• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2019"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGERA TENTANG PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2016

Skripsi

Oleh :

Anggi Puspita Sari Nasution NIM : 110200282

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGERA TENTANG PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk Mencapai gelar Sarjana Hukum

Oleh :

NIM : 110200282

ANGGI PUSPITA SARI NASUTION

Disetujui oleh :

Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara

NIP. 197608162002122002 Dr. Agusmida, SH, M.Hum

Pembimbing I Pembimbing II

Suria Ningsih, SH, M.Hum

NIP. 196002149870320002 NIP. 1970003171998091001 Amsai Sembiring, Sh, M.Hum

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : ANGGI PUSPITA SARI NASUTION NIM : 110200282

Judul Skripsi : Tinjauan Hukum Administrasi Negara tentang Pembinaan Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2016

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Skripsi ini berdasarkan hasil penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri, baik untuk naskah laporan maupun kegiatan programming yang tercantum sebagai bagian dari Skripsi ini. Jika terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan ini saya perbuat dengan sesuangguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh.

Karya tulis ini serta sanksi lain sesuai dengan peraturan yang berlaku di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Demikia pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.

Medan, Februari 2019 Penulis,

NIM. 110200282 Anggi Puspita Sari Nasution

(4)

ABSTRAK

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGERA TENTANG PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2016

*Anggi Puspita Sari Nasution

** Suriah Ningsih, SH, M.Hum

*** Amsali Sembiring, SH, M.Hum

Pembinaan profesi pada Kepolisian Negara Republik Indonesia khususnya di Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Medan dinilai penting dilaksanakan agar terciptanya penegak hukum yang professional yang dilakukan anggota Kepolisian Daerah Sumatera Utara terutama diwilayah Kepolisian Resort Kota Medan yang disingkat dengan Polrestabes Medan. Peran aktif anggota Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Medan bertindak untuk melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat agar dapat menegakkan supermasi hukum di Provisni Sumatera Utara khususnya Resort Kota Medan dan mampu memberikan komitmen yang kuat bagi masyarakat untuk secara aktif berpartisipasi dalam mewujudkan Polri yang mandiri. Pembekalan profesi yang dilakukan oleh Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, baik itu berupa pembinaan, kemampuan profesi maupun peningkatan dan pengembagan pengetahuan.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif.

Penelitian bersifat deskriptif yaitu penelitian yang hanya menggambarkan fakta- fakta tentang objek penelitian baik dalam kerangka sistematisasi maupun sikronisasi berdasarkan aspek yuridis.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, penulis menyimpulkan bahwa anggapan buruk masyarakat mengenai Polri merupakan salah satu bahan evaluasi yang dalam pelaksanaan, pembinaan profesi harus lebih ditingkatkan agar tercipta anggota Polri yang diinginkan oleh masyarakat yaitu anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berbudi bakti luhur, professional dan bijaksana. Dan diharapkan dengan adanya pembinaan profesi ini, Kepolisian Sumatera Utara khususnya Kepolisian Resort Kota Medan dapat lebih memantabkan kedudukan, peranan, tugas dan tanggungjawabnya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia agar mampu menjadi panutan integral dari reformasi menyeluruh segenap tatanan kehidupan bangsa dan bernegara dalam mewujudkan masyarakat madani, adil, makmur dan beradab.

Kata Kunci : Hukum Administrasi Negara, Pembinaan Profesi

*Mahasiswa Fakultas Hukum USU

** Dosen Pembimbing I/Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara FH USU

***Dosen Pembimbing II/Dosen Fakultas Hukum USU

(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan bersyukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang mana telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Tinjauan Hukum Administrasi Negara tentang Pembinaan Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 (Studi Kasus Kepolisian Resort Kota Medan)”.

Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat untuk menempuh ujian tingkat sarjana di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Keberhasilan penulis tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan moril dari berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Budiman Hinting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakulta Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Ok Saidin, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Puspa Melati, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Drielly Leviza, SH, M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Dr. Agusmidah, SH, M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Suria Ningsih, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing 1 Penulis.

7. Amsali Sembiring, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II Penulis.

(6)

8. Bapak dan Ibu Dosen serta unsur administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang sudah memberikan bimbingan selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Kepada Kepolisian Resort Kota Medan, Kombes Pol. Dr. Dadang Hartanto, SH, SIK, M.Si beserta staff Kepolisian Resort Kota Medan.

10. Kepala Sumber Daya Manusia (Kabag Sumda) Kepolisian Resort Kota Medan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan riset dan pengumpulan data di Bagian Sumda Polrestabes Medan.

11. Rekan-rekan Mahasiswa/i yang telah banyak mendorong dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Keluarga tercinta Ayahanda H. Ir. Erwan Rozali Nasution dan Ibunda Kompol Hj. Trila Murni, SH dan kedua adik saya Adhe Munita Nasution, SH dan Putri Fahmina Nasution, SH yang senantiasa memberikan dorongan semangat dan doa sehingga penulis mampu untuk tetap semangat dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini dengan baik.

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi in, oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan saran untuk penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 2019 Penulis,

Anggi Puspita Sari Nasution NIM. 110200282

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penulisan ... 7

E. Keaslian Penelitian ... 7

F. Tinjauan Kepustakaan ... 8

G. Metode Penelitian ... 9

H. Sistimateka Penulisan ... 10

BAB II PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI KEPOLISIAN NEGARA RI DALAM PEMBINAAN PROFESI ... 13

A. Pengertian Hukum Administrasi Negara ... 13

B. Perkembangan Hukum Administrasi Negara ... 15

C. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara ... 18

D. Kedudukan Hukum Administrasi Negara dalam Lapangan Hukum ... 20

E. Pelaksanaan Hukum Administrasi mengenai Pembinaan Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 23

(8)

BAB III HAMBATAN DAN SOLUSI PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DALAM PEMBINAAN

PROFESI DI NEGARA RI ... 27

A. Sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 27

B. Pengertian Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 29

C. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 35

D. Hambatan dan Solusi Pelaksanaan Hukum Administrasi Negara dalam Pembinaan Profesi Di Negara RI ... 44

BAB IV PELAKSANAAN PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT UNDANG-UNDANG No. 2 TAHUN 2016 DI POLDA SUMATERA UTARA KEPOLISIAN RESORT KOTA MEDAN ... 49

A. Susunan, Kedudukan, Tugas serta Wewenang Kepolisian Daerah Sumatera Utara Kepolisian Resort Kota Medan ... 49

B. Aspek Hukum Administrasi Negara dalam Pembinaan Profesi Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan ... 69

C. Usaha-usaha yang Dilakukan dalam Pembinaan Profesi Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan ... 73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 79

A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 4.1 Struktur Organisasi Polresta Medan ... 68 Gambar 4.2 Stuktur Organisasi Sie Propam Polresta Medan ... 69

(10)

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Posisi polisi ditengah dinamika masyarakat yang kompleks dihadapkan pada berbagai tantangan substansial yang tidak dapat dielakkan. Suatu negara yang ingin menjadi maju dan modern harus memiliki kehidupan masyarakat yang tertib. Kehidupan yang tertib ini merupakan cerminan dari terselenggaranya keadilan melalui penegakan hukum. Sebagai alat negara, polisi menjadi pengawal dan penegak peraturan dan hukum, dimana posisinya yang berhadapan langsung dengan masyarakat membuat polisi membawa tanggungjawab moral dan kebenaran pada aspek penegakan hukum, dalam arti polisi berada pada pihak yang netral, tidak pilih kasih, dan profesional dalam menegakkan hukum. Jadi jelas mengapa polisi disini memegang peranan yang teramat penting dalam mewujudkan masyarakat yang maju dan modern.

Seiring dengan berkembangnya zaman maka diharapkan kepada para aparat penegak hukum untuk meningkatkan fungsi dan perananya dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Hal ini akan menunjang produktivitas aparat Penegak Hukum itu sendiri.

Dalam era reformasi yang belangsung saat ini terlihat tuntutan tugas wewenang dan tanggungjawab yang semakin meningkat dan kompleks dari semua pihak, pada instansi pemerintahan maupun swasta dalam penyelesaian tugas semakin terasa penyelesaian tugas yang benar dan baik, tepat dan berguna untuk itu dibutuhkan suatu administrasi yang baik dalam melakukan penyelesaian tugas- tugas tersebut.

