BAB II PELAKSANAAN HUKUM ADMINISTRASI
B. Pengertian Kepolisian Negara Republik Indonesia
Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan salah satu penegak hukum yang mempunyai Fungsi, Tugas, Kedudukan dan Etika Kepolisian guna menunjang supermasi hukum penegakan Hak azasi manusia serta menciptakan keamanan bangsa dan bernegara. menurut ketetapan MPR Nomor:VII/MPR/2000 Bab II Tentang Peranan Kepolisian Negara Republik Indonesia menjelaskan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (pasal 6 ayat (1)) dan dalam menjalankan peranannya, Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib memiliki keahlian dan ketrampilan profesional.
Kepolisian Negara Republik Indonesia berada dibawah pengawasan presiden dan bertanggung jawab kepada presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahaan Kepolisian adalah suatu instansi penegak hukum yang menjaga
kestabilan dan keamanan bermasyarakat, dalam menjalankan tugasnya diperlukan profesinalisine, agar tercapai tujuan-tujuannya sesuai dengan pedoman Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dikenal dengn istila "Tri Brata dan Catur Prasetia" yang mengalir dari falsafah Pancasila.
Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) merupakan suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselanggaranya pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai dengan terjaminnya keamanan ketertiban dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketrentaman, yang mengandung kemampuan membinaan serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal mencegah dan menanggulangi segala bentuk-bentuk gangguan lainnya yang meresakan masyarakat, merupakan tanggung jawab Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dan harus lebih profesional dalam melakukan tindakan tanpa melanggar kode etik Polri dan diharapkan sebagai panutan bagi masyarakat.
Demikian juga mengenai pembinaan profesi Polri, sejak diberlakukan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2016, secara gradual telah dilakukan perbaikan, melalui berbagai kebijakan yang dituangkan dalam berbagai perangkat lunak, seperti Kode Etik Polri dan Komisi Kode Etik Polri, termasuk pengaturan Peraturan Pemerintah tentang Pemberhentian Anggota Polri, Peraturan Pemerintah tentang Pelanggaran Disiplin dan Peraturan Pemerintah tentang Penyelesaian Pelanggaran Pidana yang dilakukan oleh Polri. Anggota Polri yang melakukan satu perbuatan pelanggaran dapat dikenakan tiga tindakan sekaligus apakah diterapkan pelanggaran disiplin, kemudian penyelesaian pelanggaran kode
etik melalui Sidang Komisi Kode Etik, dan melalui Peradilan Umum apabila dianggap melakukan suatu perbuatan pidana.
Pekerjaan polisi yang berhadapan langsung dengan masyarakat itu berkualitas penuh, sehingga tidak hanya bisa dikatakan, bahwa mereka berhadapan dengan rakyat, melainkan lebih dari itu; berada ditenggah-tenggah rakyat. Polisi juga disebut-sebut sebagai melakukan jenis pekerjaan yang tidak sederhana, yaitu melakukan pembinaan dan sekaligus pendisiplinan masyarakat, keduanya memiliki ciri-ciri yang berbeda sekali yang disatu pihak bisa bisa dilambangkan dalam bentuk "pistol dan borgol", sedang dilain pihak mempolisi masyarakat "dengan hati" atau "setangkai berbagai alasan memang bisa dikemukakan untuk mencoba menjelaskan mengapa begitu besar perhatian masyarakat terhadap polisinya, mungkin karena ketertiban, keamanan dan ketentraman merupakan hal-hal yang sangat merisaukan masyarakat, sedang polisilah yang bertugas untuk menanganinya. Hal tersebut mungkin juga disebabkan karena polisi merupakan birokrasi yang bekerja dan secara langsung ditenggah-tenggah masyarakat, sehingga resiko bagi terjadinya pergeseran dan pembenturan dengan masyarakat juga menjadi tinggi karena begitu dekatnya polisi dengan masyarakat, maka masyarakat pun banyak harapan kepada polisinya, sehingga demikian kinerja polisi pun banyak mendapat perhatian.
Sebagai bahan untuk meningkatkan diri, citra polisi harus diperjelas dengan alasan yang menyertai citra tersebut. Citra polisi bisa terbentuk setidaknya melalui dua pandangan yaitu pandangan obyektif dan subyektif. Secara obyektif masih ada kekurangan-kekurangan pada polisi, misalnya kekurangan personil anggaran dan sarana prasarana namun kondisi obyektif Polisi saat ini bisa
dipersepsikan berbeda-beda menurut pihak yang menilai. Masyarakat bisa memandang polisi berdasar standar, nilai, latar belakang dan pengalaman mereka.
Pandangan subyektif ini berkembang terus dimasyarakat.
Salah satu tantangan yang dihadapi polisi dalam pelaksanaan tugas kesehariannya adalah adanya kesenjangan masyarakat atas tugas-tugas polisi seharusnya dengan kenyataan yang terjadi ditenggah-tenggah masyarakat, untuk mencapai pelaksanaan tugas Kepolisian tersebut, polisi melakukan sejumlah tindakan-tidakan sesuai tugas dan wewenang yang diberikan dalam pengertian bahwa Kepolisian harus menjalankan tugas dan wewenangnya setiap waktu meliputi: Pelayanan Masyarakat, Menjaga Ketertiban dan Keamanan serta Penegakan Hukum.
Profesionalisme polisi dapat tumbuh melalui peningkatan standar profesi yang tinggi dan tugas profesi sebagai panutan sadar hukum serta perilaku sesuai dengan hukum yang dicetuskan mulai dari sistem "recruitmen and training"
kepolisian sesuai dengan tuntutan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Adalah mustahil untuk mewujudkan penampilan kerja polisi dalam bentuk yang ideal, yang dapat dilakukan, baik oleh pimpinan polri maupun unsur-unsur lain dimasyarakat, adalah mempersempit jarak antara identitas tersebut dengan realitas yang hidup dewasa ini. Makin sempit atau lebih lebar jaraknya, antara lain dapat diukur lewat berbagai respon masyarakat terhadap penampilan kerja anggota-anggota polri.
Pandangan diatas sesungguhnya kurang menggambarkan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam tubuh Kepolisian khususnya Kepolisian Polda Sumatera Resort kota Medan, dapat disebut bahwa kepolisian telah terjadi
pergeseran yang makin terasa kuat dari polisi sebagai "Pemburu Kejahatan"
kepada polisi yang menjalankan “pekerjaan sosial". Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak hanya mengandung isi sosial biasa, melainkan juga ekonomi, politik dan kebudayaan.
Kedudukan Polri yang berbeda ditengah-tengah masyarakat akan dapat mempengaruhi kinerjanya dalam pelaksanaan tugasnya dalam ilmu sosial dan semacam konsep stigmatis yang mengatakan, bahwa lembaga-lembaga dalam suatu masyarakat akan membawa ciri masyarakat bersangkutan, konsep tersebut lain dituangkan kedalam rumus, "bagaimana masyrakatnya, begitu pula lembaganya". Dengan demikian bisa dikatakan juga, bahwa masyarakat akan mempunyai lembaga-lembaganya yang berkualitas sama dengan kualitas masyarakat itu sendiri.
Harapan masyarakat terhadap kepolisian itu sebenarnya hanya dua hal : Pertama, mereka membutuhkan keamanan dan perlindungan Polri secara maksimal baik atas dirinya, maupun keluarganya dan harta bendanya; kedua, mereka menginginkan pelayanan yang lebih baik dari Polri, dari kondisi mekanisme penegakan hukum dengan berbagai kendalanya bukan saja membuat mekanisme penegakan hukum menjadi tak sesuai yang diharapkan, lebih dari itu adalah munculnya berbagai keluhan masyarakat tentang pelaksanaan tugas dan fungsi kepolisian. berbagai keluhan masyarakat (public complint) tersebut antara lain adalah : polisi lalulintas yang kerap terlambat hadir di jalan yang macet, atau anggota satuan bhayangkara (Sabhara) yang meminta "salam tempel" dari kendaraan-kendaraan angkutan, adalah salah satu citra polisi yang tertanam dibenak masyarakat, contoh lain, adalah sikap anggota reserse yang ogah-ogahan
dalam menuntaskan kasus, atau petugas binmas yang "asal sudah selesai" saat memberi penyuluhan, mau tak mau juga masih merupakan gambaran yang dipersepsikan oleh masayrakat tentang pribadi polisi dan organisasi Kepolisian dewasa ini.
Salah satu tantangan yang dihadapi polisi dalam pelaksanaan tugas kesehariannya adalah adanya kesenjangan masyarakat atas tugas-tugas polisi seharusnya dengan kenyataan yang terjadi ditenggah-tenggah masyarakat. untuk mencapai pelaksanaan tugas kepolisian tersebut, polisi melakukan sejumlah tindakan-tidakan sesuai tugas dan wewenang yang diberikan dalam pengertian bahwa kepolisian harus menjalankan tugas dan wewenangnya setiap waktu meliputi: pelayanan masyarakat, menjaga ketertiban dan keamanan serta penegakan hukum, profesionalisme polisi dapat tumbuh melalui peningkatan standar profesi yang tinggi dan tugas profesi sebagai panutan sadar hukum serta prilaku sesuai dengan hukum yang dicetuskan mulai dari sistem "recruitmen and training" kepolisian sesuai dengan tuntutan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi.