BAB II: KAJIAN TEORETIS
B. Puisi
1. Pengertian Puisi
Puisi merupakan salah satu genre sastra. Banyak ahli yang masih memperdebatkan apa itu puisi. Begitu banyak definisi yang menjelaskan tentang puisi, namun masih ada sebagian orang yang merasa tidak puas dengan definisi yang telah diberikan.
Secara mendasar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, puisi diartikan sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan baik; gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.51 Kosasih berpandangan, puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya akan makna, di mana keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima dan irama yang terkandung dalam karya sastra itu.52 Lebih lanjut, Kosasih menambahkan bahwa kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa, di mana bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan sehari- hari, yaitu menggunakan bahasa yang diringkas, namun maknanya sangat kaya.53 Sementara itu, Waluyo mengemukakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.54 Definisi- definisi yang sudah disebutkan tidaklah salah. Akan tetapi, Wahyudi Siswanto dalam bukunya Pengantar Teori Sastra mengingatkan, hakikat
51 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 1112.
52 E. Kosasih, Dasar-dasar Keterampilan Bersastra, (Bandung: Yrama Widya, 2012), h.
97. 53Ibid.
puisi harus ditinjau dari segi pengarang dan pembaca. Artinya, puisi merupakan karya yang dimaksudkan oleh pengarang sebagai puisi dan diterima dengan sama oleh pembaca.55 Sedangkan Goenawan Muhamad (GM), penyair besar Indonesia, memiliki pandangan tersendiri mengenai hakikat puisi. Goenawan berpendapat bahwa puisi bukanlah rangkaian kata- kata elok, bukan rumusan-rumusan petuah dan kearifan. Puisi adalah persentuhan antara kita dan dunia luar, antara kita dan kegaiban yang besar, antara kita dan kita—sebuah kotak yang, dalam kata-kata seorang penyair,
―sederhana, seperti nyanyi‖.56
Sejalan dengan yang dikemukakan Goenawan Muhamad, dalam buku The Norton Reader An Anthology of Expository prose dikatakan bahwa the work of the poet comes to meet the spiritual need of the society in which he live, and for this reason his work means more to him than his personal fate, whether he is a aware of this or not,57 artinya, bahwa karya penyair datang untuk memenuhi kebutuhan spiritual dari masyarakat di mana ia hidup, dan untuk alasan ini karyanya berarti lebih baginya daripada nasib pribadinya, apakah ia menyadari hal ini atau tidak. Berdasarkan definisi yang sudah disebutkan dari beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan puisi adalah ragam sastra berupa luapan jiwa yang tersusun secara baik dengan bahasa yang terikat oleh irama, matra, rima, penyusunan larik dan bait yang memberikan keindahan serta di dalamnya mengungkapkan perasaan penyair dengan tetap berkonsentrasi pada struktur fisik dan struktur batinnya.
2. Struktur Puisi
Keberadaan suatu karya sastra merupakan hasil cipta dari beberapa struktur. Struktur tersebut menjadi pembangun yang penting sebagai
55 Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT Grasindo, 2008), h. 108.
56 Abdul Rozak Zaidan, Goenawan Muhamad, Berpuisi dengan Ironi, (Jakarta:
Bukupop, 2009), h. 26.
57 Arthur M. Eastman (ed),The Norton Reader An Anthology of Expository
pondasi kuat penyangga karya sastra. Begitu pula dalam puisi, tentunya terdiri dari beberapa struktur yang membangunnya. Waluyo membagi struktur puisi ke dalam dua macam, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Sejalan dengan pernyataan Waluyo, Aswinarko dan Ahmad Bahtiar mengatakan, bahwa struktur fisik secara tradisional disebut elemen bahasa, sedangkan struktur batin secara tradisional disebut makna puisi.58 Bentuk fisik puisi mencakup penampilannya di atas kertas dalam bentuk nada dan larik puisi, termasuk ke dalamnya perwajahan puisi (tipografi), diksi, pengimajian, kata konkret, majas atau bahasa figuratif, dan versifikasi. Sementara yang mencakup struktur batin adalah tema, perasaan, nada dan suasana, serta amanat.
