TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Pembelajaran Teori Konstruktivisme a. Konstruktivisme
Teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.
Seperti yang dikutip Poedjiadi (1999) dalam Hamzah, Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan keseimbangan. 1
Konstruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri. Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan. Tetapi pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.2 Pandangan konstruktivis Abruscato dan Slavin dalam pembelajaran mengatakan, bahwa anak-anak
1Hamzah, Teori Belajar Konstruktivisme, http://akhmadsudrajat.wordpres.com/2008/08/20/teori-belajar-konstruktivisme/ (9 Januari 2008) 2Sardiman A. M., Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2007), h. 37
diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi.3
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:4
1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah
ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri
pengetahuan mereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan
dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan
pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.
Menurut konsep konstruktivisme, pengetahuan seseorang bersifat temporer, terus berkembang, terbentuk dengan mediasi masyarakat dan budaya. Pengetahuan itu tidak pernah berhenti berkembang. Pengetahuan dalam diri seseorang terbentuk ketika seseorang mengalami tempaan kognitif. Melalui
3 http://www.damandiri.or.id/file/yusufunsbab2.pdf (9 Januari 2009) 4http://www.wikipedia.org/konstruktivisme ( 9Januari 2009)
perspektif ini belajar dapat dipahami sebagai proses terbentuknya konflik kognitif yang bergulir dengan sendirinya dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan memperoleh pengalaman kongkrit, wacana kolaboratif, dan kegiatan melakukan refleksi.5 Jadi pengetahuan seseorang akan terus berkembang apabila selalu memperoleh pengalaman untuk mengasah struktur kognitif dalam dirinya.
Menurut rujukan konstruktivisme setiap orang yang belajar sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri.6 Dalam hal ini siswa harus aktif untuk dapat mengembangkan pengetahuan mereka.
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru. Sehubungan dengan hal di atas, Tasker mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.7
Implikasi dari pandangan dengan konstruktivisme di sekolah ialah pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Senada dengan pernyataan ini peneliti pendidikan sains Piaget mengungkapkan bahwa belajar sains merupakan proses konstruktif yang
5A. Syukur Ghazali,
Menerapkan Paradigma Konstruktivisme melalui Strategi Belajar
Kooperatif dalam Pembelajaran Bahasa,JURNAL PENDIDIKAN & PEMBELAJARAN, VOL. 9, NO. 2, OKTOBER 2002, h. 1166 Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: UM Press, 2005), h. 169
menghendaki partisipasi aktif dari siswa, sehingga di sini peran guru berubah, dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosa dan fasilitator belajar siswa.8
Pembelajaran dan perspektif konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti. Pertama, pembelajaran konstruktivisme berkaitan dengan
pengetahuan awal (prior knowledge) siswa. Kedua, pembelajaran
konstruktivisme mengandung kegiatan pengalaman nyata (experience).
Ketiga, dalam pembelajaran terjadi interaksi sosial (social interaction). Keempat, pembelajaran konstruktivisme membentuk kepekaan siswa terhadap lingkungan (sense making).9
Implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anakyang dikutip Poedjiadi (1999) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan
individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan
setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.10
Menurut Vygotsky, implikasi utama dalam pembelajaran menghendaki seting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif, dengan siswa berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif masing-masing zona perkembangan terdekat mereka. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa itu dapat meningkatkan motivasi, hasil
8Nuryani Rustaman, Op Cit., h. 171 9Ibid
belajar dan menyimpan materi pelajaran yang lebih lama karena ia
mengkonstruk pemahamannya dari pengalaman sendiri.11
Sains/IPA merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, yang mengandung pertanyaan, pencarian, pemahaman, serta penyempurnaan jawaban tentang suatu gejala dan karakteristik alam sekitar. Sains/IPA merupakan suatu kebutuhan yang dicari manusia karena memberikan suatu
cara berpikir sebagai suatu struktur pengetahuan yang utuh. 12 Metode
Science mengajar kita bagaimana cara memecahkan masalah, bagaimana mengambil kesimpulan, dengan cara yang teratur, dan menghemat tenaga,
pikiran dan waktu.13 Oleh karena itu, siswa harus membangun atau
mengkonstruk pengetahuan yang belum mereka ketahui di alam agar mereka dapat memahami apa yang mereka cari tentang sains/IPA itu sendiri. Dengan demikian proses pembelajaran sains/IPA tidak hanya mengembangkan aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan-keterampilan ilmiah tetapi juga mengajarkan siswa untuk berpikir dalam mengkonstruk pengetahuan mereka sendiri.
b. Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran IPA
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi pembelajaran dalam bentuk kelompok kecil, masing-masing kelompok terdiri atas siswa-siswa dengan tingkatan kemampuan yang berbeda, menggunakan aneka macam aktivitas pembelajaran untuk mengembangkan pemahaman mereka tentang suatu subjek. Masing-masing anggota kelompok tidak hanya mempelajari apa yang diajarkan tetapi juga saling membantu anggota kelompoknya untuk berprestasi.14
11 Perdy Karuru, Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Siswa SLTP, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 45, Tahun Ke-9, November 2003, h. 791-792
12 E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Rosda Karya, 2005), h. 211
13 Soekarno, dkk, Dasar-dasar Pendidikan Science, (Jakarta: Bharara, 1973), h. 25 14 Kagan, Spencer. Cooperative Learning, http: www.KaganOnline.com (9 Januari 2009)
Belajar kooperatif adalah sejenis belajar berkelompok yang melibatkan 4-6 orang peserta didik. Di dalam kelompok ini, peserta didik bekerja bersama-sama di bawah pengawasan pendidik menyelesaikan tugas yang disediakan oleh guru. Di dalam diskusi kelompok tersebut, peserta didik mengemukakan pendapatnya dan seorang anggota kelompok dapat diangkat sebagai pimpinan kelompok untuk mengambil inisiatif menyimpulkan hasil diskusi.15
Eggen dan Kauchak mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling -membantu dalam mempelajari sesuatu. Oleh karena itu belajar kooperatif ini juga dinamakan “belajar teman sebaya.”
Menurut Slavin (1997) seperti yang dikutip dalam Nur dan Wikandari, pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode
pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar.
Menurut Ibrahim dkk (2000), model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.16
Menurut Rustaman et al. (2003), Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional .
Menurut Sugandi (2002) sistem pembelajaran gotong royong atau cooperative learning merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa
15 A. Syukur Ghazali, Op Cit., h. 115
16 Anwar Holil, Pembelajaran Kooperatif, http://anwarholil.blogspot.com/2007/09/pendidikan_inovatif.html (9 Januari 2009)
dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu:17
a. Saling ketergantungan.
Saling ketergantungan didasari dengan adanya kepentingan yang sama atau perasaan di antara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan merupakan keberhasilan anggota yang lain atau sebaliknya. b. Tanggung jawab perseorangan.
Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok sehingga siswa termotivasi untuk membantu temannya, karena tujuan pembelajaran kooparetif adalah menjadikan setiap anggota kelompoknya menjadi lebih kuat pribadinya
c. Tatap muka.
Adanya interaksi langsung antar siswa tanpa adanya perantara. Tidak adanya penonjolan kekuatan individu, yang ada hanya pola interaksi dan saling hubungan timbal balik yang positif sehingga dapat mempengaruhi hasil pendidikan dan pengajaran.
d. Komunikasi antar anggota.
Untuk memperoleh informasi para siswa perlu mengadakan perbaikan-perbaikan. Komunikasi sangat penting untuk menyampaikan ide dari
17 Ina Karlina, S.Pd, Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) sebagai Salah Satu Strategi Membangun Pengetahuan Siswa, (9 Januari 2009)
masing-masing anggota.18 e. Proses kelompok.
Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok) merupakan tujuan terpenting yang diharapkan dapat dicapai pembelajaran kooperatif.
Definisi-definisi di atas menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan sekumpulan strategi pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil yang digunakan guru agar siswa saling membantu dan bekerja sama mempelajari sesuatu untuk mencapai prestasi mereka.
Shepardson dalam Ghazali menyebutkan beberapa ciri Belajar Kooperatif (BK) seperti berikut ini:19
1. Pendidik harus mengupayakan terwujudnya interaksi antarpeserta didik yang berada dalam sebuah kelompok (student-to-student interaction).
2. Pendidik harus menciptakan interdependensi positif di kalangan anggota kelompok. Artinya, masing-masing anggota kelompok harus diupayakan terlibat dalam kegiatan belajar ini.
