• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V ANALISIS RISIKO

A. Identifikasi Risiko

A.2. Risiko Sosial Ekonomi dan Budaya

 

dari luar JRS yang teritori/wilayah jelajahnya dimasuki oleh individu/kelompok satwaliar yang dikeluarkan dari JRS.

Hasil survei lapangan dan data TN Ujung Kulon juga menunjukkan adanya pergerakan satwaliar dari dan ke dalam JRS. Hal ini membuktikan bahwa sebagian satwaliar memiliki wilayah jelajah baik di dalam dan di luar rencana JRS. Pemagaran akan menghilangkan sebagian wilayah jelajah satwa-satwa tersebut yang berada di luar JRS. Dalam kondisi ini, kompetisi antar individu dalam teritori/wilayah jelajah yang tersisa di dalam JRS berpeluang meningkat. Dampak persaingan dalam JRS diperkirakan juga akan semakin meningkat apabila pengelolaan JRS hanya difokuskan pada badak jawa sementara satwaliar lainnya diabaikan.

Tidak hanya persaingan antar individu dalam satu spesies, persaingan antar spesies juga mungkin terjadi dalam skenario ini. Ironisnya, kemungkinan persaingan semacam itu justru akan melibatkan badak jawa yang menjadi fokus pengelolaan JRS. Walaupun belum diketahui secara pasti, survei ERA melihat setidaknya ada 3-4 kelompok banteng dalam JRS. Banteng-banteng inilah yang potensial menjadi kompetitor badak jawa di dalam JRS, apabila individu-individunya tidak dikeluarkan dalam pembangunan JRS.

A.2. Risiko Sosial Ekonomi dan Budaya

Selain risiko ekologis tersebut di atas, pembangunan JRS juga diperkirakan memiliki risiko sosial.ekonomi dan budaya, diantaranya:

A.2.1. Konflik Manusia dengan Satwaliar

Risiko yang timbul akibat konflik antara manusia dan satwaliar terjadi akibat sejumlah interaksi negatif, baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwaliar dan atau pada lingkungannya. Pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik.

Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwaliar maupun satwaliar terhadap manusia. Risiko yang timbul adalah berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwaliar dan mengakibatkan efek-efek

ERA Rencana Pembangunan JRS 

V-9

        

detrimental terhadap upaya konservasi. Kerugian yang umum terjadi akibat konflik diantaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan serta pemangsaan ternak masyarakat oleh satwaliar, atau bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Disisi lain tidak jarang satwaliar yang berkonflik mengalami kematian akibat berbagai tindakan penanggulangan konflik yang dilakukan.

Satwaliar yang berpeluang konflik dengan manusia di Taman Nasional Ujung Kulon yaitu macan tutul (Panthera pardus), babi hutan (Sus scrofa) dan anjing hutan (Cuon alpinus). Konflik antara manusia dan satwaliar yang terjadi cenderung meningkat dan merupakan permasalahan kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia tetapi juga satwaliar itu sendiri.

Perubahan fungsi hutan yang memperkecil area habitat satwa, yaitu akibat pembangunan JRS dapat membuat peluang konflik satwaliar dan manusia semakin tinggi. Kedua-duanya bisa saja menjadi korban, ketika suatu area diidentifikasi sebagai wilayah jelajah atau rumah satwa tertentu, maka idealnya area itu dipertahankan. Karena konsekuensinya, akan membuat penghuninya keluar, dan menimbulkan konflik dengan manusia. Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, apabila pembangunan JRS tetap dilakukan seperti rencana semula yang memutus konektivitas antara Semenanjung Ujung Kulon dengan Gunung Honje, maka diduga akan terjadi konflik antara satwaliar dengan masyarakat sekitar TNUK.

Rencana pemagaran pada lokasi JRS sebenarnya dapat memberikan dampak positif (keuntungan) maupun negatif (kerugian). Keuntungan adanya pemagaran pada lokasi JRS antara lain: menghambat masuknya ternak masyarakat yang diketahui berpotensi menularkan penyakit, termasuk yang bersifat zoonosis. Selain itu, pemagaran juga dapat menghambat laju perambahan kawasan terutama pada lokasi calon JRS.

Sebaliknya, adanya pemagaran diprakirakan akan menimbulkan risiko sosial ekonomi. Kemungkinan risiko yang akan timbul atau konflik yang terjadi antara lain: a. Serangan macan tutul terhadap ternak masyarakat akan meningkat. Hal ini diduga

diakibatkan oleh macan tutul yang berada di sekitar Gunung Honje tidak bisa lagi mencari mangsa ke Semenanjung Ujung Kulon karena terhalang pagar listrik JRS yang menjadi barrier sehingga kekurangan mangsa. Padahal menurut masyarakat, selama ini sering terjadi serangan macan tutul terhadap ternak

V-10

          

masyarakat seperti kambing, ayam dan anjing. Menurut masyarakat, tahun 2008 sampai dengan awal tahun 2010 di Kampung Legon Pakis terjadi lebih dari 10 kali pemangsaan ternak kambing dan ayam oleh macan tutul. Sedangkan di Kampung Peuteuy Desa Ujung Jaya terjadi pemangsaan oleh macan tutul terhadap kambing, ayam dan anjing hampir terjadi setiap tahun sejak tahun 2002 sampai sekarang. Pemangsaan macan tutul tersebut jelas-jelas dapat merugikan secara ekonomi terhadap masyarakat sekitar.

b. Serangan babi hutan terhadap sawah dan kebun masyarakat akan meningkat. Hal ini diduga diakibatkan oleh wilayah jelajah dari babi hutan tersebut terganggu akibat pemagaran beraliran listrik calon lokasi JRS sehingga satwa tersebut akan mencari makan ke sawah dan kebun yang digarap oleh masyarakat baik yang berada dalam kawasan TNUK maupun di luar kawasan TNUK. Kerugian yang disebabkan oleh gangguan babi hutan terhadap sawah dan kebun masyarakat sangat besar, dimana hasil panen akan mengalami penurunan yang luar biasa. Terjadinya penurunan panen dapat menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sekitar.

c. Serangan anjing hutan terhadap ternak masyarakat akan meningkat. Hal ini diduga disebabkan karena wilayah jelajah dari anjing hutan tersebut terganggu akibat pemagaran sehingga akses satwa tersebut terhadap mangsanya yang berada di dalam calon lokasi JRS maupun di Semenanjung Ujung Kulon terputus. Dengan demikian, mereka akan mencari mangsa ke wilayah pemukiman masyarakat sekitar.

A.2.2. Konflik Masyarakat dengan Pengelola TNUK

Konflik kepentingan dalam penguasaan sumber daya alam yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat pada beberapa tahun belakangan ini semakin mengemuka. Dalam konteks konservasi, konflik tersebut sering muncul kepermukaan dalam bentuk persaingan antara kepentingan pembangunan di satu pihak dan konservasi di lain pihak. Di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, konflik mengenai sumber daya hutan sering sekali terjadi di tingkat lokal dan dalam skala yang cukup besar. Konflik ini tidak hanya memberi dampak yang signifikan pada penghasilan masyarakat pedesaan serta mengakibatkan habisnya hutan berikut

ERA Rencana Pembangunan JRS 

V-11

        

keanekaragaman hayati yang terkandung didalamnya, tetapi juga merupakan kekuatan politis yang sifatnya mengganggu stabilisasi, terutama di daerah pedesaan di mana penegakan hukum sangat lemah dan kesempatan meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat pedesaan tersebut sangat terbatas.

Dalam istilah yang sederhana, konflik mengenai sumber daya hutan biasanya terjadi sebagai akibat dari kurang jelasnya hak-hak atau hukum yang berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya hutan dimana banyak terdapat tuntutan-tuntutan yang bersaing satu sama lainnya. Tuntutan- tuntutan ini dapat terjadi antar/antara individu, masyarakat, badan instansi pemerintah atau sektor swasta.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya konflik yang berkaitan dengan kawasan hutan. Akibat yang paling utama konflik terkait dengan:

Kawasan geografis Sumber daya hutan, dan

Jenis industri yang menggunakan produk hutan tersebut.

Faktor-faktor ini menjadi lebih sulit lagi dengan adanya pengaturan pemanfaatan lahan yang tidak jelas. Dengan adanya proses desentralisasi yang sedang berlangsung masalah pemanfaatan lahan ini menjadi semakin sulit lagi karena bisa memunculkan kembali rasa ketidakpuasan di masa-masa lalu yang secara potensial dapat menimbulkan tindakan kekerasan. Banyak dari hotspot yang secara potensial bisa menimbulkan tindakan kekerasan ini terlewatkan begitu saja karena adanya penerapan hukum dan peraturan yang selektif oleh para elit politik.

Pemanfaatan lahan serta sumber daya yang tidak jelas memicu perebutan atas kayu dan sumber daya hutan yang lain. Tuntutan untuk memanfaatkan lahan yang tidak jelas di wilayah hutan meningkatkan potensi terjadinya konflik mengenai sumber daya kayu. Apabila pemerintah terbukti tidak mampu atau tidak bersedia untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan secara adil – seringkali karena masalah rule of law, maka uji coba kekuatan merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan tersebut. Dalam kasus seperti ini, penuntut yang lebih kuat, seringkali merupakan wakil pemerintah hampir selalu akan “menang.” Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa walaupun desentralisasi yang sudah direncanakan dan dilaksanakan secara hati-hati dapat meningkatkan isu mengenai pemanfaatan lahan atau sumber daya di daerah setempat, namun

V-12

          

pengalihan wewenang yang terlalu cepat juga dapat menimbulkan keraguan mengenai siapa yang benar-benar memiliki wewenang untuk membuat suatu keputusan. Dalam skenario seperti ini, sejumlah tokoh akan maju dengan tuntutan atas lahan yang sama, dan tuntutan tersebut akan dilandasi oleh surat yang ditandatangani seseorang dengan tingkat kewenangan tertentu – lebih meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik.

Beberapa bentuk konflik yang mungkin terjadi antara masyarakat sekitar dengan pengelola TNUK akibat rencana pemagaran calon lokasi JRS, yaitu:

a. Peningkatan konflik batas antara masyarakat dengan TNUK sebagai akibat dari persepsi yang keliru atas pemagaran JRS yang dianggap sebagai batas kawasan TNUK yang tidak boleh dimanfaatkan. Masayarakat beranggapan bahwa lahan di sebelah luar pagar dapat dikelola dan kayu-kayunya dapat dimanfaatkan. b. Pembukaan hutan menjadi sawah atau kebun di sekitar Gunung Honje (di luar

pagar) akan meningkat. Hal ini disebabkan karena sawah/kebun masyarakat yang selama ini digarap dan berada di dalam JRS sudah tidak boleh digarap kembali. Dengan kehilangan akses terhadap sawah dan kebun yang berada di dalam kawasan JRS, maka masyarakat berpeluang untuk membuka sawah/kebun baru di luar lokasi JRS. Oleh karena itu, kemungkinan terjadi peningkatan kerusakan kawasan Gunung Honje sehingga konflikpun tidak bisa dihindarkan lagi.

c. Pengambilan kayu dan hasil hutan non kayu lainnya di luar lokasi JRS akan meningkat karena akses ke lokasi JRS terputus akibat pemagaran. Ada peluang terjadinya pengambilan kayu dan hasil hutan non kayu lainnya akan meluas ke daerah Semenanjung Ujung Kulon atau daerah lain (P. Panaitan) akibat kehilangan akses terhadap sumberdaya yang ada di dalam lokasi JRS.

Dokumen terkait