i
ii
iii
Buddha Sakyamuni
iv
v
Guru Padmasambhava
vi
WEJANGAN GURUKU – Pendahuluan Maha Ati Terjemahan Karma Samten
Judul asli (Bahasa Tibet):
༄༄། �ོགས་པ་ཆེན་པོ་�ོང་ཆེན་�ིང་ཏིག་གི་�ོན་�ོའི་
�ིད་ཡིག་�ན་བཟང་�་མའི་ཞལ་�ང ཞེས་�་བ་བ�གས་སོ །།
Dzogpa Chenpo Longchen Nyingtik gi Ngondrö Tridyig Kunzang Lamei Zhallung
Zhëjawa Zhugso*
Karangan: Patrul Rinpoche
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh:
Karma Samten berdasarkan:
Terjemahan Bahasa Mandarin:
《索達吉堪布仁波切: 大圓滿前行引導文 – 普賢上師言教》
Wejangan Guruku yang Sempurna – Pendahuluan Dzogchen Oleh : Khenpo Sodargye Rinpoche
Sumber: larong-chuling.org/upload_images/PDF/06.pdf
.
478 hlm; 15 x 23 cm
ISBN: 978-602-491-084-6
©copyright Heru Widjaja MSc [email protected]
* Judul terjemahan Bahasa Inggeris: THE WORDS OF MY PERFECT TEACHER Oleh: Padmakara Translation Group. http://padmasambhavagururinpoche.com/wp-
content/uploads/2016/05 Patrul-Rinpoche-Words-Of-My-Perfect-Teacher.pdf.
TIDAK UNTUK DIJUAL
vii
Kata Pengantar
Untuk merealisasi Dzogchen – Maha Ati atau Kesempurnaan Agung –, ajaran tertinggi dari sekte Nyingma, seseorang perlu memiliki dasar untuk latihan tersebut. Ia seharusnya telah menanam dasar yang kuat atas empat perenungan: sulitnya memperoleh tubuh manusia yang berharga, ketidak- kekalan atas segala yang ada, tidak sempurnanya dunia samsara, dan prinsip sebab akibat dari perbuatan, serta menyelesaikan latihan berlindung, purifikasi, pengumpulan pahala dan Guru Yoga.
Dalam tulisannya, pengarang menekankan bahwa bukan untuk latihan tersebut saja. Selama sang praktisi belum melepaskan diri dari ketertarikannya terhadap keduniawian, maka ia tidak berada dalam latihan Dharma apa pun yang sesungguhnya; dan selama ia belum membangkitkan bodhicitta, maka segala latihan yang dijalankannya adalah sia-sia.
Dalam latihan Pendahuluan, atau lazimnya disebut Ngondro ini, keempat perenungan yang bersifat umum di atas diuraikan dengan sangat rinci, disusul dengan panduan latihan dalam Pendahuluan Khusus yang disajikan dengan doa- doa lengkap, yang dengan demikian memberi kemudahan bagi pembaca.
Secara umum dapat dikatakan, dalam menulis buku ini, penulis dengan penuh belas kasih dan dengan wanti-wanti berpesan kepada pembaca agar, ketimbang sibuk dengan aktivitas duniawi yang tidak bermakna, lebih baik melatih Dharma, satu-satunya hal yang dapat membantu kita untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan ini dan selanjutnya. Kita akan terharu akan kata- katanya yang begitu menyentuh, yang diucapkan ibarat seorang ibu yang hanya menginginkan kebahagiaan dan keselamatan bagi anak tunggalnya.
Buku ini diterjemahkan dari teks Bahasa Mandarin hasil terjemahan dari naskah asli Bahasa Tibet oleh Khenpo Sodargye Rinpoche, seorang murid utama Y.M. Jigme Phuntshok yang merupakan salah seorang guru pemegang silsilah Dzogchen Longchen Nyingtik. Kendati terjemahan ke dalam Bahasa Mandarin dari teks Bahasa Inggeris “The Words of My Perfect Teacher” sudah beredar dan sangat populer, mungkin karena alasan tertentu Rinpoche merasa perlu menterjemahkan ulang dari naskah asli Bahasa Tibet-nya. Semoga bermanfaat.
Semoga semua makhluk berbahagia!
Jakarta, Hari Raya Waisak 2563/2019 Karma Samten
viii
DAFTAR I S I
Kata Pengantar
CARA YANG BENAR UNTUK MENDENGARKAN INSTRUKSI SPIRITUAL
3
BAGIAN PERTAMA 21 PENDAHULUAN UMUM
ATAU PENDAHULUAN BAGIAN LUAR
Bab 1 Sulitnya memperoleh kebebasan dan berkah 23
Bab 2 Ketidak-kekalan kehidupan 47
Bab 3 Ketidak-sempurnaan dunia samsara 73
Bab 4 Perbuatan: Prinsip sebab dan akibat 123
Bab 5 Manfaat pembebasan 163
Bab 6 Bagaimana cara mengikuti seorang guru 165
BAGIAN KEDUA 203 PENDAHULUAN KHUSUS
ATAU PENDAHULUAN BAGIAN DALAM
Bab 1 Mengambil Perlindungan 205
Bab 2 Membangkitkan bodhicitta 233
Bab 3 Meditasi dan melafal pada guru sebagai Vajrasattva 319 Bab 4 Mengumpulkan pahala dan kebijaksanaan 345
Bab 5 Guru Yoga 383
BAGIAN KETIGA 439
PHOWA 439
KESIMPULAN 463
Daftar Pustaka 472
. . .
1
Hormat kepada semua Tiga Akar1!
Hormat kepada semua Guru mulia pemilik welas asih universal!
Dibimbing dan dicerahkan dengan ajaran
Silsilah Batin Sang Penakluk, Silsilah Lambang dari Vidyadhara dan Silsilah Pendengaran Pudgala2,
Makhluk-makhluk yang beruntung dapat mencapai manfaat ganda,3 Saya bersujud kepada semua pemegang ketiga silsilah.
Dalam hamparan luas di mana semua fenomena melenyap, Anda merealisasi kebijaksanaan dhamakaya;
Dalam cahaya terang kekosongan, Anda melihat pemunculan alam Buddha sambhogakaya;
Demi bekerja untuk keuntungan makhluk-hidup, Anda menampakkan diri kepada mereka dalam tubuh nirmanakaya;
Saya bersujud kepada Raja Dharma yang Mahatahu Longchenpa.
Dalam kebijaksanaan Anda melihat sifat sejati semua fenomena;
Cahaya belas kasih Anda melimpahkan manfaat bagi semua makhluk;
Anda yang menjelaskan ajaran tentang jalan yang mendalam dari kendaraan tertinggi,
Saya bersujud kepada Vidyadhara Rigdzin Jigme Lingpa.
Anda adalah Avalokiteśvara sendiri dalam bentuk teman spiritual;
Siapa pun yang mendengar Anda berbicara, akan dibimbing di jalan menuju kebebasan;
Aktivitasmu tidak terbatas untuk memenuhi semua kebutuhan makhluk;
Saya bersujud kepada Guru akar yang mulia.
Tulisan-tulisan dari Mahatahu Longchenpa mencakup seluruh ajaran silsilah;
Sari instruksi yang membawa ke Kebuddhaan dalam satu masa kehidupan saja,
1 Tiga Akar: Guru, Yidam, Dakini dan Pelindung Dharma.
2 Pudgala: Individu makhluk yang bertumimbal lahir.
3 Dua manfaat: Memberi manfaat kepada diri sendiri dan kepada makhluk hidup lainnya.
2
Pendahuluan luar yang bersifat umum, dan pendahuluan dalam yang khusus4 sifatnya;
Serta ajaran jalan cepat pemindahan dan nasihat tambahannya.
Semoga para Buddha dan para guru memberkati saya,
Agar saya dapat menjelaskan dengan pasti sebagaimana saya telah mengingat mereka,
Ajaran yang mendalam, namun jelas dan mudah dimengerti, Dari kata-kata yang tepat Guru saya yang sempurna.
.
Catatan yang setia tentang instruksi guru saya yang tiada bandingannya tentang pendahuluan umum luar dan dalam untuk Hamparan Luas Esensi Hati5 dari Kesempurnaan Agung6 dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan luar yang bersifat umum; pendahuluan dalam yang bersifat khusus; dan jalan cepat pemindahan sebagai bagian dari latihan utama.
4 Kata ‘umum’ mengacu pada ajaran atau latihan yang terdapat di semua tradisi atau sekte Buddhis, sedangkan ‘khusus’, ‘unik’, ‘tersendiri’ atau secara harfiah ‘tidak umum’, mengacu pada ajaran atau latihan yang hanya dimiliki oleh tradisi yang bersangkutan.
5 Tib. Longchen Nyingtik.
6 Tib. Dzogchen, Skt. Mahasandhi / Maha Ati.
3
CARA YANG BENAR UNTUK MENDENGARKAN INSTRUKSI SPIRITUAL
Cara yang benar dalam mendengarkan instruksi spiritual meliputi dua aspek: niat yang benar, dan perilaku yang benar.
1. Niat
Niat yang benar mencakup sikap bodhicitta, pikiran pencerahan yang luas, dan ketrampilan yang luas dalam cara-cara Mantrayana Rahasia.7 1.1 Niat bodhicitta yang luas
Renungkanlah demikian: Tak ada satu pun makhluk dalam alam samsara, lautan penderitaan yang luas ini, yang sejak waktu tak berawal tidak pernah menjadi ayah atau ibu kita. Ketika mereka menjadi orang tua kita, apa yang dipikirkan oleh makhluk-makhluk ini hanyalah bagaimana membesarkan kita dengan segala kelembutan cinta kasih yang memung- kinkan, melindungi kita dengan kasih sayang yang besar dan memberikan kepada kita bagian yang terbaik dari makanan dan pakaian mereka.