Berikut ini penjelasan mengenai struktur fisik dan batin puisi yang dikemukakan Waluyo, dan nantinya dijadikan rujukan penulis dalam menganalisis karya yang akan diteliti.
a) Perwajahan (tipografi)
Perwajahan adalah pengaturan dan penulisan kata, larik dan bait dalam puisi. Siswanto juga menjelaskan bahwa pada puisi konvensional, kata- kata yang digunakan diatur dalam deret yang disebut larik atau baris, di mana larik atau baris dalam puisi tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri tanda titik.59 Lebih lanjut, Waluyo menjelaskan bahwa tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa maupun drama. Larik-larik puisi tidak membangun periodisitet yang disebut paragraf, namun membentuk bait. Baris puisi tidak bermula dari tepi kiri dan berakhir ke tepi kanan baris. Tepi kiri atau tepi kanan dari halaman yang memuat puisi belum tentu terpenuhi tulisan. Ciri-ciri demikian menunjukkan eksistensi sebuah puisi.60 Berdasarkan hal
58 Aswinarko dan Ahmad Bahtiar, Kajian Puisi Teori dan Praktik, (Jakarta: Unindra
Press, 2013), h. 49.
59 Siswanto, op. cit., h. 113. 60 Waluyo, op. cit., h. 97.
tersebut, dapat dipahami bahwa pengaturan tipografi dalam puisi sangat berpengaruh terhadap pemaknaan puisi.
b) Versifikasi
Versifikasi dalam puisi terdiri atas rima, ritma, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Melalui pengulangan bunyi, puisi menjadi merdu jika dibaca. Penyair juga mempertimbangkan lambang-lambang bunyi agar pemilihan bunyi-bunyi tersebut mendukung perasaan dan suasana puisi.61 Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Slamet Muljana dalam Waluyo menyatakan bahwa ritma merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan.62 Ritma puisi berbeda dari metrum (matra), di mana metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap, dan sifatnya statis.
c) Diksi
Siswanto menyatakan bahwa diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang dengan sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan Siswanto, Waluyo juga menyatakan bahwa penyair tidak hanya cermat dalam memilih kata-kata, sebab kata-kata yang tulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.63 Oleh karena itu, di samping memilih kata yang tepat, penyair
61 Waluyo, op. cit., h. 90. 62Ibid., h. 94.
juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut.
Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif dan ada pula kata-kata yang berlambang. Kata berkonotasi adalah kata yang bermakna tidak sebenarnya. Kata-kata tersebut berfungsi sebagai kiasan atau perbandingan. Sementara itu, kata berlambang adalah suatu gambar, tanda, atau kata yang menyatakan maksud tertentu. Penggunaan kata berlambang berfungsi untuk menambah keestetikaan puisi.
Pemilahan kata juga berhubungan erat dengan latar belakang penyair. Semakin luas wawasan penyair, semakin kaya dan berbobot kata-kata yang digunakannya. Kata dalam puisi tidak hanya sekedar kata-kata yang dihafalkan, tetapi sudah mengandung pandangan penyair.
Di dalam puisi sering sekali terdapat penyimpangan-penyimpangan. Geoffry dalam Siswanto menyebutkan ada sembilan jenis penyimpangan yang sering dijumpai dalam puisi, yaitu (1) penyimpangan leksikal, (2) penyimpangan semantis, (3) penyimpangan fonologis, (4) penyimpangan morfologis, (5) penyimpangan sintaksis, (6) penggunaan dialek, (7) penggunaan register, (8) penyimpangan historis, dan (9) penyimpangan grafologis.64
d) Kata Konkret dan Kata Abstrak
Kata konkret adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indra.65 Suatu kata harus diperkonkret untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca. maksudnya adalah, bahwa kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Sama halnya dengan pengimajian, kata yang diperkonkret erat hubungannya dengan penggunaan kiasan atau lambang. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair, sehingga pembaca terlibat penuh
64 Siswanto, op. cit., h. 116. 65Ibid., h. 119.
secara batin ke dalam puisinya. Sementara itu, kata abstrak adalah berupa gambar, tanda, atau kata yang menyatakan maksud tertentu, sehingga kata abstrak lebih berfungsi untuk menambah keestetikaan puisi.
e) Imaji atau Pencitraan
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan pengalaman inderawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Waluyo menyatakan, bahwa pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.66 f) Bahasa figuratif (majas)
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang. Pembahasan mengenai bahasa figuratif sudah dijelaskan secara lebih mendalam di bagian awal bab ini. Hal tersebut dikarenakan penelitian utama ini menganalisis tentang gaya bahasa, sehingga analisis bahasa figuratif (majas) tidak ada di bagian struktur fisik dari karya yang dianalisis, melainkan di bagian analisis utama.
