INTERUPSI F-PDIP (MARUARAR SIRAIT, S.IP): Pimpinan,
F- HANURA (ERIK SATRYA WARDHANA ): Terima kasih
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
KETUA RAPAT:
Wa’alaikumsalam warahmatullhi wabarakaatuh.
Terakhir dari daftar yang ada yaitu dari Hanura pak Erik kami persilakan.
F-HANURA (ERIK SATRYA WARDHANA ): Terima kasih.
Pimpinan Bapak dan Ibu, beserta Rapat Paripurna yang saya hormati,
Betul bahwa harga BBM kita itu termasuk rendah, kalau berdasarkan data yang dikompilasi dari data blue bird kuota energi Eropa IMF dan Badan Energi Amerika Serikat, kita berada diurutan 49 dari 60 negara, seperti yang saya sampaikan tadi tetapi saya ingatkan bahwa berdasarkan perhitungan relatif atau prosentase pendapatan yang digunakan untuk membeli BBM yang lebih baik dari kita hanya India, Pakistan dan Philipina, negara tetangga kita Malaysia bahkan jauh lebih baik kondisinya dari Indonesia, artinya sebagian besar pendapatan rakyat Indonesia itu dikeluarkan untuk membeli BBM.
Kalau harga BBM ini dinaikan kembali habis pendapatan untuk belanja BBM saja, baik langsung maupun tidak langsung. Secara sederhana beginilah Pimpinan dan Bapak Ibu sekalian, kalau BBM naik yang paling pertama kali akan naik selain bahan pokok adalah angkot, berapa banyak warga Indonesia yang naik angkot. Berapa banyak pengeluaran yang harus ditambah untuk bayar angkot, ongkos sekolah, ongkos kepasar dan ongkos lain-lain.
Yang kedua, pemerintah dan Negara Republik Indonesia tidak memberikan pilihan kepada rakyat, kenapa saya katakan tidak memberikan pilihan karena konfersi kita gagal, konfersi minyak kepada gas gagal atau dalam bahasa yang lebih baik saya katakan belum berhasil. Infrastruktur belum tercipta orang cari SPBU, gas susah, program konfertenkit yang dicoba diprogramkan di Kementerian Perindustrian saja terpaksa harus dipangkas karena SPBU nya tidak ada. Produksi gas kita berlimpah surflus, tapi kebutuhan gas dalam negeri tidak terpenuhi, karena managemen gas juga gagal memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebagian besar gas dijual untuk kepentingan negara-negara lain.
Kemudian semua ini adalah kesalahan Pemerintah lifting minyak tidak pernah meningkat, bahkan terus menurun target kita terhadap lifting minyak tidak pernah tercapai. Kosrikafri juga meningkat dan tidak rasional ada data BPKP, bahwa penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam kosrikafri itu meningkat. Kemudian kita juga tahu infortasi premium misalnya premium adalah bahan bakar minyak yang disubsidi, rantainya begitu panjang, di dunia ini tidak lagi orang jual negara manapun tidak ada lagi menjual premium tetapi kita memaksakan membeli premium dari NOC, padahal tidak ada satupun nasioanal oil company yang memproduksi premium. Rantai ini menjadi begitu panjang high cost economy, ini semua kesalahan pemerintah, ditambah lagi satu temuan BPK yang disampaikan oleh ketua BPK pada Rapat Paripurna yang lalu, saya ingin bacakan saja, sejak BP MIGAS dibentuk pada tahun 2002 sampai dengan akhir tahun 2012 pemerintah membiayai BP MIGAS dari penggunaan langsung tanpa mekanisme APBN.
Untuk tahun 2012 adalah sebesar Rp34,93 miliar US dolar, artinya sekitar 340 triliun rupiah, penggunaan langsung pendapatan negara untuk membiayai kegiatan atau Lembaga Pemerintah tanpa melalui mekanisme APBN adalah bertentangan dengan Undang-Undang Keuangan Negara pasal 3 ayat (5). Kalau hal-hal ini masih saja terjadi itu pasti luput dari pengawasan DPR atau pengawasan manapun, sinyalemen temuan BPK ini harus segera ditindak lanjuti karena ini berpotensi juga selain mengandung high cost economy ada manipulasi dan kecurangan-kecurangan.
Oleh karena itu, janganlah kesalahan Pemerintah ini dibebankan kepada rakyat, kita tidak boleh pak, kesalahan Pemerintah, kesalahan negara tidak boleh dibebankan kepada rakyat, rakyat merasakan beban langsung dari pada kenaikan harga BBM. Oleh karena itu perlu kami tegaskan sekali Fraksi Partai Hanura tetap menolak kenaikan harga BBM.
Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
KETUA RAPAT:
Sekarang saya hanya memberikan beberapa orang saja, karena dari apa yang disampaikan secara subtansif tidak banyak perbedaan, pandangan anggota dengan pandangan fraksinya, kita harus mengambil keputusan melalui mekanisme yang tentu kita sepakati. Baik, saya buka saja beberapa orang, ya dari tadi saya lihat pak Muarar mau bicara dan biar imbang pak Joni Alen dua, tiga saja pak Gandung cukup tiga.
Silakan, pak Muarar. F-PDIP (MARUARAR SIRAIT, S.IP):
Terima kasih Pimpinan. Pimpinan,
F PG (...):
Pak ketua dari tadi saya menyampaikan, bahwa sebenarnya ini adalah penambahan argumentansi yang sebetulnya sudah dilakukan di Banggar, Panja kemudian tadi fraksi sudah menyampaikan. Saya katakan tadi bahwa fraksi sudah bicara, anggota tidak perlu lagi, tapi Pak Ketua mau satu putaran, sekarang diputar lagi, kapan kita mau ngambil keputusan Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Saya setuju, sangat setuju, tetapi kelihatannya masih belum puas bicara, ya kita puaskan dulu, jadi kita puaskan dulu, biasanya kalau sudah pada titik puasnya.
F-PDIP (DR. Ir. ARIF BUDIMANTA, M.Sc):
Kami hanya mengingatkan proses pengambilan keputusan kita Pimpinan, pertama kami mengamati secara persis apa yang menjadi pandangan fraksi. Pandangan setiap fraksi, implikasinya adalah perubahan terhadap postur dan struktur APBN secara keseluruhan. Misalnya apa yang disampaikan oleh Saudara kami dari PAN tadi mengusulkan lima bulan BLSM @ Rp300.000,- perbulan itu total ada dua tiga triliun dan itu belum terakomodasi dalam APBN ini Pimpinan.
Jadi sekali lagi proses pengambilan keputusan kita itu harus kita rumuskan dulu seperti apa, karena setiap usulan sekali lagi berpengaruh terhadap struktur dan postur. Begitu juga apa yang diusulkan oleh PDIP, jadi Rapat Paripurna menurut Undang-Undang adalah proses pengambilan keputusan tertinggi, jadi tidak bisa semena-mena kemudian kita melakukan sepakat atau tidak sepakat, karena ini menyangkut hal-hal yang sangat detil Pimpinan. Belum lagi terkait dengan beberapa hal pasal-pasal yang sudah menjadi kesepakatan di komisi kemudian tidak tertuang di dalam Undang-Undang. Menurut saya ini menjadi pertimbangan Pimpinan dalam mengambil keputusan.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Saya kira sudah cukup, saya kira paham semua bagaimana mekanisme pengambilan keputusan, kita belum melalui, kita puaskan dulu yang mau bicara bagaimana nanti pengambilan keputusan kita mungkin perlu loby
sebentar, mekanismenya bagaimana tidak mungkin kita bicarakan di dalam ruangan ini, ya silakan Pak Maruarar.
F-PDIP (MARUARAR SIRAIT, S.IP):