Bab V ANALISIS RISIKO
B. Evaluasi Risiko Lingkungan
B.5. Risiko V: Konflik Masyarakat dengan TNUK
Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa liar maupun satwa liar terhadap manusia (persepsi). Risiko yang timbul adalah berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar dan mengakibatkan efek-efek sentimental terhadap upaya konservasi. Kerugian yang umum terjadi akibat konflik diantaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan serta pemangsaan ternak masyarakat oleh satwa liar, atau bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Disisi lain tidak jarang satwa liar yang berkonflik mengalami kematian akibat berbagai tindakan penanggulangan konflik yang dilakukan.
Satwa liar yang berpeluang konflik dengan manusia di Taman Nasional Ujung Kulon yaitu macan tutul (Panthera pardus), babi hutan (Sus scrofa) dan anjing hutan (Cuon alpinus).Konflik antara manusia dan satwa liar yang terjadi cenderung meningkat dan merupakan permasalahan kompleks karena bukan hanya berhubungan dengan keselamatan manusia tetapi juga satwa liar itu sendiri.
Mengacu pada sistem penilaian/pembobotan risiko lingkungan sebagaimana dikemukakan pada Bab II. metodologi, maka risiko lingkungan yang ditimbulkan dengan adanya usaha dan atau kegiatan pembangunan JRS terhadap konflik antara manusia dengan satwa liar dikategorikan “Tinggi-sedang” atau bernilai 5, yang berarti risiko “Tinggi” (Tabel 16).
Tabel 16. Penilaian/pembobotan atas risiko konflik manusia - satwaliar
Keparahan Risiko IV R S T R 1 2 3 S 2 3 4 Keke ra pan T 3 5 6
B.5. Risiko V: Konflik Masyarakat dengan TNUK
Konflik kepentingan dalam penguasaan sumber daya alam yang terjadi antara pengelola kawasan (TNUK) dan masyarakat terkait pembangunan JRS dapat mengemuka, terutama dalam konteks konservasi. Konflik tersebut muncul
ERA Rencana Pembangunan JRS
V-19
kepermukaan dalam bentuk persaingan antara kepentingan pembangunan di satu pihak dan konservasi di lain pihak
Konflik ini tidak hanya memberi dampak yang signifikan pada penghasilan masyarakat pedesaan serta mengakibatkan habisnya hutan berikut keanekaragaman hayati yang terkandung didalamnya, tetapi juga merupakan kekuatan politis yang sifatnya mengganggu stabilisasi, terutama akibat penegakan hukum sangat lemah dan kesempatan meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat sangat terbatas. Tuntutan- tuntutan ini dapat terjadi antar/antara individu, masyarakat, badan instansi pemerintah atau sektor swasta.
Beberapa bentuk konflik yang mungkin terjadi antara masyarakat sekitar dengan pengelola TNUK akibat rencana pemagaran calon lokasi JRS, yaitu:
a. Pemagaran calon lokasi JRS, dianggap sebagai batas kawasan TNUK yang tidak
boleh dimanfaatkan. Risiko yang timbul Dengan demikian akan terjadi peningkatan konflik batas antara masyarakat dengan TNUK, hal ini akibat masyarakat (mereka) beranggapan bahwa lahan disebelah luar pagar dapat dikelola, bahkan kayu-kayunya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pembukaan hutan menjadi sawah atau kebun di sekitar Gunung Honje (di luar pagar) akan meningkat. Hal ini disebabkan karena sawah/kebun masyarakat yang selama ini di garap dan berada di dalam JRS sudah tidak boleh digarap kembali. Dengan kehilangan akses terhadap sawah dan kebun yang berada di dalam kawasan JRS, maka masyarakat berpeluang untuk membuka sawah/kebun baru di luar lokasi JRS. Oleh karena itu, kemungkinan terjadi peningkatan kerusakan kawasan Gunung Honje sehingga konflikpun tidak bisa dihindarkan lagi.
b. Pengambilan kayu dan hasil hutan non kayu lainnya di luar lokasi JRS akan meningkat dan meluas ke daerah Semenanjung Ujung Kulon atau daerah lain (P. Panaitan) akibat kehilangan akses terhadap sumberdaya yang ada di dalam lokasi JRS
Mengacu pada sistem penilaian/pembobotan risiko lingkungan sebagaimana dikemukakan pada Bab II. metodologi, maka risiko lingkungan yang ditimbulkan dengan adanya usaha dan atau kegiatan pembangunan JRS terhadap konflik
V-20
masyarakat dan TNUK dan sebaliknya dikategorikan “Sedang-Sedang” atau bernilai 3, yang berarti tingkat risiko “sedang” (Tabel 17) .
Tabel 17. Penilaian/pembobotan atas risiko konflik masyarakat - TNUK
Keparahan Risiko IV R S T R 1 2 3 S 2 3 4 Keke ra pan T 3 5 6
Uraian di atas menunjukkan bahwa tingkat risiko lingkungan dari rencana pembangunan JRS yang diusulkan, secara umum dikategorikan tinggi. Risiko-risiko tersebut harus menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan dan disain JRS.
ERA Rencana Pembangunan JRS
Bab VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
ERA terhadap rencana pembangunan JRS di TN Ujung Kulon mengidentifikasi bahwa ada 5 risiko yang mungkin terjadi sehubungan dengan rencana pembangunan tersebut, yakni: (1) hambatan terhadap pergerakan satwaliar, (2) fragmentasi habitat, (3) kompetisi, (4) konflik manusia – satwaliar, dan (5) konflik masyarakat – taman nasional. Hasil evaluasi risikonya menunjukkan bahwa tingkat risiko lingkungan dari rencana tersebut secara umum dikategorikan tinggi.
Keberatan utama terhadap rencana JRS adalah karena disain arealnya menutup/memutus konektivitas dan memecah kesatuan lansekap antara Semenanjung Ujung Kulon dengan wilayah Gunung Honje di sebelah Timurnya. Karena pertimbangan risiko ekologik di atas (risiko 1 – 3) maka JRS tidak boleh menjadi barrier yang akan memutus konektivitas antara semenanjung dengan Gunung Honje sehingga terjadi fragmentasi habitat bagi berbagai jenis satwa penting. Lebih dari itu, JRS sebaiknya tidak mencakup tanah genting karena daerah ini merupakan jalur pergerakan satwaliar yang intensif digunakan, khususnya bagian Selatan tanah genting yang tidak berawa.
Oleh karena rencana pemagaran terhadap calon lokasi JRS juga dapat menimbulkan risiko sosial, ekonomi dan budaya (risiko 4-5), maka JRS tidak boleh memutus akses masyarakat terhadap kawasan terutama terhadap lokasi-lokasi tempat mereka ziarah (wisata ziarah). Selain itu, JRS tidak boleh menyebabkan satwaliar seperti macan tutul, babi dan ajag menyerang ternak ataupun hasil pertanian dan kebun masyarakat sekitar. Dengan kata lain keberadaan JRS tidak boleh merugikan masyarakat sekitar hutan.
B. Saran-saran
1. Risiko-risiko lingkungan yang teridentifikasi dari studi ERA ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki/merevisi perencanaan dan disain JRS selanjutnya.
VI-2
2. Apabila perencanaan dan disain JRS sudah selesai dilakukan sebaiknya ditindaklanjuti dengan melakukan kajian lebih detil (studi kelayakan).
3. Di areal rencana JRS setidaknya ada indikasi kuat keberadaan daerah konsentrasi banteng, macan tutul dan owa jawa. Dalam memilih dan merancang areal definitif bagi JRS nantinya juga harus dipertimbangkan tentang apa yang akan dilakukan terhadap satwaliar-satwaliar yang habitatnya tercakup ke dalam JRS: mengeluarkannya atau tetap membiarkannya di dalam JRS dengan pengelolaan terpadu bersama badak jawa.
4. Dalam proposal Rencana Pembangunan JRS yang diajukan oleh BTN Ujung Kulon dan YABI tercantum bahwa tahap pertama dari rencana ini adalah persiapan proyek. Bahkan proposalnya sendiri menyatakan bahwa usulan ini adalah untuk tahap persiapan. Oleh sebab itu, Tim menyarankan agar pihak pemohon menyelesaikan dan memantapkan terlebih dahulu tahap pertama, baru melangkah ke tahap pembangunan proyek.
ERA Rencana Pembangunan JRS
DAFTAR BACAAN
Alikodra, H.S . 2002. Pengelolaan Satwaliar. Jilid I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor. 363 p.
Amman, H. 1985. Contribution to The Ecology and Sociology of The Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) Inangural Dissertation. Philosophisch. Naturwissenschaftlichen Fakultat der Universitat Basel. Econom-Druch A.G. Basel.
Bailey, J.A. 1984. Principles of Wildlife Management. John Wiley & Sons. New York. 373 p.
Barnes TG. 2000. Landscape Ecology and Ecosystem Management. FOR-76 Issued 9-2000. Cooperative Extension Service, University of Kentucky – College of Agriculture.
Bolen, E.G and W.L. Robinson. 1995. Wildlife Ecology and Management. Third Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Fahrig, L. 2003. Effect of habitat fragmentation on biodiversity. Annual Reviews of Ecology & Systematics 34:487-515.
Forman, R.T.T. & M. Gordon. 1986. Landscape Ecology. John Wiley & Sons. New York.
Forman, R.T.T. 1995b. Land mosaics: the ecology of landscapes & regions. Cambridge University Press, Cambridge, 632 pp.
Franklin, A.B., B.R. Noon, And T. L. George. 2002. What is Habitat Fragmentation? Studies in Avian Biology No. 25:20-29. http://www.humboldt. edu/-tlg2/publications!what%20is%20habitat%20fragmentatio.Pdf. Diakses Tanggal 4 Oktober 2009.
Haila, Y. 2002. A conceptual genealogy of fragmentation research: from island biogeography to landscape ecology. Ecological applications 12:321-334.
Hanski, I., and D. Simberloff. 1997. The metapopulation approach, its history, conceptual domain, and application to conservation. pp. 5–26. In I. A. Hanski and M. E. Gilpin (eds.), Metapopulation Biology. Academic Press, San Diego, Californina.
Hengeveld GM. 2007. Moving to Eat, Animal Foraging Movements in A Heterogeneous Environment. PhD-thesis, Wageningen University, the Netherlands.
Hommel WFMP. 1987. Landscape Ecology of Ujung Kulon (West Java, Indonesia). Privately Published.
Hoogerwerf, A. 1970. Udjung Kulon: The land of the last Javan Rhinoceros. E.J. Brill Leiden. pp 286-296 p.
Hunter, M.L., JR. 1997. The biological landscape. Pages 57-67 in K.A. Kohm & J.
Franklin (eds). Creating a forestry for the 21st Century. Island Press.
Washington, D.C.
Khairani, K.O. 2009. Rhinoceros sondaicus (Desmarest 1822). The Javan Rhinoceros or Smaller One-horned rhinoceros. A Compilation of Literature. Project for Professional Internship program for Veterinary Profession in Sumatran Rhino Sanctuary – Rhino foundation of Indonesia (YABI).
Kochert, M.N. 1986. Raptors. Pp.313-349 in Inventory And Monitoring of Wildlife Habitat. Cooperrider, A.Y., R.J. Boyd & H.R. Stuart. US Department of Interior Bureau of Land Management.
Kupfer, J.A., G.P. Malanson & S.B. Franklin. 2004. Identifying the Biodiversity Research Needs Related to Forest Fragmentation. A report prepared for the National Commission on Science for Sustainable Forestry (NCSSF) & funded by the National Council for Science & the Environment (NCSE).
Lekagul & Mcneely. 1977. Mammals of Thailand. Sahakambhath Co. Bangkok. Lubis, A dan Y.F. Permadhi. 2008. Zonasi Potensi Bencana Puting Beliung di Jawa
Barat. Penelitian KK Sains Atmosfer, FITB. ITB. Bandung.
Magurran, A.E. 1988. Ecological Diversity & Its Measurement. Croom Helm. London. 179p.
Morrison, M.L., B.G. Marcot & R.W. Mannan. 1992. Wildlife-Habitat Relationships. The University of Wisconsins. Madison, Wisconsin.
Muntasib, E.K.S.H. 2002. Penggunaan Ruang Habitat oleh Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Disertasi Doktor Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Muntasib, E.K.S.H., Haryanto R.P, B. Mas’ud, D. Rinaldi, H. Arief, Y.A. Mulyani, S.B. Rushayati, W. Prayitno dan Mulyadi K. 1997. Panduan Pengelolaan Habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm. 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Media Konservasi Edisi Khusus: Hal.1-15. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999, Tanggal 27 Januarl 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Permadi, Y.F. 2008. Kajian Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kerentanan Badak Jawa. WWF.
Polet, G. and Mui, T. V. 1999. Javan rhinoceros in Vietnam. Ho Chi Minh City. Publishing House, Vietnam.
Prawirosudirdjo, G. 1975. Empat Raja Rimba Raya di Indonesia. Bharata. Jakarta.
Putro, H.R. 1997. Invasi Langkap (Arenga obtusifolia) dan Dampaknya terhadap Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Media Konservasi Edisi Khusus.Hal. 95-100. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
DB-2
ERA Rencana Pembangunan JRS
DB-3
Rahmat, UM. 2007. Analisis Tipologi Habitat Preferensial Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Tesis pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Rahmat, UM. 2009. Genetika Populasi dan Strategi Konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822). Jurnal Manajemen Hutan Tropika. Vol.XV, (2): 83-90.
Ramono W.S, M.W. Isnan, H.R. Sadjudin, H. Gunawan, E.N. Dahlan, Sectionov, Pairah, A.R. Haryiadi, M. Syamsudin, B.K. Talukdar, and A.N. Gillison. 2009. Report on a second habitat assessment for the javan rhinoceros (Rhinoceros sondaicus sondaicus) within The Island of Java. YABI. Bogor.
Ramono, W.S. 1973. Javan Rhinoceros in Udjung Kulon. Direktorat PPA.
Sadjudin, H.R. 1983. Dasar-dasar Pemikiran Bagi Pengelola Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) di Udjung Kulon. Taman Nasional Ujung Kulon. Labuan.
Sadjudin, H.R. dan B. Djaja. 1984. Monitoring Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) di Semenanjung Ujung Kulon. Fakultas Biologi Universitas Nasional.
Schenkel, R and L. Schenkel –Hulliger. 1969. The Javan Rhinoceros (Rhinoceros sondaicus Desm., 1822) in Udjung Kulon Nature Reserve, its Ecology and Bahavior. Field Study 1967 and 1968. Acta Tropica Separatun vol. 26,2. Shaw, J. 1985. Introduction to Wildlife Management. McGraw-Hill Book
Company. New York.
Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. 2002. CITES Implementation in Indonesia. Nagao Natural Environment Foundation. Jakarta.
Taman Nasional Ujung Kulon. 2007. Laporan Sensus Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Labuan. Tidak dipublikasikan.
Taman Nasional Ujung Kulon. 2008. Laporan Sensus Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) di Taman Nasional Ujung Kulon. Labuan. Tidak dipublikasikan.
Whitmore, T.C. 1985. Tropical Rain Forest of the Far East. Second Edition. Clarendon Press, Oxford. New York dalam Syarifuddin H. 2008. Analisis Daya Dukung Habitat dan Pemodelan Dinamika Populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus): Studi Kasus di Kawasan Seblat Kabupaten Bengkulu Utara [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, IPB.
Yayasan Mitra Rhino (YMR). 2002. Laporan Akhir Studi Persaingan Ekologi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Banteng (Bos javanicus) di Taman Nasional Ujung Kulon. Tidak di Publikasikan.
Yayasan Mitra Rhino (YMR). 2004. Implementasi monitoring habitat badak jawa dengan menekan laja invasi langkap (Arenga obtusifolia) di Taman Nasional Ujung Kulon. PHKA-WWF-YMR.