Ketidak-kekalan kehidupan
VII. KESADARAN YANG TINGGI AKAN KETIDAK-KEKALAN
Renungkanlah dengan perhatian terpusat akan kematian sepanjang waktu dan dalam setiap keadaan. Ketika sedang berdiri, duduk atau berbaring, katakan kepada anda sendiri: “Ini adalah perbuatan saya yang terakhir di dunia”, dan renungkanlah hal itu dengan keyakinan yang teguh.
Dalam perjalanan anda ke mana saja, katakan kepada diri anda: “Mungkin saya akan meninggal di sana. Tidak ada kepastian apakah saya akan kembali.” Ketika anda berangkat untuk suatu perjalanan, atau berhenti untuk beristirahat, tanyakan kepada diri anda: “Apakah saya akan mati di sini?” Di mana saja anda berada, anda seharusnya berpikir bahwa mungkin tempat tersebut merupakan tempat kematian anda. Pada malam hari ketika anda membaringkan diri, tanyakan kepada diri anda, apakah anda tidak meninggal di tempat tidur atau apakah anda yakin dapat bangun pada keesokan harinya. Ketika anda bangun, tanyakan kepada anda, apakah anda tidak akan meninggal hari ini. Dan renungkan bahwa tidak ada kepastian sama sekali anda akan ke tempat tidur pada malam harinya.
Renungkan hanya pada kematian dengan sungguh-sungguh dari dalam lubuk hati anda. Berlatihlah seperti geshe-geshe Kadampa yang hidup pada waktu dulu yang selalu berpikir tentang kematian pada setiap saat.
Pada malam hari, mereka akan membalikkan mangkuk mereka, dan berpikir bahwa esoknya mungkin tidak perlu menyalakan api. Mereka tidak pernah menutup bara api74 untuk malam hari.
74 Kebiasaan orang Tibet adalah menutup bara api untuk memudahkan menyalakannya pada keesokan harinya. Bagi praktisi yang selalu merenungkan kematian, dengan berpikir bahwa mereka mungkin akan meninggal pada malam tersebut, maka mereka tidak perlu menyiapkan hal tersebut, sehingga mereka tidak menutup bara api mereka.
66
Tetapi, hanya merenung tentang kematian tidaklah cukup. Satu-satunya hal yang berguna pada saat kematian adalah Dharma, sehingga anda juga perlu mendorong anda sendiri untuk melatih dengan cara yang asli, tidak tergelincir dalam kelalaian atau kehilangan kewaspadaan, sambil berpikir bahwa kegiatan samsara hanya untuk sementara waktu saja dan tidak mempunyai arti sama sekali. Gabungan antara badan jasmani dan batin tidak kekal, jadi janganlah mengharapkan barang itu sebagai milik anda.
Semua jalan dan jalur adalah tidak kekal. Jadi, ke mana saja anda melangkah, tujukan langkah anda pada Dharma. Seperti yang dikatakan dalam Rangkuman Kebijakasanaan Transenden:
Jika anda melangkah dan hanya melihat jarak sepanjang kuk bajak di depan anda, maka hati anda tidak akan bingung;
Di mana saja anda berada, semua tempat adalah tidak kekal. Oleh sebab itu berpikirlah bahwa tempat itu adalah alam Buddha;
Makanan, minuman dan segala apa yang anda nikmati adalah tidak kekal. Oleh sebab itu makanlah dengan konsentrasi yang penuh;
Tidur itu tidak kekal. Oleh sebab itu, waktu anda tertidur, murnikan khayalan tidur menjadi cahaya terang.
Harta, jika anda memilikinya, adalah tidak kekal. Jadi berusahalah untuk mendapatkan tujuh harta mulia.75
Kekasih, teman dan sanak keluarga adalah tidak kekal. Oleh sebab itu, pada tempat yang terpencil, bangkitkan hasrat untuk pembe-basan.
Pangkat tinggi dan kemasyhuran tidaklah kekal. Oleh sebab itu selalulah mengambil posisi yang rendah.
Ucapan tidaklah kekal. Oleh sebab itu bangkitkan niat anda untuk melafal mantra dan doa.
