• Tidak ada hasil yang ditemukan

32 HARI BERSEMI

Dalam dokumen MENATAP MASA DEPAN MELALUI SENJA DI KERANGGAN (Halaman 104-112)

Farah Ghassani

Bankstown vs Keranggan

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China! Kata-kata itu selalu terpatri dalam lubuk hati, saya memaknai bahwa ilmu itu tersebar di seluruh penjuru negeri, maka merantaulah, jangan hanya berada di dalam negeri saja, namun kejarlah ilmu nun jauh di sana, hingga kelak kita bisa menjadi orang yang kaya rasa dan berpikiran terbuka. Ternyata kesempatan itu ada disaat saya harus menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Keranggan. Pusat Kerjasama Internasional UIN Jakarta membuka peluang studi satu semester di WSU (Western Sydney University) Bankstown, Australia dari Juli hingga November. Hal ini tentu membuat saya bimbang. KKN memanglah kewajiban perkuliahan, akan tetapi studi di luar negeri juga cita-cita terbesar saya. Sampailah saya pada satu titik di mana saya benar-benar ikhlas untuk tidak mengikuti KKN tahun ini. Saya ingin fokus memperjuangkan seleksi, tahap demi tahap untuk bisa studi di Bankstown.

Setelah rentetan rangkaian seleksi saya lalui, kabar buruk menimpa. Skor IELTS saya belum memenuhi skor minimal kampus di sana, saya akhirnya gagal untuk mencicipi studi WSU di Bankstown. Keadaan ini sungguh menyedihkan, saya benar-benar sudah tidak bersemangat untuk KKN di Keranggan, namun ke Bankstown pun tidak jadi pula, lalu apakah sebenarnya takdir memang mentitahkan saya untuk mengabdi di Keranggan?

Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukanlah suatu momok yang menyeramkan sebenarnya. Mengabdi di wilayah yang membutuhkan kompetensi kita, menjadi bermanfaat bagi orang lain, itu merupakan sesuatu yang indah. Mendengar cerita dari para senior di kampus mengenai pengalaman mereka selama KKN juga kebanyakan berbau positif, tetapi tentu semua tergantung tim dan lokasi yang didapat, jadi mungkin saya memang tidak harus mengkhawatirkan masa depan saya yang nyangkut di Keranggan. Saya harus berani menghadapinya.

Lokasi KKN di Keranggan, Tangerang Selatan, merupakan kabar yang cukup baik menurut saya, sebab saya merasa Tangerang Selatan bukanlah wilayah yang terlalu pelosok, justru Keranggan bisa dikatakan berada di tepi jantung kota, dan tempat yang berada di pinggiran kota itu biasanya kecipratan kemajuan sang kota, sehingga kelak saya tidak harus beradaptasi

terlalu keras dengan kondisi di sana.

Saat pertama kali bertemu dengan teman-teman KKN di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, teman-teman yang akan menjadi bumbu manis pahitnya KKN di Keranggan, mereka semua terasa asing karena belum kenal satu sama lain, hanya satu yang saya sudah kenal, mereka memiliki bermacam-macam karakter namun mereka menyiratkan aura-aura positif. Saya menerka bahwa mereka sepertinya tidak akan menjadi kendala terbesar selama satu bulan melaksanakan KKN. Saya sangat berharap kita bisa menjadi satu tim yang solid dan bisa menciptakan program kerja yang seru dan menyenangkan di Keranggan. Kalian tahu? Harapan ini semakin lama semakin memudarkan mimpi saya di Bankstown. Saya siap mengabdi di Keranggan!

Cukup Sepotong Memori

Mencari nama kelompok yang diterima oleh seluruh anggota kelompok itu tidaklah mudah. Saya dan teman-teman intens berkomunikasi via whatsapp. Akhirnya kami mendapatkan satu nama dan memutuskan untuk menamai kelompok kami dengan nama SENJA. Bagaimana menurut kalian? Awalnya saya kurang tertarik dengan nama SENJA akan tetapi, agar diskusi kami tidak mentok melulu hanya pada masalah nama kelompok, saya mengalah. Setelah satu bulan KKN berlalu, saya baru merasakan ternyata nama SENJA itu nama yang bagus. Katanya mudah dihafal oleh adik-adik di Keranggan, dan kepanjangan SEN-JA itu sendiri merupakan doa dan motivasi bagi kami para anggotanya: SEmaNgat bekerJA!

