siswa. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Tarigan dalam buku Pengajaran Gaya Bahasa adalah sebagai berikut.
Gaya bahasa dan kosakata mempunyai hubungan erat, hubungan timbal balik. Kian kaya kosakata seseorang, kian beragam pulalah gaya bahasa yang dipakainya. Peningkatan pemakaian gaya bahasa jelas turut memperkaya kosakata pemakainya. Itulah sebabnya maka dalam pengajaran bahasa, pengajaran gaya bahasa merupakan suatu teknik penting untuk mengembangkan kosakata para siswa.89
Berdasarkan pendapat di atas, betapa pentingnya pengajaran sastra di sekolah. Selain mencakup empat manfaat yang telah diungkapkan oleh Rahmanto, pembelajaran sastra juga dapat memperkaya kosakata siswa.