Keyakinan dan hasrat untuk mencapai pembebasan adalah tidak kekal. Oleh sebab itu berjuanglah untuk berbuat sesuai janji anda.
Ide dan pikiran tidaklah kekal. Oleh sebab itu kembangkanlah sifat yang baik.
Pengalaman meditasi dan realisasi tidaklah kekal. Oleh sebab itu teruskan sampai anda mencapai titik di mana semua benda melebur kedalam sifat dasar realita.
75 Tujuh harta mulia: 1. Saddhā (Keyakinan), 2. Sīla (Perilaku moral), 3. Hiri (Malu berbuat jahat), 4. Ottappa (Takut akan akibat perbuatan jahat), 5. Bāhusacca (Banyak pengetahuan Dharma), 6. Cāga (Kemurahan hati), 7. Paññā (Kebijaksanaan).
67
Pada waktu itu, hubungan antara kematian dan kelahiran kembali berkurang dan anda mencapai keyakinan bahwa anda sama sekali siap untuk meninggal.
Anda telah menguasai benteng keabadian. Anda seperti seekor elang yang bebas membumbung tinggi pada puncak surga.
Sesudah itu, tidak perlu lagi adanya latihan dan ketakutan saat mendekati kematian.
Seperti yang dinyanyikan Jetsun Mila:
Takut akan kematian, saya pergi ke gunung.
Berulang-ulang saya merenungkan kedatangan kematian yang tidak dapat diperkirakan,
Dan berpegang pada benteng sifat dasar ketidak-matian yang tidak berubah.
Sekarang saya sama sekali diluar jangkauan ketakutan akan kemati-an!
Dan Dagpo Rinpoche yang tak tertandingi berkata:
Pada mulanya anda mestinya dikemudikan oleh ketakutan akan kematian seperti seekor rusa jantan yang terlepas dari perangkap.
Pada tingkat pertengahan, anda mestinya tidak akan menyesal biarpun anda meninggal, seperti seorang petani yang sudah mengerjakan sawahnya dengan hati-hati. Pada tingkat akhir, anda mestinya merasa lega dan bahagia, seperti seorang yang sudah menyelesaikan suatu tugas yang berat.
Pada awalnya, anda mestinya tahu bahwa tidak ada waktu untuk diboroskan, seperti seseorang yang sudah kena panah beracun. Pada pertengahan, anda mestinya merenungkan kematian tanpa memikir-kan hal lainnya, seperti seorang ibu yang kematian anak tunggalnya.
Akhirnya, anda mestinya tahu bahwa tidak ada hal yang harus dikerjakan lagi, seperti seorang penggembala yang kawanan ternaknya sudah diusir oleh musuhnya.76
Renungkanlah dengan perhatian penuh tentang kematian dan ketidak-kekalan sampai anda mencapai tingkat tersebut.
76 Menjadi bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakan sesudah ternaknya diusir semua.
68
Kata Sang Buddha:
Merenung secara terus menerus tentang ketidak-kekalan adalah membuat persembahan kepada semua Buddha;
Merenung secara terus menerus tentang ketidak-kekalan akan diilhami oleh semua Buddha;
Merenung secara terus menerus tentang ketidak-kekalan akan dituntun oleh semua Buddha;
Merenung secara terus menerus tentang ketidak-kekalan akan diberkati oleh semua Buddha;
Dari semua jejak kaki, jejak kaki gajahlah yang terkenal;
Sama halnya, dari semua topik renungan untuk pengikut Buddha, pikiran tentang ketidak-kekalan adalah yang paling unggul.
Dan beliau berkata dalam Vinaya:
Mengingat untuk sesaat saja akan ketidak-kekalan semua benda yang tergabung adalah lebih berharga dari memberi persembahan kepada seratus murid saya yang berkualitas wadah sempurna77 seperti bhiksu Sariputra dan Maudgalyayana.
Seorang murid awam bertanya kepada Geshe Potowa, latihan Dharma apakah yang paling penting kalau seseorang harus memilih satu saja.
