• Tidak ada hasil yang ditemukan

SENJA BUKANLAH AKHIR, TAPI AWAL DARI SEMUANYA

Dalam dokumen MENATAP MASA DEPAN MELALUI SENJA DI KERANGGAN (Halaman 131-139)

Fidaq Imaduddin Ashsidiq

KKN 2016 dengan Konsep Baru

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan sebuah tahap yang harus saya lewati untuk memeroleh kelulusan. KKN ini pula yang menjadi salah satu kewajiban mahasiswa dalam mengamalkan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Sebelumnya saya belum mengetahui sama sekali bagaimanakah kegiatan KKN yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sehingga saya berinisiatif untuk bertanya kepada senior. Banyak informasi yang saya peroleh dari senior tersebut yang berguna untuk mempersiapkan KKN yang akan saya laksanakan walaupun hanya sedikit yang saya ketahui dan peroleh mengenai beberapa hal seperti prosedur, persiapan, tips, hingga kendala yang akan dihadapi.

Berdasarkan informasi yang telah saya peroleh dari senior bahwa yang berhak menentukan anggota yang akan ada di kelompok KKN saya adalah saya sendiri. Oleh karena itu, sudah sejak bulan Januari saya sudah membuat kelompok KKN sendiri yang terdiri dari teman semasa SD, SMP, dan SMA dari berbagai fakultas yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, ternyata tahun ini seluruh sistem KKN mengalami perubahan regulasi dan birokrasi yang dilakukan oleh pihak PPM. Perubahan tersebut mulai dari prosedur pendaftaran peserta, pembentukkan kelompok, dosen, lokasi, dan juga laporan.

Sebenarnya saya agak kecewa dengan pembentukan kelompok yang ditentukan oleh PPM, karena saya sudah membentuk kelompok sendiri sebelumnya dan saya tidak mengetahui bagaimanakah mahasiswa yang nantinya akan sekelompok. Saya memeroleh nomor kelompok 235 dengan 11 anggota yang terdiri dari 6 perempuan dan 5 laki-laki. Lalu tibalah saat pembekalan yang diberikan oleh PPM, disaat itulah saya bertemu dengan seluruh anggota kelompok KKN 235 yang telah ditentukan tersebut. Ternyata ada seorang anggota yang belum mendaftar secara online yang tak sengaja dia bergabung dengan kami, namun akhirnya dia pindah ke kelompok lain. Kesan pertama yang saya rasakan dengan mereka sedikit buruk, karena ketika kami diberikan waktu berkumpul oleh pihak PPM mereka lebih banyak yang berdiam diri dan menutup mulut, kemungkinan mereka masih malu atau canggung saat itu. Ketika penunjukkan tugas sebagai koordinator, ketua, bendahara, serta sekretaris pun mereka malah

saling tunjuk. Saya sudah membayangkan waktu itu apabila nanti ketika bekerja apakah mereka akan seperti itu? Namun itu hanya prasangka buruk saya terhadap mereka, sebab ketika KKN berlangsung kami bekerjasama bukan bagaikan kelompok, sudah lebih seperti keluarga ketika salah satu dari kami repot yang lain pun ikut repot hingga jika ada yang sedih yang lainnya pasti akan menghibur. Thank’s All, you are the best!

Kami menamai kelompok KKN 235 ini dengan nama KKN SENJA yaitu singkatan dari Semangat Bekerja, kami berharap nama tersebut menjadi ciri khas kami yang selalu semangat dan juga menjadi penyemangat kami dalam menjalani seluruh rangkaian kegiatan dan pekerjaan nantinya. Dikelompok SENJA ini saya mendapatkan tanggung jawab pada bagian perlengkapan bersama dengan salah satu anggota bernama Afif. Dengan tanggung jawab tersebut saya membayangkan kesulitan yang akan saya alami, karena berapa perlengkapan yang kami butuhkan lumayan banyak dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun berkat bantuan dari seluruh teman-teman, perlengkapan yang dibutuhkan dapat terpenuhi dengan lengkap walau dengan perjuangan yang tidak mudah.