(11)

Untuk kelancaran jalannya tugas suatu administrasi dalam usaha pencapaian hasil kerja yang baik masyarakat luas diperlukan adanya suatu administrasi yang baik pula. Suatu administrasi harus dilandasi dengan susunan administrasi yang dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dalam hal ini aparat penegak hukum khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) tidak terlepas dari dukungan masyarakat dalam menjalankan fungsi dan peranannya tanpa melanggar konstitusi dan norma-norma yang berlaku dimata masyarakat.

Hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 2016 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia undang-undang ini merupakan perubahan Undang-Undang yang sebelumnya yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 1997 (Lembaran Negara Tahun 1987 Nomor 81, tambahan Lembaran Negara Nomor 3710) sebagai penyempurnaan dari Undang-Undang Nomor 13 tahun 1961 tentang kententuan Pokok Kepolisian Negara (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 245 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2280)1

Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor : VII/MPR/2000 tentang pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 2000 maka Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dalam pelaksanaanya bertanggungjawab kepada Presiden

.

2

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 ini juga menampung pula pengarutan tentang anggota Kepolisian Negara Republik

.

1 Kepolian Negara Republik Indonesia (Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2016). CV. Eko Jaya. Jakarta. Tahun 2016. Hal 38.

2 Ibid. Hal 22.

(12)

Indonesia sebagaimana di amanatkan oleh Undang-Undang Tahun 1974 tentang pokok Kepegawaian yang meliputi pengaturan tertentu mengenai hak anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia baik hak kepegawaian, maupun hak politik dan kewajibannya tunduk pada kekuasaan peradilan umum3

1. Tinjaun berarti suatu penilaian setelah melakukan pekerjaan meninjau .

Dengan perubahan Undang-Undang tersebut maka diharapkan akan meningkatkan kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan fungsi dan peranannya sebagai aparat penegak hukum yang sangat penting keberadaanya ditengah masyarakat.

Pembinaan profesi pada Kepolisian Negara Republik Indonesia sangat penting agar tercipta suatu Kepolisian Negara Republik Indonesia yang professional dalam menjalankan segala tugas-tugasnya, hal ini dilakukan juga di Kepolisian Daerah Sumatera Resort Kota Medan dalam upaya menegakkan supremasi hukum diharapkan kiranya dapat menjadi Pelindung, Pengayom, Penegak Hukum dan Pelayanan Masyarakat dalam skripsi ini pada bagian penulis akan memberikan pengertian dari judul yang diajukan yaitu :

4

2. Hukum Administrasi Negara adalah hukum yang mengatur :

a. Aparatur Negara, aparatur pemerintah, atau sebagai institusi politik (Kenegaraan)

b. Fungsi atau sebagai aktivitas yakni sebagai kegiatan pemerintahan yang mengurus kepentingan Negara

c. Proses teknis penyelenggaraan undang-undang5

3 Ibid. Hal 4

4 Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Pustaka Amani. Jakarta. Hal 452.

5 Kansil C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Balai Pustaka.

Jakarta. Tahun 1989. Hal 44.

(13)

3. Tentang berarti ruang lingkup mengenai sesuatu hal

4. Pembinaan berarti mengarahkan, mengajarkan, kearah yang lebih baik

5. Profesi berarti pekerjaan yang dilakukan sebagai kekuatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan mengandalkan suatu keahlian6

6. Yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat7

7. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 adalah undang- undang yang mengatur tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

.

8

Fakta-fakta sebagaimana diuraikan pada bagian pendahuluan di atas ditunjukan peranan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai pelaku administrasi dalam suatu organisasi menjadi sangat penting sehingga organisasi tersebut dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki bersama.

Kelancaran penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan Pembangunan Nasional yang tercantum dalam GBHN tergantung antara lain dari kesempurnaan para Aparatur Negara yang dalam hal ini Kepolisian Negara Republik Indonesia, kesadaran akan pentingnya peranan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pembangunan Nasional ini menjadi tolak ukur terlaksananya pemerintahan dan pembangunan itu sendiri dan kepada kepekaan dan terlaksanya tatanan kerja dari Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut berjalan baik dan lancar.

.

Tolak ukur diatas dilandasi keberadaan akan bagaimana pembinaan profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Sumatera Utara Resort Kota

6 Burhanuddin Salam. Etika Sosial. Rikika Cipta. Jakarta. Tahun 1989. Hal 44

7 Burhanuddin Salam. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2016). CV. Eko Jaya. Jakarta Tahun 2002. Hal 12

8 Ibid Hal 17

(14)

Medan, apakah sudah berjalan seperti yang diharapkan atau masih tersendat- sendat, inilah yang merupakan alasan utama pembahasan skripsi ini.

Keadaan diatas bila dihubungkan dengan hukum Administrasi Negara adalah sudah sangat jelas karena pelaksanaan tugas dari Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan kaedah hukum administrasi baik selaku unsur aparatur pemerintahan maupun juga sebagai unsur pembuat keputusan.

Sebagai abdi bangsa dan Negara, peran Kepolisian Negara Republik Indonesia khususnya Kepolisian Resort Kota Medan (Polresta Medan) harus dapat menjalankan perananya sesuai dengan doktrin yang ada pada Kepolisian Negara Republik Indonesia itu sendiri.

Dengan demikian maka latar belakang dalam pembuatan skripsi ini menyangkut dari sekitar telaah secara hukum administrasi Negara tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pelaksanaan administrasi Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pembinaan profesi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016?

2. Bagaimana hambatan dan solusi dalam pelaksanaan pembinaan profesi Republik Indonesia?

3. Apa saja peluang yang timbul dalam pelaksanaan administrasi Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pembinaan profesi menurut Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 di Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan?

(15)

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pelaksanaan administrasi Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pembinaan profesi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016?

2. Untuk mengetahui hambatan dan solusi dalam pelaksanaan pembinaan profesi Republik Indonesia?

3. Untuk mengetahui peluang yang timbul dalam pelaksanaan administrasi Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pembinaan profesi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 di Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan?

D. Manfaat Penulisan

Adapun yang menjadi manfaat penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Mewujudkan kepercayaan diri dan kebanggan sebagai seorang Polisi, yang kemudian dapat menjadi kebanggan bagi masyarakat.

2. Mencapai sukses penugasan

3. Membina kebersamaan, kemitraan sebagai dasar membentuk partisipasi masyarakat

4. Mewujudkan polisi yang professional, efektif, efesien dan modern, yang bersih dan benvibawa, dihargai dan dicintai masyarakat.

E. Keaslian Penelitian

Penulis skripsi ini adalah asli (bukan merupakan plagiat), penulisan skripsi ini merupakan inovasi, ide,dan gagasan pemikiran terbaru dari penulisan skripsi

(16)

yang merupakan hasil ciptaan atau hasil penggadaan dari karya tulis milik orang lain yang tentunya dapat merugikan pihak-pihak tertentu, dengan demikian penulis dapat bertanggung jawab atas keaslian penulisan hingga pembahasan yang terdapat dalam skripsi ini, belum pernah ada judul yang sama demikian pula pembahasan yang diuraikan didalamnya. Sebagai bahan pendukung dalam penulisan skripsi ini dipakai berbagi literatur hukum yang berkenaan dengan pelaksaan fungsi maujana nagori serta daftar referensi baik dari buku para sarjana dan media internet yang ada hubungannya dengan masalah dan pembahasan yang penuh disajikan.

F. Tinjauan Kepustakaan

Kegiatan penelitian merupakaan rangkaian proes ilmu pengetahuan dimana penelitian tidak dapat dilepaskan dari perbendaraan kaidah, konsep, kebenaran dan lain-lain, yang sudah diramu sehingga membentuk suatu bentuk makalah yang akan disajikan sebagai melengkapi tugas sebagai mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Sumatera Utara.

Tinjauan kepustakaan ini dilakukan untuk mendapat gambaran dalam pembuatan penulisan makalah dengan penulisan sejenis yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

Adapun langkah langkah dalam kegiatan tinjauan kepustakaan adalah sebagai berikut:

1. Menentukan judul, ide umum tentang penelitian

2. Mencari informasi yang mendukung judul/topik (pakar dibidangnya, pegawai pustaka atau siapa saja yang dapat membantu dalam penulisan skripsi ini) 3. Mempertegas, fokus, pada penelitian dan mengumpulkan bahan bahan.

