• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan dan Solusi Pelaksanaan Hukum Administrasi

BAB II PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI

D. Hambatan dan Solusi Pelaksanaan Hukum Administrasi

Pada perkembangan saat ini, penerapan Pemolisian Masyarakat dalam kegiatan kepolisian mengalami banyak hambatan, terutama timbul dari sebagian kecil internal lembaga Polisi sendiri yang masih belum bulat hati menerapkannya atau masih belum jelas bagaimana penerapannya. Permasalahan diatas muncul karena berbagai sebab, diantaranya adanya warisan model birokrasi kepolisian yang masih bersifat semi otokratis sehingga menciptakan budaya organisasi yang tertutup, sehingga Polisi masih cenderung ragu-ragu bekerjasama dengan masyarakat dalam menjalankan tugasnya (meskipun percepatan proses keterbukaan Kepolisian saat ini dinilai termasuk yang paling cepat bila dibandingkan dengan organisasi pemerintahan lain di Indonesia).

Permaslahan lain yang juga menjadi tantangan dalam menerapkan Pemolisian Masyarakat secara optimal berkaitan dengan model organisasi kepolisian yang “Top Down”, dimana pelaksanaan tugas kepolisian banyak dipengaruhi oleh adanya komando dari atas, sedangkan disisi lain, kinerja Pemolisian Masyarakat hanya berhasil manakala partispasi dari bawah dapat terakomodir dengan baik. Oleh karenanya banyak muncul kesan bahwa polisi bekerja tidak fleksibel (takut salah), sehinggap apabila tidak dikendalikan oleh atasannya, maka Polisi cenderung menghindar melakukan pekerjaannya.

Fungsi Polisi sangat berbeda dengan fungsi militer, dimana Polisi selalu berada ditengah-tengah masyarakat dalam rangka memelihara keamanan dan ketertiban bagi kehidupan masyarakat, sedangkan militer berfungsi membela dan mempertahankan Negara serta keutuhannya. Dalam hal ini militer terlihat lebih banyak berkaitan dengan Negara lain, ataupun kekuatan kelompok riil yang mengancam kelangsungan hidup suatu Negara.

Pada kenyataannya, meskipun Polisi lebih banyak berurusan dengan permasalahan keamanan dalam negeri yaitu menyangkut penegakkan hukum dan mengatasi berbagai permasalahan keamanan dan ketertiban yang muncul ditengah-tengah masyarakat, namun para anggota Polisi dituntut untuk memiliki disiplin dan garis komando yang jelas dalam kehidupan organisasinya (semi militeristik). Disisi lain, kehidupan internal organisasi yang semi militeristik itu harus berhadapan dengan gaya pemolisian sipil secara universal yang selalu mengacu kepada nilai-nilai dan harkat martabat kemanusiaan, manakala berhadapan dengan masyarakat (kondisi eksternal organsasi).

Polisi sebagai penegak hukum akan sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh dari orang lain yang meyimpang dari tugas dan tanggung jawabnya.

Seperti halnya dalam bentuk penyuapan yang sengaja dilakukan oknum tertentu untuk menutupi kesalahannya dalam melakukan pelanggaran pidana.

Polisi memang rawan menyalahgunakan kekuatan kepolisianya (police power), melanggar kode etik profesinya sampai pada melanggar hak asasi manusia. Polri dituntut agar dalam menjalankan tugas dan profesinya terutama dalam penegakan hukum harus sesuai dengan kepastian hukum serta keadilan bagi masyarakat. Bagaimana sikap dan perilaku anggota Polri harus mencerminkan

karakter polri yang sesungguhnya sesuai dengan Tribrata oleh karena itu dibutuhkan Etika Kepolisian.

Kode etika kepolisian berkaitan erat dengan tata berkelakuan dalam menjalankan sebuah profesi. Hal ini tidak terlepas dari bentuk kedisiplinan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Kedisiplinan yang dimaksud adalah yang tertanam dalam moral tiap individu. Bukan moral yang serta merta berhubungan dengan sifat religius tetapi moral yang berdasar pada sikap bertanggung jawab.