Pembagian lokasi KKN pun telah ditentukan, kelompok saya memeroleh lokasi di Kelurahan Keranggan Kota Tangerang Selatan. Agenda yang harus dilakukan selanjutnya adalah survei ke lokasi KKN untuk mengetahui keadaan sebenarnya agar kegiatan yang diadakan sesuai dengan kebutuhan. Beberapa kali kami melakukan survei ke Kelurahan Keranggan, setelah melihat dan mengamati lokasi KKN, saya terbayang beberapa kesulitan yang mungkin saya hadapi saat terjun langsung ke desa. Pertama, Keranggan merupakan desa yang menggunakan bahasa sehari-hari adalah bahasa sunda kasar, sedangkan saya sama sekali tidak mampu berbahasa sunda. Kedua, pasar yang lokasinya lumayan jauh dari tempat kami tinggal sehingga untuk belanja harus dari pagi. Ketiga, perselisihan dengan teman-teman satu kelompok karena saya belum mengetahui sifat dan watak mereka. Alhamdulilllah semua yang saya bayangkan itu tidak menjadi hal yang memberatkan ketika saya melaksanakan KKN selama satu bulan ini. Keluarga Dadakan dengan Kenangan Sepanjang Jalan

Menurut saya kelompok KKN SENJA merupakan kelompok yang luar biasa karena terdiri dari individu-individu yang unik namun bisa menyatu dalam kesatuan yang utuh. Awalnya memang canggung untuk berbincang, namun seiring berjalannya waktu rasa canggung berubah menjadi sebuah

kebutuhan karena ketika salah satu dari kami tidak nampak pasti akan ada hal yang hilang. Satu bulan mencoba saling mengerti dan memahami hingga akhirnya menjadi seperti keluarga.

Berdasarkan pepatah nenek moyang tak kenal maka tak sayang, maka saya akan memperkenalkan anggota KKN SENJA dengan singkat. Pertama, Ilham dia adalah orang yang menjadi ujung tombak untuk masalah keagamaan dan relasi dengan masyarakat. Kedua, Hafiz merupakan laki-laki yang paling “pecicilan” karena hal tersebut dia dijuluki “cacing kepanasan” dan dia juga memiliki hobi beatbox yang menjadi sarapan kami sehari-hari. Ketiga, Amin ialah orang yang paling dikenal dikalangan anak-anak dan orang dewasa serta dia memiliki hobi bermain voli. Keempat, Afif adalah seseorang yang menurut saya paling cocok dengan istilah “ga ada lo ga rame” karena sikap dan guyonannya yang lucu. Kelima, Azizah merupakan perempuan yang cerewet dengan tujuan yang baik serta sang penggila dangdut dikelompok kami. Keenam, Melinda ialah anggota dari PSM yang hobi sekali bernyanyi dan orang yang mengabadikan setiap kejadian yang kami alami. Ketujuh, Intan adalah orang yang mudah untuk “bete” mungkin cocok dengan istilah “senggol bacok” dan dialah yang menjadi pasangan duet Azizah untuk meluapkan kegilaan mereka terhadap dangdut. Kedelapan, Winda merupakan perempuan yang menjadi “kompor” paling panas dikelompok kami dan dia MC kondang nomor satu di seluruh Keranggan. Kesembilan, Farah adalah perempuan yang memiliki kemampuan bermain gitar dengan mahir dan petikan jarinya lah yang sering mengiringi kami bernyanyi. Kesepuluh, Ika ialah perempuan yang paling pendiam tetapi dia juga seorang pecandu drama korea yang sudah akut. Terakhir, saya sendiri yang mengalami semua kenangan bersama mereka.

Banyak yang berkata “KKN bisa membuat seseorang berubah.” Ya, itu betul dan itu yang saya rasakan. Selama KKN bersama teman-teman saya merasa ada perubahan positif terjadi dalam sifat maupun perbuatan. Sebelumnya saya orang yang cukup pemalu dan kurang percaya diri namun selama KKN saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, pernah suatu saat di acara puncak peringatan HUT RI saya diminta memimpin teman-teman untuk membacakan proklamasi walaupun ada beberapa kata yang salah terucap. Saya juga menjadi pribadi yang lebih perhatian terhadap orang lain dan lebih peka terhadap perasaan orang lain. Ada juga teman saya yang berubah yaitu ketua dari kelompok KKN SENJA bernama Ilham, mulai dari kecil hingga dewasa dia belum pernah sama sekali memasak nasi dan di KKN

lah debut pertama dia memasak nasi karena tuntutan tugas piket yang harus dia kerjakan.

Momen-momen yang tak terlupakan saya lewatkan bersama teman-teman. Selama KKN kami melewati tiga kali peringatan ulang tahun karena pada Bulan Juli dan Agustus ada tiga teman saya yang berulang tahun. Pertama adalah ulang tahun Ilham yang kami rayakan selepas tengah malam, kami memberikannya hadiah telur yang dicampur dengan sirup lalu di goreng hingga gosong karena informasi yang terlambat mengenai ulang tahunnya. Dia mengungkapkan bahwa ini kali pertamanya seumur hidup merayakan ulang tahun bersama teman. Kedua adalah ulang tahun Intan, kali ini kami menyiapkan konsep yang lebih matang. Hari itu kami mengadakan rapat pukul 10 malam untuk mengerjai dia, selama rapat kami berusaha untuk membuat Intan kesal dan ternyata berhasil. Puncaknya adalah pemadaman lampu rumah. Setelah itu saya dan Amin membawakan kue dengan lilin seketika Intan pun menangis namun itu tak membuat kami kasihan, kami mengambil krim yang ada di kue tersebut dan mengoleskan ke mukanya. Setelah itu perang pun dimulai, kami berlari dari kejarannya untuk membalas. Ketiga adalah ulang tahun Afif, kami juga menyiapkan konsep untuknya. Pertama kami semua berpura-pura tidak mengetahui jika dia sedang ulang tahun, lalu semua laki-laki dikelompok kami menahan dan mengangkat Afif ke tempat yang sudah terdapat banyak sekali airnya lalu kami melemparinya dengan pasir yang amat banyak hingga menyerupai manusia pasir.

Ada pula beberapa hal yang menjadi kenangan tersendiri untuk saya. Pengibaran bendera terbesar se-Tangerang Selatan yaitu sebesar 15mx8m dengan bantuan Karang Taruna saat peringatan HUT RI ke-71 di RW 05. Upacara penurunan bendera tersebut juga tak kalah khidmat yang dilaksanakan pada pertengahan malam hari dengan ditemani oleh nyanyian dari para jangkrik. Kenangan dengan seorang anak pun tidak dapat saya lupakan, anak itu bernama Farhan yang berusia 4 tahun. Selama dua minggu kami sering bermain bersama namun dia belum mengetahui nama saya padahal saya sudah memberitahukannya.

Allah sudah menciptakan segala macam hal di dunia ini dengan berpasang-pasangan misalnya ada baik maka ada buruk, ada siang maka ada malam, dan ada pertemuan maka harus ada saatnya perpisahan datang. Ya, momen perpisahan dengan teman-teman lah yang menjadi momen paling menyedihkan selama KKN ini karena sudah sekian lama saya melewati

pergantian siang dan malam maupun silih bergantinya hujan dan teriknya matahari dengan mereka. Pada hari terakhir KKN kami semua berkumpul di sesuatu ruangan untuk saling bercerita mengenai pesan dan kesan mengenai teman maupun KKN itu sendiri. Satu per satu dari kami bergantian mengungkapkan isi hatinya sambil menahan beratnya perasaan sedih karena akan berpisah. Namun air mata yang terbendung sebelumnya sudah tak tertahankan hingga meneteslah semua seperti gerimis lama kelamaan menjadi hujan deras. Diiringi isak tangis tersebut kami menyanyikan sebuah lagu yang menambah suasana malam itu menjadi malam yang mengharukan. Desa Idaman dengan Sejuta Kisah

Pertama kali saat saya mengetahui lokasi yang saya dapatkan adalah di daerah Tangerang Selatan, saya sangat bahagia karena saya juga tinggal di Tangerang Selatan. Persepsi saya akan melaksanakan KKN di tempat yang nyaman, modern, maju, dan beberapa hal luar biasa lainnya. Saya juga membayangkan desa yang sudah tertata dengan rapih dan lingkungan yang bersih. Berhubungan dengan kegiatan saya juga membayangkan akses transportasi yang mudah, pasar yang dekat dan banyak, dan mini market yang dekat dan banyak. Saya juga membayangkan sifat dari masyarakat di desa tersebut seperti sifat masyarakat perkotaan yang lebih individualis dan tidak peduli dengan orang lain. Namun semua itu berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya setelah melakukan survei dan melaksanakan KKN di sana.

