BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Kepuasan Konsumen
2. Harapan Konsumen
Harapan atas kinerja berlaku sebagai standar perbandingan terhadap kinerja actual produk (yakni persepsi terhadap kualitas produk. Jika kualias lebih rendah daripada harapan, maka yang terjadi adalah ketidakpuasan emosional. Bila kinerja lebih besar dibandingkan harapan, maka yang terjadi kepuasan emosional.
Menurut Handi Irawan (2002) dalam Syafrudin, Siti Masitoh dan Taty Rosyanawaty (2014:36) “Harapan adalah tingkat kepentingan pelanggan, yaitu keyakinan pelanggan sebelum mencoba atau membeli suatu produk atau jasa yang akan dijadikan standar acuan untuk menilai produk atau jasa tersebut”
Selanjutnya menurut Tse & Wilron (1988), Engel (1990) dan Rust (1991) dalam Tjiptono (2014:362) berpendapat bahwa konsep harapan pelanggan yaitu :
a. Kinerja yang adil ( equitable performance) yaitu penilaian normatif yang diterima atas kinerja yang seharusnya diterima seseorang dari biaya dan usaha yang telah dicurahkan untuk membeli dan mengomsumsi suatu produk barang/jasa.
b. Kinerja yang ideal ( ideal Performance) yaitu tingkat kinerja yang optimum atau ideal yang diharapkan oleh seorang konsumen.
c. Kinerja yang diharapkan (Expected Perfomance) yaitu yaitu tingkat kinerja yang diperkirakan atau yang paling disukai konsumen.
Sumber: Syafrudin, Siti Masitoh dan Taty Rosyanawaty (2014:37) Gambar 4
Diagram Konsep Kepuasan Pelanggan
3. Faktor-faktor Kepuasan Pelanggan
Menurut Lupyoadi (2001:158) ada lima faktor kepuasan konsumen yaitu :
a. Kualitas Produk yaitu pelanggan akan merasa puas bila hasil mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas Pelayanan atau jasa yaitu pelanggan akan merasa puas bila mereka mendapatkan palayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharpakan.
c. Emosi yaitu pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
d. Harga yaitu produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggan.
e. Biaya yaitu pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut.
Menurut Syafrudin, Siti Masitoh dan Taty Rosyanawaty (2014:30) ada tujuah faktor kepuasan pasien yaitu :
a. Pendekatan dan perilaku petugas, perasaan pasien terutama saat pertama kali dating ke rumah sakit.
b. Mutu informasi yang diterima, seperti apa yang dikerjakan, apa yang dapat diharapkan.
c. Prosedur perjanjian.
d. Waktu tunggu.
e. Fasilitas umum yang tersedia.
f. Fasilitas perhotelan
g. Outcome terapi dan perwatan yang diterima.
Berdasarkan faktor-faktor kepuasan konsumen dapat disimpulkan bawahwa kepuasan konsumen tergantung ada pelayan yang diberikan oleh petugas dan failitas-fasilitas yang disediakan oleh perusahaan jasa dan bagaimana perlakuan petugas/karyawan kepada konsumen.
4. Mengukur Kepuasan Pelanggan
Menurut Ali Hasan (2013: 105-106) ada empat metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :
1. Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang berorietasi pelanggan memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk menyampaikan saran secara langsung. System keluhan dapat dilakuakan melaui telepon pengaduan pelanggan dan kotak saran. Informasi-infomasi yang diperoleh dapat memberikan ide-ide baru dan masukan yang berharga untuk direspons dengan cepat untuk mengatasi keluhan pelanggan.
2. Pelanggan bayangan (ghost shopping)
Yaitu seseorang menyamar sebagai pelanggan di perusahaan tersebut untuk mengetahui bagaimana pelayanan yang didapatkan dari perusahaan sendiri maupun perusahaan lainnya.
3. Analisa pelanggan yang beralih (lost customer analysis )
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau beralih pemasok, agar dapat memahami mengapa berhenti atau pindah pemasok.
4. Survei kepuasan pelanggan
Lembaga riset independen melakukan penelitian dengan menggunakan metode survey kepuasan pelanggan. Melalui survey perusahaan akan memperoleh tanggapan langsung dari pelanggan.