Disamping itu tantangan profesi kepolisian yang lainnya adalah keberadaannya yang masih dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai penegak hukum yang sifatnya antagonis. Sementara polisi diperhadapkan dengan tugasnya untuk mengayomi masyarakat, untuk selalu bersikap sabar, patuh dan bisa diajak komunikasi maka sosok lembut yang ditampilkan. Namun, disatu sisi polisi juga harus memiliki sikap tegas dan bertanggung jawab. Dalam menghadapi pembangkangan/serangan polisi diberi dispensasi tentang penggunaan cara paksaan, kekerasan dan bahkan penggunaan senjata api tetapi dalam batas batas yang diperbolehkan hukum. Akan tetapi, sebagian masyarakat lebih gampang untuk menangkap konteks kekerasannya tanpa memperhatikan titik permasalahannya.

Solusi untuk mengatasi tantangan yang mempengaruhi pelayanan kepolisian maka faktor-faktor kunci keberhasilan yang bisa dikembangkan tersebut, antara lain adalah:

a. Interactive marketing mengacu kepada kemampuan berinteraksi dengan publik dalam cara yang konsisten, dan berorientasi untuk memuaskan kebutuhan masyarakat dalam memecahkan masalah hukum atau ketertiban.

Meskipun demikian, disadari bahwa membangun perilaku seragam dengan mutu standar minimal dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat bukanlah hal yang mudah.

b. Internal Marketing mengacu kepada pembudayaan sevice quality dari inisiatif pimpinan Kepolisian dalam segala level untuk memotivasi, melatih, dan berharap agar tiap anggota Kepolisian berlaku sebagaimana budaya service quality yang telah dibangun tersebut. Dalam konteks ini, institusi Kepolisian yang ada diberbagai belahan dunia lain yang berhasil sudah membuktikan bahwa keberhasilan mereka erat kaitannya dengan adanya suatu program pelatihan yang ketat terhadap anggota dan manajemen organisasi. Oleh karena itu, hal tersebut berlaku pula bagi Kepolisian dimana sistem pelatihan yang penuh disiplin dan mengacu pada pencapaian kepercayaan masyarakat harus ada dalam tubuh Kepolisian, dalam hal ini dimensi dari responsive, tuntas dan ketulusan (responsiveness, assurance, and emphaty) yang muncul dari pelayanan Kepolisian akan dapat ditingkatkan.

c. Eksternal marketing, mengacu kepada penyediaan pelayanan sesuai spesifikasi yang diharapkan oleh masyarakat (segi delivery service). Eksternal marketing inilah yang berkait erat dengan implementasi Community Policing oleh Kepolisian dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Polisi dalam menjalankan semua tugasnya harus lebih mementingkan pelayanan, yang mengutamakan dialog persuasif, nilai keadilan serta hak asasi manusia. Bilapun harus melakukan tindakan represif, maka Polisi meskipun diperbolehkan untuk melakukannya, tetap harus menjadikan tindakan ini sebagai

pilihan terkemudian, jauh setelah berbagai tindakan pendahuluan yang bersifat persuasif dan dialogis dilaksanakan.

Untuk melaksanakan gaya persuasif dan dialogis ini, maka kelembagaan Polisi perlu lebih terbuka dalam berinteraksi dengan masyarakat. Keterbukaan dalam berinteraksi ini menjadikan kepolisian sebagai lembaga yang inklusif dalam melakukan berbagai kerjasama dengan pihak-pihak terkait menyangkut pengelolaan keamanan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa semakin banyak polisi berbaur dengan masyarakat, maka akan semakin mudah baginya dalam menjalankan tugas. Polisi juga harus lebih sering melakukan pendekatan kepada masyarakat seperti melakukan penyuluhan atau melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial sehingga mengurangi anggapan sebagian masyarakat bahwa polisi adalah penegak hukum yang antagonis.