Kelurahan Keranggan merupakan sebuah desa di pinggiran kota yang masih berkembang yaitu Tangerang Selatan. Berdasarkan kondisi tersebut menjadikan desa ini mendapatkan perhatian yang kurang dari pihak Pemerintah Kota. Beberapa kali saya berbincang dengan Bapak Lurah maupun Bapak RW 05, mereka menyatakan sulitnya meminta bantuan kepada pemkot. Salah satu contohnya adalah kerjasama dengan Dinas Kebersihan untuk mengangkut sampah rumah tangga dari masyarakat yang sampai saat ini belum terlaksana.

Berbicara mengenai lingkungan desa, masih belum tertib dalam hal kebersihan. Masyarakat di sana masih membuang sampah secara sembarangan seperti di pinggir jalan, lapangan, dan belakang rumah mereka. Solusi yang dapat kami lakukan untuk merubah kebisaan tersebut adalah dengan membuat tempat pembakaran sampah dan seminar pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi barang yang dapat dijual dengan harga yang

mahal.

Masyarakat di tempat saya tinggal merupakan satu keturunan dan masih bersaudara sehingga untuk berkomunikasi maupun memberikan informasi dapat dilakukan dengan lancar. Masyarakat di sana pun memiliki sifat yang terbuka dengan pendatang seperti kami. Hampir setiap hari mereka memberikan opak buatan mereka kepada kami. Sifat religius dan islami mereka pun begitu kuat, terlihat dari berkembangnya kegiatan pengajian, marawis, dan sholat berjamaah yang rutin dilaksanakan. Ada sifat yang paling saya senangi dari masyarakat di sana yaitu ramah, budaya senyum, salam, dan sapa yang masih menjadi identitas mereka.

Saya mempelajari banyak hal selama satu bulan melaksanakan KKN di sana. Sudah jelas yang saya pelajari adalah bahasa sunda untuk mempermudah saya dalam berkomunikasi dengan masyarakat yang ada di sana. Saya juga sempat mendapatkan tugas untuk menjadi pemateri dalam acara seminar jual-beli secara online. Pada acara tersebutlah saya belajar bagaimana cara untuk percaya diri dan berbicara di depan orang banyak yang baru saya kenal. Berkat bermasyarakat di sana pula saya memeroleh ilmu untuk memupuk rasa kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan dengan orang lain.

Saat saya hidup sebulan di desa, menjaga sikap dan perkataan yang baik lah menjadi prioritas yang saya lakukan karena itu bentuk serta cara saya menghargai dan menghormati masyarakat di sana. Hal tersebut pula yang saya harapkan menjadi sifat dari anak-anak di desa karena banyak sekali anak-anak ketika berbicara maupun berperilaku sering menggunakan bahasa yang kasar dan tidak sopan. Ada satu kejadian saat kami melakukan lomba cerdas cermat, salah seorang anak yang memberitahukan jawaban kepada temannya yang lain. Saat itu juga saya memarahi dan memberitahu anak terserbut jika yang dilakukannya adalah salah karena sebagai seorang muslim kita harus senantiasa berkata dan berlaku jujur, semoga semua anak-anak di Keranggan menjadi anak-anak yang jujur dan menjadi pemimpin yang baik di masa depan nantinya.

Bermanfaat dengan Bukti Nyata

Bila saya memiliki kesempatan untuk menjadi masyarakat Keranggan, maka saya ingin melakukan dua hal, yaitu melakukan perubahan pola pikir masyarakat dalam berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih menjanjikan serta berkelanjutan. Saat ini masyarakat Keranggan

memiliki dua mata pencaharian yang menjadi mayoritas orang dewasa, yaitu penambang pasir dan berjualan makanan. Berdasarkan pengamatan saya, menjadi seorang penambang pasir bukan lah pekerjaan yang akan ada dalam jangka waktu lama karena bergantung dengan persediaan pasir yang masih ada di tambang. Begitu pula dengan berjualan makanan, bila tidak dilakukan dengan pemasaran baik serta mengikuti perkembangan zaman maka usaha tersebut tidak akan berkembang. Oleh sebab itu, saya dan teman-teman yang lain membuat kegiatan yang dapat membantu masyarakat Keranggan agar dapat memeroleh hidup yang lebih baik yaitu kegiatan seminar berjualan secara online dan pemanfaatan sampah menjadi barang jual.