Geshe menjawab:
Jika anda ingin memakai satu Dharma saja untuk berlatih, berme-ditasi akan ketidak-kekalan adalah yang paling penting.
Pada mulanya renungan terhadap kematian dan ketidak-kekalan akan menuntun anda mulai berlatih Dharma. Pada pertengahan, ia akan memberi dorongan kepada anda untuk melakukan hal-hal yang positif, akhirnya ia akan membantu anda merealisasikan kesamaan semua fenomena.
Pada awalnya, renungan akan ketidak-kekalan menuntun anda memutus hubungan anda dengan barang-barang dalam hidup ini.
77 Yaitu orang yang dengan sempurna dapat menerima ajaran dengan benar dan memanfaat-kannya.
69
Pada pertengahan, ia akan memberi dorongan kepada anda untuk melepaskan semua kemelekatan akan samsara. Pada tingkat akhir, ia membantu anda mulai menapaki jalan nirwana.
Pada awalnya, renungan akan ketidak-kekalan menuntun anda mengembangkan keyakinan. Pada pertengahan, ia akan memberi dorongan kepada anda untuk berlatih dengan giat. Pada akhirnya ia akan membantu anda melahirkan kebijaksanaan.
Pada awalnya, renungan akan ketidak-kekalan, sampai anda yakin sepenuhnya, akan menuntun anda untuk mencari Dharma. Pada pertengahan, ia akan memberi dorongan kepada anda untuk berlatih.
Akhirnya ia akan membantu anda mencapai tujuan.
Pada awalnya, renungan akan ketidak-kekalan, sampai anda yakin sepenuhnya, akan menuntun anda sampai pada sifat rajin yang melindungi anda seperti baju besi. Pada pertengahan, ia akan mem-beri dorongan kepada anda untuk melatih dengan giat. Pada tahap akhir, ia akan membantu anda mencapai sifat rajin yang tak dapat dihentikan.
Dan Padampa Sangye berkata:
Pada awalnya, keyakinan penuh akan ketidak-kekalan akan mem-buat anda mulai berlatih Dharma. Pada pertengahan, ia akan mendo-rong anda berlatih dengan rajin. Pada akhirnya ia akan menuntun anda meraih dharmakaya.
Kecuali anda merasa tulus dalam prinsip ketidak-kekalan, ajaran apa saja yang anda pikir sudah anda terima dan dilatihkan hanya akan membuat anda semakin tidak dapat ditembus78 Dharma. Padampa Sangye juga berkata:
Saya tidak pernah melihat orang Tibet seorang pun yang berpikir tentang kematian;
Saya juga tidak melihat seseorang dari mereka bisa hidup selamanya!
78 Orang yang mendekati Dharma dengan sikap yang salah. Ia akan memperoleh rasa percaya diri yang tidak benar, yang membuatnya tidak sudi menerima guru dan ajaran.
70
Menilai dari kenikmatan mereka menghimpun kekayaan begitu mereka mengenakan jubah kuning, saya heran –
Apakah mereka bermaksud mengganti kematian dengan melunasi-nya dengan makanan dan uang?
Melihat cara mereka mengumpulkan barang-barang berharga, saya heran –
Apakah mereka bermaksud membagikan uang suap di neraka?
Ha-ha! Praktisi–praktisi Tibet ini membuat saya tertawa melihatnya!
Yang paling berpengetahuan adalah yang paling sombong;
Pelatih meditasi yang paling baik menumpuk bekal dan kekayaan;
Pertapa yang menyendiri sibuk sepanjang waktu;
Yang meninggalkan keluarga dan negara tidak punya rasa malu.
Orang-orang ini kebal terhadap Dharma!
Mereka gemar berbuat perbuatan yang tidak baik.
Mereka dapat melihat orang lain meninggal,
Namun mereka tidak mengerti bahwa mereka sendiri juga akan mati.
Ini adalah kesalahan mereka yang patut dicela.