Berasarakan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan Sistem keluhan dan saran, pelanggan bayangan (ghost shopping), analisa pelanggan yang beralih (lost customer analysis ), survei kepuasan pelanggan, survei kepuasan pelanggan.
E. Rumah Sakit
1. Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit adalah bagian dari integral dari keseluruhan system kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan. Sehingga pembangunan rumah sakit tidak lepas dari pembangunan kesehatan, yakni harus sesuai dengan garis-garis besar haluan Negara, Sistem Kesehatan Nasional dan replita dibidang kesehatan serta peraturan perudang-undangan.
Sementara menurut undang-undang No. 44 Tahun 2009
Rumah Sakit adalah Institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karaktristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, kemajuan tehnologi, kehidupan social, ekonomi masyarakat, dan harus tetap mampu meningkatkan meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terjadi derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.( Herlambang (2016:33).
Menurut Wolper dan Pena (1987) dalam dalam Dedi Alamsyah (2011:100) yaitu: “Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedoktoran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kodokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan”.
Sedangkan menurut Adikoesoesmo, Suparto (2003) dalam Dedi Alamsyah (2011:100) yaitu: “Rumah sakit adalah bagian tegral keseluruhan system pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan”
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa rumah sakit adalah tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan karaktristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan, kesehatan, kemajuan tehnologi, kehidupan social, ekonomi masyarakat, serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kodokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan.
Sedangkan Ilyas (2001:59) menyatakan bahwa masukan utama rumah sakit adalah pasien, dokter, perawat, dan personel lainnya, prasarana dan sarana, peralatan, dan sebagainya. Bagian administrasi, staf medis dan perawat, laboratorium, radiology, bagian Gizi, IGD (Instalasi Gawat darurat), ICU (Intesive Care Unit), kamar operasi dan sebagainya merupakan bagian dari proses system di rumah sakit. Selain itu, lingkungan luar rumah sakit ikut
berpengaruh seperti peraturan pemerintah, hukum, masyarakat, pihak asuransi, keluarga pasien dan lainnya.
Selanjutnya Menurut Herlambang (2016:35) berpendapat bahwa Penyelenggaraan pelayanan kesehatan terdiri dari empat unsur yaitu :
a. Masukan (input) yaitu semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya pelayanan kesehatan, terutama tenaga kesehatan (man), ketersediaan dana (money), serta alat dan sarana lainnya (material). (Bruce,1990; Fromberg,1988; Gambon, 1991).
b. Proses (process) yaitu semua tindakan yang dilakukan pada sarana pelayanan kesehatan, yang secara umum dapat dibedakan atas 2 macam yaitu tindakan medis (medical procedure) dan tindakan non medis (non medical perocedure).(pena, 1984). Dalam pengertian proses ini mencakup diagnosa, rencana pengobatan, indikasi, tindakan, sarana kegiatan dokter, kegiatan perawatan, dan penanganan kasus.
c. Lingkungan (environment) yaitu keadaan sekitar yang mempengaruhi pelayanan kesehatan, untuk pelayanan kesehatan yang terpenting adalah kebijakan (policy), Organisasi (organization), dan manajemen (management). (Donabedian, 1980).
d. Keluaran (output) yaitu penampilan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan (medical performance dan non medical performance) e. Outcome yaitu hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan
professional terhadap pasien. Outcome jangka pendek seperti sembuh dari sakit, cacat, dan lain-lain. Outcome jangka panjang seperti
kemungkinan-kemungkinan kambuh, kemungkinan sembuh di masa
Berdasarkan Gambar 3 Rumah sakit meyelenggarakan program pelayanan kesehatan dengan empat unsur yaitu input (masukan) seperti pasien kemudian memprosesnya dengan berbagai layanan dan menghasilkan berbagai bentuk output (keluaran) dan unsur yang tidak kalah penting adalah unsur lingkungan yaitu keamanan, kebijakan, hukum dan lain sebagainya.
2. Macam-macam Rumah Sakit
Macam-macam rumah sakit menurut Alamsyah ( 2011:104-105), yaitu :
a. Macam-macam rumah sakit dilihat dari kepemilikannya, yaitu : 1) Rumah Sakit Pemerintah
2) Rumah Sakit Swasta
b. Macam-macam rumah sakit dilihat dari kemampuan yang dimilikinya, yaitu :
1) Rumah Sakit Kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedoktoran spesialis dan subspesialis luas.