Kesempatan untuk menyemangati generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa depan pun tak saya lewatkan. Selama satu bulan KKN saya sering mengajak anak-anak yang bermain ke tempat tinggal untuk berbincang mengenai banyak hal. Melalui perbincangan itulah saya mengetahui beberapa cita-cita dan alasan mereka yang mulia. Mungkin mereka masih anak-anak yang belum benar-benar yakin dengan cita-cita mereka saat ini. Melalui perbincangan itu pula saya mencoba memberikan motivasi kepada mereka untuk menggantung cita-cita setinggi mungkin dan juga harus diperoleh dengan pendidikan yang setinggi-tingginya. Saya berharap dengan begitu mereka dapat dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat untuk meraih cita-cita serta menempuh pendidikan yang setingi-tingginya.

Satu hari menjelang selesainya KKN. Layaknya orang yang sudah rindu akan rumah kami bersemangat mempersiapkan barang-barang bawaan saya yang akan dikemas. Setelah sarapan, saya sempatkan untuk melakukan perbincangan dengan teman yang lain mengenai agenda hari ini yang bertujuan untuk pamit kepada warga. Pada jam 10 pagi kami berpamitan kepada Ketua RT dan PAUD, pada proses berpamitan ini kami memeroleh ucapan terimakasih dari mereka yang membuat kami sedikit teringat dengan apa yang telah kami lakukan selama KKN.

Selepas istirahat sholat dzuhur dan makan siang dilanjutkan dengan agenda rutin kami yaitu les. Namun, les pada hari ini berbeda dari les sebelumnya. Hari ini kegiatan les diisi dengan beberapa kegiatan seperti pemilihan kakak ter (galak, ganteng, cantik, dan favorit), kesan pesan dari kami dan anak-anak, serta pemberian kenang-kenangan. Ada bagian yang sangat tidak dapat kami lupakan, yaitu bagian kesan dari anak-anak. Dipanggilah empat orang anak yang akan memberikan kesan mereka selama

belajar dan bermain bersama dengan kelompok KKN SENJA. Mereka bercerita bagaimana gembiranya ketika bersama kami, mereka pun mengungkapkan perasaan sedih mereka ketika akan berpisah hingga tak terasa satu per satu air mata mereka berjatuhan. Tanpa disadari kami pun ikut menangis karena perasaan yang sama dengan mereka hingga ada beberapa anak laki-laki yang selalu ceria, suka bertengkar, dan sedikit nakal ikut menangis. Mungkin ini lah yang dinamakan kejujuran yang datang dari hati seberapa pun ditahan tak akan bisa.

Agenda terakhir pada hari ini adalah berpamitan dengan masyarakat di RW 05. Saya dan teman-teman berjalan dari rumah ke rumah untuk berterimakasih, memohon maaf, dan berpamitan karena kegiatan KKN kami sudah usai. Masyarakat juga merasa kehilangan dengan kepergian kami, mereka berpesan untuk sering berkunjung kembali ke Keranggan.

Pada hari terakhir Bapak Lurah melakukan pelepasan kelompok KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada acara apel pagi di Kelurahan Keranggan. Setelah masuk waktu dzuhur saya dan teman-teman kembali ke kontrakan untuk membereskan dan merapihkan tempat yang kami tinggali selama sebulan ini. Rumah ini sudah menjadi gudang kenangan kami yang akan selalu kami ingat karena di tempat ini lah kami saling mengenal dan membuat kenangan kami bersama. Seperti sudah jadi rutinitas, anak-anak yang setiap hari berkunjung ke rumah kami sudah siap di depan rumah berharap pintu rumah kami terbuka, dengan mata yang berseri-seri mereka masuk ke tempat kami.

Jam delapan malam, itulah waktu terakhir saya berada di Keranggan. Kami sudah bersiap-siap di atas kendaraan kami untuk pulang kembali ke rumah dengan ditemani masyarakat sekitar. Akhir kata kami yang terucap pada malam itu adalah terimakasih, karena telah memberikan banyak pelajaran kehidupan yang sangat berharga selama kami berada di sana. Semoga segala yang telah saya dan teman-teman lakukan selama satu bulan ini menjadi manfaat bagi seluruh masyarakat di sana.

Dalam dokumen MENATAP MASA DEPAN MELALUI SENJA DI KERANGGAN (Halaman 131-139)