• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal-hal yang harus dilakukan

Dalam dokumen Buddha Sakyamuni. iii (Halaman 23-29)

Sikap yang harus diambil ketika mendengarkan ajaran diterangkan de-ngan empat kiasan, enam kesempurnaan transenden dan jenis lain dari sikap tersebut.

Empat Kiasan

Âvataṃsaka-sūtra mengatakan:

Anda yang mulia, anda harus berpikir bahwa anda sendiri adalah seseorang yang sedang sakit,

Dan Dharma adalah obatnya,

Teman spiritual sebagai dokter yang ahli,

Dan latihan yang rajin adalah jalan untuk kesembuhan.

Kita sakit. Sejak waktu yang tidak berawal, dalam lautan penderitaan samsara yang maha luas ini, kita telah disiksa dengan berbagai penyakit yang timbul dari ketiga racun dan buahnya, ketiga macam penderitaan.

Ketika orang sakit parah, mereka pergi ke dokter. Mereka mengikuti anjuran dokter dan minum obat yang diberikan, serta melakukan apa pun supaya mereka sembuh. Dengan cara yang sama, anda harus menyembuh-kan anda sendiri dari penyakit karma, emosi negatif dan penderitaan, dengan mengikuti resep yang diberikan oleh dokter yang berpengalaman tersebut, guru yang otentik, dan dengan meminum obat Dharma.

Sebaliknya, mengikuti guru namun tidak berbuat sesuai dengan apa yang dikatakannya, maka guru tidak dapat memberi manfaat apa-apa kepada muridnya. Ini adalah sama dengan tidak mengikuti nasihat dokter, sehingga ia tidak berkesempatan untuk menyembuhkan sakit anda. Tidak minum obat Dharma – maksudnya, tidak melatihnya – sama saja dengan memiliki begitu banyak obat dan resep di samping tempat tidur anda,

16

namun anda sama sekali tidak menyentuhnya. Cara yang demikian tidak akan pernah menyembuhkan penyakit anda.

Sekarang ini orang-orang sangat optimis. “Lama, lihatlah saya dengan belas kasih!’ sambil berpikir meski mereka sudah berbuat hal-hal yang sangat buruk, mereka tidak akan pernah memikul akibatnya. Mereka menganggap bahwa guru, dengan belas kasihnya, akan melambungkan mereka ke surga seperti halnya melemparkan sebuah batu kerikil. Tetapi, ketika kita berbicara tentang guru yang berbelas kasih kepada kita, apa yang dimaksud sesungguhnya adalah bahwa ia menerima kita sebagai muridnya dengan penuh kasih sayang, dan memberikan kepada kita instruksi yang dalam, membuka mata kita terhadap apa yang harus kita perbuat dan apa yang tidak boleh kita lakukan, serta menunjukkan kepada kita jalan pembebasan yang diajarkan oleh Sang Penakluk. Apa ada belas kasih lain sebesar belas kasih demikian? Adalah tergantung kepada kita apakah kita akan memanfaatkan belas kasih ini dan secara nyata menekuni jalan pembebasan.

Sekarang, kita memiliki kelahiran sebagai manusia bebas dan ter-karunia. Sekarang kita tahu apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, keputusan kita pada saat ini, ketika kita memiliki kebebasan untuk memilih, akan menjadi saat yang menentukan nasib kita, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, jauh ke masa depan. Adalah teramat penting kita memilih antara samsara dan nirvana untuk terakhir kalinya dan melaksanakan apa yang diinstruksikan oleh guru kita.

Orang-orang yang melakukan upacara pemakaman mengatakan kepada anda bahwa anda masih memiliki kesempatan untuk ke atas atau ke bawah ketika anda sudah mati tergeletak di ranjang mati anda, sama sepertinya anda sedang mengemudikan seekor kuda dengan kendalinya. Namun, pada saat itu, kecuali kalau anda telah menguasai jalan menuju pembebasan, angin dahsyat dari perbuatan anda di masa lampau akan mengejar anda, sedangkan di depan anda, kegelapan yang mengerikan menyerbu anda ketika anda dengan tak berdaya dibawa ke dalam alam bardo yang panjang dan berbahaya. Tidak terhitung banyaknya algojo-algojo Raja Yama mengejar anda sambil berteriak-teriak: “Bunuh! Bunuh!

Pukul! Pukul!” Mana mungkin pada saat itu – ketika tidak ada tempat untuk berlari dan bersembunyi, tidak ada perlindungan dan tidak ada harapan, ketika anda putus asa dan tidak tahu apa yang dapat anda lakukan – mana mungkin saat itu adalah saat yang dapat anda kendalikan untuk naik atau turun? Seperti yang dikatakan oleh Dari Uddiyana Yang Agung:

17

Ketika penguatan diberikan kepada kartu yang bertuliskan nama anda, terlambat sudah! Kesadaran anda, yang sudah mengelana dalam alam bardo seperti seekor anjing gila, akan sangat sulit untuk memikirkan alam yang lebih tinggi.

Kenyataannya, apa yang disebut saat yang menentukan, atau saat satu-satunya di mana anda benar-benar dapat mengatur untuk naik atau turun, seperti anda sedang mengendalikan kuda dengan memegang tali kendali, adalah sekarang, ketika anda masih hidup.

Sebagai seorang manusia, tindakan positif anda lebih kuat dari tin-dakan makhluk kelima alam lainnya. Pada satu pihak ia akan memberi kesempatan kepada anda disini dan sekarang dalam kehidupan pada saat ini untuk “menyingkirkan tengkorak” untuk selama-lamanya.25 Di lain pihak, perbuatan negatif anda juga lebih kuat dari tindakan makhluk kelima alam lainnya, sehingga anda akan yakin juga, bahwa anda tidak akan terlepas dari alam rendah. Karena anda sudah menemukan seorang guru, seorang dokter yang ahli, dan Dharma, obat yang mujarab untuk menaklukkan kematian, inilah saatnya untuk mengaplikasikan empat kiasan tersebut. Laksanakan apa yang telah anda dengar, dan tempuhlah jalan menuju pembebasan.

Harta Karun Pahala Kebajikan menggambarkan empat hal salah yang harus dihindari, yang merupakan kebalikan dari empat kiasan yang disebut di atas:

Orang yang picik dan sifat dasarnya jahat, Mendekati guru seperti mendekati rusa kesturi;

Sesudah menyadap minyak harumnya, Dharma yang sempurna, Dengan penuh kegembiraan, mereka mencemoohkan samaya.

Orang-orang ini berperilaku seolah-olah guru mereka adalah rusa kesturi, dan Dharma itulah minyak harumnya. Mereka adalah pemburu, dan berlatih dengan tekun cara membunuh rusa dengan anak panah atau perangkap. Mereka tidak berlatih ajaran yang telah mereka terima dan tidak berterima kasih kepada guru. Mereka memakai Dharma untuk mengumpulkan perbuatan yang buruk, mengikat leher mereka dengan batu gerinda yang akhirnya membawa mereka ke alam yang lebih rendah.

25 Maksudnya menyingkirkan badan seseorang, dengan pengertian membebaskan dirinya sendiri dari kelahiran yang akan datang.

18

Enam Kesempurnaan Transenden26

Dalam Tantra Pemahaman Menyeluruh dari Instruksi Latihan Semua Dharma27, disebutkan demikian:

Mempersembahkan persembahan yang bagus, misalnya bunga dan tempat duduk;

Meletakkan kursi sesuai urutannya dan mengendalikan kelakuan anda;

Tidak menyakiti, biarpun seekor serangga;

Berkeyakinan yang teguh terhadap guru anda;

Mendengarkan instruksinya dengan penuh perhatian;

Dan menanyakan kepadanya dengan tujuan untuk melenyapkan keraguan anda;

Inilah enam kesempurnaan transenden seorang pendengar.

Orang yang mendengarkan ajaran hendaknya mempraktekkan keenam kesempurnaan trasenden sebagai berikut:

Siapkan tempat duduk untuk sang guru, taruhlah alas duduk diatasnya, persembahkan sebuah mandala, bunga dan persembahan lainnya. Ini adalah praktek kemurahan hati.

Sapu bersih tempat atau ruangan sesudah dengan saksama mengen-dapkan debu dengan air, dan hindari segala macam sikap yang tidak baik.

Ini adalah praktek disiplin.

Hindari menyakiti apa pun, biarpun seekor serangga, dan menahan panas, dingin dan kesulitan lainnya. Ini adalah praktek kesabaran.

Buanglah pandangan salah terhadap guru dan ajaran, dan dengarkan dengan gembira dan penuh keyakinan. Ini adalah praktek ketekunan.

Dengarkan instruksi Lama dengan penuh perhatian. Ini adalah praktek konsentrasi.

Kemukakan pertanyaan untuk menghilangkan ketidakpastian dan keraguan. Ini adalah praktek kebijaksanaan.

Jenis Perilaku Lainnya

Segala kelakuan yang tidak hormat harus dihindari. Vinaya menga-takan:

26 Kesempurnaan transenden: Skt. Paramita

27 Tib. chos spyod thams cad kyi man ngag mngon par rtogs pa’i rgyud.

19

Janganlah mengajar orang-orang yang tidak menaruh hormat, Orang yang menutup kepalanya walau dalam keadaan sehat, Dan yang membawa tongkat, senjata maupun parasol,

Atau orang yang kepalanya memakai surban.

Dan Jataka mengatakan:

Ambillah tempat duduk yang paling rendah,

Kembangkan sikap bermartabat berdisiplin mutlak;

Dengan mata yang berlinang karena kegembiraan, Terimalah kata-kata dengan gembira seperti nectar;

Dan konsentrasi sepenuhnya, Inilah cara mendengarkan ajaran.

20

21

Dalam dokumen Buddha Sakyamuni. iii (Halaman 23-29)