Semua makhluk yang sudah begitu sayang kepada kita ini mengi- nginkan kebahagiaan, namun mereka sama sekali tidak mengetahui bagaimana mempraktekkan hal-hal yang akan membawa kebahagiaan, yaitu sepuluh perbuatan positif. Tiada satu pun di antara mereka yang ingin menderita, namun mereka tidak mengetahui bagaimana berhenti melakukan sepuluh perbuatan negatif, yang merupakan akar dari semua penderitaan. Harapan mereka yang paling dalam dan apa yang mereka perbuat sesungguhnya adalah berlawanan satu sama lainnya. Kasihan, mereka tersesat dan kebingungan, seperti orang buta yang ditinggalkan di tengah-tengah dataran yang luas!
Katakanlah kepada diri anda: “Demi membuat mereka menjadi bahagialah maka saya mendengarkan dan berlatih Dharma yang dalam ini.
Saya akan membimbing makhluk-makhluk ini, yaitu orangtua-orangtua saya yang menderita dalam enam alam kelahiran ini untuk mencapai
7 Skt. Tantrayana.
4
tingkat kebuddhaan yang tertinggi, membebaskan mereka dari semua fenomena karma, pola yang merupakan kebiasaan dan penderitaan dalam setiap alam kelahiran ini.” Adalah sangat penting untuk memiliki niat yang demikian setiap kali anda mendengarkan atau berlatih.
Bilamana anda melakukan suatu hal yang positif, yang penting ataupun yang tidak penting, adalah sangat perlu untuk meningkatkan perbuatan tersebut dengan tiga metoda yang agung: Sebelum mulai melakukannya, bangkitkan bodhichitta sebagai alat yang canggih untuk meyakinkan perbuatan itu menjadi suatu sumber yang baik untuk masa depan; pada waktu melakukan perbuatan tersebut, hindarkan terlibat dalam pemuncul- an gagasan, sehingga pahala perbuatan itu tidak akan dapat dilenyapkan oleh kondisi tertentu; selesai melakukan perbuatan tersebut, kuncilah perbuatan tersebut dengan sempurna dengan mendedikasikan pahala kebajikan, yang akan meyakinkan bahwa ia akan terus berkembang.
Begitu pula tentang hal mendengarkan Dharma. Cara anda mende- ngarkan Dharma adalah sangat penting. Namun lebih penting lagi adalah niat sewaktu anda mendengarkannya. Sebagaimana dikatakan oleh Harta Karun Pahala Kebajikan8:
Apakah yang membuat suatu perbuatan baik atau buruk?
Bukanlah bagaimana tampaknya, ataupun besar kecilnya,
Namun adalah niat yang baik ataupun yang buruk di belakang perbuatan tersebut.
Berapa pun banyaknya ajaran yang telah anda dengar, kalau itu dimotivasi dengan hal-hal duniawi, seperti keinginan untuk menjadi mulia, menjadi termasyhur atau lainnya, – adalah bukan jalan Dharma yang benar.
Oleh sebab itu, pertama-tama adalah sangat penting untuk melihat ke dalam diri sendiri dan mengubah niat anda. Jika anda dapat membetulkan niat anda, maka sarana yang trampil akan menembus ke dalam perbuatan positif anda, dan anda akan menjalani jalan seorang makhluk yang besar.
Jika anda tidak dapat berbuat demikian, maka mungkin anda akan berpikir anda mempelajari dan berlatih Dharma, namun itu tidak lebih dari sesuatu yang mirip dengan hal yang sebenarnya. Oleh karena itu, waktu anda mendengarkan ajaran dan waktu anda melatihnya, misalnya saja meditasi terhadap deity, melakukan namaskara, berjalan mengitari objek suci atau
8 Tib. Yönten Dzö.་
5
membaca mantra, – meskipun hanya sepatah mantra inti Avalokitesvara, adalah sangat penting untuk melakukannya dengan bodhicitta.
1.2 Ketrampilan yang luas dalam sarana: Niat Mantrayana Rahasia Suluh Tiga Metoda9 mengatakan bahwa Mantrayana Rahasia:
Memiliki tujuan yang sama namun bebas dari semua kebingungan, Kaya akan metoda dan tanpa kesulitan,
Diperuntukkan bagi mereka yang berkemampuan tinggi, Kendaraan Mantra itu agung.
Mantrayana dapat dimasuki dari banyak jalan. Ia memiliki banyak metoda untuk menghimpun pahala dan kebijaksanaan, dan sarana trampil yang mendalam untuk membuat potensi dalam diri kita menjadi tampak tanpa harus mengalami latihan pertapaan yang ekstrim. Dasar dari metoda-metoda ini adalah dengan mengandalkan transformasi niat dan pikiran.
Segala fenomena tergantung pada kondisi;
Dan segala kondisi tergantung pada niat dan pikiran seseorang.
Janganlah berpikir tempat Dharma dibabarkan, guru dan ajarannya adalah biasa saja dan tidak murni. Pada waktu anda mendengarkan, bayangkanlah lima kesempurnaan dalam hati anda:
Bayangkan bahwa tempatnya yang sempurna adalah benteng yang maha luas, disebut Akanistha, “yang tak tertandingi”; guru yang sempurna adalah dharmakaya Samantabhadra; persamuhan yang sempurna terdiri dari sifat hakiki batin para daka dan dakini dan deity-deity dari silsilah batin Sang Penakluk dan silsilah simbol Vidyadhara.
Atau anda dapat berpikir bahwa tempat pembabaran Dharma adalah Istana Cahaya Teratai pada Gunung Warna Tembaga nan Jaya; 10 sedangkan guru yang mengajar adalah Padmasambhava dari Uddiyana;
9 Skt. Nayatraya-pradipa, suatu sastra yang dikarang oleh Tripitakamala.
10 Alam suci Guru Padmasambhava.
6
dan kita, pendengarnya, adalah Delapan Vidyadhara,11 Dua Puluh Lima Murid12, dan sifat hakiki batin para daka dan dakini.
Atau bayangkan bahwa tempat yang sempurna itu adalah Alam Buddha Timur, Kegembiraan yang Jelas, di mana guru yang sempurna Vajrasattva dalam bentuk sambhogakaya, sedang memberikan ajaran kepada persa- muhan agung deity-deity Keluarga Vajra dan sifat hakiki batin para daka dan dakini.
Bisa juga kita bayangkan tempat yang sempurna di mana Dharma diajarkan itu adalah Alam Buddha Barat, Sukhavati; guru yang sempurna adalah Amitabha, dan pendengarnya adalah sifat hakiki batin daka dan dakini, dan deity-deity dari Keluarga Teratai.
Apa pun halnya, ajarannya adalah ajaran Mahayana dan waktunya adalah roda keabadian yang selalu berputar.13
Visualisasi ini membantu kita untuk mengerti bagaimana barang-barang dalam keadaan murni, bukannya kita menciptakan sesuatu untuk sementa- ra yang tidak sungguh-sungguh murni.
Mengapa hal-hal tersebut di atas disebut murni? Alasannya: Guru merupakan esensi Buddha yang mencakup tiga masa. Beliau adalah gabungan dari Tri Ratna: badannya adalah Sangha, ucapannya adalah Dharma, dan pikirannya adalah Buddha. Beliau merupakan gabungan dari tiga akar: badannya adalah guru, ucapannya adalah yidam, sedangkan pikirannya adalah dakini. Ia merupakan gabungan dari tiga tubuh:
badannya adalah nirmanakaya, ucapannya adalah sambhogakaya, dan pikirannya adalah dharmakaya. Ia adalah penjelmaan dari semua Buddha dari masa lampau, sumber Buddha masa yang akan datang, dan wakil untuk Buddha masa kini. Karena ia menerima murid yang hidup pada masa kemerosotan seperti kita, yang mana tidak satu pun dari seribu
11 8 Vidyadhara: Manjusrimitra, Nagarjuna, Hungkara, Vimalamitra, Prabhahasti, Dhana Sanskrita, Shantim Garbha, dan Guhyachandra.
12 Padmasambhava menyebarkan ajaran Vajrayana ke Tibet atas undangan raja Trisong Detsen. 25 murid yang meraih pencapaian adalah: 1. Namkhé Nyingpo, 2. Nupchen Sangyé Yeshé, 3. Gyalwa Chokyang, 4. Khandro Yeshé Tshogyal, 5. Palgyi Yeshé, 6.
Langchen Palgyi Sengé, 7. Vairotsana, 8. Nyak Jñanakumara, 9. Gyalmo Yudra Nyingpo, 10. Nanam Dorje Dudjom, 11. Yeshé Yang, 12. Sokpo Lhapal, 13. Nanam Shyang Yeshé Dé, 14. Kharchen Palgyi Wangchuk, 15. Denma Tsémang, 16. Kawa Paltsek, 17. Shüpu Palgyi Sengé, 18. Dré Gyalwé Lodrö, 19. Drokben Khye'u Chung Lotsawa, 20. Otren Palgyi Wangchuk, 21. Ma Rinchen Chok, 22. Lhalung Palgyi Dorje, 23. Langdro Könchok Jungné, 24. Lasum Gyalwa Changchup, dan 25. Drenpa Namkha.
13 Istilah khusus Tantra yang berarti permanen dan tidak berubah.
7
Buddha pada Kalpa Bhadra14 bisa membantu kita, belas kasih dan berkah- nya melebihi belas kasih dan berkah semua Buddha.
Guru itu Buddha, guru itu Dharma, Guru itu Sangha juga.
Guru adalah seseorang yang mencapai segala sesuatu.
Guru adalah Vajradhara nan Agung.
Sebagai persamuhan yang berkumpul bersama untuk mendengarkan ajaran, kita memiliki Tathagatagarbha, juga tubuh manusia yang berharga, keadaan lingkungan di mana kita mempunyai seorang teman spiritual dan mengikuti nasihatnya. Oleh karena itu kita adalah Buddha pada masa yang akan datang. Sebagaimana disebutkan dalam Hevajra Tantra:
Semua makhluk hidup adalah Buddha, Hanya saja tertutup oleh kekotoran batin,
Ketika noda mereka dimurnikan, maka sifat Buddha akan muncul.
2. PERILAKU
Perilaku yang benar waktu mendengarkan ajaran dijelaskan dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
2.1 Hal-hal yang harus dihindari
Perilaku yang harus dihindari meliputi tiga jenis cacat pada sebuah pot, enam noda dan lima cara mengingat yang salah.
Tiga jenis cacat pada sebuah pot
Tidak mendengarkan adalah ibarat sebuah pot yang terbalik. Tidak dapat mempertahankan atau mengingat apa yang telah diajarkan adalah seperti sebuah pot yang berlubang. Mendengarkan ajaran dengan men- campurkan emosi negatif anda adalah seperti sebuah pot yang mengan- dung racun.
Pot yang terbalik. Ketika anda mendengarkan ajaran, dengarkanlah apa yang dikatakan dan jangan biarkan pikiran anda dialihkan oleh hal-hal lain.
Kalau tidak, maka anda seperti sebuah pot yang terbalik di mana cairan
14 Kalpa Baik atau Kalpa Keberuntungan.
8
dituangkan. Meski secara fisik anda hadir, namun anda tidak mendengar sepatah kata pun tentang ajaran tersebut.
Pot yang bocor. Jika anda mendengar tanpa mengingat apa yang anda dengar atau anda pahami, anda seperti sebuah pot yang berlubang:
berapapun cairan yang dituang ke dalamnya, tidak ada yang tertinggal.
Berapapun banyaknya ajaran yang telah anda dengar, anda tidak dapat mencernakannya dan melatihnya.
Pot yang mengandung racun. Jika anda mendengarkan ajaran dengan niat yang salah, misalnya dengan keinginan untuk menjadi hebat atau terkenal, atau dengan pikiran penuh dengan kelima macam racun, bukan saja Dharma tidak sanggup membantu pikiran anda; ia juga akan menjadi sesuatu yang sama sekali bukan Dharma, sama halnya dengan nektar yang dituang ke dalam pot yang mengandung racun. Itulah sebabnya pertapa India Padampa Sangye15 berkata:
Dengarkan ajaran seperti seekor rusa mendengarkan musik;
Pikirkan mereka seperti seorang suku pengembara utara yang mencukur bulu dombanya;
Renungkan mereka seperti orang bisu yang sedang menikmati makanan;
Dan berlatihlah seperti seekor yak lapar yang sedang makan rumput;
Capailah hasilnya seperti matahari yang muncul dari balik awan.
Ketika anda mendengarkan ajaran, anda seharusnya seperti seekor rusa yang begitu terpesona oleh suara vina,16 sehingga ia tidak mengetahui adanya pemburu tersembunyi yang siap menembakkan panah beracun.
Rangkapkan kedua belah telapak tangan anda dan dengarkan. Setiap lubang pori-pori anda akan merinding dan mata anda akan basah dengan air mata. Janganlah biarkan pikiran lain menghalanginya.
Tidak baik mendengarkan hanya dengan kehadiran secara fisik saja, sedangkan hati anda berkelana mengikuti pikiran, mulut anda melepaskan segudang gosip, mengatakan apa saja yang anda suka sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Ketika anda mendengarkan ajaran, anda harus berhenti membaca mantra dan berdoa, atau kegiatan baik lainnya yang mungkin sedang anda lakukan.
15 Padampa Sangye: Lahir di India Selatan, pernah berguru kepada Padmasambhava dan Nagarjuna dan mencapai kedua macam siddhi. Hidup selama 571 tahun, pada masa akhir hidupnya ia menyebarkan Dharma ke Tibet.
16 Sejenis alat musik bersenar tujuh.
9
Sesudah anda mendengarkan suatu ajaran dengan benar dengan cara demikian, adalah penting untuk mengingat arti apa yang dikatakan dan tidak pernah melupakannya, serta melaksanakannya secara berkelanjutan.
Sebab, sebagaimana kata Muni Agung17 sendiri:
Saya telah menunjukkan cara kepada anda Yang membawa ke pembebasan;
Namun anda harus memahaminya.
Pembebasan tergantung pada anda sendiri.
Guru memberikan instruksi kepada murid tentang bagaimana mende- ngarkan Dharma dan bagaimana mempergunakannya, bagaimana menghentikan perbuatan negatif, bagaimana melakukan perbuatan yang positif, dan bagaimana berlatih. Oleh sebab itu, sang murid seyogianya mengingat instruksi tersebut dengan tidak melupakan sedikit pun, melatih- nya dan merealisasikannya.
Mendengarkan Dharma saja mungkin merupakan keuntungan tersen- diri. Namun, kecuali anda ingat akan apa yang anda dengar, anda tidak akan mendapatkan pengetahuan sedikit pun tentang kata-kata tersebut dan makna dari ajaran. Jadi sama saja dengan tidak pernah mendengar sama sekali.
Jika anda dapat mengingat ajaran, namun mencampurkannya dengan emosi negatif anda, maka ajaran tersebut tidak pernah akan menjadi Dharma yang murni. Sebagaimana Dagpo Rinpoche18 yang tiada ban- dingannya berkata:
Kecuali anda menjalankan Dharma sesuai dengan Dharma,
Dharma itu sendiri akan menjadi sebab kelahiran di alam rendah.
Hindarkan diri anda dari pikiran salah apa saja tentang sang guru dan Dharma. Janganlah mengeritik atau membanggakan diri di antara teman- teman sedharma atau teman lainnya, bebaskan diri anda dari kesombongan dan pandangan meremehkan, tinggalkan semua pikiran buruk, karena hal- hal ini semua akan menyebabkan kelahiran di alam rendah.
Enam Noda
17 Muni: Orang suci, pertapa. Di sini merujuk pada Buddha Sakyamuni.
18 Dakpo Lhaje - Sonam Rinchen (1079-1153), lebih dikenal dengan nama Gampopa, murid dan penerus Milarepa. Pengarang “Rangkaian Permata Jalan Pembebasan”.
10
Dalam Nalar yang Dijelaskan Dengan Baik19, ada kata-kata demikian:
Kesombongan, kurang keyakinan dan tidak beminat terhadap Dharma,
Gangguan luar, ketegangan batin dan kebosanan;
Merupakan enam noda.
Hindarilah enam hal ini: dengan sombong menganggap anda lebih hebat dari guru yang sedang membabarkan Dharma, tidak mempercayai guru dan ajarannya, tidak mengharapkan ajaran, menjadi terganggu oleh kejadian-kejadian di luar diri sendiri, terlalu memfokus pada hal-hal tertentu, dan menjadi bosan, misalnya, kalau suatu ajaran sangat panjang.
Dari semua emosi negatif, kesombongan dan iri hati adalah yang paling sulit untuk dikenal. Oleh karena itu, periksalah diri anda dengan teliti.
Sedikit saja ada perasaaan bahwa anda memiliki kualitas yang khusus ini, apakah itu bersifat duniawi atau spiritual, akan membuat anda buta akan kesalahan anda dan tidak menyadari kelebihan atau kualitas yang baik dari orang lain. Oleh karena itu, hindarilah kesombongan dan selalu mengam- bil posisi yang rendah.
Jika anda tidak mempunyai keyakinan, maka jalan masuk ke Dharma akan tertutup. Dari keempat jenis keyakinan,20 arahkan ke keyakinan yang tak dapat diubah.
Minat anda terhadap Dharma adalah dasar dari apa yang akan anda capai. Oleh karena itu, tergantung apakah tingkat minat anda itu sangat dalam, sedang ataupun kurang, anda akan menjadi praktisi yang unggul, sedang atau yang rendah. Dan jika anda sama sekali tidak tertarik akan Dharma, tidak akan ada hasil sama sekali. Sebagaimana yang dikatakan peribahasa:
Dharma bukanlah milik siapa-siapa.
Ia milik siapa saja yang paling menyukainya.
Buddha sendiri mendapatkan ajaran sesudah mengalami ratusan kesu- karan. Hanya untuk memperoleh suatu syair empat baris saja, ia menggali dagingnya sendiri untuk tempat persembahan pelita, mengisinya dengan
19 Vyakhya-yukti, nama sastra karangan Vasubandhu.
20 Yaitu keyakinan yang spontan, keyakinan yang penuh pengharapan, keyakinan yang dalam, dan keyakinan yang tak dapat diubah.
11
minyak dan menempatkan ke dalamnya ribuan sumbu yang menyala. Ia meloncat ke dalam lubang galian yang berapi, dan memakukan ribuan paku ke dalam tubuhnya. Sungguh dapat dikatakan:
Melewati gunung pedang dan lautan api, Mempertaruhkan jiwa demi mencari Dharma.
Oleh karena itu dengarkanlah ajaran dengan usaha yang keras.
Lupakan panas, dinginnya cuaca atau kesulitan lainnya.
Kecenderungan kesadaran yang asyik dengan objek enam indera adalah akar dari semua halusinasi samsara dan sumber dari semua penderitaan.
Itulah sebabnya ngengat mati dalam nyala api, karena kesadaran visualnya tertarik pada bentuk; rusa mati dibunuh oleh pemburu, karena pendengar- annya tertarik pada bunyi; dan lebah ditelan oleh tumbuh-tumbuhan pemakan serangga, karena terpukau oleh bau; ikan tertangkap dengan umpan, karena indera pengecap mereka terpikat rasa; sedangkan gajah tenggelam dalam rawa, karena mereka menyukai perasaan fisik dari lumpur. Oleh karena itu, ketika anda mendengarkan Dharma, sedang bermeditasi atau sedang melatih diri, ataupun ketika sedang memberikan ajaran, adalah penting untuk tidak mengikuti kebiasaan waktu lampau, tidak melamun tentang masa depan, dan tidak membiarkan pikiran anda sekarang terganggu dengan apa pun yang ada di sekeliling anda. Sebagai- mana dikatakan oleh Gyalse Rinpoche21:
Kegembiraan dan kesusahan anda di masa lampau seperti lukisan di air;
Tidak ada jejak yang tertinggal. Janganlah mengejar mereka!
Namun, andai hal itu terlintas dalam pikiran anda, pikirkan bagaima- na sukses dan kegagalan datang dan pergi.
Apakah ada sasaran lain selain Dharma, hai pelafal mantra mani?22
Rencana dan proyek hari depan anda adalah seperti jala yang dilem- parkan ke palung sungai yang kering:
Mereka tidak akan pernah membawa apa pun seperti yang anda inginkan. Batasilah keinginan dan cita-cita anda!
21 Gyalse Rinpoche (1295-1369), nama lengkap Ngulchu Thogme Chenpo, adalah emanasi dari Bodhisattva Avalokitesvara.
22 Merujuk pada orang-orang Tibet biasa, yang sifat khasnya memiliki keyakinan pada Dharma dan melafal mantra yang terkenal Om mani peme hung.
12
Namun, andai hal itu terlintas dalam pikiran anda, pikirkanlah bagaimana hal itu sangatlah tidak menentu ketika anda meninggal;
Apakah anda mempunyai waktu untuk sesuatu selain Dharma, hai pelafal mantra mani?
Pekerjaan anda sekarang seperti suatu mata pencaharian dalam mimpi;
Karena semua usaha adalah tidak ada artinya, tinggalkanlah.
Pikirkanlah, meski penghasilan anda yang jujur tanpa keterikatan, Kesibukan itu tak bermakna, hai pelafal mantra mani!
Antara sesi meditasi, belajarlah untuk mengendalikan semua pikiran yang muncul dari ketiga racun dengan cara demikian;
Sampai semua pikiran dan persepsi timbul sebagai dharmakaya, Ini sangat penting, – ingatlah hal itu ketika anda membutuhkannya, Janganlah biarkan pikiran yang tertipu mengelana, hai pelafal mantra
mani!
Dan dikatakan juga:
Janganlah melamun tentang masa depan. Jika anda berbuat demikian, anda sama seperti ayah Bulan Terkenal!
Ini merujuk pada cerita seorang miskin yang kebetulan menemukan setumpuk besar barli.23 Ia memasukkannya ke dalam sebuah karung yang besar, mengikatnya pada balok penyangga atap rumah, kemudian berba- ring di bawahnya dan mulai melamun.
"Barli ini akan membuat saya menjadi sangat kaya", pikirnya. "Begitu saya menjadi kaya, saya akan menikah.... dan ia pasti akan melahirkan seorang anak laki-laki…. Apakah nama yang akan saya berikan padanya?"
Tepat pada waktu itu, rembulan muncul dan ia memutuskan untuk menamai anaknya Bulan Terkenal. Namun pada waktu yang bersamaan, seekor tikus mengigit tali tempat karung tersebut digantung. Tali itu tiba- tiba putus, karung barli tersebut jatuh dan ia mati terbunuh.
Mengangan-angan hal-hal di masa lampau atau masa yang akan datang seperti ini tidak akan membawa hasil dan hanya membawa keresahan.
Hentikanlah sama sekali. Bersikap waspada dan dengarkan dengan cermat dan penuh perhatian.
23 Sejenis gandum untuk membuat bir.
13
Janganlah terlalu memusatkan perhatian anda dengan memperhatikan setiap perkataan dan poin, seperti beruang dremo yang menggali marmot – setiap kali anda menangkap satu poin, anda lupa akan poin sebelumnya, dan tidak mengerti keseluruhan. Konsentrasi yang terlalu penuh juga akan membuat anda mengantuk. Jadi, jagalah keseimbangan antara tegang dan santai.
Suatu waktu di masa lalu, Ananda mengajar Srona bermeditasi. Srona sangat kesulitan untuk bermeditasi dengan benar. Kadang ia terlalu tegang, kadang terlalu santai. Srona minta petunjuk pada Buddha, dan Buddha bertanya: "Ketika anda belum menjadi bhiksu, anda adalah pemain vina yang baik, bukan? "
" Ya, saya dapat memainkannya dengan baik sekali”
"Apakah vina akan mengeluarkan suara yang merdu ketika senarnya terlalu kendor atau terlalu kencang?”
"Suaranya paling bagus ketika senar tidak terlalu kencang atau tidak terlalu kendor”
"Sama halnya dengan pikiran anda,” kata Buddha; dan dengan ber- meditasi sesuai dengan nasihat tersebut, Srona mencapai tujuannya.
Machik Labdrön24 berkata:
Konsentrasi penuh namun santai:
Inilah poin yang paling penting untuk Pandangan.
Janganlah biarkan pikiran anda terlalu tegang atau terlalu terpusat ke dalam. Demikian juga, jangan biarkan pikiran mengelana dengan tak terkendali. Biarkan indera anda santai secara alami, seimbang antara tegang dan rileks.
Janganlah merasa jemu mendengarkan ajaran. Jangan pula merasa tidak betah karena lapar atau haus ketika mendengarkan ajaran yang panjang, atau ketika anda harus menahan ketidak-nyamanan yang disebabkan angin, sinar matahari, hujan dan sebagainya. Bergembiralah karena anda sekarang memiliki kebebasan dan berkah kehidupan manusia, dan bertemu dengan guru yang sejati, sehingga anda dapat mendengarkan instruksinya yang dalam.
24 Machik Labdron (1031-1129), seorang yogini Tibet yang terkenal. Sesudah mencapai realisasi dengan kitab-kitab prajna, kemudian berguru kepada Padampa Sangye dan mendirikan sekte Cho (Lihat halaman 368).
14
Kenyataan bahwa anda pada saat ini mendengarkan ajaran Dharma yang dalam adalah buah dari pahala yang anda kumpulkan selama kalpa yang tak terhitung banyaknya, seperti sedang bersantap pada waktu anda hanya berkesempatan makan sekali sesudah beratus-ratus kali waktu makan dalam hidup anda. Oleh karena itu, pastikan anda mendengarkan dengan gembira, berjanji untuk menahan panas, dingin dan cobaan lain dan kesulitan yang mungkin timbul untuk mendapatkan ajaran tersebut.
Lima Cara Mengingat yang Salah
Hindarkan mengingat katanya tetapi melupakan artinya, Atau mengingat artinya tetapi melupakan katanya.
Hindarkan mengingat dengan tanpa mengerti artinya,
Mengingatnya dengan urutan yang tidak benar, atau mengingatnya dengan arti yang salah.
Mengingat kata tetapi melupakan artinya: Janganlah menyelipkan arti yang tidak semestinya dengan suatu frase yang indah tanpa membuat suatu usaha untuk menganalisa arti yang mendalam dari kata tersebut, seperti anak kecil yang mengumpulkan bunga. Hanya kata-kata saja tidak ada manfaatnya untuk hati kita.
Mengingat arti tetapi melupakan katanya: Di lain pihak, janganlah menganggap susunan kata-kata tidak begitu penting, meremehkannya dengan hanya mengingat artinya yang dalam. Karena meski anda mengingat artinya yang dalam, anda tidak akan mempunyai sarana untuk mengungkapkannya. Kata dan arti sudah kehilangan hubungan mereka.
Mengingat tanpa mengerti artinya: Jika anda mengingat ajaran tanpa mengindentifikasi perbedaan tingkatnya – arti untuk kemudahan pemahaman, arti sesungguhnya dan arti yang tidak langsung – anda akan bingung apa yang dimaksud dengan kata-kata tersebut. Hal ini akan menuntun anda menjauhi Dharma yang sejati.
Mengingat dengan tidak sesuai urutan: Jika anda mengingatnya dengan tidak sesuai urutannya, anda akan mencampur aduk susunan yang sempurna dari ajaran tersebut, sehingga setiap kali anda mendengarkannya, menerangkannya, atau bermeditasi tentang hal tersebut, maka kebingungan akan meningkat berlipat ganda.
Mengingat secara salah: Jika anda mengingat secara salah apa yang dikatakan, maka ide-ide yang keliru akan bertambah dengan cepat. Ini akan merusak batin anda dan merendahkan Dharma.
15
Hindarilah semua kesalahan ini dan ingatlah semuanya – kata-kata, arti dan urutan ajaran – dengan tiada kesalahan. Berapa pun panjang dan sulitnya ajaran tersebut, janganlah patah semangat dan beranggapan bahwa pembabaran tersebut tidak pernah akan selesai. Bertekunlah. Begitu juga, berapa pun singkat dan sederhana, janganlah meremehkannya hanya karena hal itu merupakan hal yang dasar saja.
2.2 Hal-hal yang harus dilakukan
Sikap yang harus diambil ketika mendengarkan ajaran diterangkan de- ngan empat kiasan, enam kesempurnaan transenden dan jenis lain dari sikap tersebut.
Empat Kiasan
Âvataṃsaka-sūtra mengatakan:
Anda yang mulia, anda harus berpikir bahwa anda sendiri adalah seseorang yang sedang sakit,
Dan Dharma adalah obatnya,
Teman spiritual sebagai dokter yang ahli,
Dan latihan yang rajin adalah jalan untuk kesembuhan.
Kita sakit. Sejak waktu yang tidak berawal, dalam lautan penderitaan samsara yang maha luas ini, kita telah disiksa dengan berbagai penyakit yang timbul dari ketiga racun dan buahnya, ketiga macam penderitaan.
Ketika orang sakit parah, mereka pergi ke dokter. Mereka mengikuti anjuran dokter dan minum obat yang diberikan, serta melakukan apa pun supaya mereka sembuh. Dengan cara yang sama, anda harus menyembuh- kan anda sendiri dari penyakit karma, emosi negatif dan penderitaan, dengan mengikuti resep yang diberikan oleh dokter yang berpengalaman tersebut, guru yang otentik, dan dengan meminum obat Dharma.
Sebaliknya, mengikuti guru namun tidak berbuat sesuai dengan apa yang dikatakannya, maka guru tidak dapat memberi manfaat apa-apa kepada muridnya. Ini adalah sama dengan tidak mengikuti nasihat dokter, sehingga ia tidak berkesempatan untuk menyembuhkan sakit anda. Tidak minum obat Dharma – maksudnya, tidak melatihnya – sama saja dengan memiliki begitu banyak obat dan resep di samping tempat tidur anda,
16
namun anda sama sekali tidak menyentuhnya. Cara yang demikian tidak akan pernah menyembuhkan penyakit anda.
Sekarang ini orang-orang sangat optimis. “Lama, lihatlah saya dengan belas kasih!’ sambil berpikir meski mereka sudah berbuat hal-hal yang sangat buruk, mereka tidak akan pernah memikul akibatnya. Mereka menganggap bahwa guru, dengan belas kasihnya, akan melambungkan mereka ke surga seperti halnya melemparkan sebuah batu kerikil. Tetapi, ketika kita berbicara tentang guru yang berbelas kasih kepada kita, apa yang dimaksud sesungguhnya adalah bahwa ia menerima kita sebagai muridnya dengan penuh kasih sayang, dan memberikan kepada kita instruksi yang dalam, membuka mata kita terhadap apa yang harus kita perbuat dan apa yang tidak boleh kita lakukan, serta menunjukkan kepada kita jalan pembebasan yang diajarkan oleh Sang Penakluk. Apa ada belas kasih lain sebesar belas kasih demikian? Adalah tergantung kepada kita apakah kita akan memanfaatkan belas kasih ini dan secara nyata menekuni jalan pembebasan.
Sekarang, kita memiliki kelahiran sebagai manusia bebas dan ter- karunia. Sekarang kita tahu apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, keputusan kita pada saat ini, ketika kita memiliki kebebasan untuk memilih, akan menjadi saat yang menentukan nasib kita, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, jauh ke masa depan. Adalah teramat penting kita memilih antara samsara dan nirvana untuk terakhir kalinya dan melaksanakan apa yang diinstruksikan oleh guru kita.
Orang-orang yang melakukan upacara pemakaman mengatakan kepada anda bahwa anda masih memiliki kesempatan untuk ke atas atau ke bawah ketika anda sudah mati tergeletak di ranjang mati anda, sama sepertinya anda sedang mengemudikan seekor kuda dengan kendalinya. Namun, pada saat itu, kecuali kalau anda telah menguasai jalan menuju pembebasan, angin dahsyat dari perbuatan anda di masa lampau akan mengejar anda, sedangkan di depan anda, kegelapan yang mengerikan menyerbu anda ketika anda dengan tak berdaya dibawa ke dalam alam bardo yang panjang dan berbahaya. Tidak terhitung banyaknya algojo- algojo Raja Yama mengejar anda sambil berteriak-teriak: “Bunuh! Bunuh!
Pukul! Pukul!” Mana mungkin pada saat itu – ketika tidak ada tempat untuk berlari dan bersembunyi, tidak ada perlindungan dan tidak ada harapan, ketika anda putus asa dan tidak tahu apa yang dapat anda lakukan – mana mungkin saat itu adalah saat yang dapat anda kendalikan untuk naik atau turun? Seperti yang dikatakan oleh Dari Uddiyana Yang Agung:
17
Ketika penguatan diberikan kepada kartu yang bertuliskan nama anda, terlambat sudah! Kesadaran anda, yang sudah mengelana dalam alam bardo seperti seekor anjing gila, akan sangat sulit untuk memikirkan alam yang lebih tinggi.
Kenyataannya, apa yang disebut saat yang menentukan, atau saat satu- satunya di mana anda benar-benar dapat mengatur untuk naik atau turun, seperti anda sedang mengendalikan kuda dengan memegang tali kendali, adalah sekarang, ketika anda masih hidup.
Sebagai seorang manusia, tindakan positif anda lebih kuat dari tin- dakan makhluk kelima alam lainnya. Pada satu pihak ia akan memberi kesempatan kepada anda disini dan sekarang dalam kehidupan pada saat ini untuk “menyingkirkan tengkorak” untuk selama-lamanya.25 Di lain pihak, perbuatan negatif anda juga lebih kuat dari tindakan makhluk kelima alam lainnya, sehingga anda akan yakin juga, bahwa anda tidak akan terlepas dari alam rendah. Karena anda sudah menemukan seorang guru, seorang dokter yang ahli, dan Dharma, obat yang mujarab untuk menaklukkan kematian, inilah saatnya untuk mengaplikasikan empat kiasan tersebut. Laksanakan apa yang telah anda dengar, dan tempuhlah jalan menuju pembebasan.
Harta Karun Pahala Kebajikan menggambarkan empat hal salah yang harus dihindari, yang merupakan kebalikan dari empat kiasan yang disebut di atas:
Orang yang picik dan sifat dasarnya jahat, Mendekati guru seperti mendekati rusa kesturi;
Sesudah menyadap minyak harumnya, Dharma yang sempurna, Dengan penuh kegembiraan, mereka mencemoohkan samaya.
Orang-orang ini berperilaku seolah-olah guru mereka adalah rusa kesturi, dan Dharma itulah minyak harumnya. Mereka adalah pemburu, dan berlatih dengan tekun cara membunuh rusa dengan anak panah atau perangkap. Mereka tidak berlatih ajaran yang telah mereka terima dan tidak berterima kasih kepada guru. Mereka memakai Dharma untuk mengumpulkan perbuatan yang buruk, mengikat leher mereka dengan batu gerinda yang akhirnya membawa mereka ke alam yang lebih rendah.
25 Maksudnya menyingkirkan badan seseorang, dengan pengertian membebaskan dirinya sendiri dari kelahiran yang akan datang.
18
Enam Kesempurnaan Transenden26
Dalam Tantra Pemahaman Menyeluruh dari Instruksi Latihan Semua Dharma27, disebutkan demikian:
Mempersembahkan persembahan yang bagus, misalnya bunga dan tempat duduk;
Meletakkan kursi sesuai urutannya dan mengendalikan kelakuan anda;
Tidak menyakiti, biarpun seekor serangga;
Berkeyakinan yang teguh terhadap guru anda;
Mendengarkan instruksinya dengan penuh perhatian;
Dan menanyakan kepadanya dengan tujuan untuk melenyapkan keraguan anda;
Inilah enam kesempurnaan transenden seorang pendengar.
Orang yang mendengarkan ajaran hendaknya mempraktekkan keenam kesempurnaan trasenden sebagai berikut:
Siapkan tempat duduk untuk sang guru, taruhlah alas duduk diatasnya, persembahkan sebuah mandala, bunga dan persembahan lainnya. Ini adalah praktek kemurahan hati.
Sapu bersih tempat atau ruangan sesudah dengan saksama mengen- dapkan debu dengan air, dan hindari segala macam sikap yang tidak baik.
Ini adalah praktek disiplin.
Hindari menyakiti apa pun, biarpun seekor serangga, dan menahan panas, dingin dan kesulitan lainnya. Ini adalah praktek kesabaran.
Buanglah pandangan salah terhadap guru dan ajaran, dan dengarkan dengan gembira dan penuh keyakinan. Ini adalah praktek ketekunan.
Dengarkan instruksi Lama dengan penuh perhatian. Ini adalah praktek konsentrasi.
Kemukakan pertanyaan untuk menghilangkan ketidakpastian dan keraguan. Ini adalah praktek kebijaksanaan.
Jenis Perilaku Lainnya
Segala kelakuan yang tidak hormat harus dihindari. Vinaya menga- takan:
26 Kesempurnaan transenden: Skt. Paramita
27 Tib. chos spyod thams cad kyi man ngag mngon par rtogs pa’i rgyud.
19
Janganlah mengajar orang-orang yang tidak menaruh hormat, Orang yang menutup kepalanya walau dalam keadaan sehat, Dan yang membawa tongkat, senjata maupun parasol,
Atau orang yang kepalanya memakai surban.
Dan Jataka mengatakan:
Ambillah tempat duduk yang paling rendah,
Kembangkan sikap bermartabat berdisiplin mutlak;
Dengan mata yang berlinang karena kegembiraan, Terimalah kata-kata dengan gembira seperti nectar;
Dan konsentrasi sepenuhnya, Inilah cara mendengarkan ajaran.
20
21
BAGIAN PERTAMA
PENDAHULUAN UMUM
ATAU PENDAHULUAN BAGIAN LUAR
Bab 1 Sulitnya memperoleh kebebasan dan berkah Bab 2 Ketidak-kekalan kehidupan
Bab 3 Ketidak-sempurnaan dunia samsara Bab 4 Perbuatan: prinsip sebab dan akibat Bab 5 Manfaat pembebasan
Bab 6 Bagaimana cara mengikuti seorang guru
22
23
BAB 1
SULITNYA MEMPEROLEH KEBEBASAN DAN BERKAH
Subjek bab ini diterangkan dalam empat bagian: merenungkan sifat kebebasan, merenungkan berkah khusus yang berhubungan dengan Dharma, merenungkan gambaran bagaimana sulitnya memperoleh ke- bebasan dan berkah, dan merenungkan dengan perbandingan angka.
1. Merenungkan Sifat Kebebasan
Pada umumnya, “kebebasan” artinya memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma dan tidak terlahir dalam delapan keadaan tanpa kesempat- an tersebut. " Kekurangan kebebasan” merujuk pada delapan keadaan di mana tidak ada kesempatan demikian:
Terlahir di neraka, di alam setan kelaparan,
Sebagai binatang, dewa yang berumur panjang atau orang barbar, Memiliki pandangan salah, terlahir di tempat yang tidak ada Buddha, Atau terlahir bisu dan tuli, ini adalah delapan keadaan tanpa
kebebasan.
Terlahir di neraka tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma, sebab mereka terus menerus disiksa oleh panas dan dingin yang amat berat.
Setan lapar tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma karena mereka senantiasa didera oleh penderitaan rasa haus dan lapar.
24
Binatang tidak memilik kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka diperbudak dan mengalami penderitaan karena serangan binatang lainnya.
Dewa yang berumur panjang tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka menghabiskan waktu mereka dalam keadaan mental yang kosong.
Orang-orang yang terlahir di daerah luar tidak mempunyai kesem- patan untuk berlatih Dharma, karena doktrin Buddha tidak dikenal di tempat demikian.
Mereka yang terlahir sebagai tirthika28 atau yang mengikuti pandangan salah tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih Dharma, karena pikiran mereka terlalu dipengaruhi oleh kepercayaan yang keliru.
Mereka yang terlahir dalam kalpa gelap tidak memiliki kesempatan untuk berlatih Dharma, karena mereka tidak pernah mendengar tentang Tri Ratna dan tidak dapat membedakan baik dan buruk.
Mereka yang bisu, atau yang cacat mental tidak berkesempatan ber- latih Dharma, karena sarana mereka tidak lengkap.
Di antara kedelapan keadaan kurangnya kebebasan tersebut, makhluk- makhluk di alam rendah terus menerus didera oleh panas, dingin, rasa lapar, haus dan siksaan lainnya sebagai akibat dari perbuatan negatif mereka di masa lampau. Mereka tidak berkesempatan berlatih Dharma.
"Orang Barbar” artinya orang yang hidup di tiga puluh dua perbatasan negara, contohnya Lo Khatha,29 dan semua orang yang menganggap menyakiti orang lain sebagai sesuatu keyakinan atau mereka yang berkepercayaan kejam dan menganggap membunuh adalah perbuatan yang baik. Orang-orang yang tinggal di daerah luar ini memiliki rupa manusia, namun pikiran mereka kekurangan pengarahan yang benar, dan mereka tidak bisa mengalihkan pandangan mereka kepada Dharma. Mewarisi kebiasaan lucu dari nenek moyangnya, seperti menikahi ibunya, mereka hidup dengan kebiasaan yang berlawanan dengan praktek Dharma. Segala yang mereka lakukan adalah kejahatan, hanyalah teknik kegiatan yang merugikan seperti membunuh dan memburu binatang buas yang menonjol.
Kebanyakan mereka jatuh ke alam yang lebih rendah begitu mereka
28 Tirthika: Bukan penganut agama Buddha, termasuk mereka yang berpandangan salah.
29 Merujuk pada daerah luas yang didiami oleh orang-orang biadab yang terletak di sebelah selatan dari Tibet tengah dan timur. Tempat ini mencakup Arunachal Pradesh, Nagaland dan sebagian daerah Assam di bagian India utara-timur sekarang ini, juga bagian utara- barat Burma.
25
meninggal dunia. Bagi orang-orang seperti ini, tidak ada kesempatan untuk berlatih Dharma.
Dewa-dewa berumur panjang adalah dewa-dewa di Surga Asaṃjñasattva, di mana mereka terserap dalam kekosongan mental.
Mereka terlahir di alam ini sebagai akibat mempercayai bahwa pembebas- an adalah suatu keadaan di mana semua aktivitas mental tidak ada, yang baik ataupun yang jahat, dan bermeditasi akan keadaan demikian. Mereka tinggal dalam keadaan konsentrasi demikian terus menerus selama beberapa kalpa besar. Namun, begitu hasil perbuatan lampau yang menyebabkan keadaan demikian berakhir, mereka akan terlahir ke alam yang lebih rendah karena pandangan salah mereka. Mereka juga tidak berkesempatan berlatih Dharma.
Istilah “pandangan salah” secara umum mencakup kepercayaan eternalis dan nihilis, atau suatu pandangan yang berlawanan dengan atau di luar dari ajaran Buddha. Pandangan ini menyesatkan pikiran dan menghalangi seseorang untuk berusaha mencapai Dharma yang sejati, yang ujung-ujungnya yang bersangkutan tidak akan mempunyai kesempatan untuk melatihnya. Di Tibet, karena adanya Buddha yang kedua, Padmasambhava dari Uddiyana, yang mempercayakan perlindungan negeri tersebut kepada dua belas Tenma,30 sehingga kaum tirthika tidak sanggup menembusnya. Namun, seseorang yang pengertian- nya seperti tirthika dan yang berlawanan dengan Dharma dan guru yang sejati, akan kehilangan kesempatan untuk melatih diri berdasarkan ajaran yang benar. Bhiksu Sunaksatra menghabiskan waktu dua puluh lima tahun sebagai pelayan Buddha, namun karena ia sama sekali tidak mempunyai keyakinan dan hanya berpegang pada pada pandangan yang salah, maka akhirnya ia terlahir sebagai setan lapar di taman bunga.
Terlahir di kalpa yang gelap berarti terlahir pada masa di mana tidak ada Buddha. Dalam dunia di mana tidak muncul seorang Buddha, tidak ada orang yang pernah mendengar tentang Tri Ratna. Karena tidak ada Dharma, maka tidak ada kesempatan untuk melatihnya.
30 12 deity pelindung yang diikat di bawah sumpah oleh Padmasambhava, terdiri dari : 4 mara perempuan: Dorje Kundrakma, Dorje Yama Kyong, Dorje Kuntu Zang, Dorje Gek kyi Tso; 4 yaksa perempuan: Dorje Yudrönma, Dorje Palgyi Yum, Dorje Lumo, Dorje Drakmo Gyal; dan 4 deity pengobatan: Dorje Bö Kham Kyong, Dorje Menchikma, Dorje Zulema, Dorje Yarmo Sil dengan ratusan ribu pengiring mereka.
26
Pikiran orang yang terlahir bisu dan tuli tidak dapat berfungsi dengan sempurna, sehingga proses mendengarkan ajaran, menjelaskan dan merenungkan serta melaksanakan ajaran tersebut menjadi terhalang.
Gambaran terhadap “bisu tuli” biasanya merujuk pada gangguan fungsi bicara. Hal itu menjadi suatu kondisi di mana tidak ada kesempatan bagi Dharma, jika kemampuan manusia yang biasa untuk mempergunakan dan mengerti bahasa tidak ada. Kategori ini tentunya mencakup mereka yang cacat mental, yang membuat mereka tidak bisa memahami ajaran, sehingga menghalangi mereka untuk melatihnya.
2. Merenungkan berkah khusus yang berhubungan dengan Dharma
Topik ini mencakup lima berkah perorangan dan lima berkah yang tidak langsung.
2.1 Lima berkah perorangan
Nagarjuna merinci hal itu sebagai berikut:
Terlahir sebagai seorang manusia, pada negeri pusat, dengan ke- mampuan indera yang lengkap,
Tanpa cara hidup yang berlawanan dan memiliki keyakinan akan Dharma.
Tanpa kehidupan sebagai seorang manusia, hanya untuk bertemu de- ngan Dharma saja adalah tidak mungkin. Oleh sebab itu, tubuh manusia adalah berkah pendukung.
Kalau saja anda terlahir di tempat yang jauh di mana Dharma tidak terdengar, anda tidak akan bertemu dengannya. Namun anda terlahir di negeri pusat dalam pengertian Dharma, maka anda memiliki berkah tempat.
Tidak memiliki kemampuan indera yang lengkap juga merupakan rintangan berlatih Dharma. Jika anda bebas dari ketidakmampuan ini, maka anda memiliki berkah kemampuan indera.
Jika anda memiliki cara hidup yang berlawanan, anda akan selalu terbenam dalam perbuatan negatif yang berlawanan dengan Dharma. Oleh karena anda sekarang memiliki keinginan untuk berbuat hal-hal yang positif, ini adalah berkah niat.
27
Jika anda tidak memiliki keyakinan akan ajaran Buddha, anda tidak akan merasa adanya keinginan terhadap Dharma. Memiliki kemampuan untuk mengalihkan pikiran kepada Dharma, sebagaimana yang anda lakukan sekarang, merupakan berkah keyakinan.
Oleh karena kelima berkah ini harus dipenuhi berkenaan dengan kepribadian seseorang, mereka disebut lima berkah perorangan.
Kelima berkah ini adalah berkah yang harus dimiliki dari diri individu sendiri, oleh karena itu disebut berkah perorangan.
Berkah pendukung: Untuk menyadari hakikat Dharma yang sejati, adalah mutlak perlu memiliki tubuh seorang manusia. Sekarang, andai- kata anda tidak memiliki dukungan atas adanya sebuah tubuh manusia, namun memiliki bentuk kehidupan yang paling tinggi dari ketiga alam rendah, misalnya binatang, – meski binatang yang paling indah dan paling berharga yang dikenal manusia, jika seseorang berkata kepada anda:
“Ucapkan Om mani padme hum31 satu kali, dan anda akan menjadi Buddha,” anda tidak mampu memahami apa yang dikatakan dan tidak menangkap artinya, anda juga tidak akan dapat mengucapkan suatu kata.
Kenyataannya, meski anda hampir mati kedinginan, anda tidak bisa berpikir untuk melakukan sesuatu selain menerima nasib begitu saja.
Tetapi seorang manusia, betapapun lemahnya, ia akan tahu bagaimana berlindung dalam gua atau di bawah pohon, dan akan mengumpulkan kayu untuk membuat api guna memanasi muka dan tangannya. Jika binatang tidak mampu melakukan hal yang sederhana ini, bagaimana mereka pernah membayangkan untuk berlatih Dharma?
Dewa-dewa dan makhluk sejenisnya, betapapun hebat bentuk tubuhnya, mereka tidak memiliki syarat untuk mengambil sumpah pratimoksa, sehingga tidak dapat memiliki kesempatan memperoleh Dharma secara keseluruhan.
Berkah tempat: Dalam hal apa yang disebut “daerah pusat”, seseorang perlu membedakan antara daerah pusat dalam arti geografis dan tempat pusat dalam arti Dharma.
Secara geografis, yang disebut daerah pusat biasanya adalah Tempat Kedudukan Vajra di Bodh Gaya di India, pada pusat Jambudvipa, Benua Selatan. Seribu Buddha dalam Kalpa Bhadra semuanya mencapai pencerahan di sana. Meski pada waktu penghancuran jagat raya di akhir
31 Orang Tibet melafalnya sebagai ‘Om mani peme hung’.
28
kalpa, keempat elemen tidak dapat melukainya, ia akan tetap tinggal dan mengambang di angkasa. Di tengahnya tumbuh Pohon Bodhi. Tempat ini, dengan semua kota di India di sekelilingnya, dianggap sebagai pusat dalam arti geografis.
Dalam pengertian Dharma, daerah pusat adalah daerah di mana Dharma, – ajaran dari Buddha, ada. Semua tempat lainnya di mana tidak ada Buddhadharma disebut daerah pinggir.
Pada zaman dahulu kala, mulai waktu Buddha datang ke dunia dan sepanjang doktrinnya tetap ada di India, daerah itu dianggap sebagai daerah pusat dalam pengertian geografis dan juga dalam pengertian Dharma. Namun sekarang ia sudah jatuh ke tangan non-Buddhis dan doktrin Sang Penakluk sudah lenyap dari daerah tersebut, sehingga dalam pengertian Dharma, bahkan Bodh Gaya pun, adalah daerah pinggir.32
Pada zaman Buddha, Tibet, Tanah Salju, disebut “daerah pinggir Tibet”, karena ia merupakan daerah yang sedikit penduduknya dan doktrin Buddha belum tersebar ke sana. Kemudian, jumlah penduduk meningkat sedikit demi sedikit dan muncul beberapa raja yang memerintah di sana yang merupakan emanasi makhluk suci. Dharma pertama kali muncul di Tibet waktu pemerintahan Lha-Thothori Nyentsen, ketika Sutra Seratus Doa dan Sembah Sujud33 dan cetakan tsa-tsa34 jatuh ke atap istana.
Sesuai dengan ramalan bahwa ada seseorang akan mengerti arti sutra pada lima generasi kemudian, muncul Raja Dharma Songtsen Gampo, emanasi dari Yang Maha Welas Asih.35 Dalam masa pemerintahan Songtsen Gampo, penterjemah Thönmi Sambhota36 dikirim ke India untuk mempelajari bahasa dan naskah-naskah. Kembali dari sana, ia memperke- nalkan huruf kepada Tibet untuk pertama kalinya. Ia menterjemahkan dua puluh satu sutra dan tantra Avalokitesvara, Benda Suci Misterius37 dan beragam sutra lainnya ke dalam bahasa Tibet. Raja sendiri memainkan banyak peranan, bersama-sama Perdana Menterinya Gartongtsen, ia mempergunakan sarana yang ajaib untuk mempertahankan negeri tersebut.
32 Pada waktu Penulis masih hidup, daerah tersebut sempat jatuh ke tangan orang Islam, namun sekarang sudah kembali menjadi menjadi daerah pusat Dharma.
33 Skt. Saksi-purana-sudraka-nama-sutra.
34 Rupang Buddha berukuran kecil atau model cetakan tempat rupang tersebut dicetak.
35 Avalokitesvara, Bodhisattva Welas Asih (Kwan Im).
36 Emanasi.Bodhisattva Manjusri, diutus ke India untuk mempelajari Bahasa Sansakerta.
37 Pada generasi kedua puluh tujuh, masa pemerintahan Raja Lha-Thothori Nyentsen, ada benda jatuh dari langit. Di dalamnya terdapat Karandavyuha-sutra, Mantra Avalokitesvara, Sutra Nama-nama Buddha dan sebuah rupang emas. Waktu itu tak seorang pun mengerti maknanya, sehingga disebut Benda Suci Misterius. Hal ini dianggap sebagai permulaan adanya Buddhadharma di Tibet.
29
Ia menikahi dua orang permasuri, satu orang Tiongkok dan satu lagi dari Nepal, yang membawa serta dengan mereka banyak barang yang mewakili tubuh, ucapan dan pikiran Buddha, termasuk rupang Jowo Mikyö Dorje dan Jowo Sakyamuni, yang merupakan perwakilan yang sebenarnya dari Buddha. Raja tersebut membangun dua kelompok vihara yang dikenal dengan Thadul38 dan Yangdul.39 Dengan cara demikian ia membangun Buddhisme di Tibet.
Penerusnya yang kelima, Raja Trisong Detsen, mengundang seratus delapan pendeta ke Tibet, termasuk Padmasambhava, Guru dari Uddiyana, pemegang mantra paling agung dan tiada bandingnya di tiga alam. Untuk melambangkan tubuh Buddha, Trisong Detsen membangun vihara, termasuk Samye “yang tak berubah dan muncul secara spontan”. Untuk melambangkan ucapan Buddha, Dharma yang sejati, ada seratus delapan penterjemah, termasuk Vairotsana yang agung, yang mempelajari seni terjemahan dan menterjemahkan semua sutra, tantra dan sastra yang penting yang waktu itu beredar di tanah suci India. "Tujuh Orang Penguji”40dan yang lainnya diangkat sebagai bhiksu, membentuk Sangha, untuk melambangkan pikiran Buddha.
Mulai waktu itu dan seterusnya hingga hari ini, ajaran Buddha bersinar seperti mentari di Tibet, dan meski terjadi pasang surut, doktrin dari Sang Penakluk tidak pernah hilang dalam hal aspek, transmisi atau realisasi.
Oleh sebab itu, Tibet, dalam pengertian Dharma adalah negeri pusat.
Berkah kemampuan indera: Seseorang yang kekurangan salah satu dari kemampuan indera tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk mengambil kaul biarawan. Lagi pula, karena yang bersangkutan tidak memiliki kondisi untuk melihat sesuatu yang melambangkan Sang Penakluk untuk membangkitkan inspirasinya, atau mendengar dan membaca ajaran yang berharga dan unggul sebagai suatu bahan studi dan pemikiran, ia tidak dapat sepenuhnya menerima Dharma.
38 Thadul: Ahli hongsui Tibet kuno mengatakan medan Tibet seperti raksasa wanita yang terlentang. Pada waktu itu, dibangun empat kelompok kuil Thadul untuk menekan pengaruh negatif tersebut pada bagian bahu dan pinggul setan perempuan tersebut.
39 Yangdul: Ahli hongsui Tibet kuno mengatakan medan Tibet seperti raksasa wanita yang terlentang. Pada waktu itu, dibangun empat kelompok kuil Yangdul untuk menekan pengaruh negatif tersebut pada bagian siku dan lutut setan perempuan tersebut.
40 Tujuh Orang Penguji bertugas untuk menentukan apakah seorang Tibet dapat mematuhi sila sebagaimana yang ditentukan dalam Sarvāstivāda. Nama-nama ketujuh penguji sangat beragam dalam naskah sejarah Tibet.
30
Berkah niat: Cara hidup yang berlawanan tepatnya merujuk pada cara hidup orang-orang yang terlahir di komunitas pemburu, pelacur dan lain sebagainya, yang sejak muda mereka sudah terlibat dalam perbuatan negatif yang demikian. Namun kenyataannya, ini juga termasuk orang yang setiap pikiran, ucapan dan perbuatannya berlawanan dengan Dharma – karena meski mereka tidak terlahir dalam cara hidup demikian, tetapi dengan mudah dapat tergelincir ke dalamnya di kemudian hari. Itulah sebabnya sangatlah penting untuk menghindari melakukan sesuatu yang berlawanan dengan Dharma sejati.
Berkah keyakinan: Jika keyakinan anda bukan pada ajaran Buddha, tetapi pada dewa yang memiliki kekuatan besar, naga atau sejenisnya, atau pada doktrin lain seperti milik kaum tirthika, maka sebesar apa pun keyakinan yang anda tempatkan pada mereka, tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat melindungi anda dari penderitaan samsara atau kelahiran ke alam yang lebih rendah. Tetapi jika anda sudah membangun keyakinan pada doktrin Sang Penakluk, yang menggabungkan transmisi dan realisasi, tak ayal lagi anda adalah wadah yang cocok untuk Dharma yang benar.
Dan ini adalah berkah yang paling besar dari kelima berkah perorangan.
2.2 Lima berkah tidak langsung
Seorang Buddha sudah muncul dan sudah membabarkan Dharma, Ajarannya masih ada dan dilatih,
Ada orang-orang yang menaruh belas kasih terhadap sesama.
Mereka yang tidak terlahir dalam kalpa terang di mana seorang Buddha muncul, tidak akan pernah mendengar tentang Dharma. Tetapi kita sekarang dalam kalpa di mana Buddha sudah datang, dan kita memiliki berkah dari kehadiran guru yang istimewa.
Meski Buddha sudah datang, jika beliau tidak mengajar, maka tak seorang pun yang akan memperoleh berkahnya. Tetapi karena Buddha memutar roda Dharma sesuai dengan ketiga tingkatan, kita memperoleh berkah akan pengajaran Dharma.
Meski ia sudah mengajar, apabila doktrinnya sudah lenyap, maka hal itu tidak dapat menolong kita. Tetapi masa kini doktrin masih ada dan belum berakhir, sehingga kita memperoleh berkah waktu.
31
Meski ajaran tetap ada, kecuali jika kita mengikutinya maka hal itu tidak akan mendatangkan manfaat bagi kita. Karena kita sudah bergaul dengan Dharma, kita memiliki berkah nasib baik kita sendiri.
Meski kita sudah bergaul dengan Dharma, tanpa lingkungan yang mendukung di mana kita diterima oleh seorang teman spiritual, kita tidak akan mengetahui tentang apa sebenarnya Dharma itu. Tetapi karena teman spiritual telah menerima kita, kita memiliki berkah belas kasih luar biasa.
Karena kelima faktor ini harus dipenuhi secara tidak langsung, mereka disebut lima berkah tidak langsung.
Buddha sudah muncul di dunia: Waktu yang diperlukan jagat raya untuk pembentukan, berdiam dalam keadaannya, hancur dan tinggal dalam keadaan kosong disebut satu kalpa. Kalpa di mana seorang Buddha yang sempurna muncul ke dunia disebut “kalpa terang”; sedangkan kalpa di mana Buddha tidak muncul disebut “kalpa gelap”. Pada zaman dahulu kala, dalam masa kalpa besar Kalpa Kegembiraan Nyata, muncul tiga puluh tiga ribu Buddha. Kemudian diikuti dengan seratus kalpa gelap.
Sesudah itu, dalam masa Kalpa Sempurna, muncul delapan ratus juta Buddha, sesudah itu, seperti biasanya diikuti seratus kalpa di mana tidak ada Dharma. Kemudian delapan ratus empat puluh juta Buddha muncul pada Kalpa Unggul, yang sesudah itu diikuti dengan lima ratus kalpa gelap.
Dalam masa Kalpa Penglihatan yang Menyenangkan, delapan ratus juta Buddha muncul, lalu diikuti dengan tujuh ratus kalpa gelap. Enam puluh ribu Buddha muncul dalam Kalpa Riang Gembira. Kemudian datanglah kalpa kita, Kalpa Bhadra.
Sebelum kalpa kita timbul, jagat raya ini yang terdiri dari biliunan dunia adalah lautan yang sangat luas di mana pada permukaannya timbul ribuan teratai dengan ribuan kelopak bunga. Dewa-dewa di Surga Brahma heran kenapa terjadi begitu. Melalui waskita, mereka mengeta- hui bahwa hal itu pertanda bahwa dalam kalpa ini akan muncul seribu Buddha. "Ini akan menjadi kalpa yang baik", kata mereka, dan "Baik"
menjadi nama kalpa tersebut.
Mulai dari waktu di mana rentang umur makhluk hidup delapan puluh ribu tahun dan Buddha Penghancur Samsara muncul, sampai waktu ketika rentang umur makhluk hidup menjadi tak terhitung lamanya dan Buddha Aspirasi Tak Terbatas muncul, seribu Buddha akan muncul di dunia ini pada Kedudukan Vajra di India, di tengah Benua Jambudvipa. Setiap dari
32
mereka akan mencapai kebuddhaan yang sempurna di sana dan memutar Roda Dharma. Oleh sebab itu kalpa kita adalah kalpa terang.
Kalpa ini akan diikuti dengan enam puluh kalpa gelap, yang sesudah itu, dalam Kalpa Jumlah Besar, sepuluh ribu Buddha akan muncul. Kemudian akan diikuti dengan sepuluh ribu kalpa gelap. Dalam penggantian kalpa terang ke kalpa gelap, kalau saja kita terlahir dalam kalpa gelap, kita tidak akan mendengar apa yang disebut Tri Ratna.
Lebih-lebih lagi, sebagaimana yang diutarakan oleh Yang Agung dari Uddiyana, khususnya Mantra Rahasia Vajrayana tidaklah sering diajarkan:
Dahulu kala, pada kalpa yang paling awal, Kalpa Susunan Sempurna, ajaran Mantrayana Rahasia dikembangkan oleh Buddha yang bernama Raja Sekali Datang, dan mencapai kemasyhuran yang hebat.
Ajaran yang sekarang kita dapat, yang berasal dari Buddha Sakyamuni, juga meliputi Mantrayana Rahasia. Dalam waktu sepuluh juta kalpa, dalam masa Kalpa Karangan Bunga, Buddha Manjusri akan datang, dan sebagaimana saya telah datang sekarang untuk mengungkapkan Mantra Rahasia dalam skala besar. Hal ini disebabkan karena makhluk pada tiga kalpa ini cocok sebagai penerima Mantra Rahasia, dan sebab kenapa ajaran Mantrayana tidak muncul pada waktu yang lain, itu karena makhluk pada masa itu tidak sanggup memanfaatkannya.
Dalam Kalpa Bhadra ini, pada masa sekarang di mana rentang umur manusia sekitar seratus tahun, Buddha Sakyamuni yang sempurna sudah datang ke dunia, dan ini adalah kalpa terang.
Buddha sudah membabarkan Dharma: Andaikata Buddha sudah datang, namun ia tetap bermeditasi dan belum mengajarkan Dharma, sepanjang sinar Dharma belum muncul, maka kedatangannya ke dunia tidak ada pengaruh apa-apa terhadap kita. Sama saja dengan ia sama sekali tidak pernah datang.
Pada waktu mencapai Kebuddhaan yang menyeluruh dan sempurna di Kedudukan Vajra, Guru kita berseru:
Saya telah memperoleh Dharma yang seperti nektar;
Dalam, tenang, sederhana, tidak tercampur dan bersinar;
Kalau saya jelaskan, tiada seorang pun yang akan mengerti;
Saya akan berdiam diri di sini di dalam hutan.
33
Sehingga selama tujuh minggu ia tidak mengajar, sampai Brahma dan Indra memohonnya untuk memutar Roda Dharma.
Lagipula, jika orang yang memegang ajaran sejati tidak menerang- kannya, sangat sulit Dharma menjadi sesuatu yang menguntungkan makhluk hidup. Contohnya adalah Smritijñana dari India yang datang ke Tibet karena ibunya terlahir di sana dalam suatu Neraka Tersendiri.41 Alih bahasanya meninggal dalam perjalanan, dan Smritijñana yang berkelana di propinsi Kham tidak dapat berbahasa daerah tersebut. Ia menjadi pengembala dan meninggal dengan tidak menguntungkan siapa pun.
Ketika Jowo Atisa kemudian datang ke Tibet dan mengetahui apa yang terjadi, ia berseru: "Alangkah sayangnya! Orang-orang Tibet, pahala kamu sangat lemah. Di India, Timur ataupun Barat, saya tidak dapat menjumpai seorang pandita yang lebih baik dari Smiritijñana”. Lalu ia menangis sambil merangkapkan tangannya.
Buddha Sakyamuni sudah memutar Roda Dharma pada tiga tingkat untuk kita dan dengan memperlihatkannya dalam bentuk yang jumlahnya yang tak terhingga sesuai kebutuhan dan kapasitas orang yang dibantunya, menuntun murid-muridnya melalui sembilan kendaraaan ajarannya sampai pada kematangan dan pembebasan.
Berkah waktu: Bahkan dalam kalpa di mana Buddha muncul dan memberi ajaran pun, saat Buddha masuk ke Nirvana dan ajaran tersebut berakhir dan Dharma hilang, keadaan tersebut persis sama seperti masa kalpa gelap. Periode di mana ajaran Buddha sebelumnya hilang sampai pada ajaran Buddha berikutnya disebut “masa ketiadaan Dharma”. Pada tempat-tempat yang beruntung di mana makhluk-makhluk hidup memiliki pahala yang memadai, muncul Pratyekabuddha, namun doktrinnya tidak diajarkan dan dilatih orang.
Akan halnya ajaran Buddha Sakyamuni, masa buah atau hasil "ajaran inti Samantabhadra” berlangsung selama seribu lima ratus tahun. Lalu diikuti dengan seribu lima ratus tahun masa pencapaian. Ini akan diikuti dengan periode seribu lima ratus tahun masa transmisi. Akhirnya, satu periode lima ratus tahun yang hanya timbul ketika symbol masih terpelihara, sehingga jumlah keseluruhannya lima ribu tahun. Sekarang ini, kita sudah mencapai periode sekitar tiga ribu lima ratus sampai empat ribu tahun. Kita hidup dalam masa peningkatan dari lima macam kemerosotan – yaitu kemerosotan rentang umur, kepercayaan, emosi,
41 Skt. pratyeka-naraka, neraka terisolasi khusus untuk makhluk secara individu.