• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V ANALISIS RISIKO

A. Identifikasi Risiko

A.1. Risiko Ekologik

A.1.1. Hambatan terhadap Pergerakan Satwaliar

 

jenis satwaliar lainnya di TNUK. Hambatan pergerakan, isolasi populasi, fragmentasi habitat, kehilangan sebagian wilayah jelajah, terjadinya persaingan adalah risiko-risiko yang mungkin timbul akibat adanya JRS tersebut. Semua risiko tersebut merupakan konsekuensi dari terputusnya konektivitas antar semenanjung dengan wilayah G. Honje. Dari segi sosial, sekonomi dan budaya, risiko yang dapat diprakirakan adalah konflik manusia-satwaliar dan konflik masyarakat-Pengelola TN. Berikut ini akan diuraikan dan dianalisis resiko ekologis yang dihadapi TN Ujung Kulon apabila JRS dibangun sesuai dengan rencana yang saat ini sudah disiapkan.

A.1.1. Hambatan terhadap Pergerakan Satwaliar

Pergerakan satwaliar antara Semenanjung Ujung Kulon dengan wilayah Kalejetan-Gunung Honje terutama ditunjukkan oleh badak jawa, banteng, macan tutul dan owa jawa. Untuk Banteng, setidaknya ada 2 kelompok (dengan individu 8 – 10/kelompok), yang wilayah jelajahnya mencakup bagian barat dan timur Karang Ranjang. Survei ERA membuktikan adanya pergerakan bolak-balik banteng dari kedua kelompok ini, baik di sekitar pantai maupun agak ke pedalaman daerah Karang Ranjang. Pergerakan banteng teridentifikasi dari Pamancatan (sekitar ± 2 km sebelah barat Pos Karang Ranjang) hingga lokasi sejauh ± 1 km sebelah Timur pos tersebut (Gambar 11). Oleh sebab itu, apabila pagar JRS dibangun memotong tanah genting antara Laban sampai Pantai Karang Ranjang maka jalur pergerakan banteng-banteng tersebut akan terputus.

Menurut Hengeveld (2007) pergerakan satwaliar dilakukan dalam rangka mencari pakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan metabolisme tubuh, menghindari pemangsa (predator) serta mencari pasangan untuk bereproduksi. Pergerakan satwaliar juga menjadi petunjuk tentang wilayah jelajah (homerange) atau teritorinya. Dengan demikian pergerakan banteng (dan juga berbagai jenis satwa lainnya) di sekitar Karang Ranjang, dapat dilihat dalam kerangka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut di wilayah jelajah atau teritorinya.

Selanjutnya, apabila dalam rangka pembangunan JRS, dari Laban hingga Karang Ranjang dibangun pagar, maka secara otomatis pergerakan banteng akan terhalang oleh pagar. Demikian pula dengan wilayah jelajahnya, sebagian akan

ERA Rencana Pembangunan JRS 

V-3

        

hilang; hal ini akan terjadi baik pada skenario populasi banteng tersebut terkurung oleh pagar atau skenario seluruh banteng dalam JRS dikeluarkan.

Gambar 11. Pergerakan Banteng (titik kuning) dan macan tutul (kotak putih) di sekitar Karang Ranjang

Survei Tim ERA di sekitar Karang Ranjang juga mendeteksi pergerakan macan tutul (Panthera pardus) di waktu yang relatif berdekatan dengan saat kehadiran/pergerakan banteng di daerah ini dan dengan arah yang sama dengan pergerakan banteng. Menurut Hommel (1987), macan tutul biasa memangsa anak banteng dan ia sendiri pernah melihat seekor macan tutul mengikuti kelompok kecil banteng yang memiliki beberapa anak. Pengamatan Tim ERA juga melihat keberadaan anak-anak banteng (lewat jejak tapak kaki) dalam kelompok di Karang Ranjang tersebut.

Sementara itu, Tim Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU) TN Ujung Kulon di daerah ini juga pernah melaporkan keberadaan macan tutul di jalan setapak antara Laban – Karang Ranjang. Penemuan jejak macan tutul di Karang Ranjang diduga ada kaitannya dengan keberadaan mangsanya yakni banteng, babi hutan dan kancil, yang kehadirannya di daerah tersebut terlihat dari jejak tapak kakinya. Namun hasil Survei ERA tidak dapat memastikan asal macan tutul tersebut, apakah dari semenanjung atau dari Gunung Honje. Tetapi jika macan tutul tersebut diketahui berada di sekitar Karang Ranjang maka daerah leher semenanjung (tanah genting) itu

V-4

          

dipastikan merupakan wilayah jelajahnya juga. Di daerah Kalejetan, kehadiran macan tutul terdeteksi melalui suaranya. Bukti tersebut menunjukkan bahwa areal 3.000 ha yang akan dijadikan JRS adalah habitat macan tutul, dan mungkin saja individu tersebut merupakan salah satu individu yang seluruh teritori atau wilayah jelajahnya berada dalam calon areal JRS

Bagi macan tutul yang sebagian atau seluruh teritori/wilayah jelajahnya berada di dalam calon areal JRS, risiko ekologis yang mungkin timbul dengan adanya pemagaran adalah sama seperti yang akan dialami banteng yakni terputusnya jalur-jalur pergerakan macan tutul dan berkurang atau hilangnya teritori dan wilayah jelajahnya. Macan tutul, sebagaimana umumnya predator, adalah satwa teritorial. Pembangunan pagar berpotensi mengurangi atau bahkan menghilangkan seluruh teritorinya, sehingga kehilangan teritori dan wilayah jelajah berpeluang besar terjadi pada individu-individu yang hidup pada areal hutan yang dialokasikan untuk JRS.

Kondisi ini mungkin terjadi apabila semua mamalia besar dikeluarkan dari dalam areal seluas 3.000 ha tersebut, berakibat individu-individu yang terusir dari teritori atau wilayah jelajahnya terpaksa (dipaksa) masuk ke wilayah Gunung Honje di sebelah timur JRS atau semenanjung Ujung Kulon di sebelah barat. Baik Gunung Honje dan Semenanjung Ujung Kulon adalah habitat macan tutul (Hommel 1987). Dengan demikian, masuknya individu-individu yang terusir dari JRS ke teritorinya dapat menyebabkan populasi/individu di kedua daerah itu terganggu. Dampak selanjutnya adalah persaingan antar sesama macan tutul.

Besar pengurangan luas wilayah jelajah dan berapa banyak individu/kelompok yang akan mengalami dampaknya, baik banteng maupun macan tutul, tidak dapat diukur dan ditentukan. Namun, dampak pengurangan luas wilayah jelajah tersebut jelas, yaitu menyebabkan berkurangnya sumber daya seperti pakan dan tempat berlindung yang bisa menurunkan kemampuan survival populasi banteng maupun macan tutul di daerah tersebut.

Risiko terburuk lain akibat pemagaran adalah meningkatnya konflik manusia dengan satwaliar karena macan tutul akan semakin sering memangsa hewan-hewan ternak akibat kekurangan mangsa di habitatnya. Dalam kondisi saat inipun, konflik manusia – macan tutul kerap terjadi di kampung-kampung yang langsung berbatasan dengan hutan Gunung Honje, seperti Legon Pakis, Cipakis, Salam dan Peuteuy.

ERA Rencana Pembangunan JRS 

V-5

        

Di lain pihak, jika pembangunan JRS dilakukan tanpa mengeluarkan populasi satwaliar yang ada di dalamnya, maka risiko yang mungkin terjadi adalah isolasi individu/kelompok satwaliar di dalam JRS. Untuk macan tutul, tanpa upaya pengelolaan khusus, maka jenis ini justru berpotensi menimbulkan gangguan/masalah pada pengelolaan badak jawa dalam JRS, karena ia adalah pemangsa potensial bagi badak jawa. Dalam skenario ini, pemangsa lain yang juga dapat menimbulkan masalah (ancaman) bagi badak jawa adalah ajag (Cuon alpinus).

Rencana pembangunan pagar sebagaimana tercantum dalam proposal JRS kelihatannya akan mengadopsi model Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) yang ada di TN Way Kambas. Dalam model tersebut di sepanjang pagar akan ada jalur selebar 10 m yang berfungsi sebagai jalan inspeksi. Tidak diketahui secara rinci apakah spesifikasi jalur tersebut akan membuat kontinuitas tajuk hutan terputus, tetapi apabila memang demikian halnya maka hambatan pergerakan akibat adanya JRS juga dapat terjadi pada primata arboreal seperti owa jawa.

Dokumen terkait