BAB IV

PELAKSANAAN PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG No. 2

TAHUN 2016 PI POLDA SUMATERA UTARA KEPOLISIAN RESORT KOTA MEDAN

A. Susunan, Kedudukan, Tugas serta Wewenang Kepolisian Daerah Sumatera Utara Kepolisian Resort Kota Medan

Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas pokok dan kewenangannya akan selalu bertindak dengan cara mencegah dan menangkal, dalam tugasnya tersebut Kepolisian Negara Republik Indonesia diharapkan mencapai kepada sasaran dan tujuannya secara tepat yaitu tercapainya situasi keamanan dan ketertiban dalam masyarakat secara berkesinambungan sehingga Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dapat seimbang dengan fungsinya yang lain yaitu sebagai penegak hukum dan pelayan masyarakat. Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan peran dan fungsinya yaitu sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, Penegak Hukum, Perlindungan, Pengayom, dan pelayanan kepada masyarakat memiliki tujuan yaitu untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, Tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya Perlindungan, Pengayoman, dan Pelayanan Masyarakat , serta terbinanya ketentraman masyarakat dan menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia.

Dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsi Kepolisian Kewilayahan, wilayah Kepolisian Daerah Sumatera dibagi dalam daerah hukum menurut pelaksanaan tugas kepolisian hal ini dapat dilihat dengan adanya Kepolisian

Resort Kota Medan yang merupakan satu pembagian Daerah Hukum Kepolisian dalam menjalankan peran dan fungsinya di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia di daerah hukum dalam hal ini Kepolisian Resort Kota Medan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan wewenang Kepolisian secara hirarki kepada Kapolda diatur dalam Peraturan Kapolri18

3. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat .

Dalam menjalankan peran dan fungsinya, Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki tugas dan wewenangnya yang menjadi acuan sebagai aparat penegak hukum. Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki tiga tugas pokok pasal 13 Undang Undang Nomor : 2 tahun 2016 Yaitu :

1. Memelihara keamanan dan Ketertiban 2. Menegakkan hukum dan

19

18 Ibid hal 24

19 Ibid hal 22

Rumusan tugas pokok tersebut bukanlah merupakan urutan prioritas, ketiga-tiganya sama penting, sedangkan dalam pelaksanaan tugas pokok mana yang akan dikedepankan sangat tergantung pada situasi masyarakat dan lingkungan yang dihadapi karena pada dasarnya ketiga tugas pokok tersebut dilaksanakan secara silmultan dan dapat dikombinasikan disamping itu dalam pelaksanaan tugas ini harus berdasarkan norma hukum mengindahkan norma norma, agama, kesopanan, dan kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak azasi manusia.

(1) Selain melaksanakan tugas pokok tersebut Kepolisian Negara Republik Indonesia juga bertugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13:

a. Melaksanakan pengaturan penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutukan.

b. Menyelenggarahkan segala kegiatan dalam menjamin keamanan ketertiban dan kelancaran lalu lintas dijalan ;

c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan perundang-undangan.

d. Turut serta dalam membina hukum nasional.

e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.

f. Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, Penyidik Pegawai Negeri Sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.

g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya.

h. Menyelenggarakan Identifikasi Kepolisian, Kedokteran Kepolisian Laboratorium Forensik, dan Spikologi Kepolisian untuk kepentingan tugas Kepolisian.

i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia.

j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangan oleh instansi /atau pihak yang berwenang.

k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan dalam lingkup Kepolisian serta;

1. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Dalam pelaksanaan tugas Kepolisian ini maka perihal kerjasama masyarakat sangat menentukan efektif tidaknya pelaksanaan tugas-tugas Kepolisian. Tetapi nyatanya masyarakat secara aperori sudah memberikan nilai yang kurang baik khususnya dalam pelaksanaan dalam pelaksanan tugas-tugas Kepolisian.

Ada dua hambatan besar dihubungkan dengan peranan Polri dalam menjalankan wewenangnya sebagai penyidik yaitu perilaku polisi dan kebudayaan yang tumbuh di tengah masyarakat memandang terhadap polisi. terlepas dari rumusan peraturan perundang-undangan yang berlaku dinegeri kita, mandat (Tugas) yang dibebankan kepada Polisi sejak kelahirannya adalah penegakan hukum dan memelihara keamanan dan ketertiban Seiring dengan dikeluarkannya Undang -Undang Kepolisian yang baru yaitu Undang -Undang Nomor. 2 tahun 2016, terdapat pula beberapa perubahan terhadap Kode Etik Profesi Polri. Pada Undang-Undang Nomor 2 tahun 2016, yaitu pada bab (pasal 31s/d 35) mengatur secara khusus mengenai "Pembinaan Profes Polri". Salah satu upaya dalam rangka pembinaan Profesi Polri adalah melalui Pembinaan Etika Profesi, yaitu seperti pada pasal 32 (1) UU. No 2/2016 , yang berbunyi:

"Pembinaan kemampuan profesi pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi"

Selanjutnya etika profesi ini kemudian diwujudkan pada apa yang disebut dengan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, seperti yang diatur pada pasal 34 dan 35 Undang-Undang Nomor 2 tahun 2016 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai berikut:

"Pasal 34 :

1) Sikap dan perilaku pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia terikat pada Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

2) Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia Dapat Menjadi Pedoman Bagi Pengemban Fungsi Kepolisian Lainnya Dalam Melaksanakan Tugas Sesuai Dengan Peraturan Pearudang-Undangan Yang Berlaku Di Lingkungannya

(3) Ketentuan Mengenai Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia Diatur Dengan Keputusan Kapolri.

Pasal 35:

1) Pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia oleh pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselesaikan oleh Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia

2) Ketentuan mengenai susunan organisasi dan tata kerja Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dengan Keputusan Kapolri."Ketentuan yang berkaitan dengan Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, sesuai dengan amanat Undang-undang No.2/2016 pasal 34 & 35 kemudian di wujudkan melalui Kep. Kapolri No.Pol. : KEP/01/ VII/2003, tentang Naskah Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Kode etik ini adalah merupakan pedoman perilaku dan moral bagi anggota polri bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai upaya pemuliaan terhadap profesi kepolisian, yang berfungsi sebagai pembimbing pengabdian, sekaligus menjadi pengawas hati nurani setiap anggota agar terhindar dari perbuatan tercela dan penyalahgunaan wewenang. Kode etik profesi Kepolisian adalah merupakan kristalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Brata dan Catur Prasetya bersifat Normatif Praktis sehingga dapat digunakan untuk menilai kepatuhan dan kelayakan tindakan dari segi persyaratan teknis profesi.

Etika profesi Kepolisian memuat 3 (tiga) substansi etika yaitu Etika Pengabdian, Kelembagaan dan Kenegaraan, yang pengertiannya adalah :

1. Etika pengabdian; merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap profesinya sebagai pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Etika Pengabdian pada Kode Etik Profesi Kepolisian di jabarkan dalam pasal 1 s/d 7.

2. Etika kelembagaan; merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia terhadap institusinya yang menjadi wadali pengabdian dan patut dijunjung tinggi sebagai ikatan lahir batin dari semua insan Bhayangkara dengan segala martabat dan kehormatannya. Etika Kelemahan dijabarkan pada pasal 8 s/d 12

3. Etika kenegaraan; merupakan komitmen moral setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dan institusinya untuk senantiasa bersikap netral, mandiri dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik, golongan dalam

rangka menjaga tegaknya hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Etika Kenegaraan ini dijabarkan pada pasal 13 s/d 16.

Kode etik Profesi Kepolisian (KEP. Kapolri No. : KEP/01/VII/ 2003) yang baru ini lebih operasional dibanding dengan Kode Etik Profesi sebelumnya (Kep Kapolri No. : Kep/04/III/2001 dan Kep/05/III/2001), hal ini dikarenakan pada Kode Etik Profesi Kepolisian yang baru masing-masing bentuk etika (Pengabdian, Kelembagaan dan Kenegaraan) diatur perilaku-perilaku yang Etis dan yang tidak Etis lebih rinci, sehingga ada batasan jelas yang dibakukan, selain itu juga diatur pula bentuk sanksinya dan cara penegakannya.

Hambatan dalam pelaksanaan tugas polisi sebagai penyidik tidak hanya memberikan bantuan atau melayani (support atau service) yang menyenangkan kepada pencari keadilan tetapi juga dalam keadaan tertentu selaku penyidik mengambil tindakan korektir yang menyakitkan, kontrol dan support terhadap personil adalah merupakan karakter fungsi Kepolisian, dilain pihak selaku penyelidik tidak mungkin berhasil dalam disenangi masyarakat maka dukungan akan datang (dipercayai belum tentu disenangi) Hasil temuan Pusat studi Keamanan dan Perdamaian UGM tahun 1999 dalam penelitihan nya di Enam Polda mengungkapkan sebagai berikut:

1. Tinggi rasa tidak aman terhadap masyarakat

2. Pelayanan Polisi dipersepsi oleh masyarakat justru mempersulit.

3. Kehadiran anggota polisi dirasakan oleh masyarakat berkesan mengancam 4. Kecenderungan dark number yang cukup besar.

5. Tingginya pelanggaran hukum dan etika oleh anggota Polri

6. Citra pribadi anggota Polri yang negatif ditengah masyarakat20

5. Sikap arogan masih ditunjukkan oleh subjek

.

Disamping itu, penelitian tersebut menyimpulkan: jadi diri anggota Polri yang melitristik, Intelektualitas anggota polri dilapangan sangat rendah, sikap kerja yang tidak proaktif dan kreaktivitas yang rendah, oreantasi tindakan pada keselamatan dan kelanggengan karir. Serta kemandirian lembaga yang rendah Hasil penelitillan lapangan pada jajaran polda metro jaya mengungkapkan antara lain:

1. Penegakkan hukum terpilih cukup tinggi (dua pertiga pelanggaran dibiarkan berlalu dan hanya persepuluh yang ditilang)

2. Bias dalam penindakan dengan mengistimewakan kenderaan dan pelanggaran tertentu.

3. Tindakan yang dipengaruhi sikap pelanggaran terhadap polisi.

4. Pungli / penyelesaian damai yang melibatkan sekitar 0 %

21

20 Forouk Muhammad, Pengubahan Perilaku dan Kebudayaan dalam Rangka Peningkatan Kwalitas Polri, Journal Polisi Indonesia 2 April – September 2000 hal. 32.

21 R.E. Barimbing, Simpul Mewujudkan Supremasi Hukum, Pusat Kajian Reformasi Jakarta. Tahun 2001 hal 33

.

Dalam rangka penyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud Diatas Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang (pasal 15 ayat (1) UU No 2 Tahun 2016 ):

a. Menerima laporan an /atau pengaduan

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;

d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangannya administrasi kepolisian.

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang i. Mencari keterangan dan barang bukti;

j. Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;

k. Mengeluarkan izin dan / atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat.

1. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain serta kegiatan masyarakat;

m. Menerima barang temuan untuk sementara waktu.