(17)

4. Mencari bahan bahan artikel, jurnal, buku buku dan dokumen 5. Mengorganisasi bahan bacaan dan membuat catatan penelitian 6. Mereview kembali bacaan dan memperkaya bacaan

7. Mengorganisasi kan catatan dan memulai menulis.

Kemudian melakukan beberapa literatur-literatur yang mendukung penulisan dan penelitian dengan mempelajari bahan-bahan bacaan yang ada, baik itu karangan-karangan ilmiah maupun pembahasan sesuai dengan buku Peraturan Kapolri Nomor: 23 tahun 2010 tanggal 30 September 2010 tentang susunan organisasi kerja pada tingkat Polres dan Polsek, Kode Etik Profesi Polri maupun Undang Undang Nomor 2 tahun tahun 2016 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

G. Metode Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode pengumpulan data dan bahan-bahan yang berkaitan dengan materi skripsi ini dengan tujuan agar tulisan dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya maka diusahakan memperoleh dan mengumpulkan data-data yang mempergunakan sebagai bahan referensi bagi penulis.

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian hukum yang bersifat deskriptif yaitu menggambarkan dan menganalisa masalah-masalah yang akan dikemukakan dengan pendekatan yuridis normatif.

(18)

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini dibedakan atas 2 yaitu data yang diperoleh dari informan dan bahan-bahan pustaka, yaitu:

a. Library Research (Penelitian Perpustakaan)

Disini penulis melakukan beberapa literatur-literatur yang mendukung penulisan dan penelitian dengan mempelajari bahan-bahan bacaan yang ada, baik itu karangan-karangan ilmiah maupun pembahasan skripsi ini.

b. Field Research (Penelitian Lapangan)

Dalam penyempuraaan penelitian penulis melakukan penelitian secara langsung juga dengan melakukan pengamatan secara langsung pembinaan profesi polri maupun mengadakan wawancara kepada pihak-pihak yang berwenang memberikan informasi seperti pejabat Kepolisian, Masyarakat dan Anggota Kepolisian.

H. Sistimateka Penulisan

Dalam membantu penulis dan pembaca untuk memahami skipsi ini perlu dibuat Sistematika (gambaran isinya) dengan menguraikan secara mulai dari Bab I dengan materi materi yang terdapat didalam uraian mulai dari bab I sampai dengan Bab terakhir. Dalam pembahasan skripsi ini disusun penulis sedemikian rupa yang memuat 5 (Lima) buah Bab dan masing masing Bab mempunyai sub bab, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

(19)

BAB I. PENDAHULUAN

Dalam Bab I ini Akan Dibahas Tentang Latar Belakang, Perumusan Masalah Tujuan Penelitihan, Manfaat Penelitihan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penelitian dan Sistimatika Penulisan.

BAB II. TINJAUAN UMUM HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

Dalam Bab ini akan diuraikan tentang Pengertian Hukum Administrasi Negara Perkembangan hukum administrasi negara, ruang lingkup hukum administrasi negara dan kedudukan hukum administrasi dalam lapangan hukum.

BAB III. TINJAUAN UMUM MENGENAI HAMBATAN DAN SOLUSI DALAM PELAKSANAAN PEMBINAAN PROFESI REPUBLIC INDONESIA

Dalam Bab ini akan diuraikan tentang sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia, pengertian Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pengertian tentang Pembinaan Profesi Kepolisian Resort Kota Medan Polda Sumatera Utara serta hambatan dan solusi dalam pelaksanaan pembinaan profesi.

BAB IV. PELAKSANAAN PEMBINAAN PROFESI KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENURUT UU NO. 2 TAHUN 2016 DI KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA UTARA RESOR KOTA MEDAN

Dalam Bab Ini Akan dibahas tentang susunan kedudukan, Tugas Serta Wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia di Kepolisian Daerah Sumatera Utara Resort Kota Medan, Aspek Hukum

(20)

Administrasi Negara Dalam Pembinaan Profesi Kepolisian Resort Kota Medan Polda Sumatera Utara, kendala dalam pelaksanaan pembinaan profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia di Kepolisian Resort Kota Medan Polda Sumatera Utara. Dan usaha-usaha yang dilakukan dalam pembinaan profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia di Kepolisian Daerah Sumatera Resort Kota Medan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam Bab ini yang terakhir ini merupakan bab penutup penulis berusaha memberikan kesimpulan dan saran.

(21)

BAB II

PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI KEPOLISIAN NEGARA RI DALAM PEMBINAAN PROFESI

A. Pengertian Hukum Administrasi Negara

Istilah "Hukum Administrasi Negara" berasal dari Bahasa Belanda

"Administratifrecht Administrative Law" Ilmu Pengetahuan Inggris "Droit administratief" di Francis dan "Verwalttungsrecht" di Jerman9

3. Sebagai proses teknis penyelenggaraan Undang-Undang artinya meliputi segala tindakan aparatur negara dalam menyelenggarakan undang undang

. Ada tiga dari Administrasi Negara Yaitu :

1. Sebagai Aparatur Negara, Aparatur Pemerintah, Atau Sebagai Institusi Politik (Kenegaraan) ; artinya meliputi organ yang berada dibawah Pemerintah, Mulai dari Presiden, Menteri, Gubenur, Bupati dan sebagainya, singkatnya semua organ yang menjalankan Administrasi Negara

2. Sebagai fungsi atau aktivitas, yakni sebagai kegiatan "Pemerintahan” artinya sebagai kegiatan mengurus kepentingan Negara.

10

Prajudi Atmosudirjo dalam bukunya Hukum Administrasi Negara merumuskan definisi Kerja Hukum Administrasi Negara adalah hukum yang secara khas mengenai seluk beluk dari pada Administrasi Negara dan terdiri atas dua tingkatan

.

11

Hukum Administrasi Negara Heterenom, bersumber pada UUD TAP MPR dan Undang-Undang adalah hukum yang mengatur seluk beluk organisasi dan fungsi Administrasi Negara. Hukum Administrasi Negara Otonom adalah hukum operasional yang diciptakan oleh pemerintah dan Administrasi Negara sendiri.

.

9 Kansil C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia PN. Balai Pustaka Jakarta. 1989. Hal 442

10 Ibid Hal 443

11 Philipus, M. Hadjon. Pengantar Hukum Administrasi Negara. Gajah Mada University Press. Jakarta. Tahun 2001. Hal 26

(22)

Hukum administrasi negara mempunyai pengertian yang bersifat kombinati (verzameltem) yakni:

a. Administrasi Negara sebagai organisasi.

b. Administrasi yang secara khas mengejar terciptanya tujuan yang bersifat Kenegaraan (Publik) artinya tujuan-tujuan yang ditetapkan undang undang secara" dwingendrecht (Hukum yang memaksa)12

Beliau juga mengartikan Administrasi Negara dalam pengertian sempit dan luas, dalam pengertian sempit, administrasi merupakan tata usaha (office work) yakni :

a. Administrasi sebagai proses dalam masyarakat.

b. Administrasi sebagai suatu jenis kegiatan manusia.

a. Administrasi sebagai kelompok yang secara bersama sama sedang menggerakkan kegiatan-kegiatan diatas:

1) Sudut Proses (administrasi sebagai proses ) 2) Sudut Fungsi (administrasi dalam arti fungsional) 3) Sudut kepranataan (institusi)

Van Vollenhoven membagi Hukum Administrasi Negara ke dalam :

a. Reglaarsrecht = The Law Of The Legislative Proscess = Hukum Perundang Undangan.

b. Bestuurecht = The Law Government = Hukum Tata Pemerintahan.

c. Justierecht = the Law Of The Administrasition Of Justice = Hukum Acara Peradilan

12 Ibid hal 26

(23)

d. Politierecht = The Law Of The Administration Of Cecurity = Hukum Kepolisian13

13 Kansil C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia PN. Balai Pustaka Jakarta, 1989. Hal 447.

Jadi hukum Administrasi Negara merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan hukum yang mengatur suatu administrasi pada suatu negara serta pelaksanaannya aturan hukum keseluruhan atau yang menentukan cara bagaimana negara sebagai penguasa menjalankan usaha untuk menjalankan tugas-tugas sesuai dengan kekuasaan atau kewenangan tanpa melanggar peraturan yang berlaku.

B. Perkembangan Hukum Administrasi Negara

Hukum administrasi telah berkembang dengan suasana pihak pemerintah mulai menata masyarakat dan dalam kaitannya itu menggunakan sarana hukum, dengan menetapkan keputusan-keputusan larangan tertentu atau dengan menerbitkan sistem perizinan, oleh karena itu dapat disepakati bahwa hukum administrasi dalam bentuk awalnya sudah terlalu kuno dan oleh pemerintah juga sudah sejak dulukala bertanggungjawab atas penataan dan pengelolaan masyarakat secara lebih berkurang.

Hukum administrasi dalam bentuk yang demikian itu nampaknya senantiasa merupakan "hukum administrasi luar biasa" yakni suatu hukum administrasi dalam bentuk suatu peraturan perundang-undangan tertentu, juga ketentuan-ketentuan pelaksanaan tambahan yang tertentu dan jika diperlukan beberapa yurispendensi dalam suatu bidang kongrit yang terbatas dari urusan pemerintah.

(24)

Dengan berkembangnya tugas-tugas pemerintah itu, orang dapat melihat bahwa berbagai bidang urusan pemerintah itu terjadi suatu penumpukan dari pengeluaran aturan dan keputusan-keputusan pemerintah dengan demikian terjadi bidang-bidang hukum admistrasi yang luar biasa yang merupakan lebih kurang sebagai yang berdiri sendiri; hukum perpajakan, hukum pencegaan, atau hukum lingkungan, hukum pengaturan lapangan dan seterusnya.

Sebagai lawan istilah "Hukum Administrasi Luar Biasa" kita kenal istilah

"Hukum Administrasi Umum" peranan pihak pemerintah menjadi lebih penting atas berbagai bidang sosial dan dengan demikian "hukum administrasi luar biasa"

meningkat pada bidang-bidang itu menjadi tambah sulit, maka timbul kebutuhan untuk mempelajari unsur-unsur bersama dari hukum administrasi khusus itu dalam kaitannya satu sama lain.

Perkembangan hukum administrasi umum boleh dikatakan baru saja tumbuh dibanyak negara, secara garis besar dapat dikatakan bahwa baru saja sejak perang dunia kedua mulai berkembang hukum administrasi umum sebagai bagian dari ilmu hukum. Dapat dikatakan bahwa perkembangan hukum administrasi umum yang sedang giat dilaksanakan dibanyak negara, bergerak dalam tiga taraf secara berturut turut, pada setiap taraf ditambahkan suatu faktor yang jangkauannya jauh:

1. Pada mulanya perkembangan hukum administrasi itu hanya merupakan suatu perkembangan dalam ilmu pengetahuan sendiri, Buku-buku diterbitkan yang menjelaskan bentuk-bentuk hukum bersama dan dalam kaitannya dengan bentuk-bentuk itu membentuk suatu teori, namun perkembangan ilmiah itu

(25)

sendiri tidaklah mencukupi untuk membuat hukum pemerintahan menjadi berkembang dengan baik.

2. Perkembangan kedua yang penting dimulai dengan diperkenalkannya peradilan administrasi negara, manakala pembuat keputusan undang-undang untuk memberi kesempatan mengajukan banding pada seorang hakim admistrasi negara terhadap keputusan-keputusan atas dasar sejumlah besar undang-undang, maka melalui yurispedensi timbul suatu interprestasi (penafsiran) atas unsur-unsur yang serupa dalam berbagai Undang -Undang.

3. Perkembangan yang ketiga timbul manakala pembuat undang undang memutuskan dengan tujuan menyelaraskan tindakan-tindakan pemerintah untuk mengadakan pembuatan undang-undang umum, yakni aturan yang sah yang dalam garis besarnya berlaku bagi pelaksanaan wewenang tertentu, dengan kata lain yang berlaku untuk pelaksanaan wewenang atas dasar undang-undang yang sama sekali berlawanan atas dasar undang-undang yang sama sekali berlainan.

Dengan demikian di berbagai negara ada perundang-undangan umum dalam kasus memasuki rumah, mempersiapkan keputusan, memotivasi keputusan, penetapati prosedur-prosedur surat keberatan, dan banyak hal lain yang berlaku secara bersamaan dengan semua bagian dari adminstrasi14

Perkembangan perundang-undangan umum memungkinkan pembagian dari hukum adminstrasi umum secara mantap. Memang perundang-undangan umum memungkinkan pembangunan dari hukum admistrasi umum secara mantap. Perundang-undangan selanjutnya pada pembuatan aturan aturan dan

.

14 Philipus. M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Gajah Mada University Press. Jakarta. Tahun 2001. Hal 31.

(26)

yurespedensi, ilmu pengetahuan akan dapat lebih memusatkan diri secara khusus kepada perundang-undangan.

C. Ruang Lingkup Hukum Administrasi Negara

Ruang lingkup Hukum Administrasi Negara dapat dilihat dari segi objek administrasi yang dapat digolongkan dalam tiga golongan yaitu:

1. Administrasi yang berobjek kenegaraan (Public Administration) a. Administrasi Pemerintahan yang dapat dibagi menjadi

(i) Administrasi sipil yaitu seluruh aktivitas yang dilakukan oleh depertemen direktorat. Sub direktorat sampai aktivitas Camat dan Lurah.

(ii) Administrasi Militer (Angkatan Bersenjata) yang terdiri dari:

(1) Administrasi Militer Angkatan Darat (2) Administrasi Militer Angkatan Laut (3) Administrasi Militer Angkatan Udara (4) Administrasi Kepolisian Negara.

b. Administrasi Perusahaan Negara, seluruh aktivitas yang bergerak dibidang perusahaan yang hakekatnya dapat digolongkan berdasarkan gerak usaha untuk produksi, distribusi, transport, banking, asuransi dan sebagainya.

2. Administrasi Yang Berobjek Private / Bisnis (Business/Administration) a. Administrasi Perusahan termasuk didalamnya ialah akitivitas-aktivitas di

bidang prodiiksi,tranport, asuransi banking dan sebagainya yang pada hakekatnya sama dengan ruang gerak dari Administrasi Perusahan Negara.

(27)

b. Administrasi bukan perusahaan (non business) yang termasuk usaha sosial seperti:

(i) Administrasi Perguruan Swasta (ii) Administrasi Rumah Sakit Swasta (iii) Administrasi hotel Swasta

3. Administrasi yang berobjek International (internasional Administrasi)

Yang termasuk ke dalamnya seluruh aktivitas yang bergerak dalam bidang internasional seperti yan telah dilakukan PBB serta cabang-cabangnya UNICEP ILO dan sebagainya, menurut Prajudi Atmosudirjo bahwa untuk keperluan ilmiah, maka ruang lingkup studi hukum administrasi negara meliputi;

1. Hukum tentang dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum daripada administrasi negara.

2. Hukum tentang organisasi dari administrasi Negara

3. Hukum tentang aktivitas-aktivitas dari administrasi negara, terutama yang bersifat yuridis.

4. Hukum tentang sarana-sarana dari administrasi negara terutama mengenai Kepegawaian Negara dan Keuangan Negara

5. Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah dan Wilayah yang dibagi menjadi:

a. Hukum Administrasi Kepegawaian b. Hukum Administrasi Keuangan c. Hukum Administrasi Materil

d. Hukum Administrasi Perusahaan Negara.

(28)

6. Hukum Tentang Peradilan Administrasi Negara15

Peredahan antara hukum administrasi dengan hukum lainnya meliputi :

Jadi terlihat bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan salah satu bagian dari Hukum Administrasi Negara.

D. Kedudukan Hukum Administrasi Negara dalam Lapangan Hukum Hukum Administrasi Negara salah satu cabang atau bagian dari ilmu hukum yang Hukum Administrasi Negara dalam kedudukannya dalam ilmu hukum tidak statis, tetapi berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan ilmu hukum administrasi negara merupakan bahasan khusus mengenai salah satu aspek dari administrasi, yakni bahasan mengenai aspek hukum dari Administrasi Negara.

Ilmu Administrasi Negara sebelum tahun 1946 di dunia perguruan tinggi dianggap kurang begitu penting, sehingga dalam sistematis ilmu hukum, khususnya dalam hukum publik hanya merupakan bagaian dari Hukum Tata Negara dan pemberian kuliah hukum administrasi melepaskan diri dari hukum tata negara, kemudian hukum administrasi negara ini berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu hukum.

Hukum administrasi material terletak di antara hukum privat dan hukum pidana, hukum pidana berisi norma-norma yang begitu penting (esensial) bagi kehidupan masyarakat sehingga penegakkan norma-nonna tersebut tidak diserahkan pada wsata (partikelir) tetapi harus dilakukan oleh penguasa, Hukum privat berisi norma-norma yang penegakkan dapat diserahkan kepada pihak partikelir.

15 Philipus M. Hadjon. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Gajah Mada University Press, Jakarta. Tahun 2001. Hal 31.

(29)

1. Hukum administrasi formal tidak hanya mengenai "Contesius processrecht"

tetapi juga "Non-noncontesius processrecht" (hukum acara sengketa dan hukum acara non sengketa)

2. Dibandingkan dengan hukum perdata dan hukum pidana yang mengenai kodifikasi, hukum administrasi umum tidak memiliki kodifikasi;

3. Tidak ada pemisahan tegas antara hukum tata negara dan hukum administrasi terhadap hukum negara, hukum administrasi merupakan perpanjangan hukum tata negara, disamping sebagai instrumental (instrumenteerecht) juga menetapkan perlindungan hukum terhadap keputusan-keputusan penguasa.

disamping bidang-bidang hukum yang telah diuraikan diatas hukum administrasi juga berhubungan dengan hukum internasional, hubungan antara hukum administrasi dengan hukum internasional tidak lepas dari hakekat hukum administrasi itu sendiri, yakni hubungan antara penguasa dan rakyat.

Penerapan dan pelaksanaan perjanjian-perjanjian internasional oleh penguasa terhadap rakyat akan menyentuh lapangan hukum administrasi karena hukum administrasi negara merupakan "instrumenteelrecht'

4. Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dengan warganya yang didalamnya termasuk Pidana, Hukum Tata Negara dan Hukum Tata Pemerintahan. Pada mulanya, Hukum Administrasi Negara menjadi bagian dari Hukum Tata Negara (HTN), tetapi karena perkembangan masyarakat dan studi hukum dimana ada tuntutan akan munculnya kaidah- kaidah hukum baru dalam studi Hukum Administrasi Negara maka lama kelamaan Hukum Administrasi Negara (HAN) menjadi lapangan studi sendiri, terpisah bahkan mencakup masalah-masalah yang jauh lebih luas dari

(30)

Hukum Tata Negara (HTN). Kecenderungan seperti ini tampak pula pada bagian-bagian tertentu dari HAN itu sendiri, seperti kecenderungan Hukum Pajak yang cenderung untuk menjadi ilmu yang mandiri, terlepas dari Hukum Administrasi Negara (HAN).

Dengan demikian, Hukum Administrasi Negara (HAN) merupakan bagian dari hukum publik karena berisi peraturan yang berkaitan dengan masalah- masalah umum. kepentingan umum yang dimaksud adalah kepentingan nasional, masyarakat dan negara. kepentingan umum harus lebih didahulukan daripada kepentingan individu, golongan dan kepentingan daerah dengan pengertian bahwa kepentingan perseorangan harus dilindungi secara seimbang, sehingga pada akhirnya akan tercapai tujuan negara dan pemerintahan seperti tertera dengan jelas dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi:

"... melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social.

E. Pelaksanaan Hukum Administrasi mengenai Pembinaan Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia

Pada dasarnya dalam pelaksanaan hukum administrasi negara ada beberapa sarana yang biasanya digunakan yaitu berisi pengawasan dan penerapan kewenangan dalam sanksi pemerintahan. Dengan adanya pengawasan organ pemerintahan dapat melaksanakan ketaatan yang berdasarkan pada Undang- Undang yang ditetapkan secara tertulis dan pengawasan terhadap keputusan yang meletakkan kewajiban kepada individu. Dalam suatu Negara Hukum, pengawasan terhadap tindakan pemerintah dimaksudkan agar pemerintah dalam menjalankan aktivitasnya sesuai dengan norma-norma hukum, sebagai suatu upaya preventif,

(31)

dan juga dimaksudkan untuk mengembalikan pada situasi sebelum terjadinya pelangaran norma-norma hukum, sebagai suatu upaya refresif. Disamping itu, yang terpenting adalah bahwa pengawasan ini di upayakan dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi rakyat. Pengawasan segi hukum dan segi kebijakan terhadap tindakan pemerintah dalam Hukum Administrasi Negara adalah dalam rangka memberikan perlindungan bagi rakyat, yang terdiri dari upaya administratif dan peradilan administrasi.

Dalam Hukum Administrasi Negara, penggunaan sanksi administrasi merupakan penerapan kewenangan pemerintah, dimana kewenangan ini berasal dari aturan Hukum Administrasi Negara tertulis dan tidak tertulis. Pada umumnya, kewenangan tersebut diberikan pemerintah untuk menetapkan norma-norma Hukum Administrasi Negara yang biasanya dilaksanakan oleh pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mampu bertindak tegas dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Kepolisian negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum, Kepolisian Negara Republik Indonesia biasanya harus dibekali oleh pembinaan profesi agar memudahkan dalam menjalankan pekerjaannya, setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus memiliki kemampuan profesi (pasal 31 UU No, 2 Tahun 2016). Pentingnya pembinaan profesi dinilai dapat menjadikan Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai aparatur penegak hukum yang disiplin serta lebih mengandalkan profesionalismenya dalam menegakkan hukum dan melindungi serta mengayomi masyaraka, hal ini dapat dilihat pada Undang-Undang No 2 Tahun 2016 pada Bab V tentang pembinaan

(32)

profesi mengatakan bahwa pembinaan kemampuan profesi pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetauan serta pengalamannya dibidang teknis kepolisian melalui pendidikan, pelatihan dan penugasan secara berjenjang dan berlanjut (pasal 32 ayat (1)).

Guna menunjang pembinaan profesi tersebut maka perlu dilakukan pengkajian penelitian serta pengembangan ilmu dan teknologi Kepolisian.

masyarakat yang cenderung melakukan pelanggaran hukum dan Hak Azasi Manusia melalui tindakan kejahatan serta main hakim sendiri tentu oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia harus dihadapi dengan tindakan bertahap mulai dari sikap preventif hingga dalam situasi dan kondisi tertentu dilakukan tindakan tegas dan keras, ketegangan antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan masyarakat merupakan yang lumrah karena Kepolisian Negara Republik Indonesia selaku penegak hukum dalam tugas pokok dan wewenangnya berada dan selalu berhadapan langsung dengan masyarakat sehingga keadaan hal tersebut sering muncul, terlebih anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bertugas dilapangan dimana pekerjaaan tersebut sangat melelahkan pikiran dan fisik.

Disamping itu pemahaman bahwa anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menghadapi masyarakat dalam berbagai variasi perilaku dan kepentingnya itu keberadaan insfranstruktur yang terbatas, sehingga perwujudan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang merupakan harapan masyarakat masih perlu waktu yang panjang untuk merealisasikannya, kebutuhan pembinaan profesi pada seluruh anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam

(33)

mengemban fungsi dan perannya karena dengan pembinaan profesi tersebut dapat mengurangi polemik-polemik yang beredar dimasyarakat, dan sebagai pedoman paradigma Kepolisian Negara Republik Indonesia kearah yang lebih baik dan sebagai landasan pembinaan Profesi Kepolisan tersebut perlu adanya Kode Etik Profesi yaitu Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang tertuang dalam pasal 34 dan 35 UU No 2 Tahun 2016 hal ini sangat diperlukan dalam menjalankan fungsi dan peranannya di masyarakat.

Pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia oleh pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia diselesaikan oleh Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia (pasal 35 ayat (1)) cukup jelas apabila ada anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang melanggar kode etik profesi maka akan diberikan sanksi atas perbuatannya karena dinilai tidak dapat menjalankan fungsi dan peranannya dengan baik dan secara tepat kata "polisi" mendapat arti yang kini digunakan, sulit dipastikan namun demikian, perkembangan sebagimana dicatat di inggris, yang dicatat penggunaan kata "police" sebagai kata kerja yang berarti "memerintah" dan "mengawasi"

(sekitar tahun 1589).

Selanjutnya sebagai kata benda diartikan "pengawasan", yang kemudian meluas dan menunjukkan "organisasi yang menangani pengawasan dan pengamanan" (tahun 1716).

(34)

BAB III

HAMBATAN DAN SOLUSI PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA DALAM PEMBINAAN PROFESI DI NEGARA RI

A. Sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia

Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah sebuah lembaga dibawah Departemen Pertahanan dan Keamanan dan bertanggung jawab kepada pemerintahan yang syah dan yang memerintah ditempat Kepolisian itu berada.

Kepolisian di Indonesia sudah ada sewaktu bangsa Indonesia masih di jajah oleh bangsa Belanda dimana Kepolisian berada dibawah pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 1 juli 1946 Kepolisian Negara Republik Indonesia di syahkan oleh Soekarno selaku Presiden pada masa itu.

Sebelum Tahun 1973 Kepolisian sangat berperan dalam menangani setiap permasalahan yang timbul pada masyarakat Indonesia, dimana pihak Kepolisian berperan dalam setiap line kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada Tahun 1973 tepatnya pada tanggal 1 Juli Kepolisian digabungkan dengan Militer dengan sebutan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dibawah pemerintahan Jenderal TNI Soeharto yang mempersempit ruang lingkup Kepolisian itu sendiri. Peraturan perundang-undangan yang menjadi pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia pertama kali yaitu Undang-Undang Nomor 13 tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kepolisian Negara yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 1997 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 28 tahun 1997 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia telah memuat pokok-pokok mengenai tujuan, kedudukan,

(35)

peranan dan tugas serta Pembinaan Profesionalisme Kepolisian, tetapi rumusan ketentuan yang tercantum di dalamnya masih mengacu kepada Undang-Undang nomor 20 tahun 1982 tentang ketentuan ketentuan pokok pertahanan Negara Republik Indonesia sehingga watak militernya masih terasa dominan yang gilirannya berpengaruh pula kepada sikap perilaku pejabat Kepolisian dalam pelaksanaan tugasnya dilapangan.

Oleh karena itu Undang-Undang ini diharapkan dapat memberikan penegasan watak Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Tri Brata dan Catur Prasetia sebagai sumber nilai Kode Etik Kepolisian yang mengalir dari falsafah Pancasila, setelah perjuangan yang terasa panjang dan akhirnya Kepolisian Lepas dari ABRI yang ditandai dengan adanya TAP MPR NO: V/MPR/2000 pada tanggal 18 Agustus 2000 yang dituangkan dalam pasal 2 dan 3 pada sidang umum MPR, beranjak dari hal ini Kepolisian mengadakan pendewasaan diri dan dituntut untuk lebih profesional lagi, hal ini dapat dilihat dengan Undang -Undang Kepolisian Negara Indonesia Nomor 2 Tahun 2016 yang mengatur tentang keprofesionalisme dari Kepolisian Negara Republik Indonesia itu sendiri.

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 amandemen kedua. Ketetapan MPR RI Nomor : VI / MPR / 2000 dan ketetapan MPR RI No.VII/MPR/2000 keamanan negeri dirumuskan sebagai format tujuan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan secara konsisten dinyatakan dalam perencanaan tugas pokok yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta melindungi mengayomi dan melayani masyarakat, namun dalam penyelenggaraan fungsi Kepolisian Negara

(36)

Republik Indonesia secara fungsional dibantu oleh Polisi Khusus Penyidik Pegawai Negeri Sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa melalui pengembangan asas subsidaritas dan asas partisipasi.

Perkembangan kemajuan masyarakat yang cukup pesat seiring dengan merebaknya supermasi hukum. Hak Azasi Manusia, Globalisasi, Demokratisasi, Desentralisasi, Transparansi dan Akuntabilitasi, telah melahirkan paradigma- paradigma baru dalam melihat tujuan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab, dan tumbuhnya berbagai tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia yang makin meningkat dan lebih berorientasi kepada masyarakat yang dilayaninya.

B. Pengertian Kepolisian Negara Republik Indonesia

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan salah satu penegak hukum yang mempunyai Fungsi, Tugas, Kedudukan dan Etika Kepolisian guna menunjang supermasi hukum penegakan Hak azasi manusia serta menciptakan keamanan bangsa dan bernegara. menurut ketetapan MPR Nomor:VII/MPR/2000 Bab II Tentang Peranan Kepolisian Negara Republik Indonesia menjelaskan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (pasal 6 ayat (1)) dan dalam menjalankan peranannya, Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib memiliki keahlian dan ketrampilan profesional.

Kepolisian Negara Republik Indonesia berada dibawah pengawasan presiden dan bertanggung jawab kepada presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahaan Kepolisian adalah suatu instansi penegak hukum yang menjaga

(37)

kestabilan dan keamanan bermasyarakat, dalam menjalankan tugasnya diperlukan profesinalisine, agar tercapai tujuan-tujuannya sesuai dengan pedoman Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dikenal dengn istila "Tri Brata dan Catur Prasetia" yang mengalir dari falsafah Pancasila.

Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) merupakan suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselanggaranya pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai dengan terjaminnya keamanan ketertiban dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketrentaman, yang mengandung kemampuan membinaan serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal mencegah dan menanggulangi segala bentuk-bentuk gangguan lainnya yang meresakan masyarakat, merupakan tanggung jawab Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dan harus lebih profesional dalam melakukan tindakan tanpa melanggar kode etik Polri dan diharapkan sebagai panutan bagi masyarakat.

Demikian juga mengenai pembinaan profesi Polri, sejak diberlakukan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2016, secara gradual telah dilakukan perbaikan, melalui berbagai kebijakan yang dituangkan dalam berbagai perangkat lunak, seperti Kode Etik Polri dan Komisi Kode Etik Polri, termasuk pengaturan Peraturan Pemerintah tentang Pemberhentian Anggota Polri, Peraturan Pemerintah tentang Pelanggaran Disiplin dan Peraturan Pemerintah tentang Penyelesaian Pelanggaran Pidana yang dilakukan oleh Polri. Anggota Polri yang melakukan satu perbuatan pelanggaran dapat dikenakan tiga tindakan sekaligus apakah diterapkan pelanggaran disiplin, kemudian penyelesaian pelanggaran kode

(38)

etik melalui Sidang Komisi Kode Etik, dan melalui Peradilan Umum apabila dianggap melakukan suatu perbuatan pidana.

Pekerjaan polisi yang berhadapan langsung dengan masyarakat itu berkualitas penuh, sehingga tidak hanya bisa dikatakan, bahwa mereka berhadapan dengan rakyat, melainkan lebih dari itu; berada ditenggah-tenggah rakyat. Polisi juga disebut-sebut sebagai melakukan jenis pekerjaan yang tidak sederhana, yaitu melakukan pembinaan dan sekaligus pendisiplinan masyarakat, keduanya memiliki ciri-ciri yang berbeda sekali yang disatu pihak bisa bisa dilambangkan dalam bentuk "pistol dan borgol", sedang dilain pihak mempolisi masyarakat "dengan hati" atau "setangkai berbagai alasan memang bisa dikemukakan untuk mencoba menjelaskan mengapa begitu besar perhatian masyarakat terhadap polisinya, mungkin karena ketertiban, keamanan dan ketentraman merupakan hal-hal yang sangat merisaukan masyarakat, sedang polisilah yang bertugas untuk menanganinya. Hal tersebut mungkin juga disebabkan karena polisi merupakan birokrasi yang bekerja dan secara langsung ditenggah-tenggah masyarakat, sehingga resiko bagi terjadinya pergeseran dan pembenturan dengan masyarakat juga menjadi tinggi karena begitu dekatnya polisi dengan masyarakat, maka masyarakat pun banyak harapan kepada polisinya, sehingga demikian kinerja polisi pun banyak mendapat perhatian.

Sebagai bahan untuk meningkatkan diri, citra polisi harus diperjelas dengan alasan yang menyertai citra tersebut. Citra polisi bisa terbentuk setidaknya melalui dua pandangan yaitu pandangan obyektif dan subyektif. Secara obyektif masih ada kekurangan-kekurangan pada polisi, misalnya kekurangan personil anggaran dan sarana prasarana namun kondisi obyektif Polisi saat ini bisa

(39)

dipersepsikan berbeda-beda menurut pihak yang menilai. Masyarakat bisa memandang polisi berdasar standar, nilai, latar belakang dan pengalaman mereka.

Pandangan subyektif ini berkembang terus dimasyarakat.

Salah satu tantangan yang dihadapi polisi dalam pelaksanaan tugas kesehariannya adalah adanya kesenjangan masyarakat atas tugas-tugas polisi seharusnya dengan kenyataan yang terjadi ditenggah-tenggah masyarakat, untuk mencapai pelaksanaan tugas Kepolisian tersebut, polisi melakukan sejumlah tindakan-tidakan sesuai tugas dan wewenang yang diberikan dalam pengertian bahwa Kepolisian harus menjalankan tugas dan wewenangnya setiap waktu meliputi: Pelayanan Masyarakat, Menjaga Ketertiban dan Keamanan serta Penegakan Hukum.

Profesionalisme polisi dapat tumbuh melalui peningkatan standar profesi yang tinggi dan tugas profesi sebagai panutan sadar hukum serta perilaku sesuai dengan hukum yang dicetuskan mulai dari sistem "recruitmen and training"

kepolisian sesuai dengan tuntutan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Adalah mustahil untuk mewujudkan penampilan kerja polisi dalam bentuk yang ideal, yang dapat dilakukan, baik oleh pimpinan polri maupun unsur-unsur lain dimasyarakat, adalah mempersempit jarak antara identitas tersebut dengan realitas yang hidup dewasa ini. Makin sempit atau lebih lebar jaraknya, antara lain dapat diukur lewat berbagai respon masyarakat terhadap penampilan kerja anggota- anggota polri.

Pandangan diatas sesungguhnya kurang menggambarkan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam tubuh Kepolisian khususnya Kepolisian Polda Sumatera Resort kota Medan, dapat disebut bahwa kepolisian telah terjadi

(40)

pergeseran yang makin terasa kuat dari polisi sebagai "Pemburu Kejahatan"

kepada polisi yang menjalankan “pekerjaan sosial". Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak hanya mengandung isi sosial biasa, melainkan juga ekonomi, politik dan kebudayaan.

Kedudukan Polri yang berbeda ditengah-tengah masyarakat akan dapat mempengaruhi kinerjanya dalam pelaksanaan tugasnya dalam ilmu sosial dan semacam konsep stigmatis yang mengatakan, bahwa lembaga-lembaga dalam suatu masyarakat akan membawa ciri masyarakat bersangkutan, konsep tersebut lain dituangkan kedalam rumus, "bagaimana masyrakatnya, begitu pula lembaganya". Dengan demikian bisa dikatakan juga, bahwa masyarakat akan mempunyai lembaga-lembaganya yang berkualitas sama dengan kualitas masyarakat itu sendiri.

Harapan masyarakat terhadap kepolisian itu sebenarnya hanya dua hal : Pertama, mereka membutuhkan keamanan dan perlindungan Polri secara maksimal baik atas dirinya, maupun keluarganya dan harta bendanya; kedua, mereka menginginkan pelayanan yang lebih baik dari Polri, dari kondisi mekanisme penegakan hukum dengan berbagai kendalanya bukan saja membuat mekanisme penegakan hukum menjadi tak sesuai yang diharapkan, lebih dari itu adalah munculnya berbagai keluhan masyarakat tentang pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian. berbagai keluhan masyarakat (public complint) tersebut antara lain adalah : polisi lalulintas yang kerap terlambat hadir di jalan yang macet, atau anggota satuan bhayangkara (Sabhara) yang meminta "salam tempel" dari kendaraan-kendaraan angkutan, adalah salah satu citra polisi yang tertanam dibenak masyarakat, contoh lain, adalah sikap anggota reserse yang ogah-ogahan

(41)

dalam menuntaskan kasus, atau petugas binmas yang "asal sudah selesai" saat memberi penyuluhan, mau tak mau juga masih merupakan gambaran yang dipersepsikan oleh masayrakat tentang pribadi polisi dan organisasi Kepolisian dewasa ini.

Salah satu tantangan yang dihadapi polisi dalam pelaksanaan tugas kesehariannya adalah adanya kesenjangan masyarakat atas tugas-tugas polisi seharusnya dengan kenyataan yang terjadi ditenggah-tenggah masyarakat. untuk mencapai pelaksanaan tugas kepolisian tersebut, polisi melakukan sejumlah tindakan-tidakan sesuai tugas dan wewenang yang diberikan dalam pengertian bahwa kepolisian harus menjalankan tugas dan wewenangnya setiap waktu meliputi: pelayanan masyarakat, menjaga ketertiban dan keamanan serta penegakan hukum, profesionalisme polisi dapat tumbuh melalui peningkatan standar profesi yang tinggi dan tugas profesi sebagai panutan sadar hukum serta prilaku sesuai dengan hukum yang dicetuskan mulai dari sistem "recruitmen and training" kepolisian sesuai dengan tuntutan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.

C. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia

Di Indonesia, istilah polisi digunakan dalam pengertian "organisasi pengamanan" pada abad ke-19 dalam interregum Inggris dari 1811-1817 wilayah Indonesia saat itu merupakan bagian dari wilayah yang dipimpin "bupati" masing- masing diserahi tugas pengamanan tetib hukum dan polisi bertanggungjawab pada bupati setempat itu.

Dari kata "polisi" tersebut. Kemudian para cendikiawan Kepolisian menyimpulkan bahwa terdapat 3 pengertian, yaitu :

(42)

1) Polisi sebagai fungsi,

2) Polisi sebagai organ kenegaraan dan

3) Polisi sebagai jabatan atau petugas. Yang banyak disebut sehari-hari adalah pengertian polisi sebagai pejabat atau petugas tiga pengertian kata polisi tersebut, kadang dicampur adukkan oleh masyarakat, yang seharusnya diartikan sesuai dengan konteks yang menyertai. Oleh karena itu timbul penilaian yang sebenarnya untuk individu (pejabat) tetapi diartikan sebagai tindakan suatu lembaga (alat negara)

Visi, Misi, Tugas dan Wewenang Serta Fungsi Kepolisian Republik Indonesia

1. Visi dan Misi Kepolisian Republik Indonesia

Berdasarkan Undang-undang Kepolisian Nomor 2 tahun 2016, visi Polri adalah "Polri yang mampu menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, serta sebagai aparat penegak hukum yang profesional dan proporsional yang selalu menjunjung tinggi hak azasi manusia, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, serta mewujudkan keamanan dalam negeri dalam suatu kehidupan nasional yang demokratis dan masyarakat yang sejahetera".

Sedangkan Misi Polri yaitu:

1. Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyrakat (meliputi aspek security, surety, safety, and peace)

2. Memberi bimbingan kepada masyarakat melalui upaya Pre-emtif dan Preventif yang dapat meningkatkan kesadaran dan kekuatan hukum masyarakat.

(43)

3. Menegakkan hukum secara profesional dan proposional dengan menjunjung tinggi supermasi hukum dan hak azasi manusia menuju kepada adanya kepastian hukum dan rasa keadilan.

4. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan tetap memperlihatkan norma-norma dan nilai yang berlaku dalam bingkai integritas wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari gambaran Visi dan Misi Polri diatas dapat kita ketahui bahwa dewasa ini orientasi pelaksanaan tugas Polri adalah memberi perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat.

2. Tugas, Wewenang dan Fungsi Kepolisian Republik Indonesia

Undang-undang No. 20 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertahanan keamanan Negara Republik Indonesia, pasal 30 ayat (4) merumuskan Tugas Pokok Polri sebagai berikut:

a) Selaku alat Negara penegak hukum memelihara serta meningkatkan tertib hukum dan bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan keamanan negara lainnya membina ketentraman masyarakat dalam wilayah Negara guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.

b) Melaksanankan tugas Kepolisian selaku pengayom dalam memberikan perlindungan dalam pelayanan kepada masyarakat bagi tegaknya ketentuan peraturan perundang-undangan.

c) Membimbing masyarakat bagi terciptanya kondisi yang menunjang terselenggaranya usaha dan kegiatan sebagaimana dihuruf a dan huruf b ayat (4) pasal ini.

(44)

Dalam Undang-undang Kepolisian No. 2 tahun 2016, tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: Pertama, Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, kedua, menegakkan hukum, dan ketiga, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Masih ada pasal lain yang menjabarkan tugas pokok Polri yaitu tercantum pada penjelasan pasal 39 ayat (2) UU no. 20 Tahun 1982, yaitu:

1. Mengusahakan ketaatan diri dan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan

2. Melaksanakan penyidikan perkara berdasarkan peraturan perundang- undangan

3. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat dan aliran kepercayaan yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa

4. Memelihara keselamatan jiwa raga, harta benda dan lingkungan alam dari gangguan ketertiban atau bencana, termasuk memberikan perlindungan dan pertolongan, yang dalam pelaksanaannya wajib menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, hukum dan peraturan perundang-undangan.

5. Menyelenggarakan kerjasama dan koordinasi dengan instansi, badan atau lembaga yang bersangkutan dengan fungsi dan tugasnya.

6. Dalam keadaan darurat, bersama-sama segenap komponen. Kekuasaan pertahanan keamanan negara melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam Undang-undang Kepolisian No. 2 tahun 2016, tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: Pertama, memelihara keamanan

(45)

dan ketertiban masyarakat, Kedua, Menegakkan hukum dan Ketiga, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Dari uraian tugas di atas, pada hakekatnya tugas pokok Polri adalah menegakkan hukum, membina keamanan dan ketertiban masyarakat serta pelayanan dan pengayom masyarakat. Penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang saat ini berada di bawah presiden (pasal 8 ayal (1) UU No 2 tahun 2016) sangatlah strategis dimana kemandirian Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk membangun institusi internal menjadi begitu otonom dimana kedudukan dan pengangkatan Kapolri harus melalui persetujuan DPR (pasal 11 ayat (1) UU Nomor 2 Tahun 2016) ketentuan ini sangat lah demokratis dimana Kapolri dalam tidak semata-mata dipilih saja akan tetapi melalui seleksi wakil rakyat sehingga pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan manifestasi pilihan rakyat dengan demikian Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan segala keberadaan dan kemampuannya mengharapkan evaluasi masyarakat agar dapat menjadi lebih baik dan memenuhi harapan masyarakat.