Setelah dijabarkan mengenai struktur fisik puisi, berikut ini penulis akan menjabarkan mengenai struktur batin yang membangun puisi, di mana menurut Waluyo struktur batin puisi adalah hakikat puisi itu sendiri.
a) Tema
Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair.67 Sementara itu, dalam buku The Norton Introduction to Literature dikatakan, bahwa some refer to the central idea, the thesis, or even the message of the story, and that is roughly what we mean by theme,68 artinya, bahwa beberapa tema mengacu pada ide sentral, tesis, atau bahkan pesan dari cerita. Dapat dikatakan, bahwa pokok pikiran atau pokok persoalan begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Melalui latar belakang yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tema yang bersifat lugas, obyektif, dan khusus. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, serta dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi obyektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).
b) Rasa
Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa berkaitan dengan latar belakang sosial dan psikologis penyair, seperti latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyaraakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, serta pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketetapan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi itu saja, tetapi lebih bergantung kepada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan
67Ibid., h. 106.
68 Peter Simon (ed), The Norton Introduction to Literature, (London: W. W. Norton & Company, 2002), h. 214.
kepribadiaan yang berbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.69
c) Nada
Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Ada penyair ketika menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecah masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, ada juga dengan nada sombong atau menganggap rendah dan bodoh pembaca.70
d) Amanat (pesan)
Amanat yang hendak sampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah memahami tema, rasa, dan nada dari puisi itu sendiri. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan.71
3. Jenis-jenis puisi
Melengkapi pengertian tentang puisi, perlu kiranya dibahas juga mengenai jenis-jenis puisi. Dalam hal ini penulis merujuk kepada pendapat yang dikemukakan Waluyo mengenai pembagian puisi.
a) Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif sederhana, sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif misalnya, epik, romansa, balada, dan syair (berisi cerita). Sementara dalam puisi lirik, penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia
69 Siswanto., op.cit, h. 125. 70Ibid.
tidak bercerita. Contoh puisi ini adalah elegi, ode, dan serenada. Sedangkan dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan atau peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiaan penyair, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionistik.
b) Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium dapat dijumpai dalam kumpulan puisi Hukla karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga Puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangkaian suara). Puisi kamar adalah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu sampai dua orang pendengar saja di dalam kamar. Sementara itu, puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk dibaca di auditorium atau di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.
c) Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisik
Puisi fisikal bersifat realistis, menggambarkan kenyataan apa adanya. Artinya, bahwa yang dilukiskan adalah kenyataan, bukan gagasan. Sementara itu, puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Sedangkan puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan tuhan.
d) Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi subyektif disebut juga puisi personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Sedangkan puisi obyektif berarti puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri.
e) Puisi Konkret
Puisi konkret adalah puisi yang bersifat visual, dan dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut penglihatan (poems for the eye).
f) Puisi Diafran, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafran atau puisi polos adalah puisi yang kurang dalam menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figuratif, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat mudah dihayati maknanya. Sedangkan, jika puisi terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sementara itu, dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa, sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap.
g) Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif
Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan, dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Sedangkan puisi inspiratif diciptakan berdasaran mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi itu. h) Stansa
Stansa artinya puisi yang terdiri atas 8 baris. Stansa berbeda dengan okaf, karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam stansa seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris.
i) Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Puisi demonstrasi adalah puisi yag melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi demonstrasi adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional para penyair. Gaya paradoks dan ironi banyak dijumpai dalam puisi ini. Sedangkan puisi pamflet juga mengungkapkan protes sosial. Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puas kepada keadaan.
j) Alegori
Puisi alegori adalah puisi yang sering mengungkapkaan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama.