• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II IMPLEMENTASI KEGIATAN

B. IMPLEMENTASI KEGIATAN WORKSHOP DAN PELATIHAN ORGANISASI

B.4. Hari Kedua, 10 Oktober 2018. Kegiatan Workshop Dan Pelatihan

Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni

Kegiatan pada hari kedua dibagi kedalam 3 sesi penyampaian materi dan diawali dengan penyuluhan anti korupsi bagi peserta workshop. Maksud dari penyuluhan anti korupsi ini adalah untuk memberi pemahaman kepada peserta bahwa sebagai ASN mereka sangat rentan terhadap tindakan korupsi. Dalam sesi pertama peserta diajak untuk bermain peran dengan skenario praktek korupsi didaerah. Pada sesi kedua peserta diberikan materi tentang membangun komitmen ASN terhadap pengembangan investasi daerah.

Sedangkan pada sesi ketiga adalah sesi untuk merumuskan rencana tindak lanjut dari kegiatan workshop yang telah dlakukan selama 2 hari. Secara umum dinamika kegiatan workshop dan pelatihan adalah sebagai berikut:

1. Sesi Pertama. Paparan Materi: Penyuluhan Anti Korupsi oleh Dr. Hariawan Bihamding, MT.

Sebelum memulai materi pemateri menyampaikan safety breefing kepada peserta, maksud dari penyampaian safety breefing ini adalah untuk mempersiapkan forum dalam evakuasi ketika dalam pelaksnaan kegiatan terjadi bencana. Setelah menyampaikan safety breefing pemateri kemudian melanjutkan perkenalan singkat kepada peserta. Pemateri kemudian mengajukan pertanyaan kepada forum “siapa yang belum pernah melakukan korupsi sejak lahir‟? tidak ada satu pesertapun yang mengacungkan tangan untuk mengatakan dirinya tidak pernah korupsi.

26 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Gambar: Slide Materi Penyuluhan Anti Korupsi

Korupsi adalah suka menerima uang sogok, menyelewengkan uang/barang milik perusahaan atau negara, menerima uang dengan menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi (Kamus Hukum, 2002). Korupsi juga merupakan Tingkah laku/tindakan seseorang/lebih yang melanggar norma-norma yang berlaku dengan menggunakan dan/atau menyalahgunakan kekuasaan/kesempatan melalui proses pengadaan, penetapan pungutan penerimaan/pemberian fasilitas/jasa lainnya yang dilakukan pada kegiatan penerimaan dan/atau pengeluaran uang/kekayaan, penyimpanan uang/kekayaan dengan tujuan keuntungan pribadi/golongannya sehingga langsung/tidak langsung merugikan kepentingan/keuntungan negara/masyarakat (Juniadi Suwartojo, 2010)

27 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Ada 5 bahasan yang akan dipaparkan pada sesi pelatihan hari ini. Bahasan yang mengawali pemaparan materi hari ini adalah pemateri menguraikan gambaran kondisi indonesia saat ini dalam kegiatan pemberantasan anti korupsi dengan mengacu pada indeks persepsi korupsi yang dikeluarkan lembaga transparansi internasional dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Pemateri mengajukan pertanyaan kepada peserta untuk menilai kondisi pemberantasan korupsi saat ini. Pesertapun menjawab dengan pernyataan bahwa “itulah kekurangan kepala daerah saat ini, karena hidup mewah”. Realitas bahwa kondisi negara sedang terpuruk oleh perilaku koruptif. Keterlibatan berbagai pihak sebagai pelaku tipikor yang hingga saat ini masih selalu terjadi menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan belum optimal. Fakta tersebut didukung oleh peringkat Indonesia dalam penilaian pemberantasan korupsi (IPK) belum optimal oleh lembaga LN seperti Transparency International. Dari kenyataan ini menimbulkan pertanyaan besar.. Akar penyebabnya apa..?

Pemateri kemudian menjelaskan bahwa sejarah pemberantas korupsi dinegara ini, sudah dimulai sejak masa kolonial Belanda sampai era reformasi.

Gambar: Slide Materi Penyuluhan Anti Korupsi

28 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Setelah memaparkan seluruh materi yang dituangkan dalam slide presentase, peserta kemudian diajak untuk memainkan game tentang peran. Dimana skenario yang dimainkan adalah praktek tindak pidana korupsi yang melibatkan Bupati dan ketua DPRD, dengan role play sebagai berikut:

 Peserta diminta untuk memainkan peran dengan judul pemenuhan janji-janji bupati saat kampanye untuk diakomodir dalam anggaran tahun berjalan dalam pembangunan jalan dan jembatan. Kelompok pertama terdiri atas 5 orang yang terdiri dari perwakilan bag. Tata laksana organisasi, BPPKD, dan Inspektorat, masing-masing berperan sbg Bupati, Sekda, Kepala Dinas, DPKAD, Ketua DPRD, dan Ketua banggar.

 Bupati meminta Sekda dan kepala dinas untuk bernegosiasi dengan ketua DPRD dan Ketua banggar untuk memasukkan pembangunan jalan dan jembatan dala APBD yang sedang di susun. Saat negosiasi tersebut KPK mengadakan operasi tangkap tangan.

Pembelajaran yang dapat ditarik dari role play adalah:

 mencermati peluang korupsi dalam menjalankan tugas sebagai ASN selalu muncul setiap saat.

 Selalu menjunjung tinggi aturan yang berlaku.

 Bila tugas dijalankan sesuai dengan koridor aturan yang berlaku maka akan terbebas dari praktek korupsi.

2. Sesi kedua. Paparan materi: Membangun Komitmen Aparatur Sipil Negara (ASN) Dalam Pengembangan Investasi Daerah Dalam Dimensi Hukum. (Dr. Hendrik Renjaan, SH, LL.M)

Aparatur Sipil Negara (ASN) harus mampu menjalankan tugas dengan mendasari tuntunan kehidupan beragama secara benar, selalu memiliki komitmen dalam melayani masyarakat sehingga tercipta good governance .Di setiap organisasi akan bisa dicapai melalui kesadaran diri ASN yang mempunyai etos kerja yang

29 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

baik sudah barang tentu akan menghasilkan kinerja yang baik, sehingga akan didapatkan ASN yang professional.

Membentuk ASN yang profesional yaitu ASN yang karakternya dibentuk oleh nilai-nilai dasar ASN, sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya secara profesional sebagai pelayan masyarakat. Kompetensi SDM ASN:

Kemampuan dan Karakteristik ASN : Pengetahuan (knowledge), Keterampilan (skill), dan Perilaku (attitude) untuk menciptakan aparatur yang memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam melayani masyarakat yang selalu bertindak hemat, efisien, rasional, transparan, dan akuntabel dalam pelaksanaan tugas jabatannya.

Integritas dan komitmen PNS sebagai suatu indikator untuk menentukan baik buruknya sikap perilaku seorang PNS dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dalam pemerintahan. PNS dituntut selalu ingat dengan sumpah dan janjinya, sehingga tidak sampai melalaikan tugas yang menjadi kewajibannya, dan tidak melakukan sesuatu hal yang bertentangan dengan tugas dan kewajibannya dalam pemerintahan.

Alih-alih mendorong percepatan investasi ke daerah-daerah, nyatanya pemda justru membuat Perda yang secara substansi justru memberatkan pelaku usaha atau investor yang mencoba melakukan ekspansi bisnis. Di satu sisi, pemda didorong untuk lebih meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sisi lain ASN harus memberikan pelayanan publik yang prima dan berpihak pada peningkatan investasi di daerah. Investasi Daerah adalah Usaha Daerah(Pemda) menempatkan uang atau dana dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan (return) tertentu atas uang atau dana tersebut.

Faktor yang dinilai menghambat investasi di Indonesia antara lain masih adanya gangguan keamanan pada beberapa wilayah serta belum adanya sinergi positif dengan organisasi buruh terkait persoalan upah, outsourcing, dan kebebasan berorganisasi. Hal itu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor

30 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

atau calon investor. Persoalan-persoalan tersebut tentu harus segera diatasi. Jika tidak, daya tarik investasi negeri ini akan terus menurun.

UU No. 23 Tahun 2014: telah mengatur bahwa Pemerintah Kota dan Kabupaten dapat langsung membuat perjanjian dalam rangka penanaman modal baik antar daerah maupun dengan pihak asing. Hal ini berarti bahwa cepat atau lambat daerah harus mulai mengantisipasi kemungkinan ini agar dapat langsung mengundang investor asing untuk masuk menanamkan modalnya di daerah yang bersangkutan. Jika kesadaran akan pentingnya investasi menciptakan iklim investasi yang kondusif tidak dimulai sekarang di dalam tata pengelolaan pemerintahan di daerah, maka arus investasi yang kita harapkan tidak akan mungkin masuk ke daerah.

Tertarik atau tidaknya investor untuk menanamkan modal di daerah ternyata sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah (pemda) dalam membangun 'kenyamanan' investasi. prinsipnya calon investor ingin adanya komitmen pemda dalam menjaga stabilitas keamanan. kemudahan perizinan, kemudahan pembebasan lahan, dan kepastian hukum mengenai lahan.

"Sebetulnya di daerah ini banyak faktor yang memengaruhi daya tarik daerah.

Pemda juga patut memastikan bahwa calon investor yang datang menghampiri adalah benar-benar pihak yang berwenang dalam mengambil keputusan investasi, bukan calo proyek samata. tak sedikit pengalaman di daerah ketika calo proyek berkali-kali datang dan setelah itu hilang bak ditelan bumi

Respon forum terhadap paparan materi yang disampaikan oleh pemateri, lebih banyak mempertanyakan bagaimana investor yang berusaha di bumi papua harus tunduk pada kaidah otonomi khusus dan tetap menghormati adat dan budaya masyarakat papua. Pemerintah pun demikian harus tetap berpihak pada masyarakat papua, jangan hanya demi mendapat kucuran dana pemerintah sering merugikan masyarakat. Mendapat tanggapan seperti itu pemateri mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 8 raperdasus yang disusun

31 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

oleh pemerintah papua barat. Raperdasus tersebut terdiri atas: Masyarakat adat papua, pengelolaan kawasan laut dan pesisir, DBH Migas, dana Otsus dan ada beberapa lagi. Dalam raperdasus yang sementara dibuat bila ditelisik lebih mendalam, akan dijumpai bahwa pemerintah papua barat tetap berpihak pada masyarakat adat.

Adapula peserta yang mengungkapkan otonomi khusus papua dan papua barat saat ini berada diujung waktu dan masyarakat belum merasakan hasil otonomi khusus secara maksimal. Kalau otonomi khusus selesai lantas kita mau bagaimana. Sanggahan yang diberikan pemtaeri atas respon peserta tersebut dengan menyampaikan bahwa kita sebagai masyarakat harus mendukung pemerintah dalam mendorong investasi didaerah karena dengan datangnya investor untuk menjalankan usahanya akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Jangan investor baru datang saja masyarakat sudah menuntut berbagai macam dengan dalih adat dan budaya.

32 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n C. REKOMENDASI DAN PENUTUP

C.1. Rekomendasi

Program Pendidikan dan Pelatihan di Kabupaten Teluk Bintuni sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang dijalankan setiap tahun, dengan menyediakan anggaran yang cukup besar, baik pada tingkatan pemerintah daerah, OPD, maupun distrik. Tabel berikut ini menunjukkan nilai alokasi belanja pada beberapa OPD.

Tabel 5. Alokasi Anggaran Diklat OPD

OPD Anggaran Diklat

Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik 1,246,450,000

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 663,500,000

Pemberdayaan Masyarakat Desa 1,361,740,000

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2,022,200,000

Perencanaan 1,319,123,000

Perhubungan 1,497,000,000

Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman 1,200,000,000

Rumah Sakit Umum Daerah Bintuni 750,000,000

OPD setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan dengan nilai lebih dari 17 milyar Rupiah. Dari jumlah tersebut, berdasarkan hasil penelitian ini diperkirakan sebesar 80% anggaran pendidikan dan pelatihan digunakan untuk mengirimkan pegawai ke luar provinsi Papua Barat. Sehingga, sekitar 14 milyar anggaran terserap untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan ke luar provinsi. Meskipun pengiriman pegawai untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar provinsi akan memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan yang lebih baik, hal tersebut juga dapat

33 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n memunculkan dampak negatif, di antaranya adalah:

1. Kurangnya efektivitas pengembangan kapasitas pegawai yang dikirimkan.Tidak banyak kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan berupa bimbingan teknis, pelatihan, workshop, dan lain-lain dengan waktu yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Seperti telah disebutkan di depan, anggaran pendidikan dan pelatihan untuk setiap pegawai yang dikirimkan adalah sebesar Rp20.000.000,00 yang digunakan untuk menerima materi pelatihan selama dua sampai dengan tiga hari. Tempat pendidikan dan pelatihan yang jauh juga akan mempengaruhi kesiapan dan kemampuan pegawai untuk menerima proses pembelajaran secara efektif.

2. Persepsi yang salah tentang pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah.

Selama ini, pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah kabupaten lebih banyak dianggap sebagai bentuk penghargaan. Tanpa adanya perubahan persepsi secara baik, maka kehadiran pegawai pada Diklat tersebut dapat keluar dari tujuan awal pengiriman pegawai tersebut.

3. Terbatasnya jumlah pegawai yang dapat dikirimkan pada Diklat di luar wilayah.

Dengan anggaran sebesar Rp20.000.000,00 per orang untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar wilayah akan memperkecil kesempatan lebih banyak pegawai yang diikutsertakan dalam program pendidikan dan pelatihan tersebut.

4. Hasil pendidikan dan pelatihan tidak terstandar. Sering kali, output dari pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh pegawai pada diklat yang dilakukan oleh lembaga yang berbeda memberikan hasil yang tidak standar dan pada akhirnya tidak dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari di Kabupaten Teluk Bintuni.

Oleh karena itu, meskipun persepsi bahwa pengiriman pegawai pada sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu bentuk penghargaan atas prestasi dan kinerja pegawai tersebut, dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas program pengembangan kapasitas aparatur sipil, pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dapat mulai mengembangkan sebuah mekanisme pendidikan dan pelatihan yang dilakukan

34 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n di dalam wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

Selain penyediaan anggaran di setiap OPD, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengalokasikan anggaran di setiap distrik sebagai berikut.

Tabel 6. Alokasi Anggaran Diklat Distrik

Distrik Anggaran Diklat

Sebagian besar program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan pada tingkat OPD merupakan pendidikan dan pelatihan yang sifatnya teknis dan fungsional, sehingga peran OPD untuk mengirimkan pegawai pada program-program pendidikan dan pelatihan di lembaga pelatihan khusus tetap menjadi kewajiban. Sebagai contoh, mengirimkan auditor inspektorat untuk mengikuti diklat fungsional auditor, mengirimkan pegawai Dinas PU pada diklat ke-PU-an, dan mengirimkan tenaga kesehatan untuk mengikuti diklat di bidang kesehatan, mungkin tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparatur fungsional pelatih/widyaiswara di Kabupaten Teluk Bintuni.

35 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Berbeda dengan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh OPD, pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh aparatur distrik lebih banyak dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur distrik untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan distrik yang lebih baik, sehingga kegiatan pendidikan dan pelatihan tersebut dapat dilakukan secara mandiri.