Peran Kapolri selaku pimpinan tertinggi (pasal 10 UU NO 2/ 2016 ) juga sangat penting dalam kelembagaan Kepolisian Negera Republik Indonesia hal ini dimaksudkan karena Kapolri sangat diharapkan berperan memberikan pemahaman kepada anggota akan penting nya perubahan diri (revolusi mental) bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang kaitannya terhadap kepentingan masyarakat.

Dalam upaya penegakkan hukum atas kejahatan akibat globalisasi (kejahatan ekonomi, perdagangan anak dan perempuan) serta perbaikan jati diri Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai bagian dari masyarakat. Anggota

(46)

Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah pegawai negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia (pasal 1 point 2 UU Nomor 2 Tahun 2016) sedangkan pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Undang-Undang memiliki wewenangan umum Kepolisian.

Secara sektoral tugas pelayanan Polri kepada masyarakat dapat dikelompokkan ke dalam struktur fungsi-fungsi sebagai berikut:

(a) Fungsi Intelpam

1. Upaya pengamanan masyarakat terhadap segala bentuk ancaman untuk menghilangkan kerawanan-kerawanan Kamtibmas

2. Upaya pengamanan, pengawasan, perlindungan dan penindakan terhadap orang asing

3. Penyidikan terhadap kasus-kasus pelanggaran ketentuan perundang- undangan tentang orang asing

4. Pengamanan dan pengawasan perizinan senjata api, amunisi dan bahan peledak serta alat/bahan berbahaya lainnya

5. Penyelidikan terhadap penyimpan/penimbunan, penggunaan, pemindahan tangan senjata api, amunisi dan bahan peledak serta alat/bahan berbahaya lainnya termasuk radio aktif yang bukan organik ABRI,

6. Upaya pengamanan atau pengawasan kegiatan masyarakat.

(b) Fungsi Serse

1. Menerima laporan/pengaduan 2. Mendatangi TKP

3. Melakukan penindakan dan penyeledikan (c) Fungsi Samapta

(47)

1. Menyelenggarakan dan melaksanakan tugas-tugas penjagaan, pengawalan, patroli dan tindakan pertama ditempat kejadian (TPTKP)

2. Memberikan pertolongan dalam rangka SAR (d) Fungsi Lantas

1. Surat Izin Mengemudi,

2. Surat Tanda Kendaraan bermotor, 3. Buku Pemilik kendaraan Bermotor, 4. Menyelenggarakan pengawalan, 5. Menangani laka lintas,

6. Menyelenggarakan peraturan lalu lintas.

(e) Fungsi Bimmas

1. Membimbing, mendorong, mengarahkan dan menggerakkan, masyarakat guna terwujudnya daya tangkal dan daya cegah,

2. Tumbuhnya daya perlawanan masyarakat terhadap kriminalitas serta terwujudnya ketaatan serta kesadaran hukum masyarakat,

3. Pembinaan potensi masyarakat untuk memelihara dan menciptakan situasi dan kondisi masyarakat yang menguntungkan bagi pelaksanaan tugas kepolisian serta mencegah timbul faktor kriminogen,

4. Pembinaan keamanan swakarsa,

5. Menyelenggarakan dan memberikan bimbingan dan penyuluhan,

6. Pembinaan dan bimbingan terhadap remaja dan anak-anak, kenakalan remaja.

(f) Fungsi Pembinaan Personnel

(48)

Fungsi ini dimasukkan ke dalam tugas-tugas pelayanan masyarakat mengingat dalam kenyataan sehari-harinya juga melayani para Purnawirawan, warakauri dan sebagian kelompok pemuda dalam rangka:

1. Penerimaan dan seleksi personel baru,

2. Administrasi pengakhiran dinas termasuk pembinaan administrasi purnawirawan/warakauri dan yatim piatu keluarga besar Polri.

Pola rekruitmen anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia juga perlu mendapat perhatian khusus, dimana pola rekruitmen yang Trasparan Akuntabel dan Profesional akan membawa implikasi pada kepercayaan masyarakat yang mengharapkan sosok anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berkualitas.

Syarat umum untuk menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tercantum dalam pasal 21 ayat (1) UU No 2 Tahun 2016 yang berbunyi

"Untuk diangkat menjadi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia seseorang hams memenuhi persyaratan sekurang kurangnya sebagai berikut" : a. Warga Negara Indonesia

b. Beriman Dan Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa

c. Setia kepada negara kesatuan republik Indonesia berdasarkan pancasila dan Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

d. Berpendidikan paling renda sekolah menengah umum atau yang sederajat.

e. Berumur paling rendah 18 (delapan belas) tahun.

f. Sehat jasmani dan rohani

g. Tidak pernah dipidana karena melakukan kejahatan.

h. Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan

(49)

i. Lulus pendidikan dan pelatihan pembentukan anggota kepolisian16

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia menjalani dinas keanggotaan dengan ikatan dinas (suatu kewajiban b pasal 24 ay at (1) UU No 2/2016 yang dimaksud "menjalani ikatan dinas" adalah suatu kewajiban bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk bekerja di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia selama kurun waktu tertentu mengaplikasikan Ilmu Pengetahuan Kepolisian yang di peroleh dari Lembaga Pendidikan, Pembentukan Anggota Kepolisian Negara Republik Indoensia melalui pengabdiannya kepada bangsa dan negara republik indonesia dengan patuh dan taat menjalankan pekerjaannya17

Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai lembaga atau institusi penegak hukum yang memiliki kewenangan yang demikian luas diharapkan juga dapat menjadi agen perubahan bagi perwujudan masyarakat yang taat hukum dan tetap tegas dan tanpa diskriminatif secara tegas dan keras dalam penegakan hukum atas setiap kejahatan dan pelanggaran hukum, Kepolisian Negara Republik

.

Pemahaman setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia akan pengetahuan ilmu hukum dan ilmu-ilmu sosial lainnya juga sangat penting sehingga anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas pokoknya dapat meminimalkan akses-akses negatif dan lebih mengedepankan prosedur hukum. Setiap anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diberi pangkat yang mencerminkan peran, fungsi, dan kemampuan, serta sebagai keabsaan wewenang dan tanggung jawab dalam penugasannya (pasal 25 ayat (1) UU Nomor 2 tahun 2016)

16 Kepolisian Negara Republik Indonesia (Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2016) CV.

Eko Jaya. Jakarta. Tahun 2002. Hal 2.

17 Ibid hal 55

Gambar

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Polresta Medan
Gambar 4.2 Stuktur Organisasi Sie Propam Polresta Medan

Referensi

Dokumen terkait

Majelis hakim dalam persidangan sudah mendengarkan keterangan terdakwa, saksi- saksi, Jaksa Penuntut Umum dan telah memperhatikan beberapa hal yang memberatkan dan

publik yang ada dalam instansi atau perusahaan tersebut. Sudah tentu suasana di dalam badan atau perusahaan itu sendiri yang menjadi target internal Public Relations ,

Strategi Konservasi Ekosistem Mangrove Desa Mangega dan Desa Bajo sebagai Destinasi Ekowisata di Kabupaten Kepulauan Sula.. Prodi Perencanaan Wilayah & Kota

PERINGKAT AKREDITASI    KESEIMBANGAN ANTARA FOKUS PENILAIAN KE-LAYAKAN DAN KINERJA SEKOLAH/MADRASAH KESEIMBANGAN ANTARA PENILAIAN INTERNAL DAN EKSTERNAL KESEIMBANGAN HASIL

maka dengan ini kami tetapkan Pemenang Pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Puskesmas Sukamerindu pada lingkungan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma adalah sebagai berikut

[r]

Tetapi ketika hujan datang mengguyur, beliau merasa sedih karena menjadi tidak laku dan sepi pelanggan, sehingga mengurangi pendapatannya.Selain itu, hal yang ditakutkan

Data nilai sensor- sensor tersebut kemudian dibungkus oleh sistem benam yang terdapat pada Arduino Uno untuk dikirim ke web server menggunakan Arduino