Yang dimaksud rumah sakit kelas A adalah rumah sakit sebagai tempat rujukan tertinggi.
2) Rumah Sakit Kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedoktoran spesialis dan subspesialis
terbatas. Contoh rumah sakit kelas B adalah rumah sakit di ibukota provinsi yang mampu menampung rujukan dari tingkat kabupaten.
3) Rumah Sakit Kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedoteran spesialis terbatas. Dalam hal ini ada empat macam spesialis yang disediakan, yaitu spesialis penyakit bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit anak serta spesialis penyakit kandungan dan kebidanan. Rumah sakit kelas C ini adalah penampung rujukan dari puskesmas.
4) Rumah sakit Kelas D adalah rumah sakit yang memiliki sifat transisi dikarenakan pada suatu saat akan menjadi rumah sakit kelas C. Rumah sakit kelas D disini dimaksudkan adalah rumah sakit yang memilki hanya dua bidang kedoktoran yaitu kedoktoran umum dan kedoktoran gigi.
5) Rumah Sakit Kelas E adalah rumah sakit yang memiliki hanya satu pelayanan saja. Yaitu pelayanan kedoktoran. Contoh rumah sakit jiwa, rumah sakit ibu dan anak.
F. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dijadikan acuan dan pembanding dalam penelitian yang akan dilakukan adalah seagai berikut :
1. Yeni Tri Sari Riswardani (2013) dengan judul “Pengaruh Fasilitas, Biaya, dan Promosi terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Karanganyar”. Hasil penelitian menunjukkan fasilitas, biaya dan promosi baik secara parsial maupun simultan berpengaruh
terhadap kepuasan pasien rawat inap dengan signifikan kurang dari 0,05.
Variabel biaya rawat inap paling dominan berpengaruh terhadap kepuasan pasien rawat inap disbanding variable lainnya.
2. Mochammad Toriq (2014) dengan judul “Pengaruh Fasilitas dan Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan pada SPBU Pertamina 54.612.64 di Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan pangaruh variable fasilitas dan kualitas layanan secara bersama-sama terhadap kepuasan pelanggan yang melakukan pengisian bahan bakar di SPBU 54.612.64 di Sidoarjo adalah siginifikan. Secara parsial menunjukkan bahwa fasilitas berpengaruh siginifan dan posotif terhadap kepuasan pelanggan yang melakukan pengisian bahan bakar di SPBU 54.612.64 di Sidoarjo.
3. Steffi Mongkaren (2013) dengan judul “Fasilitas dan Kualitas Pelayanan Berpengaruh terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Rumah Sakit Advent Manado”. Hasil penelitian menunjukkan fasilitas dan kualitas pelayanan secara bersama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna jasa RS Advent Manado. Fasilitas dan kualitas pelayanan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna jasa RS Advent Manado.
4. Rosita Saragih, Dr. Arlina Nuraity Lubis, S.E,.M.A dan Raras Sutatniningsih, S.Psi.,M.Psi (2010) dengan judul “Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan terhadap Loyaltas Pasien Rumah Sakit Umum Herna Medan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kelima dimensi mutu pelayanan (tangibles, responsiveness, assurance, empathy, dan reliability),
ada empat variable yang berpengaruh terhadap loyalitas pasien di Rumah Sakit Umum Herna Medan dan secara parsial ada tiga variable yang berpengaruh terhadap loyalitas pasien di Rumah Sakit Umum Herna Medan yaitu tangibles, responsiveness, dan assurance.
5. Yusristi Winda Bata, Alwy, dan Darmawansyah (2013) dengan judul
“Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien Pengguna Akses Sosial pada Pelayanan Rawat Inap Di RSUD Lakipadada Kabupaten Tana Toraja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kualitas pelayanan kesehatan (reability, assurance, tangible, empathy, dan responsiveness) dengan kepuasan pasien penguna Akses Sosial pada pelayanan Rawat Inap di RSUD Lakipadada Kabupaen Tana Toraja tahun 2013.
Kelima penelitian terdahulu di atas representatif untuk menganalisis kualitas pelayanan dan ketersediaan fasilitas terhadap kepuasan pasien pada Rumah Sakit Umum Daerah tipe C Kabupaten Barru.
G. Kerangka Pikir
RSUD Tipe C Kabupaten Barru adalah rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Barru yang menerima rujukan dari puskesmas dalam wilayah Kabupaten Barru.
RSUD Tipe C Kabupaten Barru mempunyai peranan yang penting dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Peran
rumah sakit sebagai pemberi pelayanan pendidikan/penyuluhan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif, pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif), rehabilitasi/pemulihan (rehabilitatif), menempati peran penting dalam sistem pelayanan kesehatan, maka tugas rumah sakit yaitu harus memberikan pelayanan yang bermutu, cepat dan tepat kepada pasien, dan memberikan informasi kesehatan bagi masyarakat.
Dalam mengemban tugas rumah sakit adapun visi dan misi yang harus dicapai RSUD tipe C Kabupaten barru yaitu:
Visi : Menjadikan rumah sakit umum daerah terkemuka di Provinsi Selawesi Selatan
Misi :
1. Memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat 2. Memberikan pelayanan yang cepat dan tepat
3. Menerapkan senyum, salam, sapa, sopan, santun dalam pelayanan.
Berdasarkan visi dan misi diatas, RSUD Tipe C Kabupaten dalam menunjang kualitas pelayanan ada lima dimensi yang harus dipenuhi yaitu
Pertama bukti fisik (tangible) yaitu kemampuan rumah sakit dalam menyediakan fasilitas yang meliputi fasilitas ( gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya.
Kedua, keandalan (reliability) yaitu kemampuan ruamah sakit dalam memberika pelayanan yang sesuai dengan yang diinginkan pelanggan.
Ketiga, ketanggapan (responsineness), yaitu sikap petugas kesehatan dalam membantu dan memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan jelas dalam memberikan informasi maupun pelayanan.
Keempat, jaminan dan kepastian (assurance), yaitu adanya jaminan dan rasa percaya pasien terhadap petugas kesehatan Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas ( credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
Kelima, empati (empathy), yaitu petugas kesehatan secara pribadi memberikan perhatian yang tulus kepada para pasien rumah sakit umum daerah tipe C kabupaten Barru.
Dalam memenuhi kualitas pelayanan yang diinginkan pasien maka perlu juga diperhatikan ketersediaan fasilitas dalam menunjang aktivitas-aktivitas rumah sakit. Ketersediaan fasilitas yang perlu diperhatikan yaitu jenis-jenis fasilitas yang terdiri dari tanah yang diguakan untuk parkiran buat pasien maupun para pengujung rumah sakit, perlengkapan rumah sakit seperti ruang perawatan, poliklinik, laboratotium, dan bangunan seperti ruangan operasi, ruanga bersalin, IGD/UGD, dan lain sebagainya.
Dengan adanya kualitas pelayanan dan ketersedian fasilitas dapat memberikan kepuasan tersendiri kepada pasien Rumah Sakit Umum Daerah tipe C Barru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema kerangka berfikir sebagai berikut:
Perbandingan (Komparasi)
Atas
Gambar 6
Ketersediaan Fasilitas
Kepuasan Pasien RSUD Tipe C Kabupaten Barru
Pasien Rawat
Jalan Pasien Rawat
Inap
Kualitas
Pelayanan
Skema Kerangka Pikir
H. Hipotesis
Diduga bahwa, ada perbedaan yang signifikan kepuasan pasien antara pasien rawat inap dan rawat jalan atas kualitas pelayanan dan ketersediaan fasilitas pada rumah sakit tipe C Kabupaten Barru.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam proses penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah tipe C Kabupaten Barru yang beralamat di jalan Lasawedi Kel.Coppo Kec. Barru Kab.Barru, 90711, waktu penelitian kurang lebih selama dua bulan yakni bulan April sampai Mei 2016.
B. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan. Dalam metode ini menggunakan metode sebagai berikut:
1. Angket (kuesioner), yaitu merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan kepada konsumen untuk dijawab.
2. Wawancara (interview), yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan pasien yang berkaitan dengan variable penelitian pada RSUD tipe C kabupaten Barru.
3. Pengamatan (observation), yaitu melakukan pengamatan secara langsung di RSUD tipe C Kabupaten Barru untuk melihat kegiatan dan aktivitas pada rumah sakit tersebut.
4. Dokumentasi, yaitu satu cara untuk mendaptkan data dengan cara mengambil data yang ada dalam catatan RSUD tipe C Kabupaten Barru.
Adapun data-data yang di dapat antara lain adalah sejarah perkembangan rumah sakit, struktur organisasi dan pembagian tugas.
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan cara mengadakan pengamatan serta mengedarkan kuesioner kepada responden terpilih sehubungan dengan data yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dengan cara pencatatan-pencatatan dokumen-dokumen serta sumber lainnya berupa informasi tertulis yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
D. Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2010:80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rumah sakit umum daerah tipe C Kabupaten Barru selama tahun 2015, data diperoleh hasil wawancara pada tanggal 11 Maret 2016 sebanyak 23.827 pasien. Dimana pasien terdiri dari rawat inap sebanyak 5.380 pasien dan rawat jalan sebanyak 20.249 pasien.
(Sumber: RSUD Tipe C Kabupaten Barru dalam angka tahun 2015)
Sampel menurut Sugiyono (2010:81) “Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.
Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Slovin (Husein Umar, (2005:108) adalah sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁𝑒²
Dimana n = Sampel
N = Populasi yaitu jumlah pasien pada Rumah Sakit Umum Daerah tipe C kabupaten Barru
e = Nilai kritis (10%)
𝑛 = 25629
1 +25629 (0,1)²
𝑛 =
256291+25629 (0,01)
𝑛 =
1+256,2925629𝑛 =
25629257,29 𝑛 = 99,61
Berdasarkan perhitungan diatas, maka jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 99, 61 yang dibulatkan menjadi 100 pasien Rumah sakit umum daerah tipe C Kabupaten Barru.
Teknik yang digunakan adalah teknik quota sampling yaitu dengan secara sengaja menentukan jumlah sampel yang dianggap refresentatif dapat mewakili populasi. Adapun banyaknya sampel dalam penelitian ini adalah 50 responden pasien rawat inap dan 50 responden pasien rawat jalan.
Kemudian dilakukan teknik aksidental sampling, yakni teknik penentuan sampel berdasarkan factor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristik (ciri-cirinya, maka orang tersebut dapat digunakan sebagai sampel (responden).
E. Metode Analisis Data
Tahap-tahap yang dilakukan dalam menganalisis data yaitu sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif
Analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran tentang karakteristik responden
2. Analisis kuantitatif Tes “t”
Kualitas Pelayanan
1. Variabel Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara satu variable dengan variable lainnya. Hubungan variabel bebas(X1) dengan variabel bebas lainnya (X2) dan hubungan variabel bebas dengan variabel terikat (Y)
Variabel bebas adalah kualitas pelayanan (X1) dan ketersediaan fasilitas (X2) dan variabel terikat kepuasan Pasien (Y) dengan desain sebagai berikut :
1. Bukti Fisik (Tangible) 2. Keandalan
a. Pendekatan dan
2. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variable digunakan agar tidak menimbulkan penafsiran ganda yaitu dengan memberikan batasan-batasan terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
a. Kualitas pelayanan yaitu bagaimana sikap petugas dalam melayani pasien rumah sakit umum daerah tipe C Kabupaten Barru.
b. Ketersediaan fasilitas yaitu kelengkapan-kelengkapan rumah sakit untuk menunjang aktivitas-ktivitas yang ada di rumah sakit umum daerah tipe C Kabupaten Barru.
c. Kepuasan pasien yaitu perasaan pasien setelah menerima pelayanan dan menggunakan fasilitas-fasilitas rumah sakit ketika dirumah sakit umum daerah tipe C kabupaten Barru.