3. Kemampuan masing-masing anggota kelompok diperhitungkan secara adil (individual accountability).
4. Strategi BK menekankan pada pencapaian tujuan bersama (group process skill).
Menurut Arends dalam Holil, pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 20
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis
18 Isjoni, Pembelajaran Kooperatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), h. 60-61 19A. Syukur Ghazali, Menerapkan Paradigma Konstruktivisme melalui Strategi Belajar Kooperatif dalam Pembelajaran Bahasa, JURNAL PENDIDIKAN & PEMBELAJARAN, VOL. 9, NO. 2, OKTOBER 2002: 115-131, h.
kelamin yang berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif menurut Carin adalah: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.21
Karakteristik pembelajaran kooperatif diantaranya:22
a. Siswa bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis.
b. Anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari siswa yang berkemampuan rendah, sedang, dan tinggi.
c. Jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin.
d. Sistem penghargaan yang berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Menurut Lickona ada delapan bentuk pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) belajar berpasangan (learning partners), (2) susunan duduk berkelompok (cluster group seating), (3) belajar bertim (student team learning), (4) belajar dengan membahas berbagai topik dalam tim (Jigsaw learning), (5) mengetes tim (team testing), (6) proyek kelompok kecil (small-group learning), (7) kompetisi dalam tim (team competision), dan (8) proyek untuk seluruh kelas (Whole-class project). Sedangkan menurut Slavin, terdapat lima metode
utama dalam pembelajaran bertim (Student Teams Learning). Tiga
diantaranya, berlaku secara umum pada senua bidang studi, yaitu sebagai
berikut: ”Student Teams-Achievement Division (STAD), Teams-Games
Tournaments (TGT), and Jigsaw II’. Sedangkan dua metode lainnya hanya
berlaku secara khusus, yaitu: ”Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC)” untuk pengajaran membaca dan menulis pada tingkat 2-8, dan ”Team Accelerated Instruction (TAI)” untuk pengajaran matematika pada 3-6. Dari kelima metode pembelajaran kooperatif di atas penulis menggunakan metode ”Student Teams-Achievement Division (STAD).” 23
Pembelajaran kooperatif dalam proses pembelajaran IPA selain dapat mempermudah dalam proses pembelajarannya, tetapi juga dapat mengembangkan nilai sosialnya seperti interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lainnya, komunikatif, serta bersifat multi arah. Sebaliknya, pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang bersifat tradisional di kelas yang didominasi oleh metode ceramah dan ekspositorik,
sehingga proses belajar lebih banyak didominasi oleh guru (teacher
centered). Menurut Johnson dan Johnson kelemahan pembelajaran konvensional jika dibandingkan dengan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
Tabel 2. 1 Perbandingan antara Pembelajaran Kooperatif dan Pembelajaran Konvensional
Kelompok Pembelajaran Kooperatif Kelompok Pembelajaran
Konvensional 1. saling tergantung secara posistif
2. pertanggungjawaban secara
individual 3. heterogen
4. kepemimpinan bergantian
5. bertanggung jawab satu sama lain 6. pada tugas dan pemeliharaan
7. keterampilan sosial diajarkan
secara langsung
8. guru mengamati dan campur
tangan
9. memperhatikan keefektifan proses
kelompok
1. tidak ada saling ketergantungan
2. tidak ada pertanggungjawaban
individual
3. homogen
4. menunjuk seorang pemimpin
5. bertanggung jawab hanya
untuk dirinya
6. hanya menekan pada tugas 7. keterampilan sosial diabaikan
8. guru mengabaikan fungsi
kelompok
9. tidak memperhatikan
kefektifan proses kelompok
22Ina Karlina, S.Pd, Op Cit.
23 I Wayan Koyan, Pengaruh Metode Pembelajaran Kooperatif dan Kemampuan Penalaran Verbal terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Singaraja, No. 1TH.XXXVI Januari 2003, h. 3
Menurut Lickona ada beberapa keuntungan dari penggunaan pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut :24
1. Mengajarkan nilai-nilai kerjasama 2. Membangun masyarakat di dalam kelas 3. Mengajarkan dasar keterampilan hidup 4. Meningkatkan prestasi akademik
5. Menawarkan suatu alternatif jalan keluar (other alternative to tracking), dan
6. Memiliki potensi untuk memperlunak aspek negatif dari kompetisi.
Terdapat empat tahapan keterampilan kooperatif yang harus ada dalam model pembelajaran kooperatif yaitu:25
a. Forming (pembentukan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok dan membentuk sikap yang sesuai dengan norma. b. Functioning (pengaturan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
mengatur aktivitas kelompok dalam menyelesaikan tugas dan membina hubungan kerja sama diantara anggota kelompok.
c. Formating (perumusan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk pembentukan pemahaman yang lebih dalam terhadap bahan-bahan yang dipelajari, merangsang penggunaan tingkat berpikir yang lebih tinggi, dan menekankan penguasaan serta pemahaman dari materi yang diberikan. d. Fermenting (penyerapan) yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk
merangsang pemahaman konsep sebelum pembelajaran, konflik kognitif, mencari lebih banyak informasi, dan mengkomunikasikan pemikiran untuk memperoleh kesimpulan.
Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada tabel 2. 2.26
24I Wayan Koyan, Op Cit., h. 4 25 Ina Karlina, Op Cit.
Tabel 2.2 Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkahlaku Guru
Fase 1: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2:
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien. Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
Fase 5: Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masingmasing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Sumber: (Arends, 1997) dalam Yusuf
Menurut Slavin dalam Karuru pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep-konsep-konsep itu dengan temannya.
menambah unsur-unsur interaksi sosial pada pembelajaran IPA. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku.
Metode adalah suatu cara mengajar, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran. Semakin baik metode yang digunakan, maka akan semakin efektif dan efisien pula pencapaian tujuannya.27
Guru dalam memberikan pelajaran menggunakan metode dan pendekatan, untuk melayani, mendidik dan mengajar agar sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, maka perlu diterapkan suatu pembelajaran yang pada teori belajar kognitif. Relevansi dari teori ini dalam pengajaran IPA dijabarkan melalui konstruktivis, siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi dengan pendekatan konstruktivis adalah pembelajaran kooperatif, karena pembelajaran kooperatif merupakan strategi alternatif untuk mencapai tujuan IPA yang antara lain meningkatkan kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain, berpikir kritis dan pada saat yang sama dapat meningkatkan prestasi akademiknya. 28 Jadi siswa harus aktif membangun pengetahuan mereka sendiri salah satunya dengan belajar kooperatif untuk mencapai tujuan IPA.
c. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Student Team Achievement Division (STAD) merupakan salah satu pembelajaran kelompok yang paling awal ditemukan dan populer di kalangan para ahli pendidikan dari Johns Hopkins University dan telah banyak
27 Mansyur, Strategi Belajar Mengajar, Modul 1-6, (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka,1992), h. 39
28Prayekti, Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Berorientasi pada Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Team Achievement Division), Jurnal Tekeldikdas, Vol. 2, No.1, Juli 2002 : 121-134, h. 122
diterapkan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang sangat mudah
diterapkan. 29 Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif tipe STAD ini
menekankan pada aktivitasnya dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi
yang maksimal. 30Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi
kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.31
Pembelajaran dalam STAD dilakukan dengan presentasi, bukan hanya oleh 4-5 anggota tim, tetapi guru juga melakukan presentasi. Siswa mengikuti kuis individual untuk menunjukkan berapa banyak yang telah mereka pelajari. Skor kuis individu dijumlahkan untuk membentuk sebuah tim skor, dan tim adalah imbalan atas kinerja mereka. Tim yang terdiri dari siswa dengan berbagai kemampuan akademis, genders, dan ras.32
Pembelajaran tipe STAD dicirikan oleh suatu struktur tugas, tujuan, dan penghargaan kooperatif. Siswa bekerja sama dalam situasi semangat pembelajaran kooperatif seperti membutuhkan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dan mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas.33
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama.34 Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat dilihat dalam tabel 2. 3 berikut ini:
29Ibid, h. 126
30 Isjoni, Pembelajaran Kooperatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), h. 74 31 http://www.damandiri.or.id/file/yusufunsbab2.pdf (9 Januari 2009)
32http:://www.ed.gov/pub/EPTW/eptw10/eptw10u.html (9 Januari 2009) 33Perdy Karuru, Op Cit., h. 791
34www.disdikklungkung.net/PENERAPAN_MODELPEMBELAJARANKOOPERATIF _TYPE_STADDENGANMEDIAVCD.htm (28 Januari 2009)
Tabel 2.3 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Presentasi kelas Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru
dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya
Kerja kelompok Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam
kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran
Tes Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan