• Tidak ada hasil yang ditemukan

Merenungkan Sifat Kebebasan

Dalam dokumen Buddha Sakyamuni. iii (Halaman 31-34)

BAGIAN PERTAMA

SULITNYA MEMPEROLEH KEBEBASAN DAN BERKAH

1. Merenungkan Sifat Kebebasan

Pada umumnya, “kebebasan” artinya memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma dan tidak terlahir dalam delapan keadaan tanpa kesempat-an tersebut. " Kekurkesempat-angkesempat-an kebebaskesempat-an” merujuk pada delapkesempat-an keadakesempat-an di mana tidak ada kesempatan demikian:

Terlahir di neraka, di alam setan kelaparan,

Sebagai binatang, dewa yang berumur panjang atau orang barbar, Memiliki pandangan salah, terlahir di tempat yang tidak ada Buddha, Atau terlahir bisu dan tuli, ini adalah delapan keadaan tanpa

kebebasan.

Terlahir di neraka tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma, sebab mereka terus menerus disiksa oleh panas dan dingin yang amat berat.

Setan lapar tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma karena mereka senantiasa didera oleh penderitaan rasa haus dan lapar.

24

Binatang tidak memilik kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka diperbudak dan mengalami penderitaan karena serangan binatang lainnya.

Dewa yang berumur panjang tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka menghabiskan waktu mereka dalam keadaan mental yang kosong.

Orang-orang yang terlahir di daerah luar tidak mempunyai kesem-patan untuk berlatih Dharma, karena doktrin Buddha tidak dikenal di tempat demikian.

Mereka yang terlahir sebagai tirthika28 atau yang mengikuti pandangan salah tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih Dharma, karena pikiran mereka terlalu dipengaruhi oleh kepercayaan yang keliru.

Mereka yang terlahir dalam kalpa gelap tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka tidak pernah mendengar tentang Tri Ratna dan tidak dapat membedakan baik dan buruk.

Mereka yang bisu, atau yang cacat mental tidak berkesempatan ber-latih Dharma, karena sarana mereka tidak lengkap.

Di antara kedelapan keadaan kurangnya kebebasan tersebut, makhluk-makhluk di alam rendah terus menerus didera oleh panas, dingin, rasa lapar, haus dan siksaan lainnya sebagai akibat dari perbuatan negatif mereka di masa lampau. Mereka tidak berkesempatan berlatih Dharma.

"Orang Barbar” artinya orang yang hidup di tiga puluh dua perbatasan negara, contohnya Lo Khatha,29 dan semua orang yang menganggap menyakiti orang lain sebagai sesuatu keyakinan atau mereka yang berkepercayaan kejam dan menganggap membunuh adalah perbuatan yang baik. Orang-orang yang tinggal di daerah luar ini memiliki rupa manusia, namun pikiran mereka kekurangan pengarahan yang benar, dan mereka tidak bisa mengalihkan pandangan mereka kepada Dharma. Mewarisi kebiasaan lucu dari nenek moyangnya, seperti menikahi ibunya, mereka hidup dengan kebiasaan yang berlawanan dengan praktek Dharma. Segala yang mereka lakukan adalah kejahatan, hanyalah teknik kegiatan yang merugikan seperti membunuh dan memburu binatang buas yang menonjol.

Kebanyakan mereka jatuh ke alam yang lebih rendah begitu mereka

28 Tirthika: Bukan penganut agama Buddha, termasuk mereka yang berpandangan salah.

29 Merujuk pada daerah luas yang didiami oleh orang-orang biadab yang terletak di sebelah selatan dari Tibet tengah dan timur. Tempat ini mencakup Arunachal Pradesh, Nagaland dan sebagian daerah Assam di bagian India timur sekarang ini, juga bagian utara-barat Burma.

25

meninggal dunia. Bagi orang-orang seperti ini, tidak ada kesempatan untuk berlatih Dharma.

Dewa-dewa berumur panjang adalah dewa-dewa di Surga Asaṃjñasattva, di mana mereka terserap dalam kekosongan mental.

Mereka terlahir di alam ini sebagai akibat mempercayai bahwa pembebas-an adalah suatu keadapembebas-an di mpembebas-ana semua aktivitas mental tidak ada, ypembebas-ang baik ataupun yang jahat, dan bermeditasi akan keadaan demikian. Mereka tinggal dalam keadaan konsentrasi demikian terus menerus selama beberapa kalpa besar. Namun, begitu hasil perbuatan lampau yang menyebabkan keadaan demikian berakhir, mereka akan terlahir ke alam yang lebih rendah karena pandangan salah mereka. Mereka juga tidak berkesempatan berlatih Dharma.

Istilah “pandangan salah” secara umum mencakup kepercayaan eternalis dan nihilis, atau suatu pandangan yang berlawanan dengan atau di luar dari ajaran Buddha. Pandangan ini menyesatkan pikiran dan menghalangi seseorang untuk berusaha mencapai Dharma yang sejati, yang ujung-ujungnya yang bersangkutan tidak akan mempunyai kesempatan untuk melatihnya. Di Tibet, karena adanya Buddha yang kedua, Padmasambhava dari Uddiyana, yang mempercayakan perlindungan negeri tersebut kepada dua belas Tenma,30 sehingga kaum tirthika tidak sanggup menembusnya. Namun, seseorang yang pengertian-nya seperti tirthika dan yang berlawanan dengan Dharma dan guru yang sejati, akan kehilangan kesempatan untuk melatih diri berdasarkan ajaran yang benar. Bhiksu Sunaksatra menghabiskan waktu dua puluh lima tahun sebagai pelayan Buddha, namun karena ia sama sekali tidak mempunyai keyakinan dan hanya berpegang pada pada pandangan yang salah, maka akhirnya ia terlahir sebagai setan lapar di taman bunga.

Terlahir di kalpa yang gelap berarti terlahir pada masa di mana tidak ada Buddha. Dalam dunia di mana tidak muncul seorang Buddha, tidak ada orang yang pernah mendengar tentang Tri Ratna. Karena tidak ada Dharma, maka tidak ada kesempatan untuk melatihnya.

30 12 deity pelindung yang diikat di bawah sumpah oleh Padmasambhava, terdiri dari : 4 mara perempuan: Dorje Kundrakma, Dorje Yama Kyong, Dorje Kuntu Zang, Dorje Gek kyi Tso; 4 yaksa perempuan: Dorje Yudrönma, Dorje Palgyi Yum, Dorje Lumo, Dorje Drakmo Gyal; dan 4 deity pengobatan: Dorje Bö Kham Kyong, Dorje Menchikma, Dorje Zulema, Dorje Yarmo Sil dengan ratusan ribu pengiring mereka.

26

Pikiran orang yang terlahir bisu dan tuli tidak dapat berfungsi dengan sempurna, sehingga proses mendengarkan ajaran, menjelaskan dan merenungkan serta melaksanakan ajaran tersebut menjadi terhalang.

Gambaran terhadap “bisu tuli” biasanya merujuk pada gangguan fungsi bicara. Hal itu menjadi suatu kondisi di mana tidak ada kesempatan bagi Dharma, jika kemampuan manusia yang biasa untuk mempergunakan dan mengerti bahasa tidak ada. Kategori ini tentunya mencakup mereka yang cacat mental, yang membuat mereka tidak bisa memahami ajaran, sehingga menghalangi mereka untuk melatihnya.

Dalam dokumen Buddha Sakyamuni. iii (Halaman 31-34)