Katersediaan Fasilitas 1. Tanah
2. Bangunan 3. Perlengkapan
Rumah Sakit
BAB IV
GAMBARAN UMUM
A. Sejarah Singkat, Visi dan Misi Rumah Sakit Tipe C Kabupaten Barru 1. Sejarah Singkat Rumah Sakit Tipe C Kabupaten Barru
Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C Kabupaten Barru adalah satuan kerja perangkat daerah yang melaksanakan sebahagian urusan pemerintah daerah dibidang kesehatan. Pada tahun 1947 di Kabupaten Barru terdapat sebuah asrama tentara yang selanjutnya asrama tentara tersebut digunakan sebagai tempat pelayanan kesehatan yang pertama dan satu-satunya yang ada di Kabupaten Barru. Pada tahun 1981 tempat pelayanan kesehatan itu mengalami penambahan fasilitas dan kemudian pada tahun 1983 berubah
status menjadi Rumah Sakit D minus (-) dengan penambahan gedung kantor.
Pada tahun 1992 RSUD Kabupaten Barru kembali mengalami penambahan ruangan yaitu ruang UGD di atas lahan 2 Ha. Pada tahun 2000 RSUD Kabupaten Barru berubah menjadi Rumah Sakit tipe D dengan terus melakukan pengembangan. Demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan maka pada tahun 2004 pemerintah Kabupaten Barru mendirikan rumah sakit yang baru dan memindahkan operasional Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru dari jalan Sultan Hasanuddin ke jalan Lasawedi Kelurahan Coppo Kecamatan Barru Kabupaten Barru, sedangkan gedung RSUD yang lama direnovasi dan dibangun gedung yang baru yaitu kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Barru.
Berdasarkan surat keterangan dari menteri kesehatan pada tanggal 11 Maret 2010 maka rumah sakit umum Kabupaten barru ditingkatkan tipenya dari tipe D ke tipe C, begitupula namanya berubah menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C Kabupaten Barru. Pada tanggal 29 Juni 2012, RSUD tipe C Kabupaten Barru telah berhasil memperoleh sertifikat akreditasi penuh tingkat dasar oleh Tim Komite Akreditasi Ruma Sakit dengan SK nomor : KARS-SEERT/663/VI/2012 untuk lima jenis pelayanan, antara lain : pelayanan administrasi, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, dan pelayanan rekam medis.
Sejak beroperasinya di jalan Lasawedi, RSUD tipe C Kabupaten Barru terus mengalami perbaikan dan pengembangan, diantaranya penambahan dokter spesialis anak, penyakit dalam, patologi klinik, bedah, obgyn dan pelayanan operasi.
RSUD Tipe C Kabupaten Barru telah mengalami beberapa pergantian pemimpin/direktur sebagai berikut:
1. Dr. Ilyas
2. Dr. Marah Ahmad 3. Dr. Haeruddin 4. Dr. H. Amin Yahya 5. Dr. Hj. Etje Soepardjo 6. Dr. Amin Rifai
7. Dr. Lukman S Wahid.
Meskipun RSUD Tipe C Kabupaten Barru telah mengalami kemajuan di bidang sarana dan prasarana serta SDM dibandingkan dengan kondisi rumah sakit dimasa yang lalu. Namun seiring dengan perkembangan dan tuntutan lingkungan strategis yang ada sebagai sebuah organisasi maka RSUD Tipe C Kabupaten Barru menghadapi tantangan secara internal dan eksternal. Dimana rumah sakit tipe C kabupaten Barru mempunyai motto yaitu kesehatan dan kepuasan anda adalah tujuan utama kami ( your health and satisfaction is our goal)
2. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C Kabupaten Barru.
a. Visi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C Kabupaten Barru
Adapun visi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C Kabupaten Barru adalah sebagai berikut:
“Menjadi Rumah Sakit yang mandiri, Modern dan professional di tahun 2020”
Makna Visi rumah sakit umum daerah tipe c kabupaten Barru adalah sebagai beikut :
1) Rumah sakit yang mandiri : merupakan rumah sakit satu-satunya sumber pusat rujukan dari semua puskesmas yang ada di Kabupaten Barru guna memenuhi kebutuhan pelayanan pengobatan yang ,ebih baik menuju Barru yang sejahtera.
2) Modern : dalam melakukan pelayanan kesehatan mengutamakan kepuasan dan kepentingan pasien.
3) Pelayanan kesehatan professional: seluruh aktivitas dalam
3) Pelayanan kesehatan professional: seluruh aktivitas dalam