SENJA terdiri dari sebelas kepala dari berbagai fakultas dari berbagai jurusan. Pembagian gender tidak merata oleh pihak Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UIN Jakarta, ada lima laki-laki dan enam perempuan. Bisa jadi mahasiswa yang mendaftar KKN tahun ini lebih banyak perempuan dibanding laki-laki, saya juga kurang tahu pasti, tetapi yang saya tahu pasti bahwa saya beruntung bisa berada di dalam KKN SENJA.

Saya akan mencoba mendeskripsikan keluarga baru saya ini satu-persatu. Pertama dari grup perempuan namanya Ika. Ika merupakan teman yang tipikal pendiam dan penyabar. Ia sering membantu teman-temannya dan tidak pelit berbagi. Orang yang jago masak dikelompok SENJA ini juga penggemar K-Pop tingkat dewa. Apapun yang berbau Korea dia sungguh update tidak ketinggalan.

teman seper-Korea-an Ika. Ia yang paling sering mengeluarkan istilah-istilah Korea di rumah Keranggan kita. Ia juga jago bahasa Inggris, sehingga saya mendapatkan teman yang klop dalam conversation bahasa Inggris di sana. Selain itu, Melinda juga merupakan anak paduan suara UKM di UIN Jakarta, kebayang kan gimana kerennya kalau dia nyanyi.

Selanjutnya SENJA punya Intan di grup perempuan. Saya merasa tepat memilih Intan menjadi sekretaris di keluarga kami, Ia membagi tugas penulisan buku KKN secara baik, gadis berkacamata ini juga tegas terhadap teman-teman yang lelet dalam pengumpulan tugas. Sekretaris memang harus begitu, kalau tidak kesekretariatan tidak akan aman terkendali. Good job, Intan!

Kemudian mari kita bahas sang bendahara kelompok SENJA. Gadis Medan bernama Azizah ini juga tegas dalam menjabat di bidang perbendaharaan. Uang kas kami terkontrol baik, pengeluaran untuk belanja dan sebagainya terindikasi hemat dan cermat. Dengan demikian, kami bisa menjalankan program kerja tanpa hambatan finansial yang berarti, terima kasih Zizah.

Perempuan lainnya yang menghuni kelompok SENJA yaitu Winda. Winda diam-diam ternyata jago bahasa arab, ia juga ternyata memiliki bakat membawakan acara alias MC. Selama acara-acara di Keranggan, ia yang menjadi MC mulai dari seminar hingga penutupan KKN. Jabatannya di divisi acara memang menuntutnya untuk melakoni posisi tersebut, tetapi saya percaya hal itu akan berdampak positif bagi dirinya di kemudian hari.

Selanjutnya mari kita kulik anak laki-laki KKN SENJA dimulai dari Afif. Afif merupakan anggota KKN SENJA yang paling akrab dengan anak-anak Karang Taruna Keranggan. Dia sering mewakili kelompok SENJA dalam beberapa rapat karang taruna dalam rangka acara 17 Agustus. Di samping itu, ia juga disenangi oleh anak-anak RT 13 disekitar tempat kami menetap, mereka memanggilnya dengan sebutan Kak Boy.

Kemudian ada Fidaq di grup laki-laki. Kita harus berhati-hati kalau berbohong sama Fidaq, karena dia bisa membaca ekspresi wajah kita saat berbicara. Fidaq tipe teman curhat yang baik karena dia seorang pendengar yang baik pula. Fidaq juga termasuk yang rajin dalam kelompok, sepertinya yang sering beli galon dan memindahkan air galon ke teko itu dia. Semangat Fidaq!

Selanjutnya teman curhat sekaligus teman seper-galon-an Fidaq ada Amin. Amin merupakan idola anak-anak Keranggan. Entah berapa banyak

puisi dan hadiah yang diberikan anak-anak kepadanya. Mendapatkan hati anak-anak mungkin memanglah keahliannya. Keahlian lain yang ia miliki yaitu bermain voli, atlet voli UIN Jakarta ini sempat mengikuti lomba voli di acara 17 Agustus-an Keranggan.