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya seperti peraturan pemerintah kepolisian negara republik indonesia juga berwenang (pasal 15 ayat (2) No 2 /2016 ):

a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya;

b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kenderaan bermotor;

c. Memberikan izin surat mengemudi kenderaan bermotor;

d. Memberikan tentang kegiatan politik;

e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api , bahan peledak dan senjata tajam;

f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan.

g. Memberikan petunjuk, mendidik dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian;

h. Melakukan Kerja Sama Dengan Kepolisian Negara Lain Dalam Menyidik Dan Membrantas Kejahatan Internasional.

i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah indonesia dengn koordinasi instansi terkait;

j. Mewakili pemerintah republik indonesia dalam organisasi kepolisian imternasional;

k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas Kepolisian

Dalam rangka menyelenggarakan tugasnya, di bidang proses pidana Kepolisian Negara Republik Indonesia juga memiliki wewenang yang dalam hal ini wewenang tersebut tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum, selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan, harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya serta menghormati hak azasi manusia.

Adapun wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia di bidang proses pidana yaitu (pasal 16 ayat (1) UU No 21 Tahun 2016):

a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;

b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan

c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;

d. Menyuruh orang berhenti orang yang di curigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenak diri;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

h. Mengadakan penghentian penyidikan

i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;

j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk rnencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana ; k. Memberikan petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai

negeri sipil serta menerima hasil penyidikan pegawai negeri sipil untuk diserahkan ke Penuntut Umum

1. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas dan wewenangnya di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, khususnya di daerah hukum pejabat yang bersangkutan ditugaskan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya, Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resor Kota Medan usaha semaksimal mungkin dalam

mengatasi segala pelanggaran hukum di wilayah hukumnya yaitu Daerah Sumatera Resort Kota Medan dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya dan selalu menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia dengan mengandalkan profesionalisme dalam bertugas yang sesuai dengan Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, TriBrata Dan Catur Prasetya Polri.

Adapun pedoman dasar dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai aparat penegak hukum dalam menegakkan hukum dalam menegakkan hukum dalam menegakkan hukum yaitu; TRI BRATA DAN CATUR PRASATYA berdasarkan Keputusan Kapolri No.Pol: 17 /VI/ 2016 yang berbunyi

TRI BRATA

KAMI POLISI INDONESIA

1. BERBAKTI KEPADA NUSA DAN BANGSA DENGAN PENUH KETAQWAAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA.

2. MENJUNJUNG TINGGI KEBENARAN, KEADILAN, DAN KEMANUSIAAN DALAM MENEGAKKAN HUKUM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR 1945.

3. SENANTIASA MELINDUNGI, MENGAYOMI DAN MELAYANI MASYARAKAT DENGAN KEIKLASAN UNTUK MEWUJUDKAN KEAMANAN DAN TERTIBAN

CATUR PRASETYA

SEBAGAI INSAN BHAYANGKARA KEHORMATAN SAYA ADALAH BERKORBAN DEMI MASYARAKAT BANGSA DAN NEGARA UNTUK :

1. MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN KAMTIBMAS

2. MENJAGA KESEL AMATAN JIWA RAGA HARTA BENDA DAN HAK AZASI MANUSIA

3. MENJAMIN KEPASTIAN BERDASARKAN HUKUM 4. MEMELIHARA PERASAAN TENTRAM DAN DAMAI

Pemaknaan akan peran pelindung, pengyom dan pelayan masyarakat bisa beragam dan berbagai tinjauan, namun untuk keamanan persepsi dan langkah tindakan dari pemaknaan itu dapat dirumuskan :

Pelindung : Adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonenia yang memilik kemampuan memberikan perlindungan bagi masyarakat sehingga terbebas dari rasa takut, bebas dari ancaman atau bahaya serta merasa tenteram dan damai.

Pengayom : Adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang memilik kemampuan memberikan bimbingan, petunjuk, aturan dorongan, ajakan, pesan, dan nasehat yang dirasakan bermanfaat

Pengayom : Adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang memilik kemampuan memberikan bimbingan, petunjuk, aturan dorongan, ajakan, pesan, dan nasehat yang dirasakan bermanfaat

Dokumen terkait