Oleh sebab itu, renungan tentang ketidak-kekalan adalah pendahuluan yang membuka semua latihan Dharma. Ketika seseorang bertanya ke-padanya bagaimana cara menghilangkan keadaan yang merugikan, Geshe Potowa menjawab dengan kata-kata berikut:
Pikirkan tentang kematian dan ketidak-kekalan untuk waktu yang lama. Begitu anda yakin anda akan meninggal, anda akan menda-patkan bahwa tidak sulit bagi anda untuk meninggalkan perbuatan yang merusak, dan tidak sulit untuk membuat apa yang baik.
Sesudah itu, kalau dengan dasar perenungan ini anda menumbuhkan rasa kasih sayang dan belas kasih, maka ia akan tumbuh dan anda akan mendapatkan tidak sulit untuk berbuat demi kepentingan orang lain. Kalau atas dasar ini anda kemudian merenungkan kekosongan dan keadaan alami, maka anda memahaminya, dan anda akan mendapatkan tidak sulit untuk menghalau semua khayalan anda.
Begitu kita memiliki keyakinan akan ketidak-kekalan, semua kegiatan biasa dalam hidup ini seolah-olah menjadi suatu kejijikan yang amat dalam, seperti makanan berminyak bagi orang yang mual. Guru saya yang terhormat sering berkata:
71
Pangkat tinggi, kekuasaan, kekayaan atau kecantikan apa saja yang saya lihat di dunia ini tidak menimbulkan hasrat bagi saya. Saya lebih menghargai kehidupan orang suci di masa lalu. Hal ini disebabkan karena saya telah memiliki pengertian akan ketidak-kekalan. Saya tidak mempunyai instruksi yang lebih mendalam selain ini untuk diberikan kepada orang lain.
Oleh sebab itu, seberapa dalam anda diresapi dengan pikiran akan ketidak-kekalan ini? Anda semestinya seperti Geshe Kharak Gomchung yang pergi bermeditasi di gunung yang sepi Jomo Kharak di provinsi Tsang. Di depan guanya ada semak berduri yang sering mengait pakaiannya.
Mulanya ia berpikir, “Lebih baik saya potong saja”, tetapi kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri, “Namun, mungkin saya akan mati dalam gua ini. Saya sungguh tidak dapat mengatakan apa saya akan keluar dari sini hidup-hidup. Jelas lebih penting bagi saya untuk meneruskan latihan saya.”
Ketika ia keluar lagi, ia punya masalah yang sama dengan semak duri tersebut. Kali ini ia berpikir, “Saya tidak yakin saya dapat kembali ke dalam, ” dan ini berlanjut sampai beberapa tahun, sampai ia menjadi seorang guru yang mendapat pencapaian. Ketika ia meninggalkan tempat tersebut, semak berduri tersebut masih belum terpotong.
Rigdzin Jigme Lingpa memiliki mata air panas untuk mandi di musim rontok. Tepi kolam tersebut tidak bertangga, sehingga membuatnya kesulitan untuk turun ke bawah ke dalam air. Pengikutnya menyarankan memotong tanah untuk membuat tangga, tetapi ia berkata: “Untuk apa susah-susah jika kita tidak tahu apakah kita akan ke sini tahun depan?” Ia selalu berkata mengenai ketidak-kekalan seperti itu, begitulah kata Guru saya kepadaku.
Kita juga mestinya begitu. Selama kita belum memiliki sikap yang demikian, kita semestinya merenungkan hal tersebut. Mulailah dengan membangkitkan bodhicitta, dan sebagai latihan utama latihlah pikiran anda dengan semua sarana ini sampai ketidak-kekalan sungguh-sungguh meresap dalam setiap pikiran anda. Akhirnya, tutuplah dengan menyegel latihan tersebut dengan pelimpahan jasa. Dengan berlatih demikian, berjuanglah dengan sekuat tenaga untuk mencontoh orang-orang terkenal di masa lampau.
72
Ketidak-kekalan ada dimana-mana, namun saya tetap berpikir benda-benda akan ada selamanya.
Saya telah diambang usia lanjut, namun saya tetap berpura-pura bahwa saya masih muda;
Berkatilah saya dan orang-orang yang salah pengarahan seperti saya,
Sehingga kami dapat memahami ketidak-kekalan dengan sungguh-sungguh.
73