Mari sekarang kita bahas anak multitalenta dari Medan. Namanya Hafiz, ia jago memainkan gitar akan tetapi tidak jago dalam menghafal chords, hari ini hafal chords, besok lupa lagi. Meskipun demikian, ada satu musik yang takkan bisa ia lupakan, apalagi kalau bukan beatbox. Karenanya, anak laki-laki di Keranggan menjadi keranjingan bersuara beatbox, ternyata menjadi beatboxer itu sulit lho.

Posisi terakhir dipegang oleh sang ketua SENJA yakni Ilham. Menurut saya, pelatih marawis ibu-ibu Keranggan ini merupakan sosok pemimpin yang baik, ia tidak pernah memaksakan anggota SENJA untuk melakukan sesuatu, secara tidak langsung ia mengajarkan teman-teman untuk bertanggung jawab terhadap dirinya dan bersikap dewasa di dalam kelompok. Posisi pemimpin memang krusial tetapi saya akui dia mampu menaklukkannya. Salut!

Ketika menjabarkan teman-teman SENJA satu persatu, saya menjadi haru, atau jangan-jangan ini efek lagu ballad yang menjadi backsound saya mengetik, tidak terasa kami telah melewatkan satu bulan bersama-sama, percikan-percikan konflik tentu ada, entah karena masalah piket, dari kebersihan hingga makanan, masalah pemahaman karakter hingga bercanda yang kelewatan, namun itu tidak mengakibatkan kekuatan kami retak, ego kami tersapu oleh kehangatan dan kasih sayang yang teman-teman curahkan dalam kebersamaan, semoga silaturami kami tetap terjaga hingga tua nanti, semoga kami tetap kompak, saya merasa bahagia bisa menjadi potongan kecil memori kalian di keluarga SENJA.

RW Terbaik!

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya bahwa saya dan kawan-kawan ditempatkan di sebuah kelurahan bernama Keranggan. Keranggan memiliki 5 RW dan SENJA kebagian khusus di RW 5. Ketika pertama kali kami survei kesana, saya melihat begitu banyaknya ibu-ibu maupun bapak-bapak yang sedang nongkrong. Mungkin mereka sekedar ngopi sambil mengomentari Calon Gubernur Jakarta atau membicarakan harga bahan pokok yang semakin mencekik kantong ibu-ibu saat ini. Intinya sih ngobrol, tetapi dampak positifnya tentu itu akan meningkatkan

keakraban antar warga, asal jangan ngomongin orang aja ya, nggak baik. Survei pertama kami lewati dengan mencari Pak RW dan ternyata Pak RW berada di antara ribuan bapak-bapak yang nongkrong itu. Beliau akhirnya memisahkan diri dan menghampiri kami sekumpulan mahasiswa polos. Di halaman rumah beliau, kami menceritakan maksud dan tujuan kami di sana. Beliau terbuka dengan kami dan balik menceritakan situasi di Keranggan. Dua hal yang saya tangkap yang perlu dibenahi di RW 5 yaitu sampah dan distribusi produk makanan.

Warga RW 5 masih membuang sampah sembarangan dan sampah-sampah itu belum terolah dengan baik. Sedangkan untuk masalah distribusi produk makanan, kebanyakan warga RW 5 ini merupakan penjual cemilan seperti kaka gocek, enye, opak, keripik pisang, dll. Penjualan ini belum terlalu meluas ke kota-kota besar, padahal kalau bisa menjangkau wilayah yang lebih luas maka keuntungan lebih yang didapat pedagang akan meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, sebagaimana petuah Bapak RW yang ramah dan baik hati itu, kami membuat program kerja seminar pengelolaan sampah, seminar pemasaran online dan pembuatan tempat pembakaran sampah di RW 5. Kami sangat berharap program-program tersebut bermanfaat bagi para warga.

RW 5 ini terdiri dari RT 9, 10, 11, 12 dan 13. Letak RT 9 dan RT 10 cukup jauh dari tempat tinggal kami di RT 13 dan berbentuk komplek perumahan, jadi lebih tertata rapi. Ini berbeda dengan RT 11, 12 dan 13 yang tata rumahnya masih berantakan. Kontur tanah di RT 11 12 13 juga kebanyakan tidak rata, naik turun seperti bukit, kadang rumah-rumahnya berdempetan, kadang rumahnya menyendiri. Suasana di RT 13 sendiri cukup adem, tidak banyak nyamuk berseliweran di dalam rumah meskipun sampah berserakan di luar rumah. Saya dan teman-teman menempati rumah mantan SeKel Keranggan Bapak Mahmud. Rumah beliau cukup bagus dan kini ditempati oleh saudaranya Ibu Tuti. Rumah dua lantai ini cukup luas dan nyaman untuk ditempati. Ada banyak kamar sehingga kami tidak bersempit-sempitan ketika tidur. Laki laki menempati kamar lantai dua dan anak perempuan menempati dua kamar di lantai bawah. Di lantai bawah juga tersedia area cukup luas yang kami manfaatkan untuk ruang belajar mengajar di siang hari dan tempat parkir di malam hari.

Akses Keranggan cukup baik. 10 meter dari rumah, kami bisa mendapati berbagai makanan dijual, seperti sate, pecel, bubur maupun warung kebumen. Jika ingin membeli kebutuhan sehari-hari juga ada

Indomaret. Di RT 13 biasanya setiap pagi dan sore ada ibu-ibu menjual nasi uduk, untuk jajan-jajan santai juga tersedia warung-warung berseliweran. Di samping itu, untuk membeli sayur mayur, ada dua warung yang tersedia, tetapi variasinya pun terbatas. Apabila kita ingin sayur mayur yang lengkap, Keranggan dekat aksesnya menuju stasiun Serpong. Tersedia angkot D16 setiap hari jurusan BSD – Serpong – Muncul, tetapi pengalaman saya ketika menunggu angkot, angkot yang lewat itu tidak terlalu banyak, jadi teman-teman harus bersabar jika ingin naik angkot.

Untuk fasilitas publik terdekat dengan rumah kami ada satu lapangan voli, majelis dan mushalla. Biasanya setiap ada waktu luang di siang hari, adik-adik Keranggan bermain bola di lapangan, sedangkan bapak-bapaknya bermain voli di sore hari. Majelis aktif digunakan untuk pengajian ibu-ibu, latihan marawis maupun tempat mengajar mengaji anak-anak di malam hari sehabis maghrib. Fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga.

Sekarang mari kita bahas masyarakat yang menetap di sana. Disaat pertama kali saya menetap di sana, warga disekitar rumah cukup ramah terhadap kami. Bahkan, saya masih ingat malam-malam awal saya di sana, saya dihampiri oleh seorang ibu yang penasaran dengan kami dan kegiatan kami. Beliau juga curhat mengenai majelis yang hanya diajar oleh satu orang ustadz di malam hari ketika mengaji. Beliau ingin kami berminat membantu sang ustadz dalam mengajar. Selain itu, di siang hari ketika saya sedang berkeliling, anak-anak kecil di sana mencoba menggoda saya, anak-anak lugu itu sedang seru-serunya bermain tanah. Awalnya saya ingin tersenyum lalu berlalu saja, akan tetapi, hati saya tergerak untuk mengajak mereka ngobrol, pikir saya mungkin dengan berbicara dengan mereka, saya bisa sekaligus mengobservasi kondisi anak-anak di sini yang saya dapatkan dari pertemuan itu bahwa kemampuan Bahasa Inggris dan matematika anak-anak SD itu masih lemah, mungkin dengan keberadaan kami di sini dapat membantu mengajari mereka pelajaran-pelajaran di sekolahnya.

Nilai-nilai yang bisa saya petik dari kebersamaan saya dengan warga selama satu bulan yaitu dari sisi sosialnya. Keramahan mereka, nilai-nilai gotong royong, saling berbagi, merupakan nilai-nilai yang sudah jarang ditemukan di zaman sekarang ini, apalagi jika kita bandingkan dengan rumah-rumah di perkotaan yang kebanyakan tidak mengenal tetangga samping kanan kirinya karena ditutupi oleh tembok-tembok besar. Hal-hal positif tersebut seyogyanya harus tetap dilestarikan oleh warga RW 5