Dari hasil penelitian dan FGD yang telah dilakukan, maka peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sudah saatnya untuk merintis kegiatan pendidikan dan pelatihan di dalam wilayah kabupaten dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber dana yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten dapat mulai menggeser kegiatan pendidikan dan pelatihan administratif untuk dilakukan secara internal. Sebagai contoh, pelatihan di bidang perencanaan dan keuangan.

Kedua bidang pelatihan ini seharusnya dilakukan oleh seluruh OPD, BLUD, dan Distrik, dengan penerimaan yang sama antar-instansi. Pelaksanaan diklat perencanaan dan keuangan yang dilakukan di tempat yang berbeda-beda akan menghasilkan output yang berbeda, sedangkan pemerintah kabupaten wajib menyeragamkan proses perencanaan dan keuangan.

2. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni perlu merancang sistem kelembagaan pendidikan dan pelatihan dengan sekaligus melakukan penertiban struktur organisasi dan tata kelola pemerintahan yang saat ini telah ada. Saat ini, fungsi pendidikan dan pelatihan terletak pada Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Teluk Bintuni. Namun demikian, tugas dari bidang Pendidikan dan Pelatihan sejauh ini bukan untuk mendidik dan melatih pegawai. Selain itu, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan juga tidak memiliki kelompok jabatan fungsional pendidik dan pelatih.

3. Pengaturan kelembagaan dan persiapan penyediaan infrastruktur pendidikan dan pelatihan perlu dilakukan dengan mendasarkan pada prioritas-prioritas yang tepat.

Metoda penyampaian materi pendidikan dan pelatihan untuk level jabatan yang berbeda harus disikapi sesuai dengan harapan para peserta pelatihan, dan tidak

36 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

dilakukan secara generik. Selain itu, penyediaan kurikulum juga sangat penting untuk memperhatikan perbedaan karakter pendidikan dan pelatihan pada jenjang jabatan yang berbeda tersebut.

4. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni perlu melakukan kerjasama, terutama dalam hal pendampingan pengembangan kelembagaan pendidikan dan pelatihan maupun pendampingan penyusunan kurikulum dan penyediaan calon pendidik/pelatih dengan para pemangku kepentingan di bidang pengembangan kapasitas aparatur sipil, termasuk dengan akademisi maupun industri. Pengembangan kompetensi pendidik dan pelatih tidak dapat dicapai secara instan, sehingga kerjasama jangka panjang merupakan keharusan untuk dilaksanakan.

37 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n C.2. Penutup

Laporan ini diajukan oleh Partnership for Governance Reform Indonesia (PGRI) kepada Tangguh LNG, sebagai bagian dari instrumen monitoring dan evaluasi. Dalam lingkup programatik laporan ini, secara substantif dan manajerial, telah memperoleh legalisasi dari Partnership for Governance Reform Indonesia (PGRI).

Jakarta, 8 Desember 2018

Inda Presanti Loekman Miftah Adhi Ikhsanto

Program Director Program Manager

38 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

LAMPIRAN 1: Daftar Hadir Peserta Kegiatan Workshop Dan Pelatihan Organisasi Pemerintahan Daerah Dalam Rangka Studi Sistem Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni

39 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

LAMPIRAN 2: Foto Kegiatan Kegiatan Workshop Dan Pelatihan Organisasi Pemerintahan Daerah Dalam Rangka Studi Sistem Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni

Gambar 1. Ceremonial Pembukaan Kegiatan Workshop dan Pelatihan

Gambar 2. Sambutan oleh Tangguh LNG (Papuan Manager Affairs)

40 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Gambar 3. Pemaparan Materi Hari Pertama Sesi I

Gambar 4. Pemaparan Materi Hari Pertama Sesi II

41 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Gambar 5. Pemaparan Materi Hari kedua Sesi I (Role Play)

Gambar 6. Pemaparan Materi Hari Kedua Sesi II

42 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Gambar 7. Pemaparan Materi Hari Kedua Sesi III

Gambar 8. Ceremonial Penutupan

43 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n Gambar 9. Foto Bersama

44 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Dokumen terkait