meskipun mereka diterjang arus globalisasi bagaimanapun rupa. Kolonel Rofi

Selama menetap di sana, kegiatan yang saya lalui cukup padat dan terstruktur. Biasanya di pagi hari sekitar jam 8, saya dan kawan-kawan bergegas menuju PAUD Baiturrahman pada hari Senin dan Selasa serta PAUD Muhajirin pada hari Rabu dan Kamis. Di sana kami membantu guru-guru PAUD dalam mengajar. Materi yang diangkat seperti berhitung, membaca dan menulis, olahraga, dan kesenian. Ternyata untuk mengajar anak-anak PAUD itu butuh kesabaran ekstra, kebanyakan dari mereka hiperaktif sekali tidak mau tenang, ketika mengajar pun harus sering berteriak agar mereka menyimak apa yang kita ajarkan. Maka betapa mulianya guru-guru sepanjang masa ini, hal ini meningkatkan rasa empati saya terhadap guru-guru yang pernah mengajar saya, dicuekin murid itu ternyata tidak enak, saya harus lebih menyimak apa yang disampaikan oleh guru saya kelak.

Kemudian setelah pulang dari PAUD, sebenarnya kami cukup kelelahan, tetapi pengabdian saya dan teman-teman berlanjut hingga siang hari. Bahkan sebelum kami sholat dan makan, terkadang adik-adik Keranggan sudah datang ke rumah kami, mereka begitu bersemangat dan tidak kenal lelah, hal ini menciutkan hati saya untuk mengusir mereka, saya tidak tega dan membiarkan mereka masuk ke rumah kontrakan terlebih dahulu. Ini sudah memasuki jadwal bimbingan belajar (bimbel) atau mereka lebih senang menyebutnya dengan les. Tingkat adik-adik ini beragam, dari PAUD sampai kelas 1 SMP ada, jadi saya cukup sulit juga untuk mencari materi yang setara bagi semua. Pertama kali saya mengajar mereka saya mengambil materi Bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang merupakan mata pelajaran kesukaan saya, selain matematika. Pada hari pertama itu mereka cukup antusias belajarnya, saya mengajarkan bagaimana mengeja nama mereka menggunakan Bahasa Inggris, sungguh berbagi ilmu itu begitu nikmat rasanya, saya jadi ingat salah satu quote guru saya bahwa belajar yang paling efektif itu adalah dengan mengajar, karena materi-materi yang telah kita raih di bangku sekolah teraplikasikan dan diingat kembali di kala mengajar.

Sesudah mengajar bimbel, saya dan teman-teman kembali mengajar mengaji di malam hari. Pengajaran bertempat di Majelis An-Najah. Saya melihat rata-rata kemampuan mengaji adik-adik Keranggan sudah cukup

bagus, mereka juga sudah banyak menghafal surat-surat maupun doa-doa, hal ini tentu tidak bisa terlepas dari usaha sang ustadz yang terlihat galak tetapi sebenarnya penyayang terhadap anak-anak. Jika membicarakan mengaji, saya jadi teringat salah satu anak didik saya yang manja dan lucu bernama Rofi. Meskipun orang tuanya sudah berpisah, tetapi anak yang bercita-cita menjadi tentara ini tetap terlihat riang dan ceria. Suatu ketika saat saya belum pergi ke Majelis, dia menghampiri saya ke rumah kontrakan dan minta dibimbing dalam membaca Iqro’. Sejujurnya, saya terenyuh ketika melihat betapa sayangnya ia terhadap saya dan tentunya semangat dia dalam mengaji, saya memang penyuka anak-anak dan dia telah mendapatkan hati saya. Ketika saya menghentikan bacaannya di tengah-tengah halaman, dia ternyata masih ingin menyelesaikan bacaan Iqro’nya satu halaman penuh. Melihat semangat mereka dalam belajar mengaji membuat saya menginginkan untuk lebih lama berada di Keranggan. Jika saya menjadi warga RW 05 Kelurahan Keranggan, saya akan mengerahkan kemampuan saya dalam mengajar mengaji untuk membantu Pak Ustadz dan juga membuat anak-anak di sana tambah rajin mengaji.

Semoga semangat Rofi dan adik-adik lainnya dalam mengaji tidak pernah luntur meskipun saya dan kakak-kakak KKN SENJA telah kembali ke rutinitas kehidupan perkuliahan masing-masing, begitupun dengan semangat saya dalam memberdayakan masyarakat dan mengabdi, sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mari kita terus mengabdi, berbagi dan menginspirasi!

SEPOTONG KERINDUAN MELIHAT SENJA DI KELURAHAN

Dalam dokumen MENATAP MASA DEPAN MELALUI SENJA DI KERANGGAN (Halaman 104-112)